Jumat, 17 Mei 2013

Metode Pengajaran yang Sukses

Pengajar laki-laki ataupun perempuan harus menempuh metode pengajaran yang sukses yang datang dengannya Al-Qur’an Al-Karim dan As-Sunnah yang suci untuk mendidik bangsa muslim yang terdidik dan pemberani yang mampu membela agama dan umatnya.

1. Takut dan berharap
Para pengajar harus menanamkan dalam jiwa-jiwa pelajar mereka perasaan takut kepada Allah, karena sesungguhnya Allah itu sangat keras siksa-Nya terhadap orang-orang yang bermaksiat terhadap perintah-Nya, orang-orang yang meninggalkan kewajiban-kewajiban-Nya, Allah telah mengancam orang-orang yang sering berbuat maksiat dengan api yang membakar pada hari kiamat yaitu api yang sangat panas, jauh lebih panas dari api dunia.
Sebaliknya Allah sungguh telah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, orang-orang taat, orang-orang yang melaksanakan hak-hak Allah dengan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, pepohonan, buah-buahan, bidadari dan yang lainnya dari macam-macam kenikmatan yang kekal. Dalil yang menunjukkan metode penggabungan antara takut dan harap, ingin dan cemas adalah ayat-ayat dan hadits-hadits sebagai berikut:
a. Allah berfirman:
نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ () وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ
“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” [QS. Al-hijr: 49-50]
Allah juga berfirman:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan).” [QS. Al-A’raaf: 56]
Maka dalam ayat-ayat  ini Allah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya -dan doa itu adalah ibadah- karena takut dari neraka-Nya dan berharap akan surga-Nya dan hendaknyalah seorang muslim itu antara takut dan harap sehingga akan seimbang perikehidupan pelajar dan akan baik keadaannya.
b. Di dalam sebuah hadits, Rasulullah berdoa:
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka.” [Hadits shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud]
Ayat-ayat dan hadits ini adalah bantahan terhadap orang-orang sufi yang mengatakan bahwa mereka itu beribadah kepada Allah tidak mengharap surga-Nya dan tidak takut kepada neraka-Nya. Seolah-olah mereka tidak mendengar Al-Qur’an dan hadits yang telah disebutkan di muka.
2. Cerita-cerita yang mendidik
Cerita mempunyai pengaruh terhadap jiwa sehingga para pengajar laki-laki maupun perempuan hendaknya banyak-banyak bercerita yang bermanfaat yang cerita itu banyak dijumpai di dalam Al-Qur’an dan sunnah  yang suci.
a. Ashhabul Kahfi
Yang bertujuan membentuk bangsa yang beriman kepada Allah, mencintai tauhid dan membenci kesyirikan.
b. Kisahnya Nabi Isa
Yang bertujuan untuk mengenalkan bahwasanya beliau adalah hamba Allah dan bukan anak Allah sebagaimana sangkaan orang-orang nashrani.
c. Kisah Nabi Yusuf
Termasuk tujuannya adalah peringatan dari ikhtilath (campur baur) antara laki-laki dan perempuan karena banyaknya akibat-akibat buruk yang ditimbulkannya.
d. Kisah Nabi Yunus
Bertujuan untuk meminta pertolongan hanya kepada Allah saja terutama ketika tertimpa musibah.
e. Kisah orang-orang yang terjebak di dalam gua yang telah Rasulullah kisahkan kepada para sahabat beliau untuk mengajari mereka tentang tawassul kepada Allah dengan amal-amal sholih seperti keridhoan kedua orangtua, menunaikan hak-hak teman-tamannya, dan meninggalkan zina karena takut kepada Allah. Dan sunnah penuh kisah-kisah yang bermanfaat.
Kesimpulan:
Kepada para pengajar seluruhnya agar memperbanyak cerita-cerita yang bermanfaat kepada para pelajar dan itu adalah sebaik-baik penolong bagi pengajar untuk mendidik bangsa dan hendaknya meninggalkan cerita-cerita yang jelek yang mendorong perbuatan dosa seperti pencurian, perbuatan keji, dan penyelewengan-penyelewengan moral.

(dikutip dari buku Kiat Mendidik Anak, Pustaka Al Haura’)
http://www.salafy.or.id

Cemburuku Padamu Wahai Bidadari...



Entah mengapa akhir-akhir ini ana sering sekali melamun tentang keadaan bidadari di syurga.Selalu ada rasa harap  dan cemas yang begitu besar membuncah dalam dada, ingin sekali menjadi manusia yang ditakdirkan oleh ALLOH untuk menjadi 'Ratunya' bidadari di syurga kelak...

Disebutkan dalam dalil bahwa bidadari syurga itu memiliki wajah yang sangat jelita dan rupawan, betis mereka bagaikan mutiara yang bening berkilauan,dada-dada mereka penuh berisi, usia mereka selalu muda dan sebaya, aroma wewangian selalu tersebar dari tubuh-tubuh indah mereka.
Mereka tidak berkeringat, beringus, mengeluarkan dahak, membuang kotoran dan hal-hal lain yang menjijikkan, termasuk mani dan darah haid.
Bahkan mereka selalu kembali perawan setiap kali suami mereka telah menjima' mereka. Begitu keadaan mereka seterusnya. Bidadari-bidadari itu bertelekan pada bantal-bantal yang empuk,berpakaian selembut sutra yang sangat bagus dan halus.
Mereka selalu menundukkan pandangan kecuali dari suami mereka,sangat manja,pemalu dan penuh cinta.Hanya kepada suami mereka,mereka tidak malu.

Pernah mendengar dari suatu majelis bersama ustadzah, bahwa seorang lelaki sholih yang masuk syurga, maka ALLOH akan menikahkannya dengan sembilan bidadari yang ia pilih sendiri.
Sangat masyhur di telinga kita bahwa ketika lelaki sholih itu masih tinggal di dunia, lalu istrinya dari penduduk dunia marah dan berbuat durhaka padanya hingga menyakiti hati sang suami, maka bidadari yang ALLOH takdirkan untuk menjadi pasangannya kelak di syurga berkata “qatalakillah, dia disisimu menjadi suamimu hanya untuk sementara, hampir-hampir dia akan meninggalkanmu dan kembali ke sisi kami”

Aduhai, siapa gerangan istri yang tidak cemburu bila mendengar kabar tersebut?
Ada rasa iri yang membuncah dalam dada terhadap bidadari-bidadari itu. Betapa jauh keadaan kami dibanding keadaanmu wahai bidadari...

Karena selalu kepikiran terus tentang bidadari-bidadari mulia itu, sampai-sampai ketika ada waktu istirahat saat mengajar di ma'had, ana sempatkan untuk berbincang dengan sesama ummahat pengajar. Ana katakan pada mereka “Um,tahukah anti tentang bagaimana kedudukan wanita sholihah di syurga kelak, dibanding kedudukan para bidadari yang juga akan menjadi istri-istri dari suaminya?”.
Ternyata mereka menjawab sama persis dengan jawaban ana. Meskipun begitu, ana tetap saja bertanya pada mereka, bukan untuk mencari jawaban, tapi lebih untuk meyakinkan diri ana sendiri bahwa wanita yang sholihah itu akan lebih utama kedudukannya dibandingkan para bidadari mulia tersebut.
Mereka, wanita sholihah penghuni syurga dari kalangan penduduk dunia, akan menjadi 'ratunya' para bidadari, dan bidadari-bidadari itu akan menjadi pelayan baginya. Begitu juga, bidadari-bidadari itu akan menjadi istri-istri suaminya.
Namun, ia akan lebih cantik dibanding bidadari-bidadari tersebut. Suaminya mencintai bidadari-bidadari itu, tapi ia lebih mencintainya. Tidak ada cemburu di dalamnya, semua terjalin begitu indah dan harmonis, penuh cinta dan kebahagiaan. Sungguh, tak mampu membayangkan kenikmatannya!

Ah,...ada rasa lega,tapi juga terselip rasa cemas yang begitu besar dan rasa harap yang begitu membongkah!
Pikiran tentang bidadari ini, membangkitkan semangat untuk lebih giat lagi beramal sholih demi merentas jalan menuju syurga.Semoga ia bukan hanya keinginan dan semangat yang sesaat.

Ketika zawjiy sedang tertidur lelap, ana pandangi wajahnya lekat-lekat.Duhai, serasa tak akan pernah sanggup dan rela jika harus kehilanganmu dan berpisah darimu cinta...
Ah, lagi-lagi air mata ini meleleh. Mengapa begitu rapuh dan sendu?

Ya ALLOH, sungguh aku sangat mencintai suamiku karena-Mu, maka izinkanlah dan takdirkanlah kami untuk bisa menjadi penghuni jannah-Mu, satukanlah kami kembali di jannah kelak Ya Robbi, Sesungguhnya hanya Engkaulah yang Maha mengabulkan segala doa...amin.


~~~Untuk seluruh saudariku, wanita dunia, mari kita beramal sholih sekuat dan semampu kita,
fastabikul khoirot, agar kita kelak menjadi ratu para bidadari syurga.
Untuk suamiku, raihlah aku dalam dekapmu,
lalu kita bersama-sama mencoba menyatukan asa merajut cinta di jannah.~~~




Jumat, 10 Mei 2013

Hikmah mengucapkan Alhamdulillah Setelah Bersin

Semua orang pasti pernah mengalami bersin. Reaksi spontan ini biasanya terjadi saat hidung terasa gatal. Setiap kali bersin, dianjurkan mengucapkan ”Alhamdulillah” sebagai ucapan syukur kepada Allah SWT. Sedangkan orang yang mendengarnya  mendo’akan: "Yarhamukallah”. Dan Orang yg bersin kembali membalas doa’ tersebut dengan ucapan: “Yahdikumullah wa Yuslibaahakum”,  Semoga Allah memberi petunjuk kepadamu dan memperbaiki keadaanmu". Hal ini senada dengan sabda Rasulullah Saw :Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,  beliau bersabda,
إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَإِذَا قَالَ لَهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَلْيَقُلْ يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ
“Ababila salah seorang dari kalian bersin, hendaknya dia mengucapkan, “alhamdulillah” sedangkan saudaranya atau temannya hendaklah mengucapkan, “yarhamukallah (Semoga Allah merahmatimu). Jika saudaranya berkata ‘yarhamukallah’ maka hendaknya dia berkata, “yahdikumullah wa yushlih baalakum (Semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki hatimu).” (HR. Bukhari no. 6224 dan Muslim no. 5033)

Dr. Bonnie Henderson dari pusat kesehatan Mata dan Telinga Massachusetts mengatakan, saraf-saraf organ mata dan hidung saling terkait. Mata spontan akan terpejam saat bersin untuk melindungi saluran air mata dan kapiler darah agar tidak terkontaminasi oleh bakteri yang keluar dari membran hidung.
Bersin sebenarnya merupakan reaksi spontan tubuh untuk membersihkan hidung dari ‘benda asing’. Bersin terjadi ketika ujung syaraf dalam hidung mendeteksi adanya virus atau bakteri. Bersin juga terjadi ketika saraf hidung mendapat rangsangan mengejutkan seperti bau menyengat, udara dingin, atau reaksi alergi.
Dalam kondisi semacam itu, saraf hidung akan mengirim sinyal ke otak untuk membersihkan saluran udara. Dan terciptalah sebuah hentakan dari mulut dan hidung. Usai hentakan terjadi, mata pun otomatis akan terbuka kembali.

Bersin tak hanya membuat mata terpejam, tapi juga wajah menegang dan jantung berhenti berdetak selama nol koma sekian detik. Itulah mengapa banyak orang mengucap syukur setelah bersin.

Dr Thomas Graboys, direktur Lown Cardiovascular Research Foundation di Boston, menambahkan, bersin memicu perubahan tekanan di dada yang dapat merangsang saraf vagus sehingga denyut jantung melambat. Kondisi inilah yang menjelaskan mengapa bersin membuat jantung berhenti berdetak dalam sekejap.
 
Jadi Kenapa kita mengucapkan “ Alhamdulillah” setelah bersin?
 
Jawab:
  • Ketika anda bersin, maka jantung anda berhenti  kerja dan deyutannya.
  • Kecepatan bersin adalah 100 KM/Jam ada yang berkata 250 KM/Jam.
  • Bersin mengeluarkan kotoran-kotoran yang ada dalam mulut dan hidung anda.
  • Apabila anda bersin dengan sangat keras, bisa memungkinkan merusakkan tulang-tulang rusuk anda.
  • Apabila anda menghentikan bersin secara tiba-tiba, maka bisa berakibat ketegangan darah pada leher dan kepala anda, bahkan bisa berakibat fatal, yaitu mati.
  • Apabila anda membukakan mata ketika sedang bersin, maka bisa mengakibatkan bola mata anda keluar dari tempatnya.
  • Sekedar untuk pengetahuan, bahwa disaat anda sedang bersin, maka seluruh organ-organ penting anda akan berhenti untuk satu detik atau kurang dari satu detik, dan setelahnya maka seolah-olah tidak terjadi apa-apa bagi tubuh anda, seolah-olah anda baru terlewat dari maut yang mengerikan sekali.


Karena demikianlah maka kita diperintahkan membaca “Alhamdulillah” sebagai tanda syukur kita kepada Yang Maha Kuasa, Azza wa Jalla.
 
(dari berbagai sumber)

Senin, 06 Mei 2013

(Kenangan Indah) Selembar Kisah Jihad Di Ambon 1

DARAH SALAFY TERTUMPAH UNTUK MEMBELA KAUM MUSLIMIN (NU,MUHAMMADIYAH,DLL) DI AMBON:

 Kisah Nyata Abdul Hamid Mendamba Gelar Syuhada’

63Mei 2000. Suasana Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Ambon yang dikelilingi hutan rimbun menimbulkan perasaan mencekam bagi siapa saja yang pertama kali berkunjung. Terlebih dalam suasana berkecamuknya perang antara masyarakat muslim dan kristen, kesan mencekam semakin kuat.
Saat itu, sekelompok anak muda yang tergabung dalam barisan Laskar Jihad Ahlus Sunnah Wal Jamaah ditempatkan di kawasan tersebut. Kedatangan mereka ke kota Ambon dari berbagai daerah di Indonesia adalah dalam rangka membantu saudara-saudara seagama akibat diperangi oleh kristen.
Sebagaimana lazimnya manusia, para Laskar Jihad muda itu juga punya perasaan was-was menghadapi medan yang terkesan angker dan sunyi. Minimnya penduduk di sekitar kompleks kampus menambah suasana makin mencekam. Ancaman serangan kristen yang belum bisa diprediksikan membuat kewaspadaan senantiasa tinggi.
Di dalam rombongan itu terdapat seorang anak muda berumur 21 tahun bernama Abdul Hamid. Postur tubuhnya kurus tapi semangatnya tinggi menyala. Keberaniannya mengalahkan teman-teman sekelompoknya. Situasi kompleks STAIN yang sepi mencekam tidak membuat nyalinya ciut. Dijelajahinya hutan rimbun di sekitarnya untuk mengenali medan atau sekedar mencari buah-buahan. Kebiasaannya berkelana sendirian itu rupanya telah menjadi kesukaan, meski untuk itu ia harus sering ditegur komandannya.
Dibanding teman-temannya, Abdul Hamid memang lain. Orangnya ulet dan suka bekerja keras. Waktunya tidak mau terbuang dengan sia-sia. Hari-harinya dilalui dengan berbagai aktivitas yang bisa memberikan manfaat bagi dirinya dan orang lain.
Abdul Hamid lahir dan besar di Semarang. Sebelum berangkat berjihad ke Maluku, ia adalah karyawan sebuah perusahaan mebel di Jepara. Setiap minggu ia sempatkan pulang ke kotanya agar bisa mengikuti majelis taklim yang diadakan teman-temannya.
Saat muncul seruan jihad ke Maluku, Abdul Hamid termasuk salah satu pemuda yang langsung menyambutnya. Posisi kerjanya yang sudah lumayan di perusahaan mebel langsung ditinggalkan karena ia harus mempersiapkan diri sebelum berangkat. Bersama teman-temannya di Semarang, ia giat melakukan persiapan fisik dan segala sesuatunya untuk keperluan berangkat berjihad.
Di dalam berbagai kegiatan itu, ia berkenalan dengan seorang anak Sunda bernama Royyan. Mungkin karena ada kemiripan wajah, Abdul Hamid langsung merasa cocok dengan Ahmad  Royan dan langsung akrab. Saking akrabnya sampai Royyan dianggapnya sebagai adik.
Selama melakukan persiapan jihad, Abdul Hamid ditunjuk menjadi salah satu komandan regu. Sebagai komandan, terlihat sifat Abdul Hamid yang sangat mengutamakan teman-temannya. Dalam berbagai urusan, ia lebih dulu memperhatikan temannya, baru kemudian dirinya. Ia juga seorang yang sangat suka memberikan nasehat. Bila ada temannya yang berbuat kesalahan, langsung ia menegurnya.
Semangat juangnya yang tinggi terlihat dari keinginannya yang kuat agar bisa menjadi syuhada. Ia sangat bersyukur di Indonesia ada kesempatan untuk berjihad. Bagi Abdul Hamid, ini adalah kesempatan langka. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Menurutnya, ini adalah kesempatan untuk bisa meraih kehidupan mulia di sisi Allah.


Ketika tiba di Ambon, keinginannya untuk bisa menjadi syuhada semakin kuat. Di malam hari, ia selalu berdoa agar keinginannya dikabulkan Allah.  Di siang hari, ia habiskan waktunya untuk mengerjakan berbagai tugas yang dibebankan padanya.
Beberapa hari tinggal di STAIN, pecah perang di kampung Ahuru. Sebagian Laskar Pos STAIN dikirim untuk membantu muslimin Ahuru menghadapi serangan kristen. Termasuk yang dikirim ke Ahuru adalah Royyan. Sementara Abdul Hamid diperintahkan untuk tetap tinggal. Sampai malam, rombongan belum pulang. Abdul Hamid sangat gelisah mengkhawatirkan nasib Royyan. Ia tidak sabar menunggu rombongan pulang dan memutuskan untuk mencari Royyan.
Pencarian Abdul Hamid akhirnya sampai ke Ahuru. Padahal perjalanan ke Ahuru harus melewati jalanan sunyi, kanan kiri hutan, listrik mati, sepanjang kurang lebih 3 km. Sampai di Ahuru, suasana sangat gelap. Abdul Hamid terus mencari Royyan sambil memanggil namanya. Royyan yang saat itu sudah tertidur karena kelelahan, sayup-sayup mendengar namanya dipanggil. Ia bangun dan segera menemui orang yang memanggilnya. Abdul Hamid sangat bahagia bisa bertemu lagi dengan saudaranya itu.
Setelah kurang lebih sebulan berada di Ahuru, Abdul Hamid dan Royyan beserta sejumlah Laskar lainnya dipindah ke kampung Diponegoro. Sebuah kampung yang posisinya terjepit diantara perkampungan kristen. Untuk masuk ke kampung tersebut harus lebih dahulu melewati pemukiman kristen Air Mata Cina. Meski ada aparat keamanan, saat melewati daerah tersebut tetap harus hati-hati karena tidak jarang diganggu oleh kristen. Di medan baru ini Abdul Hamid mendapat tugas sebagai kurir.
Selain menjalankan tugasnya sehari-hari, Abdul Hamid mengisi waktunya dengan kegiatan ibadah yang makin menguatkan mentalnya. Semangatnya untuk meraih gelar syuhada semakin menyala. Setiap pagi, ia dan Royyan saling menyetorkan hafalan Al Quran. Keduanya saling mengingatkan bila ada temannya yang lupa dengan hafalannya.
Pada akhir bulan Juli 2000, situasi kampung Diponegoro tegang. Pertempuran seru dengan pihak kristen tidak bisa dielakkan setelah sebelumnya massa kristen yang berada di sekitar Diponegoro melakukan penyerangan. Selama kurang lebih seminggu perang berlangsung.
Meski tugasnya sebagai kurir, Abdul Hamid tidak mau ketinggalan dalam peperangan. Bahkan ia selalu berada di posisi terdepan diantara teman-temannya. Dalam sebuah pertempuran, ia dan seorang temannya bernama Burhan mencoba merangsek ke daerah musuh. Saat itu ia sudah jauh meninggalkan teman-temannya. Desingan peluru yang jatuh di sekitar tubuhnya tidak menjadikan langkahnya surut.
Saat itu, ia telah mencapai sebuah rumah kosong milik kristen. Seperti biasa, ia hanya membawa jerigen berisi minyak dan korek api. Tugasnya memang sebagai pasukan bakar-bakar. Ia lebih dulu mencapai rumah kosong, sementara Burhan berada di belakangnya. Desingan peluru berhamburan ke arah dua mujahid muda itu. Burhan yang berada di belakang Abdul Hamid menyembunyikan dirinya di sebuah perlindungan, bersiap menyusul Abdul Hamid. Abdul Hamid memberi aba-aba kepada Burhan agar berhati-hati.
Dalam suatu kesempatan yang dirasa aman, larilah Burhan menuju tempat Abdul Hamid.  Namun tanpa diduga, seorang sniper rupanya telah mengincarnya. Sebuah peluru datang dari arah samping dan langsung menembus tubuh Burhan.
Melihat temannya kena, Abdul Hamid segera berusaha menolongnya. Saat itu beberapa kaum muslimin sudah berada di dekat mereka. Dibantu beberapa kaum muslimin, Abdul Hamid mengangkat tubuh Burhan. Desingan peluru masih mewarnai proses evakuasi itu.
Tubuh Burhan berhasil diangkat ke tempat yang aman. Di pangkuan Abdul Hamid, akhirnya Burhan meninggal karena lukanya cukup parah. Darahnya mengalir membasahi tubuh Abdul Hamid. Sore itu juga, jenazahnya dimakamkan di kampung Diponegoro.
Kepergian Burhan tidak membuat Abdul Hamid sedih. Ia justru iri, mengapa bukan ia yang dipilih Allah untuk gugur di jalannya. Dalam setiap pertempuran, ia selalu berada di depan, namun ternyata bukan ia yang dipilih Allah. Kepada beberapa temannya, ia mengatakan, “Mengapa bukan saya yang kena?”.
Esok harinya pertempuran kembali berkecamuk. Seperti biasa, Abdul Hamid berada di posisi terdepan. Dalam suatu kesempatan, seorang muslimin terkena tembakan di bagian perutnya. Ia berada di dekat Abdul Hamid. Beberapa orang yang ada belum berani menolong orang tersebut karena desingan peluru begitu deras.
Abdul Hamid rupanya tidak sabar untuk segera menolong orang itu. Dibukanya bajunya dan didekatinya orang itu. Diulurkannya bajunya ke arah orang itu agar ia bisa menarik orang itu ke tempat aman. Qadarullah, sebuah peluru datang dan tepat mengenai kepalanya. Tubuh Abdul Hamid roboh dan langsung meninggal di tempat kejadian.
Akhirnya, anak muda bertubuh kurus itu mendapatkan apa yang begitu didambanya.
Beberapa hari setelah kematian Abdul Hamid, pertempuran mulai reda. Hanya ada sedikit gangguan dari sniper-sniper pengecut yang mencoba membidik kaum muslimin. Secara umum pertempuran Diponegoro dimenangkan kaum muslimin. Kampung-kampung di sekitar Diponegoro seperti Air Mata Cina, Pohon Pule, dan Mangga Dua berhasil dihancurkan kaum muslimin. Sampai kini, kampung Diponegoro yang kecil dan terjepit masih ada dan kehidupan kaum muslimin berjalan dengan normal. Sejumlah Laskar Jihad masih setia menjaga kampung ini bersama kaum muslimin setempat. Di kampung yang kecil dan terjepit ini, tiga orang Laskar Jihad telah gugur. Satu diantaranya adalah seorang anak muda yang begitu bersemangat untuk meraih syuhada, Abdul Hamid. Selamat jalan teman, semoga Allah menempatkan kalian di jannah-Nya. Amin. (ai)
Sumber: Tabloid Laskar Jihad Edisi 16
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki, mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya…” (Ali ‘Imran: 169-70)

Repost: https://kaahil.wordpress.com

(Kenangan Indah) Selembar Kisah Jihad Di Ambon 2

KISAH NYATA : PARA MUJAHID SALAFY-WAHABY BERKORBAN NYAWA UNTUK MEMBELA MUSLIMIN YANG BUKAN KELOMPOKNYA

Mengenang Akhuna Shodiq rahimahullah

“Abi lagi ke Ambon”, begitu mulut kecil Zuhair (3 th) kalau ditanya kemana bapaknya pergi. Ketika dikatakan padanya, “Nanti kalau pulang dibawain oleh-oleh pedang sama Abi ya…”, Zuhair menjawab, “Enggak, Abi di Ambon berjihad, mati syahid”.
Demikianlah yang selalu disampaikan Zuhair. Sekalipun bapaknya masih hidup di Ambon, namun kalau ditanya padanya tentang bapaknya, Al Akh Shodiq, selalu ia katakan,” Abi lagi di Ambon, Jihad, mati syahid”, sampai ibunya nggak enak sendiri dan menyuruh anaknya supaya tidak berkata seperti itu.

Sampai akhirnya, telepon dirumah kami berdering. Terdengar berita dari seorang ikhwan disana bahwa Yon Gab membantai kaum muslimin, dan Al Akh Shodiq termasuk yang dalam pencarian keberadaannya. Hati kami sedih bercampur senang dan penuh harap. Sedih karena berpisah dengan saudara sesama muslim, senang dengan harapan bahwa ia mati syahid dan penuh harap untuk bisa seperti itu.
Akhirnya Fax dari Ambon secara resmi datang memberitakan kematian Al Akh Shodiq. Kami sampaikan kepada orang tua, istri dan mertuanya. Alhamdulillah mereka tabah menerimanya. Nampaknya mereka sudah begitu siap menerima kabar tersebut. Tak ada tangisan histeris, hanya terlihat mata mereka berkaca-kaca. Dengan terbata-bata, istrinya menceritakan kepada akhwat yang saat itu bersama divisi sosial bahwa ketika mau berangkat suaminya berpesan, “Kamu jangan terlalu mengharapkan saya, karena saya kesana menjemput kematian”.
Kini harapan itu telah terkabul. Semburat kebanggaan terlihat di wajah mereka. Apalagi setelah kami ingatkan kepada keluarganya betapa mulianya orang yang mati syahid dengan berbagai keutamaan-keutamaan yang menyertainya (bahwa mereka tidak mati, tetapi hidup disisi Allah dengan mendapat rizqi, juga berhak memberi syafaat kepada 70 orang keluarganya). Keluarga Al Akh Shodiq sendiri menceritakan bahwa di hari kematiannya, tanggal 14 Juni ketika Yon Gab membantai kaum muslimin itu, di rumah mereka tercium bau wangi.
Al Akh Shodiq adalah satu diantara enam Laskar Jihad yang diberangkatkan oleh DPD FKAWJ Cilacap yang meninggal dunia karena kebrutalan Yon Gab dalam tragedi 14 Juli berdarah. Al Akh Shodiq termasuk yang disandera dan dibantai oleh Yon Gab. Mereka yang meninggal itu rata-rata termasuk yang mantap dan semangat untuk berjihad, sekalipun banyak rintangan (dana, keluarga) yang menghalangi.
Ya Allah, jadikanlah kematian saudara-saudara kami itu benar-benar dinilai mati syahid dan jadikanlah kematian terindah itu (mati syahid) sebagai kematian yang menjemput kami.
Kini Si Kecil Zuhair kalau ditanya kemana bapaknya, mulut mungilnya menjawab, “Abi di sorga”. Wallahu a’lam bisshawab. (red)
http://groups.yahoo.com/group/laskarjihad/message/575

Perjalanan Seorang Mujahid (Syahidnya Ibnu Hajar, Insya Allah)

Jihad di bumi Siwalima (Maluku) masih berkobar dan senantiasa membangkitkan semangat para singa-singa Allah untuk selalu melaksanakan syariat Ilahi yang tinggi nan mulia ini, pengorbanan demi pengorbanan telah dipersembahkan dalam Jihad fi sabililah ini.
Adalah seorang pemuda gagah berani bernama Ibnu Hajar , 24 tahun asal Pakisan, Wonosobo, Jawa Tengah. Ibnu Hajar lahir dari sebuah kelaurga yang sederhana ayahnya Yazid (50 th) dan Ibunya Surip (48 th) mendidiknya dengan ajaran Islam dengan ketat sehingga Ibnu Hajar tumbuh dengan kepribadian Islami dan dia sangat disukai oleh masarakat di tempat tinggalnya karena sifatnya yang periang, lucu dan bersahabat sehingga masyarakat Pakisan, Wonosobo, Jawa Tengah begitu mencintainya.
Pada pertengahan Januari 1999 terjadi peristiwa tragis yang menimpa kaum Muslimin Ambon dimana Umat Islam yang saat itu sedang merayakan hari raya Idul Fitri dibantai oleh pasukan Kristen. Mendengar berita yang memilukan ini mukanya merah menahan amarah, darahnya mendidih dan bangitlah semangat jihad untuk menolong saudara-saudaranya di Ambon kemudian dia bangkit lalu kakinya diayunkan mencari informasi ke sagala penjuru untuk dapat berangkat ke bumi Maluku.
Sampai suatu saat terdengarlah khabar bahwa Forum Komunikasi Ahlus Sunnah wal Jamaah mengumandangkan seruan Jihad dengan legimitasi dari para ulama Arab Saudi dan Yaman yang kemudian melakukan perekrutan kaum muslimin secara besar-besaran untuk membantu kaum Muslimin Ambon dengan bergabung bersama Laskar Jihad Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Mendengar hal tersebut Ibnu Hajar tidak mensia-siakan kesempatan berjihad. Segera dia mendaftarkan dirinya ke DPW FKAWJ Wonosobo untuk bisa bergabung dengan Laskar Jihad Ahlus Sunnah wal Jamaah. Ketika mendaftar, adik kandungnya yang bernama Wahyu Hidayat (18 th) tidak ingin kalah dengan kakaknya maka diapun ikut mendaftarkan menjadi anggota Laskar Jihad Ahlus Sunnah wal Jamaah. Akhirnya kakak beradik ini dan beberapa orang dari daerah Wonosobo resmi menjadi anggota Laskar Jihad Ahlus Sunnah wal Jamaah yang siap berjihad membela saudara-saudarnya di Ambon.
Ibnu Hajar dan teman-teman sanggat proaktif mengikuti kegiatan-kegitan yang diselenggarakan oleh Laskar Jihad Ahlus Sunnah wal Jamaah. Sejak Tabligh Akbar yang mengemparkan seantero Indonesia yang dilaksanakan di Senayan sampai tahap latihan gabungan Nasional di Bogor. Semangatnya dalam mengikuti aktivitas Laskar Jihad Ahlus Sunnah wal Jamaah diakui oleh teman-temannya.

Sampailah saatnya pemberangkatan gelombang pertama Laskar Jihad Ahlus Sunnah wal Jamaah pada bulan Mei 2000. Dengan hati yang senang dan semangat yang menggebu dia berangkat ke Yogyakarta sebagai tempat transit pemberangkatan, tapi sesampainya disana di mendapatkan tugas sementara mencari dana di Jawa untuk membantu teman-temannya di Ambon. Mendengar perintah tersebut Ibnu Hajar agak sedikit kecewa tapi apa boleh buat dia menerima dengan lapang dada. Tak terasa sudah 3 bulan lamanya dia mencari dana dan diakui oleh koordinatoor Komisi Dana FKAWJ Ibnu Hajar adalah salahsatu orang yang diandalkan dalam mencari dana.
Pada bulan Agustus dia diijinkan berangkat ke Ambon, mendengar hal tersebut bangkitlah kembali semangat menggebu-gebu yang selama ini dia pendam, dengan secepat kilat dia pulang ke rumah orang tuanya di Wonosobo untuk pamitan. Begitu Ibnu Hajar mengemukakan niatnya, ayah dan ibunya menagis haru dan kagum dengan semangat anaknya yang tiada pernah padam walaupun sudah 3 bulan terpendam di hatinya.
Ibnu Hajar bercerita dengan orang tuanya bahwa dia ingin sekali menemui kematian di jalan Allah dengan kata lain mati syahid dan mendapatkan keutamaan-keutamaan yang selama ini diberitakan didalam Al-Quran dan Hadist Rasullullah sallahu’alaihi wa sallam. Dengan berlinang air mata kedua orangtuanya melepas kepergian sang mujahid ke Ambon. Ibnu Hajar berpesan kepada orangtuanya supaya tidak bersedih karena Allah akan selalu menolong hamba-hambanya selama hamba-hamba-Nya membela agama Allah.
Adiknya yang bersikeras untuk berangkat ditahan oleh Ibnu Hajar untuk menemani dan membantu orangtuanya. Maka di terik matahari yang memecar dari sela-sela pegunungan Dieng yang begitu indah dan menawan sang mujahid yang begitu dicintai masarakatnya pergi meninggalkan kampung halaman untuk berjihad di jalan Allah dan dengan seulas senyum dan wajah ceria dia tampakan sebagai salam perpisahan untuk masarakat Wonosobo, kampung halaman yang dicintainya. Sepoi-sepoi angin gunung sumbing menerpa wajahnya menghantar Ibnu Hajar ke perjalananan suci ini.
Sampailah Ibnu Hajar ke Ambon tempat yang selama ini dia impi-impikan untuk memetik berbagai keutamaan yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ibnu Hajar di tempatkan di desa Ahuru Kotamadya Ambon. Kemudian beberapa saat lamanya dia ikut berbagai macam kegiatan Laskar Jihad Ahlus Sunnah wal Jamaah. Sampai puncaknya pada akhir September 2000 di menerima perintah untuk berangkat ke Suli bersama Laskar Jihad yang berjumlah 1 kompi (+ 70 orang) untuk melindungi masyarakat Desa Tulehu dari serangan kaum Kirsten.
Dengan gagah berani Ibnu Hajar berangkat untuk melawan musuh-musuh Allah dengan menyandang sebuah busur panah beserta anak panahnya dan sebilah pedang. Sampai di Suli pasukannya diserang habis-habisan oleh pasukan Kristen dengan dibantu aparat Brimob Kristen dengan gencar sampai terjebak selama 1 hari penuh. Ibnu Hajar hanya menemui 4 buah kelapa muda sebagai pengganjal perut dan itu pun Ibnu hajar tidak kebagian karena dia lebih mendahulukan teman-temannya yang kehausan.
Tidak lama kemudian kembali serangan Kristen dengan membabi-buta menyerang ke arah dia dan teman temanya. Tiba-tiba sebuah timah panas mengenai punggung dan tembus ke paha Ibnu Hajar maka meneteslah darah suci sang mujahid ini menyirami bumi jihad siwalima. Beberapa saat kemudian matanya menutup untuk selama lamanya dengan meninggalkan senyuman manis terlihat di wajahnya dan jiwanya kemudian menemui Khaliq-nya. Mendengar anaknya meninggal kedua orang tuanya terharu sekaligus bangga karena mempunyai seorang anak yang hidup dan matinya hanya Allah semata dan membela agamanya sampai akhir hayatnya.
  
Repost:http://kaahil.wordpress.com

Jika Engkau Tidak Malu, Berbuatlah Sekehendakmu!




 Ditulis Oleh Al Ustadz Abu Utsman Kharisman
(Syarh Hadits ke-20 Arbain anNawawiyyah)

عَنْ أَبِي مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ بِنْ عَمْرٍو الأَنْصَارِي الْبَدْرِي رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى، إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ.[رواه البخاري ]
Dari Abu Mas’ud, ‘Uqbah bin ‘Amr Al Anshari Al Badri radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya di antara ungkapan yang dikenal manusia dari ucapan kenabian terdahulu ialah: Jika engkau tidak malu, berbuatlah semaumu.” [HR. al-Bukhari]
Sedikit Penjelasan tentang Sahabat yang Meriwayatkan Hadits
Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr al-Anshory al-Badri, disebut sebagai al-Badri karena beliau tinggal di daerah Badr. Para Ulama’ berbeda pendapat apakah beliau ikut dalam perang Badr atau tidak. Al-Imam alBukhari berpendapat bahwa beliau ikut dalam perang Badr, namun kebanyakan Ulama’ lain tidak berpendapat demikian. Beliau ikut dalam Baiatul ‘Aqobah, perang Uhud, dan perang-perang setelahnya. Meninggal setelah tahun ke-40 Hijriah.
Definisi Malu
Istilah ‘malu’ secara hakiki adalah: suatu akhlak (dalam jiwa) yang membangkitkan sikap menjauhi hal-hal yang buruk dan mencegah dari perbuatan mengurangi hak pihak yang memiliki hak (Syarhun Nawawi ala Shahih Muslim (2/6)).
Dari definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa malu adalah:
  1. Akhlak/ perangai dalam jiwa/ batin yang membangkitkan suatu sikap.
  2. Sikap yang dibangkitkan adalah keengganan untuk :
        ~Melakukan hal-hal buruk, termasuk yang menodai kehormatan dirinya
        ~Menyia-nyiakan hak Allah atau hak hamba Allah.

Ini adalah definisi malu secara syar’i. Atas definisi ini, malu seluruhnya adalah baik.
الْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ
Malu adalah baik seluruhnya (H.R Muslim no 54)
الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ
Malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan (H.R alBukhari no 5652 dan Muslim no 53)
Jika ada sikap keengganan untuk melakukan hal-hal yang baik atau justru melalaikan kewajiban, maka itu bukanlah malu secara istilah syar’i. Hal itu disebut malu karena kemiripan keadaan dan perasaan, yaitu sama-sama enggan untuk melakukan sesuatu. Keengganan yang bukan karena sifat malas, namun sungkan dan merasa tidak enak dalam dirinya.
Orang yang enggan untuk menjalankan kewajiban atau kebaikan semacam itu, bukanlah akhlak yang terpuji, justru akhlak tercela, yang menunjukkan kelemahan, ketidakberanian dan ketidakberdayaannya.
Contoh: sungkan untuk beramar ma’ruf nahi munkar, sungkan untuk sholat berjamaah di masjid padahal dia laki-laki, sungkan untuk menuntut ilmu agama, sungkan untuk menutup auratnya, semua itu dengan alasan malu. Ini semua tidak pada tempatnya, dan keliru dalam memahami makna ‘malu’ yang dianjurkan dalam hadits.
Nabi Muhammad shollallaahu alaihi wasallam adalah orang yang paling pemalu, bahkan lebih pemalu dibandingkan gadis dalam pingitan. Namun beliau adalah orang yang paling pemberani.
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشَدَّ حَيَاءً مِنَ الْعَذْرَاءِ فِي خِدْرِهَا
Adalah Nabi shollallaahu alaihi wasallam manusia yang lebih pemalu dibandingkan gadis dalam pingitannya (H.R alBukhari no 3298 dan Muslim no 4284 dari Abu Said alKhudri)
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَشْجَعَ النَّاسِ وَلَقَدْ فَزِعَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَانْطَلَقَ نَاسٌ قِبَلَ الصَّوْتِ فَتَلَقَّاهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَاجِعًا وَقَدْ سَبَقَهُمْ إِلَى الصَّوْتِ وَهُوَ عَلَى فَرَسٍ لِأَبِي طَلْحَةَ عُرْيٍ فِي عُنُقِهِ السَّيْفُ وَهُوَ يَقُولُ لَمْ تُرَاعُوا لَمْ تُرَاعُوا
Adalah Rasulullah shollallahu alaihi wasallam adalah manusia terbaik, manusia paling dermawan, manusia paling pemberani. Pada suatu malam, penduduk Madinah merasa takut karena terdengar suara. Manusia kemudian menuju arah suara. Mereka berpapasan dengan Rasulullah shollallahu alaihi wasallam yang baru kembali dari arah suara, dan beliau telah mendahului mereka (paling awal) menuju ke arah suara. Beliau menunggang kuda Abu Tholhah tanpa membawa lampu penerangan dan di leher beliau tergantung pedang. Beliau bersabda: Jangan takut, jangan takut (H.R Muslim no 4266)
Nabi adalah manusia paling pemberani dalam pertempuran, paling pemberani dalam menyampaikan al-haq. Beliau adalah sangat pemalu, sangat menjaga diri untuk tidak melakukan hal-hal tercela dan mendzholimi pihak lain.
Makna Hadits Secara Umum
Dalam hadits ini Nabi menyatakan bahwa sesungguhnya salah satu di antara ajaran-ajaran yang diucapkan para Nabi di masa-masa awal kenabian adalah: Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu.
Hadits ini memiliki 2 makna yang saling berkaitan dan tidak bertentangan:
Pertama: Hadits tersebut bermakna ancaman, yaitu: Jika engkau tidak tahu malu, berbuatlah sekehendakmu. Terserah engkau.
Hal tersebut adalah ancaman, bukan anjuran. Ungkapan semacam ini sama dengan ungkapan yang disebut dalam sebagian ayat:
اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ
…Berbuatlah sekehendak kalian…(Q.S Fushshilat:40)
Ayat ini tidak bermakna anjuran agar orang berbuat sekehendaknya tanpa memperhatikan aturan. Ayat tersebut justru bermakna ancaman: Silakan berbuat sekehandakmu. Tapi ingat Allah Maha Melihat perbuatanmu, dan akan membalas sesuai perbuatanmu. Jika baik, balasannya baik. Jika buruk balasannya adzab.
Juga seperti dalam ayat:
وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ
Dan barangsiapa yang mau (silakan) dia kufur (Q.S al-Kahfi:29)
Ayat tersebut bukan bermakna anjuran kepada seseorang untuk berbuat kekufuran, namun justru ancaman. Seakan-akan dinyatakan: Silakan seseorang berbuat kekufuran, akibatnya adalah demikian dan demikian. Silakan tanggung sendiri akibatnya.
Makna yang kedua: Jika suatu perbuatan tidak mengandung hal-hal yang memalukan, silakan kerjakan. Tidak mengandung hal yang memalukan artinya tidak ada penyia-nyiaan terhadap hak Allah dan hak makhlukNya.
Selama suatu perbuatan tidak mengandung hal itu, kerjakanlah, karena tidak ada masalah dalam hal itu.
Hal ini dikarenakan sebagian manusia enggan mengerjakan kebaikan dengan alasan malu. Maka, seharusnya ia singkirkan segala macam hambatan-hambatan yang menghalanginya untuk berbuat kebaikan, selama dalam hal itu tidak ada penyianyiaan terhadap hak Allah maupun hak hamba Allah. Selama tidak ada unsur maksiat kepada Allah dan tidak ada pendzhaliman terhadap orang lain atau diri sendiri, kerjakanlah.
(Dua makna tersebut tidak dianggap bertentangan oleh Syaikh Sholih bin Abdil Aziz Aalu Syaikh)
Ajaran untuk Bersikap Malu Diwariskan dari Para Nabi Terdahulu
Nabi menyatakan bahwa ungkapan : Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu, berasal dari ucapan-ucapan para Nabi sejak di masa-masa awal kenabian (Nabi Adam). Hal itu menunjukkan bahwa sikap malu adalah akhlak mulia yang terus diwariskan dari Nabi awal ke Nabi berikutnya, hingga Nabi terakhir. Hal tersebut adalah ajaran dari para Nabi kepada para pengikutnya.
Keutamaan-keutamaan Sikap Malu
  1. Malu adalah tanda keimanan, dan keimanan akan mengantarkan pada surga
وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ
Dan sikap malu adalah salah satu cabang dari keimanan (H.R al-Bukhari no 8 dan Muslim no 50)
الْحَيَاءُ مِنَ الْإِيمَانِ وَالْإِيمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَالْبَذَاءُ مِنَ الْجَفَاءِ وَالْجَفَاءُ فِي النَّارِ
Malu adalah bagian dari iman, dan iman di surga. Sedangkan berkata kasar adalah termasuk perangai yang kasar, dan perangai yang kasar (tempatnya) di neraka (H.R atTirmidzi, Ibnu Majah, dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan al-Albany)
الْحَيَاءُ وَالإِيمَانُ قُرِنَا جَمِيعًا ، فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ الآخَر
Sesungguhnya malu dan iman adalah kedua hal yang beriringan. Jika diangkat salah satu, maka terangkat yang lain (H.R  al-Hakim, dishahihkan oleh adz-Dzahaby)
  1. Sikap malu memperindah keadaan
وَلَا كَانَ الْحَيَاءُ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا زَانَهُ
Dan tidaklah perasaan malu ada pada sesuatu, kecuali akan memperindahnya (H.R atTirmidzi, Ibnu Majah, dishahihkan Ibnu Hibban dan al-Albany)
  1. Malu adalah termasuk Sifat Allah dan sikap tersebut dicintai oleh Allah
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِيٌّ سِتِّيرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ
Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla adalah pemalu lagi tertutup. Ia mencintai sikap malu dan sesuatu yang tertutup. Jika salah seorang dari kalian mandi hendaknya menggunakan penutup (H.R Abu Dawud, anNasaai, dihasankan oleh as-Suyuthy dan dishahihkan al-Albany)
  1. Malu adalah akhlak Islam
إِنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا وَخُلُقُ الْإِسْلَامِ الْحَيَاءُ
Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu (H.R Malik, Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh al-Albany dalam Silsilah as-Shahihah)
(Faidah tentang keutamaan malu banyak diambil dari Syarh al-Arbain anNawawiyyah karya Sulaiman bin Muhammad alLuhaimid)
Malu Kepada Allah dengan Sebenar-benarnya
Seseorang yang memiliki perasaan malu terhadap Allah, akan menghasilkan perasaan muroqobah (senantiasa diawasi Allah), perbuatan ihsan, dan menjauhi kemaksiatan.
Nabi shollallahu alaihi wasallam memerintahkan kita untuk bersikap malu dengan sebenarnya kepada Allah:
اسْتَحْيُوا مِنَ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالْحَمْدُ لِلَّهِ قَالَ لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ الْإِسْتِحْيَاءَ مِنَ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى وَلْتَذْكُرْ الْمَوْتَ وَالْبِلَى وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ
Bersikap malulah kalian kepada Allah. Para Sahabat menyatakan: Wahai Rasulullah, kami telah bersikap malu kepada Allah, Alhamdulillah. Nabi bersabda: Bukan demikian. Tapi sesungguhnya sikap malu dengan sebenar-benarnya kepada Allah adalah menjaga kepala dan apa yang ada padanya, menjaga perut dan yang dikandungnya, dan mengingat kematian dan akan datangnya kebinasaan, dan barangsiapa yang menginginkan kehidupan akhirat dan meninggalkan perhiasan dunia. Barangsiapa yang melakukan hal itu, maka ia telah bersikap malu dengan sebenar-benarnya kepada Allah (H.R atTirmidizi, anNasaai, dishahihkan oleh al-Hakim dan disepakati keshahihannya oleh adz-Dzahaby).
‘Menjaga kepala dan yang ada padanya’ artinya: menjaga penglihatan (mata), ucapan (lisan), dan pendengaran (telinga). Juga bermakna : menjauhi kesyirikan, yaitu kepala tidak ditundukkan (sujud) kepada selain Allah.
‘Menjaga perut dan yang dikandungnya’ artinya menjaga perut dari makanan dan minuman yang haram, juga menjaga kemaluan dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah.

Jumat, 03 Mei 2013

Dialog Hati: Aku Tak Ingin Lagi Mengalah, Cukup Sudah!




'aisyah ummu ibrohim

Mengapa harus selalu mengalah? Pada sesuatu yang tak pernah mau kalah dan memaksa diri untuk terus menjadi jiwa yang tersalah!

Ketika lembaran dosa dapat terhapus dengan untaian istighfar yang terucap dari lisan,aku selalu mengalah pada nafsu sehingga terluput dariku seratus untaian itu.Bukankah orang yang mampu untuk menang dan melafadzkan seratus untaian itu,bisa jadi ia telah terilhami oleh ALLOH untuk terbebas dari azab kelak di negeri akhirat? Dan bukankah seorang yang mampu melafadzkan seratus untaian itu,bersamaan dengan detik-detik terangkatnya doa,maka akan diijabah permohonan ampunannya tersebut? Tapi,aku selalu mengalah,sehingga terluput darinya!

Ketika segala asa pasti diijabah dikala ALLOH turun ke langit dunia,di tengah senyapnya alam dan heningnya sepertiga waktu terakhir,lagi-lagi aku mengalah pada nafsu sehingga tak mampu raga ini untuk beranjak dari pembaringan semu.Terlena dan terus terlena.Duhai jiwa,tak sadarkah engkau bahwa kekalahanmu itu disebabkan oleh kemaksiatan yang kau lakukan di waktu siang kala mentari masih bersinar? Tak tahukah engkau, bahwa hanyalah manusia-manisia terpilih saja yang akan ALLOH bangunkan dari pembaringan menuju kemenangan untuk bisa berdua saja dengan-NYA,menghaturkan segala asa yang pasti terijabah? Tak inginkah dirimu menjadi manusia-manusia pilihan? Ya,tentu saja,lagi-lagi mengalah!

Ketika berlipat-lipat kebaikan hadir dalam satu saja huruf dari kitabulloh,masih saja aku mengalah pada nafsu.Padahal kitabulloh itu adalah penawar dan rahmat bagi manusia-manusia yang beriman,lalu,mengapa hal itu tidak terjadi padaku? Apakah aku bukan orang yang beriman? Padahal kitabulloh adalah obat bagi syubhat dan syahwat,kemudian,mengapa aku tak jua mampu merengkuhnya dan membuka lembarannya untuk kulafadzkan huruf demi huruf darinya? Apakah aku adalah orang yang masih kotor hati sehingga sangat berat bagiku untuk hanya sekedar menjamahnya?

Wahai jiwa,bangkitlah dan berjihadlah!
Bukankah istighfar,sholat malam dan membaca al-qur'an itu mampu kau lakukan dengan kekuatan dan fasilitas yang telah dikaruniakan ALLOH untukmu?
Mengapa engkau enggan untuk melakukannya?
Apakah kau bukanlah manusia pilihan ALLOH untuk dijadikan keselamatan dan kemewahan negeri akhirat berada di pelupuk matamu?
Tidakkah kau bosan dengan kekalahan yang selalu kau dapat?
Tidakkah kau lelah dengan keletihan hiruk pikuk dunia yang selalu kau tenggak?
Tak dengarkah kau dengan rintihan tengisan hati kecilmu yang selalu mengajak untuk bangkit berdiri menyongsong ajal yang kian dekat?
Mengapa selalu saja mengalah?
Kasihanilah dan ibalah pada dirimu sendiri!
Bangun dan bangkitlah untuk mereguk bekal sebanyaknya
Sebelum tiada lagi masa
Sebelum waktu itu tiba
Saat kau hendak terbujur kaku dan bertaut betis kiri dan kananmu merasakan sakaratul maut
Lalu kembali ke asalmu dengan wujud yang legam terhina
Wal'iyadzubillah...
Azamkanlah sekarang juga,”Aku tak ingin lagi mengalah,cukup sudah!”





"Gulali merah jambu" untuk suami


Anak-anak biasanya suka dengan gulali. Bentuknya besar, lembut di lidah, warnanya manis. Padahal gulali hanya terbuat dari air gula yang kental.
Gulali merah jambu itu bisa Anda hadiahkan dalam bentuk berbeda. Bagi suami yang Anda cintai.

1. Bukakan pintu

Di beberapa toko, hotel, atau penginapan, ada karyawan yang khusus bertugas membuka-tutup pintu. Menyambut konsumen atau tamu yang datang. Secara psikologis, sambutan seperti itu akan menyenangkan hati si tamu.
Suami Anda pun seperti itu.
Bayangkan, matahari terik di luar sana! Belum lagi debu yang hilir mudik menyapu udara. Bising yang sahut-menyahut. Ditambah lagi aurat yang diumbar di mana-mana.
Tapi … baru saja tiba di pagar, ternyata ada yang membukakan pintu rumah untuknya. Di balik pintu itu sudah menanti seorang bidadari yang wangi, bersih, dan siap menghadiahkan senyuman.
Masya Allah, terbasuh sudah kepenatan. Embun cinta dari sang istri yang menetesinya.
* Sederhana bagi Anda, penuh arti bagi suami Anda.

2. Jadikan salammu sebagai pengantar

Jangan biarkan suami Anda berangkat kerja tanpa Anda yang mengantar hingga ke pintu. Jadikan jawaban salam Anda sebagai pengantar kepergiannya, “Wa’alaykumussalam warahmatullah wabarakatuh.” Semoga harinya penuh rahmah dan berkah dari Allah.
* Sederhana bagi Anda, penuh arti bagi suami Anda.

3. Rapikan kerah bajunya

Bila suami Anda berangkat ke masjid, perhatikan baik-baik pakaiannya. Mungkin ada yang kurang rapi: kerahnya tak berdiri tegak, masih ada kancing baju yang belum terpasang, pecinya agak miring. Pastikan pakaiannya sudah rapi sebelum keluar dari rumah. Satu lagi, minyak wangi. Pakaian yang rapi, bersih, dan wangi sebelum mendirikan salah satu ibadah paling agung.
* Sederhana bagi Anda, penuh arti bagi suami Anda.

4. Bacakan sebuah hadits

Seorang kepala rumah tangga berkewajiban mencari nafkah. Karenanya, kesibukan dunia bisa saja melalaikannya dari negeri akhirat.
Dengan demikian, saat raganya sedang santai dan Anda ada di sisinya … coba bacakan sepenggal ayat Alquran, sebuah hadits nabawi, sepetik ucapan ulama, atau sepotong kisah orang shalih. Semoga bisa memperindah pakaian ketakwaannya.
* Sederhana bagi Anda, penuh arti bagi suami Anda.

5. Doakan kebaikan untuk Anda dan untuknya

Berdoalah kepada Allah yang Maha Mengabulkan doa. Doa kebaikan bagi Anda dan suami Anda, serta untuk anak keturunan Anda. Juga untuk orang tua dan sanak saudara Anda dan suami Anda. Kebaikan dunia dan akhirat.
Dengannya, semakin manislah bakti Anda kepadanya lillah. Yang tampak di pelupuk matanya. Serta yang hanya diketahui oleh Allah kemudian Anda.
* Sederhana bagi Anda, penuh arti bagi suami Anda.

Gulali dari Anda

Lima hal sederhana di atas hanya potongan contoh. Berikan gulali merah jambu spesial dari Anda untuk dia yang istimewa.

Ummiummi.com

Resep Bolu Singkong (Cassava Cake)

cassavacake kue singkong resep

Bahan:
  • Singkong 1.5kg
  • Kelapa parut (2 buah kelapa)
  • 1 kaleng santan
  • 1 cup air
  • Gula merah( secukup nya)
  • Susu bubuk( 10 sdk makan)
  • Garam 1sdk teh.
Caranya mudah, campur semua bahan di dlm blender, aduk sampai merata & then bake in the oven.
Rasanya legit & enaaaaak bgt :))

Tambahan: singkongnya dikukus dulu. Saat memanggang kue ini, loyang diletakkan lagi di atas wadah yang diisi air. Karena proses memasaknya lama, cara ini agar hasil kue agar tidak gosong.
Powered by Blogger