Selasa, 25 Oktober 2011

Askep Anak Meningitis

BAB I
KONSEP DASAR


1. Definisi
Meningitis adalah radang dari selaput otak (arachnoid dan piamater). Bakteri dan virus merupakan penyebab utama dari meningitis.
Meningitis adalah radang membran pelindung sistem syaraf pusat. Penyakit ini dapat disebabkan oleh mikroorganisme, luka fisik, kanker, atau obat-obatan tertentu. Meningitis adalah penyakit serius karena letaknya dekat otak dan tulang belakang, sehingga dapat menyebabkan kerusakan kendali gerak, pikiran, bahkan kematian. Meningitis tergolong penyakit serius dan bisa mengakibatkan kematian. Penderita meningitis yang bertahan hidup akan menderita kerusakan otak sehingga lumpuh, tuli, epilepsi, retardasi mental.
Penyakit meningitis dan pneumonia telah membunuh jutaan balita di seluruh dunia. Data WHO menunjukkan bahwa dari sekitar 1,8 juta kematian anak balita di seluruh dunia setiap tahun, lebih dari 700.000 kematian anak terjadi di negara kawasan Asia Tenggara dan Pasifik Barat.

Meningitis adalah radang pada meningen (membran yang mengelilingi otak dan medula spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri atau organ-organ jamur(Smeltzer, 2001).
Meningitis merupakan infeksi akut dari meninges, biasanya ditimbulkan oleh salah satu dari mikroorganisme pneumokok, Meningokok, Stafilokok, Streptokok, Hemophilus influenza dan bahan aseptis (virus) (Long, 1996).


2. Etiologi
a. Bakteri
Merupakan penyebab tersering dari meningitis, adapun beberapa bakteri yang secara umum diketahui dapat menyebabkan meningitis adalah :
* Haemophillus influenzae
* Nesseria meningitides (meningococcal)
* Diplococcus pneumoniae (pneumococcal)
* Streptococcus haemolyticuss, grup A
* Staphylococcus aureus
* Escherichia coli
* Klebsiella pneumoniae
* Proteus
* Pseudomonas aeruginosa
b. Virus, Jamur, dan Protozoa
Merupakan penyebab sering lainnya selain bakteri. Infeksi karena virus ini biasanya bersifat “self-limitting”, dimana akan mengalami penyembuhan sendiri dan penyembuhan bersifat sempurna.
* Toxoplasma gondhii
* Ricketsia
c. Faktor predisposisi
Jenis kelamin lakilaki lebih sering dibandingkan dengan wanita.
d. Faktor maternal
Ruptur membran fetal, infeksi maternal pada minggu terakhir kehamilan.
e. Faktor imunologi
Defisiensi mekanisme imun, defisiensi imunoglobulin.
f. Kelainan sistem saraf pusat, pembedahan atau injury yang berhubungan dengan sistem persarafan

3. Klasifikasi
Meningitis dibagi menjadi 2 golongan berdasarkan perubahan yang terjadi pada cairan otak, yaitu :
1. Meningitis serosa
Adalah radang selaput otak araknoid dan piameter yang disertai cairan otak yang jernih. Penyebab terseringnya adalah Mycobacterium tuberculosa. Penyebab lainnya lues, Virus, Toxoplasma gondhii dan Ricketsia.
Meningitis tuberculosa masih sering dijumpai di Indonesia, pada anak dan orang dewasa. Meningitis tuberculosa terjadi akibat komplikasi penyebab tuberculosis primer, biasanya dari paru paru. Meningitis bukan terjadi karena terinpeksi selaput otak langsung penyebaran hematogen, tetapi biasanya skunder melalui pembentukan tuberkel pada permukaan otak, sumsum tulang belakang atau vertebra yang kemudian pecah kedalam rongga archnoid.
Tuberkulosa ini timbul karena penyebaran mycobacterium tuberculosa. Pada meningitis tuberkulosa dapat terjadi pengobatan yang tidak sempurna atau pengobata yang terlambat. Dapat terjadi cacat neurologis berupa parase, paralysis sampai deserebrasi, hydrocephalus akibat sumbatan , reabsorbsi berkurang atau produksi berlebihan dari likour serebrospinal. Anak juga bias menjadi tuli atau buta dan kadang kadang menderita retardasi mental.
Gambaran klinik pada penyakit ini mulainya pelan. Terdapat panas yang tidak terlalu tinggi, nyeri kepala dan nyeri kuduk, terdapat rasa lemah, berat badan yang menurun, nyeri otot, nyeri punggung, kelainan jiwa seperti halusinasi. Pada pemeriksaan akan dijumpai tanda tanda rangsangan selaput otak seperti kaku kuduk dan brudzinski. Dapat terjadi hemipareses dan kerusakan saraf otak yaitu N III, N IV, N VI, N VII,N VIII sampai akhirnya kesadaran menurun.
2. Meningitis purulenta
Adalah radang bernanah arakhnoid dan piameter yang meliputi otak dan medula spinalis yang menimbulkan eksudasi berupa pus, disebabkan oleh kuman non spesifik dan non virus. Penyakit ini lebih sering didapatkan pada anak daripada orang dewasa. Meningitis purulenta pada umumnya sebagai akibat komplikasi penyakit lain. Kuman secara hematogen sampai keselaput otak; misalnya pada penyakit penyakit faringotonsilitis, pneumonia, bronchopneumonia, endokarditis dan lain lain. Dapat pula sebagai perluasan perkontinuitatum dari peradangan organ / jaringan didekat selaput otak, misalnya abses otak, otitis media, mastoiditis dan lain lain.
Penyebabnya antara lain : Diplococcus pneumoniae (pneumokok), Neisseria meningitis (meningokok), Streptococus haemolyticuss, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Peudomonas aeruginosa.
Komplikasi pada meningitis purulenta dapat terjadi sebagai akibat pengobatan yang tidak sempurna / pengobatan yang terlambat . pada permulaan gejala meningitis purulenta adalah panas, menggigil, nyeri kepala yang terus menerus, mual dan muntah, hilangnya napsu makan, kelemahan umum dan rasa nyeri pada punggung dan sendi, setelah 12 (dua belas ) sampai 24 (dua pulu empat ) jam timbul gambaran klinis meningitis yang lebih khas yaitu nyeri pada kuduk dan tanda tanda rangsangan selaput otak seperti kaku kuduk dan brudzinski. Bila terjadi koma yang dalam , tanda tanda selaput otak akan menghilang, penderita takut akan cahaya dan amat peka terhadap rangsangan, penderita sering gelisah, mudah terangsang dan menunjukan perubahan mental seperti bingung, hiperaktif dan halusinasi. Pada keadaan yang berat dapat terjadi herniasi otak sehingga terjadi dilatasi pupil dan koma.



Meningitis Bakteri
Bakteri yang paling sering menyebabkan meningitis adalah hemofilus influenza, diplococcus pneumonia, streptococcus grup A, stapilococcus aurens, E.coli, klebsiela, dan pseudomonas. Tubuh akan berespon terhadap bakteri sebagai benda asing dan berespon dengan terjadinya peradangan dengan adanya neutrofil, monosit dan limfosit. Cairan eksudat yang terdiri dari bakteri, fibrin dan leukosit terbentuk diruangan subarachnoid ini akan terkumpul didalam cairan otak sehingga dapat menyebabkan lapisan yang tadinya tipis menjadi tebal. Dan pengumpulan cairan ini akan menyebabkan peningkatan intra cranial. Hal ini akan menyebabkan jaringan otak akan mengalami infark.

Meningitis virus
Tipe dari meningitis ini sering disebut aseptic meningitis. Ini biasanya disebabkan oleh berbagai jenis penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti :herpes simplek dan herpes zoster. Eksudat yang biasanya terjadi pada meningitis bakteri tidak terjadi pada meningitis virus dan tidak ditemukan organisme pada kultur cairan otak.
Peradangan terjadi pada seluruh kortek serebri dan lapisan otak. Mekanisme atau respon dari jaringan otak terhadap virus bervariasi tergantung pada jenis sel yang terlibat.








4. Patofisiologi











Suatu peradangan akut pada selaput otak yang diakibatkan oleh





Bakteri Virus


Meningitis Bakteri Meningitis non bakteri
(Aseptc)

90 % kasus terjadi pada
anak umur 1 bln - 5 th
Meningitis bakteri juga bisa disebabkan oleh adanya penurunan system kekebalan tubuh seperti AIDS.

5. Manifestasi Klinis
Gejala meningitis diakibatkan dari infeksi dan peningkatan TIK :
* Sakit kepala dan demam (gejala awal yang sering).
* Perubahan pada tingkat kesadaran dapat terjadi letargik, tidak responsif, dan koma.
* Iritasi meningen mengakibatkan sejumlah tanda sbb:
a) Rigiditas nukal ( kaku leher ): Upaya untuk fleksi kepala mengalami kesukaran karena adanya spasme otot-otot leher.
b) Tanda kernik positip: Ketika pasien dibaringkan dengan paha dalam keadaan fleksi kearah abdomen, kaki tidak dapat di ekstensikan sempurna.
c) Tanda brudzinki : Bila leher pasien di fleksikan maka dihasilkan fleksi lutut dan pinggul. Bila dilakukan fleksi pasif pada ekstremitas bawah pada salah satu sisi maka gerakan yang sama terlihat beda sisi ektremitas yang berlawanan.
* Mengalami foto fobia, atau sensitif yang berlebihan pada cahaya.
* Kejang akibat area fokal kortikal yang peka dan peningkatan TIK akibat eksudat purulen dan edema serebral dengan tanda-tanda perubahan karakteristik tanda-tanda vital (melebarnya tekanan pulsa dan bradikardi), pernafasan tidak teratur, sakit kepala, muntah dan penurunan tingkat kesadaran.
* Adanya ruam merupakan ciri menyolok pada meningitis meningokokal.
* Infeksi fulminating dengan tanda-tanda septikimia : demam tinggi tiba-tiba muncul, lesi purpura yang menyebar, syok dan tanda koagulopati intravaskuler diseminata.
* Pada awal penyakit, kelelahan, perubahan daya mengingat, perubahan tingkah laku.
* Adanya disfungsi pada saraf III, IV, VI.
* Pergerakan motorik pada awal penyakit biasanya normal dan pada tahap lanjutan biasa terjadi hemiparesis, hemiplagia, dan penurunan tonus otot.
* Nausea.
* Vomiting.
* Takikardia.
* Kejang.
* Pasien merasa takut dan cemas.

Bayi

Anak

Remaja
* Demam
* Kejang pada tengkuk
* Rewel/gelisah
* Susah makan
* Menangis terus-menerus
* Lemah
* Intensitas interaksi berkurang
* Ubun-ubun membenjol

* Demam
* Kejang pada tengkuk
* Sakit kepala
* Mual
* Bingung/disorientasi
* Serangan mendadak
* Tidak suka cahaya terang (fotofobia)
* Ruam di sekujur tubuh

* Sakitnya tiba-tiba, adanya demam, sakit kepala, panas dingin, muntah, kejang-kejang
* Anak menjadi irritable dan agitasi dan dapat berkembang photopobia, delirium, halusinasi, tingkah laku yang agresif atau mengantuk stupor dan koma
* Gejala pada respiratory atau gastrointestinal
* Adanya tahanan pada kepala jika difleksikan
* Kekakuan pada leher (Nuchal Rigidity)
* Kulit dingin dan sianosis
* Peteki/adannya purpura pada kulit à infeksi meningococcus (meningo cocsemia)
* Keluarnya cairan dari telinga à meningitis peneumococal
* Congenital dermal sinus à infeksi E. Colli

6. Faktor Predisposisi
Faktor pencetus terjadinya meningitis bacterial diantaranya adalah :
* Otitis media
* Pneumonia
* Sinusitis
* Sickle cell anemia
* Fraktur cranial, trauma otak
* Operasi spinal
Faktor predisposisi mencakup infeksi jalan nafas bagian atas, otitis media, mastoiditis, anemia sel sabit dan hemoglobinopatis lain, prosedur bedah saraf baru, trauma kepala dan pengaruh imunologis. Saluran vena yang melalui nasofaring posterior, telinga bagian tengah dan saluran mastoid menuju otak dan dekat saluran vena-vena meningen; semuanya ini penghubung yang menyokong perkembangan bakteri.
Organisme masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan reaksi radang di dalam meningen dan di bawah korteks, yang dapat menyebabkan trombus dan penurunan aliran darah serebral. Jaringan serebral mengalami gangguan metabolisme akibat eksudat meningen, vaskulitis dan hipoperfusi. Eksudat purulen dapat menyebar sampai dasar otak dan medula spinalis. Radang juga menyebar ke dinding membran ventrikel serebral. Meningitis bakteri dihubungkan dengan perubahan fisiologis intrakranial, yang terdiri dari peningkatan permeabilitas pada darah, daerah pertahanan otak (barier oak), edema serebral dan peningkatan TIK.
Pada infeksi akut pasien meninggal akibat toksin bakteri sebelum terjadi meningitis. Infeksi terbanyak dari pasien ini dengan kerusakan adrenal, kolaps sirkulasi dan dihubungkan dengan meluasnya hemoragi (pada sindrom Waterhouse-Friderichssen) sebagai akibat terjadinya kerusakan endotel dan nekrosis pembuluh darah yang disebabkan oleh meningokokus.

Infeksi


Pembuluh darah Penetrasi Luka






CSS

Seluruh rongga sub arachnoid



Eksudat Tuberkel




Kelainan pembuluh darah Obstruksi sisterna basalis
(Arthritis-phlebitis)



Infark Otak Hidrocephalus



Pelunakan Otak

Faktor resiko terjadinya meningitis :
1. Infeksi sistemik
Didapat dari infeksi di organ tubuh lain yang akhirnya menyebar secara hematogen sampai ke selaput otak, misalnya otitis media kronis, mastoiditis, pneumonia, TBC, perikarditis, dll.
2. Trauma kepala
Bisanya terjadi pada trauma kepala terbuka atau pada fraktur basis cranii yang memungkinkan terpaparnya CSF dengan lingkungan luar melalui othorrhea dan rhinorhea
3. Kelaianan anatomis
Terjadi pada pasien seperti post operasi di daerah mastoid, saluran telinga tengah, operasi cranium
Terjadinya pe ↑ TIK pada meningitis, mekanismenya adalah sebagai berikut :
Agen penyebab → reaksi local pada meninges → inflamasi meninges → pe ↑ permiabilitas kapiler → kebocoran cairan dari intravaskuler ke interstisial → pe ↑ volume cairan interstisial → edema → Postulat Kellie Monroe, kompensasi tidak adekuat → pe ↑ TIK
Pada meningitis jarang ditemukan kejang, kecuali jika infeksi sudah menyebar ke jaringan otak, dimana kejang ini terjadi bila ada kerusakan pada korteks serebri pada bagian premotor.


7. Komplikasi
Komplikasi yang bisa terjadi adalah ;
* Hidrosefalus obstruktif
* MeningococcL Septicemia ( mengingocemia )
* Sindrome water-friderichen (septik syok, DIC,perdarahan adrenal bilateral)
* SIADH ( Syndrome Inappropriate Antidiuretic hormone )
* Efusi subdural
* Kejang
* Edema dan herniasi serebral
* Cerebral palsy
* Gangguan mental
* Gangguan belajar
* Attention deficit disorder
* Gangguan pembekuan darah
* Syok septic
* Demam yang memanjang
* Komplikasi post meningitis pada neonatus:
§ Ventriculitis (yang menghasilkan kista, daerah yang dibatasi oleh akumulasi cairan dan tekanan pada otak)
§ Gangguan yang menetap dan penglihatan, pendengaran dan kelemahan nervus yang lain
§ Cerebral palsy, cacat mental, gangguan belajar, penurunan perhatian, gangguan hiperaktivitas dan adanya kejang.
§ Hemiparesis dan quadriparesis à arthritis/thrombosis




8. Pemeriksaan Diagnostik
* Analisis CSS dari fungsi lumbal :
a) Meningitis bakterial : tekanan meningkat, cairan keruh/berkabut, jumlah sel darah putih dan protein meningkat glukosa meningkat, kultur positip terhadap beberapa jenis bakteri.
b) Meningitis virus : tekanan bervariasi, cairan CSS biasanya jernih, sel darah putih meningkat, glukosa dan protein biasanya normal, kultur biasanya negatif, kultur virus biasanya dengan prosedur khusus.
* Glukosa serum : meningkat ( meningitis ).
* LDH serum : meningkat ( meningitis bakteri )
* Sel darah putih : sedikit meningkat dengan peningkatan neutrofil ( infeksi bakteri ).
* Elektrolit darah : Abnormal .
* ESR/ LED : meningkat pada meningitis .
* Kultur darah/ hidung/ tenggorokan/ urine : dapat mengindikasikan daerah pusat infeksi atau mengindikasikan tipe penyebab infeksi.
* MRI/ CT scan : dapat membantu dalam melokalisasi lesi, melihat ukuran/ letak ventrikel; hematom daerah serebral, hemoragik atau tumor.
* Ronsen dada/ kepala/ sinus ; mungkin ada indikasi sumber infeksi intra kranial.

9. Pencegahan
Meningitis dapat dicegah dengan cara mengenali dan mengerti dengan baik factor predisposisi seperti otitis media atau infeksi saluran napas (seperti TBC ) dimana dapat menyebabkan meningitis serosa. Dalam hal ini yang paling penting adalah pengobatan tuntas (antibiotic) walau gejala gejala infeksi tersebut telah hilang.
Setelah terjadinya meningitis penanganan yang sesuai harus cepat diatasi. Untuk mengidentifikasi factor atau jenis organisme penyebab dan dengan cepat memberikan terapi sesuai dengan organisme penyebab untuk melindungi komplikasi yang serius.
Meningitis dapat dicegah dengan cara mengenali dan mengerti dengan baik faktor presdis posisi seperti otitis media atau infeksi saluran napas (seperti TBC) dimana dapat menyebabkan meningitis serosa. Dalam hal ini yang paling penting adalah pengobatan tuntas (antibiotik) walaupun gejala-gejala infeksi tersebut telah hilang.
Setelah terjadinya meningitis penanganan yang sesuai harus cepat diatasi. Untuk mengidentifikasi faktor atau janis organisme penyebab dan dengan cepat memberikan terapi sesuai dengan organisme penyebab untuk melindungi komplikasi yang serius.
Untuk mencegah IPD, termasuk meningitis, Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia merekomendasikan vaksin konjugat pneumokokus. Vaksin tersebut dianjurkan untuk diberikan kepada bayi dan anak yang berusia 2 bulan hingga 9 tahun. Pemberian vaksin paling baik dilakukan pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, dan 12 – 15 bulan. “Data yang dikeluarkan Centers for Disease Control and Prevention pada 2005 menyatakan infeksi pneumokokus berkurang hingga 97 persen dalam 6 tahun setelah pemberian vaksin,” kata Dr. Aman. Selain itu, vaksin juga mengurangi jumlah anak yang menjadi pembawa bakteri penyakit tenggorok serta mengurangi penyebaran IPD dari anak ke orang dewasa.
Vaksin konjugat pneumokokus juga hanya menimbulkan efek samping yang ringan seperti kulit kemerahan, sedikit bengkak dan nyeri pada daerah sekitar suntikan. Gejala umum setelah pemberian vaksin seperti demam, mengantuk, rewel, nafsu makan berkurang, jarang ditemukan pada bayi. “Vaksinasi pneumokokus boleh diberikan bersamaan dengan vaksin lain, seperti vaksin DTP/HiB, DtaP, Hib, IPV, Hepatitis B, MMR, dan Varicella,” kata Dr. Aman.

10. Pengobatan
Pengobatan biasanya diberikan antibiotik yang paling sesuai. Untuk setiap mikroorganisme penyebab meningitis :
Antibiotik

Organisme




Penicilin G




Gentamicyn



Chlorampenikol

Pneumoccocci
Meningoccocci
Streptoccocci


Klebsiella
Pseudomonas
Proleus

Haemofilus Influenza

Terapi TBC
· Streptomicyn
· INH
· PAS

Micobacterium Tuber culosis

11.Penatalaksanaan
Hal – hal yang harus dilakukan dalam rangka penatalaksanaan post – operatif dan penilaian neurologis adalah sebagai berikut :
a. Post – Operatif : Jangan menempatkan klien pada posisi operasi.
b. Pada beberapa pemintasan, harus diingat bahwa terdapat katup (biasanya terletak pada tulang mastoid) di mana dokter dapat memintanya di pompa.
c. Jaga teknik aseptik yang ketat pada balutan.
d. Amati adanya kebocoran disekeliling balutan.
e. Jika status neurologi klien tidak memperlihatkan kemajuan, patut diduga adanya adanya kegagalan operasi (malfungsi karena kateter penuh);gejala dan tanda yang teramati dapat berupa peningkatan ICP.
Hidrocephalus pada Anak atau Bayi
Pembagian :
Hidrosephalus pada anak atau bayi pada dasarnya dapat di bagi dua (2 ) ;
1. Kongenital
Merupakan Hidrosephalus yang sudah diderita sejak bayi dilahirkan, sehingga :
* Pada saat lahir keadaan otak bayi terbentuk kecil.
* Terdesak oleh banyaknya cairan didalam kepala dan tingginya tekanan intrakranial sehingga pertumbuhan sel otak terganggu.

2. Di dapat
Bayi atau anak mengalaminya pada saat sudah besar, dengan penyebabnya adalah penyakit – penyakit tertentu misalnya trauma, TBC yang menyerang otak dimana pengobatannya tidak tuntas. Pada hidrosefalus di dapat pertumbuhan otak sudah sempurna, tetapi kemudian terganggu oleh sebab adanya peninggian tekanan intrakranial.Sehingga perbedaan hidrosefalus kongenital denga di dapat terletak pada pembentukan otak dan pembentukan otak dan kemungkinan prognosanya..

Penyebab sumbatan ;
Penyebab sumbatan aliran CSF yang sering terdapat pada bayi dan anak – anak ;
* Kelainan kongenital.
* Infeksi di sebabkan oleh perlengketan meningen akibat infeksi dapat terjadi pelebaran ventrikel pada masa akut ( misal ; Meningitis ).

* Neoplasma.
* Perdarahan , misalnya perdarahan otak sebelum atau sesudah lahir.


Berdasarkan letak obstruksi CSF hidrosefalus pada bayi dan anak ini juga terbagi dalam dua bagian yaitu :
* Hidrosefalus komunikan
Apabila obstruksinya terdapat pada rongga subaracnoid, sehingga terdapat aliran bebas CSF dalam sistem ventrikel sampai ke tempat sumbatan.
* Hidrosefalus non komunikan
Apabila obstruksinya terdapat terdapat didalam sistem ventrikel sehingga menghambat aliran bebas dari CSF. Biasanya gangguan yang terjadi pada hidrosefalus kongenital adalah pada sistem vertikal sehingga terjadi bentuk hidrosefalus non komunikan.

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN ANAK MENINGITIS


1. Pengkajian
a) Biodata klien

b) Keluhan utama
Keluhan utama yang sering adalah panas badan tinggi, koma, kejang dan penurunan kesadaran.

c) Riwayat kesehatan yang lalu
1. Apakah pernah menderita penyakit ISPA dan TBC ?
2. Apakah pernah jatuh atau trauma kepala ?
3. Pernahkah operasi daerah kepala ?

d) Riwayat kesehatan sekarang
Faktor riwayat penyakit sangat penting diketahui karena untuk mengetahui jenis kuman penyebab. Disini harus ditanya dengan jelas tetang gejala yang timbul seperti kapan mulai serangan, sembuh atau bertambah buruk. Pada pengkajian pasien meningitis biasanya didapatkan keluhan yang berhubungan dengan akibat dari infeksi dan peningkatan TIK. Keluhan tersebut diantaranya, sakit kepala dan demam adalah gejala awal yang sering. Sakit kepala berhubungan dengan meningitis yang selalu berat dan sebagai akibat iritasi meningen. Demam umumnya ada dan tetap tinggi selama perjalanan penyakit.
Keluhan kejang perlu mendapat perhatian untuk dilakukan pengkajian lebih mendalam, bagaimana sifat timbulnya kejang, stimulus apa yang sering menimbulkan kejang dan tindakan apa yang telah diberikan dalam upaya menurunkan keluhan kejang tersebut.
Pengkajian lainnya yang perlu ditanyakan seperti riwayat selama menjalani perawatan di RS, pernahkah mengalami tindakan invasive yang memungkinkan masuknya kuman kemeningen terutama tindakan melalui pembuluh darah.
e) Riwayat Penyakit Dahulu
Pengkajian penyakit yang pernah dialami pasien yang memungkinkan adanya hubungan atau menjadi predisposisi keluhan sekarang meliputi pernahkah pasien mengalami infeksi jalan napas bagian atas, otitis media, mastoiditis, tindakan bedah saraf, riwayat trauma kepala dan adanya pengaruh immunologis pada masa sebelumnya.
Riwayat sakit TB paru perlu ditanyakan pada pasien terutama apabila ada keluhan batuk produktif dan pernah menjalani pengobatan obat anti TB yang sangat berguna untuk mengidentifikasi meningitis tuberculosia.
Pengkajian pemakaian obat obat yang sering digunakan pasien, seperti pemakaian obat kortikostiroid, pemakaian jenis jenis antibiotic dan reaksinya (untuk menilai resistensi pemakaian antibiotic).

f) Pengkajian psikososial
Respon emosi pengkajian mekanisme koping yang digunakan pasien juga penting untuk menilai pasien terhadap penyakit yang dideritanya dan perubahan peran pasien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat.





g) Pemeriksaan fisik
1. Aktivitas / istirahat
* Gejala : Perasaan tidak enak (malaise ), keterbatasan yang ditimbulkan kondisinya.
* Tanda : Ataksia, masalah berjalan, kelumpuhan, gerakan involunter, kelemahan secara umum, keterbatasan dalam rentang gerak.
2. Sirkulasi
* Gejala : Adanya riwayat kardiologi, seperti endokarditis, beberapa penyakit jantung conginetal ( abses otak ).
* Tanda : Tekanan darah meningkat, nadi menurun dan tekanan nadi berat (berhubungan dengan peningkatan TIK dan pengaruh dari pusat vasomotor ); takikardi, distritmia ( pada fase akut ) seperti distrimia sinus (pada meningitis ).
3. Eliminasi
* Tanda : Adanya inkotinensia dan retensi.
4. Makanan dan Cairan
* Gejala : Kehilangan napsu makan, kesulitan menelan (pada periode akut).
* Tanda : Anoreksia, muntah, turgor kulit jelek, membrane mukosa kering.
5. Hygiene
* Tanda : Ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri ( pada periode akut ).
6. Neurosensori
* Gejala : Sakit kepala ( mungkin merupan gejala pertama dan biasanya berat ), Pareslisia, terasa kaku pada semua persarafan yang terkena, kehilangan sensasi ( kerusakan pada saraf cranial ).
Hiperalgesia / meningkatnya sensitifitas ( minimitis ) .
Timbul kejang ( minimitis bakteri atau abses otak ) gangguan dalam penglihatan, seperti diplopia ( fase awal dari beberapa infeksi ).
Fotopobia ( pada minimtis ).
Ketulian ( pada minimitis / encephalitis ) atau mungkin hipersensitifitas terhadap kebisingan,
Adanya halusinasi penciuman / sentuhan.
* Tanda : Status mental / tingkat kesadaran ; letargi sampai kebingungan yang berat hingga koma, delusi dan halusinasi / psikosis organic ( encephalitis ).
Kehilangan memori, sulit mengambil keputusan ( dapat merupakan gejala berkembangnya hidrosephalus komunikan yang mengikuti meningitis bacterial )
Afasia / kesulitan dalam berkomunikasi.
Mata ( ukuran / reaksi pupil ) : unisokor atau tidak berespon terhadap cahaya ( peningkatan TIK ), nistagmus ( bola mata bergerak terus menerus ).
Ptosis ( kelopak mata atas jatuh ). Karakteristik fasial (wajah ) ; perubahan pada fungsi motorik dan sensorik ( saraf cranial V dan VII terkena ).
Kejang umum atau lokal ( pada abses otak ) . Kejang lobus temporal .
Otot mengalami hipotonia/ flaksid paralisis ( pada fase akut meningitis ).
Spastik( encephalitis).
Hemiparese hemiplegic ( meningitis / encephalitis ).
Tanda brudzinski positif dan atau tanda kernig positif merupakan indikasi adanya iritasi meningeal ( fase akut ).
Regiditas muka ( iritasi meningeal ).
Refleks tendon dalam terganggu, brudzinski positif.
Refleks abdominal menurun.

7. Nyeri / Kenyamanan
* Gejala : Sakit kepala ( berdenyut dengan hebat, frontal ) mungkin akan diperburuk oleh ketegangan leher/ punggung kaku,nyeri pada gerakan ocular, tenggorokan nyeri.
* Tanda : Tampak terus terjaga, perilaku distraksi/ gelisah menangis/ mengeluh.
8. Pernapasan
* Gejala : Adanya riwayat infeksi sinus atau paru
* Tanda : Peningkatan kerja pernapasan (tahap awal ), perubahan mental ( letargi sampai koma ) dan gelisah.
9. Keamanan
* Gejala : Adanya riwayat infeksi saluran napas atas atau infeksi lain, meliputi mastoiditis telinga tengah sinus, abses gigi, abdomen atau kulit, fungsi lumbal, pembedahan, fraktur pada tengkorak / cedera kepala.
Imunisasi yang baru saja berlangsung ; terpajan pada meningitis, terpajan oleh campak, herpes simplek, gigitan binatang, benda asing yang terbawa.
Gangguan penglihatan atau pendengaran
* Tanda : Suhu badan meningkat,diaphoresis, menggigil.
Kelemahan secara umum ; tonus otot flaksid atau plastic.
Gangguan sensoris.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial.
b. Sakit kepala sehubungan dengan adanya iritasi lapisan otak
c. Potensial terjadinya injuri sehubungan dengan adanya kejang, perubahan status mental dan penurunan tingkat kesadaran


3. Perencanaan Keperawatan
DP.1 :Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial
Tujuan :
* Pasien kembali pada,keadaan status neurologis sebelum sakit.
* Meningkatnya kesadaran pasien dan fungsi sensoris.

Kriteria hasil :
* Tanda-tanda vital dalam batas normal.
* Rasa sakit kepala berkurang.
* Kesadaran meningkat.
* Adanya peningkatan kognitif dan tidak ada atau hilangnya tanda-tanda tekanan intrakranial yang meningkat.

Intervensi :
No

Intervensi

Rasionalisasi

1.

Mandiri
Pasien bed rest total dengan posisi tidur terlentang tanpa bantal.


Perubahan pada tekanan intakranial akan dapat meyebabkan resiko untuk terjadinya herniasi otak.

2.

Monitor tanda-tanda status neurologis dengan GCS.


Dapat mengurangi kerusakan otak lebih lanjut.
3.

Monitor tanda-tanda vital seperti TD, Nadi, Suhu, Respirasi, dan hati-hati pada hipertensi sistolik

Pada keadaan normal autoregulasi mempertahankan keadaan tekanan darah sistemik berubah secara fluktuasi. Kegagalan autoreguler akan menyebabkan kerusakan vaskuler cerebral yang dapat dimanifestasikan dengan peningkatan sistolik dan diiukuti oleh penurunan tekanan diastolik. Sedangkan peningkatan suhu dapat menggambarkan perjalanan infeksi.

4.

Monitor intake dan output

Hipertermi dapat menyebabkan peningkatan IWL dan meningkatkan resiko dehidrasi terutama pada pasien yang tidak sadra, nausea yang menurunkan intake per oral.

5.

Bantu pasien untuk membatasi muntah, batuk. Anjurkan pasien untuk mengeluarkan napas apabila bergerak atau berbalik di tempat tidur.

Aktifitas ini dapat meningkatkan tekanan intrakranial dan intraabdomen. Mengeluarkan napas sewaktu bergerak atau merubah posisi dapat melindungi diri dari efek valsava.


6.

Kolaborasi
Berikan cairan perinfus dengan perhatian ketat.


Meminimalkan fluktuasi pada beban vaskuler dan tekanan intrakranial, vetriksi cairan dan cairan dapat menurunkan edema cerebral.

7.

Monitor AGD bila diperlukan pemberian oksigen

Adanya kemungkinan asidosis disertai dengan pelepasan oksigen pada tingkat sel dapat menyebabkan terjadinya iskhemik serebral.

8.

Berikan terapi sesuai advis dokter seperti: Steroid, Aminofel, Antibiotika.

Terapi yang diberikan dapat menurunkan permeabilitas kapiler.
Menurunkan edema serebri.
Menurunkan metabolik sel / konsumsi dan kejang.



DP.2 : Sakit kepala sehubungan dengan adanya iritasi lapisan otak.

Tujuan :
* Pasien terlihat rasa sakitnya berkurang / rasa sakit terkontrol

Kriteria evaluasi :
* Pasien dapat tidur dengan tenang.
* Memverbalisasikan penurunan rasa sakit.

Intervensi :
No

INTERVENSI

RASIONALISASI

1.

Mandiri
Usahakan membuat lingkungan yang aman dan tenang.


Menurukan reaksi terhadap rangsangan ekternal atau kesensitifan terhadap cahaya dan menganjurkan pasien untuk beristirahat.

2.

Kompres dingin (es) pada kepala dan kain dingin pada mata.

Dapat menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah otak.

3.

Lakukan latihan gerak aktif atau pasif sesuai kondisi dengan lembut dan hati-hati.

Dapat membantu relaksasi otot-otot yang tegang dan dapat menurunkan rasa sakit / discomfort.


4.

Kolaborasi
Berikan obat analgesik


Mungkin diperlukan untuk menurunkan rasa sakit. Catatan : Narkotika merupakan kontraindikasi karena berdampak pada status neurologis sehingga sukar untuk dikaji.

DP.3 : Potensial terjadinya injuri sehubungan dengan adanya kejang, perubahan status mental dan penurunan tingkat kesadaran.

Tujuan:
* Pasien bebas dari injuri yang disebabkan oleh kejang dan penurunan kesadaran.

Intervensi :
No.

INTERVENSI

RASIONALISASI

1.

Mandiri
Monitor kejang pada tangan, kaki, mulut dan otot-otot muka lainnya.


Gambaran tribalitas sistem saraf pusat memerlukan evaluasi yang sesuai dengan intervensi yang tepat untuk mencegah terjadinya komplikasi.

2.

Persiapkan lingkungan yang aman seperti batasan ranjang, papan pengaman, dan alat suction selalu berada dekat pasien.


Melindungi pasien bila kejang terjadi
3.

Pertahankan bedrest total selama fase akut

Mengurangi resiko jatuh / terluka jika vertigo, sincope, dan ataksia terjadi

4.

Kolaborasi
Berikan terapi sesuai advis dokter seperti; diazepam, phenobarbital, dll.


Untuk mencegah atau mengurangi kejang.
Catatan : Phenobarbital dapat menyebabkan respiratorius depresi dan sedasi.

DAFTAR PUSTAKA


Brunner / Suddarth, Medical Surgical Nursing, JB Lippincot Company, Philadelphia, 1984.
Doenges, Marilyn E, dkk.(1999).Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih Bahasa, I Made Kariasa, N Made Sumarwati. Editor edisi bahasa Indonesia, Monica Ester, Yasmin asih. Ed.3. Jakarta : EGC.
Donnad, Medical Surgical Nursing, WB Saunders, 1991

Read more: http://sely-biru.blogspot.com/2010/02/askep-anak-meningitis.html#ixzz1bqwyzVPw

MAKALAH DHF

A. Pengertian

Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (Christantie Efendy,1995 ).
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang terdapat pada anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam. DHF sejenis virus yang tergolong arbo virus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (betina) (Seoparman, 1990).
DHF adalah demam khusus yang dibawa oleh aedes aegypty dan beberapa nyamuk lain yang menyebabkan terjadinya demam. Biasanya dengan cepat menyebar secara efidemik. (Sir, Patrick manson, 2001).


B. Etiologi

1. Virus dengue sejenis arbovirus.
2. Virus dengue tergolong dalam family Flavividae dan dikenal ada 4 serotif, Dengue 1 dan 2 ditemukan di Irian ketika berlangsungnya perang dunia ke II, sedangkan dengue 3 dan 4 ditemukan pada saat wabah di Filipina tahun 1953-1954. Virus dengue berbentuk batang, bersifat termoragil, sensitif terhadap in aktivitas oleh diatiter dan natrium diaksikolat, stabil pada suhu 70 oC.
Keempat serotif tersebut telah di temukan pula di Indonesia dengan serotif ke 3 merupakan serotif yang paling banyak.


C. Patofisiologi

Virus akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypty dan kemudian akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks virus-antibody. Dalam sirkulasi akan mengaktivasi system komplemen. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a,dua peptida yang berdaya untuk melepaskan histamine dan merupakan mediator kuat sebagai factor
meningkatnya permeabilitas dinding pembuluh darah dan menghilangkan plasma melalui endotel dinding itu.

Terjadinya trobositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi (protombin dan fibrinogen) merupakan factor penyebab terjadinya perdarahan hebat , terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF.

Yang menentukan beratnya penyakit adalah meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah, menurunnya volume plasma, terjadinya hipotensi, trombositopenia dan diathesis hemorrhagic, renjatan terjadi secara akut.

Nilai hematokrit meningkat bersamaan dengan hilangnya plasma melalui endotel dinding pembuluh darah. Dan dengan hilangnya plasma klien mengalami hipovolemik. Apabila tidak diatasi bisa terjadi anoxia jaringan, acidosis metabolic dan kematian.


D. Tanda dan gejala

1. Demam tinggi selama 5 – 7 hari.
2. Mual, muntah, tidak ada nafsu makan, diare, konstipasi.
3. Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit, ptechie, echymosis, hematoma.
4. Epistaksis, hematemisis, melena, hematuri.
5. Nyeri otot, tulang sendi, abdoment, dan ulu hati.
6. Sakit kepala.
7. Pembengkakan sekitar mata.
8. Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening.
9. Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah menurun, gelisah, capillary refill lebih dari dua detik, nadi cepat dan lemah).


E. Pemeriksaan penunjang

* Darah
1. Trombosit menurun.
2. HB meningkat lebih 20 %
3. HT meningkat lebih 20 %
4. Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3
5. Protein darah rendah
6. Ureum PH bisa meningkat
7. NA dan CL rendah

* Serology : HI (hemaglutination inhibition test).
1. Rontgen thorax : Efusi pleura.
2. Uji test tourniket (+)


F. Penatalaksanaan

* Tirah baring
* Pemberian makanan lunak
* Pemberian cairan melalui infus
* Pemberian obat-obatan : antibiotic, antipiretik
* Anti konvulsi jika terjadi kejang
* Monitor tanda-tanda vital (Tekanan Darah, Suhu, Nadi, RR).
* Monitor adanya tanda-tanda renjatan
* Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut
* Periksa HB,HT, dan Trombosit setiap hari.


G. Tumbuh kembang pada anak usia 6-12 tahun

Pertumbuhan merupakan proses bertambahnya ukuran berbagai organ fisik berkaitan dengan masalah perubahan dalam jumlah, besar, ukuran atau dimensi tingkat sel. Pertambahan berat badan 2 – 4 Kg / tahun dan pada anak wanita sudah mulai mengembangkan cirri sex sekundernya.
Perkembangan menitikberatkan pada aspek diferensiasi bentuk dan fungsi termasuk perubahan sosial dan emosi.

1. Motorik kasar
* Loncat tali
* Memukul
* Badminton
* Motorik kasar di bawah kendali kognitif dan berdasarkan secara bertahap meningkatkan irama dan kehalusan.
2. Motorik halus
* Menunjukan keseimbangan dan koordinasi mata dan tangan
* Dapat meningkatkan kemampuan menjahit, membuat model dan bermain alat musik.
3. Kognitif
* Dapat berfokus pada lebih dan satu aspek dan situasi
* Dapat mempertimbangkan sejumlah alternatif dalam pemecahan masalah
* Dapat membelikan cara kerja dan melacak urutan kejadian kembali sejak awal
* Dapat memahami konsep dahulu, sekarang dan yang akan datang.
4. Bahasa
* Mengerti kebanyakan kata-kata abstrak
* Memakai semua bagian pembicaraan termasuk kata sifat, kata keterangan, kata penghubung dan kata depan
* Menggunakan bahasa sebagai alat pertukaran verbal
* Dapat memakai kalimat majemuk dan gabungan.



Sumber : http://kumpulan-asuhan-keperawatan.blogspot.com/2009/02/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan.html
Download Askep DHF Gratis :

* Di Sini
* danDi Sini




ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DHF

1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal yang dilakukan perawat untuk mendapatkan data yang dibutuhkan sebelum melakukan Asuhan Keperawatan . pengkajian pada pasien dengan “DHF” dapat dilakukan dengan teknik wawancara, pengukuran, dan pemeriksaan fisik. Adapun tahapan-tahapannya meliputi :
* Mengidentifikasi sumber-sumber yang potensial dan tersedia untuk memenuhi kebutuhan pasien.
* Kaji riwayat keperawatan.
* Kaji adanya peningkatan suhu tubuh ,tanda-tanda perdarahan, mual, muntah, tidak nafsu makan, nyeri ulu hati, nyeri otot dan sendi, tanda-tanda syok (denyut nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit dingin dan lembab terutama pada ekstrimitas, sianosis, gelisah, penurunan kesadaran).

2. Diagnosa keperawatan yang Muncul
1. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, tidak ada nafsu makan.

3. Intervensi
Diagnosa 1. :
Gangguan volume cairan tubuh kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler, perdarahan , muntah dan demam.
Tujuan : Gangguan volume cairan tubuh dapat teratasi
Kriteria hasil :
* Volume cairan tubuh kembali normal
Intervensi :
* Kaji KU dan kondisi pasien
* Observasi tanda-tanda vital ( S,N,RR )
* Observasi tanda-tanda dehidrasi
* Observasi tetesan infus dan lokasi penusukan jarum infus
* Balance cairan (input dan out put cairan)
* Beri pasien dan anjurkan keluarga pasien untuk memberi minum banyak
* Anjurkan keluarga pasien untuk mengganti pakaian pasien yang basah oleh
keringat.

Diagnosa 2. :
Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.
Tujuan : Hipertermi dapat teratasi
Kriteria hasil :
* Suhu tubuh kembali normal
Intervensi :
* Observasi tanda-tanda vital terutama suhu tubuh
* Berikan kompres dingin (air biasa) pada daerah dahi dan ketiak
* Ganti pakaian yang telah basah oleh keringat
* Anjurkan keluarga untuk memakaikan pakaian yang dapat menyerap keringat seperti terbuat dari katun.
* Anjurkan keluarga untuk memberikan minum banyak kurang lebih 1500 – 2000 cc per hari
* kolaborasi dengan dokter dalam pemberian Therapi, obat penurun panas.

Diagnosa 3. :
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual,
muntah, tidak ada nafsu makan.
Tujuan : Gangguan pemenuhan nutrisi teratasi
Kriteria hasil :
* Intake nutrisi klien meningkat
Intervensi :
* Kaji intake nutrisi klien dan perubahan yang terjadi
* Timbang berat badan klien tiap hari
* Berikan klien makan dalam keadaan hangat dan dengan porsi sedikit tapi
sering
* Beri minum air hangat bila klien mengeluh mual
* Lakukan pemeriksaan fisik Abdomen (auskultasi, perkusi, dan palpasi).
* Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian Therapi anti emetik.
* Kolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet.

TUGAS PRAKTIKUM ASUHAN NEONATUS , BAYI, DAN ANAK BALITA II BAYI BARU LAHIR PATOLOGIS “ ASFIKSIA “

TUGAS PRAKTIKUM ASUHAN NEONATUS , BAYI, DAN ANAK BALITA II
BAYI BARU LAHIR PATOLOGIS
“ ASFIKSIA “
Dosen Pembimbing : Evi Nurhidayati, M.Keb





Disusun oleh :
Eka Putri Setyaningrum
090105182


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ‘AISYIYAH
YOGYAKARTA
2011

TINJAUAN PUSTAKA

I. Pengertian
Sebagian kecil bayi tidak mampu bernafas efektif secara spontan saat lahir. Hal ini disebabkan oleh asfiksia yang muncul dengan berbagai tingkatan, tetapi dapat juga disebabkan oleh hal lain. Asfiksia tidak mudah didefinisikan. Asfiksia disebabkan oleh pertukaran gas yang tidak adekuat. Bebrapa tanda gejala klinis dapat dinilai dengan skor Apgar, seperti apnea/bradipnea, bradikardi, sianosis, dan gangguan yang akan tampak bergantung pada beratnya asfiksia .
Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur. Bayi dengan riwayat gawat janin sebelum lahir, umumnya akan mengalami asfiksia pada saat dilahirkan. Masalah ini erat hubungannya dengan gangguan kesehatan ibu hamil, kelainan tali pusat, atau masalah yang mempengaruhi kesejahteraan bayi selama atau sesudah persalinan.

II. Patofisiologi asfiksia
Gangguan suplai darah teroksigenasi melalui vena umbilical dapat terjadi pada saat antepartum, intrapartum, dan tentunya, pascapartum saat tali pusat dipotong. Hal ini diikuti oleh serangkaian kejadian berikut yang dapat diperkirakan ketika asfiksia bertambah berat :
1. Awalnya hanya ada sedikit nafas. Sedikit nafas ini dimaksudkan untuk mengembangkan paru-paru, tetapi bila paru mengembang karena suatu hal, aktifitas singkat ini akan diikuti oleh henti nafas komplet. Kejadian ini disebut apnea primer .
2. Setelah waktu yang singkat –lama asfiksia tidak dikaji dalam situasi klinis karena dilakukan tindakan resusitasi yang sesuai usaha bernafas otomatis dimulai. Selanjutnya, bayi akan memasuki periode apnea terminal. Kecuali dilakukan resusitasi yang tepat, pemulihan dari keadaan terminal ini tidak akan terjadi .
3. Frekuensi jantung menurun selam apnea primer dan akhirnya turun dibawah 100 kali/menit, tetapi bersama dengan menurun dan berhentinya napas terengah-engah bayi, frekuensi jantung terus berkurang. Keadaan asam bas semaki memburuk, akibatnya jantung pun berhenti. Keadaan ini akan berlangsung lama.
4. Selama apnea primer, tekanan darah yang terkait erat dengan frekuensi jantung, mengalami penurunan tajam selam apnea terminal. Volume sekuncup pada neonates tetap dan curahjantung ditentukan hamper sepenuhnya oleh frekuensi jantung .
5. Apnea primer dan apnea terminal mungkin tidak selalu dapat dibedakan. Pada umumnya, bradikardi berat dan kondisi syok memperburuk apnea.
III. Penyebab
Beberapa faktor tertentu diketahui dapat menjadi penyebab terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir, diantaranya adalah faktor ibu, tali pusat clan bayi berikut ini:
1. Faktor ibu
1) Preeklampsia dan eklampsia
2) Pendarahan abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta)
3) Partus lama atau partus macet
4) Demam selama persalinan Infeksi berat (malaria, sifilis, TBC, HIV)
5) Kehamilan Lewat Waktu (sesudah 42 minggu kehamilan)

2. Faktor Tali Pusat
1) Lilitan tali pusat
2) Tali pusat pendek
3) Simpul tali pusat
4) Prolapsus tali pusat
3. Faktor Bayi
1) Bayi prematur (sebelum 37 minggu kehamilan)
2) Persalinan dengan tindakan (sungsang, bayi kembar, distosia bahu, ekstraksi vakum, ekstraksi forsep)
3) Kelainan bawaan (kongenital)
4) Air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan)

IV. Penilaian Asfiksia pada Bayi Baru Lahir
Aspek yang sangat penting dari resusitasi bayi baru lahir adalah menilai bayi, menentukan tindakan yang akan dilakukan dan akhirnya melaksanakan tindakan resusitasi. Upaya resusitasi yang efesien clan efektif berlangsung melalui rangkaian tindakan yaitu menilai pengambilan keputusan dan tindakan lanjutan.
Penilaian untuk melakukan resusitasi semata-mata ditentukan oleh tiga tanda penting, yaitu :
1. Penafasan
2. Denyut jantung
3. Warna kulit
Nilai apgar tidak dipakai untuk menentukan kapan memulai resusitasi atau membuat keputusan mengenai jalannya resusitasi. Apabila penilaian pernafasan menunjukkan bahwa bayi tidak bernafas atau pernafasan tidak kuat, harus segera ditentukan dasar pengambilan kesimpulan untuk tindakan vertilasi dengan tekanan positif (VTP).


V. Penanganan Asfiksia pada Bayi Baru Lahir
Tindakan resusitasi bayi baru lahir mengikuti tahapan-tahapan yang dikenal sebagai ABC resusitasi, yaitu :
1) Memastikan saluran terbuka
 Meletakkan bayi dalam posisi kepala defleksi bahu diganjal 2-3 cm.
 Menghisap mulut, hidung dan kadang trachea.
 Bila perlu masukkan pipa endo trachel (pipa ET) untuk memastikan saluran pernafasan terbuka.
2) Memulai pernafasan
 Memakai rangsangan taksil untuk memulai pernafasan
 Memakai VTP bila perlu seperti : sungkup dan balon pipa ETdan balon atau mulut ke mulut (hindari paparan infeksi).
3) Mempertahankan sirkulasi
 Rangsangan dan pertahankan sirkulasi darah dengan carA
 Kompresi dada.
 Pengobatan
IV. Langkah-langkah Resusitasi
a. Letakkan bayi di lingkungan yang hangat kemudian keringkan tubuh bayi dan selimuti tubuh bayi untuk mengurangi evaporasi.
b. Sisihkan kain yang basah kemudian tidurkan bayi terlentang pada alas yang datar.
c. Ganjal bahu dengan kain setinggi 1 cm (snifing positor).
d. Hisap lendir dengan penghisap lendir de lee dari mulut, apabila mulut sudah bersih kemudian lanjutkan ke hidung.
e. Lakukan rangsangan taktil dengan cara menyentil telapak kaki bayi dan mengusap-usap punggung bayi.
f. Nilai pernafasan, jika nafas spontan lakukan penilaian denyut jantung selama 6 detik, hasil kalikan 10. Denyut jantung > 100 x / menit, nilai warna kulit jika merah / sinosis penfer lakukan observasi, lakukan ventilasi tekanan positif. Jika pernapasan sulit (megap-megap) lakukan ventilasi tekanan positif.
g. Ventilasi tekanan positif / PPV dengan memberikan O2 100 % melalui ambubag atau masker, masker harus menutupi hidung dan mulut tetapi tidak menutupi mata, jika tidak ada ambubag beri bantuan dari mulur ke mulut, kecepatan PPV 40 – 60 x / menit.
h. Setelah 30 detik lakukan penilaian denyut jantung selama 6 detik, hasil kalikan 10, bila 60 – 100 ada peningkatan denyut jantung teruskan pemberian PPV bila tidak ada peningkatan denyut jantung, lakukan PPV, disertai kompresi jantung.
i. Lakukan kompresi jantung




















DAFTAR PUSTAKA

Markum,AH, 1991, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, FK UI, Jakarta, Indonesia

Price & Wilson,2002, Patofisiologi. Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, EGC

Sukamti, Sri dkk. 2009. Bahan ajar Pemeriksaan Fisik Pada Bayi dan Balita,Trans Info Media, Jakarta.

Drew, davit dkk.2006. Resusitasi Bayi Baru Lahir , EGC

Juffrie, M, 2003. Panduan Praktek Pediatrik, UGM Press.

http://www.e-psikologi.com/epsi/individual_detail.asp?id=367













ASUHAN BAYI BARU LAHIR PATOLOGIS DENGAN ASFIKSIA
DI RS KASIH IBU
Jl. Gampingan Baru No. 105, Bantul, Yogyakarta

NO. REGISTER : 101010
MASUK RS TANGGAL, JAM : 5 Mei 2011, pukul 09.00 WIB
DIRAWAT DI RUANG : Ruang Anggrek
PENGKAJIAN DATA, Oleh : Bidan Ditta Tanggal/jam : 5 Mei 2011, pukul 09.00 WIB
SUBYEKTIF
Biodata Anak pasien orangtua
1. Nama : By. Ny. N Nn. N Ny. B
2. Umur : 0 hari 23 tahun 28 tahun
3. Agama : islam Islam Islam
4. Suku Bangsa : jawa Jawa Jawa
5. Pendidikan : - SMA Sarjana
6. Pekerjaan : - Karyawan swasta PNS
7. Alamat : Jln. Gunung Pring No. 415, RT 05/RW 01 Magelang Jawa Tengah
8. No. Telp : 081234567xxx 081234566xxx

DATA SUBYEKTIF
1. Alasan kunjungan saat ini
Ibu akan melahirkan bayinya .
2. Keluhan utama
Ibu mengatakan perut kenceng-kenceng sejak pukul 01.00 WIB, dan semakin sering .
3. Riwayat Perkawinan
a. Kawin : 1 kali syah, dengan suami yang sekarang.
b. Usia Kawin : ibu usia 22 tahun, suami 26 tahun .
c. Lama perkawinan : 1 tahun
4. Riwayat Obstetri (Riwayat Kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu)
G0P0A0AH0
Hamil ke- Persalinan Nifas
Lahir Umur khamilan Jns prsalinan penolong komplikasi JK BB Lahir Laktasi Komplikasi


5. Riwayat Kehamilan ini :
6. Riwayat Persalianan ini :
Tanggal persalinan : 5 Mei 2011 pukul 10.30 WIB
Tempat persalianan : RS Kasih ibu
Jenis persalinan : spontan/normal
Penolong : Bidan Ditta
7. Keadaan Bayi Baru Lahir
Lahir tanggal : 5 Mei 2011 pukul 10.30 WIB
BB/PB : 3000 gram/ 50 cm
Jenis kelamin : laki-laki
Pola tidur : -
8. Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari
• Pola nutrisi
Frekuensi menyusui : 10-12 kali/hari
Durasi : 10 menit
Masalah pada bayi/ibu : tidak ada
• Pola eliminasi
BAK : 10-12 kali/hari, jika dalam 24 jam pertama kapan ?
 Konsistensi : cair
 Warna : kuning jernih, sedikit bercampur mekonium
 Bau : khas urine .
BAB : belum BAB
 Konsistensi : -
 Warna : -
 Bau : -
• Aktifitas : bayi menyusu ibu, menangis, tidur, dan berada didekat ibu
• Personal hygiene : bayi belum dimandikan sebelum 6 jam, setelah persalinan
9. Riwayat Post Partum
Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari
• Pola tidur dan istirahat : setelah melahirkan ibu tidur 2 jam, malam hari 7 jam .
Keluhan ; lelah, lemes,
• Pola eliminasi
BAB : belum BAB setelah melahirkan .
 Konsistensi : -
 Warna : -
 Bau : -
 Keluhan : -
• BAK
 Konsistensi : jernih
 Warna : kekuning-kuningan
 Bau : khas urine
 Keluhan ; tidak ada
• Pola nutrisi
Pola makan
 Frekuensi : 3 kali/hari
 Porsi : ¾ porsi
 Macam ; nasi, lauk, sayur dan buah .
Pola minum
 Frekuensi : 4-5 gelas/hari
 Porsi : 1 gelas habis
 Macam : air putih, susu, teh manis .
 Keluhan : tidak ada .
• Pola aktifitas
 Mobilisasi : ibu masih berbaring di tempat tidur
 Pekerjaan : ibu rumah tangga.
 Aktifitas merawat diri dan bayi dibantu orang tua ( ibu )
 Olahraga/senam nifas : belum dilakukan
 Keluhan : perut teasa mulas, masih lemas .
• Pengalaman menyusui : ibu belum pernah menyusui .
• Kebiasaan menyusui :
 Posisi : tidur, setengah duduk .
 Durasi : 10 menit
 Perawatan payudara : belum dilakukan
 Masalah : ASI belum keluar
10. Riwayat kesehatan
a. Penyakit yang pernah diderita/sedang diderita : tidak pernah menderita penyakit sistemik seperti Hipertensi, jantung, TBC, dll .
b. Penyakit yang pernah diderita/sedang diderita keluarga : keluarga tidak ada yang menderita penyakit sistemik seperti Hipertensi, jantung, TBC, dll .
11. Riwayat tumbuh kembang anak : ibu belum pernah memeriksakan tumbuh kembang anaknya, karena ini anak pertamanya .
B. DATA OBYEKTIF
1. Pemeriksaan Fisik bayi
A. Pemeriksaan Umum
a. keadaan umum : buruk , bayi belum menangis, warna kulit kebiru-biruan, nafas megap-megap .
b. Tanda vital
pernafasan : 25 kali/menit
suhu : 35 o C
c. Antropometri
BB/TB : 3000 gram/ 50 cm
LK : 32 cm
LD : 34 cm
B. Pemeriksaan Fisik (inspeksi, auskultasi, palpasi, perkusi)
a. Kepala dan Leher
oedem wajah : tidak ada
mata : simetris, tidak ada secret
mulut : tidak ada labio-skizis, tidak ada labio-palatoscichizis, terdapat secret .
leher : tidak ada perbesaran kel. Thyroid, limfe atau vena jugularis .
b. Payudara
Bentuk : simetris,
Benjolan : tidak ada
Putting susu : menonjol
Pengeluaran : tidak ada
Keluhan : tidak ada .
c. Abdomen
Bekas luka : tidak ada .
Perut tidak ada nyeri tekan,
d. Tangan dan Kaki
Oedem : tidak ada .
Varices : tidak ada
Reflek Pattela : kanan ( + ) Kiri ( + )
Kuku : kebiru-biruan .
e. Genetalia Luar
Oedem : tidak ada .
Varices : tidak ada .
Bekas Luka : tidak ada .
f. Anus : terdapat anus .
g. Hasil pengkajian DDST (4 sektor) ( ibu belum pernah melakukan DDST )
Sector motorik kasar
Sector motorik halus
Bahasa
Personal social
2. Data Penunjang : tidak ada
a. Pemeriksaan laboratorium
darah, tanggal: hasil:
urine, tanggal: hasil:
b. Pemeriksaan Penunjang lainnya:
c. Catatan medic lainnya
riwayat imunisasi : Vit K 0,5ml dan HIB setelah lahir .
riwayat pemberian vitamin A : belum mendapat vitamin A


ASSESMENT
By. Ny. N umur 1 jam dengan asfiksia .

PLANNING Tanggal/Jam: 5 mei 2011, 10.30 WIB
a. Melakukan langkah awal resusitasi apabila setelah dilakukan pemotongan tali pusat, dilakukan inspeksi pada bayi didapatkan bayi belum menangis, nafas megap-megap .
1) Segera selimuti bayi, tidurkan bayi di meja resusitasi ( rata, keras, bersih, hangat )
2) Hisap lendir pada mulut, hidung, dengan balon penghisap .
3) Keringkan bayi dengan handuk sambil lakukan rangsangan taktil .
4) Kemudian inspeksi keadaan umum bayi, bila didapatkan nafas masih megap-megap dan kulit kebiruan lakukan VTP .
5) Lakukan VTP 20 kali/menit selama 30 detik .
6) Lakukan inspeksi bayi menangis spontan, warna kulit kemerahan , bayi bergerak aktif , dan denyut jantung 120 kali/menit .
b. Memberikan bayi pada ibu untuk dilakukan IMD .
c. Melakukan manajemen aktif kala 3 pada ibu .
d. Lakukan pemantauan ibu dan bayi 2 jam sekali .

TTD

Bidan Ditta

TUGAS PRAKTIKUM ASUHAN NEONATUS , BAYI, DAN ANAK BALITA II MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT “ DISENTRI “

Dosen Pembimbing : Evi Nurhidayati, M.Keb





Disusun oleh :
Atik Maria Hari Pertiwi
090105186


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ‘AISYIYAH
YOGYAKARTA
2011

TINJAUAN PUSTAKA

A. PENGERTIAN
Disentri merupakan peradangan pada usus besar yang ditandai dengan sakit perut dan buang air besar yang encer secara terus-menerus (diare) yang bercampur lendir dan darah. (J. Kopecko, 2005)

Disentri basiler yaitu gangguan pada radang usus yang menimbulkan gejala meluas, tinja, lendir bercampur darah. (R. Linggappa, 1997)

Disentri basiler adalah infeksi usus yang menyebabkan diare hebat. Infeksi melalui tinja orang terinfeksi,juga bisa ditularkan melalui kontak mulut ke dubur atau dari makanan,benda-benda atau alat lain. (R.Butterton, 2005)

B. ETIOLOGI
 Bakteri (Disentri basiler)
a. Shigella, penyebab disentri yang terpenting dan tersering (± 60% kasus disentri yang dirujuk serta hampir semua kasus disentri yang berat dan mengancam jiwa disebabkan oleh Shigella.
b. Escherichia coli enteroinvasif (EIEC)
c. Salmonella
d. Campylobacter jejuni, terutama pada bayi
 Amoeba (Disentri amoeba), disebabkan Entamoeba hystolitica, lebih sering pada anak usia > 5 tahun

C. TANDA DAN GEJALA
a. Diare mendadak yang disertai darah dan lendir dalam tinja. Pada disentri shigellosis, pada permulaan sakit, bisa terdapat diare encer tanpa darah dalam 6-24 jam pertama, dan setelah 12-72 jam sesudah permulaan sakit, didapatkan darah dan lendir dalam tinja.
b. Panas tinggi (39,5 - 40,0 C), kelihatan toksik.
c. Muntah-muntah.
d. Anoreksia.
e. Sakit kram di perut dan sakit di anus saat BAB.
f. Kadang-kadang disertai dengan gejala menyerupai ensefalitis dan sepsis (kejang, sakit kepala, letargi, kaku kuduk, halusinasi).

D. PATOFISIOLOGI
Penularan : fecal-oral, melalui : makanan / air yang terkontaminasi
Mikro Organisme mengalami kolonisasi di ileum terminalis/kolon, terutama kolon distal invasi ke sel epitel mukosa usus kemudian terjadi multiplikas menyebabkan penyebaran intrasel dan intersel memproduksi enterotoksin sehingga ↑ cAMP dan hipersekresi usus (diare cair, diare sekresi). Memproduksi eksotoksin (Shiga toxin) dan sitotoksik terjadi infiltrasi sel radang mengalami nekrosis sel epitel mukosa berkembang menjadi ulkus-ulkus kecil menuju eritrosit dan plasma keluar ke lumen usus sehingga tinja bercampur darah. Mengalami invasi ke lamina propia dan bakteremia (terutama pada infeksi S.dysenteriae serotype 1)


E. KOMPLIKASI
1. Dehidrasi
2. Gangguan elektrolit, terutama hiponatremia.
3. Kejang
4. Protein loosing enteropathy
5. Sepsis dan DIC
6. Sindroma Hemolitik Uremik
7. Malnutrisi/malabsorpsi
8. Hipoglikemia
9. Prolapsus rektum
10. Reactive arthritis
11. Sindroma Guillain-Barre
12. Ameboma
13. Megakolon toksik
14. Perforasi lokal
15. Peritonitis

F. PEMERIKSAAN KHUSUS DAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan dengan :
1. Pemeriksaan tinja
 Makroskopis : suatu disentri amoeba dapat ditegakkan bila ditemukan bentuk trofozoit dalam tinja
 Benzidin test
Test benzidin adalah suatu test penyaring untuk darah samar ( Yang tidak terlihat ).
Prinsip test ini adalah :
Cara pemeriksaan reaksi Benzidin:
Sepotong kertas saring digosokkan pada bercak yang dicurigai kemudian diteteskan 1 tetes H202 20% dan 1 tetes reagen Benzidin.
Hasil:
Hasil positif pada reaksi Benzidin adalah bila timbul warna biru gelap pada kertas saring.
Dari refrensi, test ini dapat digunakan utk mencari tau apakah ada perdrhan di saluran pencernaan akibat mikroba, parasit cacing dll.
Prosedur pemeriksaan,
Penderita yang akan diperiksa, disarankan tdk mengkonsumsi protein hewani sehari sebelum pemeriksaan, karena bisa berikan false positif. Keesokan harinya, faeses penderita diperiksa dengan test benzidin. Bila positif bisa diperkirakan terjadi proses perdarahan yang tidak terlihat. Hal ini bisa karena amoeba, parasit ascaris lumbricoides, cacing pita, taenea saginatta dan lainnya yang melukai usus.
 Mikroskopis : leukosit fecal (petanda adanya kolitis), darah fecal .
2. Biakan tinja :
 Media : agar MacConkey, xylose-lysine deoxycholate (XLD), agar SS.
3. Pemeriksaan darah rutin : leukositosis (5.000 – 15.000 sel/mm3), terkadang dapat ditemukan leukopenia.

G. TERAPI YANG DIBERIKAN
a. Koreksi dan maintenance cairan dan elektrolit
Seperti pada kasus diare akut secara umum, hal pertama yang harus diperhatikan dalam penatalaksanaan disentri setelah keadaan stabil adalah penilaian dan koreksi terhadap status hidrasi dan keseimbangan elektrolit.
b. Diet
Anak dengan disentri harus diteruskan pemberian makanannya. Berikan diet lunak tinggi kalori dan protein untuk mencegah malnutrisi. Dosis tunggal tinggi vitamin A (200.000 IU) diberikan untuk menurunkan tingkat keparahan disentri, terutama pada anak yang diduga mengalami defisiensi. Untuk mempersingkat perjalanan penyakit, dapat diberikan sinbiotik dan preparat seng oral8,9. Dalam pemberian obat-obatan, harus diperhatikan bahwa obat-obat yang memperlambat motilitas usus sebaiknya tidak diberikan karena adanya risiko untuk memperpanjang masa sakit.
c. Antibiotika
Anak dengan disentri harus dicurigai menderita shigellosis dan mendapatkan terapi yang sesuai. Pengobatan dengan antibiotika yang tepat akan mengurangi masa sakit dan menurunkan risiko komplikasi dan kematian.
Pilihan utama untuk Shigelosis (menurut anjuran WHO) : Kotrimoksazol (trimetoprim 10mg/kbBB/hari dan sulfametoksazol 50mg/kgBB/hari) dibagi dalam 2 dosis, selama 5 hari
Dari hasil penelitian, tidak didapatkan perbedaan manfaat pemberian kotrimoksazol dibandingkan plasebo10.
Alternatif yang dapat diberikan : o Ampisilin 100mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis o Cefixime 8mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis o Ceftriaxone 50mg/kgBB/hari, dosis tunggal IV atau IM o Asam nalidiksat 55mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis.
Perbaikan seharusnya tampak dalam 2 hari, misalnya panas turun, sakit dan darah dalam tinja berkurang, frekuensi BAB berkurang, dll. Bila dalam 2 hari tidak terjadi perbaikan, antibiotik harus dihentikan dan diganti dengan alternatif lain.
Terapi antiamebik diberikan dengan indikasi : o Ditemukan trofozoit Entamoeba hystolistica dalam pemeriksaan mikroskopis tinja. o Tinja berdarah menetap setelah terapi dengan 2 antibiotika berturut-turut (masing-masing diberikan untuk 2 hari), yang biasanya efektif untuk disentri basiler.
Terapi yang dipilih sebagai antiamebik intestinal. pada anak adalah Metronidazol 30-50mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis selama 10 hari. Bila disentri memang disebabkan oleh E. hystolistica, keadaan akan membaik dalam 2-3 hari terapi.
d. Sanitasi
Beritahukan kepada orang tua anak untuk selalu mencuci tangan dengan bersih sehabis membersihkan tinja anak untuk mencegah autoinfeksi.








DAFTAR PUSTAKA

Kamus Kedokteran Edisi Ketiga. Jakarta : FK-UI; 2001

Dharma, Andi Pratama. Buku Saku Diare Edisi 1. Bandung : Bagian/SMF IKA FK-UP/RSHS; 2001

Behrman, et al. Nelson Textbook of Pediatrics 17th edition. UK : Saunders; 2004

Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak Volume 1. Jakarta : Bagian IKA FK-UI; 1998.

Gandahusada, Srisasi, et al. Parasitologi Kedokteran Edisi Ketiga. Jakarta : FK-UI; 2000.

Kumpulan catatan kuliah Ilmu Kesehatan Anak 2004-2005.

Lengkong, John B. Prosedur Tetap (Standard Operating Procedure) Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta; 2004.

A, Dini, et al. Pengaruh Pemberian Preparat Seng Oral Terhadap Perjalanan Diare Akut, dalam Abstrak Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Kesehatan Anak II Ikatan Dokter Anak Indonesia. Batam; 2004

Nafianti, Selvi, et al. Efektivitas Pemberian Trimetoprim-Sulfametoksazol pada Anak dengan Diare Disentri Akut, dalam Abstrak Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Kesehatan Anak II Ikatan Dokter Anak Indonesia. Batam; 2004

Cahyono, Haryudi Aji, et al. Manipulasi Perjalanan Diare Pada Anak dengan Bakteri Hidup, dalam Abstrak Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Kesehatan Anak II Ikatan Dokter Anak Indonesia. Batam; 2004

Ngastiyah, Perawatan Anak Sakit, Jakarta. FK-UI; EGC. 2007.









ASUHAN MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT “DISENTRI”
DI BPS KASIH IBU
Jl. Titi Bumi Timur No. 07 Banyuraden, Gamping

NO. REGISTER : 101010
MASUK RS/BP TANGGAL, JAM : 5 Mei 2011, pukul 09.00 WIB
DIRAWAT DI RUANG : Ruang Pemeriksaan
PENGKAJIAN DATA, Oleh : Bidan C Tanggal/jam : 5 Mei 2011, pukul 09.00 WIB
SUBYEKTIF
Biodata Anak Ayah Ibu
1. Nama : Mb Nn. YH Ny. KJ
2. Umur : 15 bulan 26 tahun 24 tahun
3. Agama : islam Islam Islam
4. Suku Bangsa : jawa Jawa Jawa
5. Pendidikan : - S1 D3
6. Pekerjaan : - PNS PNS
7. Alamat : Desa Tambah Dadi, kec. Purbolinggo
8. No. Telp : 081234567xxx 081234566xxx

DATA SUBYEKTIF
1. Alasan kunjungan saat ini
Ibu ingin memeriksakan keadaan anaknya.

2. Keluhan utama
Ibu mengatakan anaknya panas, muntah-muntah, tidak nafsu makan, sering BAB berdarah sejak 3 hari yang lalu.
3. Riwayat Perkawinan
a. Kawin : 1 kali syah, dengan suami yang sekarang.
b. Usia Kawin : ibu usia 24tahun, suami 26 tahun .
c. Lama perkawinan : 2 tahun
4. Riwayat Obstetri (Riwayat Kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu)
G1P1A0AH1
Anakn ke- Persalinan Nifas
Lahir Umur khamilan Jns prsalinan penolong komplikasi JK BB Lahir Laktasi Komplikasi
1 26/01/2010 aterm normal bidan Tidak ada L 3000 gr Ya Tidak ada

5. Riwayat Persalianan yang lalu :
Tanggal persalinan : 26 januari 2010 pukul 10.30 WIB
Tempat persalianan : BPS Kasih ibu
Jenis persalinan : spontan/normal
Penolong : Bidan C
6. Keadaan Balita
Lahir tanggal : 26 januari 2010 pukul 10.30 WIB
BB/PB : 3000 gram/ 50 cm
Jenis kelamin : laki-laki
Pola tidur : tidur siang 3 jam, malam 8 jam
7. Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari
• Pola nutrisi
Frekuensi menyusui : 3-4 x/ hari ditambah susu formula
Durasi : 10 menit
Masalah pada bayi : bayi tidak mau menyusu
• Pola eliminasi
BAK : 2-7 kali/hari
 Konsistensi : cair
 Warna : kuning jernih
 Bau : khas urine .
BAB : 6-7 kali/hari
 Konsistensi : cair
 Warna : kuning kemerahan
 Bau : khas feces
• Aktifitas : bayi rewel, lemas, tidak mau menyusu
• Personal hygiene : mandi 2 kali sehari, ganti celana ketika basah, ganti baju setelah mandi.
B. DATA OBYEKTIF
1. Pemeriksaan Fisik
A. Pemeriksaan Umum
a. keadaan umum : terlihat lemas kesadaran: compos mentis
b. Tanda vital
tekanan darah : 80/60 mmHg
nadi : 130 x/menit
pernafasan : 35 x/menit
suhu : 39oC


a. Antropometri
BB/TB : 9 kg/ 75cm
LK : 46 cm
LD : 48 cm
B. Pemeriksaan Fisik (inspeksi, auskultasi, palpasi, perkusi)
a. Kepala dan Leher
oedem wajah : tidak ada
mata : sklera putih, konjungtiva pucat
mulut : bersih tidak ada caries gigi
leher : tidak ada pembesaran kelenjar limfe dan pelebaran vena jugularis
b. Payudara
Bentuk : simetris
Benjolan : tidak ada
Putting susu : menonjol
Pengeluaran : tidak ada
Keluhan : tidak ada
c. Abdomen
Bekas luka : tidak ada

d. Tangan dan Kaki
Oedem : tidak ada
Varices : tidak ada
Reflek Pattela : kanan (+) Kiri (+)
Kuku : bersih


e. Genetalia Luar
Oedem : tidak dilakukan pemeriksaan
Varices : tidak dilakukan pemeriksaan
Bekas Luka : tidak dilakukan pemeriksaan
f. Anus : tidak ada hemoroid
2. Data Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
darah, tanggal: tidak dilakukan
urine, tanggal: tidak dilakukan
b. Pemeriksaan Penunjang lainnya: tidak dilakukan
c. Catatan medic lainnya
riwayat imunisasi : lengkap
riwayat pemberian vitamin A : 1 kali

ASSESMENT
Bayi Mb umur 15 bulan dengan disentri.

PLANNING Tanggal/Jam: 5 mei 2011, 11.30 wib
1. Menjelaskan kepada ibu tentang keadaan hasil pemeriksaan:
tekanan darah : 80/60 mmHg
nadi : 130 x/menit
pernafasan : 35 x/menit
suhu : 39oC
ibu mengerti tentang penjelasan bidan.
2. Memberikan KIE kepada ibu bahwa anak menderita disentri.
Ibu mengerti penjelasan bidan.
3. Memberi KIE tentang nutrise dan kebersihan makanan.
Ibu mengerti penjelasan bidan.
4. Memberikan KIE kepada ibu untuk menjaga pola istirahat pada anaknya.
Ibu mengerti penjelasan bidan.
5. Memberikan antibiotik amokcicilin syrup 12,5 ml/hari atau 2,5 sendok takar.
Bidan sudah memberikan antibiotik.
6. Menasihati ibu untuk melakukan kunjungan ulang segera minimal 2 hari setelah periksa.
Ibu mengerti dan bersedia melakukan kunjungan ulang dua hari yang akan datang.

ASUHAN KEBIDANAN MTBM PADA BAYI CELY UMUR 1,5 BULAN DENGAN DIARE DI BPS BUNDA SETYA YOGYAKARTA

Disusun oleh : Kelas C4

Arum Ismawati
090105181
4C4



PRODI D3 KEBIDANAN
STIKES ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
JLN. MUNIR NO.267 SERANGAN NGAMPILAN YOGYAKARTA
2010





ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI CELY
UMUR 1,5 BULAN DENGAN DIARE
DI BPS BUNDA SETYA

Tempat praktik : BPS Kasih ibu Nama mahasiswa/NIM : arum ismawati
Masuk RS/tgl/jam : 10.00 WIB Ketrampilan ke : 9

I. DATA SUBYEKTIF
1. Nama pasien : Sinta
2. Umur : 1,5 bulan
3. Jenis kelamin : Perempuan
B. Identitas orang tua Ibu Bapak
1. Nama : Ny. n Tn.w
2. Umur : 24 tahun 29 tahun
3. Agama : Islam Islam
4. Pekerjaan : swasta swasta
5. Alamat : Jl. Timoho no.50 Jl. Timoho no. 50

Keluhan utama pada bayi
Ibu mengatakan bahwa sudah 2 hari bayinya BAB 5x sehari, berbau khas feses, konsistensi encer, warna kuning, jumlah sedikit-sedikit.

C. Riwayat obstetrik G1 P1 Ah1
No Gravid R Kehamilan R persalinan R Nifas Anak hidup
1 1 Normal Pervaginam, ditolong oleh bidan di BPS Normal tidak ada keluhan maupun komplikasi 1, perempuan

D. Riwayat kehamilan terahir :
ANC TM I : 28 September 2009
ANC TM II : 3 November 2009
ANC TM III : 20 Januari 2009
Imunisasi TT I : 28 September 2009
TT II : 29 Oktober 2009
Obat/jamu yang diminum : ibu tidak pernah minum jamu-jamuan atau obat-obatan yang berbahaya
E. Riwayat persalinan terakhir, tanggal 15 Maret 2010 jam 18.30 WIB jenis persalinan pervaginam
Aspek
Kala Lama Vital sign Kejadian Tindakan Ket/oleh
I 8 jam Nadi : 78x / menit
Suhu : 36,3 °C
TD : 120/80 mmHg
Pernapasan : 21x menit - Observasi pembukaan Bidan
II 1jam Nadi : 76x / menit
Suhu : 36,5 °C
TD : 120/70 mmHg
Pernapasan : 24x menit - Melahirkan bayi Bidan
III 30 menit Nadi : 77x / menit
Suhu : 36,4 °C
TD : 110/80 mmHg
Pernapasan : 20x menit - Melahirkan plasenta Bidan
IV 2 jam Nadi : 76x / menit
Suhu : 36,3 °C
TD : 120/80 mmHg
Pernapasan : 20x menit - Observasi 2 jam kala IV bidan
Nifas 6 jam Nadi : 76x / menit
Suhu : 36,5 °C
TD : 120/80 mmHg
Pernapasan : 22x menit - Observasi mobilisasi, ibu menyusui Bidan dan keluarga
F. Riwayat Imunisasi
No Usia Jenis Imunisasi Ket
1 BBL HB 1 Bidan
2 Bayi 1 bulan BCG Bidan

G. Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari
1. Makan : -
2. Minum : ASI 4x sehari, PASI 6x/ hari
3. BAB : 2x sehari
4. BAK : 7x sehari
5. Muntah : -
Pola pemenuhan minum terakhir
1. Makan : -
2. Minum : ASI 2x sehari, PASI 4x/ hari
3. BAB : 5x sehari
4. BAK : 7x sehari
5. Muntah : sedikit, gumoh

II. DATA OBYEKTIF
A. BB lahir/sekarang : 3,3 kg / 4,3 kg
B. PB lahir : 50 cm
C. LK lahir/sekarang : 34 cm / 35 cm
D. LD lahir/sekarang : 31 cm / 31,5 cm
E. Keadaan sekarang : baik
F. Suhu badan : 36,5 °C
G. Nadi : 25 x/ menit
H. Pernafasan :40x/ menit
I. Tonus otot : baik
J. Warna kulit : kemerahan
K. Reflek
Refleks Morrow : baik
Refleks Rooting : baik
Refleks Sucking : baik
Refleks swallowing : baik
Refleks Babinski : baik
L. Pemeriksaan head to toe
Kepala : mesocephal, tidak ada benjolan
Muka : tidak ada odema, simetris
Mata :simetris, konjungtiva merah muda, skera putih, reflek cahaya positif
Hidung : simetris, tidak ada polip
Telinga : simetris, bersih, tidak ada serumen
Mulut : tidak ada oral trush, labio palatum normal
Leher : tidak ada pembengkakan
Dada : simetris, todak ada benjolan, tidak ada retraksi dinding dada
Payudara : simetris
Abdomen : tidak ada benjolan, turgor kulit agak kurang
Ekstremitas atas/bawah : normal, gerakan aktif
Genitalia luar : labio mayor sudah menutup labio minor, terdapat ruam
Anus : iritasi, kemerahan

III. ASSESMENT
Tanggal : 4 juni 2011 Pukul : 10.10 WIB
Bayi S umur 1,5 bulan kemungkinan mengalami diare.




IV. PLANNING
Tanggal 4 Juni 2010 Pukul : 10.15 WIB
1. Memberitahukan hasil pemeriksaan bayi kepada ibu
Ibu mengerti tentang hasil pemeriksaan
2. Memberikan informasi, bahwa kemungkinan diare yang dialami bayi ibu dikarenakan pemberian PASI
Ibu mengerti penyebab diare yang dialami oleh bayinya
3. Menyarankan untuk memberikan ASI saja pada bayi selama 6 bulan
Ibu bersedia untuk memberikan asi saja pada bayinya
4. Menyarankan untuk menjaga personal hygiene bayi maupun ibu
Ibu bersedia untuk menjaga personal hygiene bayinya
5. Menyarankan untuk lebih sering dalam memberikan ASI pada bayi
Ibu bersedia memberikan ASI sesering mungkin
6. Memberitahukan ibu tanda-tanda diare berat
Ibu mengerti tentang tanda diare berat
7. Melakukan rujukan apabila diare bayi tidak segera berkurang setelah 3 hari
Ibu bersedia untuk dilakukan rujukan apabila selama 3 hari masih diare
8. Pemberian obat
Obat telah diberikan


TTD
Bidan Sukma








Apa itu Diare?
Jika bayi atau anak anda tiba-tiba mengalami perubahan dalam buang air besar dari biasanya, baik frekuensi / jumlah buang air yang menjadi sering dan keluar dalam konsistensi cair daripada padat, maka itu adalah diare. Seorang bayi baru lahir umumnya akan buang air besar sampai lebih dari sepuluh kali sehari, dan bayi yang lebih besar akan mempunyai waktu buang air masing-masing, ada yang sehari 2-3 kali sehari atau ada yang hanya 2 kali seminggu saja. Dengan kata lain anda harus mengetahui apa yang NORMAL buat bayi atau anak anda dari kebiasaan buang air besar mereka.
Penyebab diare :
• Virus (penyebab diare tersering – dan umumnya karena Rotavirus) gejala : Berak-berak air (watery), berbusa, TIDAK ada darah lendir, berbau asam.
• GE ( flu perut) terbanyak karena virus.
• Bakteri - Berak2 dengan darah/lendir , sakit perut. ----Memerlukan antibioka sebagai terapi pengobatan.
• Parasite(Giardiasis) - Berak darah+/- dan lendir, sakit perut.------perlu antiparasite
• Anak sedang terapi dengan pemakaian antibiotilka – Bila diare terjadi saat anak sedang dalam pengobatan antibiotika, maka hubungi dokter anda.
• Alergi susu,- diare biasanya timbul beberapa menit atau jam setelah minum susu tersebut , biasanya pada alergi susu sapi dan produk-produk yang terbuat dari susu sapi.
• Infeksi dari bakteri atau virus yang menyertai penyakit lain ; misalnya infeksi saluran kencing, infeksi telinga, campak dll.
Gejala Diare Akut ( Diare Mendadak) :
Penyebab diare akut ( diare mendadak) tersering adalah karena VIRUS , khas berak-berak air (watery), berbusa, TIDAK ada darah atau lendir, dan berbau asam.
Penularan penyakit diare adalah kontak dengan tinja yang terinfeksi secara langsung, seperti :
• Makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi, baik yang sudah dicemari oleh serangga atau kontaminasi oleh tangan yang kotor.
• Bermain dengan mainan yang terkontaminasi, apalagi pada bayi sering memasukan tangan/ mainan / apapun kedalam mulut. Karena virus ini dapat bertahan dipermukaan udara sampai beberapa hari.
• Pengunaan sumber air yang sudah tercemar dan tidak memasak air dengan benar
• Pencucian dan pemakaian botol susu yang tidak bersih.
• Tidak mencuci tangan dengan bersih setelah selesai buang air besar atau membersihkan tinja anak yang terinfeksi, sehingga mengkontaminasi perabotan dan alat-alat yang dipegang.
Pengobatan Diare
Karena penyebab Diare akut / diare mendadak tersering adalah Virus, maka TIDAK ada pengobatan yang dapat menyembuhkan, karena biasanya akan sembuh dengan sendirinya setelah beberapa hari. Maka pengobatan diare ini ditujukan untuk mengobati gejala yang ada dan mencegah terjadinya dehidrasi atau kurang cairan. Diare akut dapat disembuhkan HANYA dengan meneruskan pemberian makanan seperti biasa dan minuman / cairan yang cukup saja.Yang perlu diingat pengobatan BUKAN memberi obat untuk mengHENTIKAN diare, karena diare sendiri adalah suatu mekanisme pertahanan tubuh untuk mengeluarkan kontaminasi makanan dari usus. Mencoba menghentikan diare dengan obat seperti menyumbat saluran pipa yang akan keluar dan menyebabkan aliran balik dan akan memperburuk saluran tersebut.
Oleh karena proses diare ini adalah mekanisme pertahanan dari tubuh, akan sembuh dengan sendirinya setelah beberapa hari - ( 14 hari) dimana diare makin berisi - dari air ( watery) mulai berampas, berkurang frekuensi nya dan sembuh. Yang terpenting pada diare adalah mencegah dan mengatasi gejala dehidrasi.
Yang terpenting diperhatikan pada kasus diare mendadak ini adalah:
Ingat menHENTIkan diare virus dengan obat bukanlah jalan terbaik. Tetapi jangan menjadi bingung bila diare tetap ada sampai beberapa hari. Karena biasanya berlangsung beberapa hari-14 hari. Dan sembuh. Tergantung dari keadaan kesehatan anak dan banyaknya cairan yang masuk.
Pengatasan diare adalah dengan memperhatikan adanya tanda-tanda DEHIDRASI
Penanganan Yang terbaik adalah tetap memberikan makanan dan minum (ASI) seperti BIASA. Bila sudah disertai muntah, untuk pengantian cairan anda dapat memberikan pedialyte ( oralit unutk anak2 dengan beberapa rasa). Kurangi makanan yang mengandung terlalu banyak GULA. Ingat memang tidak mudah memberikan anak cairan yang agak terasa asin ini, bahkan beberapa anak akan menolaknya. Tapi bersabarlah dan tetap berusaha mencari jalan supaya anak dapat meminum cairan ini.
Dan yang paling terpenting adalah Membuat anak kembali kemakanan padatnya ( dan / atau susu formulanya/ASI) karena ini adalah yang TERBAIK untuk mengobati diarenya. Karena sel2 usus yang dirusak oleh virus memerlukan NUTRISI untuk pembentukan kembali. Penelitian menyatakan bahwa pemberian makanan seperti BIASAnya akan memperpendek masa waktu gejala dari diare ini.
Pencegahan Diare:
• Teruskan Pemberian Air Susu Ibu (ASI)
• Perhatikan kebersihan dan gizi yang seimbang untuk pemberian makanan pendamping ASI setelah bayi berusia 4 bulan.
• Karena penularan kontak langsung dari tinja melalui tangan / serangga , maka menjaga kebersihan dengan menjadikan kebiasaan mencuci tangan untuk seluruh anggota keluarga. Cucilah tangan sebelum makan atau menyediakan makanan untuk sikecil.
• Ingat untuk menjaga kebersihan dari makanan atau minuman yang kita makan. Juga kebersihan perabotan makan ataupun alat bermain si kecil.
Hubungi dokter anda, bila:
• Diare disertai Darah (perlu pengobatan spesifik dengan antibiotika)
• Adanya tanda-tanda DEHIDRASI ( tidak ada air mata ketika menangis, kencing berkurang atau tidak ada kencing dalam 6-8 jam, mulut kering)
• Adanya panas tinggi (.38.5C) yang tidak turun dalam 2 hari.
• Muntah terus menerus - tidak dapat masuk makanan / asi .
• Adanya sakit perut - kolik pada bayi akan menangis kuat dan biasanya menekuk kaki, keringatan dan gelisah.

© Dr.Suririnah-www.infoibu.com

ASUHAN KEBIDANAN PADA PERAWATAN BAYI SEHARI-HARI DI BPS UMI SINTA YOGYAKARTA

Disusun oleh : Kelas C4

FRISCA PRATIWI
090105193
4C4



PRODI D3 KEBIDANAN
STIKES ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
JLN. MUNIR NO.267 SERANGAN NGAMPILAN YOGYAKARTA
2011






ASUHAN KEBIDANAN PADA PERAWATAN BAYI SEHARI-HARI
“ An A “ usia 4 minggu, sehat, butuh imunisasi BCG di BPS U


No. Register : 456789
Hari, tanggal :Selasa, 10 Mei 2011
Pengkajian oleh : Bidan U jam : 10.00 wib
Ruang : Periksa

DATA SUBJEKTIF
BIODATA PASIEN SUAMI
Nama bayi : An Angga Putra Bp.’B’
Tanggal lahir : 10-01-2011
Nama Ibu : Ny susi Ayah : Saiful
Umur : 24 th 28 th
Agama : Islam islam
Suku/Bangsa : JAWA/WNI JAWA/WNI
Pendidikan : SMA S1
Pekerjaan : IRT PNS
Alamat Lengkap : Ngemplak sari, margomulyo, seyegan, sleman, yogyakarta
No.Telp/Hp : 08170333155


1. Alasan Kunjungan
Ibu mengatakan mau mengimunisasikan anaknya
Keluhan Utama
Ibu mengatakan anaknya belum diimunisasi BCG dan ingin anaknya diimunisasi BCG.
2. Riwayat penyakit sekarang
Ibu mengatakan anaknya dalam keadaan baik-baik saja , tidak sakit.
3. Respon keluarga
Ibu dan bapak tampak menyayangi bayinya dan merawat dengan baik.
4. Riwayat kesehatan yang lalu
a. Riwayat Intranatal
Masa kehamilan : 40 minggu
Lahir tanggal : 10-01-2011 jam 02-30 WIB
Jenis persalinan : Spontan
Penolong : Bidan di BPS U
Lama persalinan : kala I : 7 jam 10 menit
Kala II : - jam 15 menit
Komplikasi
a. Ibu : Tidak ada
b. Bayi : Tidak ada
Keadaan bayi baru lahir
BB/PB : 3100 gram / 49 cm
Nilai APGAR : 1 menit/5 menit/10 menit : 9/10/10
b. Riwayat pemberian nitrisi
ASI : Eksklusif lama pemberian ASI: 4 minggu
PASI sejak umur : - jenis: -
Makanan tambahan : - jenis : -
Keluhan : -
Status kesehatan terakhir
a. Riwayat alergi
Jenis makan : -
Obat : -
Zat lain : -
b. Imunisasi Dasar dan anjuran
Vaksin Umur/ tanggal pemberian imunisasi
Bulan tahun
lahir 1 2 3 4 5 6 9 12 18 2 3 5 6 10 12
Program pengembangan imunisasi ( PPI, diwajibkan )
BCG 10/05/11
Hepatitis B 10/01/11
Polio (OPV)
Polio ( IPV)
DPT
Campak
Program pengembangan imunisasi ( Non PPI, dianjurkan )
Hib
MMR
Tifoid
Hepatitis
Varisela



c. Uji skrining : tidak dilakukan
d. Riwayat penyakit yang lalu
Ibu mengatakan bayinya belum pernah sakit

DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan umum
a. Keadaan Umum : baik. Kesadaran: compos mentis
b. Tanda vital
Tekanan darah : tidak terkaji
Nadi : 112 kali per menit
Pernafasan : 40 kali per menit
Suhu : 36,5˚C
c. Status gizi : TB : 50cm BB: 4000 gram
LK: 35 cm LLA: - cm

d. pemeriksaan fisik
Rambut : Hitam, lurus, bersih, kuat
Ubun-ubun : UUB belum menutup
Mata : Simetris, sklera putih, konjungtiva merah muda,
Hidung : Simetris, tidak ada kotoran, tidak ada cairan yang keluar
Muka : simetris, tidak ada oedem,bentuk oval
Mulut : Simetris, merah, tidak pucat
Telinga : simetris, tidak ada kotoran dan cairan yang keluar
Leher : Tidak ada pelebaran vena jugularis dan kelenjar tiroid.
e. Dada
Bentuk dan besar : Simetris, bentuk normal
Gerakkan : Bebas,tidak ada tarikan dinding dada,pernafasan dada dan perut
Puting susu : masih rata ,belum membesar,tidak ada kelainan.
paru : auskultasi bersih,tidak ada wheezing.
Jantung : auskultasi irama teratur, tidak ada kelainan , frekuensi 112 x/ menit
f. Abdomen
Bentuk : agak sedikit buncit
Gerakkan :
Dinding perut : bersih, umbilikus kering tidak ada cairan yang keluar.
Auskultasi : tidak hiperperistaltik
Perkusi : tidak ada bunyi timpani/obstruksi/redup.
Palpasi : tidak teraba adanya perbesaran hepar,limpa dan ginjal.
g. Ekstermitas
Oedem : Tidak ada
Varices : Tidak ada
Refles Patella : tidak terkaji
Kuku : Pendek bersih
h. Genetalia Luar
Skrotum berwarna kehitaman, ujung penis dapat ditarik dan ada lubang pada ujung penis.
i. Anus
Hemoroid : Tidak ada
j. Neurologis : ( kejang, tanda meningeal, kekuatan dan tonus otot )
tidak terkaji
3. Pemeriksaan Penunjang
a. DDST
Motorik kasar : tidak terkaji
Motorik halus : tidak terkaji
Personal sosial : tidak terkaji
Bahasa : tidak terkaji
b. KPSP : tidak terkaji

ASSESMENT
Seorang bayi umur 4 minggu, sehat

PLANNING :
Selasa, 10 mei 2011 JAM 10.10 WIB
1. .Menjelaskan keadaan ibu tentang hasil pemeriksaan, hasil baik bayi sehat dan dapat diberikan imunisasi BCG, ibu mengerti penjelasan Bidan.
2. Menjelaskan kepada bapak dan ibu maksud dan tujuan pemberian imunisasi BCG ,bapak dapat menyebutkan kembali manfaat imunisasi BCG.
3. Mempersiapkan posisi bayi tidur terlentang,dibedong agar bayi tidak bergerak, dan menyuruh ibu untuk memegang anaknya di tempat tidur,bidan menyiapkan vaksin.
4. Memberikan imunisasi BCG dilengan kanan atas secara itracutan,bayi menagis sebentar.
5. Menjelaskan kepada ibu dan bapak kemungkinan reaksi yang muncul setelah penyuntikan yaitu timbul bekas luka pada daerah suntikan,menyarankan pada ibu agar membiarkan saja luka tersebut karena itu hal yang normal, ibu mengerti.
6. Membuat kontrak waktu untuk kunjungan ulang imunisasi setelah bayi berusia 2 bulan untuk mendapatkan imunisasi DPT1 DAN IPV 1 serta menuliskan tanggal kunjungan ulang di uku KIA ,ibu mengerti dan bersedia datang lagi.
T T D

Bidan “U”







Dasar teori


Imunisasi BCG termasuk salah satu dari 5 imunisasi yang diwajibkan. Ketahanan terhadap penyakit TB (Tuberkulosis) berkaitan dengan keberadaan virus tubercel bacili yang hidup di dalam darah. Itulah mengapa, agar memiliki kekebalan aktif, dimasukkanlah jenis basil tak berbahaya ke dalam tubuh, alias vaksinasi BCG (Bacillus Calmette Guerin).


Imunisasi BCG wajib diberikan, seperti diketahui, Indonesia termasuk negara endemis TB dan salah satu negara dengan penderita TB tertinggi di dunia. TB disebabkan kuman Mycrobacterium tuberculosis, dan mudah sekali menular melalui droplet, yaitu butiran air di udara yang terbawa keluar saat penderita batuk, bernapas ataupun bersin. Gejalanya antara lain: berat badan anak susah bertambah, sulitmakan, mudah sakit, batuk berulang, demam, berkeringat di malam hari, juga diare persisten. Masa inkubasi TB rata-rata berlangsung antara 8-12 minggu.

Untuk mendiagnosis anak terkena TB atau tidak, perlu dilakukan tes rontgen untuk mengetahui adanya vlek, tes Martoux untuk mendeteksi peningkatan kadar sel darah putih, dan tes darah untuk mengetahui ada-tidak gangguan laju endap darah. Bahkan, dokter pun perlu melakukan wawancara untuk mengetahui, apakah si kecil pernah atau tidak, berkontak dengan penderita TB.

Jika anak positif terkena TB, dokter akan memberikan obat antibiotik khusus TB yang harus diminum dalam jangka panjang, minimal 6 bulan. Lama pengobatan tak bisa diperpendek karena bakteri TB tergolong sulit mati dan sebagian ada yang “tidur”. Karenanya, mencegah lebih baik daripada mengobati. Selain menhindarianak berkontak dengan penderita TB, juga meningkatkan daya tahan tubuhnya yang salah satunya melalui pemberian imunisasi BCG.

Jumlah Pemberian Imunisasi BCG
Cukup 1 kali saja, tak perlu diulang (booster). Sebab vaksin BCG berisi kuman hidup sehingga antibodi yang dihasilkannya tinggi terus. Berbeda dengan vaksin berisi kuman mati, sehingga memerlukan pengulangan.

Usia Pemberian Imunisasi BCG
Dibawah usia 2 bulan. Jika baru diberikan setelah usia 2 bulan, disarankan tes Mantoux (tuberkulin) dahulu untuk mengetahui apakah si bayi sudah kemasukan kuman Mycrobacterium tuberculosis atau belum. Vaksinasi dilakukan bila hasil tesnya negatif. Jika ada penderita TB yang tinggal serumah atau sering bertandang ke rumah, segera setelah lahir si kecil diimunisasikan BCG

Lokasi Penyuntikan
Lengan kanan atas, sesuai anjuran WHO. Meski ada juga petugas medis yang melakukan penyuntikan di paha.

Efek Samping
Umumnya tidak ada. Namun pada beberapa anak timbul pembengkakan kelenjar getah bening di ketiak atau leher bagian bawah (atau selangkangan bila penyuntikan dilakukan di paha). Biasanya akan sembuh sendiri.

Tanda Keberhasilan
Muncul bisul kecil dan bernanah di daerah bekas suntikan setelah 4-6 minggu. Tidak menimbulkan nyeri dan tidak diiringi panas. Bisul akan sembuh sendiri dan meninggalkan luka parut.
Jika bisul tak muncul, jangan cemas. Bisa saja dikarenakan cara penyuntikan yang salah, mengingat cara penyuntikan perlu kehlian khusus karena vaksin harus masuk ke dalam kulit. Apalagi bila dilakukan di paha, proses menyuntiknya lebih sulit karena lapisan lemak di bawah kulit paha umumnya lebih tebal.

Jadi, medki bisul tak muncul, antibodi tetap terbentuk, hanya saja dalam kadar rendah. Imunisasi BCG pun tak perlu diulang, karena di daerah endemis TB, infeksi alamiah akan selalu ada. Dengan kata lain, anak akan mendapat vaksinasi alamiah.

Indikasi Kontra
Tak dapat diberikan pada anak berpenyakit TB atau menunjukkan Mantoux positif.

Daftar pustaka
http://vinadanvani.wordpress.com/2008/03/07/imunisasi-bcg-untuk-mencegah-tb-tuberkulosis/

ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI DENGAN TUMBUH KEMBANG NORMAL DI BPRB KASIH BUNDA

Disusun oleh
Ismiyati (090105192)/4c







PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ‘AISYIYAH
YOGYAKARTA 

BAB I
LANDASAN TEORI
A. Tumbuh Kembang Anak
Pertumbuhan dan perkembangan menyangkut semua aspek kemajuan yang dicapai oleh jazad manusia dari konsepsi sampai dewasa.Pertumbuhan berarti bertambah besar dalam aspek fisis akibat multiplikasi sel dan bertambahnya jumlah zat interseluler. Oleh karena itu pertumbuhan dapat diukur dalam sentimeter atau incih dan dalam kilogram atau pound. Selain itu dapat pula diukur dalam keseimbangan metabolik, yaitu retensi kalsium dan nitrogen oleh badan. Perkembangan digunakan untuk menunjukkan bertambahnya keterampilan dan fungsi kompleks. Seseorang berkembang dalam pengaturan neuromoskuler, berkembang dalam mempergunakan tangan kanannya dan terbentuk pula kepribadiannya. Maturasi dan diferensiasi sering dipergunakan sebagai sinonim untuk perkembangan. Pertumbuhan fisis, sebagai pertumbuhan badan sebagai keseluruhan. (http://ridwanamiruddin.wordpress.com/2009/05/05/tumbuh-kembang-anak/)
a. Faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang.
Secara umum terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi terhadap tumbuh kembang anak yaitu :
1) Faktor genetik
Faktor genetik merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang anak. Faktor ini juga merupakan faktor bawaan anak, yaitu potensi anak yang menjadi ciri khasnya. Melalui genetik yang terkandung didalam sel telur yang telah dibuahi, dapat ditemukan kualitas dan kuantitas pertumbuahan. Ditandai dengan intensitas dan kecepatan pembelahan, drajat sensivitas jaringan terhadap rangsangan, umur pubertas dan berhentinya pertumbuhan tulang.
2) Faktor lingkungan
Lingkuagan merupakan faktor yang sangan menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan. Faktor ini disebut juga milieu merupakan tempat anak tersebut hidup, dan berfungsi sebagai penyedia kebutuahan dasar anak. Lingkungan yang cukup baik akan memungkinkan tercapai potensi bawaan, sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya. Lingkunagan merupakan lingkungan
“bio-fisiko-psiko-sosial” yang mempengaruhi individu setiap hari, mulai dari konsepsi sampai akhir hayatnya.
a) Faktor yang masih mempengaruhi anak pada masih di dalam kandunagan (faktor pranatal)
b) Faktor lingkungan yang mempengaruhi tumbuh kembang anak setelah lahir (faktor posnatal)
Faktor lingkungan pranatal yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang janin mulai dari konsepsi sampai akhir, antara lain :
(1) Gizi ibu pada waktu hamil
Gizi ibu yang jelek sebelum terjadinya kehamilan maupun pada waktu sedang hamil, sering menghasilkan bayi BBLR/lahir mati, menyebabkan cacat bawaan, hambatan pertumbuhan otak, anemia pada bayi baru lahir, bayi baru lahir mudah terkena infeksi, abortus dan sebagainya.
(2) Mekanis
Trauma dan cairan ketuban yang kurang, posisi janina dalam uterus dapat kelainan bawaan talipes dilokasi panggul, tortikolis, palsi fasialis, atau karnio tabes.
(3) Toksin/zat kimia
Zat-zat kimia yang dapat menyebabkan kelainan bawaan pada bayi antara lain obat anti kanker, rokok, alkohol, beserta logam barat lainnya.
(4) Endokrin
Hormon-hormon yang mungkin yang berperan dalam pertumbuhan janin adalah somatotropin, tiroid, insulin, hormon plasenta, peptida-peptida lainnya dengan aktivitas mirip insulin. Apabila salah satu dari hormon tersebut mengalami defisiensi maka dapat menyebabkan terjadinya susunan saraf pusat sehingga terjadinya retradasi mental, cacat bawaan dan lain-lain.
(5) Radiasi
Radiasi pada janin sebelum umur kehamilan 18 minggu dapat menyebabkan kematian janin, kerusakan otak, mikrosefali, atau cacat bawaan lainnya, sedangkan efek radiasi pada orang laki-laki dapat menyebabkan cacat bawaan pada anaknya
(6) Infeksi
Setiap hiperpirexia pada ibu hamil dapat merusak janin. Infeksi intrauteri yang sering menyebabkan cacat bawaan adalah TORCH, sedangkan infeksi lainnya yang juga dapat menyebabkan penyakit pada janin adalah varisela, malaria, polio, influenza dan lain-lain.
(7) Stres
Stres yang dialami oleh ibu pada waktu hamil dapat mempengaruhi tumbuh kembang janin, antara lain cacat bawaan, kelainan kejiwaan dan lain-lain.
(8) Imunitas
Rhesus atau ABO inkomtabilitas sering menyebabkan abortus, hidrops fetalis, kren ikterus, atau lahir mati.
(9) Anoksia embrio
Menurunnya oksigenasi janin melalui gangguan pada plasenta atau tali pusat, menyebabkan BBLR.
Bayi baru lahir harus berhasil melewati masa transisi, dari suatu sistem yang teratur sebagai terbesar tergantung pada organ-organ ibunya, kesuatu sistem yang tergantung pada kemampuan genetik dan mekanisme homeostatik bayi itu sendiri. Lingkunagan posnatal yang mempengaruhi tumbuh kembang anak secara umum dapat digolongkan menjadi :
1) Lingkungan biologis
Lingkungan biologis yang dimaksud adalah ras/suku bangsa, jenis kelamin, umur, gizi, perawatan kesehatan, kepekaan terhadap penyakit, penyakit kronis, fungsi metabolisme, dan hormon.
2) Faktor fisik
Yang termasuk dalam faktor fisik itu antara lain yaitu cuaca, musim, keadaan geografis suatu daerah, sanitasi, keadaan rumah baik dari struktur bangunan, ventilasi, cahaya dan kepadatan hunian, serta radiasi.
3) Psikososial
Stimulasi merupakan hal penting dalam tumbuh kembang anak, selain itu motivasi belajar dapat ditimbulkan sejak dini, dengan memberikan lingkungan yang kondusif untuk belajar, ganjaran atau hukuman yang wajar merupakan hal yang dapat menimbulkan motivasi yang kaut dalam perkembangan kepribadian anak kelak dikemudian hari, dalam proses sosialisasi dengan lingkungannya anak memerlukan teman sebaya, stres juga berpengaruh terhadap anak, selain sekolah, cinta dan kasih sayang, kualitas interaksi anak orang tua dapat mempengaruhi proses tumbuh kembang anak.
4) Faktor keluarga dan adat istiadat
Faktor keluarga yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak yaitu pekerjaa/pendapat keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh kembang anak karena orang tua dapat menyediakan semau kebutuhan anak baik yang primer maupun sekunder, pendidikan ayah/ibu yang baik dapat menerima informasi dari luar terutama tentang cara pengusahan anak yang baik, menjaga kesehatan, dan pendidikan yang baik pula, jumlah saudara yang banyak pada keluaraga yang keadaan sosial ekonominya cukup akan mengakibatkan berkurangnya perhatian dan kasih sayang yang diterima anak, jenis kelamin dalam keluarga seperti adat tradisional masih banyak wanita yang mengalami malnutrisi sehingga dapat menyebabkan angka keatian bayi meningkat, stabilitas rumah tangga, kepribadian ayah/ibu,adat istiadat, norma-norma, tabu-tabu agama, ubranisasi, yang banyak menyebabkan kemiskianan dengan segala permasalahannya, serta kehidupan politik dalam masyarakat yang mempengaruhi prioritas kepentingan anak, anggaran dan lain-lain. (kuliah kebidanan, 2009)
a. Aspek Pertumbuhan Dan Perkembangan Anak
Pencapaian suatu kemampuan pada setiap anak bisa berbeda – beda, namun demikian apa patokan umur tentang kemampuan apa saja yang perlu dicapai seorang anak pada umur tertentu. Ada 4 aspek tumbuh kembang anak yang perlu dibina dalam menghadapi masa depan anak :
1) Perkembangan fisik (motorik)
Berkaitan dengan perkembangan gerakan motorik, yakni perkembangan pengendalian gerakan tubuh mulai dari gerakan yang terkoodinir antara susunan saraf, otot, otak dan spinal cord. Perkembangan motorik kasar dan halus. Motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar, 90% atau seluruh anaggota tubuh yang dipengaruhi oleh kematangan anak itu sendiri. Contoh kemampuan duduk, memandang, berlari naik turun tangga dan sebagainya. Sedangkan motorik halus adalah gerakan yang menggunakan otot-otot halus atau sebagian anggota tubuh tertentu. Yang dipengaruhi oleh kesempatan untuk berlajar dan berlatih. Misalanya kemampuan memindahkan benda, mencorat-coret, menyusun balok, menggunting, menulis, dan sebagainnya. Mana yang lebih penting keduanya penting dan diperlukan agar anak dapat berkembang optimal. Bedanya perkembangan motorik kasar sangat tergantung kematangan anak. Sementara motorik halus bisa dilatih. Anak-anak perkembangan motorik halusnya kurang umumnya disebabkan stimulasi dari lingkungan yang juga kurang. Latihan menulis, mencoret atau meremas-remas lilin bisa bisa dilakukan melatih motorik halus.
2) Perkembangan emosi
Perkembangan emosi harus dipupuk sejak dini. Berikanlah kehangatan dan kasih sayang agar anak merasa nyaman. Anak juga akan belajar dari model lingkungannya. Nah, apa yang dirasakan akan ia berikan kembali kelingkungannya. Jika orang tua bersikap hangat, ia pun akan bersikap sama tarhadap lingkungannya. Bayangkan jika orang tua tak pernah memberikan kehangatan pada anak. Anak akan merasa ditolak. Akibatnya, ia bisa depresi yang tentu akan mempengaruhi kemampuannya berinteraksi dengan lingkungan. Akibat lain, anak bisa takut mencoba, malu bertemu denagn orang lain, dan sebagainya.
3) Perkembangan kognitif
Perkembangan kognitif atau proses berfikir anak adalah proses menerima, mengolah sampai memahami info yang diterima. Aspeknya antara lain intelegensi, kemampuan memecahkan masalah, serta kemampuan berpikir logis. Intinya adalah kemampuan anak mengembangkan kemampuan berfikir.
Kemampuan ini berkaitan dengan bahasa dan bisa dilatih sejak anak mulai memahami kata. Pada tahap dimana anak mulai memberikan respon dan memahami kata, bisa dimasukan informasi-informasi sederhana. Misalnya, aturan-aturan yang ada dilingkungan. Bisa juga mengenalkan konsep-konsep dasar seperti warna, angka dan sebagainya.
Hambatan dalam bidang kognitif bisa dilihat dari seberapa cepat atau lambat anak menangkap informasi yang diberikan, atau seberapa sulit anak mengungkapkan pikiran. Keterlambatan seperti ini berkaitan dengan kapasitas intelektual yang akan menjadi terbatas pula.
4) Perkembangan psikososial
Perkembangan psikologis berkaitan dengan ineraksi anak dengan lingkungan. Pada usia setahun, anak sudah bisa bermain dengan teman sebayanya. Jika anak sudah memiliki kemampuan itu, orang tua bisa memberikan dukungan. Anak juga dikenalkan dengan lingkungan baru ajarkan ia cara beradaptasi.(dr. rahadyan sasongko hal 217. 2009 )
b. Deteksi Dini Tumbuh Kembangan Anak Umur 1-3 Tahun Motorik Kasar
1) Anak umur 12-15 bulan
a) Anak berjalan sendiri
b) Bermain bola
c) Menarik mainan
d) berjalan mundur
e) Berjalan dan naik turun tangga
f) Berjalan sambil berjinjit – jinjit
g) Menangkap dan melempar
2) Anak umur 15-18 bulan
a) Anak berjalan sambil jinjit – jinjit, mundur dan naik turun tangga
b) Bermain bola dengannya
c) Bermain air seperti bermain di bak mandi, pancuran, kolam renang
d) Menendang bola
3) Anak umur 18-24 bulan
a) Anak berlari, berjalan dengan jinjit – jinjit, bermain air, melempar dan menangkap bola.
b) Berlompat
c) Kesimbangan tubuh
d) Menjalankan mainan
4) Anak umur 2 – 3 tahun
a) Anak memanjat, berlari, melompat, melatih keseimbangan dan bermain bola
b) Latihan menghadapi rintangan
c) Lomat jauh
d) Melempar dan menangkap.



















ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI
DENGAN TUMBUH KEMBANG NORMAL
DI BPS RIANA
Tanggal Pengkajian : 23 Maret 2011
Tempat Pengkajian : BPS RIANA
A. SUBJECTIVE DATA
1. Identitas
Anak
Nama : Saskia safitri
Tanggal/Jam Lahir : 23 juni 2008/ 05.00 wib
Jenis Kelamin : perempuan
Identitas Orang tua
Ayah Ibu
Nama
Umur
Suku/Bangsa
Agama
Pendidikan
Pekerjaan
Alamat Tn. H

27 tahun

Jawa/Indonesia

Islam

S1

PNS

Moyudan no 36,Yogyakarta Ny. M

25 tahun

Jawa/ Indonesia

Islam

S1

IRT

Moyudan, no 36 Yogyakarta






1. Keluhan Utama :
Ibu mengatakan ingin memeriksakan perkembangan putrinya yang sudah berumur 2 tahun.
2. Riwayat Prenatal
a. Kehamilan ke : pertama
b. Tempat ANC : BPS RIANA
c. Imunisasi TT : 3 kali
d. Obat-Obatan yang pernah diminum selama hamil : tidak ada
e. Penerimaan Ibu/Keluarga Terhadap kehamilan : kehamilan direncanakan dan keluarga sangat mengharapkan kelahiran anak pertamanya
f. Masalah yang pernah dialami ibu saat hamil : tidak ada
3 . Riwayat IntraNatal
a. Persalinan ke : pertama
b. Tempat dan penolong persalinan : BPS RIANA
c. Masalah saat persalinan : tidak ada
d. Cara Persalinan : pervaginam
e. Keadaan bayi saat lahir : normal
f. Segera menangis/tidak : segera menangis
g. BB lahir/PB Lahir : BB : 3200 gram/PB : 45 cm
4. Riwayat Kesehatan
Anak : ibu mengatakan anak tidak sedang/pernah menderita penyakit yang berat seperti penyekait jantung,diabetes,asma,TBC dan lain-lain.
Keluarga : ibu mengatakn keluarga tidak sedang/pernah menderita penyakit degenaratif seperti hipertensi,TBC,DM,Jantung dan lain-lain
5. Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari
A. Kebutuhan Nutrisi
Jenis Makanan dan Minuman : nasi,sayur(sup jagung,sayur bayam)
lauk( telur,ati ayam,ayam),buah dan air putih,teh,susu
Frekuensi : 2 x sehari dan 5-6 gelas perhari
Banyaknya : 1 porsi habis dan 1 gelas belimbing
B. Kebutuhan Eliminasi
BAB
Frekuensi : 1-2 x sehari
Warna : kuning
Konsistensi : lembek
Masalah : tidak ada
BAK
Frekuensi : 7-8 x sehari
Warna : kuning jernih
Masalah : tidak ada
C. Kebutuhan Personal Hygiene
Frekuensi Mandi : 2 x sehari
Frekuensi Ganti pakaian : 2 x sehari
Penggunaan popok anti tembus : jika bepergian saja
6. Data Psikososial dan Spiritual Orang Tua/Keluarga
a. Tanggapan keluarga terhadap keadaan anak : keluarga senang dengan perkembangan yang terjadi di dalam diri anak
b. Pengambil keputusan dalam keluarga : ayah dan ibu
c. Pengetahuan keluarga tentang perawatan anak : mengerti sedikit-sedikt
7. Riwayat Tumbuh Kembang anak
1. Ibu mengatakan bahwa anak sudah mulai bicara pada umur 1 tahun.
2. Ibu mengatakan bahwa anak sudah dapat berjalan umur 14 bulan.
3. Ibu mengatakan pada pemeriksaan tumbuh kembang yang lalu hasil dari pemeriksaan normal.
B. OBJECTIVE DATA
1. Pemeriksaan umum
a. Keadaan umum : baik
b. Kesadaran : compos mentis
c. Tanda Vital : N : 90 x /menit R : 30 x / menit S : 370 C
2. Pemeriksaan Antropometri
a. BB : 17 kg
b. PB/TB : 90 cm
c. Lingkar kepala : 39 cm
d. Lingkar dada : 40 cm
3. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala : Rambut bersih,hitam,tidak ada ketombe,mesochepal,UUB datar,tidak ada cepal hematoma
b. Muka : simetris,tidak moon face,tidak pucat
c. Mata : simetris,sclera tidak ikterik,konjungtiva merah muda,reflek blingking +
d. Telinga : tidak ada serumen,bersih
e. Hidung : tidak ada polip,tidak secret,terdapat sekat
f. Mulut : tidak pucat,tidak ada labioscisis,tidak ada labiopalatoscisis
( reflek rooting,scuckling,swallowing : +)
g. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid,limfe dan pembesaran vena jugularis
h. Dada :simetris tidak ada retaksi dinding dada
i. Perut : tidak ada bekas luka,tidak ada bising usus
j. Ekstermitas : simetris kanan kiri,tidak ada oedem,tidak ada varices,tidak ada polidaktili dan sindaktili
k. Genetalia : labia mayora sudah menutupi labia minora
l. Anus : bersih,tidak atresia ani,tidak ada hemoroid.
4. Data Penunjang
a. pemeriksaan Laboratorium : tidak dilakukan
b. pemeriksaan penunjang : DDST tes terlampir
c. catatan medic lainnya :
5. Pemeriksaan Perkembangan Anak
a. Kemampuan personal social :
No Kemampuan Pencapaian
1 Minum dengan cangkir Anak sudah mampu minum dengan baik menggunakan cangkir (L)
2 Membantu dirumah Anak sudah mampu untuk melakukan pekerjaan rumah seperti ikut menyapu ketika melihat ibunya menyapu dan membereskan mainannya sesudah bermain (L)
3 Menggunakan sendok garpu Anak sudah bisa menggunakan dan mampu memegang sendok garpu. (L)
4 Membuka pakaian Anak sudah mampu membuka pakaian sendiri. (L)
5 Menyuapi boneka Anak sudah mampu bermain boneka dan berpura-pura menyuapi boneka. (L)
6 Memakai baju Anak belum mampu menggunakan baju sendiri,anak masih butuh bantuan orang lain jika akan memakai baju. (G)
7 Gosok gigi dengan bantuan Anak belum mampu memegang sikat gigi dan belum mampu menyikat gigi. (G)
8 Cuci dan mengeringkan tangan Anak belum mampu mencuci tangan sendiri dan masih butuh bantuan untuk mengeringkan tangannya. (G)
b. Kemampuan Motorik Halus :
No Kemampuan Pencapaian
1 Mencoret-coret Anak sudah mampu mencoret-coret. (G)
2 Ambil manic-manik ditunjukkan Anak sudah mampu mengambil manic-manik. (G)
3 Menara 2,4,6 kubus Anak sudah mampu membuat menara dari 2,4 dan 6 kubus. (G)
4 Meniru garis Vertikal Anak belum mampu meniru garis vertical. (G)
5 Menara dari 8 kubus Anak belum mampu membuat menara.(G)
6 Menggoyangkan ibu jari Anak belum mampu menggoyangkan ibu jari. (G)
c. Kemampuan Bahasa :
No Kemampuan Pencapaian
1 3,6 kata Anak sudah mampu mengucapkan 3,6 kata. (L)
2 Menunjukkan 2,4 gambar Anak sudah mampu menunjukkan 2,4 gambar. (L)
3 Kombinasi kata Anak sudah mampu menbuat kombinasi kata. (L)
4 Menyebut 1 gambar Anak sudah mampu menyebut 1 gambar. (L)
5 Bagian badan 6 Anak sudah mampu menyebut 6 bagian badan.(L)
6 Bicara sebagian dimengerti Bicara anak sebagian sudah dimengerti.(L)
7 Menyebut 4 gambar Anak belum mampu menyebut 4 gambar.(L)
8 Mengetahui 2 kegiatan Anak belum mengetahui 2 kegiatan. (L)
d. Kemampuan motorik kasar
No Kemampuan Pencapaian
1 Lari Anak sudah mampu berlari. (L)
2 Berjalan naik tangga Anak sudah bisa naik turun tangga. (L)
3 Menendang bola ke depan Anak dapat menendang bola kedepan. (L)
4 Melompat Anak dapat melompat.(L)
5 Melempar bola tangan ke atas Anak dapat melempar bola tangan ke atas. (L)
6 Loncat jauh Anak tidak dapat loncat jauh. (G)
7 Berdiri 1 kaki 1,2 detik Anak belum mampu berdiri 1 kaki 1,2 detik. (G)
Hasil pengkajian empat sector : Normal ( tidak ada delay dan tidak ada caution)
C. Assesment
An. Saskia safitri umur 2 tahun dengan tumbuh kembang normal
D. Planning
1. menjelaskan kepada ibu tentang hasil pemeriksaan tumbuh kembang anaknya.
- ibu mengerti tentang penjelasan yang diberikan oleh bidan.
2. Memeberitahukan kepada ibu agar memberikan stimulasi perkembangan pada anaknya
- Ibu bersdia memberikan stimulasi pada anaknya.
3. Memberitahukan kepada ibu tentang kunjungan ulangnya yaitu melakukan kunjungan ulang untuk tes perkembangan bulan depan.
- Ibu mengerti dan bersedia melakukan kunjungan ulang bulan depan.
4. Melakukan pendokumentasian hasil pemeriksaan
- Hasil pemeriksaan sudah didokumentasikan


TTD


Bidan Aisyah
Powered by Blogger