Senin, 23 Mei 2011

MAKALAH METODE SUHU BASAL

DAFTAR ISI

Halaman Judul 1
Kata Pengantar 2
Daftar Isi 3

BAB I PENDAHULUAN
I. Latar Belakang 4
II. Rumusan Masalah 4
III. Tujuan 5
IV. Manfaat 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
I. Pengertian Suhu Basal 6
II. Cara pengukuran Suhu Basal 8
III. Pemeriksaan Lendir Serviks 10
IV. Ciri – ciri Kesuburan ...................................................................... 11
BAB III PENUTUP
I. Kesimpulan 12
II. Saran 12

DAFTAR PUSTAKA 14

BAB I
PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG
Masalah kependudukan dunia dewasa ini adalah meledaknya pertumpbuhan penduduk yang diakibatkan meningkatnya angka kelahiran. Populasi penduduk dunia terus berlipat ganda dan telah diperkirakan mencapai angka 6,5 milyar. Perkiraan ini adalah hasil analisis pusat program internasional di biro sensus Amerika Serikat.
Kebijakan program KB yang mengharuskan penyampaian konseling terhadap calon peserta KB. Hal ini juga sebagai salah satu akibat dari “target oriented” yang lebih mementingkan kuantitas. Akibatnya masih banyak dijumpai peserta KB yang belum benar-benar siap menjadi peserta akan memutuskan untuk berhenti menggunakan alat kontrasepsi bila saat memakai alat kontrasepsi muncul efek samping atau masalah yang mereka tidak pahami dengan baik. Dengan melakukan konseling yang baik akan membantu akseptor KB memilih dan memutuskan jenis kontrasepsi yang tepat
Seperti yang kita ketahui, saat ini begitu banyak alat kontrasepsi yang banyak, sehingga kadang membuat para akseptor merasa binggung untuk memilih KB apa yang akan dipakai. Disini kami akan membahas salah satu metode KB yaitu dengan suhu basal .

II. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan suhu basal ?
2. Bagaimana cara pengukuran suhu basal ?
3. Bagaimana pemeriksaan lendir serviks ?
4. Bagaimana ciri-ciri kesuburan ?

III. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan suhu basal .
2. Untuk menambah pengetahuan tentang metode suhu basal .
3. Untuk mengetahu bagaimana pengukuran dengan suhu basal .



IV. Manfaat
1. Memberikan penjelasan pada perempuan tentang metode suhu basal .
2. Memberikan informasi bagaimana dan seperti apa metode suhu basal sebagai alat kontrasepsi .















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I. Pengertian Suhu Basal
Setiap bulannya tubuh memberikan sinyal-sinyal pada kita apakah saat kita sedang berada dalam tingkat kesuburan yang tinggi. Banyak di antara kita yang menganggap sinyal-sinyal ini sebagai suatu hal yang biasa, sehingga sering kita melupakannya. Namun, seperti yang kita ketahui dalam siklus kesuburan, terdapat beberapa istilah seperi :
1. Hari – hari kering yaitu setelah darah haid bersih, kebanyakan terjadi 1 sampai beberapa hari dan tidak terlihat adanya lendir dan daerah vagina terasa kering.
2. Hari – hari subur yaitu ketika terobservasi adanya lendir sebelun ovulasi.
3. Hari – hari puncak yaitu hari terakhir adanya lendir paling licin, mulur dan ada perasaaan basah .
II. Cara Pengukuran Suhu Basal
Pengukuran dilakukan pagi hari segera setelah bangun tidur, setiap hari pada waktu yang sama, sebelum ke kamar mandi. Alat ukur tersebut (seperti thermometer biasa) dimasukkan ke dalam mulut diletakkan di bawah lidah bagian paling ujung kanan/kiri kemudian, mulut kita tutup selama pengukuran berlangsung. Kemudian setelah dilakukan pengukuran, membuat grafik data temperatur yang sudah dicatat setiap harinya kita buat grafik. Dari grafik ini kita akan melihat bahwa pada setiap akhir lingkaran kesuburan, temperatur tubuh basal akan menurun, dan pada saat ovulasi temperatur tubuh akan naik paling tidak 0,05 – 0,2 derajat dari suhu basal tubuh rata-rata. Kenaikan suhu tubuh saat ovulasi ini akan dapat diperhitungkan dengan pendataan menggunakan grafik ini. Sehingga tidak dapat diketahui dengan lebih akurat panas tubuh karena sakit atau karena tingkat kesuburan yang memuncak. Bila kehamilan berhasil diperoleh, panas tubuh yang menaik akan terus stabil dan menstruasi tidak akan terjadi. Sebaliknya, bila kehamilan belum terjadi makan suhu tubuh basal akan menurun di akhir lingkaran kesuburan dan akan diikuti dengan terjadinya menstruasi.
III. Pemeriksaan Lendir Serviks
Cairan mulut rahim atau cairan vagina pada saat tidak berovulasi merupakan cairan kental. Cairan ini semakin mendekati waktu ovulasi akan semakin encer dan elastis. Semakin elastis dan lengket cairan ini, berarti semakin tinggi tingkat kesuburan kita. Pengecekan Cairan Mulut rahim, pengecekan cairan mulut rahim dapat dilakukan sendiri secara pribadi, maupun dengan bantuan suami. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan, selain dengan mengecek cairan yang keluar, juga dapat dengan mengecek cairan tersebut di sekitar mulut rahim. Dengan tangan yang bersih, kita dapat mengambil sample cairan mulut rahim dengan memasukkan jari telunjuk ke dalam vagina hingga mencapai sekitar mulut rahim. Cairan yang diperoleh kita periksa keelastisan dan keencerannya.
V. Ciri – ciri Kesuburan
1. Peningkatan cairan vagina pada sekitar waktu ovulasi. Cairan ini dikenal sebagai cervical mucous atau cervical fluid.
2. Adanya rasa nyeri atau sakit di sekitar rahim pada saat terjadinya ovulasi. Nyeri ini dinamakan mittelschemerz, yang berarti sakit di tengah badan yang merupakan sinyal dari terjadinya proses ovulasi. Namun kadangkala banyak pula diantara kita yang tidak merasakannya.
3. Perubahan posisi mulut rahim saat terjadinya ovulasi, untuk memudahkan sperma berpindah dan naik menuju rahim.
4. PMS atau premenstrual sindrom biasanya merupakan tanda sebelum terjadinya menstruasi. Banyak perempuan yang merasakan tanda-tanda seperti PMS, sehingga mereka merasa yakin bahwa mereka tidak hamil. Namun, ternyata banyak kehamilan awal yang menyerupai PMS.

















BAB V
PENUTUP

I. KESIMPULAN
Suhu basal merupakan salah satu metode kontrasepsi yang dapat digunaka oleh perempuan. Ini dikarenakan tubuh wanita dewasa menjadi rendah dan tinggi secara reguler setiap kali setelah masa ovulasi. Suhu tubuh kita akan tetap rendah hingga masa ovulasi, kemudian menjadi tinggi setelah masa ovulasi. Akan turun menjadi lebih rendah lagi setelah menstruasi. Khusus untuk wanita, ini cara bagaimana mengetahui suhu basal tubuh yang ideal. Bagi pria, terutama suami, ini juga tips dan trik yang harus dikuasai, karena dengan menghafal setiap perubahan suhu basal sang istri, bisa memprediksi kapan sang istri berada pada masa subur.
II. SARAN
1. Untuk setiap perempuan yang menggunakan metode suhu basal, hendaknya lebih teliti, telaten dan rajin dalam melakukan metode suhu basal.
2. Untuk bidan, sebaiknya selalu mendampingi klien yang menggunakan metode suhu basal, dan bersifat terbuka pada setiap pertanyaan atau keluhan dalam menggunakan suhu basal .








DAFTAR PUSTAKA

http://wrm-indonesia.org We R Mommies Indonesia! Generated: 17 April, 2011,
buku panduan praktis pelayanan kontrasepsi. Jakarta: 2006

ASKEP MYOMA UTERI

DAFTAR ISI

Halaman Judul 1
Kata Pengantar 2
Daftar isi 3

BAB I PENDAHULUAN
I. Latar Belakang 4
II. Rumusan Masalah 4
III. Tujuan 5
IV. Manfaat 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
I. Pengertian myoma uteri 6
II. Penyebab myoma uteri 8
III. Gejala dan tanda myoma uteri 10
IV. Cara mendeteksi myoma uteri........................................................... 11
V. Penanganan dan pengobatan ............................................................ 12

BAB III KASUS 22

BAB IV PEMBAHASAN 24

BAB V PENUTUP
I. Kesimpulan 30
II. Saran 30

DAFTAR PUSTAKA 31

BAB I
PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG
Organ kelamin wanita terdiri atas organ genitalia interna dan organ genitalia eksterna. Kedua bagian besar organ ini sering mengalami gangguan, salah satunya adalah myoma, myoma dapat mengenai organ genitalia interna dengan berbagai macam manifestasi dan akibatnya. Tidak terkecuali pada myoma uteri atau dikenal dengan tumor rahim. Mioma uteri dikenal juga dengan sebutan fibromioma, fibroid ataupun leiomioma merupakan neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus dan jaringan ikat yang menumpanginya. Sering ditemukan pada wanita usia reproduksi (20-25%), dimana prevalensi mioma uteri meningkat lebih dari 70 % dengan pemeriksaan patologi anatomi uterus, membuktikan banyak wanita yang menderita mioma uteri asimptomatik. Walaupun jarang terjadi mioma uteri biasa berubah menjadi malignansi (<1%). Gejala mioma uteri secara medis dan sosial cukup meningkatkan morbiditas, disini termasuk menoragia, ketidaknyamanan daerah pelvis, dan disfungsi reproduksi. Kejadiannya lebih tinggi pada usia di atas 35 tahun, yaitu mendekati angka 40 %. Tingginya kejadian mioma uteri antara usia 35-50 tahun, menunjukkan adanya hubungan mioma uteri dengan estrogen. Mioma uteri dilaporkan belum pernah terjadi sebelum menarke dan menopause. Di Indonesia angka kejadian mioma uteri ditemukan 2,39%-11,87% dari semua penderita ginekologi yang dirawat.
Menoragia yang disebabkan mioma uteri menimbulkan masalah medis dan sosial pada wanita. Mioma uteri terdapat pada wanita di usia reproduktif, pengobatan yang dapat dilakukan adalah histerektomi, dimana mioma uteri merupakan indikasi yang paling sering untuk dilakukan

II. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan myoma uteri?
2. Apa yasng menyebabkan myoma uteri ?
3. Apa saja gejala dan tanda myoma uteri?
4. Bagaimana cara mendeteksi myoma uteri?
5. Bagaimana cara penanganan dan pengobatannya?


III. Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimana myoma uteri dapat terjadi pada perempuan .
2. Untuk menambah pengetahuan tentang gangguan yang terjadi kerena gangguan sistem reproduksi salah satunya myoma uteri .
3. Untuk mengetahui penyebab dan cara mendeteksi myoma uteri.



IV. Manfaat
1. Memberikan penjelasan pada masyarakat khususnya perempuan dalam masa reproduktif mengenai hal-hal yang terjadi bila mengalami myoma uteri.
2. Mendeteksi secara dini yang tepat terhadap permasalahan yang dihadapi oleh perempuan apabila terkenamyoma uteri.












BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


1. Pengertian myoma uteri
Mioma uteri adalah tumor jinak yang berada pada uterus atau organ rahim. Masyarakat umumnya menyebut mioma sebagai miom atau tumor otot rahim. Umumnya mioma uteri terletak pada dinding rahim dan dapat berkembang ke arah dalam atau ke arah luar. Statistik penderita mioma tidak diketahui secara pasti karena masih jarang karena umumnya mioma uteri ditemukan secara tidak sengaja dan umumnya jarang menimbulkan keluhan atau gejala. Umumnya sekitar 30% terjadi pada wanita yang berumur di atas 35 tahun. Mioma uteri dapat muncul lebih dari satu buah dan memiliki berat yang bervariasi mulai dari beberapa gram saja hingga mencapai 5 kg.
2. Penyebab myoma uteri
Penyakit mioma uteri berasal dari otot polos rahim. Beberapa teori menyebutkan pertumbuhan tumor ini disebabkan rangsangan hormon estrogen. Pada jaringan mioma jumlah reseptor estrogen lebih tinggi dibandingkan jaringan otot kandungan (miometrium) sekitarnya sehingga mioma uteri ini sering kali tumbuh lebih cepat pada kehamilan (membesar pada usia reproduksi) dan biasanya berkurang ukurannya sesudah menopause (mengecil pada pascamenopause) Sering kali mioma uteri membesar ke arah rongga rahim dan tumbuh keluar dari mulut rahim. Ini yang sering disebut sebagai Myoma Geburt (Geburt berasal dari bahasa German yang berarti lahir). Tumor yang ada dalam rahim dapat tumbuh lebih dari satu, pada perabaan memiliki konsistensi kenyal, berbentuk bulat dan permukaan berbenjol-benjol seperti layaknya tumor perut. Beratnya bervariasi, mulai dari beberapa gram saja, namun bisa juga mencapai 5 kilogram atau lebih.

Jenis
Berdasarkan lokasinya mioma uteri dibagi dalam tiga jenis:
- Pertumbuhan ke arah permukaan dinding rahim (subserosa)
- Pertumbuhan tetap di dalam dinding rahim (intramural)
- Pertumbuhan ke arah rongga rahim (submukosa)
3. Gejala dan tanda myoma uteri
Kebanyakan mioma uteri ditemukan secara kebetulan pada saat pemeriksaan panggul rutin ataupun saat pemeriksaan ultrasonogafi (USG). Gejala yang timbul bergantung pada lokasi dan besarnya tumor, namun yang paling sering ditemukan adalah :
a. Perdarahan yang banyak dan lama selama masa haid.
b. Penekanan organ di sekitar tumor oleh mioma uteri seperti kandung kemih, saluran kemih (ureter), usus besar (rektum) atau organ rongga panggul lainnya sehingga menimbulkan gangguan buang air besar dan buang air kecil, pelebaran pembuluh darah vena dalam panggul, gangguan ginjal karena penekanan saluran kemih (ureter).
c. Rasa nyeri karena tekanan tumor dan terputarnya tangkal tumor, serta adanya reaksi peradangan steril di dalam rahim.
d. Teraba benjolan pada bagian bawah perut dekat rahim yang terasa kenyal.
e. Gangguan sulit hamil (infertilitas) karena terjadi penekanan pada saluran indung telur ataupun menyebabkan keguguran berulang (recurrent pregnancy loss).
f. Rasa nyeri biasanya diakibatkan oleh perubahan mioma uteri yang disebut degenerasi atau kontraksi uterus berlebihan pada mioma yang tumbuh ke dalam rongga rahim. Gejala sulit hamil ataupun keguguran berulang dapat disebabkan gangguan sumbatan pada saluran telur (tuba fallopi) dan gangguan implantasi sel telur yang telah dibuahi pada endometrium.
Sedangkan mioma uteri selama kehamilan dapat mengganggu kehamilan itu sendiri berupa kelainan letak bayi dan plasenta, terhalangnya jalan lahir, kelemahan pada saat kontraksi rahim, pendarahan yang banyak setelah melahirkan dan gangguan pelepasan plasenta.Sebaliknya, kehamilan juga dapat merangsang pertumbuhan mioma uteri. Saat hamil, mioma uteri cenderung membesar seiring dengan meningkatnya kadar hormon wanita (estrogen) selama kehamilan. Pembesaran yang cepat ini memicu perubahan dari mioma uteri (degenerasi) yang dapat menimbulkan rasa nyeri.


4. Cara mendeteksi myoma uteri
1. Pada pemeriksaan fisik, mioma uteri dapat ditemukan melalui pemeriksaan ginekologi rutin.
Diagnosis mioma uteri dicurigai bila dijumpai gangguan kontur uterus oleh satu atau lebih massa yang lebih licin, tetapi sering sulit untuk memastikan bahwa massa seperti ini adalah bagian dari uterus.
2. Pemeriksaan penunjang
a. Ultrasonografi (USG)
Ultrasonografi transabdominal dan transvaginal bermanfaat dalam menetapkan adanya mioma uteri. Ultrasonografi transvaginal terutama lebih bermanfaat untuk mendeteksi kelainain pada rahim, termasuk mioma uteri. Uterus yang besar lebih baik diobservasi melalui ultrasonografi transabdominal. Mioma uteri dapat menampilkan gambaran secara khas yang mendemonstrasikan irregularitas kontur maupun pembesaran uterus. Sehingga sangatlah tepat untuk digunnakan dalam monitoring (pemantauan) perkembangan mioma uteri.

b. Hiteroskopi
Dengan pemeriksaan ini dapat dilihat adanya mioma uteri submukosa, jika tumornya kecil serta bertangkai. Pemeriksaan ini dapat berfungsi sebagai alat untuk penegakkan diagnosis dan sekaligus untuk pengobatan karena dapat diangkat.

c. MRI (Magnetic Resonance Imaging)
Akurat dalam menggambarkan jumlah, ukuran, dan lokasi mioma tetapi jarang diperlukan karena keterbatasan ekonomi dan sumber daya. MRI dapat menjadi alternatif ultrasonografi pada kasus-kasus yang tidak dapat disimpulkan.
5. Penanganan dan pengobatan myoma uteri
Bila mioma uteri berukuran kecil, tidak cenderung membesar dan tidak memicu keluhan yang berarti, cukup dilakukan pemeriksaan rutin setiap 3-6 bulan sekali termasuk pemeriksaan USG. 55% dari semua mioma uteri tidak membutuhkan suatu pengobatan dalam bentuk apapun. Menopause dapat menghentikan pertumbuhan mioma uteri. Pengecilan tumor sementara menggunakan obat-obatan GnRH analog dapat dilakukan, akan tetapi pada wanita dengan hormon yang masih cukup (premenopause), mioma ini dapat membesar kembali setelah obat-obatan ini dihentikan. Jika tumor membesar, timbul gejala penekanan, nyeri hebat, dan perdarahan dari kemaluan yang terus menerus, tindakan operasi sebaiknya dilakukan.
Operasi pembedahan
Operasi pembedahan tergantung dari jenis dan letak mioma uteri. Pada kasus mioma submukosum dapat dilakuakan operasi histeroskopi untuk dilakukan reseksi mioma. Jika terdapat mioma uteri jenis subserosa atau intramural dapat dilakukan operasi pengangkatan mioma (miomektomi) melalui laparoskopi atau laparotomi. Banyak wanita dengan mioma uteri memilih untuk dilakukan miomektomi dibandingkan dengan histerektomi (pengangkatan rahim). Saat ini histerektomi tidak hanya dilakukan jika tidak ada rencana hamil lagi. Namun banyak fungsi rahim lainnya selain untuk memiliki keturunan. Akan sangat membantu jika Anda melakukan konseling dengan dokter Anda sehingga pengobatan yang diberikan akan menjawab keinginan dan keluhan Anda.












KASUS


Ibu Nina umur 37 tahun datang ke BPS Rahma bersama suaminya. Ibu Nina mengeluh sudah 5 bulan terakhir ini mengalami menstruasi yang tidak teratur kadang jeda 2 atau 1 minggu menstruasi, mengalami nyeri haid yang hebat, susah buang air besar dan sering buang air kecil, ibu belum mempunyai anak padahal sudah 6 tahun menikah. Pada ssat dilakukan palpasi oleh bidan teraba benjola pada abdoment.hasil pemeriksaannya sebagi berikut:
Tekanan darah: 100/90 Mmhg
Nadi: 84 x/menit
Pernafasan : 60x/menit
Hb : 10 ml/gr




















PEMBAHASAN KASUS








PENUTUP

I. KESIMPULAN
Menstruasi merupakan hal yang sangat fisiologis yang dialami oleh setiap perempuan normal. Namun, apabila perdarahn menstruasi yang terlalu sering dan banyak serta nyeri perut yang hebat itu perlu diperhatikan karena itu merupakan suatu hal yang patologi dan merupakan salah satu tanda myoma uteri. Selain itu myoma uteri juga di pengaruhi hormon estrogen sehingga pada wanita yang menopause lebih sering terserang myoma uteri

II. SARAN

1. Setiap perempuan hendaknya waspada terhadap gejala yang menunjukkan adanya myoma uteri .
2. Hendaknya bidan memberikan penyuluhan pada tiap perempuan mengenai myoma uteri.


DAFTAR PUSTAKA

http://nenkeliezbid.blogspot.com/2010/04/siklus-haid.html
http://akd3b.wordpress.com/2010/06/18/poliminorea/
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/112/jtptunimus-gdl-nurmasadah-5571-3-babii.pdf
Manuaba,Chandranita,dkk.2008.Gawat Darurat Obstetri-Giekologi dan Obstetri-Ginekologi Sosial Untuk Profesi Bidan.Jakarta : ECG

Badziat,Ali.2003.Endokrinologi Ginekologi.Jakarta : Media Aesculapius Buku Panduan Praktikum Kesehatan Reproduksi

Kamis, 14 April 2011

MAKALAH “ASUHAN KEPERAWATAN PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL ANAK PRASEKOLAH (3-6 TAHUN)”

NAMA : ARIFAH NUR KHASANAH
NIM : 090201056


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
2011
CATATAN KEPERAWATAN DI KOMUNITAS (CMHN)

A. IDENTITAS
NAMA : CHELSEA BELLA RAMADHANI
USIA : 4,7 Tahun
JENIS KELAMIN : Perempuan
ALAMAT : Ngricik RT 06/RW05, Wiladeg, Karangmojo, Gunungkidul

B. PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL
Uraikan karateristik perilaku yang diperlihatkan anak prasekolah dengan memberi tanda √ pada bagian ( ).
( √ ) Berkhayal dan kreatif.
( √ ) Bermain dengan benda-benda yang ada di rumah.
( √ ) Mudah berpisah dengan orang tua.
( √ ) Memperlihatkan kreativitas dan kemampuan berkhayal.
( √ ) Menikmati bermain dengan teman seusianya bersama-sama.
( √ ) Mengetahui tindakan yang benar dan salah serta mau mengikuti perintah.
( √ ) Mengetahui minimal empat warna.
( √ ) Bicara menggunakan kalimat yang panjang.
( √ ) Mengenal jenis kelamin.

C. DIAGNOSIS KEPERAWATAN
Potensial (normal) : Potensial mengembangkan inisiatif
 
D. TINDAKAN KEPERAWATAN

1. TINDAKAN KEPERAWATAN UNTUK PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL ANAK PRASEKOLAH.
TUGAS PERKEMBANGAN TINDAKAN KEPERAWATAN
Perkembangan yang normal: Inisiatif • Beri kesempatan kepada anak untuk mencapai kemampuan tertentu yang dapat dipelajarinya, seperti naik sepeda, menulis, menggambar, menyusun balok, puzzle.
• Dukung anak untuk bermain berkelompok.
• Beri kesempatan anak untuk bermain peran menggunakan alat-alat yang sesuai (memasak, sekolah, berperan sebagai orang tua).
• Beri tugas yang sesuai dengan kemampuan anak.
• Jadi role model bagi anak mengenai cara menerima keunikan orang lain.

2. TINDAKAN KEPERAWATAN UNTUK KELUARGA
TUGAS PERKEMBANGAN TINDAKAN KEPERAWATAN
Perkembangan yang normal: Inisiatif • Informasikan kepada keluarga mengenai cara yang dapat dilakukan keluarga untuk memfasilitasi perkembangan psikososial anak.
- Bersikap positif dan dorong usaha anak untuk mandiri.
- Dukung anak untuk bermain dan sediakan alat bermain.
- Bantu anak menyelesaikan masalah yang dialami jika tindakan yang dilakukan anak berakibat negatif/buruk.
- Gunakan bahasa yang positif dalam melarang anak.
- Berikan pendapat yang positif terhadap perilaku yang ditampilkan
- Beri pujian terhadap keberhasilan yang dicapai oleh anak.
- Berikan suasana disiplin dalam rumah pada waku belajar, menonton TV, bermain, makan.
• Diskusikan dengan keluarga mengenai cara yang akan digunakan keluarga untuk menstimulasi inisiatif anak.
• Latih keluarga untuk melakukan cara tersebut dan dampingi saat keluarga menstimulasi inisiatif anak.

 
E. TABEL IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
IMPLEMENTASI EVALUASI
13 APRIL 2011 PUKUL 15.20

1. TINDAKAN KEPERAWATAN UNTUK PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL ANAK PRASEKOLAH.
• Memberi kesempatan anak mencapai kemampuan tertentu yang dapat dipelajarinya: belajar berhitung dan menulis
• Mendukung anak untuk bermain berkelompok: masak-masakan
• Memberi kesempatan anak untuk bermain peran menggunakan alat-alat yang sesuai: bermain masak-masakan.


3. TINDAKAN KEPERAWATAN UNTUK KELUARGA
• Informasikan kepada keluarga mengenai cara yang dapat dilakukan keluarga untuk memfasilitasi perkembangan psikososial anak.
- Bersikap positif dan dorong usaha anak untuk mandiri.
- Dukung anak untuk bermain dan sediakan alat bermain.
- Bantu anak menyelesaikan masalah yang dialami jika tindakan yang dilakukan anak berakibat negatif/buruk.
- Gunakan bahasa yang positif dalam melarang anak.
- Berikan pendapat positif terhadap perilaku baik anak.
- Beri pujian terhadap keberhasilan yang dicapai anak.
- Berikan suasana disiplin dalam rumah pada waku belajar, menonton TV, bermain, makan.
• Diskusikan dengan keluarga mengenai cara yang akan digunakan keluarga untuk menstimulasi inisiatif anak: membelikan poster angka dan huruf. 13 APRIL 2011 PUKUL 17.30

S: Anak mengatakan senang bermain masak-masakan dengan teman sebayanya.

O: Anak dapat mengahafal angka dan belajar menulis dengan mandiri.

A: Anak mengembangkan inisiatif

P: Anjurkan anak belajar menulis dan menghafal angka sesuai kemampuan tanpa paksaan mulai dari yang mudah sampai ke level yang lebih sulit.

MAKALAH KISTA KELENJAR BARTOLINI

KATA PENGANTAR


Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Segala puji bagi Allah SWT karena berkat limpahan rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah Gangguan perdarahan di luar dan di dalam siklus menstruasi “ Amenorhea “
Makalah ini diselesaikan karena bantuan beberapa pihak,maka kami ucapkan terima kasih kepada :
1. Andari Wuri Astuti ,S.SiT selaku pembimbing.
2. Teman-teman seperjuangan yang telah ikut menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih jauh dari harapan sempurna untuk itu penulis mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan makalah ini dan semoga makalah ini dapat diterima dan bermanfaat orang-orang yang berkecimpung di dunia kesehatan.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.


Yogyakarta, Maret 2011

Penyusun









DAFTAR ISI

Halaman Judul 1
Kata Pengantar 2
Daftar isi 3

BAB I PENDAHULUAN
I. Latar Belakang 4
II. Rumusan Masalah 4
III. Tujuan 5
IV. Manfaat 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
I. Pengertian kista kelenjar bartolini 6
II. Gejala kista kelenjar bartolini 8
III. Epidemiologi kista kelenjar bartolini 10
IV. Stadium kista kenjar bartolini........................................................... 11
V. Penanganan dan pengobatan............................................................ 12

BAB III KASUS 22

BAB IV PEMBAHASAN 24

BAB V PENUTUP
I. Kesimpulan 30
II. Saran 30

DAFTAR PUSTAKA 31

BAB I
PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG
Organ kelamin wanita terdiri atas organ genitalia interna dan organ genitalia eksterna. Kedua bagian besar organ ini sering mengalami gangguan, salah satunya adalah infeksi, infeksi dapat mengenai organ genitalia interna maupun eksterna dengan berbagai macam manifestasi dan akibatnya. Tidak terkecuali pada glandula vestibularis major atau dikenal dengan kelenjar bartolini. Kelenjar bartolini merupakan kelenjar yang terdapat pada bagian bawah introitus vagina. Jika kelenjar ini mengalami infeksi yang berlangsung lama dapat menyebabkan terjadinya kista bartolini, kista bartolini adalah salah satu bentuk tumor jinak pada vulva. Kista bartolini merupakan kista yang terbentuk akibat adanya sumbatan pada duktus kelenjar bartolini, yang menyebabkan retensi dan dilatasi kistik. Dimana isi di dalam kista ini dapat berupa nanah yang dapat keluar melalui duktus atau bila tersumbat dapat dapat mengumpul di dalam menjadi abses.
Kista bartolini ini merupakan masalah pada wanita usia subur, kebanyakan kasus terjadi pada usia 20 sampai 30 tahun dengan sekitar 1 dalam 50 wanita akan mengalami kista bartolini atau abses dalam hidup mereka, sehingga hal ini merupakan masalah yang perlu untuk dicermati. Kista bartolini bisa tumbuh dari ukuran seperti kacang polong menjadi besar dengan ukuran seperti telur. Kista bartolini tidak menular secara seksual, meskipun penyakit menular seksual seperti Gonore adalah penyebab paling umum terjadinya infeksi pada kelenjar bartolini yang berujung pada terbentuknya kista dan abses, sifilis ataupun infeksi bakteri lainnya juga dianggap menjadi penyebab terjadinya infeksi pada kelenjar ini.
II. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud kista kelenjar bartolini ?
2. Bagaimanaepidemiologi pada kista kelenjar bartolini ?
3. Apa gejala dari kista kelenjar bartolini ?
4. Apa saja stadium kista kelenjar bartoilini ?
5. Bagaimana cara penanganan kista kelenjar bartolini ?

III. Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimana kista kelenjar bartolini dapat terjadi pada perempuan .
2. Untuk menambah pengetahuan tentang gangguan yang terjadi kerena gangguan sistem reproduksi salah satunya kista kelenjar bartolini .
3. Untuk mengetahui penyebab terjadinya kista kelenjar bartolini.



IV. Manfaat
1. Memberikan penjelasan pada masyarakat khususnya perempuan dalam masa reproduktif mengenai hal-hal yang terjadi bila mengalami kista pada kelenjar bartolini.
2. Mendeteksi secara dini yang tepat terhadap permasalahan yang dihadapi oleh perempuan apabila terkena kista kelenjar bartolini.














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Pengertian kista kelenjar bartolini
Kista adalah tumor iinak di organ reproduksi perempuan yang paling sering ditemui. Bentuknya kistik, berisi cairan kental, dan ada pula yang berbentuk anggur. Kista juga ada yang berisi udara, cairan, nanah, ataupun bahan-bahan lainnya. Kista termasuk tumor jinak yang terbungkus selaput semacam jaringan. Kumpulan sel-sel tumor itu terpisah dengan jaringan normal di sekitarnya dan tidak dapat menyebar ke bagian tubuh lain. Itulah sebabnya tumor jinak relatif mudah diangkat dengan jalan pembedahan, dan tidak membahayakan kesehatan penderitanya.
Kista adalah kantung yang berisi cairan atau bahan semisolid yang terbentuk di bawah kulit atau di suatu tempat di dalam tubuh. Kista kelenjar Bartholin terjadi ketika kelenjar ini menjadi tersumbat. Kelenjar Bartolini bisa tersumbat karena berbagai alasan, seperti infeksi, peradangan atau iritasi jangka panjang. Apabila saluran kelenjar ini mengalami infeksi maka saluran kelenjar ini akan melekat satu sama lain dan menyebabkan timbulnya sumbatan. Cairan yang dihasilkan oleh kelenjar ini kemudian terakumulasi, menyebabkan kelenjar membengkak dan membentuk suatu kista. Suatu abses terjadi bila kista menjadi terinfeksi
2. Gejala-gejala kista kelenjar bartolini
Kista dapat memberikan berbagai keluhan seperti nyeri sewaktu haid, nyeri perut bagian bawah, sering merasa ingin buang air besar atau kecil, dan pada keadaan yang sudah lanjut dapat teraba benjolan pada daerah perut. Untuk jenis kista folikel, biasanya tidak memberikan rasa nyeri. Sehingga kebanyakan penderita tidak menyadarinya. Namun, jika kista pecah, misalnya saat berhubungan seksual, penderita akan merasa nyeri yang bertambah bila melakukan aktivitas fisik berat.
Tidak seperti kista folikel, kista korpus luteum umumnya memberikan nyeri hanya pada satu sisi dari perut bagian bawah. Penderita juga mengalami perubahan pola haid, misalnya terlambat haid atau pendarahan diantara periode haid. Pendarahan vagina yang hebat dan tidak teratur jika berlangsung kronik dapat berakibat pada anemia. Nyeri perut yang timbul biasanya hebat dan dapat disertai mual dan muntah. Pembesaran perut juga sering terjadi pada beberapa jenis kista yang cenderung tumbuh makin besar. (http://id.shvoong.com/)
3. epidemiologi kista kelenjar bartolini
Dua persen wanita mengalami kista Bartolini atau abses kelenjar pada suatu saat dalam kehidupannya. Abses umumnya hampir terjadi tiga kali lebih banyak daripada kista. Salah satu penelitian kasus kontrol menemukan bahwa wanita berkulit putih dan hitam yang lebih cenderung untuk mengalami kista bartolini atau abses bartolini daripada wanita hispanik, dan bahwa perempuan dengan paritas yang tinggi memiliki risiko terendah. Kista Bartolini, yang paling umum terjadi pada labia majora. Involusi bertahap dari kelenjar Bartolini dapat terjadi pada saat seorang wanita mencapai usia 30 tahun. Hal ini mungkin menjelaskan lebih seringnya terjadi kista Bartolini dan abses selama usia reproduksi. Biopsi eksisional mungkin diperlukan lebih dini karena massa pada wanita pascamenopause dapat berkembang menjadi kanker. Beberapa penelitiantelah menyarankan bahwa eksisi pembedahan tidak diperlukan karena rendahnya risiko kanker kelenjar Bartholin (0,114 kanker per 100.000 wanita-tahun).Namun, jika diagnosis kanker tertunda, prognosis dapat menjadi lebih buruk. Sekitar 1 dalam 50 wanita akan mengalami kista Bartolini atau abses di dalam hidup mereka. Jadi, hal ini adalah masalah yang perlu dicermati.Kebanyakan kasus terjadi pada wanita usia antara 20 sampai 30 tahun. Namun, tidak menutup kemungkinan dapat terjadi pada wanita yang lebih tua atau lebih muda.

4. Stadium kista kelenjar bartolini
1. Kista non-neoplastik
Kista non-neoplastik bersifat jinak dan biasanya akan mengempis dengan sendirinya setelah dua atau tiga bulan.

2. Kista neoplastik.
Kista kneoplastik umumnya harus dioperasi, namun tetap tergantung pada ukuran dan sifatnya, apakah membahayakan atau tidak.
Selain pada ovarium, kista dapat juga tumbuh di vagina dan daerah vulva (bagian luar alat kelamin wanita). Kista yang tumbuh di daerah vagina, antara lain inklusi, ductus gartner, endometriosis, dan adenosis. Sedangkan kista yang tumbuh di daerah vulva, antara lain pada kelenjar bartholini, kelenjar sebasea, serta inklusi epidermal.
Kista umumnya tidak disertai dengan keluhan atau gejala spesifik. Keluhan biasanya akan muncul jika ukuran kista sudah membesar dan letaknya mengganggu organ lain di sekitarnya. Jika si penderita menekan saluran kemih, usus, saraf, atau pembuluh darah besar di sekitar rongga panggul, maka?akan menimbulkan keluhan berupa susah buang air kecil dan buang air besar, gangguan pencernaan, kesemutan, atau bengkak pada kaki.
Kista memang tumor yang jinak, namun 20-30% kista dapat berpotensi menjadi ganas. Keadaan itu ditandai dengan terjadinya pembesaran tumor dalam waktu singkat sehingga memicu tumbuhnya kanker.
Pasalnya, sampai sekarang belum diketahui secara pasti faktor-faktor penyebab tumbuhnya kista dalam tubuh seorang wanita dan cara pencegahannya pun belum terungkap dengan jelas. Ada penelitian yang menyatakan bahwa penyebab terbentuknya kista pada ovarium adalah gagalnya sel telur untuk berovulasi. Dalam siklus reproduksi, satu sel telur dalam ovarium wanita setiap bulannya akan mengalami ovulasi, yaitu keluarnya inti sel telur dari folikel untuk kemudian ditangkap serabut fimbria dan ditempatkan di saluran ovarium, dan siap dibuahi jika bertemu sperma. Folikel yang sudah kehilangan inti sel telur itu disebut dengan corpus luteum, yang secara normal akan mengalami degenerasi dan hilang diserap tubuh.
Namun, ada kalanya proses keluarnya inti sel telur dari dalam folikel gagal terjadi. Sel telur yang gagal berovulasi tersebut lama-kelamaan dapat berubah menjadi kista. Selain itu, dapat pula terjadi kegagalan penyerapan corpus luteum oleh tubuh. Keadaan itu dapat pula berpotensi menyebabkan kista.
Selain disebabkan oleh kelainan pada sel telur (folikel), kista di ovarium juga dapat tumbuh begitu saja. Kista semacam itu terdiri atas selaput yang berisi darah kental dan sering disebut sebagai endometriosis.
Seiring dengan berjalannya waktu, kista akan terus mengalami pembesaran. Dalam jangka waktu tertentu, kista terus tumbuh hingga diameternya mencapai puluhan sentimeter. Sebenarnya tidak ada patokan mengenai ukuran besarnya kista sehingga berpotensi untuk pecah. Pecahnya kista dapat menyebabkan pembuluh darah menjadi rusak dan menimbulkan terjadinya perdarahan yang dapat berakibat fatal
5. Penanganan dan pengobatan
1. Dengan mengangkat kista melalui operasi.
Namun, tindakan pengobatan tersebut hingga kini belum memberikan hasil yang memuaskan. Tindakan operasi pengangkatan kista tidak menjamin kista tidak akan tumbuh kembali nantinya. Selama seorang wanita masih memproduksi sel telur, maka potensi untuk tumbuh kista akan tetap ada. Namun, dengan meningkatnya pengetahuan serta kesadaran kaum wanita saat ini untuk memeriksakan organ reproduksinya merupakan langkah awal yang tepat untuk mengurangi risiko terjadinya kista.

2. Mengatasi Kista dengan Laparoskopi
Laparoskopi merupakan teknik pembedahan atau operasi yang dilakukan dengan membuat dua atau tiga lubang kecil (berdiameter 5-10 milimeter) di sekitar perut pasien. Satu lubang pada pusar digunakan untuk memasukkan sebuah alat yang dilengkapi kamera untuk memindahkan gambar dalam rongga perut ke layar monitor, sementara dua lubang yang lain untuk peralatan bedah yang lain.
Teknik ini disebut juga teknik operasi minimal invansif (Minimal Invansive Surgery). Namun, teknik ini tetap memiliki resiko bagi pasien, terutama karena saat melakukan operasi tersebut, dokter yang menangani memerlukan ruang dalam rongga perut sehingga memerlukan gas karbondioksida (CO2) untuk mengembangkan rongga perut, antara lain risiko yang dapat terjadi jika gas bertekanan tinggi tersebut masuk ke dalam pem- buluh darah.

Pantangan makanan bagi pasien kista:
- santan, alpukat, kuning telur
- seafood
- fastfood
- gorengan (bila menggoreng lebih baik menggunakan olive oil/minyak zaitun)
- susu sapi (ganti dg susu diet, misalnya WRP)
- susu kedelai, termasuk tahu tempe
- jeroan
- makanan2 manis, termasuk buah2an, misalnya lengkeng, rambutan, mangga.




























KASUS

Aku juga sedang mengalami penyakit itu, malu deh rasanya soalnya aku blm nikah msh gadis juga... jd risih ke dokter kandungan... apalagi pas pertama kali ke bidan langsung di kira hamil, sekarang masih ada kistanya... wkt itu sih cuma diiris sm dokter utk di keluarin isinya the next months kembali lagi... klo lg bengkak gak enak bgt enak rasanya... cenut cenut gitu trus perih... coba pake pantyliners therapy yg di jual di multimarketing itu lho... bisa sih kempes tp balik lagi klo lg gak pake... uhuhuhu... sedih bgt... pingin sembuh kayak dulu lagi... awal mulanya sih keputihan berlebihan... jadi klo keputihan berlebihan jangan di anggap enteng... sekarang jadi nyesel... mau sembuh... mau sembuh... info di atas berguna bgt jd tau banyak, soalnya ada beberapa dokter yg gak ngejelasin detail ttg penyakit, knp bisa timbul ato penanggulangannya... setelah operasi itu pernah kambuh lagi tidak? atau ada keluhan... pengaruh ke masa depan gak? maksudnya will have problem having baby...






























PEMBAHASAN KASUS

Pada kasus diatas tampaknya memang dapat menjadi masalah bagi Ny. nina. Tentu saja dengan keadaanya sekarang dengan menstruasi yang tidak normal membuatnya keadaanya tidak seperti perempuan lainnya. Siklus menstruasi yang sangat pendek dengan jumlah perdarahan yang normal, membuat ibu Nina seringkali mengalami lesu dan lemas yang dapat mengakibatkan anemia.
Namun, disinilah peran seorang bidan yang harus mampu memberi dukungan, motivasi serta semangat agar ibu Nina berusaha untuk memperbaiki keadaanya sekarang. Sebenarnya dari pemeriksaanya yang dilakukan oleh bidan, tidak didapatkan sesuatu yang sangat membahayakan namun dari data - data yang didapat Ny nina memang mengalami anemia yang disebabkan karena siklus menatruasi yang cukup pendek, sehingga kondisinya pun lemah.
Dan ini bisa berpengaruh pada siklus menstruasi yang tidak teratur. Sehingga Ny. Nina dianjurkan untuk menganti alat kontrasepsi yang lain, sehingga diharapkan dengan mengganti alat kontrasepsi yang lain menstruasinya dapat kembali normal. Namun, untuk menegakkan diagnose perlu melakukan kolaborasi dengan dokter obgsyn sehingga perlu dilakukan rujukan. dan
Dalam kasus ini bidan melakukan fungsinya sebagai konselor yang baik dengan cara memberikan KIE yang tepat dan jelas kepada klien. Namun mengenai kelainan yang dialami klien untuk mengetahui secara pasti maka bidan harus merujuk atau menyarankan klien untuk periksa kepada tenaga medis yang lebih ahli,dalam hal ini adalah dokter kandungan. Karena pemeriksaan yang harus dilakukan juga bukan hanya pemeriksaan fisik luar saja tapi organ bagian dalam juga yang sudah keluar dari wewenang bidan.











PENUTUP

I. KESIMPULAN
Menstruasi merupakan hal yang sangat fisiologis yang dialami oleh setiap perempuan normal. Namun, ada hal yang harus diperhatikan bahwa tidak semua perempuan mengalami menstruasi yang normal. Ada beberapa macam gangguan menstruasi yang mungkin terjadi pada perempuan, salah satunya polymenorea.
Tentu saja, ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang perempuan mengalami polimenore seperti karena kesuburan endometrium kurang akibat dari pengaruh hormon combinasi progesteron dan estrogen yang sangat berpengaruh pada endometirum. Namun dengan demikian, polimenore bukanlah suatu kejadian yang sangat membahayakan. Dengan penanganan yang khusus tentu saja pada ahlinya yaitu dokter obgsyn, polimenore dapat disembuhkan .

II. SARAN

1. Setiap perempuan hendaknya waspada terhadap gejala yang menunjukkan adanya polimenorea .
2. Hendaknya bidan memberikan penyuluhan pada tiap perempuan mengenai polimenorea.


DAFTAR PUSTAKA

http://nenkeliezbid.blogspot.com/2010/04/siklus-haid.html
http://akd3b.wordpress.com/2010/06/18/poliminorea/
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/112/jtptunimus-gdl-nurmasadah-5571-3-babii.pdf
Manuaba,Chandranita,dkk.2008.Gawat Darurat Obstetri-Giekologi dan Obstetri-Ginekologi Sosial Untuk Profesi Bidan.Jakarta : ECG

Badziat,Ali.2003.Endokrinologi Ginekologi.Jakarta : Media Aesculapius Buku Panduan Praktikum Kesehatan Reproduksi

MAKALAH KISTA VAGINA

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Segala puji bagi Allah SWT karena berkat limpahan rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah Gangguan perdarahan di luar dan di dalam siklus menstruasi “ Amenorhea “
Makalah ini diselesaikan karena bantuan beberapa pihak,maka kami ucapkan terima kasih kepada :
1. Andari Wuri Astuti ,S.SiT selaku pembimbing.
2. Teman-teman seperjuangan yang telah ikut menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih jauh dari harapan sempurna untuk itu penulis mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan makalah ini dan semoga makalah ini dapat diterima dan bermanfaat orang-orang yang berkecimpung di dunia kesehatan.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.


Yogyakarta, Maret 2011

Penyusun


DAFTAR ISI

Halaman Judul 1
Kata Pengantar 2
Daftar Isi 3

BAB I PENDAHULUAN
I. Latar Belakang 4
II. Rumusan Masalah 4
III. Tujuan 5
IV. Manfaat 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
I. Pengertian kista vagina 6
II. patofisiologi 8
III. etiologi kista vagina 10
IV. tanda da gejala kista vagina............................................................. 11
V. tindakan kista vaginitis....................................................................... 12

BAB III KASUS 22

BAB IV PEMBAHASAN 24

BAB V PENUTUP
I. Kesimpulan 30
II. Saran 30

DAFTAR PUSTAKA 31

BAB I
PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG
Organ reproduksi baik laki-laki maupun perempuan mempunyai bentuk dan fungsi yang bebeda. Disini kami akan membahas tentang organ reproduksi perempuan, yang mungkin dapat terjadi gangguan yang menyebabkan gangguan reproduksi sehingga menghambat kerja dari organ reproduksi itu sendiri .
Disini kami akan membahas tentang salah satu gangguan yang terjadi pada organ reproduksi perempuan yaitu Kista. Kista adalah dtumor jinak di organ reproduksi perempuan yang paling sering ditemui. Bentuknya kistik, berisi cairan kental, dan ada pula yang berbentuk anggur. Kista juga ada yang berisi udara, cairan, nanah, ataupun bahan-bahan lainnya.
Kista termasuk tumor jinak yang terbungkus selaput semacam jaringan. Kumpulan sel-sel tumor itu terpisah dengan jaringan normal di sekitarnya dan tidak dapat menyebar ke bagian tubuh lain. Itulah sebabnya tumor jinak relatif mudah diangkat dengan jalan pembedahan, dan tidak membahayakan kesehatan penderitanya.

II. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan kista vagina ?
2. Apa penyebab dan gejala kista vagina ?
3. Bagaimana patofisiologi pada kista vagina ?
4. Bagaimana tindakan dan penatalaksanaan dari kista vagina ?

III. Tujuan
1. Untuk mengetahui kenapa kista vagina dapat terjadi pada perempuan .
2. Untuk menambah pengetahuan tentang pencegahan agar tidak terjadi kista vagina .
3. Untuk mengetahui penyebab terjadinya kista vagina pada perenpuan .



IV. Manfaat
1. Memberikan penjelasan pada perempuan tentang gangguan reproduktif mengenai hal-hal yang terjadi bila mengalami kista vagina .
2. Memberikan informasi tentang pengobatan kepada perempuan apabila terkena kista vagina .















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I. Pengertian Kista vagina
Kista adalah tumor jinak di organ reproduksi perempuan yang paling sering ditemui. Bentuknya kistik, berisi cairan kental, dan ada pula yang berbentuk anggur. Kista juga ada yang berisi udara, cairan, nanah, ataupun bahan-bahan lainnya.
Kista termasuk tumor jinak yang terbungkus selaput semacam jaringan. Kumpulan sel-sel tumor itu terpisah dengan jaringan normal di sekitarnya dan tidak dapat menyebar ke bagian tubuh lain. Itulah sebabnya tumor jinak relatif mudah diangkat dengan jalan pembedahan, dan tidak membahayakan kesehatan penderitanya.
Berdasarkan tingkat keganasannya, kista terbagi dua, yaitu non-neoplastik dan neoplastik. Kista non-neoplastik sifatnya jinak dan biasanya akan mengempis sendiri setelah 2 hingga 3 bulan. Sementara kista neoplastik umumnya harus dioperasi, namun hal itu pun tergantung pada ukuran dan sifatnya.
Selain pada ovarium kista juga dapat tumbuh di vagina dan di daerah vulva (bagian luar alat kelamin perempuan). Kista yang tumbuh di daerah vagina, antara lain inklusi, duktus gartner, endometriosis, dan adenosis. Sedangkan kista yang tumbuh di daerah vulva, antara lain pada kelenjar bartholini, kelenjar sebasea serta inklusi epidermal.
Kista berupa penumpukan cairan menggelembung berisi udara. Ada macam-macam kista tapi yang paling sering ditemukan adalah kista gartner atau duktus muller. Bentuknya seperti gelembung air atau bisul. Kista di vagina bisa mempersempit lubang vagina yang akhirnya akan menghambat persalinan. Bahkan jika bentuknya besar, bisa menghalangi hubungan intim dan akibatnya malah tak bisa hamil. Karenanya, jika ibu menemukan kista di vaginanya, harus segera dioperasi agar bisa hamil.
Bila setelah hamil dijumpai ada kista, harus dilakukan operasi ketika usia kehamilan masih muda, sekitar 3-4 bulan. Jika sudah telanjur, harus dilakukan operasi sesar.
II. Patofisiologi
Tumor ini berasal dari epitel permukaan ovarium invaginasi yang sederhana dari epitel germinal sampai ke invaginasi disertai permukaan ruangan kista yang luas terjadi pembentukan papil-papil kearah dalam tumor kistik.

III. Etiologi
Faktor yang menyebabkan gajala kista meliputi;
1. Gaya hidup tidak sehat. Diantaranya;
1. Konsumsi makanan yang tinggi lemak dan kurang serat
2. Zat tambahan pada makanan
3. Kurang olah raga
4. Merokok dan konsumsi alcohol
5. Terpapar denga polusi dan agen infeksius
6. Sering stress
2. Faktor genetic.
Dalam tubuh kita terdapat gen gen yang berpotensi memicu kanker, yaitu yang disebut protoonkogen, karena suatu sebab tertentu, misalnya karena makanan yang bersifat karsinogen , polusi, atau terpapar zat kimia tertentu atau karena radiasi, protoonkogen ini dapat berubah menjadi onkogen, yaitu gen pemicu kanker.
VI. Tanda dan Gejala
Kebanyakan wanita dengan kanker ovarium tidak menimbulakan gejala dalam waktu yang lama. Gejala umumnya sangat berfariasi dan tidak spesifik.
Pada stadium awal gejalanya dapat berupa;
1. Gangguan haid
2. Jika sudah menekan rectum atau VU mungkin terjadi konstipasi atau sering berkemih.
3. Dapat terjadi peregangan atau penekanan daerah panggul yang menyebabkan nyeri spontan dan sakit diperut.
4. Nyeri saat bersenggama.
V. Bagaimana Hubungannya Pada Janin
Kista yang besar bisa menimbulkan kelainan letak janin dalam kandungan, atau menghalangi turunnya kepala di jalan lahir pada waktu persalinan. Oleh karena itu bila ditemukan kista permanen yang besar, maka perlu tindakan pembedahan pada kehamilan sekitar 18 minggu. Bila kista yang besar tersebut tidak menghalangi jalan lahir atau tidak menimbulkan gejala sakit, operasi dapat dilakukan 3 bulan setelah ibu melahirkan. Jadi, tindakan yang diambil dokter sangat ditentukan oleh jenis kista, ukuran dan letaknya di jalan lahir serta keluhan dari ibu hamil itu sendiri.

VI. Tindakan
Cara yang paling efektif untuk mengatasi kista yaitu:
1. Dengan mengangkat kista melalui operasi. Namun, tindakan pengobatan tersebut hingga kini belum memberikan hasil yang memuaskan. Tindakan operasi pengangkatan kista tidak menjamin kista tidak akan tumbuh kembali nantinya. Selama seorang wanita masih memproduksi sel telur, maka potensi untuk tumbuh kista akan tetap ada. Namun, dengan meningkatnya pengetahuan serta kesadaran kaum wanita saat ini untuk memeriksakan organ reproduksinya merupakan langkah awal yang tepat untuk mengurangi risiko terjadinya kista.
2. Mengatasi Kista dengan Laparoskopi
Laparoskopi merupakan teknik pembedahan atau operasi yang dilakukan dengan membuat dua atau tiga lubang kecil (berdiameter 5-10 milimeter) di sekitar perut pasien. Satu lubang pada pusar digunakan untuk memasukkan sebuah alat yang dilengkapi kamera untuk memindahkan gambar dalam rongga perut ke layar monitor, sementara dua lubang yang lain untuk peralatan bedah yang lain.
Penderita kanker ovarium stadium dini dapat ditangani dengan operasi yang kemudian dilanjutkan dengan terapi. Bila kanker ovarium telah memasuki stadium lanjut baru di lakukan kemoterapi atau radiasi.











BAB III
KASUS

Seorang ibu rumah tangga bernama Ny. bebeb dengan umur 30 tahun, datang bersama suaminya ke BPS Amanah untuk memeriksakan keadaanya kerena Ny. bebeb mengeluh bahwa terasa nyeri saat berhubungan, perut terasa terasa tidak nyaman. Dan hasil yang didapatkan adalah sbb :
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi : 84 kali permenit
Pernafasan : 20 kali permenit
Suhu : 36 0C
TB : 155 cm
BB : 50 kg

















BAB IV

PEMBAHASAN


Dari kasus yang dialami oleh ibu Bebeb merupakan suatu hal yang sangat menggangu kehidupan ibu Bebeb. Dari anamnese yang dilakukan, sebaiknya dilakukan rujukan pada dokter obsgyn agar tidak menimbulkan ganggauan yang lebih gawat lagi. Dapat dilakukan operasi ini sebaiknya pada saat wanita yang bersangkutan akan menikah. Dengan demikian vagina baru dapat digunakan dan dapat dicegah bahwa vagina buatan akan menyempit.
Pada attresia vaginae terdapat gangguan dalam kanalisasi : sehingga terbentuk suatu septum yang horisontal. Septum itu dapat ditemukan pada bagian proksimal vagina, akan tetapi bisa juga pada bagian bawah, diatas himen.
Bila penutupan vagina itu menyeluruh, mensturasi timbul terapi vagina tidak menyeluruh, tidak akan timbul kesulitan.










BAB V
PENUTUP

I. KESIMPULAN

Vaginitis terjadi ketika flora vagina telah terganggu oleh adanya mikroorganisma patogen atau perubahan lingkunang vagina yang memungkinkan mikroorganisma patogen berkembang biak/berproliferasi. Penanganan yang segera sangatlah dibutuhkan ketika seseorang mengalami masalah infeksi, salah satunya vaginitis, karen bila tidak segera dilakukan tentu saja berpengaruh buruk terhadap penderita, dan menagkibatkan terganggunya pemenuhan kebutuhan bagi si penderita .

II. SARAN
1. Untuk setiap perempuan, menjaga kebersihan daerah kewanitaan sebaiknya lebih ditingkatkan lagi, untuk memperkecil resiko berkembanganya bakteri-bakteri yang seringkali dapat tumbuh di daerah kewanitaan .
2. Untuk tenaga kesehatan, khususnya bidan yang sangat mengerti tentang kebutuhan perempuan, lebih peka terhadap masalah-masalah yang mungkin timbul pada perempuan, sehingga dapat memperkecil penderita vaginitis .







ASUHAN KEBIDANAN PADA Ny. N UMUR 25 TAHUN DENGAN POLIMENORE
DI BPS KASIH IBU
Jl. Gampingan Baru No. 105, Bantul, Yogyakarta

No. Register : 101010
Tanggal pengkajian : 15 Maret 2011
Pukul : 10.15 WIB
Oleh : Bidan wiwid
PENGKAJIAN DATA
Biodata / Identitas pasien suami
1. Nama : Ny. B Tn. A
2. Umur : 30 tahun 35 tahun
3. Agama : Islam Islam
4. Suku Bangsa : Jawa/ Indonesia Jawa/ Indonesia
5. Pendidikan : SMA STM
6. Pekerjaan : IRT Swasta
7. Alamat : Jln. Gunung Pring No. 415, RT 05/RW 01 Muntilan Magelang Jawa Tengah
8. No. Telp : 081234567xxx 081234566xxx
DATA SUBYEKTIF
1. Kunjungan saat ini kunjungan ulang
Keluhan utama
Pasien mengatakan sering mengalami nyeri saat berhubungan, perut terasa tidak nyaman.
2. Riwayat Perkawinan
Pasien sudah menikah selama 5 tahun .
3. Riwayat menstruasi
Menarche pada umur 16 tahun, kadang sering terjadi gangguan menstruasi seperti siklus yang tidak teratur .
4. Riwayat Kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu: P2Ab0Ah2
5. Riwayat kontrasepsi yang digunakan: pasien mengatakan menggunakan alat kontrasepsi suntik
6. Riwayat kesehatan
a. Penyakit sistemik yang pernah/ sedang diderita
Pasien mengatakan tidak pernah dan tidak sedang menderita penyakit berat seperti hipertensi, DM, jantung, TBC
b. Penyakit yang pernah/ sedang di derita keluarga
Pasien mengatakan dari keluarga tidak ada yang pernah dan sedang menderita penyakit berat seperti hipertensi, DM, jantung, TBC, keganasan
c. Riwayat penyakit ginekologi
Pasien mengatakan tidak pernah menderita penyakit ginekologi
7. Pola Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari
a. Pola nutrisi makan minum
Frekuensi 2 kali sehari 3 – 4 kali sehari
Macam nasi dan lauk susu, dan teh
Jumlah 1 porsi habis 1 gelas habis
Keluhan tidak ada tidak ada
b. Pola eliminasi BAB BAK
Frekuensi tidak teratur 2 – 3 kali sehari
Warna kuning kehijauan kuning jernih
Bau khas khas
Konsistensi lunak encer
Keluhan tidak ada nyeri
c. Pola aktivitas
Ibu mengatakan kegiatan sehati-harinya adalah pekerjaan rumah tangga
Istirahat/ tidur: siang tidak pernah, malam 7 jam
Seksualitas: 1 kali dalam satu minggu
d. Personal hygiene
Kebiasaan mandi 2 kali perhari
Kebiasaan membersihkan alat kelamin: saat mandi, sehabis buang air kecil dan besar.
Kebiasaan mengganti pakaian dalam: setiap habis mandi
Jenis pakaian dalam yang digunakan: katun
8. Keadaan psiko social spirituala
a. Pengetahuan pasien tentang gangguan/ penyakit yang diderita saat ini
Menurut pasien, apa yang dialaminya tidak normal
b. Pengetahuan ibu tentang kesehatan reproduksi
Menurut pasien, gangguan reproduksi yang dialaminya tidak normal dan sangat mengganggu.
c. Dukungan keluarga
Keluarga menyarankan pasien untuk melakukan pemeriksaan ke pelayanan kesehatan agar dapat diketahui penyebab pasien belum juga haid.
d. Ketaatan beribadah
Pasien taat menjalankan sholat 5 waktu, namun setelah mengalami keadaan sekarang yang sedang dialami pasien mengatakan tidak dapat melaksanakan 5 waktu secara penuh.

DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum baik, kesadaran composmenthis
b. Tanda vital
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi : 84 kali permenit
Pernafasan : 20 kali permenit
Suhu : 36 0C
c. TB : 155 cm
BB : 50 kg
d. Kepala dan leher
Hiperpigmentasi : tidak ada hiperpigmentasi pada wajah dan leher
Mata : simetris, sclera putih, konjungtiva merah muda
Mulut : bibir merah muda, lembab
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar thyroid dan vena jugularis
e. Payudara : pembesaran payudara normal
f. Abdomen :
g. Ekstermitas
Edema : tidak ada
Varices : tidak ada
Reflek patella : positif
h. Genetalia luar
Tampak kemerahan dan teraba benjolan, nyeri saat dipegang .
Tanda chadwich : tidak ada
Varices : tidak ada
Bekas luka : tidak ada
Kelenjar bartholini: tidak ada
Pengeluaran : lendir warna kuning kehijauan berbau
i. Anus : tidak ada hemoroid
2. Pemeriksaan dalam/ ginekologis
3. Pemeriksaan penunjang
USG, pengambilan jaringan biopsy


ASSESSMENT
Ny. D umur 30 tahun dengan suspect vaginitis .
PLANNING tanggal 24 maret 2011 pukul 11.00 WIB
1. Menjelasakan hasil pemeriksaan fisik yang dilakukan pada pasien :
• Keadaan umum klien sedang
• Kesadaran compos mentis
• TB : 155 cm, BB : 38 kg
• TD : 110/70 mmHg. N ; 84x/m. P : 20 x/m. S : 36 C
• Inspeksi Keadaan umum klien normal
 Klien mengerti tentang keadaannya .
2. Memberikan konseling agar klien tidak cemas bahwa keadaanya sekarang bukanlah sesuatu yang sangat membahayakan,sehingga dapat disembuhkan.
 Klien mengerti penjelasan yang diberikan oleh bidan .
3. Menjelaskan pada klien tentang gangguan reproduksi yang dialaminya akibat dari bakteri.
 Klien mengerti tentang penjelasan yang diberikan oleh bidan .
4. Menganjurkan pada klien untuk lebih memperhatikan personal hygin nya
 Klien mengerti dan akan lebih memperhatikan kebersihannya .
5. Melakukan rujukan kepada dokter obsgyin untuk memastikan diagnose yang tepat sehingga penanganannya pun tepat.
 Klien bersedia untuk dirujuk dengan dokter obgsyn .

Ttd

Bidan Ema






























DAFTAR PUSTAKA

Manuaba,Chandranita,dkk.2008.Gawat Darurat Obstetri-Giekologi dan Obstetri-Ginekologi Sosial Untuk Profesi Bidan.Jakarta : ECG

Badziat,Ali.2003.Endokrinologi Ginekologi.Jakarta : Media Aesculapius Buku Panduan Praktikum Kesehatan Reproduksi

http://bataviase.co.id/detailberita-10443643.html

http://www.tabloidnova.com/Nova/Kesehatan/Konsultasi-Kesehatan/Gangguan-kesehatan reproduksi.

FIMOSIS DAN HIPOSPODIA

A. Pengertian Fimosis
Fimosis (phimosis) merupakan kondisi dimana kulit yang melingkupi kepala penis (glans penis) tidak bisa ditarik ke belakang untuk membuka seluruh bagian kepala penis (kulup, prepuce, preputium, foreskin,) . Preputium terdiri dari dua lapis, bagian dalam dan luar, sehingga dapat ditarik ke depan dan belakang pada batang penis. Pada fimosis, lapis bagian dalam preputium melekat pada glans penis. Kadangkala perlekatan cukup luas sehingga hanya bagian lubang untuk berkemih (meatus urethra externus) yang terbuka. Fimosis (phimosis) bisa merupakan kelainan bawaan sejak lahir (kongenital) maupun didapat.
Fimosis kongenital (kelainan bawaan, true phimosis)
Kulit preputium selalu melekat erat pada glans penis dan tidak dapat ditarik ke belakang pada saat lahir, namun seiring bertambahnya usia serta diproduksinya hormon dan faktor pertumbuhan, terjadi proses keratinisasi lapisan epitel dan deskuamasi antara glans penis dan lapis bagian dalam preputium sehingga akhirnya kulit preputium terpisah dari glans penis. Hanya sekitar 4% bayi yang seluruh kulit preputiumnya dapat ditarik ke belakang penis pada saat lahir, namun mencapai 90% pada saat usia 3 tahun dan hanya 1% laki-laki berusia 17 tahun yang masih mengalami fimosis kongenital. Walaupun demikian, penelitian lain mendapatkan hanya 20% dari 200 anak laki-laki berusia 5-13 tahun yang seluruh kulit preputiumnya dapat ditarik ke belakang penis.
Fimosis didapat (fimosis patologik)
Hal ini berkaitan dengan kebersihan (higiene) alat kelamin yang buruk, peradangan kronik glans penis dan kulit preputium (balanoposthitis kronik), atau penarikan berlebihan kulit preputium (forceful retraction) pada fimosis kongenital yang akan menyebabkan pembentukkan jaringan ikat (fibrosis) dekat bagian kulit preputium yang membuka.


Gejala fimosis
Fimosis kongenital seringkali menimbulkan fenomena ballooning, yakni kulit preputium mengembang saat berkemih karena desakan pancaran air seni tidak diimbangi besarnya lubang di ujung preputium. Fenomena ini akan hilang dengan sendirinya, dan tanpa adanya fimosis patologik, tidak selalu menunjukkan adanya hambatan (obstruksi) air seni. Selama tidak terdapat hambatan aliran air seni, buang air kecil berdarah (hematuria), atau nyeri preputium, fimosis bukan merupakan kasus gawat darurat.
jika fimosis menyebabkan hambatan aliran air seni, diperlukan tindakan sirkumsisi (membuang sebagian atau seluruh bagian kulit preputium) atau teknik bedah plastik lainnya seperti preputioplasty (memperlebar bukaan kulit preputium tanpa memotongnya). Indikasi medis utama dilakukannya tindakan sirkumsisi pada anak-anak adalah fimosis patologik.
Terapi
Terapi fimosis pada anak-anak tergantung pada pilihan orang tua dan dapat berupa sirkumsisi plastik atau sirkumsisi radikal setelah usia dua tahun. Pada kasus dengan komplikasi, seperti infeksi saluran kemih berulang atau balloting kulit prepusium saat miksi, sirkumsisi harus segera dilakukan tanpa memperhitungkan usia pasien. Tujuan sirkumsisi plastik adalah untuk memperluas lingkaran kulit prepusium saat retraksi komplit dengan mempertahankan kulit prepusium secara kosmetik. Pada saat yang sama, periengketan dibebaskan dan dilakukan frenulotomi dengan ligasi arteri frenular jika terdapat frenulum breve. Sirkumsisi neonatal rutin untuk mencegah karsinoma penis tidak dianjurkan. Kontraindikasi operasi adalah infeksi tokal akut dan anomali kongenital dari penis.
Sebagai pilihan terapi konservatif dapat diberikan salep kortikoid (0,05-0,1%) dua kali sehari selama 20-30 hari Terapi ini tidak dianjurkan untuk bayi dan anak-anak yang masih memakai popok, tetapi dapat dipertimbangkan untuk usia sekitar tiga tahun.
Terapi parafimosis terdiri dari kompresi manual jaringan yang edematous diikuti dengan usaha untuk menarik kulit prepusium yang tegang melewati glans penis. Jika manuver ini gagal , periu dilakukan insist dorsal cincin konstriksi. Tergantung pada temuan klinis lokal, sirkumsisi dapat segera dilakukan atau ditunda pada waktu yang lain.
B. Pengertian Hipospodia
Hipospadia adalah suatu keadaan dimana uretra terbuka di permukaan bawah penis, skrotum atau peritonium. Hipospadia sendiri berasal dari dua kata yaitu “hypo” yang berarti “di bawah” dan “spadon“ yang berarti keratan yang panjang.
Penyebabnya sebenarnya sangat multifaktor dan sampai sekarang belum diketahui penyebab pasti dari hipospadia. Namun, ada beberapa faktor yang oleh para ahli dianggap paling berpengaruh antara lain :
1. Gangguan dan ketidakseimbangan hormon
Hormon yang dimaksud di sini adalah hormon androgen yang mengatur organogenesis kelamin (pria). Atau bisa juga karena reseptor hormon androgennya sendiri di dalam tubuh yang kurang atau tidak ada. Sehingga walaupun hormon androgen sendiri telah terbentuk cukup akan tetapi apabila reseptornya tidak ada tetap saja tidak akan memberikan suatu efek yang semestinya. Atau enzim yang berperan dalam sintesis hormon androgen tidak mencukupi pun akan berdampak sama.
2. Genetika
Terjadi karena gagalnya sintesis androgen. Hal ini biasanya terjadi karena mutasi pada gen yang mengode sintesis androgen tersebut sehingga ekspresi dari gen tersebut tidak terjadi.
3. Lingkungan
Biasanya faktor lingkungan yang menjadi penyebab adalah polutan dan zat yang bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi.

Hypospadia terjadi karena tidak lengkapnya perkembangan uretra dalam utero. Terjadi karena adanya hambatan penutupan uretra penis pada kehamilan minggu ke 10 sampai minggu ke 14. Gangguan ini terjadi apabila uretra jatuh menyatu ke midline dan meatus terbuka pada permukaan ventral dari penis. Propusium bagian ventral kecil dan tampak seperti kap atau menutup.




Terapi
Intervensi bedah direkomendasikan untuk bentuk hipospadia sedang dan berat, dan untuk bentuk distal dengan patologi yang bernubungan (kurvatura penis, stenosis meatal). Pada hipospadia distal sederhana, koreksi kosmetik hanya dilakukan setelah diskusi menyeluruh mengenai aspek psikologis dan pemastian adanya indikasi gangguan fungsional.
Tujuan terapi adalah untuk mengkoreksi kurvatura penis, untuk membentuk neo-uretra dan untuk membawa neo-uretra ke ujung glans penis jika memungkinkan. Untuk mencapai hasil yang memuaskan diperiukan kaca pembesar dan benang jahit khusus, pengetahuan mengenai berbagai teknik operasi plastik (rotational skin flaps, free tissue transfer), penggunaan dermatom, perawatan luka dan terapi pasca operasi.
Terapi pre-operasi dengan aplikasi lokal testosteron propionate seiama 4 minggu dapat membantu. Untuk bentuk distal hipospadia terdapat beberapa teknik operasi (misal Mathieu, MAGPI, King, Duplay, Snodgrass, Onlay). Selain chorde kulit, jaringan ikat chortte dan korpus spongiosum bagian distal yang berjalan longitudinal di bawah glans pada kedua sisi saluran. Uretra biasanya juga bertanggung jawab terhadap kurvatura penis. Jika terdapat kurvaura sisa setelah chordectomy, dan jika sisa kulit saluran uretra yang terbuka tipis dan sirkulasinya buruk, mungkin diperlukan insist atau eksisi lempeng uretra. Pada disproporsi korporeal, harus ditambahkan tindakan orthoplasty (modifikasi plikasi korporeal dorsal Nesbft). Orthoplasty (Nesbit, modifikasi Nesbit, Schroder-Essed) dan penutupan dapat dipertimbangkan untuk dilakukan dalam dua tahap.
Teknik Onlay dengan preservasi lempeng uretra dan menghindari anastomosis sirkumferensial merupakan metode pilihan, dengan tingkat komptikasi yang rendah untuk hipospaSyarat yang diperlukan adalah lempeng uretra yang intak dengan vaskularisasi yang baik, atau hasil yang memuaskan setelah tindakan pertama dengan penis yang lurus dan batang penis yang tertutup dengan baik. Jika lempeng uretra tidak dapat dipertahankan semua (setelah eksisi atau divisi), digunakan tube-onlay flap atau inlay-onlay flap. Prosedur dua tahap dapat menjadi pilihan untuk hipospadia berat Jika tidak ada prepusium atau kulit penis, dapat digunakan mukosa bukal, mukosa buli dan free skin graft.
Benang yang digunakan sebaiknya hanya dari bahan yang dapat diserap dengan baik (6/0-7/0). Untuk koagulasi darah, diperiukan alat bipolar dengan kapas yang direndam dalam larutan epinefrin 1:10.000. Untuk persiapan glans dapat diberikan infittrasi dengan larutan epinefrin 1:100.000. Tumiket sebaiknya tidak digunakan tebih dari 20 menit. Setelah preparasi neurovaskular dorsal, dipasang jahitan modifikasi Nesbit (benang monofilik yang tidak dapat diserap 4/0-5/0, misal Goretex, Protene) dengan simpuf teriipat ke dalam. Urin dialirkan melalui kateter transuretra atau suprapubik. Jika menggunakan kateter suprapubik, hams dipasang stent pada neo-uretra. Untuk stent uretra dan drainase digunakan kateter 8-10 Fr dengan lubang multipel di bagian samping dengan ujung di uretra pars bulbosa (tidak sampai ke buli). Prosedur rutin lairmya adalah penggunaan balutan sirkular dengan kompresi ringan dan pemberian antibiotik.

KESIMPULAN
Fimosis (phimosis) merupakan kondisi dimana kulit yang melingkupi kepala penis (glans penis) tidak bisa ditarik ke belakang untuk membuka seluruh bagian kepala penis (kulup, prepuce, preputium, foreskin,)
SARAN









DAFTAR PUSTAKA

www.iaui.or.id/ast/file/pediatric_urology.doc
www.hanyawanita.com
http://uniceffcorporation.com/?page_id=101
Dewan PA. Treating phimosis. MJA. 2003;178(4):148-150

GANGGUAN PERDARAHAN DI LUAR DAN DI DALAM SIKLUS MENSTRUASI “ HIPOMENOREA “

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Segala puji bagi Allah SWT karena berkat limpahan rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah Gangguan perdarahan di luar dan di dalam siklus menstruasi “ Amenorhea “
Makalah ini diselesaikan karena bantuan beberapa pihak,maka kami ucapkan terima kasih kepada :
1. Andari Wuri Astuti ,S.SiT selaku pembimbing.
2. Teman-teman seperjuangan yang telah ikut menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih jauh dari harapan sempurna untuk itu penulis mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan makalah ini dan semoga makalah ini dapat diterima dan bermanfaat orang-orang yang berkecimpung di dunia kesehatan.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.


Yogyakarta, Maret 2011

Penyusun









DAFTAR ISI

Halaman Judul 1
Kata Pengantar 2
Daftar RIsi 3

BAB I PENDAHULUAN
I. Latar Belakang 4
II. Rumusan Masalah 4
III. Tujuan 5
IV. Manfaat 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
I. Pengertian menstruasi 6
II. Siklus menstruasi 8
III. Gangguan menstruasi“ hipomenorea “ 10

BAB III KASUS 22

BAB IV PEMBAHASAN 24

BAB V PENUTUP
I. Kesimpulan 30
II. Saran 30

DAFTAR PUSTAKA 31

BAB I
PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG

Perempuan merupakan mahluk hidup yang mempunyai kebutuhan yang beragam. Kebutuhan itu mencakup beberapa aspek seperti biopsikososial spiritual dimana jika salah satunya tidak terpenuhi akan menimbulkan ketidakseimbangan.
Disini kami akan membahas salah satu contoh ketidak seimbangan yang terjadi pada perempuan yang di sebabkan oleh gangguan pada sistem reproduksi yaitu hipomenorea. Hipomenorea sendiri merupakan salah satu, dari berbagai masalah yang ditimbulkan karena adanya gangguan menstruasi pada perempuan. Siklus menstruasi sendiri dapat dipengaruhi oleh banyak faktor internal seperti perubahan sementara di tingkat hormonal, stres, dan penyakit, serta faktor eksternal atau lingkungan. Hilang satu periode menstruasi jarang tanda masalah serius atau kondisi medis yang mendasari, tapi amenore dari durasi yang lebih lama mungkin menandakan adanya suatu penyakit atau kondisi kronis.
Hipomenorea adalah perdarahan haid yang lebih pendek dan atau lebih kurang dari biasa, sebab kelainan ini terletak pada konstitusi penderita, pada uterus (misal : sesudah operasi mioma). Hipomenorea tidak mengganggu fertilitas. Hipomenorea adalah pendarahan dengan jumlah darah sedikit, melakukan pergantian pembalut sebanyak 1-2 kali per hari, dan berlangsung selama 1-2 hari saja. Perdarahan haid yg jumlahnya sdkt (<40ml>) siklus regular.

II. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan hipomenorea ?
2. Bagaimana siklus terjadinya hipomenorea ?
3. Apa saja gangguan yang terjadi pada hipomenorea ?
4. Apa saja faktor penyebab gangguan pada hipomenorea serta cara penanganannya?

III. Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimana hipomenorea dapat terjadi pada perempuan .
2. Untuk menambah pengetahuan tentang gangguan yang terjadi kerena gangguan menstruasi yaitu hipomenorea .
3. Untuk mengetahui penyebab terjadinya gangguan menstruasi hipomenorea .



IV. Manfaat
1. Memberikan penjelasan pada masyarakat khususnya perempuan dalam masa reproduktif mengenai hal-hal yang terjadi bila mengalami hipomenorea .
2. Mendeteksi secara dini yang tepat terhadap permasalahan yang dihadapi oleh perempuan apabila terkena hipomenorea .














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Pengertian Haid
Haid adalah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus, disertai pelepasan (deskuamasi) endometrium (Prof. dr. Hanifa Wiknjosastro, SpOG , 2005: 103).
Menstruasi adalah penumpahan lapisan uterus yang terjadi setiap bulan berupa darah dan jaringan, yang dimulai pada masa pubertas, ketika seorang perempuan mulai memproduksi cukup hormon tertentu (‘kurir’ kimiawi yang dibawa didalam aliran darah) yang menyebabkan mulainya aliran darah ini (Robert P. Masland dan David Estridge, 2004: 51).
Menstruasi adalah puncak dari serangkaian perubahan yang terjadi karena adanya serangkaian interaksi antara beberapa kelenjer didalam tubuh.
2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Haid
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya haid antara lain :
a. Faktor hormone
Hormon-hormon yang mempengaruhi terjadinya haid pada seorang wanita yaitu:
• FSH (Follicle Stimulating Hormone) yang dikeluarkan oleh Hipofise
• Estrogen yang dihasilkan oleh ovarium
• LH (Luteinizing Hormone) dihasilkan oleh Hipofise
• Progesteron dihasilkan oleh ovarium
b. Faktor Enzim
Enzim hidrolitik yang terdapat dalam endometrium merusak sel yang berperan dalam sintesa protein, yang mengganggu metabolisme sehingga mengakibatkan regresi endometrium dan perdarahan.
c. Faktor Vascular
Mulai fase proliferasi terjadi pembentukan sistem vaskularisasi dalam lapisan fungsional endometrium. Pada pertumbuhan endometrium ikut tumbuh pula arteria-arteria, vena-vena dan hubungan antaranya. Dengan regresi endometrium timbul statis dalm vena-vena serta saluran-saluran yang menghubungkannya dengan arteri, dan akhirnya terjadi nekrosis dan perdarahan dengan pembentukan hematom, baik dari arteri maupun dari vena.
d. Faktor Prostaglandin
Endometrium mengandung prostaglandin E2 dan F2. dengan desintegrasi endometrium, prostaglandin terlepas dan menyebabkan kontraksi myometrium sebagai suatu faktor untuk membatasi perdarahan pada haid.

3. Siklus Haid
Siklus haid merupakan waktu sejak hari pertama haid sampai datangnya haid periode berikutnya. Sedangkan panjang siklus haid adalah jarak antara tanggal mulainya haid yang lalu dan mulainya haid berikutnya. Hari mulainya perdarahan dinamakan hari pertama siklus. Karena jam mulainya haid tidak diperhitungkan dan tepatnya waktu keluar haid dari ostium uteri eksternum tidak dapat diketahui, maka panjang siklus mengandung kesalahan ± 1 hari.
Dalam satu siklus terjadi perubahan pada dinding rahim sebagai akibat dari produksi hormon-hormon oleh ovarium, yaitu dinding rahim makin menebal sebagai persiapan jika terjadi kehamilan.
Siklus haid perempuan normal berkisar antara 21-35 hari dan hanya 10-15 persen perempuan yang memiliki siklus haid 28 hari. Panjangnya siklus haid ini dipengaruhi oleh usia seseorang. Rata-rata panjang siklus haid gadis usia 12 tahun ialah 25,1 hari, pada perempuan usia 43 tahun 27,1 hari, dan pada perempuan usia 55 tahun 51,9 hari.
Lama haid biasanya antara 3 – 5 hari, ada yang 1 – 2 hari diikuti darah sedikit-sedikit kemudian ada yang 7 – 8 hari. Jumlah darah yang keluar rata-rata + 16 cc, pada wanita yang lebih tua darah yang keluar lebih banyak begitu juga dengan wanita yang anemi. Jumlah darah haid lebih dari 80 cc dianggap patologik.
Siklus haid perempuan tidak selalu sama setiap bulannya. Perbedaan siklus ini ditentukan oleh beberapa faktor, misalnya gizi, stres, dan usia. Pada masa remaja biasanya memang mempunyai siklus yang belum teratur, bisa maju atau mundur beberapa hari. Pada masa remaja, hormon-hormon seksualnya belum stabil. Semakin dewasa biasanya siklus haid menjadi lebih teratur, walaupun tetap saja bisa maju atau mundur karena faktor stres atau kelelahan.
Setiap bulan, setelah hari ke-5 dari siklus menstruasi, endometrium mulai tumbuh dan menebal sebagai persiapan terhadap kemungkinan terjadinya kehamilan. Sekitar hari ke-14, terjadi pelepasan telur dari ovarium (ovulasi). Sel telur ini masuk ke dalam salah satu tuba falopii dan di dalam tuba bisa terjadi pembuahan oleh sperma. Jika terjadi pembuahan, sel telur akan masuk kedalam rahim dan mulai tumbuh menjadi janin.
Pada sekitar hari ke-28, jika tidak terjadi pembuahan maka endometrium akan dilepaskan dan terjadi perdarahan (siklus menstruasi). Siklus ini berlangsung selama 3 – 5 hari kadang sampai 7 hari. Proses pertumbuhan dan penebalan endometrium kemudian dimulai lagi pada siklus berikutnya.
Siklus ovarium terbagi menjadi 3 fase:
1. Fase Folikuler
Dimulai dari hari hari 1 sampai sesaat sebelum kadar LH meningkat dan terjadi pelepasan sel telur (ovulasi). Dinamakan fase folikuler karena pada saat ini terjadi pertumbuhan folikel di dalam ovarium. Pada pertengahan fase folikuler, kadar fsh sedikit meningkat sehingga merangsang pertumbuhan sekitar 3 – 30 folikel yang masing-masing mengandung 1 sel telur, tetapi hanya 1 folikel yang terus tumbuh, yang lainnya hancur. Pada suatu siklus, sebagian endometrium dilepaskan sebagai respon terhadap penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron. Endometrium terdiri dari 3 lapisan. Lapisan paling atas dan lapisan tengah dilepaskan, sedangkan lapisan dasarnya tetap dipertahankan dan menghasilkan sel-sel baru untuk kembali membentuk kedua lapisan yang telah dilepaskan. Perdarahan menstruasi berlangsung selama 3 – 7 hari, rata-rata selama 5 hari. Darah yang hilang sebanyak 28 -283 gram. Darah menstruasi biasanya tidak membeku kecuali jika perdarahannya sangat hebat.
2. Fase Ovulasi
Fase ini dimulai ketika kadar LH meningkat dan pada fase ini dilepaskan sel telur. Sel telur biasanya dilepaskan dalam waktu 16 – 32 jam setelah terjadi peningkatan kadar LH. Folikel yang matang akan menonjol dari permukaan ovarium, akhirnya pecah dan melepaskan sel telur. Pada saat ovulasi ini beberapa wanita merasakan nyeri tumpul pada perut bagian bawahnya, nyeri ini dikenal sebagai mittelschmerz, yang berlangsung selama beberapa menit sampai beberapa jam.
3. Fase Lutuel
Fase ini terjadi setelah ovulasi dan berlangsung selama sekitar 14 hari. Setelah melepaskan telurnya, folikel yang pecah kembali menutup dan membentuk korpus luteum yang menghasilkan sebagian besar progesteron. Progesteron menyebabkan suhu tubuh sedikit meningkat selama fase lutuel dan tetap tinggi sampai siklus yang baru dimulai. Peningkatan suhu ini bisa digunakan untuk memperkirakan terjadinya ovulasi. Setelah 14 hari, korpus luteum akan hancur dan siklus yang baru akan dimulai, kecuali jika terjadi pembuahan. Jika telur dibuahi, korpus luteum mulai menghasilkan HCG (hormone chorionic gonadotropin). Hormon ini memelihara korpus luteum yang menghasilkan progesterone sampai janin bisa menghasilkan hormonnya sendiri. Tes kehamilan didasarkan kepada adanya peningkatan kadar HCG.

Siklus endometrium terbagi menjadi 4 fase:
1. Stadium Menstruasi atau Desquamasi
Pada masa ini endometrium dicampakkan dari dinding rahim disertai dengan perdarahan, hanya lapisan tipis yang tinggal yang disebut dengan stratum basale. Stadium ini berlangsung selama 4 hari. Jadi, dengan haid itu keluar darah, potongan-potongan endometrium dan lendir dari servix.
Darah itu tidak membeku karena ada fermen yang mencegah pembekuan darah dan mencairkan potongan-potongan mucosa. Hanya kalau banyak darah keluar maka fermen tersebut tidak mencukupi hingga timbul bekuan-bekuan darah dalam darah haid. Banyaknya perdarahan selama haid normal adalah ± 50 cc.
2. Stadium Post menstruum atau Stadium Regenerasi
Luka yang terjadi karena endometrium dilepaskan, berangsur-angsur ditutup kembali oleh selaput lendir baru yang terjadi dari sel epitel kelenjer-kelenjer endometrium. Pada saat ini tebalnya endometrium ± 0,5 mm, stadium ini sudah mulai waktu stadium menstruasi dan berlangsung ± 4 hari.
3. Stadium Intermenstruum atau Stadium Proliferasi
Pada masa ini endometrium tumbuh menjadi tebal ± 3,5 mm. Kelenjar-kelenjar tumbuhnya lebih cepat dari jaringan lain hingga berkelok. Stadium proliferasi berlangsung dari hari ke-5 sampai hari ke-14 dari hari pertama haid. Fase Proliferasi dapat dibagi atas 3 subfase, yaitu:
a Fase Proliferasi Dini (early proliferation phase)
Berlangsung antara hari ke-4 sampai hari ke-7. Fase ini dapat dikenal dari epitel permukaan yang tipis dan adanya regenerasi epitel, terutama dari mulut kelenjar.
b. Fase Proliferasi Madya (mid proliferation phase)
Berlangsung antara hari ke-8 sampai hari ke-10. Fase ini merupakan bentuk transisi dan dapat dikenal dari epitel permukaan yang berbentuk torak dan tinggi. Tampak adanya banyak mitosis dengan inti berbentuk telanjang (nake nukleus).
c Fase Proliferasi Akhir (late proliferation)
Fase ini berlangsung pada hari ke-11 sampai hari ke-14. Fase ini dapat dikenal dari permukaan kelenjar yang tidak rata dan dengan banyak mitosis. Inti epitel kelenjar membentuk pseudostratifikasi. Stoma bertumbuh aktif dan padat.
4. Stadium Praemenstruum atau Stadium Sekresi
Pada stadium ini endometrium kira-kira tetap tebalnya tapi bentuk kelenjar berubah menjadi panjang dan berliku dan mengeluarkan getah. Dalam endometrium sudah tertimbun glycogen dan kapur yang kelak diperlukan sebagai makanan untuk telur. Memang maksud dari perubahan ini tidak lain dari pada mempersiapkan endometrium untuk menerima telur.
Pada endometrium sudah dapat dibedakan lapisan atas yang padat (stratum compactum) yang hanya ditembus oleh saluran-saluran keluar dari kelenjar-kelenjar, lapisan mampung (stratum spongiosum), yang banyak lubang-lubangnya karena disini terdapat rongga dari kelenjar-kelenjar dan lapisan bawah yang disebut stratum basale.
Stadium sekresi ini berlangsung dari hari ke-14 sampai 28. Kalau tidak terjadi kehamilan maka endometrium dilepaskan dengan perdarahan dan berulang lagi siklus menstruasi.
a Fase Sekresi Dini
Dalam fase ini endometrium lebih tipis daripada fase sebelumnya karena kehilangan cairan, tebalnya ± 4 – 5 mm. Pada saat ini dapat dibedakan beberapa lapisan, yaitu :
1) Stratum Basale, yaitu lapisan endometrium bagian dalam yang berbatasan dengan lapisan miometrium. Lapisan ini tidak aktif, kecuali mitosis pada kelenjar.
2) Stratum Spongiosum, yaitu lapisan tengah berbentuk anyaman seperti spons. Ini disebabkan oleh banyak kelenjar yang melebar dan berkeluk keluk dan hanya sedikit stroma di antaranya.
3) Stratum Kompaktum, yaitu lapisan atas yang padat. Saluran saluran kelenjar sempit, lumennya berisi sekret dan stromanya edema.
b. Fase Sekresi Lanjut
Endometrium dalam fase ini tebalnya 5 – 6 mm. Dalam fase ini terdapat peningkatan dari fase sekresi dini , dengan endometrium sangat banyak mengandung pembuluh darah yang berkeluk keluk dan kaya dengan glikogen. Fase ini sangat ideal untuk nutrisi dan perkembangan ovum. Sitoplasma sel sel stroma bertambah. Sel stroma menjadi sel desidua jika terjadi kehamilan.

3. Pengertian Hipomenorea
Hipomenorea adalah perdarahan haid yang lebih pendek dan atau lebih kurang dari biasa, sebab kelainan ini terletak pada konstitusi penderita, pada uterus (misal : sesudah operasi mioma). Hipomenorea tidak mengganggu fertilitas. Hipomenorea adalah pendarahan dengan jumlah darah sedikit, melakukan pergantian pembalut sebanyak 1-2 kali per hari, dan berlangsung selama 1-2 hari saja. Perdarahan haid yg jumlahnya sdkt (<40ml>) siklus regular.
4. Penyebab Hipomenorea
Hipomenorea disebabkan oleh karena kesuburan endometrium kurang akibat dari kurang gizi, penyakit menahun maupun gangguan hormonal. Sering disebabkan karena gangguan endokrin. Kekurangan estrogen maupun progesterone, stenosis hymen, stenosis serviks uteri, sinekia uteri (sindrom asherman). Sebab-sebabnya dapat terletak pada konstitusi penderita, pada uterus (misalnya sesudah meomektomi), pada gangguan endoktrin, dan lain-lain, kecuali bila ditemukan sebab yang nyata, terapi terdiri atas menenangkan penderita.
5. Pengobatan Hipomenorea
Tidak perlu terapi jika siklus ovulatoar subsitusi hormon Estrogen dan Progesteron bila perlu induksi ovulasi jika siklus anovulatoar & ingin anak. Tindakan Bidan:
a. Menenangkan penderita
b. Merujuk ke fasilitas yang lebih tinggi dan lengkap






PENUTUP

I. KESIMPULAN


II. SARAN
1. Setiap perempuan hendaknya waspada terhadap gejala yang menunjukkan adanya hipomenorea .
2. Hendaknya bidan memberikan penyuluhan pada tiap perempuan mengenai hipomenorea.


DAFTAR PUSTAKA
http://nenkeliezbid.blogspot.com/2010/04/siklus-haid.html
http://akd3b.wordpress.com/2010/06/18/hipominorea/
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/112/jtptunimus-gdl-nurmasadah-5571-3-babii.pdf

MAKALAH PRAKTIKUM EPIDEMIOLOGI SURVEILLANCE DAN SCREENING KANKER PAYUDARA DI PUSKESMAS SEHAT TAHUN 2009

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr. wb
Alhamdulillahirobbil ’alamin, segala puji syukur hanya pada Allah SWT yang tiada Allah selain diri-Nya dan menguasai orang semesta ini. Sholawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, para sahabat, keluarga, dan para pengikut-pengikut beliau semoga mendapatkan syafaatnya di yaumul akhir nanti. Amin.
Atas limpahan rahmat Allah lah sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul Surveilans dan Screening Kanker Payudara di Puskesmas Sehat Tahun 2009. Penulis sadar betul bahwa penyusunan makalah ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu, semoga Allah senantiasa memudahkan jalan hidupnya dan selalu mengiringi langkah. Amien.
Kami yakin bahwa penulisan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan, oleh sebab itu kritik dan saran sangat kami harapkan demi kesempurnaan karya penulis selanjutnya.
Akhirnya penulis ucapkan terima kasih dan semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.
Wassalamu’alaikum wr. Wb

Yogyakarta, 7 April 2011

Penyusun



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................. i
KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii

BAB I. PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah........................................................................1
Rumusan Masalah.................................................................................1
Tujuan……………………………………………………………........1
BAB II PENGUKURAN MASALAH KESEHATAN
BAB III SURVEILLANCE MASALAH KESEHATAN
Sumber Data
Cara Pengumpulan Data
Pengolahan dan Interpretasi Data
Penyebarluasan informasi
BAB IV SCREENING TERHADAP KANKER PAYUDARA
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................




BAB I
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Kanker payudara merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting. Di Indonesia kanker payudara termasuk kanker yang banyak ditemukan di masyarakat. Kanker payudara merupakan kanker terbanyak kedua yang ditemukan pada perempuan setelah kanker serviks yang kasusnya terus meningkat tiap tahunya.
Meskipun makin banyak kasus kematian pada perempuan akibat kanker payudara, sayangnya banyak perempuan yang tidak mengetahui tentang kanker payudara seperti tanda-tanda kanker payudara, penyebab, faktor resiko, pencegahan dan deteksi dini kanker payudara. Padahal kanker payudara akan lebih mudah disembuhkan dengan baik jika dideteksi sejak awal dibandingkan jika sudah pada stadium lanjut.
Oleh karena keadaan itulah yang mendorong
Mengetahui surveillans epidemiologi terhadap penyakit kanker payudara.
1. Mengetahui screening yang dilakukan untuk mendeteksi penyakit kanker payudara.

BAB II
PENGUKURAN MASALAH KESEHATAN

1. Data kasus baru dan kasus lama kanker payudara tiap bulan

No Bulan Kasus Baru Kasus Lama Total Kasus Laki-laki Perempuan Jml Penduduk
1. Januari 3 0 3 0 3 500.000
2. Febuari 1 0 1 0 1 500.100
3. Maret 1 0 1 0 1 500.200
4. April 3 0 3 0 3 500.250
5. Mei 0 1 1 0 1 500.300
6. Juni 1 1 2 0 2 500.340
7. Juli 3 0 3 0 3 500.389
8. Agustus 1 1 2 0 2 500.410
9. September 0 1 1 0 1 500.430
10. Oktober 1 2 3 0 3 500.470
11. November 2 2 4 0 4 500.500
12. Desember 2 1 3 0 3 500.555
Jumlah 18 9 27 0 27 6.003.944
2. Incidence rate tiap bulan
Jumlah penderita baru penyakit kanker payudara yang ditemukan pada suatu jangka tertentu (yaitu setiap bulan) dibandingkan dengan jumlah penduduk yang bersangkutan dalam persen dan permil.
Rumus yang digunakan untuk mengukur Incidence rate setiap bulan adalah :


Jumlah Penderita Baru
Incidence Rate = x k
Jumlah penduduk yang mungkin terkena
penyakit tersebut

K = Konstanta 100, 1.000, 10.000, 100.000
Incidence rate (jumlah penderita baru) tiap bulan penderita kanker payudara adalah :
1. Januari : 3/500.000 x 100.000 = 0,6/100.000
2. Febuari : 1/500.100 x 100.000 =0,2/100.000
3. Maret : 1/500.200 x 100.000 =0,2/100.000
4. April : 3/500.250 x 100.000 =0,6/100.000
5. Mei : 0/500.300 x 100.000 =0/100.000
6. Juni : 1/500.340 x 100.000 =0,2/100.000
7. Juli : 3/500.389 x 100.000 =0,6/100.000
8. Agustus : 1/500.410 x 100.000 =0,2/100.000
9. September : 0/500.430 x 100.000 =0/100.000
10. Oktober : 1/500.470 x 100.000 =0,2/100.000
11. November : 2/500.500 x 100.000 =0,4/100.000
12. Desember : 2/500.555 x 100.000 =0,4/100.000
3. Prevalence rate tiap bulan
Jumlah penderita kanker payudara lama dan baru pada tiap bulan dibagi dengan jumlah penduduk pada saat itu dalam persen dan permil. Prevalence rate menggambarkan keadaan suatu masalah kesehatan pada satu saat.
Rumus prevalence rate :

Jumlah Penderita Lama dan Baru satu saat
Prevalence Rate = x k
Jumlah penduduk pada saat itu


K : Konstanta %, ‰
Prevalence rate tiap bulan pada penderita kanker payudara :
1. Januari : 3/500.000 x ‰ = 0,006 ‰
2. Febuari : 1/500.100 x ‰ = 0,002 ‰
3. Maret : 1/500.200 x ‰ = 0,002 ‰
4. April : 3/500.250 x ‰ = 0,006 ‰
5. Mei : 1/500.300 x ‰ = 0,002 ‰
6. Juni : 2/500.340 x ‰ =0,004 ‰
7. Juli : 3/500.389 x ‰ = 0,006 ‰
8. Agustus : 2/500.410 x ‰ = 0,004 ‰
9. September : 1/500.430 x ‰ = 0,002 ‰
10. Oktober : 3/500.470 x ‰ = 0,006 ‰
11. November : 4/500.500 x ‰ = 0,008 ‰
12. Desember : 3/500.555 x ‰ = 0,006 ‰

4. Prevalence rate selama satu tahun
Perhitungan ini menggunakan cara yang sama dengan prevalence rate tiap bulan namun waktunya yang berbeda yaitu dengan menggunakan tahun.
Rumus prevalence rate :

Jumlah total Penderita Lama dan Baru satu saat
Prevalence Rate = x k
Jumlah total penduduk yang mungkin terkena
penyakit tersebut pada saat itu

prevalence rate : 27 x 10000 = 0,045
6.003.944

5. Rasio total kasus laki-laki terhadap perempuan
Laki-laki = 0
Perempuan 27

Perbandingan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya yang tidak saling berhubungan.
6. Proporsional rate total kasus perempuan terhadap laki-laki
Rumus proporsional rate total kasus:
Proporsional rate total kasus = Perempuan x 100
total kasus
proporsional rate total kasus perempuan terhadap laki-laki:
Perempuan x 100% = 27 x 100% = 100%
total kasus 27

7. Survival rate
Rumus Survival rate penderita kanker payudara :


jumlah kasus lama
Survival rate = x 100 %
Jumlah kasus baru


Survival rate : 9 x 100 % = 52,94 %
17
8. Case Fatalatity Rate (CFR)

Case fatalatity rata (CFR) :Jumlah seluruh kemtian akibat suatu penyakit x 100%
Jumlah populasi yang menderita penyakit yang sama


CFR : 0 x 100% = 0%
27






















BAB III
SURVEILANS KANKER PAYUDARA

1. Sumber data untuk mengumpulkan kasus kanker payudara meliputi :
a. Data kesakitan (laporan morbiditas) yang dapat diperoleh dari unit pelayanan kesehatan dan masyarakat.
1. Diagnosis penyakit
Dilakukan sehingga mendapatkan diagnosis sebenar mungkin sehingga hasil merupakan informasi yang benar serta berguna dalam siklus manajemen yaitu pemantauan, penilaian, dan perencanaan kembali pelayanan / program kesehatan.
2. Distribusi penyakit
Disebut juga sebagai gambaran epidemiologi suatu penyakit yang merupakan distribusi penyakit menurut waktu, orang dan tempat seperti pada table.
3. Data demografi
Diperoleh dari unit statistic kependudukan dan masyarakat. Berisi informasi tentang distribusi penduduk menurut umur, jenis kelamin, ras etnis, pendidikaan, pekerjaan dan lain-lain seperti pada lampiran.

2. Cara pengumpulan data
Melalui survey data laporan kasus penyakit kanker payudara pada puskesmas sehat selama satu tahun dari januari sampai dengan desember 2009 oleh bidan.













3. Pengolahan dan interpretasi data
a. Grafik kasus kanker payudara selama satu tahun berdasarkan variabel orang
Berdasarkan umur

Berdasarkan grafik diatas dapat disimpulkan bahwa kasus kanker payudara ini banyak terjadi pada usia 31-40 tahun dengan prosentase sebanyak 17 orang.

Berdasarkan jenis kelamin


berdasarkan grafik diatas dapat disimpulkan bahwa pada kasus kanker payudaratersebut terjadi pada perempuan, dengan prosentase 100 %.



a. Grafik kasus Kanker Payudara selama satu tahun berdasarkan variabel tempat

Berdasarkan grafik diatas dapat disimpulkan bahwa kasus kanker payudara ini banyak terjadi di desa sido jaya.
b. Interpretasi dan analisis grafik KLB
Penyakit kanker payudara ini bukan merupakan kasus KLB karena perkembangan tiap bulannya seimbang. Menurut UU KLB, kanker payudara bukanlah merupakan wabah / KLB karena tidak memenuhi criteria kerja KLB.
c. Rekomendasi / saran perbaikan terhadap kondisi kasus kanker payudara
Saran yang bisa di berikan kepada masyarakat adalah menjaga pola hidup dengan tidak merokok, menikah dan memiliki keturunan, menjaga pola menstruasi agar tetap teratur.

4. Penyebarluasan informasi
a. Penderita
Bagi penderita seperti perokok agar menghilangkan kebiasaan merokoknya dan menjaga pola hidupnya, dapat juga diminimalisir penyebabnya dengan menikah dan memiliki keturunan, karena menikah dan memiliki keturunan akan memperkecil resiko terkena kanker payudara.
b. Masyarakat
Bagi masyarakat agar menghilangkan kebiasaan merokok dan bagi perempuan agar menikah dan memiliki keturunan.
Memperhatikan setiap makanan yang masuk dan tidak makan-makanan yang berlemak.

c. Tenaga kesehatan ( Bidan, Petugas Puskesmas )
Memberikan penyuluhan tentang tanda- tanda, penyebab, dampak,deteksi dini dan terapi kanker payudara.
Lebih sering melakukan kunjungan ke rumah-rumah atau kemasyarakat agar warga lebih memahami dan dapat memantau perkembangan dari pola hidup masyarakat setempat
d. Pemerintah ( khususnya Dinas Kesehatan )
Upaya pemerintah memberikan pemeriksaan dan deteksi dini pada semua yang beresiko (rentan) terhadap kanker payudara.


















BAB IV
SCREENING TERHADAP KANKER PAYUDARA

1. Jenis screening
a. Mass screening
Mass Screening adalah penyaringan yang dilakukan pada seluruh penduduk. Misalnya survey data atau wawancara atau pengisian kuesioner mengenai Kanker Payudara untuk seluruh penduduk.
b. Selective screening
Selective Screening adalah penyaringan yang dilakukan terhadap kelompok penduduk tertentu. Misalnya dilakukan mamograph terhadap perempuan berusia 21-49 tahun untuk mengetahui Kanker Payudara.
c. Single disease screening
Single disease screening adalah penyaringan yang hanya ditunjukkan pada satu jenis penyakit. Misalnya penyaringan untuk mengetahui perempuan yang menderita Kanker Payudara.

2. Tujuan Screening
Tujuan melakukan screening adalah :
a. Penecegahan penularan dan perlindungan kesehatan masyarakat terhadap penyakit-penyakit yang dapat dideteksi secara dini misalnya penggunaan pemeriksaan mamograph, pemeriksaan radiodiagnostik (Xeroradiography), pemeriksaan dengan USG (ultrasound scanning), thermography, nuclear magnetik resonance estimation dan sadari untuk mendeteksi kanker payudara.
b. Perspektive/ anjuran/ petunjuk untuk mendeteksi dini adanya penyakit sehingga dapat dilakukan pengobatan segera tehadap kasus-kasus yang ditemukan, mendeteksi penyakit Kanker payudara pada perempuan dan segera diberikan pengobatan sesuai dengan type dan stadium yang dialami penderita. Seperti pembedahan, radiotherapy, therapy hormon, chemotherapy, pengobatan herceptin.
c. Untuk menentukan ferkuensi kejadian (angka prevalensi) atau riwayat perjalanan alamiah penyakit, misalnya pemeriksaan .
Untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas penyakit dengan pengobatan sejak dini terhadap kasus-kasus yang ditemukan. Hampir selalu diarahkan kepada penyakit-penyakit tidak menular seperti kanker, diabetes, glaucoma dan lain-lain). Dalam skala tingkatan prevensi penyakit maka deteksi dan pengobatan dini di sini termasuk tingkat prevensi sekunder, misalnya Diusahakan untuk melakukan diagnosis dini karena kanker payudara lebih mudah diobati dan bisa disembuhan jika masih pada stadium dini. Sadari, pemeriksan payudara secara klinis dan mammografi sebagai prosedur penyaringan merupakan cara untuk mendeteksi kanker secara dini.

3. Penentuan kelompok sasaran screening
Penentuan kelompok sasaran screening berdasarkan syarat-syarat sebagai berikut
a. Kondisi/penyakit merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting.
Jenis penyakit yang tepat untuk screening :
• Merupakan penyakit yang serius, misalnya penyakit Kanker Payudara ini sangat berbahaya apabila tidak segera ditangani.
• Pencegahan sebelum terjadi gejala muncul harus lebih baik daripada setelah gejala muncul, misalnya hindari kegemukan, kurangi makan lemak, usahakan banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin A dan C, olahraga secara teratur, dan Check-up payudara sejak dini secara teratur.
• Prevalensi penyakit pre-klinik harus lebih tinggi pada populasi yang diskrining.
b. Harus ada cara pengobatan untuk penderita yang ditemukan dengan screening, misalnya pada kasus Kanker Payudara penderita yang diketahui terpapar penyakit harus segera dilakukan pengobatan sesuai dengan type dan stadium yang dialami penderita. Seperti pembedahan, radiotherapy, therapy hormon, chemotherapy, pengobatan herceptin.
c. Tersedia fasilitas untuk diagnosis dan pengobatan, misalnya pada kasus Kanker Payudara di rumah sakit telah tersedia pelayanan untuk mendiagnosis dan mengobati penyakit Kanker Payudara.
d. Harus dikenal simptomatik dini dan masa laten, misalnya pada kasus Kanker Payudara.
e. Tidak berbahaya dan dapat diterima masyarakat.
f. Harus ada cara pemeriksaan yang cocok, misalnya pada kasus Kanker Payudara deteksi dini yang paling sederhana adalah sadari atau mammografi.
g. Diketahui riwayat alamiah penyakit. Pada kanker payudara sejak ditemukan prakanker sampai terjadinya kanker memerlukan waktu yang lama yaitu lebih dari 3 tahun.
h. Harus ada kebijakan yang dianggap penderita, pada kasus kanker payudara sekarang ini sudah terdapat mobil mammografi yang diselenggarakan oleh LSM peduli kanker payudara bekerjasama dengan pemerintah khususnya Dinas Kesehatan.
i. Biaya screening (termasuk diagnosis dan pengobatan) seimbang dengan biaya medis keseluruhan.
j. Penemuan kasus merupakan proses yang berlangsusng terus menerus, misalnya pada kasus kanker payudara ini di dapatkan data selama satu tahun tiap bulannya.

4. Alat dan metode screening
Pada kasus ini, mengunakan screening pada perempuan usia 21-49 tahun di dwilayah puskesmas Sehat. Tujuan screening adalah untuk mendeteksi adanya perempuan yang terpapar penyakit Kanker Payudara, sehingga dapat segera diobati dan bisa melakukan pencegahan secara dini yang belum terserang kanker payudara.
Metode screening yang digunakan adalah
1. Pertanyaan Kuesioner atau Wawancara
Berisi tentang riwayat penyakit keluarga, kebiasaan sehari-hari dan lain sebagainya yang berhubungan dengan kasus Kanker Payudara.
2. Pemeriksaan Fisik
Dilakukan pemeriksaan fisik, keluhan–keluhan yang dirasakan yang berhubungan Kanker Payudara. Seperti adanya benjolan pada payudara atau nyeri tekan pada payudara.
3. Pemeriksaan Laboratorium
Penyakit kanker payudara dapat diketahui dengan pasti dengan cara pengambilan sample jaringan sel payudara yang mengalami pembenjolan (tindakan biopsi). Dengan cara ini akan diketahui jenis pertumbuhan sel yang dialami, apakah bersifat tumor jinak atau tumor ganas (kanker). Pemeriksaan mamograph, pemeriksaan radiodiagnostik (Xeroradiography), pemeriksaan dengan USG (ultrasound scanning), thermography, nuclear magnetik resonance estimation
5. Langkah-langkah screening
a. Uji screening, ditetapkan pada penduduk yang telah dipilih terlebih dahulu. Mereka yang hasil tes negative disisihkan. Test screening dapat dilakukan dengan cara : pertanyaan keusioner dan pemeriksaan fisik.
wilayah kerja puskesmas sehat, yaitu desa sido mukti, sido makmur, dan sido jaya. Test screening dapat berupa pertanyaan kuesioner (contoh : apakah memiliki riwayat penyakit kanker), pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium.
b. Test diagnostik dilakukan kepada mereka yang hasilnya positif dicurigai menderita penyakit kanker payudara (contoh : pemeriksaan mammografi dan kultur jaringan).
c. Intervensi terapeutik dilakukan pada penderita kanker payudara, yaitu dengan KIE mengenai penyakit kanker payudara dan memberikan saran untuk melakukan pengobatan.


















BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
































DAFTAR PUSTAKA
Bhisma Murti.2003.Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi.Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.
Lumenta,Benyamin.2000.Penyakit Citra Alam dan Budaya.Yogyakarta:Kanisius.
Rasjidi,Imam.2007.Panduan Penatalaksannan Kanker.Jakarta:EGC.
TIM Penanggulangan dan Pelayanan Kanker Payudara Paripurna R.S. Kanker Darmais.2003.Penatalaksanaan Kanker Payudara Terkini.Jakarta:Pustaka Populer Obor.
Tschudin,Verene.1988.Nursing the patien with cancer.Tokyo:Prentice Hall.
Walid.2007.Fikih Kedokteran.Yogyakarta:Pustaka Fahima.
Powered by Blogger