Sabtu, 18 Juni 2011

KHORIOKARSINOMA

A. Pengertian
Khoriokarsinoma merupakan neoplasma ganas yang timbul dari khorion embrional di mana kedua lapisan epitel trofoblas terlibat. Uterus merupakan lokasi utama dari pertumbuhan primer tumor ini. Khorio-Karsinoma yang primer dapat berasal dari ovarium. Dalam Neoplasia Trofoblas Ganas (NTG-ICDO 181) termasuk: 1. Mola detruens, 2. Trofoblas persistens sesudah kehamilan mola, dan 3. Khoriokarsinoma/khorion epitelioma. Jelas ada hubungannya dengan kehamilan 50% khorio-karsinoma didahuluioleh Mola Hidatidosa, 25% oleh abortus, kira-kira 22% sesudah persalinan biasa dan sisanya setelah kehamilan ektopik. Khoriokarsinoma adalah suatu tumor yang jarang, umumnya ditemukan pada wanita <35 tahun.
B. Etiologi
Kehamilan dalam jarak interval pendek; malnutrisi dengan defisiensi protein diduga sebagai faktor penyebabnya.

C. Gejala klinik
Dapat menyerupai kelainan ginekologik seperti abortus, atau perdarahan disfungsional. Ditemukannya sel khorio-karsinoma dalam kuretemen diagnostik. Akan tetapi bilamana pertumbuhan sel ganas terdapat di dalam miometrium, akan luput dari sendok kuret, maka hasil biopsi dapat menjadi negatif palsu (false negative). Ciri khas khorio-karsinoma adalah bahwa tumor itu mensekresi HCG (Human Chorionic Gonadotropin), yang dapat dideteksi dalam air kemih penderita. Jumlahnya secara kuantitatif berhubungan dengan masa tumor. Dengan demikian pengukuran HCG sangat esensial untuk penetapan diagnosis, dan untuk pemantauan (monitoring) selama pengobatan lanjutan. Beta HCG (sub unit dari HCG) meningkatkan sensitifitas dan spesifitas pengukuran tersebut, suatu contoh kegunaan petanda tumor yang ideal. Kualitatif dengan metode ELISA dan kuantitatif menggunakan RIA.

D. Pengobatan
Khorio-karsinoma merupakan keganasan pertama yang dapat diobati dengan khemoterapi dan merupakan contoh yang nyata dari tumor ganas yang dapat disembuhkan dengan obat-obatan.




ASUHAN KEBIDANAN PATOLOGI
Ny. J UMUR 26 TAHUN G1P0A0 DENGAN KORIO CARCINOMA
DI BPS LILI
Jl. Wonosari Km 7 Yogyakarta
No. Register : 468
Tanggal pengkajian : 14 Mei 2011
Pukul : 10.15 WIB
Oleh : Bidan Lili
A. SUBJEKTIF
Biodata / Identitas ibu suami
a. Nama : Ny. J Tn. Z
b. Umur : 26 tahun 28 tahun
c. Agama : Islam Islam
d. Suku Bangsa : Jawa/ Indonesia Jawa/ Indonesia
e. Pendidikan : SMA S1
f. Pekerjaan : IRT TNI
g. Alamat : Gang. Gunung kemelut No. 114, RT 05/RW 01 kotagede
h. No. Telp : 085727166xxx 085727199xxx

1. Keluhan utama
Ibu mengatakan keluar darah dari jalan lahir, sejak tadi pagi
2. Riwayat Perkawinan
Ny. J mengatakan ini pernikahan yang pertama dan sah. Ibu menikah pada usia 23 tahun dan suami usia 24 tahun.
3. Riwayat menstruasi
Ny. J mengatakan menarche usia 14 tahun, siklus menstruasi 30 hari selama 5-6 hari, ganti pembalut 2-3x sehari. Tidak ada dismenore dan flour albus.
4. Riwayat Kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
-
5. Riwayat kontrasepsi
Ny. J mengatakan belum pernah menggunakan alat/metode kontrasepsi apapun
6. Riwayat kesehatan
a. Penyakit sistemik yang pernah/ sedang diderita
Pasien mengatakan tidak pernah dan tidak sedang menderita penyakit berat seperti hipertensi, DM, jantung, TBC
b. Penyakit yang pernah/ sedang di derita keluarga
Pasien mengatakan dari keluarga tidak ada yang pernah dan sedang menderita penyakit berat seperti hipertensi, DM, jantung, TBC, keganasan
c. Riwayat penyakit ginekologi
Pasien mengatakan tidak pernah menderita penyakit ginekologi
d. Riwayat penyakit sekarang
Ibu mengatakan keluar darah dari alat kelaminnya
7. Pola Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari
a. Pola nutrisi makan minum
Frekuensi 1-2 kali sehari 7 – 9 kali sehari
Macam nasi, sayur dan kadang pakai lauk air putih, dan teh
Jumlah 1 porsi sedang 1 gelas habis
Keluhan tidak ada tidak ada

b. Pola eliminasi BAB BAK
Frekuensi 1 kali sehari 7-8 kali sehari
Warna kuning kuning jernih
Bau khas khas
Konsistensi lembek encer
Keluhan tidak ada tidak ada
c. Pola aktivitas
Ibu mengatakan bekerja tiap hari sebagai ibu rumah tangga seperti: memasak, mencuci baju, membersihkan rumah dll
d. Istirahat/ tidur: siang ½-1 jam, malam 6-7 jam/hari
e. Pola Seksualitas : 1 kali dalam satu minggu tetapi tidak rutin.
f. Personal hygiene
Kebiasaan mandi 2 kali perhari
Kebiasaan membersihkan alat kelamin: saat mandi, sehabis buang air kecil dan besar.
Kebiasaan mengganti pakaian dalam: setiap habis mandi
Jenis pakaian dalam yang digunakan: katun
b. Keadaan psiko social spiritual
a. Pengetahuan pasien tentang gangguan/ penyakit yang diderita saat ini
Pasien merasa khawatir dan cemas dengan keadaannya tahut kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada kehamilannya
b. Pengetahuan ibu tentang kesehatan reproduksi
Menurut pasien, gangguan reproduksi yang dialaminya tidak normal dan sangat mengganggu.
c. Dukungan keluarga
Suami menemani Ny.J untuk memeriksaan keadaannya, untuk mengetahui bahwa Ny. Y dalam keadaan baik-baik saja atau tidak .
d. Ketaatan beribadah
Pasien taat menjalankan sholat 5 waktu dan menutup aurat.

B. OBJEKTIF
1. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum : sedang kesadaran : composmenthis
b. Tanda vital
Tekanan darah : 100/60 mmHg
Nadi : 84 kali permenit
Pernafasan : 20 kali permenit
Suhu : 36,7 0C
c. TB : 155 cm
BB : 50 kg
d. Kepala : rambut hitam, tidak rontok dan bersih
e. Mata : simetris, sclera putih, konjungtiva sedikit pucat
f. Mulut : bibir merah muda, kering
g. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar thyroid dan vena jugularis
h. Payudara : simetris, tidak ada benjolan yang abnormal
i. Ketiak : tidak ada benjolan/massa.
j. Abdomen : tidak ada massa, bekas luka, atau operasi.
k. Ekstermitas
Edema : tidak ada
Varices : tidak ada
Reflek patella : kanan + / kiri +
l. Genetalia luar
Tanda chadwich : tidak ada
Varices : tidak ada
Bekas luka : tidak ada
Kelenjar bartholini : tidak ada
Pengeluaran : darah
m. Anus : tidak ada hemoroid

2. Pemeriksaan dalam/ ginekologis
Tidak dilakukan
3. Pemeriksaan penunjang : tidak dilakukan

C. ASSESSMENT
Ny. J umur 26 tahun G1P0A0 dengan korio carcinoma dengan masalah:
1. Asupan makanan dalam 1 hari yang kurang dan gizi yang tidak terpenuhi
2. Perdarahan yang keluar dari alat kelaminnya
3. Khawatir dan cemas dengan keadaannya sekarang.


D. PLANNING Tanggal : 14 mei 2011 Pukul : 11.00 WIB
1. Menjelaskan hasil pemeriksaan pada pasien .bahwa pasien terkena korio karsinoma.
Khoriokarsinoma merupakan neoplasma ganas yang timbul dari khorion embrional di mana kedua lapisan epitel trofoblas terlibat. Uterus merupakan lokasi utama dari pertumbuhan primer tumor ini
Klien mengerti tentang keadaannya dan sedikit takut
2. Memberikan konseling agar klien tidak cemas, dan mendukung pasien untuk tetap berusaha dan berdoa agar diberi kesembuhan,sehingga mendapatkan kesembuhan.
Klien mengerti penjelasan yang diberikan oleh bidan .
3. Menyarankan kepada klien agar tidak teralu stress dan tetap optimis bahwa Allah akan senantiasa memberikan kesembuhan bagi hamba-Nya yang selalu taat beribadah.
Klien mengerti dan mengatakan akan selalu berdoa kepada Allah SWT demi kesembuhannya.
4. Menyarankan kepada pasien untuk makan teratur dan makan makanan yang bergizi terutama menambah asupan protein seperti: telur, olahan kedelai seperti tempe dan tahu.
Klien bersedia untuk melakukan saran dari bidan
5. Merujuk Klien ke Rumah Sakit/dokter obsgyn untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut atau pemeriksaan laboratorium.
Klien bersedia untuk dirujuk ke rumah sakit/dokter obgsyn.

Yogyakarta, 14 mei 2011
(ttd)

Bidan Lili


DAFTAR PUSTAKA

http://obatherbal.biz
http://www.blogdokter.net
http://www.dechacare.com/
http://nusaindah.tripod.com

TUGAS PRAKTIKUM ASUHAN KEBIDANAN IV B ( PATOLOGI II ) MYOMA UTERI

Disusun oleh :

Pingky Defita Luciana (090105131)
Isnaini Nur Anisyah (090105132)
Fajar Ayu Ginanjar (090105133)
Marwati (090105134)
Muharia (090105135)
Anita Rahmawati (090105136)
Hermia Fitri L (090105137)
Arwinda Nur (090105138)


PRODI DIII KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
2011
KATA PENGANTAR


Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Segala puji bagi Allah SWT karena berkat limpahan rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah myoma uteri. Makalah ini diselesaikan karena bantuan beberapa pihak,maka kami ucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu Hj. Hikmah Sobri, selaku dosen pembimbing praktikum mata kuliah Asuhan Kebidanan IV B.
2. Ibu Rina selaku dosen mata kuliah askeb IV B
3. Teman-teman seperjuangan yang telah ikut menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih jauh dari harapan sempurna untuk itu penulis mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan makalah ini dan semoga makalah ini dapat diterima dan bermanfaat orang-orang yang berkecimpung di dunia kesehatan.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.


Yogyakarta, 24 Mei 2011

Penyusun








BAB I
PENDAHULUAN

I. Latar belakang
Organ kelamin wanita terdiri atas organ genitalia interna dan organ genitalia eksterna. Kedua bagian besar organ ini sering mengalami gangguan, salah satunya adalah myoma, myoma dapat mengenai organ genitalia interna dengan berbagai macam manifestasi dan akibatnya. Tidak terkecuali pada myoma uteri atau dikenal dengan tumor rahim. Mioma uteri dikenal juga dengan sebutan fibromioma, fibroid ataupun leiomioma merupakan neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus dan jaringan ikat yang menumpanginya. Sering ditemukan pada wanita usia reproduksi (20-25%), dimana prevalensi mioma uteri meningkat lebih dari 70 % dengan pemeriksaan patologi anatomi uterus, membuktikan banyak wanita yang menderita mioma uteri asimptomatik. Walaupun jarang terjadi mioma uteri biasa berubah menjadi malignansi (<1%). Gejala mioma uteri secara medis dan sosial cukup meningkatkan morbiditas, disini termasuk menoragia, ketidaknyamanan daerah pelvis, dan disfungsi reproduksi. Kejadiannya lebih tinggi pada usia di atas 35 tahun, yaitu mendekati angka 40 %. Tingginya kejadian mioma uteri antara usia 35-50 tahun, menunjukkan adanya hubungan mioma uteri dengan estrogen. Mioma uteri dilaporkan belum pernah terjadi sebelum menarke dan menopause. Di Indonesia angka kejadian mioma uteri ditemukan 2,39%-11,87% dari semua penderita ginekologi yang dirawat.
Menoragia yang disebabkan mioma uteri menimbulkan masalah medis dan sosial pada wanita. Mioma uteri terdapat pada wanita di usia reproduktif, pengobatan yang dapat dilakukan adalah histerektomi, dimana mioma uteri merupakan indikasi yang paling sering untuk dilakukan

II. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan myoma uteri?
2. Apa yang menyebabkan myoma uteri ?
3. Apa saja gejala dan tanda myoma uteri?
4. Bagaimana cara mendeteksi myoma uteri?
5. Bagaimana cara penanganan dan pengobatannya?

III. Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimana myoma uteri dapat terjadi pada perempuan .
2. Untuk menambah pengetahuan tentang gangguan yang terjadi kerena gangguan sistem reproduksi salah satunya myoma uteri .
3. Untuk mengetahui penyebab dan cara mendeteksi myoma uteri.

IV. Manfaat
1. Memberikan penjelasan pada masyarakat khususnya perempuan dalam masa reproduktif mengenai hal-hal yang terjadi bila mengalami myoma uteri.
2. Mendeteksi secara dini yang tepat terhadap permasalahan yang dihadapi oleh perempuan apabila terkenamyoma uteri.














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


1. Pengertian myoma uteri
Mioma uteri adalah tumor jinak yang berada pada uterus atau organ rahim. Masyarakat umumnya menyebut mioma sebagai miom atau tumor otot rahim. Umumnya mioma uteri terletak pada dinding rahim dan dapat berkembang ke arah dalam atau ke arah luar. Statistik penderita mioma tidak diketahui secara pasti karena masih jarang karena umumnya mioma uteri ditemukan secara tidak sengaja dan umumnya jarang menimbulkan keluhan atau gejala. Umumnya sekitar 30% terjadi pada wanita yang berumur di atas 35 tahun. Mioma uteri dapat muncul lebih dari satu buah dan memiliki berat yang bervariasi mulai dari beberapa gram saja hingga mencapai 5 kg.
2. Penyebab myoma uteri
Penyakit mioma uteri berasal dari otot polos rahim. Beberapa teori menyebutkan pertumbuhan tumor ini disebabkan rangsangan hormon estrogen. Pada jaringan mioma jumlah reseptor estrogen lebih tinggi dibandingkan jaringan otot kandungan (miometrium) sekitarnya sehingga mioma uteri ini sering kali tumbuh lebih cepat pada kehamilan (membesar pada usia reproduksi) dan biasanya berkurang ukurannya sesudah menopause (mengecil pada pascamenopause) Sering kali mioma uteri membesar ke arah rongga rahim dan tumbuh keluar dari mulut rahim. Ini yang sering disebut sebagai Myoma Geburt (Geburt berasal dari bahasa German yang berarti lahir). Tumor yang ada dalam rahim dapat tumbuh lebih dari satu, pada perabaan memiliki konsistensi kenyal, berbentuk bulat dan permukaan berbenjol-benjol seperti layaknya tumor perut. Beratnya bervariasi, mulai dari beberapa gram saja, namun bisa juga mencapai 5 kilogram atau lebih.
Jenis
Berdasarkan lokasinya mioma uteri dibagi dalam tiga jenis:
- Pertumbuhan ke arah permukaan dinding rahim (subserosa)
- Pertumbuhan tetap di dalam dinding rahim (intramural)
- Pertumbuhan ke arah rongga rahim (submukosa)
3. Gejala dan tanda myoma uteri
Kebanyakan mioma uteri ditemukan secara kebetulan pada saat pemeriksaan panggul rutin ataupun saat pemeriksaan ultrasonogafi (USG). Gejala yang timbul bergantung pada lokasi dan besarnya tumor, namun yang paling sering ditemukan adalah :
a. Perdarahan yang banyak dan lama selama masa haid.
b. Penekanan organ di sekitar tumor oleh mioma uteri seperti kandung kemih, saluran kemih (ureter), usus besar (rektum) atau organ rongga panggul lainnya sehingga menimbulkan gangguan buang air besar dan buang air kecil, pelebaran pembuluh darah vena dalam panggul, gangguan ginjal karena penekanan saluran kemih (ureter).
c. Rasa nyeri karena tekanan tumor dan terputarnya tangkal tumor, serta adanya reaksi peradangan steril di dalam rahim.
d. Teraba benjolan pada bagian bawah perut dekat rahim yang terasa kenyal.
e. Gangguan sulit hamil (infertilitas) karena terjadi penekanan pada saluran indung telur ataupun menyebabkan keguguran berulang (recurrent pregnancy loss).
f. Rasa nyeri biasanya diakibatkan oleh perubahan mioma uteri yang disebut degenerasi atau kontraksi uterus berlebihan pada mioma yang tumbuh ke dalam rongga rahim. Gejala sulit hamil ataupun keguguran berulang dapat disebabkan gangguan sumbatan pada saluran telur (tuba fallopi) dan gangguan implantasi sel telur yang telah dibuahi pada endometrium.
Sedangkan mioma uteri selama kehamilan dapat mengganggu kehamilan itu sendiri berupa kelainan letak bayi dan plasenta, terhalangnya jalan lahir, kelemahan pada saat kontraksi rahim, pendarahan yang banyak setelah melahirkan dan gangguan pelepasan plasenta.Sebaliknya, kehamilan juga dapat merangsang pertumbuhan mioma uteri. Saat hamil, mioma uteri cenderung membesar seiring dengan meningkatnya kadar hormon wanita (estrogen) selama kehamilan. Pembesaran yang cepat ini memicu perubahan dari mioma uteri (degenerasi) yang dapat menimbulkan rasa nyeri.



4. Cara mendeteksi myoma uteri
1. Pada pemeriksaan fisik, mioma uteri dapat ditemukan melalui pemeriksaan ginekologi rutin.
Diagnosis mioma uteri dicurigai bila dijumpai gangguan kontur uterus oleh satu atau lebih massa yang lebih licin, tetapi sering sulit untuk memastikan bahwa massa seperti ini adalah bagian dari uterus.
2. Pemeriksaan penunjang
a. Ultrasonografi (USG)
Ultrasonografi transabdominal dan transvaginal bermanfaat dalam menetapkan adanya mioma uteri. Ultrasonografi transvaginal terutama lebih bermanfaat untuk mendeteksi kelainain pada rahim, termasuk mioma uteri. Uterus yang besar lebih baik diobservasi melalui ultrasonografi transabdominal. Mioma uteri dapat menampilkan gambaran secara khas yang mendemonstrasikan irregularitas kontur maupun pembesaran uterus. Sehingga sangatlah tepat untuk digunnakan dalam monitoring (pemantauan) perkembangan mioma uteri.

b. Hiteroskopi
Dengan pemeriksaan ini dapat dilihat adanya mioma uteri submukosa, jika tumornya kecil serta bertangkai. Pemeriksaan ini dapat berfungsi sebagai alat untuk penegakkan diagnosis dan sekaligus untuk pengobatan karena dapat diangkat.

c. MRI (Magnetic Resonance Imaging)
Akurat dalam menggambarkan jumlah, ukuran, dan lokasi mioma tetapi jarang ena keterbatasan ekonomi dan sumber daya. MRI dapat menjadi alternatif ultrasonografi pada kasus-kasus yang tidak dapat disimpulkan.

5. Penanganan dan pengobatan myoma uteri
Bila mioma uteri berukuran kecil, tidak cenderung membesar dan tidak memicu keluhan yang berarti, cukup dilakukan pemeriksaan rutin setiap 3-6 bulan sekali termasuk pemeriksaan USG. 55% dari semua mioma uteri tidak membutuhkan suatu pengobatan dalam bentuk apapun. Menopause dapat menghentikan pertumbuhan mioma uteri. Pengecilan tumor sementara menggunakan obat-obatan GnRH analog dapat dilakukan, akan tetapi pada wanita dengan hormon yang masih cukup (premenopause), mioma ini dapat membesar kembali setelah obat-obatan ini dihentikan. Jika tumor membesar, timbul gejala penekanan, nyeri hebat, dan perdarahan dari kemaluan yang terus menerus, tindakan operasi sebaiknya dilakukan.
Operasi pembedahan
Operasi pembedahan tergantung dari jenis dan letak mioma uteri. Pada kasus mioma submukosum dapat dilakuakan operasi histeroskopi untuk dilakukan reseksi mioma. Jika terdapat mioma uteri jenis subserosa atau intramural dapat dilakukan operasi pengangkatan mioma (miomektomi) melalui laparoskopi atau laparotomi. Banyak wanita dengan mioma uteri memilih untuk dilakukan miomektomi dibandingkan dengan histerektomi (pengangkatan rahim). Saat ini histerektomi tidak hanya dilakukan jika tidak ada rencana hamil lagi. Namun banyak fungsi rahim lainnya selain untuk memiliki keturunan. Akan sangat membantu jika Anda melakukan konseling dengan dokter Anda sehingga pengobatan yang diberikan akan menjawab keinginan dan keluhan Anda.












KASUS

Ibu Tia umur 35 tahun datang ke BPS Assyifa bersama suaminya. Ibu Tia mengeluh sudah 5 bulan terakhir ini mengalami menstruasi yang tidak teratur kadang jeda 2 atau 1 minggu menstruasi, mengalami nyeri haid yang hebat, susah buang air besar dan sering buang air kecil, ibu belum mempunyai anak padahal sudah 6 tahun menikah. Pada ssat dilakukan palpasi oleh bidan teraba benjola pada abdoment.hasil pemeriksaannya sebagi berikut:
Tekanan darah: 100/90 Mmhg
Nadi: 84 x/menit
Pernafasan : 60x/menit
Hb : 10 ml/gr



















ASUHAN KEBIDANAN PADA Ny. T UMUR 35 TAHUN DENGAN MYOMA UTERI
DI BPS AS-SYIFA
Jl.Dahlia No. 25 Sonopakis, Bantul, Yogyakarta

No. Register : 101010
Tanggal pengkajian : 25 Mei 2011
Pukul : 10.00 WIB
Oleh : Bidan Fita

DATA SUBYEKTIF
Pengkajian data Tanggal/jam : 25 Mei 2011/10.10 WIB
Biodata / Identitas Istri Suami
1. Nama : Ny. T Tn. B
2. Umur : 35 tahun 38 tahun
3. Agama : Islam Islam
4. Suku Bangsa : Jawa/ Indonesia Jawa/ Indonesia
5. Pendidikan : SMA STM
6. Pekerjaan : IRT Swasta
7. Alamat : Jl.Dahlia No. 25 sonopakis Bantul, Yogyakarta
8. No. Telp : 081234567xxx 081234566xxx

1. Kunjungan saat ini kunjungan ulang
Keluhan utama
Pasien mengeluh sudah 5 bulan terakhir ini mengalami menstruasi yang tidak teratur kadang jeda 2 atau 1 minggu menstruasi, mengalami nyeri haid yang hebat, susah buang air besar dan sering buang air kecil, ibu belum mempunyai anak padahal sudah 6 tahun menikah.
2. Riwayat Perkawinan
Pasien sudah menikah, syah dan lama pernikahan 6 tahun, ketika menikah umur Tn. B 32th dan umur istri 29 th .
3. Riwayat menstruasi
Menarche pada umur 13 tahun, Siklus : 28 Hari, Banyaknya:2x ganti pembalut, Lamanya: 6 hari, Sifat darah: encer.
4. Riwayat Kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu: P0Ab0Ah0
5. Riwayat kontrasepsi yang digunakan: pasien mengatakan belum pernah menggunakan alat kontrasepsi apapun.
6. Riwayat kesehatan
a. Penyakit sistemik yang pernah/ sedang diderita
Pasien mengatakan tidak pernah dan tidak sedang menderita penyakit berat seperti hipertensi, DM, jantung, TBC
b. Penyakit yang pernah/ sedang di derita keluarga
Pasien mengatakan dari keluarga tidak ada yang pernah dan sedang menderita penyakit berat seperti hipertensi, DM, jantung, TBC, keganasan
c. Riwayat penyakit ginekologi
Pasien mengatakan tidak pernah menderita penyakit ginekologi
d. Riwayat penyakit sekarang
Pasien mengatakan sudah 5 bulan ini siklus menstruasinya tidak teratur, mengalami nyeri haid yang hebat dan gangguan eliminasi
7. Pola Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari
a. Pola nutrisi makan minum
Frekuensi 2 kali sehari 3 – 4 kali sehari
Macam nasi, sayur dan lauk air putih, dan teh
Jumlah 1 porsi habis 1 gelas habis
Keluhan tidak ada tidak ada
b. Pola eliminasi BAB BAK
Frekuensi 3 kali seminggu 6 – 10 kali sehari
Warna kuning kuning jernih
Bau khas khas
Konsistensi lunak encer
Keluhan konstipasi tidak ada keluhan
c. Pola aktivitas
Ibu mengatakan kegiatan sehati-harinya adalah pekerjaan rumah tangga
Istirahat/ tidur: siang tidak pernah, malam 7 jam
Seksualitas: 1 kali dalam satu minggu
d. Personal hygiene
Kebiasaan mandi 2 kali perhari
Kebiasaan membersihkan alat kelamin: saat mandi, sehabis buang air kecil dan besar.
Kebiasaan mengganti pakaian dalam: setiap habis mandi
Jenis pakaian dalam yang digunakan: katun
8. Keadaan psiko social spiritual
a. Pasien taat menjalankan sholat 5 waktu dan menutup aurat
b. Ibu mengatakan cemas dengan keadaannya saat ini
c. Keluarga dan suami mendampingi
d. Hubungan ibu dengan suami, keluarga, tetangga baik
e. Ibu menjalankan ibadah dengan baik di tempat tidur
f. Ibu mengatakan tidak memiliki hewan peliharaan
g. Adat dan kebudayaan masih sangat kental
h. Pengambilan keputusan dalam keluarga : ibu dan suami
DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum cemas, kesadaran composmenthis
Tanda vital
Tekanan darah : 100/90 mmHg
Nadi : 84 kali permenit
Pernafasan : 20 kali permenit
Suhu : 37 0C
TB : 155 cm
BB : 50 kg
a. Kepala : bersih, tidak berketombe,rambut hitam bersih
b. Mata : simetris, sclera putih, konjungtiva anemis
c. Hidung : bersih, tidak ada polip
d. Telinga : simetris,tidak ada serumen
e. Mulut : bibir ucat, kering
f. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, limfe dan tidak ada pelebaran vena jugularis
g. Payudara : pembesaran payudara normal
h. Abdomen : teraba benjolan saat dipalpasi dan tidak ada bekas luka.
i. Ekstermitas
Edema : tidak ada
Varices : tidak ada
Reflek patella : kanan kiri positif
j. Genetalia luar
Tanda chadwich : tidak ada
Varices : tidak ada
Bekas luka : tidak ada
Kelenjar bartholini: tidak ada
Pengeluaran : darah menstruasi
k. Anus : tidak ada hemoroid

2. Pemeriksaan penunjang
Ultrasono grafi (USG)
Hb 10 mlgr

ASSESMENT
Ny. T umur 35 tahun dengan suspect myoma uteri




PLANNING tanggal 24 Mei 2011 pukul 11.00 WIB
1. Menjelasakan hasil pemeriksaan fisik yang dilakukan pada pasien :
a. Keadaan umum klien baik
b. Kesadaran compos mentis
c. TB : 155 cm, BB : 50 kg
d. TD : 100/90 mmHg. N ; 84x/m. P : 20 x/m. S : 37 C
e. Inspeksi Keadaan umum klien normal
-Klien mengerti tentang keadaannya .
2. Memberikan konseling agar klien tidak cemas bahwa keadaanya sekarang bukanlah sesuatu yang sangat membahayakan,sehingga dapat disembuhkan.
-Klien mengerti penjelasan yang diberikan oleh bidan .
3. Menjelaskan pada klien tentang gangguan reproduksi diakibatkan oleh hormon estrogen
-klien mengerti tentang penjelasan yang diberikan oleh bidan .
4. Memberi dukungan dan menenangkan klien tentang keadaannya saat ini
-Klien merasa lebih tenang
5.Menganjurkan pada klien untuk melakuan pemerikdsaan USG supaya dapat ditegakkan diagnosanya.
-Klien bersedia untuk melakukan USG .
6. Melakukan rujukan ke dokter spesialis kandungan untuk penaganan lebih lanjut.
-Klien bersedia untuk dilakukan rujukan ke dikter kandungan.
7. Melakukan pendokumentasian
- Dokumentasi sudah dilakukan


Ttd

Bidan Fita
PENUTUP

I. KESIMPULAN
Menstruasi merupakan hal yang sangat fisiologis yang dialami oleh setiap perempuan normal. Namun, apabila perdarahan menstruasi yang terlalu sering dan banyak serta nyeri perut yang hebat itu perlu diperhatikan karena itu merupakan suatu hal yang patologi dan merupakan salah satu tanda myoma uteri. Selain itu myoma uteri juga di pengaruhi hormon estrogen sehingga pada wanita yang menopause lebih sering terserang myoma uteri Penyakit mioma uteri berasal dari otot polos rahim. Kebanyakan mioma uteri ditemukan secara kebetulan pada saat pemeriksaan panggul rutin ataupun saat pemeriksaan ultrasonogafi (USG). Gejala yang timbul bergantung pada lokasi dan besarnya tumor.

II. SARAN

1. Setiap perempuan hendaknya waspada terhadap gejala yang menunjukkan adanya myoma uteri .
2. Hendaknya bidan memberikan penyuluhan pada tiap perempuan mengenai myoma uteri.














DAFTAR PUSTAKA

http://nenkeliezbid.blogspot.com/2010/04/siklus-haid.html
http://akd3b.wordpress.com/2010/06/18/poliminorea/
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/112/jtptunimus-gdl-nurmasadah-5571-3-babii.pdf
Manuaba,Chandranita,dkk.2008.Gawat Darurat Obstetri-Giekologi dan Obstetri-Ginekologi Sosial Untuk Profesi Bidan.Jakarta : ECG
Badziat,Ali.2003.Endokrinologi Ginekologi.Jakarta : Media Aesculapius Buku Panduan Praktikum Kesehatan Reproduksi

MAKALAH MATA KULIAH ASKEB IV B “ POLIP SERVIKS “

Untuk memenuhi tugas mata kuliah Askeb IV B




Disusun oleh :
Kelompok 4 C1.1

Pingky Defita Luciana 090105131
Isnaini Nur Anisyah 090105132
Fajar Ayu Ginanjar 090105133
Marwati 090105134
Muharia 090105135
Anita Rahmawati 090105136
Hermia Fithri Lailatul Hidayati 090105137
Arwinda Nur F 090105138


PROGRAM STUDI D III ILMU KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
2011

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Polip Serviks
Sebuah polip serviks adalah tumor jinak yang ditemukan pada permukaan saluran leher rahim. Mereka dapat menyebabkan perdarahan menstruasi yang tidak teratur, tetapi lebih sering mereka tidak menunjukkan gejala. Penyebab dari jenis kanker yang tidak sepenuhnya dipahami oleh para ahli. Mungkin hasil dari infeksi atau dari istilah atau peradangan kronis panjang, respon abnormal untuk peningkatan tingkat estrogen, dan dalam kemacetan pembuluh darah di saluran leher rahim.
B. Diagnosis
Diagnosis polip serviks relatif mudah, karena mereka dapat dengan mudah dilihat oleh dokter. Mereka tampak batang halus dengan warna merah atau ungu dan mereka menonjol dari saluran serviks.
C. Gejala
Biasanya, tidak akan ada gejala untuk polip serviks tetapi pada waktu penyakit ini akan ditandai oleh:
Abnormal pendarahan vagina yang terjadi antara periode menstruasi, setelah menopause, setelah hubungan seksual, dan setelah douching. Polip serviks bisa meradang tetapi jarang menjadi terinfeksi periode normal berat atau menoragia keluarnya lendir putih atau kuning, sering disebut keputihan. Hanya ada beberapa gejala yang dikenal infeksi ini dan kadang-kadang bahkan kentara. Seorang wanita perlu memiliki pemeriksaan tahunan sampai mengevaluasi kesehatan reproduksi wanita.
Gejala utamanya adalah terjadinya perdarahan diluar haid yang warnanya lebih terang dari darah haid. Terutama timbul setelah melakukan senggama (perdarahan paska senggama=post coital bleeding=PCB). Perlu dipertimbangkn juga adanya kanker leher rahim jika ditemukan PCB.
D. Faktor Risiko dan Tindakan Pencegahan
Faktor risiko memiliki polip serviks meningkat pada wanita dengan diabetes mellitus dan vaginitis berulang dan servisitis, polip serviks tidak pernah benar-benar terjadi sebelum onset menstruasi. Hal ini biasanya terlihat pada wanita usia reproduksi. Yang paling rentan terhadap penyakit ini adalah perempuan usia 40 sampai 50 tahun. Hal ini juga mengatakan bahwa polip serviks dapat ditemukan pada insiden yang memicu produksi hormon. Wanita hamil memiliki risiko yang lebih tinggi karena perubahan tingkat hormon, mungkin dari peningkatan produksi hormon beredar juga.
Ada beberapa langkah yang dapat membantu mencegah infeksi yaitu dengan pakai celana katun atau stoking dengan selangkangan kapas. Ini membantu mencegah akumulasi kelebihan panas dan kelembaban. Panas dan kelembaban membuat seorang wanita rentan terhadap infeksi vagina dan leher rahim. Apakah pasangan Anda memakai kondom setiap hubungan seksual. Ini mengurangi resiko infeksi menular seksual.
E. Pengobatan
Mengobati polip serviks dapat dengan cara melakukan operasi sederhana, polip serviks dapat dihapus, polip akan memutar dan lembut dihapus selama operasi. Dalam satu metode, string bedah terpasang di sekitar alas dan menembak terputus dasar akan dihapus melalui elektrokauter atau pengobatan laser. Setelah operasi, pasien disarankan untuk mengambil di antibiotik bahkan jika tidak ada tanda-tanda infeksi. Beberapa polip serviks belum tentu kanker tetapi mereka masih dikirim ke laboratorium untuk analisa lebih lanjut. Selain itu, cukup mustahil untuk polip untuk tumbuh kembali tetapi ada insiden kambuh.


















DAFTAR PUSTAKA

Padjajaran,Universitas. 2003. Obstetri Patologi Edisi 2. Jakarta : EGC

Sarwono. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohadjo.





























KASUS
Seorang ibu benama Ny. R umur 42 tahun datang ke RS Assyifa Yogyakarta. Ibu mengatakan pada bidan bahwa sering mengalami perdarahan menstruasi yang tidak teratur dan warnanya lebih terang dibandingkan dengan darah mestruasi dan ibu juga mengatakan bahwa dia merasakan nyeri pada saat melakukan hubungan intim. Ibu merasa khawatir atas keadaannya sekarang ini. Suami dan keluarga mendukung ibu untuk berobat. Ibu berharap penyakitnya tersebut dapat disembuhkan.



























ASUHAN KEBIDANAN
PADA NY. R USIA 48 TH P4 A0 DENGAN POLIP SERVIKS
DI RS ASSYIFA

NO. REGISTER : 00345
HARI MASUK : Jumat
TANGGAL MASUK : 13 Mei 2011
JAM :11.00-selesai

Biodata Ibu Suami
Nama : Ny. R Tn. A
Umur : 42 tahun 47 tahun
Agama : Islam Islam
Suku/bangsa : Jawa/Indonesia Jawa/Indonesia
Pendidikan terakhir : S1 S1
Pekerjaan : PNS PNS
Alamat : Jl.Gagak RT 05/RW 21 Jl. Gagak RT 05/RW21 Ngemplak Sleman 55584 Ngemplak Sleman 55584
No.Telp/HP : 085740112xxx 085740443xxx

SUBJEKTIF
1. Keluhan utama
Ibu mengatakan bahwa sudah beberapa bulan ini sering mengalami perdarahan menstruasi yang tidak teratur, warnanya lebih terang dibandingkan dengan darah haid dan ibu juga merasakan nyeri pada saat melakukan hubungan intim. Ibu merasa takut dengan keadaannya sekarang.
2. Riwayat perkawinan
Ny.R menikah pada usia 23 tahun dengan Tn. A usia 24 tahun. Menikah 1 kali dan lama pernikahan sudah 19 tahun.
3. Riwayat menstruasi
Menarche umur 11 tahun. Siklus 26 hari lancar. Lama 5-6 hari. Sifat darah : encer dan bau amis. Disminore : tidak ada. Banyaknya : ganti pembalut 3x.


4. Riwayat Kontrasepsi :
Ny. R mengatakan bahwa beliau menggunakan alat kontrasepsi berupa pil setelah melahirkan anak ke-4, beliau menggunakan alat kontrasepsi IUD dan sekarang tidak menggunakan alat kontrasepsi apa pun setelah tidak mendapatkan menstruasi lagi.
5. Riwayat Kesehatan :
a. Penyakit sistemik yang pernah/sedang diderita ibu :
Ny. R mengatakan bahwa beliau menderita penyakit DM, tetapi tidak menderita malaria, kardiovaskuler, penyakit kelamin, alergi, asma dan hipertensi.
b. Penyakit sistemik yang pernah/sedang diderita suami :
Ny. R mengatakan bahwa suami beliau tidak menderita penyakit DM, malaria, kardiovaskuler, penyakit kelamin, alergi.
c. Penyakit sistemik yang pernah/sedang diderita keluarga :
Ny. R mengatakan bahwa keluarga beliau tidak menderita menurun genetik.
d. Kebiasaan-kebiasaan
Merokok : tidak
Minum jamu-jamu : tidak
Minum-minuman keras : tidak
Makanan/minuman pantangan : tidak ada
Hewan peliharaan : tidak ada
6. Riwayat ginekologi
Ibu mengatakan bahwa selama ini belum pernah menderita penyakit yang berhubungan dengan kadungan.
7. Pola Nutrisi
Makan Minum
Frekwensi : 3x/hari 7-8 gelas/hari
Jumlah : 1 porsi habis 1600cc
Macam : nasi, sayur, lauk air putih, susu, teh
Keluhan : tidak ada
8. Pola Eliminasi :
BAB BAK
Frekuensi : 1x pada pagi hari 5x/hari
Warna : kuning kuning jernih
Konsistensi : lembek cair
Keluhan : rasa nyeri
9. Pola aktivitas
Kegiatan sehari-hari : bekerja di kantor, memasak, menyapu
Istrahat/tidur : tidur siang 1 jam, malam 7 jam
Seksualitas : Frekuensi : 1x seminggu.
Keluhan : sudah beberapa bulan ini sering nyeri saat berhubungan dan ada plek-plek darah.
10. Personal hygiene
Kebiasaan mandi : 2 kali/hari
Kebiasaan membersihkan alat kelamin : ya
Kebiasaan mengganti baju : 2 kali/hari
Kebiasaan mangganti pakaian dalam : 2 kali/hari
Jenis pakaian dalam yang digunakan : kain catton
11. Keadaan psiko social spiritual
a. Ibu mengatakan sangat takut dan khawatir atas penyakit yang sedang dialaminya apalagi ibu sudah tua, terkadang tidak kuat menahan rasa sakit.
b. Ibu takut dengan keadaan seperti ini hubungan ibu dengan suami jadi regang
c. Ibu takut penyakit yang dideritanya membuat repot anggota keluarga.
d. Ibu mengatakan suami dan keluarga sangat mendukung ibu untuk berobat
e. Ibu mengatakan dengan keadaanya sekarang jadi jarang ke kantor dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar, sudah jarang ikut pengajian dan arisan
f. Ketaatan ibu dalam beribadah
Ny. R mengatakan bahwa beliau cukup taat beribadah dan melaksanakan sholat 5 waktu dan membaca Al Quran setelah shalat

OBJEKTIF
1. Pemeriksaan fisik :
a. Keaadaan umum: baik kesadaran umum : compos mentis
b. Tanda vital
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 84 kali per menit
Pernafasan : 21 kali per menit
Suhu : 37 derajat celcius
c. TB : 158 cm
BB : 58 kg
d. Kepala dan leher :
Rambut bersih. Ibu tidak memiliki odema wajah. Pada bagian mata, conjungtiva sedikit pucat dan sclera putih. Pada mulut tidak terdapat stomatitis, bibir kering dan gigi tidak caries. Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, dan vena jugularis pada leher ibu.
e. Payudara
Bentuk payudara ibu simetris. Putting menonjol, tidak ada benjolan yang abnormal.
f. Abdomen
Pada abdomen tidak terdapat bekas operasi. Dan ada nyeri tekan pada perut bagian bawah.
g. Ekstermitas
Odema : tidak ada odema
Varises : -
Kuku : pendek bersih
h. Punggung : Ibu tidak merasakan nyeri pada saat ketuk ginjal.
i. Genitalia luar
Varices : tidak ada
Bekas luka : tidak ada
Kelenjar Bartholini : tidak membesar
Pengeluaran : Keluar cairan putih yang encer atau jernih
j. Anus
Hemoroid : tidak ada
2. Pemeriksaan Penunjang
Dilakukan pemeriksaan dengan Spekulum didapatkan ada tanda-tanda abnormal seperti benjolan servik.

ASSESSMENT
Ny. “R” usia 42 th P4 A0 polip serviks
Masalah :
a. Ibu sangat takut dan khawatir atas penyakit yang sedang dialaminya.
b. Ibu tidak kuat menahan rasa sakit.
c. Ibu takut hubungan dengan suami jadi tidak harmonis
d. Ibu takut menjadi beban anggota keluarga yang lain.
PLANNING, tanggal 13 Mei 2011 oleh Bidan Riasyah
1. Memberitahu pasien hasil pemeriksaan, kemungkinan besar beliau terkena polip serviks.
Ibu kaget dan sedih, meminta bidan untuk melakukan sesuatu untuk kesembuhannya
2. Memberikan dukungan kepada ibu agar ibu tidak perlu terlalu khawatir, terus berdoa dan yakin bahwa penyakitnya ini dapat disembuhkan.
Ibu mengerti dan mulai merasa lebih tenang.
3. Meminta suami untuk senantiasa mendampingi pasien dan memberi motivasi untuk kesembuhan pasien.
Suami bersedia melakukannya
4. Memberitahukan pada ibu bahwa ada dokter spesialis yang dapat menangani kasus-kasus seperti ini, ada pasien lain yang mengalami seperti ini dan dapat disembuhkan.
Ibu merasa sedikit tenang
5. Memberitahukan ibu apabila ingin melakukan hubungan intim, suami dapat menggunakan kondom.
Ibu mengerti dan bersedia melakukannya
6. Menasehati ibu untuk menggunakan celana dalam yang terbuat dari kain catoon atau bahan yang menyerap keringat/ tidak panas.
Ibu mengerti dan akan mengikuti sarannya
7. Melaksanakan pemeriksaan speculum untuk menilai apakah ada benjolan yang abnormal pada servik
Sudah dilakukan dan ditemukan benjolan yang abnormal
8. Meminta ibu untuk melakukan pemeriksaan yang lebih lanjut ke dokter spesialis kandungan
Ibu bersedia melakukannya
9. Membuat surat rujukan ke dokter spesialis kandungan dan mencatat hasil pemeriksaan yang ditemukan agar bisa ditindak lanjuti untuk pemeriksaan yang lebih lanjut
Surat rujukan sudah dibuat dan ibu akan secepatnya ke tempat dokter spesialis kandungan


Bidan

Riasyah

TUGAS ASKEB IVB PATOLOGI “ (ADENOMIOSIS)”

Disusun untuk memenuhi tugas praktikum IV B patologi



Disusun oleh:
1. Lusi Permanadewi (090105139)
2. Tiara Puspitasari (090105140)
3. Alfian layli Permata (090105141)
4. Desy Ana Purnamasari (090105142)
5. Aisyah Noor Hindria (090105143)
6. Arum Dahlia (090105144)
7. Meita Khoerunnisa (090105145)
8. Eni Suraya Maharani (090105146)


PRODI DIII KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN AISYIYAH YOGYAKARTA
2011
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian
Adenomiosis adalah penetrasi dan bertumbuhnya jaringan endometrium (jaringan yang melapisi dinding dalam rahim) ke dalam myometrium (lapisan otot rahim), sering disebut pula dengan endometriosis internal. Jadi penyakit ini sejenis dengan endometriosis. Adenomiosis biasanya bersamaan dengan endometriosis eksternal. Dan jaringan endometrium yang salah tempat ini, seperti endometrium yang normal, dan bersamaan dengan siklus menstruasi, jadi cenderung mengalami pendarahan pada saat menstruasi. Darah yang terkumpul di dalam jaringan otot rahim ini akan menyebabkan pembengkakan rahim menjadi lebih besar. Pembengkakan (adenomyosis) ini dapat merata atau terfokus di satu tempat. Jika pembengkakan ini terfokus di satu tempat maka disebut sebagai adenomyoma, yang mana menyerupai tumor rahim lainnya.

B. Gejala
1. Pembesaran rahim.
Pembesaran rahim dapat merata dengan tonjolan-tonjolan rahim yang besar atau dapat pula seperti “tumor” yang terlokalisir.
2. Nyeri pelvis
3. Menstruasi yang banyak dan abnormal.
4. Pendarahan pada saat menstruasi dapat banyak sekali dan berhari-hari, mungkin dengan bekuan-bekuan darah. Pendarahan yang hebat ini dapat menyebabkan anemia (berkurangnya kadar Hemoglobin dalam sel darah merah). Selain itu diluar saat menstruasi bisa ada pendarahan abnormal (pendarahan sedikit-sedikit, bercak-bercak).
5. Nyeri, yang dirasakan terutama selama menstruasi disebut dysmenorrhea dapat berupa kram yang hebat atau seperti disayat pisau. Nyeri dapat juga dirasakan pada saat tidak sedang menstruasi.




C. Gambaran mikroskopik
Gambaran mikroskopik yang khas pada adenomiosis adalah terdapatnya pulau-pulau jaringan endometrium di tengah-tengah otot uterus. Pulau-pulau ini dapat menunjukan perubahan siklik. Akan tetapi umumnya reaksi terhadap hormon-hormon ovarium tidak begitu sempurna seperti endometrium.
Jaringan otot di sekitar pulau-pulau tersebut mengalami hiperplasia dan hipertrofi. Tidak terdapat kapsul seperti pada mioma uteri.

D. Gambaran klinik
Gejala klinis yang sering ditemui pada adenomiosis adalah menoragia, Dismenorea sekunder dan Uterus yang makin membesar. Kadang-kadang terdapat disamping menoragia, dispareunia, dan rasa berat di perut bagian bawah terutama di masa pra haid.

E. Diagnosis
Diagnosis adenomiosis dapat diduga bila pada wanita berumur sekitar 40 tahun dengan banyak anak, keluhan menoragia dan dismenorea makin menjadi dan ditemukannya uterus yang membesar simetrik dan berkonsistensi padat.
Akan tetapi diagnosis pasti baru bisa dibuat setelah pemeriksaan uterus pada waktu operasi atau sesudah diangkat pada operasi tersebut.

F. Pengobatan
1. Non-bedah
Non-bedah untuk perawatan adenomiosis adalah dosis gonadotrophin-releasing hormon. pada pasien anemia, perawatan ini membantu mereka untuk mengembalikan tingkat hemoglobin menggunakan besi suplemen. Pada beberapa perempuan, hormon yang menyebabkan kegelisahan, melemahnya tulang dan meningkatkan kolesterol "buruk" LDL dan menurunkan kolesterol "baik" HDL. Jadi jenis perawatan ini hanya direkomendasikan untuk beberapa bulan. Sayangnya, gejala adenomyosis sering kembali setelah 6 bulan setelah menghentikan pengobatan.


2. Bedah
Perawatan bedah dianggap oleh beberapa dokter sebagai perawatan yang paling efektif untuk adenomyosis dengan gejala yang parah. Yaitu dengan pengangkatan rahim (hysterectomy).
Dokter merekomendasikan laporan komprehensif mengenai kelebihan dan kekurangan dari prosedur ini dalam setiap kasus.
Adenomyosis yang pada umumnya adalah perempuan di antara 30 dan 40 tahun. Hal ini lebih umum di kalangan wanita yang memiliki minimal satu kehamilan (hanya 6% dari kasus-kasus adenomyosis terjadi pada wanita yang tidak hamil).
Yang tinggi dengan persentase perempuan adenomyosis (sekitar 80%) juga disorders lainnya dalam sistem reproduksi sebagai myoma, ovarian cysts atau endometriosis.
















ASUHAN KEBIDANAN PADA GANGGUAN REPRODUKSI
”NY R” UMUR 40 P3 Ab0 AH3 DENGAN ADENOMEIOSIS DI RSUD ”T”


No. Register : 45678
Hari, Tanggal : Kamis, 5 Mei 2011
Pengkajian Oleh : Dokter K Jam : 11.30 WIB
Ruang : Periksa Pasien

DATA SUBJEKTIF
BIODATA Istri Suami
Nama : Ny R Bp B
Umur : 40 Th 43 Th
Agama : Islam Islam
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia Jawa/Indonesia
Pendidikan : SMA SMA
Pekerjaan : IRT Guru SD
Alamat Lengkap : Ngemplak Sari,Margomulyo,Seyegan ,Sleman,Yogyakarta
No.Telp/Hp : 08170333xxx 08175234xxx

1. Alasan Kunjungan
Ibu ingin memeriksakan keadaannya
2. Keluhan Utama
Ibu mengeluh lamanya haid lebih dari normal dan rasa berat di perut bagian bawah terutama di masa pra haid.

3. Riwayat Pernikahan
Ibu Menikah umur 24 tahun. Suami menikah umur 27 tahun. menikah 1x dengan suami lamanya 16 tahun. Pernikahan syah.
4. Riwayat Menstruasi
Menarche umur 12 tahun. Siklus 28 hari. Teratur. Lama 8-14 .hari.
Ada Dismenorhoe. Sifat darah: tidak menggumpal. Keluhan: rasa berat di perut bagian bawah
5. Riwayat Ginekologi
a. Gangguan Menstruasi : Rasa berat di perut bagian bawah
b. Keputihan : Tidak ada
c. Pengalaman yang berkaitan dengan penyakit kandungan
Ibu belum pernah mengalami penyakit yang berkaitan dengan saluran reproduksi
6. Riwayat Kehamilan, Persalinan dan nifas yang lalu
P3 Ab0 Ah3
Hamil ke Persalinan penolong Komplikasi JK BB/PB Lhr Nifas
Tgl Lahir/umur anak UK Jenis Pesalinan Ibu Bayi Laktasi Komplikasi
1 16 Th 40 mg spontan Bidan Tidak ada Tidak ada Lk 3500 kg/50 cm Sampai 6 bulan Tidak ada
2 11 Th 38 mgg spontan Bidan Tidak ada Tidak ada pr 3000 kg/49 cm Sampai 2 tahun Tidak ada
3 6 Th 40 mgg spontan Bidan Tidak ada Tidak ada pr 3500 kg/50cm Sampai 6 bln Tidak ada

7. Riwayat kontrasepsi yang digunakan
Ibu mengatakan mempunyai rencana mengatur jarak kelahiran anak 5 tahun, dengan jumlah anak 3, oleh karena itu setelah lahir anak yang pertama ibu menggunakan KB pil dan suntik selama 5 tahun, kemudian setelah lahir anak yang kedua menggunakan implant 5 tahun, dengan pertolongan dokter.
8. Riwayat kesehatan
a. Penyakit sistemik yang pernah atau sedang diderita
Belum pernah dan tidak sedang menderita penyakit menular dan menurun seperti : HIV/AIDS, IMS, TBC, Hepatitis, Hipertensi, DM, Penyakit jantung, Ginjal.
b. Penyakit yang pernah atau sedang diderita keluarga
Tidak ada keluarga yang menderita penyakit menular dan menurun seperti : HIV/AIDS, IMS, TBC, Hepatitis, Hipertensi, DM, Penyakit jantung, Ginjal.
c. Riwayat keturunan kembar
Tidak ada keluarga yang melahirkan kembar.
9. Pola Pemenuhan Kebutuhan sehari-hari
a. Pola Nutrisi
Makan Minum
Frekuensi : 3-4 x/hari 7-8 x/hari
Macam : Nasi,sayur,lauk dan buah Air putih,Susu
Jumlah : 1 porsi habis 1 gelas habis
Keluhan : Tidak ada Tidak ada

b. Pola Eliminasi
BAB BAK
Frekuensi : 1 x/hari 4-6 x/hari
Warna : Kuning kehijauan Kuning jernih
Bau : Bau khas feses Bau khas urin
Konsistensi : Lembek Cair
Jumlah : Sedang Sedang
Keluhan : Tidak ada Tidak ada
c. Pola aktivitas
Kegiatan sehari-hari : Mengurus rumah,mengurus anak
Istirahat/tidur : Tidur siang 2 jam ,Tidur malam 7-8 jam
Keluhan : Tidak ada
Seksualitas : Frekuensi 1 minggu sekali
Keluhan : Tidak ada
d. Personal Hygiene
Kebiasaan mandi 2 kali/hari,
Kebiasaan gosok gigi 2 kali/hari.
Mencuci rambut 3-4 kali/minggu.
Kebiasaaan membersihkan alat kelamin : Saat mandi,BAK,BAB.
Kebiasaan mengganti pakaian dalam :2 x sehari saat mandi.
Jenis pakaian dalam yang digunakan : Katun.
e. Riwayat alergi
Makanan : Tidak ada
Obat : Tidak ada
Zat lain : Tidak ada
f. Kebiasaan – kebiasaan
Merokok : Tidak pernah
Minum jamu-jamuan : Tidak pernah
Minum-minuman keras : Tidak pernah
Obat obat terlarang : Tidak pernah
Obat yang di minum selama kehamilan : Tidak ada
Makanan / minuman pantang : Tidak ada
10. Keadaan Psiko Sosial Spiritual
a. Pengetahuan ibu tentang gangguan atau penyakit yang diderita saat ini.
Menurut pasien, keadaannya kurang baik, ibu khawatir dengan keadaannya
b. Pengetahuan Ibu tentang alat kontrasepsi
Ibu mengetahui jenis-jenis alat kontrasepsi.
c. Pengetahuan Ibu tentang alat kontrasepsi yang dipakai sekarang.
Ibu mengatakan tidak memakai alat kontrasepsi sampai sekarang.
d. Dukungan suami atau keluarga
Keluarga perhatian dan mendampingi ibu saat pemeriksaan.
e. Ketaatan beribadah
Pasien taat menjalankan sholat 5 waktu dan menutup aurat.

DATA OBJEKTIF
a. Keadaan Umum : Baik
b. Kesadaran : Composmentis
c. Tanda-tanda vital
Tekanan darah : 120/70.mmHg
Nadi : 84 kali per menit
Pernafasan : 20 kali per menit
Suhu : 37˚C
d. Antropometri
TB : 157 cm
BB : 45 kg
e. Kepala dan leher
Rambut : Hitam, lurus, bersih, kuat,tidak kusam.
Mata : Simetris, sklera putih, konjungtiva merah muda
Hidung : Simetris, tidak ada kotoran, tidak ada cairan yang keluar
Muka : Tidak pucat, tidak ada oedem
Mulut : Simetris, merah, gigi tidak ada caries dan tidak ada lubang, bibir tidak pecah-pecah, tidak ada perbesaran tonsil.
Telinga : Simetris, tidak ada kotoran dan cairan yang keluar
Leher : Tidak ada pelebaran vena jugularis dan kelenjar tiroid.
e. Payudara
Bentuk : Simetris
Puting susu : Menonjol, bersih.
Massa/tumor : Tidak teraba massa abnormal.
f. Abdomen
Bentuk : Sedikit bulat
Bekas Luka : Tidak ada
Massa/tumor : Teraba uterus yang membesar simetrik dan berkonsistensi padat.
g. Ekstermitas
Oedem : Tidak ada
Varices : Tidak ada
Refles Patella : kanan/kiri +/+
Kuku : Pendek bersih
h. Genetalia Luar
Labio mayora : Tidak Terdapat pembengkakan
Bekas Luka : Tidak ada
Varices : Tidak ada
K. Bartholini : Tidak ada Tanda-Tanda peradangan
i. Anus : Tidak Hemoroid
j. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium : -
Pemeriksaan Penunjang : USG.
Catatan Medik Lain : Tidak ada

ASSESMENT
Seorang Ny R Umur 40 P3 AB0 Ah3 dengan di RSUD ”T” dengan suspect adenomeiosis.
PLANNING : Kamis, 5 Mei 2011, Jam 11.45 WIB
1. Menjelaskan keadaan pasien bahwa ia dalam keadaan baik.
Tekanan darah : 120/70.mmHg
Nadi : 84 kali per menit
Pernafasan : 20 kali per menit
Suhu : 37˚C
Pasien mengerti penjelasan Dokter
2. Menjelaskan kepada pasien tentang hasil USG, tampak gambaran massa irregular, miometrial, ruangan massa kistik yang sebagian besar meliputi dinding uterus posterior dengan pembesaran uterus dengan dinding posterior yang melebar, ruangan endometrial yang nyata dan penurunan ekogenitas uterus dengan lobus, kontur yang tidak normal atau adanya massa.
Pasien mengerti penjelasan Dokter
3. Menjelaskan kepada pasien bahwa penyakit yang ia derita adalah adenomiosis lamanya haid lebih dari normal dan rasa berat di perut bagian bawah terutama di masa pra haid.
Pasien mengerti penjelasan dokter.
4. Menjelaskan kepada pasien agar menjaga pola makan sehari-hari dan menjaga kesehatan Pasien mengerti penjelasan dokter.
5. Menyarankan kepada pasien untuk selal memohon pertolongan Allah SWT agar keadaanya dapat seperti semula.
Pasien mengerti dan akan selalu berdoa untuk kesembuhan
6. Melakukan dokumentasi
Dokumentasi telah dilakukan
TTD

Bidan K
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Adenomiosis adalah penetrasi dan bertumbuhnya jaringan endometrium (jaringan yang melapisi dinding dalam rahim) ke dalam myometrium (lapisan otot rahim), sering disebut pula dengan endometriosis internal. Jadi penyakit ini sejenis dengan endometriosis. Adenomyosis dapat ada bersamaan dengan endometriosis eksternal. Dan jaringan endometrium yang salah tempat ini, seperti endometrium yang normal, akan mengikuti siklus menstruasi, jadi cenderung mengalami pendarahan pada saat menstruasi.

B. Saran
Semoga makalah ini dapat dijadikan pembelajaran terhadap mahasiswa atau tenaga kesehatan untuk lebih memperhatikan dengan penyakit yang sering muncul pada perempuan seperti adenomiosis, serta mampu mendiagnosis penyakit tersebut dan mampu memberikan terapi sesuai dengan kewenangan Dokter.

















DAFTAR PUSTAKA

suryo-wibowo.blogspot.com/2006/05/adenomyosis
diyoyen.blog.friendster.com/.../endometriosis-dan-adenomiosis/
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=es&tl=id&u=http%3A%2F%2Fwww.endometriosis.com.es%2Findex.php%2F2008%2F07%2Fadenomiosis-menstruacion-dolorosa-y-abundante%2F
www.totalkesehatananda.com/uterinegrowth6.htm

TUGAS ASKEB IVB PATOLOGI “HIPERPLASIA ENDOMETRIUM”

Disusun untuk memenuhi tugas IV B patologi


Disusun oleh:
1. Lusi Permana Dewi (090105139)
2. Tiara Puspitasari (090105140)
3. Alfian Layli Permana (090105141)
4. Desy Ana Purnamasri (090105142)
5. Aisyah Noor Hindria (090105143)
6. Arum Dahlia (090105144)
7. Meita Khoerunissa (090105145)
8. Eny Soraya Maharani (090105146)

PRODI DIII KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN AISYIYAH YOGYAKARTA
2011


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hyperplasi Endometrium yang pada terjadi pada perempuan dalam usia postmenopause. Kondisi ini juga biasanya dialami oleh wanita yang tergolong berbadan gemuk karena produksi estrogennya berlebihan. Jadi, hiperplasia endometrium sebenarnya bisa dialami siapa pun, baik yang sudah memiliki anak maupun belum.

B. Tujuan
1. untuk mengetahui apa yang di maksud dengan hyperplasi endometrium
2. untuk mengetahui tanda dan gejala dari hyperplasi endometrium
3. untuk mengetahui gambaran mikroskopik dari hyperplasi endometrium
4. untuk mengetahui gambaran klinis dari hyperplasi endometrium
5. untuk mengetahui cara mendiagnosis hyperplasi endometrium
6. untuk mengetahui bagaimana cara mengobati hyperplasi endometrium

C. Manfaat
1. mengetahui apa yang di maksud dengan hyperplasi endometrium
2. mengetahui tanda dan gejala dari hyperplasi endometrium
3. mengetahui gambaran mikroskopik dari hyperplasi endometrium
4. mengetahui gambaran klinis dari hyperplasi endometrium
5. mengetahui cara mendiagnosis hyperplasi endometrium
6. mengetahui bagaimana cara mengobati hyperplasi endometrium


BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Hiperplasia Endometrium
Endometrium merupakan lapisan paling dalam dari rahim. Lapisan ini tumbuh dan menebal setiap bulannya dalam rangka mempersiapkan diri terhadap terjadinya kehamilan, agar hasil konsepsi bisa tertanam. Jika tidak terjadi kehamilan, maka lapisan ini akan terlepas saat menstruasi. Hormon yang ada di tubuh wanita yaitu estrogen dan progesteron mengatur perubahan endometrium, dimana estrogen merangsang pertumbuhannya dan progesterone mempertahankannya.
Hiperplasia endometrium adalah pertumbuhan yang berlebih dari kelenjar, dan stroma disertai pembentukan vaskularisasi dan infiltrasi limfosit pada endometrium. Bersifat noninvasif, yang memberikan gambaran morfologi berupa bentuk kelenjar yang irreguler dengan ukuran yang bervariasi. Pertumbuhan ini dapat mengenai sebagian maupun seluruh bagian endometrium.

B. Penyebab Hiperplasia Endometrium
Hiperplasia endometrium ini diakibatkan oleh hiperestrinisme atau adanya stimulasi unoppesed estrogen (estrogen tanpa pendamping progesteron / estrogen tanpa hambatan).Kadar estrogen yang tinggi ini menghambat produksi Gonadotropin (feedback mechanism). Akibatnya rangsangan terhadap pertumbuhan folikel berkurang, kemudian terjadi regresi dan diikuti perdarahan.
Pada wanita perimenopause sering terjadi siklus yang anovulatoar sehingga terjadi penurunan produksi progesteron oleh korpus luteum sehingga estrogen tidak diimbangi oleh progesteron. Akibat dari keadaan ini adalah terjadinya stimulasi hormon estrogen terhadap kelenjar maupun stroma endometrium tanpa ada hambatan dari progesteron yang menyebabkan proliferasi berlebih dan terjadinya hiperplasia pada endometrium. Juga terjadi pada wanita usia menopause dimana sering kali mendapatkan terapi hormon penganti yaitu progesteron dan estrogen, maupun estrogen saja. Estrogen tanpa pendamping progesterone (unoppesed estrogen) akan menyebabkan penebalan endometrium. Peningkatan estrogen juga dipicu oleh adanya kista ovarium serta pada wanita dengan berat badan berlebih
Penebalan pada lapisan dinding dalam rahim terjadi karena kerja hormon estrogen, sehingga jika terjadi penebalan berlebih itu menunjukkan adanya peningkatan berlebih dari kadar hormon estrogen itu sendiri. Pada kasus umum, peningkatan hormon estrogen bisa terjadi akibat dipicu oleh tumbuhnya kista. Pada kasus lain, penebalan dinding rahim juga terjadi karena faktor ketidakseimbangan hormonal dimana peningkatan hormon estrogen tak diimbangi oleh peningkatan progesteron. Kondisi ini juga biasanya dialami oleh wanita yang tergolong berbadan gemuk karena produksi estrogennya berlebihan. Jadi, hiperplasia endometrium sebenarnya bisa dialami siapa pun, baik yang sudah memiliki anak maupun belum.

C. Kategori Hiperplasia Endometrium
Berdasarkan kajian medis, gangguan penebalan dinding rahim ini bisa dibedakan menjadi 3 kategori, yaitu:
1. Simplek : kategori ringan dan tak akan berakhir dengan keganasan sehingga penderita tetap masih bisa hamil.
2. Kistik / Kelenjar / Adenomatous: juga tergolong tidak berbahaya.
3. Atipik : kategori berbahaya, biasanya merupakan cikal bakal terjadinya kanker. Ini yang perlu diwaspadai.

D. Gejala Hiperplasia Endometrium
1. Siklus menstruasi tidak teratur, tidak haid dalam jangka waktu lama (amenorrhoe) ataupun menstruasi terus-menerus dan banyak (metrorrhagia).
2. Selain itu, akan sering mengalami flek bahkan muncul gangguan sakit kepala, mudah lelah dan sebagainya.

E. Dampak Hiperplasia Endometrium
Dampak berkelanjutan dari penyakit ini, adalah penderita bisa mengalami kesulitan hamil dan terserang anemia. Hubungan suami-istri pun terganggu karena biasanya terjadi perdarahan yang cukup parah.

F. Penegakan Diagnosis
Terjadinya penebalan dinding rahim bisa diketahui dengan pemeriksaan ultrasonografi (USG). Namun untuk memastikannya perlu dilakukan kuratase. Hasil kuretan dinding rahim akan dikirim ke bagian Patologi Anatomi untuk didiagnosa lebih lanjut. Pada kuretasi didinding rahim akan didapatkan gambaran khas yang disebut swiss cheese pattern.
G. Terapi
Terapi atau pengobatan bagi penderita hiperplasia, antara lain sebagai berikut:
1. Tindakan kuratase selain untuk menegakkan diagnosa sekaligus sebagai terapi untuk menghentikan perdarahan.
2. Selanjutnya adalah terapi progesteron untuk menyeimbangkan kadar hormon di dalam tubuh. Namun perlu diketahui kemungkinan efek samping yang bisa terjadi, diantaranya mual, muntah, pusing, dan sebagainya. Rata-rata dengan pengobatan hormonal sekitar 3-4 bulan, gangguan penebalan dinding rahim sudah bisa diatasi.
3. Jika pengobatan hormonal yang dijalani tak juga menghasilkan perbaikan, biasanya akan diganti dengan obat-obatan lain. Tanda kesembuhan penyakit hiperplasia endometrium yaitu siklus haid kembali normal. Jika sudah dinyatakan sembuh, ibu sudah bisa mempersiapkan diri untuk kembali menjalani kehamilan. Namun alangkah baiknya jika terlebih dahulu memeriksakan diri pada dokter. Terutama pemeriksaan bagaimana fungsi endometrium, apakah salurannya baik, apakah memiliki sel telur dan sebagainya.
4. Khusus bagi penderita hiperplasia kategori atipik, jika memang terdeteksi ada kanker, maka jalan satu-satunya adalah menjalani operasi pengangkatan rahim. Penyakit hiperplasia endometrium cukup merupakan momok bagi kaum perempuan dan kasus seperti ini cukup dibilang kasus yang sering terjadi, maka dari itu akan lebih baik jika bisa dilakukan pencegahan yang efektif.
 
H. Tindakan Pencegahan
Langkah-langkah bisa yang disarankan untuk pencegahan, seperti:
1. Melakukan pemeriksaan USG dan / atau pemeriksaan rahim secara rutin, untuk deteksi dini ada kista yang bisa menyebabkan terjadinya penebalan dinding rahim.
2. Melakukan konsultasi ke dokter jika mengalami gangguan seputar menstruasi apakah itu haid yang tak teratur, jumlah mestruasi yang banyak ataupun tak kunjung haid dalam jangka waktu lama.
















ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. N USIA 60 TAHUN P2A0
DENGAN INSUSPECT HIPERPLASIA ENDOMETRIUM
DI PKU TEMANGGUNG
Jl. KH. A. Dahlan No. 49 Temanggung
No. Register : 90932
Tanggal / jam : 10 Mei 2011, pukul 10.00 WIB
Tempat : Ruang Anggrek
I. DATA SUBYEKTIF
IDENTITAS Istri Suami
Nama Ny. N Tn. A.
Umur 60 Tahun 55 Tahun
Agama Islam Islam
Suku/Bangsa Jawa/Indonesia Jawa/Indonesia
Pendidikan D3 S1
Pekerjaan PNS PNS
Alamat Jl Mawar No.9 Srandakan, Bantul,Yogyakarta
No. telp. 085729123456 085729456123
1. Alasan kunjungan
Ibu ingin memeriksakan kondisi kesehatanya
2. Keluhan Utama
ibu mengeluh terus menerus, dengan perdarahan yang banyak, beberapa hari ini sering timbul flek disertai dengan sakit kepala. sejak seminggu yang lalu
3. Riwayat Menstruasi :
HPHT : ibu sudah menopause sejak usia 50 taun. ibu pernah memiliki riwayat menstruasi yang tidak teratur
4. Riwayat Obstetri :
Jumlah anak yang dimiliki : 1 orang
No Jenis Kelamin Persalinan Penolong Komplikasi Lahir
1



Perempuan

Normal sponta
am
Bidan

-


Th 1991




5. Riwayat Kontrasepsi
Ibu memakai kontrasepsi jenis pil selama 3 tahun kemudian memutuskan untuk menggunakan kontrasepsi mantap sejak 1996
6. Riwayat Kesehatan:
- Penyakit yang sedang/pernah diderita :
Ibu mengatakan tidak pernah atau sedang menderita penyakit menular, menurun dan menahun seperti hipertensi, DM, dan HIV/AIDS. tetapi ibu mendapatkan terapi sulih hormon sejak 2 tahun yang lalu karena mengalami keluhan selama menopause.
- Penyakit yang pernah/sedang diderita keluarga
Ibu mengatakan bahwa keluarganya tidak ada atau sedang menderita penyakit menular, menurun dan menahun seperti hipertensi, DM, penyakit cardiovaskuler dan HIV/AIDS.

7. Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari :
Pola Nutrisi :
Makan Minum
Frekuensi 3x/hari 8 gelas/hari
Macam Nasi, lauk, sayur Air putih
Jumlah 1 porsi habis 1 gelas
Keluhan - -

Pola Eliminasi :
BAB BAK
Frekuensi 1x/2 hari 5-6x/hari
Warna Kuning kecoklatan Kuning
Bau Khas Khas
Konsistensi Agak lembek Cair
Jumlah

8. Pola Aktivitas
- Personal Hygiene : ibu mandi 2x/hari,ganti baju 2x/hari,
- Kegiatan sehari-hari : berkebun, memasak, membersihkan rumah
- Istirahat dan tidur : 6-8 jam/hari
- Seksualitas :tidak rutin setiap minggu, keluhan : ibu merasa tidak nyaman dan terganggu ketika berhubungan seksual.
- ibu mengatakan mudah lelah ketika beraktivitas

9. Riwayat Psikososial Spiritual :
- Ibu tinggal dengan suami dan ank-anaknya
- Hubungan ibu, suami, keluarga dan masyarakat baik
- Ibu ikut organisai PKK untuk mengisi kegiatannya di masyarakat.
- Ibu sebagi seorang muslim taat melaksanakan sholat 5 waktu

II. DATA OBYEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
a. Keadaan umum : baik
Kesadaran : composmentis
b. Tanda vital
Tekanan darah : 130/80 mmHg
Nadi : 80x /menit
Suhu : 36,5oC
Pernapasan : 20x /menit
c. TB/BB/LILA : 151 cm/ 80 kg/ 29 cm.
2. Pemeriksaan fisik
1) Kepala : mesosefal
Mata : simetris, sklera putih, konjungtiva merah muda, tidak juling
Mulut : simetris, tidak ada caries, tidak berbau, tidak ada tanda-tanda sianosis, beberapa gigi sudah tanggal
Leher : tidak ada massa tumor, tidak ada nyeri tekan, tidak ada pembesaran kelenjar thyroid maupun vena jugula
2) Payudara : simetris, puting menonjol, tidak ada massa tumor
3) Abdomen
Inspeksi : simetris kiri-kanan
Palpasi : tidak ada nyeri perut
4) Genital :
Kel. Bartholini : tidak ada pembengkakan
Pengeluaran : darah dengan jumlah banyak kurang lebih 70 cc
Perineum : -
Anus : tidak ada haemoroid
5) Ekstremitas :
kaki : simetris, kuku pendek dan bersih, reflek +/+
tangan : simetris, kuku pendek dan bersih
3. Data Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium : Hysterescopy terdapat gambaran swiss cheese pattern
b. Pemeriksaan penunjang yang lain : USG transvaginal

III. ASSASMENT, tanggal 3 Mei 2011 pukul 10.30 WIB
Seorang Ibu umur 60 tahun P1A0 suspec hiperplasia endometrium

IV. PLANNING, tanggal 3 Mei 2011 pukul 10.30 WIB
1) Menyampaikan pada ibu dan suami tentang hasil pemeriksaan
• Ibu dan suami mengerti dengan penjelasan yang diberikan
2) Memberikan saran kepada ibu agar tetap tenang dalam menerima kondisinya supaya keadaannya juga tidak menurun
• Ibu bersedia agar selalu tenang agar kondisinya tidak menurun
3) menganjurkan kepada ibu untuk makan makanan bergizi
• ibu menyanggupi untuk makan makanan yang bergizi.
4) menganjurkan kepada ibu untuk rutin mengganti pembalut
• ibu mau mengganti pembalut
5) menunggu hasil pemeriksaan laboratorium agar mendapatkan terapi sesuai advice dokter.
• ibu mau menunggu hasil laboratorium.
6) Menganjurkan kepada ibu untuk selalu ingat kepada Allah untuk mohon kesembuhan
• Ibu bersedia meningkatkan ibadah lebih intensif untuk mendekatkan diri dengan Allah
7) Menganjurkan kepada suami dan keluarga untuk selalu memberikan motivasi kepada ibu di saat-saat yang sulit.
• Suami bersedia memberikan motivasi penuh demi kesembuhan ibu.
8) melakukan pendokumentasian asuhan yang telah diberikan


TTD
(Nama Terang Bidan)



BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Hiperplasia endometrium adalah pertumbuhan yang berlebih dari kelenjar, dan stroma disertai pembentukan vaskularisasi dan infiltrasi limfosit pada endometrium. Bersifat noninvasif, yang memberikan gambaran morfologi berupa bentuk kelenjar yang irreguler dengan ukuran yang bervariasi. gejalanya tidak haid dalam jangka waktu lama (amenorrhoe) ataupun menstruasi terus-menerus dan banyak (metrorrhagia). diklasifikasikan menjadi 3 yaitu simplek, kritik dan atipik. penegakan diagnosa melalui kuretase. pengobatan awal dengan kuretase dan terapi progesteron

B. B.Saran
Mencegah akan selalu lebih baik daripada mengobati. Hal itu seharusnya menjadi pedoman agar kita bias terhindar dari berbagai penyakit. Seperti halnya pada hiperplasia endometrium. Mencegah terjadinya adenokarsinoma berarti mengurangi terjadinya angka kematian dan menambah umur harapan hidup pada lansia.







DAFTAR PUSTAKA

Prawiroharjo Sarwono.2007.Ilmu Kandungan.Jakarta:YYBSP
Baziad Ali,dkk.1993.Endokrinologi ginekologi.jakarta:KSERI
Arif Mansjoer, dkk.2001.Kapita selekta kedokteran.Jakarta:Media Aesculapius

KARSINOMA SERVIK

Makalah ini disusun guna melengkapi tugas Askeb IVB
Dosen pembimbing : Mei Muhartati,S.SiT





Disusun Oleh :
1. Nunung Nurul Umami ( 090105097 )
2. Tias Rizki Ferlina ( 090105098 )
3. Zustiya Prihartanti ( 090105099 )
4. Karlina Febri Nurrahma ( 090105100 )
5. Funny Indah Lestari (090105101 )
6. Annesia Normalina B (090105102 )
7. Risqina Rosiani (090105103 )
8. Cesaria Metripalupi (090105104 )
9. Rinawati Pratiwi (090105105 )





PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
2011
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Kesehatan ibu merupakan salah satu sasaran dari upaya pembangunan kesehatan di Indonesia. Salah satu bentuk upaya pelayanan kesehatan pada ibu dan wanita pada umumnya adalah kesehatan reproduksi wanita. Perkembangan disegala bidang sebagai dampak dari keberhasilan pembangunan, memberikan berbagai nilai positif bagi perkembangan kesehatan diIndonesia. Namun, dilain pihak dampak pembangunan juga sangat mempengaruhi prilaku masyarakat. Pergeseran norma dan pola hidup mengakibatkan pergeseran prilaku lapisan masyarakat termasuk didalamnya wanita. Perubahan terhadap prilaku sex, kebiasaan konsumsi, pemeliharaan kebersihan diri dan kebersihan lingkungan memiliki kontribusi terhadap munculnya berbagai penyakit degeneratif maupun infeksi. Salah satu bentuk penyakit ganas yang mengenai wanita adalah kanker serviks (E. Sutarto, 1989 hal 1).
Kanker serviks biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun. 90% dari kanker serviks berasal dari sel skuamosa yang melapisi serviks dan 10% sisanya berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju ke dalam rahim.

A. Rumusan masalah
1. Apa pengertian dari carcinoma serviks?
2. Apa penyebab dari carcinoma serviks ?
3. Bagaimana keadaan prekanker pada serviks ?
4. Bagaimana tanda dan gejala dari carcinoma serviks ?
5. Bagaimana klasifikasi dari carcinoma serviks ?
6. Bagaimana pemeriksaan diagnosis dari carcinoma serviks ?
7. Bagaimana cara pencegahan carcinoma serviks ?
8. Bagaimana pengobatan dari carcinoma serviks ?


B. Tujuan
1. Tujuan umum
Adapun tujuan umum penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Askeb IV dan untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa mengenai carcinoma serviks.
2. Tujuan khusus
1. Mahasiswa dapat mengerti dan memahai tentang carcinoma serviks.
2. Mahasiswa dapat mengetahui penyebab dari carcinoma serviks.
3. Mahasiwa dapat mengetahui keadaan prekanker pada serviks ?
4. Mahasiswa dapat mengetahui dan mengenali tanda dan gejala dari carcinoma serviks ?
5. Mahasisawa dapat mengetahui klasifikasi dari carcinoma serviks ?
6. Mahasisawa dapat mengetahui pemeriksaan diagnosis dari carcinoma serviks ?
7. Mahasisawa dapat mengetahui cara pencegahan carcinoma serviks ?
8. Mahasisawa dapat mengetahui Bagaimana pengobatan dari carcinoma serviks ?

C. Manfaat
1. Bagi Mahasiswa
Makalah ini bermanfaat sebagai suatu referensi baru bagi mahasiswa kebidanan sebagai sarana belajar kaitannya dengancarcinoma serviks.
2. Bagi Bidan
Makalah ini bermanfaat sebagai aplikasi pelayanan gangguan kesehatan reproduksi. Sehingga dengan mengetahui tentang carcinoma serviks lebih mendalam.
3. Bagi Masyarakat
Masyarakat dapat mengetahui bagaimana tindakan pemeriksaan secara dini agar dapat ditangani sejak awal.



BAB II
ISI


A. PENGERTIAN
Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di sekitarnya (FKUI, 1990; FKKP, 1997).

B. ETIOLOGI
Penyebab kanker serviks belum jelas diketahui namun ada beberapa faktor resiko dan predisposisi yang menonjol, antara lain :
1. Umur pertama kali melakukan hubungan seksual
Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan seksual semakin besar mendapat kanker serviks. Kawin pada usia 20 tahun dianggap masih terlalu muda
2. Jumlah kehamilan dan partus
Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus. Semakin sering partus semakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma serviks.
3. Jumlah perkawinan
Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan berganti-ganti pasangan mempunyai faktor resiko yang besar terhadap kankers serviks ini.
4. Infeksi virus
Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dan virus papiloma atau virus kondiloma akuminata diduga sebagai factor penyebab kanker serviks
5. Sosial Ekonomi
Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah mungkin faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi, imunitas dan kebersihan perseorangan. Pada golongan sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi imunitas tubuh.

6. Hygiene dan sirkumsisi
Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kankers serviks pada wanita yang pasangannya belum disirkumsisi. Hal ini karena pada pria non sirkum hygiene penis tidak terawat sehingga banyak kumpulan-kumpulan smegma.
7. Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim)
Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker, sedangkan pemakaian AKDR akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari adanya erosi diserviks yang kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terus menerus, hal ini dapat sebagai pencetus terbentuknya kanker serviks.

C. Keadaan Prekanker pada serviks
Keadaan Prekanker Pada Serviks Sel-sel pada permukaan serviks kadang tampak abnormal tetapi tidak ganas. Para ilmuwan yakin bahwa beberapa perubahan abnormal pada sel-sel serviks merupakan langkah awal dari serangkaian perubahan yang berjalan lambat, yang beberapa tahun kemudian bisa menyebabkan kanker. Karena itu beberapa perubahan abnormal merupakan keadaan prekanker, yang bisa berubah menjadi kanker. Saat ini telah digunakan istilah yang berbeda untuk perubahan abnormal pada sel-sel di permukaan serviks, salah satu diantaranya adalah lesi skuamosa intraepitel (lesi artinya kelainan jaringan, intraepitel artinya sel-sel yang abnormal hanya ditemukan di lapisan permukaan).
Perubahan pada sel-sel ini bisa dibagi ke dalam 2 kelompok:
1. Lesi tingkat rendah : merupakan perubahan dini pada ukuran, bentuk dan jumlah sel yang membentuk permukaan serviks. Beberapa lesi tingkat rendah menghilang dengan sendirinya. Tetapi yang lainnya tumbuh menjadi lebih besar dan lebih abnormal, membentuk lesi tingkat tinggi. Lesi tingkat rendah juga disebut displasia ringan atau neoplasia intraepitel servikal 1 (NIS 1). Lesi tingkat rendah paling sering ditemukan pada wanita yang berusia 25-35 tahun, tetapi juga bisa terjadi pada semua kelompok umur.
2. Lesi tingkat tinggi : ditemukan sejumlah besar sel prekanker yang tampak sangat berbeda dari sel yang normal. Perubahan prekanker ini hanya terjadi pada sel di permukaan serviks. Selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, sel-sel tersebut tidak akan menjadi ganas dan tidak akan menyusup ke lapisan serviks yang lebih dalam. Lesi tingkat tinggi juga disebut displasia menengah atau displasia berat, NIS 2 atau 3, atau karsinoma in situ. Lesi tingkat tinggi paling sering ditemukan pada wanita yang berusia 30-40 tahun.

D. Tanda dan gejala
Gejala biasanya baru muncul ketika sel serviks yang abnormal berubah menjadi keganasan dan menyusup ke jaringan di sekitarnya. Pada saat ini akan timbul gejala berikut:
1. Perdarahan vagina yang abnormal, terutama diantara 2 menstruasi, setelah melakukan hubungan seksual dan setelah menopause.
2. Menstruasi abnormal (lebih lama dan lebih banyak).
3. Keputihan yang menetap, dengan cairan yang encer, berwarna pink, coklat, mengandung darah atau hitam serta berbau busuk.

Gejala dari kanker serviks stadium lanjut:
1. Nafsu makan berkurang, penurunan berat badan, kelelahan.
2. Nyeri panggul, punggung atau tungkai.
3. Dari vagina keluar air kemih atau tinja.
4. Patah tulang (fraktur).
5. Biasanya menyerupai air, kadang-kadang timbulnya sebeluma ada perdarahan. Pada stadium lebih lanjut perdarahan dan keputihan lebih banyak disertai infeksi sehingga cairan yang keluar berbau.

E. Klasifikasi
1. Stage 0:Ca.Pre invasive
2. Stage I: Ca. Terbatas pada serviks
3. Stage Ia ; Disertai invasi dari stroma yang hanya diketahui secara histopatologis
4. Stage Ib : Semua kasus lainnya dari stage I
5. Stage II : Sudah menjalar keluar serviks tapi belum sampai kepanggul telah mengenai dinding vagina. Tapi tidak melebihi dua pertiga bagian proksimal
6. Stage III : Sudah sampai dinding panggul dan sepertiga bagian bawah vagina
7. Stage IIIB : Sudah mengenai organ-organ lain.
F. Pemeriksaan Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan berikut:
1. Pap smear. Pap smear dapat mendeteksi sampai 90% kasus kanker serviks secara akurat dan dengan biaya yang tidak terlalu mahal. Akibatnya angka kematian akibat kanker servikspun menurun sampai lebih dari 50%. Setiap wanita yang telah aktif secara seksual atau usianya telah mencapai 18 tahun, sebaiknya menjalani Pap smear secara teratur yaitu 1 kali/tahun. Jika selama 3 kali berturut-turut menunjukkan hasil yang normal, Pap smear bisa dilakukan 1 kali/2-3tahun. Hasil pemeriksaan Pap smear menunjukkan stadium dari kanker serviks:
- Normal.
- Displasia ringan (perubahan dini yang belum bersifat ganas).
- Displasia berat (perubahan lanjut yang belum bersifat ganas).
- Karsinoma in situ (kanker yang terbatas pada lapisan serviks paling luar).
- Kanker invasif (kanker telah menyebar ke lapisan serviks yang lebih dalam atau ke organ tubuh lainnya).
2. Biopsi. Biopsi dilakukan jika pada pemeriksaan panggul tampak suatu pertumbuhan atau luka pada serviks, atau jika Pap smear menunjukkan suatu abnormalitas atau kanker. 3. Kolposkopi. Kolposkopi adalah suatu prosedur pemeriksaan vagina dan leher rahims oleh seorang dokter yang berpengalaman dalam bidang tersebut. Dengan memeriksa permukaan leher rahims, dokter akan menentukan penyebab abnormalitas dari sel-sel leher rahims seperti yang dinyatakan dalam pemeriksaan 'Pap Smear'. Cara pemeriksaan kolposkopi adalah sebagai berikut: dokter akan memasukkan suatu cairan kedalam vagina dan memberi warna saluran leher rahims dengan suatu cairan yang membuat permukaan leher rahims yang mengandung sel-sel yang abnormal terwarnai.. Kemudian dokter akan melihat kedalam saluran leher rahims melalui sebuah alat yang disebut kolposkop. Kolposkop adalah suatu alat semacam mikroskop binocular yang mempergunakan sinar yang kuat dengan pembesaran yang tinggi. Jika area yang abnormal sudah terlokalisasi, dokter akan mengambil sampel pada jaringan tersebut (melakukan biopsi) untuk kemudian dikirim ke lab guna pemeriksaan yang mendetail dan akurat. Pengobatan akan sangat tergantung sekali pada hasil pemeriksaan kolposkopi anda. 4. Tes Schiller. Serviks diolesi dengan lauran yodium, sel yang sehat warnanya akan berubah menjadi coklat, sedangkan sel yang abnormal warnanya menjadi putih atau kuning.
G. Pencegahan
1. Mencegah terjadinya infeksi HPV.
2. Tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan cara pemberian vaksinasi HPV, atau dengan menghilangkan resiko perilaku seksual yang meningkatkan paparan terhadap virus tersebut.
3. Melakukan pemeriksaan pap smear secara teratur.
4. Mengonsumsi vitamin A, C dan E dapat menghentikan atau mencegah perubahan keganasan pada sel-sel leher rahim
H. Pengobatan
Pemilihan pengobatan untuk kanker serviks tergantung kepada lokasi dan ukuran tumor, stadium penyakit, usia, keadaan umum penderita dan rencana penderita untuk hamil lagi. 1. Pembedahan.
Pada karsinoma in situ (kanker yang terbatas pada lapisan serviks paling luar), seluruh kanker seringkali dapat diangkat dengan bantuan pisau bedah ataupun melalui LEEP. Dengan pengobatan tersebut, penderita masih bisa memiliki anak. Karena kanker bisa kembali kambuh, dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan ulang dan Pap smear setiap 3 bulan selama 1 tahun pertama dan selanjutnya setiap 6 bulan. Jika penderita tidak memiliki rencana untuk hamil lagi, dianjurkan untuk menjalani histerektomi. Pada kanker invasif, dilakukan histerektomi dan pengangkatan struktur di sekitarnya (prosedur ini disebut histerektomi radikal) serta kelenjar getah bening. Pada wanita muda, ovarium (indung telur) yang normal dan masih berfungsi tidak diangkat.
2. Terapi penyinaran.
Terapi penyinaran (radioterapi) efektif untuk mengobati kanker invasif yang masih terbatas pada daerah panggul. Pada radioterapi digunakan sinar berenergi tinggi untuk merusak sel-sel kanker dan menghentikan pertumbuhannya. Ada 2 macam radioterapi: - Radiasi eksternal : sinar berasar dari sebuah mesin besar. Penderita tidak perlu dirawat di rumah sakit, penyinaran biasanya dilakukan sebanyak 5 hari/minggu selama 5-6 minggu. - Radiasi internal : zat radioaktif terdapat di dalam sebuah kapsul dimasukkan langsung ke dalam serviks. Kapsul ini dibiarkan selama 1-3 hari dan selama itu penderita dirawat di rumah sakit. Pengobatan ini bisa diulang beberapa kali selama 1-2 minggu.
Efek samping dari terapi penyinaran adalah: iritasi rektum dan vagina, kerusakan kandung kemih dan rectum, ovarium berhenti berfungsi.
3. Kemoterapi.
Jika kanker telah menyebar ke luar panggul, kadang dianjurkan untuk menjalani kemoterapi. Pada kemoterapi digunakan obat-obatan untuk membunuh sel-sel kanker. Obat anti-kanker bisa diberikan melalui suntikan intravena atau melalui mulut. Kemoterapi diberikan dalam suatu siklus, artinya suatu periode pengobatan diselingi dengan periode pemulihan, lalu dilakukan pengobatan, diselingi denga pemulihan, begitu seterusnya.
4. Terapi biologis.
Pada terapi biologis digunakan zat-zat untuk memperbaiki sistem kekebalan tubuh dalam melawan penyakit. Terapi biologis dilakukan pada kanker yang telah menyebar ke bagian tubuh lainnya. Yang paling sering digunakan adalah Interferon, yang bisa dikombinasikan dengan kemoterapi.














BAB IV
PENUTUP

KESIMPULAN
Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di sekitarnya.Penyebabnya adalah umur pertama kali melakukan hubungan seksual, jumlah kehamilan, jumlah perkawinan, infeksi virus, social ekonomi, Hygiene, merokok. Pengobatanya yaitu dengan cara pembedahan, terapi penyinaran, kemoterapi, terapi biologis.

SARAN
Dengan mengetahui faktor resiko yang telah dijelaskan diatas diharapkan pembaca dapat menghindari faktor resiko yang dapat menyebabkan kanker servik dan tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan cara pemberian vaksinasi HPV, atau dengan menghilangkan resiko perilaku seksual yang meningkatkan paparan terhadap virus tersebut.
















ASUHAN KEBIDANAN PADA Ny “P” UMUR 42 TAHUN
DENGAN KANKER CERVIKS di BPS CINTA KASIH YOGYAKARTA

1. PENGKAJIAN
Tanggal : 23 November 2009
Jam : 10.00 WIB
No. RM : 10852418
Oleh : Bidan

2. DATA SUBYEKTIF
1. Biodata
Ibu Suami
Nama : Ny. P Tn. M
Umur : 42 tahun 49 tahun
Agama : Islam Islam
Pendidikan : SMP SMA
Pekerjaan : IRT Wiraswasta
Alamat : Serangan, Yogyakarta Serangan, Yogyakarta

1. Keluhan Utama
Ibu mengeluh mengeluarkan pendarahan melalui jalan lahir sejak ± 1 minggu yang lalu, pendarahan bergumpal, mual muntah dan nyeri perut bagian bawah.
2. Riwayat Kesehatan Sekarang
Ibu mengatakan ini adalah kunjungannya yang pertama ke poli Onkologi untuk melakukan kontrol setelah KRS dari Ruang RSSA Malang. Saat ini ibu mengeluh mengeluarkan pendarahan melalui jalan lahir sejak ± 1 minggu yang lalu, mual muntah dan nyeri perut bawah. Ibu tidak sedang menderita darah tinggi, kencing manis, TBC, hepatitis, HIV/AIDS, dll.
3. Riwayat Menstruasi
Menarche : 14 tahun
Siklus : 30 hari / teratur
Lamanya : ± 2 minggu
Banyaknya : 2 x ganti kotex / hari (penuh)
Warna : Merah kehitaman
Bau : Anyir
Dismenorrhea : Ya, sebelum dan saat menstruasi
Fluor Albus : Ya
HPHT : ± 1 tahun yang lalu / bulan Oktober 2008
4. Riwayat Perkawinan
a. Istri
Perkawinan ke : 1
Umur nikah : 19
Lama menikah : 23


b. Suami
Perkawinan ke : 1
Umur nikah : 27
Lama Menikah : 23
5. Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas Yang Lalu
P2 A0 Ah2
Kehamilan Persalinan Nifas KB
Suami UK Pylt Jns psl Penol L/P BBL Pnylt Mntk Mtd
1 39 mgg - Normal Bidan L 3500 gr PRM - -
1 40 mgg - Normal Bidan L 3400 gr - -

6. Riwayat KB
Ibu mengatakan setelah melahirkan anak pertama ibu menggunakan KB pil selama 4 tahun kemudian berhenti karena ingin punya anak. Setelah melahirkan anak ke dua ibu menggunakan kontrasepsi KB pil smpai sekarang.
7. Pola Kebiasaan Sehari-hari
a. Nutrisi
Makan : 3 x /hari dengan menu nasi 1 piring, sayur, lauk (tahun, tempe, telur, ayam/daging).
Minum : 6-7 gelas air putih /hari, kadang minum teh, tidak pernah minum susu.
b. Istirahat
Tidur malam jam 21.00 – 05.00 WIB (± 8 jam).
Tidur siang jam 12.00 – 14.00 WIB (± 2 jam).

c. Aktivitas
Ibu melakukan pekerjaannya sebagai IRT sseperti memasak, mencuci, menyapu dan mengurus anak serta suami.
d. Eliminasi
BAB: 1-2 x /hari (konsisten lunak, warna kuning, bau khas).
BAK: 5-6 x /hari (warna kuning jernih).
Saat ini Px BAK 6-8 x /hari (warna kuning jernih).
e. Seksual
Ibu mengatakan melakukan hubungan seksual 2 x /minggu.
Ibu mengatakan tidak pernah melakukan hubungan seksual sejak 1 bulan yang lalu.
f. Kebiasaan Lain
Ibu mengatakan tidak pernah merokok, minum alkohol, tidak pernah minum jamu dan tidak memelihara hewan seperti anjing, kucing, kera dan burung

8. Keadaan Psikososial Spiritual
Keadaan Psikologis
Ibu mengatakan merasa sedih dan lemas dengan keadaan yang dialaminya.
Keadaan Sosial
Ibu mengatakan hubungan ibu dengan suami, keluarga dan lingkungan sekitar baik.
Keadaan Spiritual
Ibu mengatakan selalu melakukan sholat 5 waktu dan berdoa demi kesehatannya.
B. DATA OBYEKTIF
KU : Cukup
Kesadaran : Composmentis
TTV : TD : 120 / 70 mmHg
N : 84 x /menit
S : 37º C
RR : 24 x /menit
BB : 55 kg
TB : 152 cm
Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi
Kepala : Simetris, rambut hitam, penyebaran merata, tidak rontok, bersih.
Muka : Simetris, pucat, tidak oedem.
Mata : Sklera putih, konjungtiva pucat, tidak ada oedem palpebra,
Hidung : Simetris, bersih, tidak ada sekret.
Mulut : Bersih, mukosa bibir lembab, tidak ada stomatitis, tidak syanosis.
Telinga : Bersih tidak ada serumen.
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan bendungan vena jugularis.
Dada : Simetris, tidak ada retraksi dinding dada.
Payudara : Simetris, tidak ada benjolan abnormal, puting susu menonjol.
Abdomen : Simetris, tidak ada bekas luka operasi, tidak ada benjolan abnormal.
Genetalia : Terdapat pendarahan pervaginam ± 50 CC, tidak ada oedem.
Ekstremitas atas : Simetris, tidak ada gangguan aktivitas.
Ekstremitas bawah : Simetris, tidak ada oedem, tidak ada varises, tidak ada gangguan pergerakan.

b. Palpasi
Kepala : Tidak ada benjolan abnormal.
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan bendungan vena jugularis.
Payudara : Tidak teraba benjolan abnormal dan nyeri tekan.
Abdomen : Tidak teraba benjolan abnormal, terdapat nyeri tekan pada bagian bawah.
Ekstremitas : Tidak ada oedem, tidak ada varises

ASSESMENT
Ny “P” P2 A0 Ah2 Umur 42 tahun dengan Ca Cervix.

PLANNING
1. Melakukan pendekatan pada klien dengan cara komunikasi terapeutik untuk menjelaskan tentang kondisi klien saat ini serta untuk menjelaskan tentang tindakan yang akan dilakukan.
• Ibu mengatakan lebih tenang, serta mengerti dan mampu menjelaskan kembali tentang penjelasan yang diberikan oleh Bidan
2. Memberitahukan ibu tentang hasil pemeriksaan vital sign.
KU : Cukup
Kesadaran : Composmentis
TTV : TD : 120 / 70 mmHg
N : 84 x /menit
S : 37º C
RR : 24 x /menit
BB : 55 kg
TB : 152 cm
• Ibu mengerti dengan keadaannya.
3. Memberitahukan kesimpulan dari pemeriksaan fisik ibu yaitu ibu mengalami penyakit Ca Cervik .
• Ibu merasa cemas dan takut akan kondisinya.
4. Memberikan dukungan moril dan spiritual untuk mengatasi kecemasan ibu.
• Ibu tampak agak berkurang kecemasannya.
5. Menyarankan ibu untuk beristirahat di tempat tidur dengan beristirahat akan mengurangi beban kerja tubuh.
• ibu mau beristirahat di tempat tidur.
6. Menyarankan ibu untuk memeriksakan keadaannya ke dokter SpOG untuk melakukan :
a. Kolposkopi
b. Biopsi
c. Paps Smear
• Ibu bersedia memeriksakan keadaannya ke dokter SpOG.


Petugas


Bidan

















CANDILOMA AKUMINATA
Makalah ini disusun guna melengkapi tugas Askeb IVB
Dosen pembimbing : Mei Muhartati,S.SiT





Disusun Oleh :
1. Nunung Nurul Umami ( 090105097 )
2. Tias Rizki Ferlina ( 090105098 )
3. Zustiya Prihartanti ( 090105099 )
4. Karlina Febri Nurrahma ( 090105100 )
5. Funny Indah Lestari (090105101 )
6. Annesia Normalina B (090105102 )
7. Risqina Rosiani (090105103 )
8. Cesaria Metripalupi (090105104 )
9. Rinawati Pratiwi (090105105 )





PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
2011
BAB I
PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG
Kondiloma Akuminata merupakan salah satu penyakit menular seksual. Selain Gonore (GO), Sifilis,Chlamydia, Herpes Genetalis, kutu kemaluan (pubic lice), Vaginitis. Penularan penyakit menular seksual umumnya adalah melalui hubungan seksual, sedangkan cara lainnya yaitu melalui transfusi darah, jarum suntik, ibu hamil kepada bayi yang dikandungnya, dan lain-lain.
Di Amerika Serikat cenderung meningkat 4-5 kali lipat dalam dua dekade terakhir, insidensi tertinggi pada wanita usia 20-30 tahun. Setiap tahun ada 500.000-1.000.000 kasus baru yang ditemukan di Amerika Serikat. Laporan lain telah mencatat bahwa prevalensi penyakit ini empat kali lebih tinggi dalam dua dekade terakhir ini. Laporan dari klinik penyakit menular seksual (PMS) di Inggris, bahwa jumlah kasus baru meningkat dua kali lipat dalam dekade terakhir ini. Di negara Hongkong penyakit ini menduduki peringkat kedua PMS, dan akhir-akhir ini insidensi penyakit ini meningkat terus. Data rumah sakit di Indonesia menunjukkan bahwa penyakit ini menduduki peringkat ketiga diantara penyakit penular seksual, sesudah uretritis gonore dan non gonore.

B. TUJUAN
1. Untuk mengetahui definisi kondiloma akuminata
2. Untuk mengetahui patofisiologi kondiloma akuminata
3. Untuk mengetahui gejala kondiloma akuminata
4. Untuk mengetahui Penatalaksanaan kondiloma akuminata


C. MANFAAT

1. Mahasiswa mampu untuk ntuk mengetahui definisi kondiloma akuminata
2. Mahasiswa mampu untuk mengetahui patofisiologi kondiloma akuminata
3. Mahasiswa mampu untuk mengetahui gejala kondiloma akuminata
4. Mahasiswa mampu untuk mengetahui Penatalaksanaan kondiloma akuminata




 
BAB II
ISI

A. Definisi
Kondiloma akuminata adalah:
1. Tumor pada genitalia yang ditemukan pada laki-laki maupun perempuan dan bersifat lunak seperti jengger ayam.
2. Pertumbuhan jaringan yang bersifat jinak, superfisial, terutama di daerah genitalia (kelamin)
3. Penyakit Menular Seksual disebabkan infeksi virus papiloma human (VPH) tipe 6 dan 11. Pertumbuhan nya mula – mula kecil, kemudian cenderung berkelompok dan menyatu membentuk suatu benjolan yang besar yang menyerupai bunga kol [seperti jengger ayam atau brokoli].

Condyloma accuminatum [Kondiloma akuminata ] juga dikenal sebagai:
1. Kutil kelamin
2. Kutil kemaluan
3. Kutil genital (kutil genitalia)
4. Genital warts
5. Veruka akuminata
6. Venereal wart
7. Jengger ayam

B. Penyebab
Virus DNA golongan Papovavirus, yaitu: Human Papilloma Virus (HPV). HPV tipe 6 dan 11 menimbulkan lesi dengan pertumbuhan (jengger ayam). HPV tipe 16, 18, dan 31 menimbulkan lesi yang datar (flat). HPV tipe 16 dan 18 seringkali berhubungan dengan karsinoma genitalia (kanker ganas pada kelamin). Masa inkubasi Kondiloma akuminata berlangsung antara 1-8 bulan (rata-rata 2-3 bulan). VPH (virus papiloma humanus) masuk ke dalam tubuh melalui mikrolesi pada kulit, sehingga kondiloma akuminata sering timbul di daerah yang mudah mengalami trauma pada saat hubungan seksual. Pada pria, tempat yang sering terkena adalah glans penis, sulkus koronarius, frenulum dan batang penis, sedang pada wanita adalah fourchette posterior, vestibulum, dll.

C. Patofisiologi
Sel dari lapisan basal epidermis diinvasi oleh HPV. Hal ini berpenetrasi melalui kulit dan menyebabkan mikro abrasi mukosa. Fase virus laten dimulai dengan tidak ada tanda atau gejala dan dapat berakhir hingga bulan dan tahun. Mengikut fase laten, produksi DNA virus, kapsid dan partikel dimulai. Sel Host menjadi terinfeksi dan timbul atipikal morfologis koilocytosis dari kondiloma akuminata. Area yang paling sering terkena adalah penis, vulva, vagina, serviks, perineum dan perineal. Lesi mukosa yang tidak biasa adalah di oropharynx, larynx, dan trachea telah dilaporkan. HPV-6 bahkan telah dilaporkan di area lain yang tidak biasa (ekstremitas). Lesi simultan multiple juga sering dan melibatkan keadaan subklinis sebagaimana anatomi yang berdifferensiasi dengan baik. Infeksi subklinis telah ditegakkan dalam membawa keadaan infeksi dan potensi akan onkogenik.

Kondiloma akuminata dibagi dalam 3 bentuk:
1. Bentuk akuminata
Terutama dijumpai pada daerah lipatan dan lembab. Terlihat vegetasi bertangkai dengan permukaan berjonjot seperti jari. Beberapa kutil dapat bersatu membentuk lesi yang lebih besar sehingga tampak seperti kembang kol. Lesi yang besar ini sering dijumpai pada wanita yang mengalami fluor albus dan pada wanita hamil, atau pada keadaan imunitas terganggu.
2. Bentuk papul
Lesi bentuk papul biasanya didapati di daerah dengan keratinisasi sempurna, seperti batang penis, vulva bagian lateral, daerah perianal dan perineum. Kelainan berupa papul dengan permukaan yang halus dan licin, multipel dan tersebar secara diskret.
3. Bentuk datar
Secara klinis, lesi bentuk ini terlihat sebagai makula atau bahkan sama sekali tidak tampak dengan mata telanjang, dan baru terlihat setelah dilakukan tes asam asetat. Dalam hal ini penggunaan kolposkopi sangat menolong.

5. Gejala Klinis
a. Terdapat papul atau tumor (benjolan), dapat soliter (tunggal) atau multipel (banyak) dengan permukaan yang verukous atau mirip jengger ayam.
b. Terkadang penderita mengeluh nyeri. Jika timbul infeksi sekunder berwarna kemerahan akan berubah menjadi keabu-abuan dan berbau tidak sedap.
c. Umumnya di daerah lipatan yang lembab pada genitalia eksterna. Pada pria, misalnya di: perineum dan sekitar anus, sulkus koronarius, gland penis, muara uretra eksterna, prepusium, korpus dan pangkal penis. Pada wanita, misalnya di: vulva dan sekitarnya, introitus vagina, labia mayor, labia minor, terkadang pada porsio uteri.

Penegakan Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis. Dapat dilakukan pemeriksaan penunjang dengan:
1. Tes asam asetat
Bubuhkan asam asetat 5% dengan lidi kapas pada lesi yang dicurigai. Dalam beberapa menit lesi akan berubah warna menjadi putih (acetowhite). Perubahan warna pada lesi di daerah perianal perlu waktu lebih lama (sekitar 15 menit).
2. kolposkopi
Merupakan tindakan yang rutin dilakukan di bagian kebidanan. Pemeriksaan ini terutama berguna untuk melihat lesi kondiloma akuminata subklinis, dan kadang-kadang dilakukan bersama dengan tes asam asetat.
3. Histopatologi
Pada kondiloma akuminata yang eksofitik, pemeriksaan dengan mikroskop cahaya akan memperlihatkan gambaran papilomatosis, akantosis, rete ridges yang memanjang dan menebal, parakeratosis dan vakuolisasi pada sitoplasma.





Diagnosis Banding
1. Kondiloma lata atau kondiloma latum (pada sifilis).
2. Moluskum kontagiosum.
3. Veruka vulgaris.
4. Karsinoma sel skuamos
5. Rhabdomyolysis


6. Penatalaksanaan
1. Tutul (olesi sedikit) dengan tinctura podofilin 20-25% (ini tidak boleh diberikan pada wanita hamil, karena dapat terjadi kematian fetus/janin).
2. Pada wanita hamil, tutul dengan asam triklorasetat (TCA) 80-90%. Atau digunakan larutan dengan konsentrasi 50%, dioleskan setiap minggu.
3. Salep 5-fluorurasil 1-5% diberikan setiap hari sampai lesi hilang.
4. Bedah listrik (elektrokauterisasi).
5. Bedah beku dengan nitrogen cair.
6. Bedah skalpel.
7. Laser karbondioksida.
8. Interferon (suntikan i.m. atau intralesi) atau topikal (krim).
a. Interferon alfa diberikan dengan dosis 4-6 mU i.m. 3 x seminggu selama 6 minggu atau dengan dosis 1-5 mU i.m. selama 6 minggu.
b. Interferon beta diberikan dengan dosis 2x10 g unit i.m. selama 10 hari berturut-turut.
9. Pada pria yang tidak dikhitan (disunat) dapat dilakukan eksisi dan sirkumsisi (khitan).






F. Prognosis
Penyakit ini dapat disembuhkan total, namun kadang – kadang dapat kambuh setelah pengobatan karena adanya infeksi ulang atau timbulnya penyakit yang masih laten. Mengingat virus ini juga meningkatkan resiko terjadinya penyakit kanker serviks [kanker mulut rahim], maka jika memang seseorang sudah positif terkena kondiloma akuminata sebaiknya dilakukan test pap smear juga. Test ini juga dianjurkan bagi wanita paling tidak setiap 1 tahun setelah aktif secara seksual.
 
BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
Kondiloma akuminata adalah:
1. Tumor pada genitalia yang ditemukan pada laki-laki maupun perempuan dan bersifat lunak seperti jengger ayam.
2. Pertumbuhan jaringan yang bersifat jinak, superfisial, terutama di daerah genitalia (kelamin)
3. Penyakit Menular Seksual disebabkan infeksi virus papiloma human (VPH) tipe 6 dan 11. Pertumbuhan nya mula – mula kecil, kemudian cenderung berkelompok dan menyatu membentuk suatu benjolan yang besar yang menyerupai bunga kol [seperti jengger ayam atau brokoli].

Gejala Klinis
a. Terdapat papul atau tumor (benjolan), dapat soliter (tunggal) atau multipel (banyak) dengan permukaan yang verukous atau mirip jengger ayam.
b. Terkadang penderita mengeluh nyeri. Jika timbul infeksi sekunder berwarna kemerahan akan berubah menjadi keabu-abuan dan berbau tidak sedap.
c. Umumnya di daerah lipatan yang lembab pada genitalia eksterna. Pada pria, misalnya di: perineum dan sekitar anus, sulkus koronarius, gland penis, muara uretra eksterna, prepusium, korpus dan pangkal penis. Pada wanita, misalnya di: vulva dan sekitarnya, introitus vagina, labia mayor, labia minor, terkadang pada porsio uteri.

Penatalaksanaan
1. Tutul (olesi sedikit) dengan tinctura podofilin 20-25% (ini tidak boleh diberikan pada wanita hamil, karena dapat terjadi kematian fetus/janin).
2. Pada wanita hamil, tutul dengan asam triklorasetat (TCA) 80-90%. Atau digunakan larutan dengan konsentrasi 50%, dioleskan setiap minggu.
3. Salep 5-fluorurasil 1-5% diberikan setiap hari sampai lesi hilang.
4. Bedah listrik (elektrokauterisasi).
5. Bedah beku dengan nitrogen cair.
6. Bedah skalpel.
7. Laser karbondioksida.
8. Interferon (suntikan i.m. atau intralesi) atau topikal (krim).


Saran
1. Mahasiswa diharapkan mampu untuk mengetahui dan memahami tentang penyakit kondiloma akuminata
2. Mahasiswa agar dapat menerapkannya dalam pembuatan asuhan kebidanan tentang kondiloma akuminata










ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU MENOPAUSE DENGAN GANGGUAN REPRODUKSI CONDILOMA AKUMINATA PADA NY. K
DI BPS PERMATA KASIH

No. Register : 001876
Masuk Tanggal, Jam : 15 April 2011, 17.00 WIB
Dirawat diruang : mawar
Pengkajian data oleh : Bidan Asih
Biodata/ identitas
Ibu Suami
1. Nama : Ny. K Tn. Tono
2. Umur : 40 tahun 45 tahun
3. Agama : Islam Islam
4. Suku/ bangsa : Jawa/ Indonesia Jawa/ Indonesia
5. Pendidikan : SMA S-1
6. Pekerjaan : IRT wiraswasta
7. Alamat : Gamping, Sleman, YK Gamping, Sleman, YK
8. No. HP/ telp. : 0811111111 08222222222
Data Subyektif
1. Alsan Kunjungan
Ingin memeriksakan kondisi kesehatan ibu.
2. Keluhan Utama
Klien mengatakan ada benjolan di daerah vulva seperti jengger ayam, agak demam, nyeri.
3. Riwayat menstruasi
Ibu mengatakan bahwa menstruasi pertama umur 14 tahun.
Ibu mengatakan sudah tidak menstruasi sejak umur 50 tahun.
4. Riwayat perkawinan
Status pernikahan sah, umur menikah 25 tahun, lama perkawinan 30 tahun

5. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
P2 A0 Ah2
Kehamilan Persalinan Nifas KB
No Suami UK Pylt Jns psl Penol L/P BBL Pnylt Mntk Mtd
1 1 39 mgg - Normal Bidan L 3500 gr PRM - -
2 1 40 mgg - Normal Bidan L 3400 gr - -
6. Riwayat Kontrasepsi :
Ibu mengatakan bahwa pernah menggunakan alat kontrasepsi IUD.
7. Pola Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari : (khususnya selama sakit ini)
a. Pola nutrisi selama masa nifas
Makan Minum
Frekuensi 1-2x/ hari 5 gelas/ hari
Macam nasi, sayur, lauk pauk air putih, teh
Jumlah 1 porsi -
Keluhan sedikit makan, terasa cepat kenyang tidak ada
dan sering kembung
Pola Eliminasi
BAB BAK
Frekuensi 1x/ hari 4x/ hari
Warna kuning kuning jernih
Bau khas khas
Konsistensi lembek cair
b. Pola aktivitas
Sebelum sakit : Klien mengatakan melakukan kegiatan rumah tidak seperti dulu, ibu hanya mampu hanya sebatas menyapu, mencuci baju, dan memasak.
Selama sakit : Klien tidak melakukan kegiatan apa-apa hanya tidur dirumah.
c. Pola perawatan diri
Sebelum sakit : mandi 2x/hari, ganti pakaian 1x/hari, keramas 2 hari/1x, gosok gigi 2x/hari
Selama sakit : mandi hanya sekedar diseka, mengganti pembalut 2x/hari, ganti pakaian 1x/hari, keramas 2x/minggu, gosok gigi 1x/hari
d. Pola istirahat tidur
Sebelum sakit : siang 1 jam (13.00 – 14.00 WIB)
malam 6 jam (22.00 – 04.00 WIB)
Selama sakit : siang 30 menit (13.00 – 13.30 WIB)
malam 5 jam (23.00 – 04.00 WIB)
e. Seksualitas : ibu mengatakan melakukan hubungan seksual 2x seminggu.
8. Riwayat kesehatan
a. Riwayat penyakit yang pernah/diderita:
Pasien mengatakan bahwa tidak punya riwayat penyakit menular seperti Hepatitis, TBC. Dan menurun seperti DM, hipertensi, dll.
b. Riwayat penyakit keluarga
Pasien mengatakan bahwa dalam keluarga Ibu pernah operasi pengangkatan kista
c. Riwayat keturunan kembar
Ibu mengatakan tidak ada riwayat keturunan kembar.
d. Kebiasaan - kebiasaan
Merokok : ibu mengatakan tidak merokok.
Minum jamu – jamuan : ibu mengatakan minum jamu.
Makan / minum pantangan : ibu mengatakan tidak ada makanan pantangan.
9. Riwayat psiko, sosial, spiritual
a. Pasien mengatakan bahwa hubungan dengan suami, keluarga dan tetangga baik.
b. Pasien berasal dari Jawa dan masih melakukan kegiatan adat Jawa yang dilakukan saat ini minum jamu-jamuan.
c. Pasien mengatakan bahwa dia merasa sedih dengan keadaannya sekarang.

Data Obyektif
Pemeriksaan fisik umum :
1. Keadaan umum : lemah
2. Kesadaran : composmentis
3. BB/TB : 50 kg/155 cm
4. Tanda-tanda vital : TD : 90/60 mmHg, S : 38,6OC, N : 118 x/menit, RR : 24 x/mnt
Pemeriksaan fisik khusus
1. Rambut : agak kotor, putih, panjang, tidak ada luka
2. Muka : pucat, nampak menyeringai, tidak odeme
3. Mata : simetris, konjungtiva pucat (anemis), sclera putih, palpebra tidak edema
4. Hidung : tidak ada polip, ada sekret, tidak ada pernafasan cuping hidung, septum nasal lurus
5. Gigi & mulut : mukosa bibir agak kering, tidak ada stomatitis, tidak ada karies gigi, tidak ada tonsillitis
6. Telinga : simetris, ada serumen
7. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, tidak ada bendungan vena jugularis
8. Dada & mamae : tidak simetris, tidak ada retraksi intracosta, tidak ada benjolan abnormal.
9. Perut : ada benjolan sebesar kelereng, sekitar 1,5cm tetapi batasnya tidak tegas di samping kiri dan kanan uterus.
10. Genetalia :
• Eksterna : kotor, tidak ada varices, ada condiloma, ada pus, tidak ada pembesaran kelenjar bartholini dan kelenjar scene.
• Internal (inspekulo) : tidak ada pus, tidak nampak massa/tumor, ada spotting.
11. Ekstremitas atas & bawah : tidak ada odeme, tidak ada varises, tidak ada tromboflebitis femuralis, pergerakan kurang aktif
Pemeriksaan penunjang
-

ASSESMENT Tgl: 15 April 2011, Jam :17.20 WIB
Ny.``K`` umur 40 tahun P3 A0 Ah3, ibu menopause dengan condiloma akuminata.

PLANNING Tgl: 15 April 2011 , Jam : 17.30 WIB
7. Melakukan pendekatan pada klien dengan cara komunikasi terapeutik untuk menjelaskan tentang kondisi klien saat ini serta untuk menjelaskan tentang tindakan yang akan dilakukan.
• Ibu mengatakan lebih tenang, serta mengerti dan mampu menjelaskan kembali tentang penjelasan yang diberikan oleh Bidan
8. Memberitahukan ibu tentang hasil pemeriksaan vital sign.
K/U : cukup Kesadaran komposmentis
TD : 90/60 mmHg N : 118 x/menit
S : 38,6OC RR : 20 x/menit
TFU : ada benjolan pada kanan-kiri uterus perdarahan 50 cc
UC baik (keras) Conjungtiva pucat
BAB/BAK : -/+
• Ibu mengerti dengan keadaannya.
9. Memberitahukan kesimpulan dari pemeriksaan fisik ibu yaitu ibu mengalami penyakit condiloma akuminata.
• Ibu merasa cemas dan takut akan kondisinya.
10. Memberikan dukungan moril dan spiritual untuk mengatasi kecemasan ibu.
• Ibu tampak agak berkurang kecemasannya.
11. Menyarankan ibu untuk beristirahat di tempat tidur dengan beristirahat akan mengurangi beban kerja tubuh terutama bagian yang rusak.
• ibu mau beristirahat di tempat tidur.
12. Menyarankan ibu untuk memeriksakan keadaannya ke dokter SpOG untuk melakukan :
d. Tes asam asetat
e. Kolposkopi
f. Histopatologi
g. Paps Smear
• Ibu bersedia memeriksakan keadaannya ke dokter SpOG.



Petugas


Bidan Asih
Powered by Blogger