Rabu, 07 Desember 2011

Gastroenteritis Infeksiosa

DEFINISI
Gastroenteritis Infeksiosa adalah suatu infeksi saluran pencernaan yang menyebabkan muntah dan diare.
PENYEBAB
Gastroenteritis bisa disebabkan oleh sejumlah bakteri. Beberapa bakteri menyebabkan gejala melalui racun yang dihasilkannya, sedangkan bakteri lain tumbuh di dalam dinding usus. Jika bakteri tumbuh di dalam dinding usus, mereka bisa masuk ke dalam aliran darah.

Virus dan parasit (misalnya Giardia) juga bisa menyebabkan gastroenteritis.
Rotavirus merupakan penyebab dari hampir separuh kasus diare berat.
GEJALA
Biasanya gastroenteritis menyebabkan muntah dan diare.

Dalam waktu 24 jam setelah terjadinya gastroenteritis, bayi yang berumur dibawah 6 bulan bisa mengalami dehidrasi (kehilangan sejumlah besar cairan dan elektrolit).
Jika muntah dan diarenya berat sedangkan asupan cairannya sedikit, dalam waktu 24 jam setiap anak bisa mengalami dehidrasi.

Gejala lainnya yang mungkin ditemukan:
- nafsu makannya berkurang
- mulutnya kering
- demam
- produksi air kemihnya berkurang
- merasa haus
- berat badannya menurun.

Dehidrasi berat bisa menyebabkan mata menjadi cekung dan kering, serta ubun-ubun menjadi cekung. Anak tampak mengantuk.
Pada bayi yang lebih tua dan anak-anak yang gemuk, dehidrasi bisa menyebabkan mereka tampak lemas, kulitnya hangat, kering serta keriput dan matanya kering.
DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.
Untuk menentukan penyebabnya, dilakukan pemeriksaan terhadap tinja penderita.
PENGOBATAN
Untuk menggantikan cairan yang hilang karena muntah dan diare, segera diberikan cairan dan elektrolit, biasanya dalam bentuk minuman atau jika dehidrasinya berat, diberikan dalam bentuk infus.

Kepada bayi yang lebih tua, antibiotik hanya diberikan jika penyebabnya adalah bakteri atau parasit.
Kepada bayi yang berumur kurang dari 6 bulan atau menderita gangguan sistem kekebalan, diberikan antibiotik meskipun tidak terdapat tanda-tanda infeksi di luar usus.

Jika penyebabnya virus, tidak perlu diberikan antibiotik.
Jika diare terjadi ketika tengah mengadakan perjalanan keluar kota dan diarenya berat atau menetap, seringkali diberikan antibiotik.

CONTOH PERCAKAPAN DENGAN KLIEN HALUSINASI

SP 1 Keluarga : Pendidikan Kesehatan tentang pengertian halusinasi, jenis halusinasi yang dialami pasien, tanda dan gejala halusinasi dan cara-cara merawat pasien halusinasi.
Peragakan percakapan berikut ini dengan pasangan saudara.
Orientasi:
“Assalammualaikum Bapak/Ibu!”“Saya SS, perawat yang merawat anak Bapak/Ibu.”
“Bagaimana perasaan Bapak/Ibu hari ini? Apa pendapat Bapak/Ibu tentang anak Bapak/Ibu?”
“Hari ini kita akan berdiskusi tentang apa masalah yang anak Bapak/Ibu alami dan bantuan apa yang Bapak/Ibu bisa berikan.”
“Kita mau diskusi di mana? Bagaimana kalau di ruang wawancara? Berapa lama waktu Bk/Ibu? Bagaimana kalau 30 menit”
Kerja:
“Apa yang Bpk/Ibu rasakan menjadi masalah dalam merawat D. Apa yang Bpk/Ibu lakukan?”
“Ya, gejala yang dialami oleh anak Bapak/Ibu itu dinamakan halusinasi, yaitu mendengar atau melihat sesuatu yang sebetulnya tidak ada bendanya.
”Tanda-tandanya bicara dan tertawa sendiri,atau marah-marah tanpa sebab”
“Jadi kalau anak Bapak/Ibu mengatakan mendengar suara-suara, sebenarnya suara itu tidak ada.”
“Kalau anak Bapak/Ibu mengatakan melihat bayangan-bayangan, sebenarnya bayangan itu tidak ada.”
”Untuk itu kita diharapkan dapat membantunya dengan beberapa cara. Ada beberapa cara untuk membantu anak Bapak/Ibu agar bisa mengendalikan halusinasi. Cara-cara tersebut antara lain: Pertama, dihadapan anak Bapak/Ibu, jangan membantah halusinasi atau menyokongnya. Katakan saja Bapak/Ibu percaya bahwa anak tersebut memang mendengar suara atau melihat bayangan, tetapi Bapak/Ibu sendiri tidak mendengar atau melihatnya”.
”Kedua, jangan biarkan anak Bapak/Ibu melamun dan sendiri, karena kalau melamun halusinasi akan muncul lagi. Upayakan ada orang mau bercakap-cakap dengannya. Buat kegiatan keluarga seperti makan bersama, sholat bersama-sama. Tentang kegiatan, saya telah melatih anak Bapak/Ibu untuk membuat jadwal kegiatan sehari-hari. Tolong Bapak/Ibu pantau pelaksanaannya, ya dan berikan pujian jika dia lakukan!”
”Ketiga, bantu anak Bapak/Ibu minum obat secara teratur. Jangan menghentikan obat tanpa konsultasi. Terkait dengan obat ini, saya juga sudah melatih anak Bapak/Ibu untuk minum obat secara teratur. Jadi bapak/Ibu dapat mengingatkan kembali. Obatnya ada 3 macam, ini yang orange namanya CPZ gunanya untuk menghilangkan suara-suara atau bayangan. Diminum 3 X sehari pada jam 7 pagi, jam 1 siang dan jam 7 malam. Yang putih namanya THP gunanya membuat rileks, jam minumnya sama dengan CPZ tadi. Yang biru namanya HP gunanya menenangkan cara berpikir, jam minumnya sama dengan CPZ. Obat perlu selalu diminum untuk mencegah kekambuhan”
”Terakhir, bila ada tanda-tanda halusinasi mulai muncul, putus halusinasi anak Bapak/Ibu dengan cara menepuk punggung anak Bapak/Ibu. Kemudian suruhlah anak Bapak/Ibu menghardik suara tersebut. Anak Bapak/Ibu sudah saya ajarkan cara menghardik halusinasi”.
”Sekarang, mari kita latihan memutus halusinasi anak Bapak/Ibu. Sambil menepuk punggung anak Bapak/Ibu, katakan: D, sedang apa kamu?Kamu ingat kan apa yang diajarkan perawat bila suara-suara itu datang? Ya..Usir suara itu, D. Tutup telinga kamu dan katakan pada suara itu ”saya tidak mau dengar”. Ucapkan berulang-ulang, D”
”Sekarang coba Bapak/Ibu praktekkan cara yang barusan saya ajarkan”
”Bagus Pak/Bu”
Terminasi:
“Bagaimana perasaan Bapak/Ibu setelah kita berdiskusi dan latihan memutuskan halusinasi anak Bapak/Ibu?”
“Sekarang coba Bapak/Ibu sebutkan kembali tiga cara merawat anak bapak/Ibu”
”Bagus sekali Pak/Bu. Bagaimana kalau dua hari lagi kita bertemu untuk mempraktekkan cara memutus halusinasi langsung dihadapan anak Bapak/Ibu”
”Jam berapa kita bertemu?”
Baik, sampai Jumpa. Assalamu’alaikum
SP 2 Keluarga: Melatih keluarga praktek merawat pasien langsung dihadapan pasien
Berikan kesempatan kepada keluarga untuk memperagakan cara merawat pasien dengan halusinasi langsung dihadapan pasien.
Orientasi:
“Assalammualaikum”
“Bagaimana perasaan Bapak/Ibu pagi ini?”
”Apakah Bapak/Ibu masih ingat bagaimana cara memutus halusinasi anak Bapak/Ibu yang sedang mengalami halusinasi?Bagus!”
” Sesuai dengan perjanjian kita, selama 20 menit ini kita akan mempraktekkan cara memutus halusinasi langsung dihadapan anak Bapak/Ibu”.
”mari kita datangi Anak bapak/Ibu”
Kerja:”Assalamu’alaikum D” ”D, Bapak//Ibu D sangat ingin membantu D mengendalikan suara-suara yang sering D dengar. Untuk itu pagi ini Bapak/Ibu D datang untuk mempraktekkan cara memutus suara-suara yang D dengar. D nanti kalau sedang dengar suara-suara bicara atau tersenyum-senyum sendiri, maka Bapak/Ibu akan mengingatkan seperti ini” ”Sekarang, coba Bapak/Ibu peragakan cara memutus halusinasi yang sedang D alami seperti yang sudah kita pelajari sebelumnya. Tepuk punggung D lalu suruh D mengusir suara dengan menutup telinga dan menghardik suara tersebut” (saudara mengobservasi apa yang dilakukan keluarga terhadap pasien)Bagus sekali!Bagaimana D? Senang dibantu Bapak/Ibu? Nah Bapak/Ibu ingin melihat jadwal harian D. (Pasien memperlihatkan dan dorong orang tua memberikan pujian) Baiklah, sekarang saya dan orang tua D ke ruang perawat dulu” (Saudara dan keluarga meninggalkan pasien untuk melakukan terminasi dengan keluarga
Terminasi:
“Bagaimana perasaan Bapak/Ibu setelah mempraktekkan cara memutus halusinasi langsung dihadapan anak Bapak/Ibu”
”Dingat-ingat pelajaran kita hari ini ya Pak/Bu. Bapak/Ibu dapat melakukan cara itu bila anak Bapak/Ibu mengalami halusinas”.
“bagaimana kalau kita bertemu dua hari lagi untuk membicarakan tentang jadwal kegiatan harian anak Bapak/Ibu untuk persiapan di rumah. Jam berapa Bapak/Ibu bisa datang?Tempatnya di sini ya. Sampai jumpa.”
SP 3 Keluarga : Membuat perencanaan pulang bersama keluarga
Peragakan kepada pasangan anda komunikasi dibawah ini
Orientasi
“Assalamualaikum Pak/Bu, karena besok D sudah boleh pulang, maka sesuai janji kita sekarang ketemu untuk membicarakan jadual D selama dirumah”
“Bagaimana pak/Bu selama Bapak/Ibu membesuk apakah sudah terus dilatih cara merawat D?”
“Nah sekarang kita bicarakan jadwal D di rumah? Mari kita duduk di ruang perawat!”
“Berapa lama Bapak/Ibu ada waktu? Bagaimana kalau 30 menit?”
Kerja
“Ini jadwal kegiatan D di rumah sakit. Jadwal ini dapat dilanjutkan di rumah. Coba Bapak/Ibu lihat mungkinkah dilakukan di rumah. Siapa yang kira-kira akan memotivasi dan mengingatkan?”Pak/Bu jadwal yang telah dibuat selama D di rumah sakit tolong dilanjutkan dirumah, baik jadwal aktivitas maupun jadwal minum obatnya”
“Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan oleh anak ibu dan bapak selama di rumah.Misalnya kalau B terus menerus mendengar suara-suara yang mengganggu dan tidak memperlihatkan
perbaikan, menolak minum obat atau memperlihatkan perilaku membahayakan orang lain. Jika hal ini terjadi segera hubungi Suster B di Puskesmas terdekat dari rumahBapak/Ibu, ini nomor telepon puskesmasnya: (0651) 554xxx
Selanjutnya suster B yang akan membantu memantau perkembangan D selama di rumah
Terminasi
“Bagaimana Bapak/Ibu? Ada yang ingin ditanyakan? Coba Ibu sebutkan cara-cara merawat D di rumah! Bagus(jika ada yang lupa segera diingatkan oleh perawat. Ini jadwalnya untuk dibawa pulang. Selanjutnya silakan ibu menyelesaikan administrasi yang dibutuhkan. Kami akan siapkan D untuk pulang”

ASKEP KLIEN DENGAN PENYAKIT KATARAK

PENGERTIAN
Katarak adalah kekeruhan lensa. Katarak ini merupekan salah satu keadaan mata yang paling umum terjadi pada orang berusia tua dan memerlukan penanganan.

ETIOLOGI
• Primer
Akibat gangguan perkembangan dan metabolisme dasar lensa
• Sekunder
Akibat tindakan pembedahan lensa, luka pada mata, obat steroid, sinar matahari yang berlebih
• Komplikasi penyakit lokal ataupun umum :
Diabetes Melitus

KLASIFIKASI
• Katarak akibat usia (seniil) : usia lanjut > 40th
• Kongenital, < 1 tahun : bisa terjadi karena infeksi rubella pada saat periode kehamilan • Katarak sekunder : karena ada masalah kesehatan tertentu • Katarak akibat trauma : muncul setelah operasi KATARAK PERKEMBANGAN & DEGENERATIF Ada 3 :  Kongenital, < 1 tahun  Juvenil, 1-40 tahun  Senil, >40 tahun

TAHAPAN KATARAK
 Insipien
 Mulai timbul katarak akibat degenerasi lensa
 Belum menyerap cairan mata kedalam lensa
 Kekeruhan ringan dalam lensa, ketajaman penglihatan belum terganggu
 Katarak inspien ini adalah penyebab utama terjadinya ‘halo’, yaitu lingkaran yang terlihat pada waktu memandang cahaya atau obyek yang bercahaya

 Immature
 Cenderung hanya mengenal sebagian lensa saja
 Cairan mata terserap ke dalam lensa
 Terjadi pembengkakan lensa, penglihatan mulai berkurang

 Matur
 Kekeruhan seluruh lensa, lensa berwarna abu-abu atau putih
 Tajam penglihatan semakin menurun

 Hypermatur
 Proses degenerasi lanjut lensa dan korteks lensa
 Bahan lensa ataupun korteks lensa yang cair keluar dan masuk kedalam bilik mata depan
MEKANISME
 Nuclear
- Muncul di tengah bagian tengah lensa, awalnya seperti ada perbaikan penglihatan, tetapi lama – lama menjadi buram, lensa berwarna kuning-hijau-coklat.
 Cortical
- Dari luar lensa dan akhirnya tumbuh ke dalam
- Terganggunya pandangan dekat-jauh
- Pandangan menjadi bias (melihat’halo’) bahkan kehilangan kontras
 Subcapsular
- Dari belakang lensa dan tampak kusam di kedua mata

MANIFESTASI KLINIK
 Penglihatan berkurang
 Dioplopia monocular (penglihatan ganda)
 Penglihatan silau
 Tidak ada keluhan nyeri
 Pada pupil terlihat kekeruhan lensa
 Melihat ‘halo’
 Warna mata tampak menguning atau memudar
 Mebutuhkan pencahayaan yang lebih terang untuk membaca di dalam ruangan
 Semakin sulit melihat pada malam hari

PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Slit lamp examination
Untuk melihat tipe dan luasnya perubahan lensa
 Direct Optalmoscopy : red reflek tidak ada/tidak jelas


MANAJEMEN MEDIS
Sampai sekarang tidak diketahui terapi medis yang dapat mencegah atau mengurangi pembentukan katarak kecuali tindakan bedah. Berikut ini yang dibahas tentang manajemen bedah mata.
Indikasi :
 Katarak telah menganggu ADL atau sudah sampai tahap katarak matur
 Katarak telah menimbulkan penyulit

Tujuan :
Membuang lensa keruh
Ada 3 cara :
1. EKIK/ICCE (Ekstrasi lensa intrakapsuler)
• Membuang lensa sampai kapsul lensa
• Yang membuat sulit saat pembedahan adalah apabila ketika kapsul lensa pecah sehingga lensa tidak dapat dikeluarkan bersama kapsulnya
• Tehnik ini ongkosnya rendah

2. EKEK/ECCE (Ekstrasi lensa ekstrakapsuler)
• Membuang lensa dan bagian anterior dari kapsul lensa, kapsul lensa posterior masih tertinggal
• Banyak dilakukan karena memudahkan insersi bilik posterior lensa intraocular ke dalam kapsul yang tersisa sehingga komplikasi post-operasi lebih sedikit




3. FAKOEMULSIFIKASI
Pada operasi ini tidak diperlukan jahitan, kadang hanya 1 jahitan.
Kerugian : Biaya lebih mahal dari pada EKEK + IOL
Keuntungan : Memberikan kualitas tajam penglihatan yang lebih baik (rendahnya efek astigmat) daripada EKEK +IOL, dan proses penyembuhan lebih cepat, tidak perlu melepas benang.

APHAKIA/AFAKIA
Yaitu keadaan tidak adanya lensa mata

Perbedaan Lensa Tanam, Lensa Kontak dan Kacamata
Pembeda Lensa tanam Lensa Kontak Kacamata
Pembesaran benda Normal 7-10 % 25-30%
Benda melengkung Tidak Tidak Ya
Pemakaian 24 jam/hari Ya Tidak Tidak
Kerja berdebu Dapat Tidak dapat Tidak dapat
Dipasang Saat bedah Saat kerja Saat kerja
Penyulit pemakaian Tidak ada Harus bersih Berat
Aman pakai Sedang Kurang Baik
Penampilan wajah Tidak berubah Biasa Sedikit menganggu



KOMPLIKASI
• Glaukoma sekunder
Yaitu glaucoma yang diakibatkan oleh infeksi, tumor, katarak atau perdarahan. Terjadi glaucoma karena ada oedema jaringan okuler dan meningkatkan TIO (Tekanan Intra Okuler).
• Infeksi postoperative
• Perdarahan
• Pedema jaringan okuler dan luka bocor
• Retinal detachment
• Kapsul posterior pada EKEK menjadi keruh
• Sel-sel epithel, lensa subkapsuler menumbuhkan serat lensa yang dapat menganggu penglihatan
• Second operation

PROSES PERAWATAN
Pengkajian
• Data demografi : umur, riwayat keluarga adanya glaucoma atau masalah mata lain
• Riwayat perbedaan okuler
• Riwayat infeksi, trauma mata, penyakit sistemik
• Riwayat penggunaan OTC (kortikosteroid)
• Riwayat alergi
• Pemeriksaan fisik
• Minta klien deskripsikan perubahan penglihatan
• Koping klien terhadap perubahan penglihatan
• Persepsi klien tentang perubahan penglihatan, efek terhadap kehidupan klien


Diagnosa keperawatan (NANDA)
• Risiko jatuh b.d. keterbatasan penglihatan
• Gangguan persepsi sensori : penglihatan b.d gangguan penerimaan dan transmisi sensori
• Risiko infeksi b.d meningkatnya kerentanan akibat sekunder pembedahan mata
• Risiko tidak efekrifnya regimen manajemen teraupetik b.d insufisiensi pengetahuan

Masalah kolaborasi : PK : Peningkatan TIO

PERENCANAAN
a. Risiko injury b.d keterbatasan penglihatan
Definisi :
Status dimana individu berisiko mengalami injuri sebagai akibat dari interaksi antara kondisi lingkungan dengan kondisi pertahanan tubuh dan kemampuan adaptasi

Kriteria hasil :
Klien akan :
• Mengidentifikasi factor yang meningkat risiko injury
• Mendemonstrasikan perilaku, perubahan gaya hidup untuk mengurangi factor risiko dan mencegah iinjury
• Memodifikasi lingkungan untuk meningkatkan keamanan

Intervensi
• Tentukan ketajaman penglihatan
• Orientasikan sekitar klien
• Observasi adanya tanda-tanda disorientasi
• Pasang side rail
• Dekati klien dari sisi yang tidak terganggu
• Dorong SO tinggal dengan klien
• Ingatkan klien untuk menggunakan kacamata
• Letakkan bel panggil dalam posisi yang mudah dijangkau klien

b. peningkatan TIO
Definisi :
Menggambarkan seseorang yang mengalami atau berisiko tinggi mengalami peningkatan produksi humor aqueus atau hambatan alirannya yang menyebabkan kompresi serabut syaraf dan pembuluh darah di lempeng optic

Faktor risiko :
• Glaukoma
• Tranplantasi kornea
• Trauma mata
• Operasi mata

Tujuan :
Perawat akan mengelola dan mencegah/meminimlakan peningkatan TIO

Intervensi
• Dorong pembatasan aktivitas post operasi yang dianjurkan, yaitu menghindari :
- Membungkuk
- Menggerakkan kepala tiba-tiba
- Valsava maneuver
• Dorong penggunaan pelindung mata
• Monitor adanya perdarahan, luka robek
• Monitor tanda dan gejala peningkatan TIO : mual, nyeri dan melihat halo
• Berikan antimetik jika mual
• Monitor ketajaman penglihatan dan cacat adanya perubahan-perubahan
• Posisikan klien terlentang dengan kepala ditinggikan, berputar pada sisi yang sehat
• Jaga ketenangan lingkungan, batasi stimulus dan aktivitas eksternal

Evaluasi
• Kaji tingkat pencapaian criteria hasil yang diharapkan
• Adaptasi terhadap keterbatasan penglihatan memerlukan waktu yang individual

POST HOSPITAL CARE
Discharge teaching
Meliputi pendidikan kesehatan dan evaluasi lingkungan rumah dan perawatan yang tersedia
• Tanda dan gejala infeksi (kemerahan, bengkak, drainase, penglihatan kabur, nyeri)
• Rasional perlindungan mata (memakai kacamata)
• Teknik medikasi
• Waktu control
• Perawatan post operasi
• Eye care
• Home care
• Adaptasi terhadap perbaikan penglihatan

konsep dasar GLAUCOMA

LAMPIRAN MATERI :

Glaukoma adalah suatu keadaan tekanan intraokuler / tekanan dalam bola mata relatif cukup besar untuk menyebabkan kerusakan pupil saraf optik dan menyebabkan kelainan lapang pandang ( ekantini, 2003 ). Kebutaan akibat glaukoma bersifat irreversibel / menetap. Jadi, usaha pencegahan kebutaan pada glaukoma bersifat prevensi / pencegahan kebutaan dengan jalan menemukan dan mengobati / menangani penderita sedini mungkin.

STADIUM PADA GLAUKOMA
1) Prodarmal
2) Akut
3) Absolut
4) Degenaratif
5) Kronik


ETIOLOGI
1) Keturunan dalam keluarga
2) Diabetes mellitus
3) Arteriosklerosis
4) Pemakaian kortikosteroid jangka panjang
5) Miopi tinggi dan progresif

TANDA
1) Tekanan Intra Okuler (TIO) meningkat
2) Kampus visi menyempit
3) Pupil nervous II rusak

PEMBAGIAN GLAUKOMA
Berdasarkan penyebab, glaukoma dibagi menjadi 3 golongan yaitu: 1) Glaukoma primer 2) Glaukoma sekunder dan 3) Glaukoma kongenital

GLAUKOMA PRIMER
Dibagi menjadi 2 jenis berdasarkan mekanisme terjadinya glaukoma yaitu:
a) Glaukoma primer sudut terbuka
b) Glaukoma primer sudut tertutup ( = sudut indokornea tertutup iris )

GLAUKOMA PRIMER SUDUT TERBUKA
Gejala:
Awal : - mungkin tanpa gejala
- rasa capai pada mata
- rasa pegal pada mata
- fluktuasi tajam pada penglihatan
- kadang-kadang melihat seperti pelangi sekitar lampu
Lanjut: - penyempitan lapang pandang
- buta
Pemeriksaan : - visus mungkin masih baik, kecuali pada stadium lanjut
- mata tenang
- bilik mata depan dalam
- oftamolskopik : tampak penggaungan yang melebar (CD ratio > 0,5)
- gonioskopik : sudut terbuka dan normal
- tonometrik : tekanan > 21 mmHg
- pemeriksaan lapang pandang : kelainan lapang pandang ( skotoma Bjerrum, skotoma Seidel, skotoma arcuata atau nasal step).
Terapi : Turunkan tekanan intraokuler sampai tekanan yang aman bagi mata tersebut, dengan prinsip pemakaian sesedikit mungkin obat dengan dosis sekecil mungkin.
Obat : - Timokol atau Betaxol tetes mata 0,25 – 0,50 %, 2 kali sehari, dan atau
- Pilokarpin tetes mata 1 -4 %, 4-6 kali sehari, dan atau
- Acetazolamide tablet 250 mg, 3-4 kali sehari.
Operasi : - Trabekuloplasti dengan laser, atau
- Trabekulektomi, atau
- Pemasangan implant untuk filtrasi.
Waspada : Anggota keluarga perlu diperiksa

LOW TENSION GLAUKOMA / NORMOTENSION GLAUKOMA
Terdapat glaukoma dengan tekanan tidak tinggi, mungkin hanya sekitar 20 mmHg atau di bawahnya, tetapi terdapat kerusakan papil saraf optic dan kelainan lapang pandang yang beciri kerusakan karena tekanan tinggi. Keadaan ini mempunyai gejala dan tanda seperti glaukoma primer sudut terbuka, terapi sama dengan glaukoma primer sudut terbuka.

GLAUKOMA PRIMER SUDUT TERTUTUP
Gejala:
Akut : - rasa sakit berat (cekot-cekot) di mata, dapat sampai sakit kepala dan muntah-muntah.
- mata merah, berair
- penglihtan kabur
Kronik :
- gejala hamper sama dengan yang akut tetapi terasa sakit, merah dan kabur dapat hilang dengan sendirinya, dan terjadi serangan berulang beberapa kali. Biasanya rasa sakit kurang berat dibandingkan dengan yang akut.

Pemeriksaan:
Akut : - visus turun
- konjungtiva hiperemi
- kornea keruh/udem
- bilik mata depan dangkal
- pupil lebar / lonjong dengan diameter + 6-7 mm
- oftamolskopik : papil mungkin masih normal
- tonometrik : tekanan intrraokuler tinggi, bias sampai 60 mmHg
- gonioskopik : sudut tertutup
- lpang pandang : terdapat kelainan yang tidak khas, atau mungkin masih normal
Kronik :
- seperti tanda kulit tetapi biasanya lebih ringan
- dijumpai tanda-tanda bahwa proses telah berlangsung berulang dan lama yaitu : degenerasi kornea, atrofi iris, neovaskularisasi iris, glaukoma flecken dan sinekia anterior perifer.

Terapi : Segera turunkan tekanan intraokuler dengan pemberian :
- zat hiperosmotik untuk mengurangi volume badan kaca sehingga lensa dan iris akan bergerak ke posterior, hal ini akan membantu pembukaa sudut yang tertutup tersebut. Missal diberikan gliserol 50 %, 1-1,5 mg/kgBB per os, 1 kali. Atau infus.
- Accetazolamide 62,5-500 mg per os, 3-4 kali sehari.
- Timolol/betaxolol 0,25 – 0,50 % tetes mata, 2 kali sehari.
- Pilokarpin 2 – 4 % tetes mata, 2-4 kali sehari.

Setelah serangan akut teratasi / tekanan turundan sudut sudah terbuka, maka segera dilakukan iridektomi perifer atau iridotomi dengan laser pada mata tersebut, sedangkan untuk mata yang satu dilakukan juga iridektomi perifer / iridotomi laser sebagai tindakan preventif. Untuk mata yang sehat jika tidak dilakukan iridektomi perifer dapat diberikan pilokarpin dan timolol untuk mencegah penutupan sudut.
Jika setelah tekanan turun sudut tidak dapat terbuka kembali maka lakukan operasi filtrasi missal trabekulektomi. Jika 24 jam tekanan tidak turun maka lakukan segera operasi filtrasi.


GLAUKOMA SEKUNDER
Pada glaukoma jenis ini terjadi akibat penyakit/kelainan mata yang lain misalnya:
1. Inflamasi mata / uveitis
2. Trauma yang merusak sudut iridokornea atau menyebabkan iris menutup sudut atau menyebabkan blok pupil atau blok silier.
3. Kelainan lensa. Misal lensa maju akibat katarak insipien.
4. Obat-obatan, missal pemakaian steroid yang lama.
5. Neovaskularisasi sudut, missal pada penderita Diabetes Melitus.
6. Sindroma pigmentari, disini terdapat sumbatan trabekulum oleh pigmen iris.
7. Sidroma eksfoliatif, terdapat sumbatan pada trabekulum oleh bahan yang lepas pada sindroma ini.
8. Kenaikan tahanan vena episklera, missal adanya fistula karotikolo-kavernosa.
9. Operasi mata, misal operasi katarak.

Gejala : tergantung kecepatan kenaikan TIO, jika kenaikan TIO terjadi perlahan-lahan maka tidak menimbulkan gejala yang nyata. Jika TIO dengan cepat dan tinggi maka dapat terjadi gejala sbb:
- penglihtan kabur
- mata merah
- rasa sakit di mata dan sakit kepala.
Pemeriksaan :
- visus turun
- konjungtiva hiperemi
- kornea keruh
- pupil kecil atau lebar, tergantung penyebab. Jika karena uveitis maka pupil kecil dan terdapat sinekia posterior.
- dijumpai kelainan mata yang lain sesuai dengan penyebab.
- oftamolskopi : papil dapat normal atau penggaungan bertambah.
- gonioskopik : terbuka atau tertutup tergantung penyebab.
- tonometrik : tekanan intraokuler > 21 mmHg.
- lapang pandang : masih normal atau ada kelainan tergantung beratya penyakit.


Terapi:
Segera turunkan tekanan intraokuler dengan pemberian:
- Zat hiperosmotik, Gliserol per os atau Mannitol infus.
- Timolol / Betaxolol 0,25 – 0,50 % tetes mata, 2 kali sehari
- Acetazolamide 250 per os, 3 – 4 kali sehari.
- Terapi penyakit dasar/penyebab dan hentikan pemakaian steroid jika penyebabnya adalah steroid.

GLAUKOMA KONGENITAL
Glaukoma ini disebut juga glaukoma infantile, terjadi pada bayi dan anak yang disebabkan oleh kelainan pembentukan sudut iridokornea. Gejala dan tanda dapat terlihat pada saat lagir atau pada tahun awal kehidupan
Gejala :
- fotofobia / takut sinar
- mata berair
Pemeriksaan :
- kornea keruh, membesar
- mata menonjol
- tekanan intraokuler naik
Terapi :
- goniotomi atau
- trabekulotomi atau
- trabekulektomi.
Tidak ada operasi yang memuaskan untuk glaukoma congenital. Sering memerlukan operasi ulangan

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri berhubungan dengan glaukoma akut
2. Ansietas yang berhubungan dengan kebutaan permanent, kurang pengtahuan tentang pengobatan
3. Resiko tinggi terhadap kerusakan piñata laksanaan di rumah berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang perawatan diri pada saat pulangkurang sistem pendukung addekuat
4. Resiko Tinggi terhadap Ketidakpastiaan yang berhubungan dengan efek samping negative dari terapi yang diberikan versus keyakinan bahwa pengobatan tidak dibutuhkan tanpa adanya gejala

ASKEP GLAUKOMA

o Glaukoma adalah penyakit dimana tekanan di dalam bola mata meningkat, sehingga terjadi kerusakan pada saraf optikus dan menyebabkan penurunan fungsi penglihatan
o Kelompok penyakit mata yang disebabkan oleh tingginya tekanan bola mata. Saraf optic menyambung jaringan – jaringan penerima cahaya (retina) dengan bagian dari otak yang memproses informasi penglihatan.


INSIDEN
 > 50000 di USA buta karena glaucoma
 1,5 ^ kulit hitam
 Umur > 40 tahun
 Prevalensi kulit putih 5x lebih rendah daripada kulit hitam
 Kebutaan dapat dicegah jika perawatan lebih awal dengan obat, laser dan pembedahan
 Lebih banyak menyebabkan kebutaan daripada katarak
 Setelah terjadi hilangnya penglihatan, maka tidak dapat disembuhkan kembali


PATOFISIOLOGI
 Tekanan yang tinggi akan merusak sel retina dan serabut saraf
 Ruang penglihatan menjadi sempit / kehilangan lapang pandang (skotoma) dan akhirnya buta
 TIO dalam bola mata meningkat karena adanya kerusakan saraf
 TIO bervariasi sesuai siklus diurnal dan posisi tubuh
 Peningkatan TIO menghambat suplai darah ke saraf optik dan retina
 Peningkatan TIO > 23 mmHg butuh evaluasi lebih lanjut, variasi tidak melebihi 2-3 mmHg
 Jaringan terjadi iskemi dan secara bertahap kehilangan fungsinya
 Bagi mata sehat keluar masuknya cairan aqueous humor seimbang


ETIOLOGI
 Tekanan bola mata di atas 21 mmHg (normal 10 – 20 mmHg)
 Glaukoma akut / kronis tergantung lamanya gangguan
 Primer dan sekuder tergantung apakah penyebab tunggal atau kondisi lain
 Terbuka dan tertutup menggambarkan besarnya sudut antara kornea dan iris







STADIUM PADA GLAUKOMA
1) Prodarmal
2) Akut
3) Absolut
4) Degenaratif
5) Kronik


FAKTOR RESIKO
 Usia >40 tahun
 Riwayat keluarga, 6x lebih besar, kakak adik, orangtua anak
 Tekanan bola mata > 21 mmHg
 Obat – obatan : steroid tetes mata, anti depresan trisiklik, antihistamin, fenotiasin, inhibitor monoamin oksidase (MAO), antikolinergik dan antipasmotik, dan obat anti – parkinson
 Riwayat luka atau trauma
 Penyakit lain : DM, HT, Migren, episode syok, penyakit kardiovaskuler, serebrovaskuler, tiroid, pernapasan, demielinisasi
 Ras


GLAUKOMA PRIMER SUDUT TERBUKA
Biasanya disebut glaukoma kronis atau pencuri penglihatan, karena pasien tidak sering menyadarinya. Pada umumnya mulai terjadi pada usia di atas 40 tahun.
Glaukoma sudut terbuka ada 3 macam, yaitu glaukoma primer (ditandai dengan atrofi saraf optikus dan kavitasi mangkuk fisiologis dan efek lapang pandang yang khas), glaukoma tegangan – normal (derajat TIO normal ditentukan berdasarkan statistik populasi. Pada beberapa orang, TIO dengan batas normal bisa saja terlalu tinggi untuk kesehatan saraf optikus jangka lama) dan glaukoma sekunder (peningkatan TIO disebabkan oleh peningkatan tahanan aliran keluar humor aqueous melalui jaring – jaring trabekuler, kanalis Schlemm dan sistem vena episkleral).


GLAUKOMA PRIMER TERTUTUP
Glaukoma tipe ini yang banyak terjadi pada ras Asia, termasuk indonesia. Glaukoma ini terbagi atas akut dan kronis. Pada keadaan akut, sudut bilik mata depan akan tertutup secara mendadak, seperti selapis kertas yang menutup saluran keluar.
Tekanan bola mata akan naik secara tiba – tiba (akut). Gejala klinisnya, seperti tajam penglihatan menurun mendadak, tampak pelangi saat melihat lampu, sakit di sekitar mata, sakit kepala, rasa mual sampai muntah. Bila tidak segera diobati menyebabkan kebutaan.
Tipe kronis, gejalanya mirip glaukoma sudut terbuka. Bedanya adalah sudut bilik mata depannya tertutup. Namun, ini hanya dapat diketahui stelah pemeriksaan oleh dokter mata.
Glaukoma sekunder, yang dapat terjadi akibat kecelakaan atau trauma, obat tertentu (steroid), tumor, jaringan udem, reaksi peradangan dan pembuluh darah yang tiak normal (sering karena diabetus melitus).
Glaukoma konginetal, sudut bilik mata depan terbentuk secara tidak normal sejak lahir. Orangtua akan melihat bayinya sebagai berikut : bola mata tampak lebih besar dari normal, kornea tidek jernih, takut melihat cahaya dan keluar airmata bila kena cahaya.
Selain jenis yang ada di atas, ada tipe lain dari glaukoma primer tertutup ini yaitu glaukoma dengan mekanisme kombinasi. Glaukoma ini merupakan kombinasi dua atau lebih bentuk kelompok ini. Glaukoma tipe inni yang sering terjadi adalah glaukoma sudut terbuka yang mengalami komplikasi galukoma penutupan – sudut.


MANIFESTASI KLINIK
 Peningkatan TIO
 Saraf optik melekuk
 Cacat lapang pandang

Hasil pemeriksaan diagnostik :
 Opthalmoscope : saraf optik atrophy dan melekuk
 Blind spot terlihat di awal chronic – angle glaucoma
 A slit lamp examination : kekeruhan kornea dan konjungtiva eritema pada angle – closure glaucoma, aqueos bilik anterior keruh dan pupil reaktif
 Gonloscopy : menentukan dalamnya sudut bilik anterior dan memeriksa kondisi abnormal sudut dalam lubang penyaring.


DETEKSI DINI GLAUKOMA
Pemeriksaan mata yang dilakukan adalah mengukur tekanan bola mata dengan tonometer, melihat saraf mata dengan oftalmoskop dan memeriksa lapang pandang / titik buta dengan perimetri.


PENGAMBILAN GAMBAR SARAF OPTIK
Deteksi adanya progresivitas kerusakan saraf mata kea rah perburukan dapat dideteksi dengan alat – alat canggih, seperti HRT (Heidelberg retinal tomography) dan OCT (optical coherence tomoghraphy).


ALAT – ALAT YANG DIGUNAKAN UNTUK MENDETEKSI GLAUKOMA
 Humprey visual field, pengetesan lapang pandang, untuk pendeteksian kerusakan penglihatan khas glaukoma
 Non contact tonometry, untuk mengukur tekanan bola mata
 Pemeriksaan sudut bola mata dengan kontak lens khusus
 Pemeriksaan saraf mata dengan kontak lens khusus
 Pemeriksaan tekanan bola mata dengan aplanasi
 Visante, mengukur ketebalan kornea mata. Kornea adalah ”jendela” mata kita yang terdapat di bagian depan sebelah luar mata. Dengan mengukur ketebalan kornea mata akan membantu pengukuran tekanan bola mata secara lebih akurat.


MANAJEMEN MEDIK
- Tujuan :
Memfasilitasi aliran aqueous melalui slauran yang tersisa sehingga TIO turun
- Dapat melalui penggunaan :
• Miotik opikal, mengkontriksikan pupil dan meningkatkan aliran
• Epinephrine topikal, meningkatkan aliran
• Beta blocker atau alpha adregenik, mensupresi sekresi humor aqueous
• Inhibitor anhidrase karbonic oral, mengurangi produksi humor aqueous
• Anti emetik jika mual
• Antagonis beta – adreganik, bahan hipotensif yang paling banyak digunakan karena efektivitasnya pada berbagai macam glaukoma dan tidak menyebabkan efek samping yang biasa disebabkan obat lain
• Diuretika osmotik, menurunkan TIO dengan meningkatkan osmolalitas plasma dan menarik air dari mata ke dalam peredaran darah
• Bahan kolinergik, digunakan dalam penanganan glaukoma jangka pendek dengan penyumbatan pupil akibat efek langsungnya pada reseptor parasimpatis iris dan badan siliaris

Bila terapi medik tidak efektif, dilakukan pembedahan atau kombinasi.


MANAJEMEN PEMBEDAHAN
 Laser trabeculoplasty
Membuka trabekula sehingga menghasilkan scar yang akan mempererat serabut trabekula dan meningkatkan aliran humor aqueous.
 Filtering procedure
Meningkatkan aliran saluran dari bilik anterior ke ruang sub konjungtiva, humor aqueous diabsorpsi pembuluh darah konjungtiva.
 Ciliodestructive procedure
Bila kedua operasi di atas gagal. Merusak badan siliaris dan menurunkan produksi humpr aqueous.
 Trabekulektomi
Suatu tindakan yang membuat saluran kecil dari bilik mata depan ke konjungtiva, untuk menurunkan tekanan di dalam bola mata.
 Laser glaukoma, untuk memperbaiki aliran humor aqueous dan menurunkan TIO.
 Bedah glaukoma, untuk menurunkan TIO.





PROSES KEPERAWATAN

PENGKAJIAN
 Data Demografi :
- Umur
- Ras
 Riwayat keluarga adanya glaukoma
 Riwayat klien adanya pembedahan mata, masalah mata lain, infeksi, trauma mata, penyakit sistemik
 Riwayat penggunaan obat tetes steroid
 Riwayat alergi pengobatan
 Pemeriksaan fisik
 Minta klien deskripsikan perubahan penglihatan : adanya blind spot, penurunan tajam penglihatan
 Koping klien terhadap perubahan penglihatan : cemas, berduka karena mungkin akan ada kebutaan
 Persepsi klien tentang glaukoma dan efeknya terhadap kehidupan klien
 Identifikasi koping yang efektif di masa lalu : loneliness

DIAGNOSA KEPERAWATAN (NANDA) :
 Risiko jatuh b.d keterbatasan penglihatan
 Gangguan persepsi sensori : penglihatan b.d gangguan penerimaan dan transmisi sensori
 Resiko infeksi b.d meningkatnya kerentaan akibat sekunder pembedahan mata
 Resiko tidak efektifnya regimen terapeutik b.d insufisiensi pengetahuan
Masalah kolaborasi :
 PC : Peningkatan TIO

PERENCANAAN
 Gangguan Persepsi sensori : penglihatan b.d gangguan penerimaan dan transmisi sensori, Peningkatan TIO
Tujuan : klien dapat mempertahankan fungsi penglihatan optimal
Kriteria hasil : klien akan
 Melaporkan tidak adanya penurunan penglihatan lebih jauh
 Mendemonstrasikan kemampuan melakukan ADL
 Mendemonstrasikan pengobatan mata sendiri
 Mengenal tanda dan gejala komplikasi

INTERVENSI
- Kaji tingkat pengetahuan klien
- Berikan informasi tentang glaucoma dan cara perawatannya
- Diskusi efek camping pengobatan
- Validasi apakah klien / keluarga sudah menegrti apa yang sudah dijelaskan
- Olaborasi pemberian obat
- Monitor pemberian obat
- Bila klien akan dilakukan pembedahan :
o Kaji tingkat pengetahuan dan kecemasan tentang prosedur pembedahan
o Jelaskan tentang prosedur pembedahan
 Resiko injury b.d keterbatasan penglihatan
Definisi : status dimana individu beresiko mengalami injury sebagai akibat dari interaksi antara kondisi lingkungan dengan kondisi pertahanan tubuh dan kemampuan adaptasi.
Kriteria Hasil : klien akan
♣ Mengidentifikasi faktor yang meningkatkan resiko injury
♣ Mendemonstrasikan perilaku, perubahan gaya hidup untuk mengurangi resiko dan mencegah injury
♣ Memodifikasi lingkungan untuk meningkatkan keamanan
Intervensi :
 Tentukan ketajaman penglihatan
 Orientasikan lingkungan sekitar klien
 Observasi adanya tanda – tanda disorientasi
 Pasang side rail
 Dekati klien dari sisi yang tidak terganggu
 Dorong SO tinggal dengan klien
 Ingatkan klien untuk menggunakan kacamata
 Letakkan bel panggil pada posisi yang mudah dijangkau klien


 Peningkatan TIO
Definisi : menggambarkan seseorang yang mengalami atau beresiko tinggi mengalami peningkatan produksi humor aqueous atau hambatan alirannya yang mneyebabkan kompresi serabut saraf dan pembuluh darah di lempeng optik.
Faktor resiko :
- glaukoma
- transplantasi kornea
- trauma mata
- operasi mata
Tujuan :
♣ Perawat akan mengelola dan mencegah / meminimalkan peningkatan TIO
Intervensi :
♣ Dorong pembatasan aktivitas post operasi yang dianjurkan, yaitu menghindari :
- Membungkuk
- Menggerakkan kepala tiba – tiba
- Valsava manuver
♣ Dorong penggunaan pelindung mata
♣ Monitor adanya perdarahan, luka robek
♣ Monitor tanda dan gejala peningkatan TIO :
- Mual
- Nyeri
- Melihat ’HALO’
♣ Berikan antiemetik jika mual
♣ Monitor ketajaman penglihatan dan cacat adanya perubahan – perubahan
♣ Posisikan klien terlentang dengan kepala ditinggalkan, berputar pada sisi yang sehat
♣ Jaga ketenangan lingkungan, batasi stimulus dan aktivitas eksternal

EVALUASI
- Kaji tingkat pencapaian kriteria hasil yang diharapkan
- Adaptasi terhadap keterbatasan penglihatan pmemerlukan waktu yang individual

POST HOSPITAL CARE
- Tanda infeksi
- Peningkatan TIO
- Memakai pelindung mata
- Perawatan luka
- Waktu kontrol
- Teknik medikasi
- Adaptasi terhadap perbaikan penglihatan

MAKALAH TUTOR KEPERAWATAN JIWA “ANSIETAS”

KELOMPOK 4

1. BUDHI SANTOSA (090201050)
2. ERWI ROSALINA (090201051)
3. SUMIN TATIK LESTARI (090201052)
4. MEIGA ANGGRAINI (090201053)
5. STALASATUN KHASANAH (090201055)
6. ARIFAH NUR KHASANAH (090201056)
7. DEWI RATIH MERDEKA WATI (090201057)
8. FITRIANA SITORESMI (090201058)
9. RAHAYU MARTHA SUSIANTI (090201059)
10. IIN INDRAYATI (090201060)
11. INDRI WULANSARI (090201061)
12. MUH FERY SETIAWAN (090201062)
13. ANGGUN PUTRI PERTIWI (090201063)
14. AKBAR AMIN ABDULLAH (090201064)



SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN AISYIYAH YOGYAKARTA
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
2010/2011

BAB I
PENDAHULUAN

A. PENGERTIAN

Cemas adalah emosi dan merupakan pengalaman subyektif individual, mempunyai kekuatan tersendiri dan sulit untuk diobservasi secara langsung. Perawat dapat mengidentifikasi cemas lewat perubahan tingkh laku klien. Stuart (1996) mendefinisikan cemas sebagai emosi tanpa obyek yang spesifik, penyebabnya tidak diketahui, dan didahului oleh pengalaman baru. Cemas merupakan suatu perasaan yang tidak tenang, cemas, atau takut dan dapat bersifat ringan sampai parah. Kondisi ini dapat muncul tanpa sebab yang jelas. Anxiety merupakan suatu tingkatan emosional dengan karakteristik adanya perubahan pada tubuh, pikiran, dan tingkah laku seseorang.

Menurut Lazarus (1969), kecemasan merupakan suatu respon dari pengalaman yang dirasa tidak menyenangkan dan di ikuti perasaan gelisah, khawatir, dan takut. Kecemasan merupakan aspek subjektif dari emosi seseorang karena melibatkan faktor perasaan yang tidak menyenangkan Kecemasan merupakan salah satu bentuk emosi negatif. Baik bersifat rasional maupun irasional. Ini merupakan persoalan tersendiri bagi yang mengalaminya.

Sedangkan menurut (Videbeck, 2008), Cemas adalah perasaan takut yang tidak jelas dan tidak didukung oleh situasi.

Ansietas atau kecemasan adalah respons emosi tanpa objek yang spesifik yang secara subjektif dialami dan dikomunikasikan secara interpersonal (Suliswati, 2005).

Ansietas adalah suatu kekhawatiran yang berlebihan dan dihayati disertai berbagai gejala sumatif, yang menyebabkan gangguan bermakna dalam fungsi sosial atau pekerjaan atau penderitaan yang jelas bagi pasien (Mansjoer, 1999).

Kecemasan merupakan hal yang normal terjadi pada setiap individu, reaksi umum terhadap stress kadang dengan disertai kemunculan kecemasan. Namun kecemasan itu dikatakan menyimpang bila individu tidak dapat meredam (merepresikan) rasa cemas tersebut dalam situasi dimana kebanyakan orang mampu menanganinya tanpa adanya kesulitan yang berarti.

Menurut Freud (dalam Alwisol, 2005:28) mengatakan bahwa kecemasan adalah fungsi ego untuk memperingatkan individu tentang kemungkinan datangnya suatu bahaya sehingga dapat disiapkan reaksi adaptif yang sesuai.

B. PREDISPOSISI & PRESIPITASI

Predisposisi :
• Panik
• Ketegangan menghadapi sesuatu
• Kurang percaya diri
• Ketakutan kehilangan
• Preoperasi
• Obsesius
Presipitasi :
• Ancaman dicerai
• Teror
• Menghadapi ujian akhir

C. TANDA DAN GEJALA

Sistem Respon
Perilaku Gelisah
Ketegangan fisik
Tremor
Reaksi terkejut
Bicara cepat
Kurang koordinasi
Cenderung mengalami cedera
Menarik diri dari hubungan interpersonal
Inhibisi
Melarikan diri dari masalah
Hiperventilasi
Sangat waspada
Kognitif Perhatian terganggu
Konsentrasi buruk
Salah paham memberikan penilaian
Pelupa
Hambatan berfikir
Lapang persepsi menurun
Kreativitas menurun
Produktivitas menurun
Bingung
Sangat waspada
Kesadaran diri
Kehilangan objektivitas
Takut kehilangan kendali

Respon Fisiologis Terhadap Ansietas
Sistem Tubuh Respon
Kardiovaskuler








Jantung”berdebar”
Palpitasi
Tekanan darah meningkat
Rasa ingin pingsan
Pingsan
Tekanan darah menurun
Denyut nadi menurun

Pernapasan
Napas cepat
Sesak napas
Tekanan pada dada
Napas dangkal
Pembengkakan pada tenggorokan
Sensasi tercekik
Terengah-engah
Neuromuskuler
Refleks meningkat
Reaksi terkejut
Mata berkedip-kedip
Insomnia
Tremor
Rigiditas
Gelisah,mondar-mandir
Wajah tegang
Kelemahan umum
Tungkai lemah
Gastrointestinal

Kehilangan nafsu makan
Menolak makan
Rasa tidak nyaman pada abdomen
Nyeri abdomen
Mual
Nyeri ulu hati
Diare
Saluran perkemihan Tidak dapat menahan kencing
Sering berkemih
Kulit Wajah kemerahan
Berkeringat setempat(telapaktangan)
Gatal
Rasa panas dan dingin pada kulit
Wajah pucat
Berkeringat seluruh tubuh


D. TINGKATAN CEMAS
Beberapa teori membagi ansietas kedalam empat tingkat sesuai dengan rentang respon ansietas yaitu :
1.Antipasi
Antipasi adalah persiapan seseorang dalam menghadapi sesuatu yang dianggap sulit bagi dirinya.
2. Ansietas ringan
Ansietas ringan berhubungan dengan ketegangan akan kehidupan sehari-hari. Pada tingkat ini lapang persepsi meningkat dan individu akan berhati-hati dan waspada. Pada tingkat ini individu terdorong untuk belajar dan akan menghasilkan pertumbuhan dan ktreativitas.
3. Ansietas sedang
Pada tingkat ini lapang persepsi terhadap lingkungan menurun. Individu lebih memfokuskan pada hal yang penting saat itu dan mengesampingkan hal lain.
4. Ansietas berat
Pada ansietas berat, lapang persepsi menjadi sangat menurun. Individu cenderumng memikirkan hal yang kecil saja dan mengabaikan hal yang lain. Individu tidak mampu berfikir berat lagi dan membutuhkan banyak pengarahan.
5. Ansietas panik
Pada tingkat ini individu sudah tidak dapat mengontrol diri lagi dan tidak dapat melakukan apa-apa lagi walaupun sudah diberi pengarahan.
Sedangkan menurut ((Townsend, 1996) Ada empat tingkat kecemasan, yaitu ringan, sedang, berat dan panik
1. Kecemasan ringan;
Kecemasan ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya. Kecemasan ringan dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan dan kreatifitas. Manifestasi yang muncul pada tingkat ini adalah kelelahan, iritabel, lapang persepsi meningkat, kesadaran tinggi, mampu untuk belajar, motivasi meningkat dan tingkah laku sesuai situasi.
2. Kecemasan sedang;
Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada masalah yang penting dan mengesampingkan yang lain sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif, namun dapat melakukan sesuatu yang terarah. Manifestasi yang terjadi pada tingkat ini yaitu kelelahan meningkat, kecepatan denyut jantung dan pernapasan meningkat, ketegangan otot meningkat, bicara cepat dengan volume tinggi, lahan persepsi menyempit, mampu untuk belajar namun tidak optimal, kemampuan konsentrasi menurun, perhatian selektif dan terfokus pada rangsangan yang tidak menambah ansietas, mudah tersinggung, tidak sabar,mudah lupa, marah dan menangis.
3. Kecemasan berat;
Sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. Seseorang dengan kecemasan berat cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik, serta tidak dapat berpikir tentang hal lain. Orang tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area yang lain. Manifestasi yang muncul pada tingkat ini adalah mengeluh pusing, sakit kepala, nausea, tidak dapat tidur (insomnia), sering kencing, diare, palpitasi, lahan persepsi menyempit, tidak mau belajar secara efektif, berfokus pada dirinya sendiri dan keinginan untuk menghilangkan kecemasan tinggi, perasaan tidak berdaya, bingung, disorientasi.
4. Panik;
Panik berhubungan dengan terperangah, ketakutan dan teror karena mengalami kehilangan kendali. Orang yang sedang panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. Tanda dan gejala yang terjadi pada keadaan ini adalah susah bernapas, dilatasi pupil, palpitasi, pucat, diaphoresis, pembicaraan inkoheren, tidak dapat berespon terhadap perintah yang sederhana, berteriak, menjerit, mengalami halusinasi dan delusi.


BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA

I. IDENTITAS KLIEN

Nama : Ny A
Umur : 25 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Suku bangsa : Jawa
Alamat : Wonosari, Gunung Kidul,
RM No : 270511-135
Informan : Pasien itu sendiri
Tgl masuk dirawat : 27 Mei 2011
Tgl pengkajian : 27 Mei 2011

II. ALASAN MASUK

Tidak bisa tidur selama 3 hari,merasa khawatir,sering berdebar-debar dan pasien ada masalah dengan suami dan ingin bercerai.
 Diagnosa medis : Axis I

III. RIWAYAT MASA LALU ( FAKTOR PREDISPOSISI dan PRESIPITASI )

1. Pernah mengalami masalah gangguan jiwa dimasa lalu? Tidak
2. Riwayat pengobatan sebelumnya dan keberhasilannya? Belum pernah berobat
3. Apakah pernah menalami masalah? Pernah,yaitu mengalami kekerasan dalam keluarga ( trauma aniaya fisik, psikologis oleh ayahnya waktu masih kecil)
4. Adakah anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa? Iya

GENOGRAM







KETERANGAN:
: LAKI-LAKI
: PEREMPUAN
+ : MENINGGAL DUNIA
: “SAKIT”






IV. RIWAYAT KESEHATAN SEKARANG

Takut akan dicerai, tidak bisa tidur.

V. Sumber koping
• Dukungan sosial : keluarga, tetangga,teman.
• Aset material : kedekatan tempat konseling.
• Keyakinan positif : klien mampu menghadapi masalah.
• Kemampuan personal : kematangan individu.

VI. Mekanisme koping
• Represi : lebih cenderung memperkuat mekanisme egonya.
• Supresi : menekan hal atau pikiran yang tidak menyenangkan. Bisa
mengarahkan ke represi.
• Disosiasi : pemisahan dari setiap kelompok mental dari seluruh kesadaran
atau identitas.
• Identifikasi : proses untuk mencoba menjadi orang yang dikagumi.
• Proyeksi : mengkaitkan pikiran atau impuls dirinya kepada orang lain.
• Mengingkari : menghindari realitas ketidaksetujuan dengan mengabaikan atau
menolak untuk mengenalinya.
• Fantasi : symbol kepuasan terhadap pikiran yang tidak rasional.
• Reaksi formasi: pembentukan sikap dan perilaku yang berlawanan dengan yang
dirasakan.
VII. PENGKAJIAN FISIK
1. Keadaan Umum : Lemah, muka pucat,
2. Tingkat kesadaran : Compos metis
3. Tanda vital : TD : 120/ 80 mmHg
N : 110 x / menit
S : 37 ํC
RR : 20 x / menit
4. Ukur : TB : 160 cm BB : 55 kg
5. Keluhan fisik : Pegal – pegal di tengkuk, mata merah, mata sayu, lingkar mata menghitam,
konjungtiva anemis,
6. Riwayat Pengobatan Penyakit Fisik : tidak ada riwayat

VIII. PENGKAJIAN STATUS MENTAL

1. Penampilan fisik
 Tidak rapi Rambut kotor dan kusam
 Penggunaan pakaina tidak sesuai  Gigi kotor
 Cara berpakaian tidak seperti biasanya
 Badan bau
 Kuku panjang dan kotor

2. Pembicaraan
 Cepat  Keras  Gagap  Inkoheren

 Apatis  Lambat  Membisu  Tidak mampu memulai pembicaraan

3. Aktivitas motorik
 Lesu  Tegang  Gelisah  Agitasi

 Tik  Grimasen  Tremor  Kompulsif

4. Alam perasaan
 Sedih  Takut  Putua asa  Khawatir

 Gembira berlebihan

5. Afek
 Appropiate / tepat

 Inappropiate / tidak tepat

 Datar  Tumpul  Labil  Tidak sesuai

6. Interaksi selama wawancara
 Bermusuhan  Tidak kooperatif  Mudah tersinggung

 Curiga  Defenif  Kontak mata tidak ada

 Kontak mudah beralih

7. Proses pikir
 Sirkumtansial  Tangensial  Kehilangan asosiasi

 Flight of idea  Blocking  Reeming

 Pengulangan pembicaraan / persevirasi


8. Isi pikir
 Obsesi  Fobia  Depersonalisasi  Ide yang terkait

Waham
 Hipokondria  Magic mistik  Agama  Kebesaran

 Somatik  Nhilistik Curiga


Waham bizar
 Sisip pikir  Siar pikir  Kontrol piker
9. Tingkat kesadaran (secara kualitatif )
 Bingung  Sedasi  Stupor

Diorientasi
 Waktu  Tempat  Orang

10. Memori
 Gangguan daya ingat jangka panjang
 Gangguan daya ingat jangka pendek
Gangguan daya ingat saat ini
 Konfabulasi

11. Tingkat konsentrasi dan berhitung
 Mudah beralih  Tidak mampu konsentrasi
 Tidak mampu berhitung sederhana

12. Kemampuan penilaian
 Gangguan penilaian normal  Gangguan penilaian bermakna

13. Daya tilik diri
 Mengingkari penyakit yang diderita  Menyalahkan hal- hal diluar dirinya

Keterangan:
1. penampilan: tidak rapi
2. pembicaraan: lambat
3. aktivitas motorik: lesu, gelisah
4. alam perasaan: takut, khawatir
5. afek: datar
6. interaksi selama wawancara: kontak mata tidak ada
7. proses pikir: sirkumtansial
8. isi pikir: fobia
Waham:
Waham bizar:
9. tingkat kesadaran: bingung
Disorientasi: orang
10. memori: gangguan daya ingat saat ini
11. tingkatan konsentrasi dan berhitung: tidak mampu konsentrasi
12. kemampuan penilaian: Gangguan penilaian normal
13. daya tilik diri: Menyalahkan hal- hal diluar dirinya


BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

• PENGKAJIAN FISIK
1. Keadaan Umum : Lemah, muka pucat,
2. Tingkat kesadaran : Compos metis
3. Tanda vital : TD : 120/ 80 mmHg
N : 110 x / menit
S : 37 ํC
RR : 20 x / menit
4. Ukur : TB : 160 cm BB : 55 kg
5. Keluhan fisik : Pegal – pegal di tengkuk, mata merah, mata sayu, lingkar mata menghitam,
konjungtiva anemis,
6. Riwayat Pengobatan Penyakit Fisik : tidak ada riwayat

• DIAGNOSA & INTERVENSI
1. Cemas berhubungan dengan krisis situasional
Tujuan:
• Intensitas cemas klien berkurang dan tidak merasakan kecemasan lagi.
Kriteria hasil :
• Klien dapat membina hubungan saling percaya.
• Klien dapat mengenal penyebab kecemasannya.
• Klien dapat menggunakan strategi koping untuk menghadapi cemas.
• Klien dapat dukungan dari keluarga untuk mengontrol kecemasannya.
Implementasi dan intervensi:
1. Bina hubungan saling percaya dengan klien.
2. Lakukan kontak sering dan singkat dengan klien.
3. Kaji penyebab kecemasan klien dan reaksi fisik pada tingkat kecemasan.
4. Fasilitasi klien untuk mengungkapkan perasaanya.
5. Dengarkan ungkapan klien dengan empati.
6. Observasi tingkah laku klien.
7. Yakinkan klien bahwa klien berada di tempat yang aman dan terlindungi.
8. Melakukan teknik relaksasi untuk mengurangi kecemasan.
9. Bantu klien untuk memilih koping yang tepat untuk mengatasi kecemasan.
10. Berikan aktifitas positif dan menyenangkan untuk menurunkan kecemasan.
11. Berikan informasi actual tentang diagnosa dan penanganan.
12. Berikan dukungan social pada klien.
13. Ajari klien melakukan teknik relaksasi untuk menurunkan kecemasan.
14. Diskusikan dengan keluarga untuk membantu mengatasi kecemasan dan memberi dukungan pada klien.
15. Berikan pengobatan yang tepat untuk mengurangi kecemasan.
16. Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip (benar dosis ,benar cara ,benar waktu).
17. Berbicara dengan konteks realita pada klien.

2. Gangguan Pola Tidur b.d. respon Ansietas
Definisi :
Keadaan dimana individu mengalami atau berisiko mengalami suatu perubahan dalam kuantitas atau kualitas pola istirahatnya yang menyebabkan rasa tidak nyaman atau menggangu gaya hidup yang diinginkan.

Data mayor :
Kesukaran untuk tertidur dan tetap tidur

Data minor :
• Keletihan waktu bangun atau sepanjang hari
• Tidur sejenak atau sepanjang hari
• Perubahan suasana hati


Kriteria hasil
Individu akan :
1. Menggambarkan faktor yang mencegah atau menghambat tidur.
2. Mengidentifikasi teknik untuk menginduksi tidur.
3. melaporkan keseimbangan optimal dari istirahat dan aktivitas.

Intervensi :
1. Kurangi kebisingan.
2. Organisasi prosedur untuk memberikan jumlah terkecil gangguan selama periode tidur (mis; sewaktu individu bangun untuk pengobatan juga berikan penanganan dan pengukuran tanda vital)
3. Jika berkemih sepanjang malam mengganggu, batasi masukan cairan waktu malam dan berkemih sebelum berbaring.
4. Tetapkan bersama individu suatu jadwal untuk program aktivitas sepanjang waktu (jalan, terapi fisik)
5. Batasi jumlah dan panjang waktu tidur jika berlebihan (mis; lebih dari 1 jam)
6. Kaji bersama individu, keluarga, atau orang tua terhadap waktu tidur rutin – waktu praktik kebersihan, ritual (membaca, mainan) – dan patuhi sedekat mungkin jika memungkinkan.
7. Batasi masukan minuman yang mengandung kafein
8. Untuk anak-anak :
a. Jelaskan waktu malam pada anak (bulan, bintang)
b. Diskusikan bagaimana beberapa orang (perawat, pekerja pabrik) bekerja pada malam hari.
c. Bandingkan kebalikan bahwa jika malam datang di tempat mereka, maka akan terjadi siang hari bagi orang-orang di tempat lain.
d. Jika terjadi mimpi buruk, dorong anak untuk bicara mengenai hal ini jika mungkin. Yakinkan pada anak bahwa ini merupakan suatu mimpi meskipun kelihatannya sangat nyata. Berbagi perasaan dengan anak bahwa anda juga pernah bermimpi.

e. Berikan anak lampu malam dan/atau senter untuk digunakan, agar anak dapat mengontrol kegelapan.f. Yakinkan anak bahwa anda akan berada didekatnya sepenjang malam.
9. Jelaskan kepada individu dan orang terdekat lainnya penyebab gangguan tidur/istirahat dan kemungkinan cara untuk menghindarinya.

3. Isolasi sosial berhubungan dengan perasaan khawatir
Tujuan umum : klien dapat berinteraksi dengan orang lain
Tujuan kusus :
• klien dapat membina hubungan saling percaya
• bersedia mengungkapkan masalah
intervensi:
1. Bina hubungan saling percaya dengan :
 Beri salam setiap berinteraksi
 Perkenalkan nama,nama panggialan peraqwat dan tujuan perawat berkenalan
 Tanyakan dan panggil nama kesukaan klien
 Tunjukan sikap jujur dan menepati janji setiap kali berinteraksi
 Tanyakan perasaan klien dan masalah yang dihadapi klien
 Buat kontrak interaksi yang jelas
 Dengarkan dengan penuh perhatian ekspresi perasaan klien
2. Diskusikan dengan klien penyebab menarik dri atau tidak mau bergaul dengan
orang lain
3. Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaanya:
 Klien mampu menyebutkan keuntungan berhubungan sosial, missal:
• Banyak teman
• Tidak kesepian
• Bisa diskusi
• Saling menolong


 Kerugian menarik diri, misalnya:
• Sendiri
• Kesepian
4. Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubunagn sosial dan kerugian menarik diri
5. Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya
6. Observasi prilaku klien saat berhubungan sosial
7. Beri motivasi klien dan bantuan untuk berkanalan /berkomunikasi dengan:
 perawat lain
 pasien lain
 Kelompok
8. libatkan klien dalam terapi aktivitas kelompok sosialisasi
9. Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan oleh pasien untuk meningkatkan kemampuan klien
10. Beri motivasi klien agar melakukan kegiatan yang sudah sesuai dengan jadwal
11. Beri pujian terhadap kemampuan klien memperluas pergaulannya dan melakukan
aktivitas
12. Diskusikan dengan klien tentang prasaan klien setelah berhubungan sosial dengan
orang lain
13. Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya
14. Diskusikan peran serta keluarga sebagai pendukung untuk mengatasi penarikan diri
15. Diskusiakan potensi keluarga untuk membantu klien mengatasi perilaku menarik diri
16. Jelaskan kepada keluarga tentang: pengertian, tanda dan gejala, penyebab menarik diri
17. diskusikan dengan klien tentang manfaat dan kerugiantidak minum obat, nama
obat,warna, dosis, cara, efek terapi dan efek samping penggunaan obat
18. pantau klien saat penggunaan obat
19. beri pujian jika klien mengguanakan obat dengan benar
20. diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter
21. anjurkan klien untuk konsultasi kepada dokter/perawat jika terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan

Daftar pustaka

Doenges, Marilynn. “Rencana Asuhan Keperawatan Psikiatri”. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran, Ed3. 2006
Videbeck, Sheila. “ Buku Ajar Keperawatan Jiwa”. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran. 2008
Nursing Diagnoses : Defitotins and Clasification. NANDA, Philadhelpia
Townsend, MC: Nursing Diagnosis in Psyciatric Nursing: A Pocket Guide for Care plan contruction, ED4. FA Davis, Philadelphia, 1997.

Nutrisi

Zat gizi/nutrien peningkat imunitas (Immune - boosting nutrients)
Kekuatan imunitas (kekebalan tubuh) secara menyeluruh tergantung pada
pasokan vitamin dan mineral yang optimal.
Defisiensi (kekurangan) vitamin A, B1, B2, B6, B12, asam folik (folic acid),
C dan E mengurangi imunitas, sebagaimana halnya kekurangan besi, seng,
magnesium dan selenium.
Vitamin B1, B2 and B5 mempunyai dampak peningkatan imunitas yang lebih
lembut/ringan dibandingkan dengan vitamin B6.
Produksi antibodi, yang sangat penting untuk setiap infeksi, tergantung
pada B6, yang berfungsi sebagai sel T (T-cell), B12 dan asam folik (folic acid) dibutuhkan untuk produksi sel-sel imunitas baru dalam tempo singkat untuk menghadapi sel-sel musuh,
Imunitas dapat ditingkatkan dengan sangat efektif dengan kombinasi nutrien, Selenium, besi, mangan, tembaga and seng dikaitkan dengan antioksidasi dan
telah terbukti mempengaruhi daya imunitas secara positif. Yang paling penting adalah selenium dan seng.

Vitamin C tidak perlu dipertanyakan lagi adalah nutrien utama peningkat
imunitas (master immune- boosting nutrient), Vitamin C membantu sel-sel imunitas menjadi dewasa, meningkatkan performansi (unjuk kerja) antibodi dan makrofagis (macrophages).
Vitamin C adalah anti-virus, anti-bakteri dan dapat menghancurkan racun yang diproduksi bakteri, Vitamin Vitamin yang dapat disimpan tubuh kita dalam jumlah banyak Vitamin A, D, E dan B12 dapat disimpan dalam tubuh dalam jangka waktu yang cukup lama, Simpanan ini melindungi tubuh dari kekurangan jangka pendek. Vitamin D, diperoleh dari sinar surya yang mengenai kulit tubuh pada musim panas yang menyediakan pasokannya pada musim dingin.
Tubuh dapat mengatur penyimpanan ini namun bila kita mengkonsumsi
produk hewani bahkan dalam tingkat yang moderat sekalipun akan terjadi kelebihan
vitamin A dan D yang akan menimbulkan dampak buruk, Meskipun tubuh memproduksi vitamin A dari karoten yang terkandung dalam sayur dan buah, memakan sayur dan buah dalam jumlah besar tidak akan menyebabkan kelebihan vitamin A, dan juga tidak akan menyebabkan kelebihan vitamin D dari sinar surya.
Pada negara berkembang, kekurangan lemak - pelarut vitamin A, D, E, (dan
K, yang disimpan sedikit sekali dalam tubuh) lebih disebabkan oleh pola pemilihan
makanan yang buruk, dan kekurangan vitamin D lebih disebabkan oleh jarang keluar rumah untuk mendapatkan sinar surya, Sebagian orang sangat beresiko karena tubuh mereka sulit menyerap lemak, karena penyakit atau karena efek samping dari obat-obatan, seperti obat
penurun kolesterol atau pengunaan rutin laksatif, Karena dibiarkan dalam udara terbuka dalam jangka waktu lama, dan karena suhu tinggi selama pemasakan, sebagian vitamin A dan vitamin E dalam makanan hilang.
Lemak yang melarutkan vitamin tidak perlu berasal dari makanan berkadar
lemak tinggi, ada banyak jenis makanan berkadar lemak rendah yang baik
untuk melarutkan vitamin, Vitamin yang hanya dapat disimpan dalam jumlah sedikit sekali oleh tubuh kita Vitamin B kompleks dan vitamin C dan K disimpan sedikit sekali oleh tubuh,
jadi masukan setiap hari adalah penting, meskipun tubuh dapat memproduksi
vitamin K sebanyak mungkin jika memang dibutuhkan, Kontak dengan air dapat mencuci vitamin ini dari makanan, misalnya dalam proses pengalengan, perendaman atau ketika dimasak dengan air dalam jumlah besar.

makalah Gagal Jantung

DEFINISI
Gagal Jantung (Heart Failure) adalah suatu keadaan yang serius, dimana jumlah darah yang dipompa oleh jantung setiap menitnya (cardiac output, curah jantung) tidak mampu memenuhi kebutuhan normal tubuh akan oksigen dan zat-zat makanan. Kadang orang salah mengartikan gagal jantung sebagai berhentinya jantung. Sebenarnya istilah gagal jantung menunjukkan berkurangnya kemampuan jantung untuk mempertahankan beban kerjanya.

MEKANISME KOMPENSASI
Tubuh memiliki beberapa mekanisme kompensasi untuk mengatasi gagal jantung:
1. Mekanisme respon darurat yang pertama berlaku untuk jangka pendek (beberapa menit sampai beberapa jam), yaitu reaksi fight-or-flight. Reaksi ini terjadi sebagai akibat dari pelepasan adrenalin (epinefrin) dan noradrenalin (norepinefrin) dari kelenjar adrenal ke dalam aliran darah; noradrenalin juga dilepaskan dari saraf. Adrenalin dan noradrenalin adalah sistem pertahanan tubuh yang pertama muncul setiap kali terjadi stres mendadak.
Pada gagal jantung, adrenalin dan noradrenalin menyebabkan jantung bekerja lebih keras, untuk membantu meningkatkan curah jantung dan mengatasi gangguan pompa jantung sampai derajat tertentu. Curah jantung bisa kembali normal, tetapi biasanya disertai dengan meningkatnya denyut jantung dan bertambah kuatnya denyut jantung. Pada seseorang yang tidak mempunyai kelainan jantung dan memerlukan peningkatan fungsi jantung jangka pendek, respon seperti ini sangat menguntungkan. Tetapi pada penderita gagal jantung kronis, respon ini bisa menyebabkan peningkatan kebutuhan jangka panjang terhadap sistem kardiovaskuler yang sebelumnya sudah mengalami kerusakan. Lama-lama peningkatan kebutuhan ini bisa menyebabkan menurunya fungsi jantung.
2. Mekanisme perbaikan lainnya adalah penahanan garam (natrium) oleh ginjal.
Untuk mempertahankan konsentrasi natrium yang tetap, tubuh secara bersamaan menahan air. Penambahan air ini menyebabkan bertambahnya volume darah dalam sirkulasi dan pada awalnya memperbaiki kerja jantung. Salah satu akibat dari penimbunan cairan ini adalah peregangan otot jantung karena bertambahnya volume darah. Otot yang teregang berkontraksi lebih kuat. Hal ini merupakan mekanisme jantung yang utama untuk meningkatkan kinerjanya dalam gagal jantung. Tetapi sejalan dengan memburuknya gagal jantung, kelebihan cairan akan dilepaskan dari sirkulasi dan berkumpul di berbagai bagian tubuh, menyebabkan pembengkakan (edema). Lokasi penimbunan cairan ini tergantung kepada banyaknya cairan di dalam tubuh dan pengaruh gaya gravitasi. Jika penderita berdiri, cairan akan terkumpul di tungkai dan kaki, Jika penderita berbaring, cairan akan terkumpul di punggung atau perut. Sering terjadi penambahan berat badan sebagai akibat dari penimbunan air dan garam.
3. Mekanime utama lainnya adalah pembesaran otot jantung (hipertrofi).
Otot jantung yang membesar akan memiliki kekuatan yang lebih besar, tetapi pada akhirnya bisa terjadi kelainan fungsi dan menyebabkan semakin memburuknya gagal jantung.

PENYEBAB
Setiap penyakit yang mempengaruhi jantung dan sirkulasi darah dapat menyebabkan gagal jantung. Beberapa penyakit dapat mengenai otot jantung dan mempengaruhi kemampuannya untuk berkontraksi dan memompa darah. Penyebab paling sering adalah penyakit arteri koroner, yang menyebabkan berkurangnya aliran darah ke otot jantung dan bisa menyebabkan suatu serangan jantung.
Kerusakan otot jantung bisa disebabkan oleh:
- Miokarditis (infeksi otot jantung karena bakteri, virus atau mikroorganisme lainnya)
- Diabetes
- Kelenjar tiroid yang terlalu aktif
- Kegemukan (obesitas).
Penyakit katup jantung bisa menyumbat aliran darah diantara ruang-ruang jantung atau diantara jantung dan arteri utama. Selain itu, kebocoran katup jantung bisa menyebabkan darah mengalir balik ke tempat asalnya. Keadaan ini akan meningkatkan beban kerja otot jantung, yang pada akhirnya bisa melemahkan kekuatan kontraksi jantung. Penyakit lainnya secara primer menyerang sistem konduksi listrik jantung dan menyebabkan denyut jantung yang lambat, cepat atau tidak teratur, sehingga tidak mampu memompa darah secara efektif. Jika jantung harus bekerja ekstra keras untuk jangka waktu yang lama, maka otot-ototnya akan membesar; sama halnya dengan yang terjadi pada otot lengan setelah beberapa bulan melakukan latihan beban. Pada awalnya, pembesaran ini memungkinkan jantung untuk berkontraksi lebih kuat; tetapi akhirnya jantung yang membesar bisa menyebabkan berkurangnya kemampuan memompa jantung dan terjadilah gagal jantung.
Tekanan darah tinggi (hipertensi) bisa menyebabkan jantung bekerja lebih berat. Jantung juga bekerja lebih berat jika harus mendorong darah melalui jalan keluar yang menyempit (biasanya penyempitan katup aorta). Penyebab yang lain adalah kekakuan pada perikardium (lapisan tipis dan transparan yang menutupi jantung). Kekakuan ini menghalangi pengembangan jantung yang maksimal sehingga pengisian jantung juga menjadi tidak maksimal. Penyebab lain yang lebih jarang adalah penyakit pada bagian tubuh yang lain, yang menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan oksigen dan zat-zat makanan, sehingga jatnung yang normalpun tidak mampu memenuhi peningkatan kebutuhan tersebut dan terjadilah gagal jantung. Penyebab gagal jantung bervariasi di seluruh dunia karena penyakit yang terjadipun tidak sama di setiap negara.
Misalnya di negara tropis sejenis parasit tertentu bisa bersemayam di otot jantung dan menyebabkan gagal jantung pada usia yang jauh lebih muda.

GEJALA
Penderita gagal jantung yang tidak terkompensasi akan merasakan lelah dan lemah jika melakukan aktivitas fisik karena otot-ototnya tidak mendapatkan jumlah darah yang cukup. Pembengkakan juga menyebabkan berbagai gejala. Selain dipengaruhi oleh gaya gravitasi, lokasi dan efek pembengkakan juga dipengaruhi oleh sisi jantung yang mengalami gangguan. Gagal jantung kanan cenderung mengakibatkan pengumpulan darah yang mengalir ke bagian kanan jantung. Hal ini menyebabkan pembengkakan di kaki, pergelangan kaki, tungkai, hati dan perut. Gagal jantung kiri menyebabkan pengumpulan cairan di dalam paru-paru (edema pulmoner), yang menyebabkan sesak nafas yang hebat. Pada awalnya sesak nafas hanya terjadi pada saat melakukan aktivitas; tetapi sejalan dengan memburuknya penyakit, sesak nafas juga akan timbul pada saat penderita tidak melakukan aktivitas. Kadang sesak nafas terjadi pada malam hari ketika penderita sedang berbaring, karena cairan bergerak ke dalam paru-paru. Penderita sering terbangun dan bangkit untuk menarik nafas atau mengeluarkan bunyi mengi. Duduk menyebabkan cairan mengalir dari paru-paru sehingga penderita lebih mudah bernafas. Untuk menghindari hal tersebut, sebaiknya penderita gagal jantung tidur dengan posisi setengah duduk. Pengumpulan cairan dalam paru-paru yang berat (edema pulmoner akut) merupakan suatu keadaan darurat yang memerlukan pertolongan segera dan bisa berakibat fatal.

PEMERIKSAAN
Foto rontgen dada bisa menunjukkan adanya pembesaran jantung dan pengumpulan cairan di dalam paru-paru. Kinerja jantung seringkali dinilai melalui pemeriksaan ekokardiografi (menggunakan gelombang suara untuk menggambarkan jantung) dan elektrokardiografi (menilai aktivitas listrik dari jantung). Pemeriksaan lainnya bisa dilakukan untuk menentukan penyakit penyebab gagal jantung.

PENGOBATAN
Pengobatan dilakukan agar penderita merasa lebih nyaman dalam melakukan berbagai aktivitas fisik, dan bisa memperbaiki kualitas hidup serta meningkatkan harapan hidupnya. Pendekatannya dilakukan melalui 3 segi, yaitu mengobati penyakit penyebab gagal jantung, menghilangkan faktor-faktor yang bisa memperburuk gagal jantung dan mengobati gagal jantung.

MENGOBATI PENYEBAB GAGAL JANTUNG
1. Pembedahan bisa dilakukan untuk:
- memperbaiki penyempitan atau kebocoran pada katup jantung
- memperbaiki hubungan abnormal diantara ruang-ruang jantung
- memperbaiki penyumpatan arteri koroner yang kesemuanya bisa menyebabkan gagal jantung.
2. Pemberian antibiotik untuk mengatasi infeksi.
3. Kombinasi obat-obatan, pembedahan dan terapi penyinaran terhadap kelenjar tiroid yang terlalu aktif.
4. Pemberian obat anti-hipertensi.

MENGHILANGKAN FAKTOR YANG MEMPERBURUK GAGAL JANTUNG
Merokok, garam, kelebihan berat badan dan alkohol akan memperburuk gagal jantung.
Dianjurkan untuk berhenti merokok, melakukan perubahan pola makan, berhenti minum alkohol atau melakukan olah raga secara teratur untuk memperbaiki kondisi tubuh secara keseluruhan. Untuk penderita gagal jantung yang berat, tirah baring selama beberapa hari merupakan bagian penting dari pengobatan. Penggunaan garam yang berlebihan dalam makanan sehari-hari bisa menyebabkan penimbunan cairan yang akan menghalangi pengobatan medis. Jumlah natrium dalam tubuh bisa dikurangi dengan membatasi pemakaian garam dapur, garam dalam masakan dan makanan yang asin.
Penderita gagal jantung yang berat biasanya akan mendapatkan keterangan terperinci mengenai jumlah asupan garam yang masih diperbolehkan.
Cara yang sederhana dan dapat dipercaya untuk mengetahui adanya penimbunan cairan dalam tubuh adalah dengan menimbang berat badan setiap hari. Kenaikan lebih dari 1 kg/hari hampir dapat dipastikan disebabkan oleh penimbunan cairan. Penambahan berat badan yang cepat dan terus menerus merupakan petunjuk dari memburuknya gagal jantung.
Karena itu penderita gagal jantung diharuskan menimbang berat badannya setepat mungkin setiap hari, terutama pada pagi hari , setelah berkemih dan sebelum sarapan. Timbangan yang digunakan harus sama, jumlah pakaian yang digunakan relatif sama dan dibuat catatan tertulis.

MENGOBATI GAGAL JANTUNG.
Pengobatan terbaik untuk gagal jantung adalah pencegahan atau pengobatan dini terhadap penyebabnya.
Gagal Jantung Kronis.
Jika pembatasan asupan garam saja tidak dapat mengurangi penimbunan cairan, bisa diberikan obat diuretik untuk menambah pembentukan air kemih dan membuang natrium dan air dari tubuh melalui ginjal. Mengurangi cairan akan menurunkan jumlah darah yang masuk ke jantung sehingga mengurangi beban kerja jantung. Untuk pemakaian jangka panjang, diuretik diberikan dalam bentuk sediaan per-oral (ditelan); sedangkan dalam keadaan darurat akan sangat efektif jika diberikan secara intravena (melalui pembuluh darah). Pemberian diuretik sering disertai dengan pemberian tambahan kalium, karena diuretik tertentu menyebabkan hilangnya kalium dari tubuh; atau bisa digunakan diuretik hemat kalium. Digoksin meningkatkan kekuatan setiap denyut jantung dan memperlambat denyut jantung yang terlalu cepat. Ketidakteraturan irama jantung (aritmia, dimana denyut jantung terlalu cepat, terlalu lambat atau tidak teratur), bisa diatasi dengan obat atau dengan alat pacu jantung buatan.
Sering digunakan obat yang melebarkan pembuluh darah (vasodilator), yang bisa melebarkan arteri, vena atau keduanya. Pelebar arteri akan melebarkan arteri dan menurunkan tekanan darah, yang selanjutnya akan mengurangi beban kerja jantung.
Pelebar vena akan melebarkan vena dan menyediakan ruang yang lebih untuk darah yang telah terkumpul dan tidak mampu memasuki bagian kanan jantung. Hal ini akan mengurangi penyumbatan dan mengurangi beban jantung.
Vasodilator yang paling banyak digunakan adalah ACE-inhibitor (angiotensin converting enzyme inhibitor).
Obat ini tidak hanya meringankan gejala tetapi juga memperpanjang harapan hidup penderita.
ACE-inhibitor melebarkan arteri dan vena; sedangkan obat terdahulu hanya melebarkan vena saja atau arteri saja (misalnya nitrogliserin hanya melebarkan vena, hydralazine hanya melebarkan arteri).
Ruang jantung yang melebar dan kontraksinya jelek memungkinkan terbentuknya bekuan darah di dalamnya.
Bekuan ini bisa pecah dan masuk ke dalam sirkulasi kemudian menyebabkan kerusakan di organ vital lainnya, misalnya otak dan menyebabkan stroke. Oleh karena itu diberikan obat antikoagulan untuk membantu mencegah pembentukan bekuan dalam ruang-ruang jantung.
Milrinone dan amrinone menyebabkan pelebaran arteri dan vena, dan juga meningkatkan kekuatan jantung.
Obat baru ini hanya digunakan dalam jangka pendek pada penderita yang dipantau secara ketat di rumah sakit, karena bisa menyebabkan ketidakteraturan irama jantung yang berbahaya. Pencangkokan jantung dianjurkan pada penderita yang tidak memberikan respon terhadap pemberian obat. Kardiomioplasti merupakan pembedahan dimana sejumlah besar otot diambil dari punggung penderita dan dibungkuskan di sekeliling jantung, kemudian dirangsang dengan alat pacu jantung buatan supaya berkontraksi secara teratur.
Gagal Jantung Akut.
Bila terjadi penimbunan cairan tiba-tiba dalam paru-paru (edema pulmoner akut), penderita gagal jantung akan mengalami sesak nafas hebat sehingga memerlukan sungkup muka oksigen dengan konsentrasi tinggi. Diberikan diuretik dan obat-obatan (misalnya digoksin) secara intravena supaya terjadi perbaikan segera. Nitrogliserin intravena atau sublingual (dibawah lidah) akan menyebabkan pelebaran vena, sehingga mengurangi jumlah darah yang melalui paru-paru.
Jika pengobatan di atas gagal, pernafasan penderita dibantu dengan mesin ventilator.
Kadang dipasang torniket pada 3 dari keempat anggota gerak penderita untuk menahan darah sementara waktu, sehingga mengurangi volume darah yang kembali ke jantung.

Torniket ini dipasang secara bergantian pada setiap anggota gerak setiap 10-20 menit untuk menghindari cedera.
Pemberian morfin dimaksudkan untuk:
- mengurangi kecemasan yang biasanya menyertai edema pulmoner akut
- mengurangi laju pernafasan
- memperlambat denyut jantung
- mengurangi beban kerja jantung

makalah Anestesi

Anestesi adalah suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Istilah anestesi digunakan pertama kali oleh Oliver Wendel Holmes Sr pada tahun 1846.
Tipe anestesi
A. Anestesi Lokal
Pembiusan atau anestesi lokal biasa dimanfaatkan untuk banyak hal. Misalnya, perawatan kecantikan seperti sulam bibir, sulam alis, dan liposuction, kegiatan sosial seperti sirkumsisi (sunatan), mencabut gigi geraham terakhir atau gigi berlubang, mengangkat mata ikan, hingga merawat luka terbuka yang disertai tindakan penjahitan. Anestesi lokal merupakan tindakan memanfaatkan obat bius yang cara kerjanya hanya menghilangkan rasa di area tertentu yang akan dilakukan tindakan.
Caranya, menginjeksikan obat-obatan anestesi tertentu pada area yang akan dilakukan sayatan atau jahitan. Obat-obatan yang diinjeksikan ini lalu bekerja memblokade saraf-saraf tepi yang ada di area sekitar injeksi sehingga tidak mengirimkan impuls nyeri ke otak.
Anestesi lokal ini bersifat ringan dan biasanya digunakan untuk tindakan yang hanya perlu waktu singkat. Oleh karena efek mati rasa yang didapat hanya mampu dipertahankan selama kurun waktu sekitar 30 menit seusai injeksi, bila lebih dari itu, maka akan diperlukan injeksi tambahan untuk melanjutkan tindakan tanpa rasa nyeri.
B. Anestesi Regional
Anestesi jenis ini biasanya dimanfaatkan untuk kasus bedah yang pasiennya perlu dalam kondisi sadar untuk meminimalisasi efek samping operasi yang lebih besar, bila pasien tak sadar. Misalnya, pada persalinan Caesar, operasi usus buntu, operasi pada lengan dan tungkai.
Caranya dengan menginjeksikan obat-obatan bius pada bagian utama pengantar register rasa nyeri ke otak yaitu saraf utama yang ada di dalam tulang belakang. Sehingga, obat anestesi mampu menghentikan impuls saraf di area itu.
Sensasi nyeri yang ditimbulkan organ-organ melalui sistem saraf tadi lalu terhambat dan tak dapat diregister sebagai sensasi nyeri di otak. Dan sifat anestesi atau efek mati rasa akan lebih luas dan lama dibanding anestesi lokal. Pada kasus bedah, bisa membuat mati rasa dari perut ke bawah.
Namun, oleh karena tidak mempengaruhi hingga ke susunan saraf pusat atau otak, maka pasien yang sudah di anestesi lokal masih bisa sadar dan mampu berkomunikasi, walau tak merasakan nyeri di daerah yang sedang dioperasi.
C. Anestesi Umum
Anestesi umum atau bius total adalah anestesi yang biasanya dimanfaatkan untuk tindakan operasi besar yang memerlukan ketenangan pasien dan waktu pengerjaan lebih panjang. Misalnya pada kasus bedah jantung, pengangkatan batu empedu, bedah rekonstruksi tulang, dan lainnya.
Caranya, memasukkan obat-obatan bius baik secara inhalasi (pernafasan) maupun intravena (pembuluh darah vena) beberapa menit sebelum pasien dioperasi. Obat-obatan ini akan bekerja menghambat hantaran listrik ke otak sehingga sel otak tak bisa menyimpan memori atau mengenali impuls nyeri di area tubuh manapun, dan membuat pasien dalam kondisi tak sadar (loss of consciousness).
Cara kerjanya, selain menghilangkan rasa nyeri, menghilangkan kesadaran, dan membuat amnesia, juga merelaksasi seluruh otot. Maka, selama penggunaan anestesi juga diperlukan alat bantu nafas, selain deteksi jantung untuk meminimalisasi kegagalan organ vital melakukan fungsinya selama operasi dilakukan.

Penggunaan obat-obatan dalam anestesi
Dalam membius pasien, dokter anestesi memberikan obat-obatan (suntik, hirup, ataupun lewat mulut) yang bertujuan menghilangkan rasa sakit (pain killer), menidurkan, dan membuat tenang (paraytic drug). Pemberian ketiga macam obat itu disebut triangulasi.
Bermacam obat bius yang digunakan dalam anestesi saat ini seperti:
1. Thiopental
2. Benzodiazepine Intravena
3. Propofol (2,6-di-isopropyl-phenol)
4. Etomidate (suatu derifat imidazole)
5. Ketamine (suatu derifat piperidine, dikenal juga sebagai 'Debu Malaikat'/'PCP' (phencyclidine)
6. Halothane
7. Enflurane (d 1963 u 1972), isoflurane (d 1965 u 1971), desflurane, sevoflurane
8. Opioid-opioid sintetik baru - fentanyl, alfentanil, sufentanil (1981), remifentanil, meperidine
9. Neurosteroid
Pemilihan teknik anestesi
Pemilihan teknik anestesi adalah suatu hal yang kompleks, memerlukan kesepakatan dan pengetahuan yang dalam baik antara pasien dan faktor-faktor pembedahan. Dalam beberapa kelompok populasi pasien, pembiusan regional ternyata lebih baik daripada pembiusan total.Blokade neuraksial bisa mengurangi risiko thrombosis vena, emboli paru, transfusi, pneumonia, tekanan pernafasan, infark miokardial dan kegagalan ginjal.
Sesuai Cara Penggunaan
Kebutuhan dan cara kerja anestesi beranekaragam. Anestesi juga memiliki cara penggunaan yang berbeda sesuai kebutuhannya. Tak hanya cara disuntikkan saja, tetapi juga dihirup melalui alat bantu nafas. Beberapa cara penggunaan anestesi ini di antaranya:
1. Melalui Pernafasan
Beberapa obat anestesi berupa gas seperti isoflurane dan nitrous oxide, dapat dimasukkan melalui pernafasan atau secara inhalasi. Gas-gas ini mempengaruhi kerja susunan saraf pusat di otak, otot jantung, serta paru-paru sehingga bersama-sama menciptakan kondisi tak sadar pada pasien.
Penggunaan bius jenis inhalasi ini lebih ditujukan untuk pasien operasi besar yang belum diketahui berapa lama tindakan operasi diperlukan. Sehingga, perlu dipastikan pasien tetap dalam kondisi tak sadar selama operasi dilakukan.
2. Injeksi Intravena
Sedangkan obat ketamine, thiopetal, opioids (fentanyl, sufentanil) dan propofol adalah obat-obatan yang biasanya dimasukkan ke aliran vena. Obat-obatan ini menimbulkan efek menghilangkan nyeri, mematikan rasa secara menyeluruh, dan membuat depresi pernafasan sehingga membuat pasien tak sadarkan diri. Masa bekerjanya cukup lama dan akan ditambahkan bila ternyata lamanya operasi perlu ditambah.
3. Injeksi Pada Spinal/ Epidural
Obat-obatan jenis iodocaine dan bupivacaine yang sifatnya lokal dapat diinjeksikan dalam ruang spinal (rongga tulang belakang) maupun epidural untuk menghasilkan efek mati rasa pada paruh tubuh tertentu. Misalnya, dari pusat ke bawah. Beda dari injeksi epidural dan spinal adalah pada teknik injeksi. Pada epidural, injeksi dapat dipertahankan dengan meninggalkan selang kecil untuk menambah obat anestesi jika diperlukan perpanjangan waktu tindakan. Sedang pada spinal membutuhkan jarum lebih panjang dan hanya bisa dilakukan dalam sekali injeksi untuk sekitar 2 jam ke depan.
4. Injeksi Lokal
Iodocaine dan bupivacaine juga dapat di injeksi di bawah lapisan kulit untuk menghasilkan efek mati rasa di area lokal. Dengan cara kerja memblokade impuls saraf dan sensasi nyeri dari saraf tepi sehingga kulit akan terasa kebas dan mati rasa.

Risiko & Efek Samping Obat Bius
Menggunakan obat bius memang sudah merupakan kebutuhan untuk tindakan medis tertentu. Sebagaimana penggunaan obat-obatan, anestesi juga memiliki risiko tersendiri. Bius lokal, efek samping biasanya merupakan reaksi alergi. Namun, pada anestesi regional dan umum, Roys menggolongkan efek samping berdasarkan tingkat kejadian.
1. Cukup Sering
Dengan angka kejadian 1 : 100 pasien, prosedur anestesi dapat menyebabkan risiko efek samping berupa mual,muntah, batuk kering, nyeri tenggorokan, pusing, penglihatan kabur, nyeri kepala, pusing, penglihatan kabur, nyerikepala, nyeri punggung, gatal-gatal, lebam di area injeksi, dan hilang ingatan sementara.
2. Jarang
Pada angka kejadian 1 : 1000 pasien, anestesi dapat berisiko menyebabkan infeksi dada, beser atau sulit kencing, nyeri otot, cedera pada gigi, bibir, dan lidah, perubahan mood atau perilaku, dan mimpi buruk.
3. Sangat Jarang
Risiko yang sangat jarang terjadi dengan angka kejadian 1 : 10.000/ 200.000 pasien, diantaranya dapat menyebabkan cedera mata, alergi obat yang serius, cedera saraf, kelumpuhan, dan kematian.Efek samping ini bisa permanen jika sampai menyebabkan komplikasi seperti cedera saraf yang menyebabkan kelumpuhan.Atau, pada kasus infeksi dada disertai penyakit jantung, memperbesar risiko komplikasi penyakit jantung
Resistensi Bius
Ketika dilakukan anestesi, terkadang dapat terjadi seseorang tak mendapatkan efek bius seperti yang diharapkan. Atau, yang kerap disebut resisten terhadap obat bius. Beberapa kondisi yang bisa menyebabkan seseorang resisten terhadap obat bius di antaranya:
1. Pecandu alcohol
2. Pengguna obat psikotropika seperti morfin, ekstasi dan lainnya
3. Pengguna obat anelgesik
Pada orang-orang tadi telah terjadi peningkatan ambang rangsang terhadap obat bius yang disebabkan efek bahan yang dikonsumsi dan masih beredar dalam tubuhnya.
Risiko & Efek Samping Obat Bius
Menggunakan obat bius memang sudah merupakan kebutuhan untuk tindakan medis tertentu. Sebagaimana penggunaan obat-obatan, anestesi juga memiliki risiko tersendiri. Bius lokal, efek samping biasanya merupakan reaksi alergi. Namun, pada anestesi regional dan umum, Roys menggolongkan efek samping berdasarkan tingkat kejadian.
1. Cukup Sering
Dengan angka kejadian 1 : 100 pasien, prosedur anestesi dapat menyebabkan risiko efek samping berupa mual, muntah, batuk kering, nyeri tenggorokan, pusing, penglihatan kabur, nyeri kepala, pusing, penglihatan kabur, nyeri kepala, nyeri punggung, gatal-gatal, lebam di area injeksi, dan hilang ingatan sementara.
2. Jarang
Pada angka kejadian 1 : 1000 pasien, anestesi dapat berisiko menyebabkan infeksi dada, beser atau sulit kencing, nyeri otot, cedera pada gigi, bibir, dan lidah, perubahan mood atau perilaku, dan mimpi buruk.
3. Sangat Jarang
Risiko yang sangat jarang terjadi dengan angka kejadian 1 : 10.000/ 200.000 pasien, diantaranya dapat menyebabkan cedera mata, alergi obat yang serius, cedera saraf, kelumpuhan, dan kematian.
Efek samping ini bisa permanen jika sampai menyebabkan komplikasi seperti cedera saraf yang menyebabkan kelumpuhan. Atau, pada kasus infeksi dada disertai penyakit jantung, memperbesar risiko komplikasi penyakit jantung lebih serius.

Resistensi Bius
Ketika dilakukan anestesi, terkadang dapat terjadi seseorang tak mendapatkan efek bius seperti yang diharapkan. Atau, yang kerap disebut resisten terhadap obat bius. Beberapa kondisi yang bisa menyebabkan seseorang resisten terhadap obat bius di antaranya:
1. Pecandu alcohol
2. Pengguna obat psikotropika seperti morfin, ekstasi dan lainnya
3. Pengguna obat analgesic
Pada orang-orang tadi telah terjadi peningkatan ambang rangsang terhadap obat bius yang disebabkan efek bahan yang dikonsumsi dan masih beredar dalam tubuhnya.

Agar Obat Bius Optimal & Aman
Untuk menghindari terjadinya efek samping dan resistensi terhadap obat bius, sebaiknya pasien benar-benar memastikan kondisi tubuhnya cukup baik untuk menerima anestesi.
1. Menghentikan penggunaan obat anelgetik, paling tidak 1-2 hari sebelum dilakukan prosedur anestesi.


2. Menghentikan konsumsi obat-obatan yang berefek pada saraf pusat seperti morfin, barbiturat, amfetamin dan lainnya, paling tidak 1-3 hari sebelum anestesi dilakukan.
3. Berhenti mengonsumsi alkohol paling tidak 2 minggu sebelum penggunaan anestesi,
4. Berhenti merokok setidaknya 2 minggu sebelum anestesi dilakukan.

Kamis, 01 Desember 2011

REAKSI ANAK USIA INFANT TERHADAP HOSPITALISASI TERKAIT DENGAN ATRESIA ESOFAGUS

I. PENGERTIAN
Reaksi Hospitalisasi adalah reaksi yang bersifat individual dan sangat tergantung pada usia perkembangan anak,pengalaman sebelumnya terhadap sakit,sistem pendukung yang tersedia dan kemampuan koping yang dimilikinya,pada umumnya,reaksi anak terhadap sakit adalah kecemasan karena perpisahan,kehilangan, perlukaan tubuh,dan rasa nyeri.

II. RESPON HOSPITALISASI PADA INFANT (0-1 tahun)
Cemas akibat perpisahan dengan orang tua (Separation anxiety) menyebabkan gangguan pembentukan rasa percaya dan kasih sayang, menyebabkan anak:
a. Menangis (karena berpisah dengan ibu, dan terpapar pada lingkungan baru dan orang-orang asing)
b. Marah (anak membutuhkan ibu dan ketika anak meminta ibunya, dan tidak diberikan maka anak akan marah)
c. Gerakan yang berlebihan (anak memberontak ketika dia merasa tidak nyaman dan cemas karena berada di lingkungan asing)

A. Respon infant akibat perpisahan dibagi tiga tahap:
1. Tahap protes (fase of protes)
a. Menangis kuat
b. Menjerit
c. Menendang
d. Berduka
e. Marah
2. Tahap putus asa (phase of despair)
a. Tangis anak mulai berkurang
b. Murung, diam, sedih, apatis.
c. Tidak tertarik dengan aktivitas di sekitarnya
d. Menghisap jari
e. Menghindari kontak mata
f. Berusaha menghindar dari orang yang mendekati
g. Kadang anak tidak mau makan.
3. Tahap menolak (phase dethacement/denial)
a. Secara samar anak seakan menerima perpisahan (pura-pura)
b. Anak mulai tertarik dengan sesuatu di sekitarnya
c. Bermain dengan orang lain
d. Mulai mmbina hubungan yang dangkal dengan orang lain
e. Anak mulai terlihat gembira
B. Kehilangan Fungsi Dan Control
Hal ini terjadi karena ada persepsi yang salah tentang prosedur dan pengobatan serta aktivitas di rumah sakit, misalnya karena diikat/restrain tangan, kaki yang membuat anak kehilangan mobilitas dan menimbulkan stress pada anak.
C. Gangguan Body Image dan Nyeri
1. Infant masih ragu tentang persepsi body image
2. Tetapi dengan berkembangnya kemampuan motorik infant dapat memahami arti dari organ tubuhnya, misalnya:sedih/cemas jika trauma atau luka.
3. Warna seragam perawat/dokter (putih) diidentikkan dengan prosedur tindakan yang menyakitkan sehingga meningkatkan kecemasan bagi infant.
4. Berdasarkan theory psychodynamic, sensasi yang berarti bagi infant adalah berada di sekitar mulut dan genitalnya. Hal ini diperjelas apabila infant cemas karena perpisahan, kehilangan control, gangguan body image dan nyeri infant biasanya menghisap jari, botol.
5. Perlukaan dan rasa sakit : ekspresi wajah tidak menyenangkan, pergerakan tubuh yang berlebihan dan menangis kuat.
III. KONSEP TUMBUH KEMBANG ANAK USIA INFANT DIKAITKAN DENGAN ATRESIA ESOFAGUS PADA ANAK
Secara ilmiah, setiap individu hidup akan melalui tahapan pertumbuhan dan perkembangan, yaitu sejak masa embrio sampai akhir hayatnya mengalami perkembangan. Kecepatan pertumbuhan dan perkembangan anak bervariasi dari satu anak dengan anak lainnya bergantung pada beberapa hal yang mempengaruhinya, sedangkan pendekatan dalam melaksanakan asuhan keperawatan sangat bergantung pada tahapan perkembangan mana yang sedang dilalui anak pada saat itu.
Terdapat berbagai pandangan teori pertumbuhan dan perkembangan anak.
1. Teori Perkembangan Psikoseksual ( Freud )
Anak memperoleh kepuasan dan kenikmatan yang bersumber pada mulutnya.
Hubungan sosial lebih bersifat fisik, seperti makan atau minum susu. Objek sosial terdekat adalah ibu, terutama saat menyusu. Ketidakpuasan pada masa oral akan menimbulkan gejala regresi (kemunduran), gejala perasaan iri hati. Reaksi dari kedua gejala itu dapat dinyatakan dalam beberapa tingkah laku seperti: menghisap jempol, mengompol, membandel, dll . Selain itu juga berdampak kepada perkembangan kepribadian anak seperti: merasa kurang aman, selalu bergantung kepada orang lain, egosentris, selalu meminta perhatian dari orang lain.
Pada kasus Atresia Esofagus, salivasi berlebihan sampai meleleh keluar dari mulut, tidak memberi kesempatan anak untuk berkembang berdasar tahap oral seperti menghisap ibu jari, payudara Ibu, maupun botol. Karena anak tidak bisa meminum susu dari payudara maupun botol, ini membuat anak ketergantungan pada selang sonde. Sehingga orangtua harus selalu meminumkan susu dengan rutin. Jika terlambat sedikit saja anak pasti akan menangis. Menangis anak selain dikarenakan lapar, juga karena nyeri dipasang sonde, dan anak tidak bisa bergerak bebas.

2. Teori Perkembangan Psikososial ( Erikson )
Percaya versus tidak percaya ( 0 – 12 bulan ) penanaman rasa percaya adalah hal yang sangat mendasar pada fase ini. Terbentuknya kepercayaan diperoleh dari hubungannya dengan orang lain dan orang yang pertama berhubungan adalah orang tuanya, terutama ibunya. Belaian cinta kasih ibu dalam memberikan perhatian dan memenuhi kebutuhan dasar anak yang konsisten terutama pemberian makan di saat anak lapar dan haus adalah sangat penting untuk mengembangkan rasa percaya ini. Bayi belajar bahwa orang tuanya dapat memberi perhatian dan cinta kasih melalui perlakuannya sehingga dapat menurunkan perasaan tidak nyaman.
Jika anak atresia esophagus mengalami hospitalisasi, itu akan membuat rasa percaya pada objek utama perkembangannya, yaitu Ibunya akan menurun. Karena anak harus menjalani perawatan bersama tim medis, dia harus berpisah dengan ibu dan itu yang akan meningkatkan rasa ketidaknyamanan serta kecemasan anak dikelilingi orang asing (tim medis: dokter, perawat). Maka alangkah baiknya system rooming in diterapkan untuk meminimalisasi kecemasan anak berpisah dari ibunya.
3. Teori Perkembangan kognitif (piaget)
Menghisap (sucking) adalah ciri utama pada perilaku bayi dan berkembang sekalipun tidak sedang menyusu, bibirnya bergerak-gerak seperti sedang menyusu. Apabila lapar bayi menangis, lalu ibu menyusuinya dan anak terdiam. Kemudian, jika ibu menyusui sambil bernyayi atau bersenandung, anak kemudian terdiam. Dilain waktu jika bayi menangis dan ibu menyanyi dan ibu bersenandung, bayi juga terdiam. Jadi, bayi belajar dan mengembangkan kemampuan sensoris-motorik dengan dikondisikan oleh lingkungannya. Pada tahap ini, anak mengembangkan aktivitasnya dengan menunjukan perilaku sederhana yang dilakukan berulang – ulang untuk meniru perilaku tertentu dari lingkungannya. Jadi, perkembangan intelektual dipelajari melelui sensasi dan pergerakan.
Reflek menghisap anak dengan atresia esophagus lemah, karena salivasi yang berlebihan. Perawatan intensif anak yang sementara harus berpisah dengan ibunya, membuatanak merasa tidak nyaman dan cemas. Belum lagi prosedur perawatan yang invasive akan lebih memperburuk kondisi anak yang cemas.

 
IV. INTERVENSI PERAWATAN DALAM MENGATASI DAMPAK HOSPITALISASI PADA INFANT DENGAN ATRESIA ESOFAGUS

1. Upaya mencegah / meminimalkan dampak perpisahan
a. Melibatkan orang tua berperan aktif dalam perawatan anak
b. Modifikasi ruang perawatan
2. Mencegah perasaan kehilangan control
a. Hindarkan pembatasan fisik jika anak dapat kooperatif.
b. Bila anak diisolasi lakukan modifikasi lingkungan
c. Buat jadwal untuk prosedur terapi,latihan,bermain
d. Memberi kesempatan anak mengambil keputusan dan melibatkan orang tua dalam perencanaan kegiatan
3. Meminimalkan rasa takut terhadap cedera tubuh dan rasa nyeri
a. Mempersiapkan psikologis anak dan orang tua untuk tindakan prosedur yang menimbulkan rasa nyeri
b. Lakukan permainan sebelum melakukan persiapan fisik anak
c. Menghadirkan orang tua bila memungkinkan
d. Tunjukkan sikap empati
4. Mempersiapkan anak untuk mendapat perawatan di rumah sakit
a. Siapkan ruang rawat sesuai dengan tahapan usia anak.
b. Mengorientasikan situasi rumah sakit.
Pada hari pertama lakukan tindakan: kenalkan perawat dan dokter yang merawatnya Pada hari seterusnya usahakan agar dokter maupun perawat yang menangani adalah orang yang sama, itu bertujuan untuk mengembangkan rasa percaya anak terhadap orang lain
 
DAFTAR PUSTAKA
Wong, Donna L. 2008. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC
Nelson, Waldo E. 2000. Ilmu Kesehatan Anak volume 1. Jakarta: EGC
Herman, fitriana. Perkembangan Psikoseksual Menurut Freud dan Erikson. 2011: Diakses pada 1 Desember 2011 12:51. URL: http://melatikalimantan.blogspot.com/2011/07/perkembangan-psikoseksual-menurut-freud.html
Yutino rosendri. Kelainan jantung bawaan. 2011: Diakses pada 1 Desember 2011 12:36. URL: http://yutinomyt.blogspot.com/2011/01/kelainan-jantung-bawaan-kjb-yr.html
Powered by Blogger