BAB I
PENDAHULUAN
Bayi baru lahir atau neonatus meliputi umur 0 – 28 hari. Kehidupan pada masa neonatus ini sangat rawan oleh karena memerlukan penyesuaian fisiologik agar bayi di luar kandungan dapat hidup sebaik-baiknya. Peralihan dari kehidupan intrauterin ke ekstrauterin memerlukan berbagai perubahan biokimia dan faali. Namun, banyak masalah pada bayi baru lahir yang berhubungan dengan gangguan atau kegagalan penyesuaian biokimia dan faali.
Masalah pada neonatus ini biasanya timbul sebagai akibat yang spesifik terjadi pada masa perinatal. Tidak hanya merupakan penyebab kematian tetapi juga kecacatan. Masalah ini timbul sebagai akibat buruknya kesehatan ibu, perawatan kehamilan yang kurang memadai, manajemen persalinan yang tidak tepat dan tidak bersih, serta kurangnya perawatan bayi baru lahir.
Hal ini dapat dilihat dari tingginya angka kesakitan dan angka kematian neonatus. Diperkirakan 2/3 kematian bayi di bawah umur satu tahun terjadi pada masa neonatus. Salah satu kasus yang banyak dijumpai di sejumlah negara tropis dan negara yang masih memiliki kondisi kesehatan rendah adalah kasus tetanus. Data organisasi kesehatan dunia WHO menunjukkan, kematian akibat tetanus di negara berkembang adalah 135 kali lebih tinggi dibanding negara maju. Mortalitasnya sangat tinggi karena biasanya baru mendapat pertolongan bila keadaan bayi sudah gawat. Penanganan yang sempurna memegang peranan penting dalam menurunkan angka mortalitas. Tingginya angka kematian sangat bervariasi dan sangat tergantung pada saat pengobatan dimulai serta pada fasilitas dan tenaga perawatan yang ada.
Di Indonesia, sekitar 9,8% dari 184 ribu kelahiran bayi menghadapi kematian. Contoh, pada tahun 80-an tetanus menjadi penyebab pertama kematian bayi di bawah usia satu bulan. Namun, pada tahun 1995 kasus serangan tetanus sudah menurun, akan tetapi ancaman itu tetap ada sehingga perlu diatasi secara serius. Tetanus juga terjadi pada bayi, dikenal dengan istilah tetanus neonatorum, karena umumnya terjadi pada bayi baru lahir atau usia di bawah satu bulan (neonatus). Penyebabnya adalah spora Clostridium tetani yang masuk melalui luka tali pusat, karena tindakan atau perawatan yang tidak memenuhi syarat kebersihan.
Dengan tingginya kejadian kasus tetanus ini sangat diharapkan bagi seorang tenaga medis, terutama seorang bidan dapat memberikan pertolongan/tindakan pertama atau pelayanan asuhan kebidanan yang sesuai dengan kewenangan dalam menghadapi kasus tetanus neonatorum.
BAB II
LANDASAN TEORI
1. DEFINISI
Neonatus adalah organisme pada periode adaptasi kehidupan intra uterus ke kehidupan intra uterin hingga berusia kurang dari 1 bulan. (Asri Rosad, 1987)
Tetanus neonatorum adalah penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus yang disebabkan oleh clostridium tetani yaitu kuman yang mengeluarkan toksin (racun) yang menyerang sistem saraf pusat. (Abdul Bari Saifuddin, 2000).
2. PENYEBAB
Penyebab penyakit ini adalah clostridium tetani Kuman ini bersifat anaerobik dan mengeluarkan eksotoksin yang neorotropoik.. Clostridium tetani berbentuk batang langsing, tidak berkapsul, gram positip. Dapat bergerak dan membentuk spora. Spora tersebut kebal terhadap berbagai bahan dan keadaan yang merugikan termasuk perebusan, tetapi dapat dihancurkan jika dipanaskan dengan otoklaf. Kuman ini dapat hidup bertahun-tahun di dalam tanah, asalkan tidak terpapar sinar matahari, selain dapat ditemukan pula dalam debu, tanah, air laut, air tawar dan traktus digestivus manusia serta hewan. Tetanus tidak menularkan dari orang ke orang. Tetanus hanya dapat terjadi jika bakteri berubah bentuk menjadi bentuk vegetatif dalam tubuh manusia. Sebenarnya bakteri ini menghasilkan 3 toksin namun tetanospasmin merupakan penyebab timbulnya tetanus.
3. TANDA DAN GEJALA
Masa inkubasi penyakit adalah 5-14 hari sehingga .Gejala dan tanda tersebut biasanya muncul dalam waktu 5-10 hari setelah terinfeksi, tetapi bisa juga timbul dalam waktu 2 hari atau 50 hari setelah terinfeksi. Gejala yang paling umum terjadi adalah kekakuan pada rahang sehingga penderita tidak dapat membuka mulut, dan menelan serta bersamaan dengan timbulnya pembengkakan, rasa sakit dan kaku di otot leher, dan bahu atau punggung. Kejang-kejang secara cepat merambat ke otot perut, lengan atas dan paha.
Bisa juga dengan melihat gejala klinis atau yang lebih jelas lagi, seperti:
1. Mulut mencucu seperti mulut ikan (karpemound)
2. Bayi tiba-tiba panas.
3. Bayi yang semula dapat menetek menjadi sulit menetek karena kejang pada otot faring (tenggorok dan rahang).
4. Mudah sekali kejang disertai sianosis (biru), kejang terutama apabila terkena cahaya, suara dan sentuhan.
5. Kejang, otot kaku/spasm dengan kesadaran tak terganggu. Kejang pada otot-otot wajah menyebabkan ekspresi penderita seperti menyeringai dengan kedua alis yang terangkat. Kekakuan atau kejang pada otot-otot perut, leher, dan punggung dapat menyebabkan kepala dan tumit penderita tertarik ke belakang, sedangkan badannya melengkung ke depan(kaku duduk sampai opisthotonus) . Kejang pada otot sfingter perut bagian bawah akan menyebabkan sembelit dan tertahannya air kemih.
6. Dinding perut tegang (perut papan)
4. PENCEGAHAN
Pemberian toxoid tetanus kepada ibu hamil 3 x berturut-turut pada trimester ke-3 dikatakan sangat bermanfaat untuk mencegah tetanus neonatorum. Pemotongan tali pusat harus menggunakan alat yang steril dan perawatan tali pusat selanjutnya.
5. PENATALAKSANAAN
1. Pemberian saluran nafas agar tidak tersumbat dan harus dalam keadaan bersih.
2. Pakaian bayi dikendurkan/dibuka
3. Mengatasi kejang dengan cara memasukkan tongspatel atau sendok yang sudah dibungkus kedalam mulut bayi agar tidak tergigit giginya dan untuk mencegah agar lidah tidak jatuh kebelakang menutupi saluran pernafasan.
4. Ruangan dan lingkungan harus tenang
5. Bila tidak dalam keadaan kejang berikan ASI sedikit demi sedikit, ASI dengan menggunakan pipet/diberikan personde (kalau bayi tidak mau menyusui).
6. Perawatan tali pusat dengan teknik aseptic dan antiseptic.
7. Selanjutnya rujuk kerumah sakit, beri pengertian pada keluarga bahwa anaknya harus dirujuk ke RS.
6. MEDIK DAN PERAWATAN
Menurut Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002 :
1. Diberikan cairan intravena dengan larutan glukosa 5% dan NaCl fisiologis 4-1 selama 48-72 jam.
2. Diazepam dosis awal 2,5 mg IV perlahan-lahan selama 2-3 menit
3. ATS 10.000/hari, diberikan selama 2 hari berturut-turut dengan IM
4. Ampisilin 100 mg/kg BB/hari dibagi dalam 4 dosis selama 10 hari
5. Tali pusat dibersihkan / dikompresi dengan alkohol 70% betadine 10%.
6. Rawat diruang yang tenang tetapi harus terang juga hangat
7. Baringkan pasien dengan sikap kepala ekstensi dengan memberikan gajal dibawah bahunya.
8. Beri O2 1-2 liter/menit
9. Pada saat kejang pasang sudit lidah
10. Observasi tanda vital secara continue setiap ½ jam
7. KEBUTUHAN NUTRISI DAN CAIRAN
Akibat keadaan bayi yang payah dan tidak dapat menyusui untuk memenuhi kebutuhannya. Perlu di beri infus dengan cairan glukosa 5%, bila kejang sudah berkurang pemberian makanan dapat diberikan melalui sonde dan sejalan dengan perbaikan, pemberian makanan bayi dapat diubah memakai sendok secara bertahap. (Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002).
ASUHAN MANAJEMEN TERPADU BAYI MUDA SAKIT “TETANUS NEONATORUM”
DI BPS SETYOWATI
Pundak II. Kembang, Nanggulan Kulon Progo Yogyakarta
NO. REGISTER : 192021
MASUK RS/BP TANGGAL, JAM : 5 Mei 2011, pukul 09.00 WIB
DIRAWAT DI RUANG : Ruang Pemeriksaan
PENGKAJIAN DATA, Oleh : Bidan S Tanggal/jam : 5 Mei 2011, pukul 09.00 WIB
SUBYEKTIF
Biodata Anak Ayah Ibu
1. Nama : An A Nn. H Ny. J
2. Umur : 28 Hari 27 tahun 29 tahun
3. Agama : islam Islam Islam
4. Suku Bangsa : jawa Jawa Jawa
5. Pendidikan : - S1 S1
6. Pekerjaan : - PNS PNS
7. Alamat : Jatimulyo, Girimulyo kulon progo Yogyakarta
8. No. Telp : 081234567xxx 081234566xxx
DATA SUBYEKTIF
1. Alasan kunjungan saat ini
Ibu ingin memeriksakan keadaan anaknya.
2. Keluhan utama
Ibu mengatakan anaknya bahwa bayinya panas, tidak mau menyusu dan kadang-kadang mulut bayinya mencucu seperti mulut ikan disertai kejang.
Riwayat Perkawinan
a. Kawin : 1 kali syah, dengan suami yang sekarang.
b. Usia Kawin : ibu usia 26 tahun, suami 28 tahun .
c. Lama perkawinan : 1 tahun
3. Riwayat Obstetri (Riwayat Kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu)
G1P1A0AH1
Anakn ke- Persalinan Nifas
Lahir Umur khamilan Jns prsalinan Penolong komplikasi JK BB Lahir Laktasi Komplikasi
1 20/04/2011 aterm normal Bidan Tidak ada L 3000 gr Ya Tidak ada
4. Riwayat Persalianan yang lalu :
Tanggal persalinan : 20 April 2011 pukul 10.30 WIB
Tempat persalianan : BPS Setyowati
Jenis persalinan : spontan/normal
Penolong : Bidan S
5. Keadaan Balita
Lahir tanggal : 20 April 2011 pukul 10.30 WIB
BB/PB : 3000 gram/ 49 cm
Jenis kelamin : laki-laki
Pola tidur : Sebelum sakit : tidur 18-20 jam/hari
Sesudah sakit : tidur 7-9 jam/hari
6. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan Sekarang
Ibu mengatakan bayinya panas, kejang dan mulut bayi mencucu seperti mulut ikan
b. Riwayat Kesehatan Lalu
Ibu mengatakan bayinya lahir sehat dan tidak pernah menderita penyakit apapun.
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ayah dan ibu mengaku tidak pernah menderita penyakit menular ataupun penyakit keturunan.
7. Riwayat Alergi
Ibu mengatakan anaknya tidak mempunyai alergi apapun.
8. Imunisasi
1) HepatitisB tgl 20 April 2011
2) BCG tgl 27 April 2011
9. Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari
• Pola Nutrisi
Sebelum sakit : bayi minum ASI sebanyak 8-12 x/hari
Sesudah sakit : bayi tidak mau menyusui sejak kemarin
• Pola eliminasi
Sebelum sakit : BAB 3 x/hari, BAK 6-10 x/hari
Sesudah sakit : BAB 1 x/hari, BAK 3-4 x/hari
• Aktifitas
Sebelum sakit : bayi aktif tampak bugar dan aktif
Sesudah sakit : bayi lemah, aktivitas terganggu, dan sering merintih menangis
• Personal hygiene
Sebelum sakit : 2 x/hari mandi, tidak pernah membersihkan tali pusat
Sesudah sakit : 2 x/hari mandi
• Pola Istirahat
Sebelum sakit : tidur 18-20 jam/hari
Sesudah sakit : tidur 7-9 jam/hari
DATA OBYEKTIF
1. Pemeriksaan Fisik
A. Pemeriksaan Umum
a. keadaan umum: Bayi tampak lemah dan gelisah kesadaran: compos mentis
b. Tanda vital
nadi : 124x/menit
pernafasan : 48 x/menit
suhu : 38,6ºC
a. Antropometri
BB/TB : 3000 kg/ 49cm
LK : 32 cm
LD : 31 cm
B. Pemeriksaan Fisik (inspeksi, auskultasi, palpasi, perkusi)
a. Kepala dan Leher
Warna kulit : Merah muda
oedem wajah : tidak ada
mata : sklera putih, konjungtiva pucat
mulut : bersih tidak ada caries gigi
leher : tidak ada pembesaran kelenjar limfe dan pelebaran vena jugularis
b. Payudara
Bentuk : simetris
Benjolan : tidak ada
Putting susu : menonjol
Pengeluaran : tidak ada
Keluhan : tidak ada
c. Abdomen
Bekas luka : tidak ada
d. Tangan dan Kaki
Oedem : tidak ada
Varices : tidak ada
Reflek Pattela : kanan (+) Kiri (+)
Kuku : pucat
e. Genetalia Luar
Oedem : tidak dilakukan pemeriksaan
Varices : tidak dilakukan pemeriksaan
Bekas Luka : tidak dilakukan pemeriksaan
f. Anus : tidak ada hemoroid
2. Data Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
darah, tanggal: tidak dilakukan
urine, tanggal: tidak dilakukan
b. Pemeriksaan Penunjang lainnya: tidak dilakukan
c. Catatan medic lainnya
riwayat imunisasi : Belum lengkap
riwayat pemberian vitamin A : belum diberikan
ASSESMENT
Bayi umur 16 hari dengan tetanus neonatorum sedang.
PLANNING Tanggal/Jam: 5 mei 2011, 11.30 wib
1. Memberitahukan kepada ibu mengenai keadaan bayinya bahwa bayinya menderita penyakit tetanus neonatorum sedang yaitu penyakit tetanus yang terjadi pada bayi kurang dari 1 bulan karena kesalahan perawatan tali pusat. Penyakit tetanus neonatorum ini ditandai dengan demam/panas, mulut mencucu sering kejang, tidak bisa menyusui, dan tali pusat kotor.
Ibu mengerti tentang kondisi bayinya.
1. Membersihkan saluran pernafasan dan membebaskan jalaan nafas dengan memasang spatel lidah yang dibungkus kain ke dalam mulut bayi. Serta memberikan oksigen.
2. Memantau intake nutrisi dan cairan. Memasang infuse glucose 10% sebanyak 80ml/kg BB/hari.
Infus dipasang pada tangan kiri secara IV (3tetes/menit)
1. Kolaborasi dengan dokter untuk mengatasi kejang dengan memberikan diazepam 0,5 mg/kg BB secara IM.
2. Memberikan antibiotic 1 kali (Penisilin Prokain 50.000 U/kg BB/hari secara IM)
3. Membersihkan tali pusat.
4. Memberikan KIE kepada ibu tentang perawatan tali pusat yaitu selalu membersihkan tali pusat dan membiarkan tali pusat kering tanpa diberi ramu-ramuan apa pun.
5. Memberikan KIE kepada ibu mengenai pemenuhan nutrisi bayinya agar ibu tetap memberikan ASI minimal 8-12 kali sehari meskipun bayi menolak atau bayi tidur.
6. Mempersiapkan untuk merujuk bayi ke rumah sakit. Serta memberitahukan kepada ibu bahwa dengan keadan bayinya yang seperti itu bayi harus dirujuk ke fasilitas yang lebih lanjut.
Selasa, 25 Oktober 2011
ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI UMUR 1 HARI DENGAN IKTERUS DI BPS CINTA IBU
Jl. Suronatan Yogyakarta
Di susun oleh :
Arifiati hidayah 090105194
PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ‘AISYIYAH YOGYAKARTA 2011
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Angka kematian bayi (AKB) di Indonesia, tertinggi di ASEAN 20 per 1000 kelahiran hidup. (SUSENAS Depkes RI, 2004). Sedangkan di Rumah Sakit RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu Tahun 2008 angka kematian (1 tahun) terdapat 82 kasus salah satunya disebabkan oleh Ikterus Neonatorum. Dalam upaya mewujudkan visi “Indonesia Sehat 2010”, maka salah satu tolok ukur adalah menurunnya angka mortalitas dan morbiditas neonatus, dengan proyeksi pada tahun 2025 AKB dapat turun menjadi 18 per 1000 kelahiran hidup. Salah satu penyebab mortalitas pada bayi baru lahir adalah ensefalopati bilirubin (lebih dikenal sebagai kern ikterus).
Ensefalopati bilirubin merupakan komplikasi ikterus neonatorum yang paling berat. Selain memiliki angka mortalitas yang tinggi, juga dapat menyebabkan gejala sisa berupa cerebral palsy, tuli nada tinggi, paralisis dan displasia dental yang sangat mempengaruhi kualitas hidup. Ikterus neonatorum merupakan fenomena biologis yang timbul akibat tingginya produksi dan rendahnya ekskresi bilirubin selama masa transisi pada neonatus. Pada neonatus produksi bilirubin 2 sampai 3 kali lebih tinggi dibanding orang dewasa normal.
Hal ini dapat terjadi karena jumlah eritosit pada neonatus lebih banyak dan usianya lebih pendek. Banyak bayi baru lahir, terutama bayi kecil (bayi dengan berat lahir < 2500 g atau usia gestasi <37 minggu) mengalami ikterus pada minggu pertama kehidupannya. Data epidemiologi yang ada menunjukkan bahwa lebih 50% bayi baru lahir menderita ikterus yang dapat dideteksi secara klinis dalam minggu pertama kehidupannya. Pada kebanyakan kasus ikterus neonatorum, kadar bilirubin tidak berbahaya dan tidak memerlukan pengobatan. Sebagian besar tidak memiliki penyebab dasar atau disebut ikterus fisiologis yang akan menghilang pada akhir minggu pertama kehidupan pada bayi cukup bulan. Sebagian kecil memiliki penyebab seperti hemolisis, septikemi, penyakit metabolik (ikterus non-fisiologis) ( Diakses dari smallcrab.com. 7 Juli 2009). BAB II TINJAUAN TEORI 1. Pengertian ikterus Pengertian ikterus (‘jaundice’) terjadi apabila terdapat akumulasi bilirubin dalam darah, sehingga kulit (terutama) dan atau sklera bayi (neonatus) tampak kekuningan. Pada orang dewasa, ikterus akan tampak apabila serum biliribun > 2 mg/dL (> 17 mmol/L), sedangkan pada neonatus baru tampak apabila serum biliribun > 5 mg/dL (> 86 mmol/L).
2. Klasifikasi
Ikterus dapat dibagi menjadi ikterik fisiologis dan ikterik patologis.
a. Ikterik fisiologis
Dalam keadaan normal, kadar bilirubin indirek dalam serum tali pusat adalah sebesar 1-3 mg/dl dan akan meningkat dengan kecepatan kurang dari 5 mg/dl/24 jam; dengan demikian ikterus baru terlihat pada hari ke 2-3, biasanya mencapai puncaknya antara hari ke 2-4, dengan kadar 5-6 mg/dl untuk selanjutnya menurun sampai kadarnya lebih rendah dari 2 mg/dl antara lain ke 5-7 kehidupan. Ikterus akibat perubahan ini dinamakan ikterus “fisiologis” dan diduga sebagai akibat hancurnya sel darah merah janin yang disertai pembatasan sementara pada konjugasi dan ekskresi bilirubin oleh hati.
Diantara bayi-bayi prematur, kenaikan bilirubin serum cenderung sama atau sedikit lebih lambat daripada pada bayi aterm, tetapi berlangsung lebih lama, pada umumnya mengakibatkan kadar yang lebih tinggi, puncaknya dicapai antara hari ke 4-7, pola yang akan diperlihatkan bergantung pada waktu yang diperlukan oleh bayi preterm mencapai pematangan mekanisme metabolisme ekskresi bilirubin. Kadar puncak sebesar 8-12 mg/dl tidak dicapai sebelum hari ke 5-7 dan kadang-kadang ikterus ditemukan setelah hari ke-10.
Diagnosis ikterus fisiologik pada bayi aterm atau preterm, dapat ditegakkan dengan menyingkirkan penyebab ikterus berdasarkan anamnesis dan penemuan klinik dan laboratorium. Pada umumnya untuk menentukan penyebab ikterus jika :
1. Ikterus timbul dalam 24 jam pertama kehidupan.
2. Bilirubin serum meningkat dengan kecepatan lebih besar dari 5 mg/dl/24 jam.
3. Kadar bilirubin serum lebih besar dari 12 mg/dl pada bayi aterm dan lebih besar dari 14 mg/dl pada bayi preterm.
4. Ikterus persisten sampai melewati minggu pertama kehidupan, atau
5. Bilirubin direk lebih besar dari 1 mg/dl. (4,5,8)
b. Ikterik Patologis
Ikterus patologis mungkin merupakan petunjuk penting untuk diagnosis awal dari banyak penyakit neonatus. Ikterus patologis dalam 36 jam pertama kehidupan biasanya disebabkan oleh kelebihan produksi bilirubin, karena klirens bilirubin yang lambat jarang menyebabkan peningkatan konsentrasi diatas 10 mg/dl pada umur ini. Jadi, ikterus neonatorum dini biasanya disebabkan oleh penyakit hemolitik.
3. Etiologi
Penyebab ikterik dapat disebabkan oleh beberapa factor yaitu :
a. Produksi bilirubin yang berlebihan.
b. Gangguan dalam proses pengambilan dan konjugasi hepar dapat disebabkan oleh imaturitas hepar. Kurangnya substrat untuk konjugasi bilirubin, hipoksia, gangguan fungsi hepar akibat asidosis dan infeksi.
c. Gangguan dalam transportasi metabolisme, bilirubin dalam darah terikat dalam albumin. Kemudian diangkat ke hepar. Defisiensi albumin menyebabkan lebih banyak terdapatnya bilirubin indirek yang bebas. Yang bebas dalam darah yang mudah melekat pada otak.
d. Gangguan dalam ekskresi dapat terjadi akibat obstruksi dalam hepar atau di luar hepar.
e. bayi yang mengalami ikterus neonatorum dalam 1 minggu pertama kehidupannya, terutama pada bayi kecil (berat lahir kurang dari 2500 gram).
4. Pencegahan
a. Pengawasan antenatal yang baik.
b. Menghindari obat-obatan yang dapat meningkatkan ikterik bayi pada masa kehamilan dan kelahiran.
c. Mencegah dan mengobati hipoksia pada jenis dan neonatus.
d. Penggunaan fenobarbital pada ibu 1-2 hari sebelum partus.
e. Iluminasi yang baik pada bangsal bayi baru lahir yaitu hepatitis B dimulai 0-7 hari pertama.
f. Pemberian makanan yang dini dan pencegahan infeksi.
5. Jenis – jenis ikterus nenonatal
a. Ikterus Hemolitik yang Berat
1) Inkompatibilitas Rhesus
2) Inkompatibilitas ABO
3) Ikterus hemolitik karena inkompatibilitas golongan darah lain
4) Penyakit hemolitik karena kelainan eritrosit kongenital
5) Hemolisis karena defisiensi enzim glukosa-6-phospate dehidrogenase (G-6 PO deficiency).
b. Ikterus Obstruktika
1) Hepatitis Neonatal
2) Hepatitis Virus
c. Ikterus yang disebabkan oleh hal – hal
1) Pengaruh hormon atau obat.
2) Hipoalbuminemia
3) Adanya obat atau zat kimia yang mengurangi ikatan bilirubin tidak langsung pada albumin, misalnya sulfafurazole, salisilat dan heparin.
4) Sindroma Crigler-Najjar ialah suatu penyakit herediter yang bersifat resesif.
ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI UMUR 1 HARI DENGAN IKTERUS
DI BPS CINTA IBU
Jl. Suronatan Yogyakarta
No. Register : 123456
Tanggal / jam : 5 Mei 2011, pukul 20.00 WIB
Tempat : BPS Cinta Ibu
I. DATA SUBYEKTIF
IDENTITAS ANAK ISTRI SUAMI
Nama An. Ny Rina Amalia Ny Rina Amalia Tn Rudi Prabowo
Umur 1 hari 20 tahun 25tahun
Agama Islam Islam Islam
Suku/Bangsa Jawa indonesia Jawa indonesia Jawa indonesia
Pendidikan - SMA Sarjana Teknik
Pekerjaan - - PNS
Alamat Jl. Suronatan No.22 Jl. Suronatan No.22 Jl, Suronatan No.22
No. telp. - 081335336337 081335446556
1. Alasan kunjungan
Ibu ingin memeriksakan kondisi kesehatan anaknya
2. Keluhan Utama
Ibu mengeluh bahwa warna kulit anak berubah menjadi kuning
3. Riwayat perkawinan
Ibu menikah umur 19 tahun suami 24 tahun, perkawinan yang pertama, lama perkawinan 1 tahun
4. Riwayat Obstetri :
P1 A0 AH1
Hamil ke Persalinan Nifas
Lahir UH Jenis persalinan Penolong Komplikasi JK BB lahir Laktasi Komplikasi
1 Preterm 36+3 mg Spontan pervaginam Bidan - perempuan 2700gr Tidak lancar -
5. Riwayat persalinan ini :
Tanggal persalinan : 5 Mei 2011 jam : 06.00 WIB
Tempat persalinan : BPS CINTA IBU
Jenis persalinan : Normal pervaginam
Penolong : bidan
6. Keadaan bayi baru lahir
Lahir tanggal : 2 Mei 2011 jam :06.00 WIB
BB/PB lahir : 2700 gr/49cm
Jenis kelamin : perempuan
Pola tidur : bayi tidur selama 16 jam dan terbangun setiap 6 jam
7. Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari :
• Pola nutrisi
Frekuensi menyusui : setiap 6 jam sekali
Durasi : 5-8 menit
Masalah pada ibu / bayi : menyusu tidak efektif karena posisi dan pelekatan yang salah
• Pola Eliminasi bayi :
BAB BAK
Frekuensi 3x/hari 6-10x/hari
Warna Kehitaman Kuning
Bau Khas Khas
Konsistensi Lembek Cair
Jumlah Sedikit Normal
8. Pola Aktivitas :
Bayi tidur lama 16 jam dan hanya bergerak pada waktu bangun, bayi bangun setiap 6 jam.
9. Personal Hygiene : pada perawatan bayi ini yaitu merawat tali pusat, eliminasi (BAK, BAB), kebersihan kulit.
Mandi : 2x sehari, ganti baju 3x/hari
10. Istirahat bayi : Bayi tidur kira-kira 16 jam terbangun bila BAK dan menyusu
11. Riwayat Post partum :
Pola pemenuhan sehari-hari
• Pola tidur dan istirahat : Ibu tidur siang selama 2 jam, tidak ada keluhan
• Pole eliminasi
BAB BAK
Frekuensi 1x /hari 4x/hari
Warna Kuning kecoklatan Kuning
Bau Khas Khas
Konsistensi Lembek Cair
Jumlah Normal Normal
• Pola nutisi:
Makan Minum
Frekuensi 3x/hari 8x/hari
Macam Nasi, soup, tempe, buah Teh, air putih, minuman isotonik
Jumlah 1 porsi sedang 1 liter
Keluhan Tidak ada Tidak ada
12. Riwayat kesehatan
Ibu dan keluarga tidak punya riwayat penyakit kuning, jantung, DM, hipertensi, penyakit keturunan, cacat bawaan, dan riwayat kembar.
13. Pola Aktivitas : mengurus anak, memasak, mencuci
14. Personal Hygiene : ibu mandi 2x/hari, keramas 2x seminggu, gosok gigi 2x sehari, ganti pakaian dalam 2x, ganti pembalut 3x sehari
15. Istirahat dan tidur : ibu mengikuti pola tidur bayi
16. Pengalaman menyusui :
Posisi : Perlekatan benar, posisi benar, menyusu efektif
Durasi : 10-15 menit
Perawatan payudara : dilakukan
Masalah : Menyusu efektif karena posisi dan perlekatan sudah benar.
17. Riwayat Psikososial Spiritual :
- Ibu, suami dan keluarga sangat menerima kehadiran bayi
- Pada waktu nifas suami dan keluarga mendampingi
- Ibu berencana merawat bayinya sendiri
- Ibu cemas karena warna kulit bayinya kuning
II. DATA OBYEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
a. Keadaan umum : Terlihat kuning pada muka dan leher
Kesadaran : compos mentis
b. Tanda vital
Tekanan darah : Tidak dilakukan
Frekuens jantung : 130x /menit
Suhu : 36,7oC
Pernapasan : 50x /menit
c. Antropometri
BB / TB : 2700 gram / 49 cm
LK : 33 cm
LD : 31 cm
Lila : 10 cm
2. Pemeriksaan fisik
a. Kepala : mesosefal, UUK datar, tidak ada moulase
Muka : simetris, warna kuning
Mata : simetris, sklera kuning, konjungtiva agak pucat, tidak juling, reflek cahaya (+)
Hidung : ada septum, tidak ada polip
Mulut : simetris, tidak ada labiopalatiskizis atau labioskizis, tidak ada sianosis
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, vena jugularis, kelenjar limfe, dan warna kulit leher kuning.
b. Dada : simetris, tidak ada fraktur clavicula, tidak ada pembesaran, puting menonjol. Frekuensi jantung : 130x/menit
c. Abdomen : simetris, tali pusat warna kebiruan, tidak ada pus, tidak ada
penonjolan tali pusat sehingga tidak ada kecurigaan hernia umbilikalis, tidak ada kecurigaan hernia diafragmatika.
d. Genital : ada labia mayor dan labia minor (labia mayor menutupi labia minor) lubang uretra, lubang vagina
e. Anus : sudah mengeluarkan BAB, berarti terdapat lubang anus.
f. Ekstremitas : simetris, jumlah jari lengkap, tidak ada sindaktili maupun polidaktili, tidak ada sianosis.
g. warna kulit : tidak ada bercak dan tanda lahir, warna kulit keseluruhan kemerahan kecuali muka dan leher kuning ( Derajat kremer 1)
3. Data Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium : tidak dilakukan
b. Pemeriksaan penunjang lain : tidak dilakukan
c. Catatan medik lain :
Riwayat imunisasi : sudah diberi imunisasi Hepatitis B 1 jam setelah lahir
Riwayat pemberian vitamin K1 : sudah diberi vit K1
III. ASSASMENT, tanggal 5 Mei 2011 pukul 20.15 WIB
Seorang bayi Ny R umur 4 hari, lahir spontan dengan ikterus sedang
IV. PLANNING, tanggal 5 Mei 2011 pukul 20.20 WIB
1) Menyampaikan pada ibu dan suami bahwa bayinya mengtalami ikterus berat
- Ibu dan suami mengerti dengan penjelasan yang diberikan
2) Memberikan dukungan emosional kepada ibu dan suami agar tetap tenang mengahadapi ini supaya kondisinya tidak menurun pasca melahirkan.
- Ibu bersedia agar selalu tenang agar kondisinya tidak menurun
3) Mencegah agar gula darah tidak turun dengan cara ibu diminta tetap menyusui bayinya dan pandu untuk menyusui bayi dengan posisi dan pelekatan yang benar, agar menyusu efektif.
- Ibu mengerti dan mau menyusui bayinya dengan posisi dan pelekatan yang sudah benar.
4) Nasehati cara menjaga bayi agar tetap hangat dengan cara mengeringkan bayi segera setiap kali bayi basah terkena air atau air kencing dan tinja bayi, membungkus bayi dengan kain kering dan hangat, beri tutup kepala pada bayi.
- Ibu mengerti dengan nasehat yang diberikan bidan dan mau melakukan apa yang dianjurkan bidan untuk menjaga kehangatan bayinya.
5) Menganjurkan kepada ibu agar menjemur bayinya setiap pagi dengan bayi telanjang ± 1,5 jam.
- Ibu mengerti penjelasan bidan dan akan melakukan anjuran bidan.
TTD
(Bidan)
Di susun oleh :
Arifiati hidayah 090105194
PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ‘AISYIYAH YOGYAKARTA 2011
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Angka kematian bayi (AKB) di Indonesia, tertinggi di ASEAN 20 per 1000 kelahiran hidup. (SUSENAS Depkes RI, 2004). Sedangkan di Rumah Sakit RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu Tahun 2008 angka kematian (1 tahun) terdapat 82 kasus salah satunya disebabkan oleh Ikterus Neonatorum. Dalam upaya mewujudkan visi “Indonesia Sehat 2010”, maka salah satu tolok ukur adalah menurunnya angka mortalitas dan morbiditas neonatus, dengan proyeksi pada tahun 2025 AKB dapat turun menjadi 18 per 1000 kelahiran hidup. Salah satu penyebab mortalitas pada bayi baru lahir adalah ensefalopati bilirubin (lebih dikenal sebagai kern ikterus).
Ensefalopati bilirubin merupakan komplikasi ikterus neonatorum yang paling berat. Selain memiliki angka mortalitas yang tinggi, juga dapat menyebabkan gejala sisa berupa cerebral palsy, tuli nada tinggi, paralisis dan displasia dental yang sangat mempengaruhi kualitas hidup. Ikterus neonatorum merupakan fenomena biologis yang timbul akibat tingginya produksi dan rendahnya ekskresi bilirubin selama masa transisi pada neonatus. Pada neonatus produksi bilirubin 2 sampai 3 kali lebih tinggi dibanding orang dewasa normal.
Hal ini dapat terjadi karena jumlah eritosit pada neonatus lebih banyak dan usianya lebih pendek. Banyak bayi baru lahir, terutama bayi kecil (bayi dengan berat lahir < 2500 g atau usia gestasi <37 minggu) mengalami ikterus pada minggu pertama kehidupannya. Data epidemiologi yang ada menunjukkan bahwa lebih 50% bayi baru lahir menderita ikterus yang dapat dideteksi secara klinis dalam minggu pertama kehidupannya. Pada kebanyakan kasus ikterus neonatorum, kadar bilirubin tidak berbahaya dan tidak memerlukan pengobatan. Sebagian besar tidak memiliki penyebab dasar atau disebut ikterus fisiologis yang akan menghilang pada akhir minggu pertama kehidupan pada bayi cukup bulan. Sebagian kecil memiliki penyebab seperti hemolisis, septikemi, penyakit metabolik (ikterus non-fisiologis) ( Diakses dari smallcrab.com. 7 Juli 2009). BAB II TINJAUAN TEORI 1. Pengertian ikterus Pengertian ikterus (‘jaundice’) terjadi apabila terdapat akumulasi bilirubin dalam darah, sehingga kulit (terutama) dan atau sklera bayi (neonatus) tampak kekuningan. Pada orang dewasa, ikterus akan tampak apabila serum biliribun > 2 mg/dL (> 17 mmol/L), sedangkan pada neonatus baru tampak apabila serum biliribun > 5 mg/dL (> 86 mmol/L).
2. Klasifikasi
Ikterus dapat dibagi menjadi ikterik fisiologis dan ikterik patologis.
a. Ikterik fisiologis
Dalam keadaan normal, kadar bilirubin indirek dalam serum tali pusat adalah sebesar 1-3 mg/dl dan akan meningkat dengan kecepatan kurang dari 5 mg/dl/24 jam; dengan demikian ikterus baru terlihat pada hari ke 2-3, biasanya mencapai puncaknya antara hari ke 2-4, dengan kadar 5-6 mg/dl untuk selanjutnya menurun sampai kadarnya lebih rendah dari 2 mg/dl antara lain ke 5-7 kehidupan. Ikterus akibat perubahan ini dinamakan ikterus “fisiologis” dan diduga sebagai akibat hancurnya sel darah merah janin yang disertai pembatasan sementara pada konjugasi dan ekskresi bilirubin oleh hati.
Diantara bayi-bayi prematur, kenaikan bilirubin serum cenderung sama atau sedikit lebih lambat daripada pada bayi aterm, tetapi berlangsung lebih lama, pada umumnya mengakibatkan kadar yang lebih tinggi, puncaknya dicapai antara hari ke 4-7, pola yang akan diperlihatkan bergantung pada waktu yang diperlukan oleh bayi preterm mencapai pematangan mekanisme metabolisme ekskresi bilirubin. Kadar puncak sebesar 8-12 mg/dl tidak dicapai sebelum hari ke 5-7 dan kadang-kadang ikterus ditemukan setelah hari ke-10.
Diagnosis ikterus fisiologik pada bayi aterm atau preterm, dapat ditegakkan dengan menyingkirkan penyebab ikterus berdasarkan anamnesis dan penemuan klinik dan laboratorium. Pada umumnya untuk menentukan penyebab ikterus jika :
1. Ikterus timbul dalam 24 jam pertama kehidupan.
2. Bilirubin serum meningkat dengan kecepatan lebih besar dari 5 mg/dl/24 jam.
3. Kadar bilirubin serum lebih besar dari 12 mg/dl pada bayi aterm dan lebih besar dari 14 mg/dl pada bayi preterm.
4. Ikterus persisten sampai melewati minggu pertama kehidupan, atau
5. Bilirubin direk lebih besar dari 1 mg/dl. (4,5,8)
b. Ikterik Patologis
Ikterus patologis mungkin merupakan petunjuk penting untuk diagnosis awal dari banyak penyakit neonatus. Ikterus patologis dalam 36 jam pertama kehidupan biasanya disebabkan oleh kelebihan produksi bilirubin, karena klirens bilirubin yang lambat jarang menyebabkan peningkatan konsentrasi diatas 10 mg/dl pada umur ini. Jadi, ikterus neonatorum dini biasanya disebabkan oleh penyakit hemolitik.
3. Etiologi
Penyebab ikterik dapat disebabkan oleh beberapa factor yaitu :
a. Produksi bilirubin yang berlebihan.
b. Gangguan dalam proses pengambilan dan konjugasi hepar dapat disebabkan oleh imaturitas hepar. Kurangnya substrat untuk konjugasi bilirubin, hipoksia, gangguan fungsi hepar akibat asidosis dan infeksi.
c. Gangguan dalam transportasi metabolisme, bilirubin dalam darah terikat dalam albumin. Kemudian diangkat ke hepar. Defisiensi albumin menyebabkan lebih banyak terdapatnya bilirubin indirek yang bebas. Yang bebas dalam darah yang mudah melekat pada otak.
d. Gangguan dalam ekskresi dapat terjadi akibat obstruksi dalam hepar atau di luar hepar.
e. bayi yang mengalami ikterus neonatorum dalam 1 minggu pertama kehidupannya, terutama pada bayi kecil (berat lahir kurang dari 2500 gram).
4. Pencegahan
a. Pengawasan antenatal yang baik.
b. Menghindari obat-obatan yang dapat meningkatkan ikterik bayi pada masa kehamilan dan kelahiran.
c. Mencegah dan mengobati hipoksia pada jenis dan neonatus.
d. Penggunaan fenobarbital pada ibu 1-2 hari sebelum partus.
e. Iluminasi yang baik pada bangsal bayi baru lahir yaitu hepatitis B dimulai 0-7 hari pertama.
f. Pemberian makanan yang dini dan pencegahan infeksi.
5. Jenis – jenis ikterus nenonatal
a. Ikterus Hemolitik yang Berat
1) Inkompatibilitas Rhesus
2) Inkompatibilitas ABO
3) Ikterus hemolitik karena inkompatibilitas golongan darah lain
4) Penyakit hemolitik karena kelainan eritrosit kongenital
5) Hemolisis karena defisiensi enzim glukosa-6-phospate dehidrogenase (G-6 PO deficiency).
b. Ikterus Obstruktika
1) Hepatitis Neonatal
2) Hepatitis Virus
c. Ikterus yang disebabkan oleh hal – hal
1) Pengaruh hormon atau obat.
2) Hipoalbuminemia
3) Adanya obat atau zat kimia yang mengurangi ikatan bilirubin tidak langsung pada albumin, misalnya sulfafurazole, salisilat dan heparin.
4) Sindroma Crigler-Najjar ialah suatu penyakit herediter yang bersifat resesif.
ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI UMUR 1 HARI DENGAN IKTERUS
DI BPS CINTA IBU
Jl. Suronatan Yogyakarta
No. Register : 123456
Tanggal / jam : 5 Mei 2011, pukul 20.00 WIB
Tempat : BPS Cinta Ibu
I. DATA SUBYEKTIF
IDENTITAS ANAK ISTRI SUAMI
Nama An. Ny Rina Amalia Ny Rina Amalia Tn Rudi Prabowo
Umur 1 hari 20 tahun 25tahun
Agama Islam Islam Islam
Suku/Bangsa Jawa indonesia Jawa indonesia Jawa indonesia
Pendidikan - SMA Sarjana Teknik
Pekerjaan - - PNS
Alamat Jl. Suronatan No.22 Jl. Suronatan No.22 Jl, Suronatan No.22
No. telp. - 081335336337 081335446556
1. Alasan kunjungan
Ibu ingin memeriksakan kondisi kesehatan anaknya
2. Keluhan Utama
Ibu mengeluh bahwa warna kulit anak berubah menjadi kuning
3. Riwayat perkawinan
Ibu menikah umur 19 tahun suami 24 tahun, perkawinan yang pertama, lama perkawinan 1 tahun
4. Riwayat Obstetri :
P1 A0 AH1
Hamil ke Persalinan Nifas
Lahir UH Jenis persalinan Penolong Komplikasi JK BB lahir Laktasi Komplikasi
1 Preterm 36+3 mg Spontan pervaginam Bidan - perempuan 2700gr Tidak lancar -
5. Riwayat persalinan ini :
Tanggal persalinan : 5 Mei 2011 jam : 06.00 WIB
Tempat persalinan : BPS CINTA IBU
Jenis persalinan : Normal pervaginam
Penolong : bidan
6. Keadaan bayi baru lahir
Lahir tanggal : 2 Mei 2011 jam :06.00 WIB
BB/PB lahir : 2700 gr/49cm
Jenis kelamin : perempuan
Pola tidur : bayi tidur selama 16 jam dan terbangun setiap 6 jam
7. Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari :
• Pola nutrisi
Frekuensi menyusui : setiap 6 jam sekali
Durasi : 5-8 menit
Masalah pada ibu / bayi : menyusu tidak efektif karena posisi dan pelekatan yang salah
• Pola Eliminasi bayi :
BAB BAK
Frekuensi 3x/hari 6-10x/hari
Warna Kehitaman Kuning
Bau Khas Khas
Konsistensi Lembek Cair
Jumlah Sedikit Normal
8. Pola Aktivitas :
Bayi tidur lama 16 jam dan hanya bergerak pada waktu bangun, bayi bangun setiap 6 jam.
9. Personal Hygiene : pada perawatan bayi ini yaitu merawat tali pusat, eliminasi (BAK, BAB), kebersihan kulit.
Mandi : 2x sehari, ganti baju 3x/hari
10. Istirahat bayi : Bayi tidur kira-kira 16 jam terbangun bila BAK dan menyusu
11. Riwayat Post partum :
Pola pemenuhan sehari-hari
• Pola tidur dan istirahat : Ibu tidur siang selama 2 jam, tidak ada keluhan
• Pole eliminasi
BAB BAK
Frekuensi 1x /hari 4x/hari
Warna Kuning kecoklatan Kuning
Bau Khas Khas
Konsistensi Lembek Cair
Jumlah Normal Normal
• Pola nutisi:
Makan Minum
Frekuensi 3x/hari 8x/hari
Macam Nasi, soup, tempe, buah Teh, air putih, minuman isotonik
Jumlah 1 porsi sedang 1 liter
Keluhan Tidak ada Tidak ada
12. Riwayat kesehatan
Ibu dan keluarga tidak punya riwayat penyakit kuning, jantung, DM, hipertensi, penyakit keturunan, cacat bawaan, dan riwayat kembar.
13. Pola Aktivitas : mengurus anak, memasak, mencuci
14. Personal Hygiene : ibu mandi 2x/hari, keramas 2x seminggu, gosok gigi 2x sehari, ganti pakaian dalam 2x, ganti pembalut 3x sehari
15. Istirahat dan tidur : ibu mengikuti pola tidur bayi
16. Pengalaman menyusui :
Posisi : Perlekatan benar, posisi benar, menyusu efektif
Durasi : 10-15 menit
Perawatan payudara : dilakukan
Masalah : Menyusu efektif karena posisi dan perlekatan sudah benar.
17. Riwayat Psikososial Spiritual :
- Ibu, suami dan keluarga sangat menerima kehadiran bayi
- Pada waktu nifas suami dan keluarga mendampingi
- Ibu berencana merawat bayinya sendiri
- Ibu cemas karena warna kulit bayinya kuning
II. DATA OBYEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
a. Keadaan umum : Terlihat kuning pada muka dan leher
Kesadaran : compos mentis
b. Tanda vital
Tekanan darah : Tidak dilakukan
Frekuens jantung : 130x /menit
Suhu : 36,7oC
Pernapasan : 50x /menit
c. Antropometri
BB / TB : 2700 gram / 49 cm
LK : 33 cm
LD : 31 cm
Lila : 10 cm
2. Pemeriksaan fisik
a. Kepala : mesosefal, UUK datar, tidak ada moulase
Muka : simetris, warna kuning
Mata : simetris, sklera kuning, konjungtiva agak pucat, tidak juling, reflek cahaya (+)
Hidung : ada septum, tidak ada polip
Mulut : simetris, tidak ada labiopalatiskizis atau labioskizis, tidak ada sianosis
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, vena jugularis, kelenjar limfe, dan warna kulit leher kuning.
b. Dada : simetris, tidak ada fraktur clavicula, tidak ada pembesaran, puting menonjol. Frekuensi jantung : 130x/menit
c. Abdomen : simetris, tali pusat warna kebiruan, tidak ada pus, tidak ada
penonjolan tali pusat sehingga tidak ada kecurigaan hernia umbilikalis, tidak ada kecurigaan hernia diafragmatika.
d. Genital : ada labia mayor dan labia minor (labia mayor menutupi labia minor) lubang uretra, lubang vagina
e. Anus : sudah mengeluarkan BAB, berarti terdapat lubang anus.
f. Ekstremitas : simetris, jumlah jari lengkap, tidak ada sindaktili maupun polidaktili, tidak ada sianosis.
g. warna kulit : tidak ada bercak dan tanda lahir, warna kulit keseluruhan kemerahan kecuali muka dan leher kuning ( Derajat kremer 1)
3. Data Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium : tidak dilakukan
b. Pemeriksaan penunjang lain : tidak dilakukan
c. Catatan medik lain :
Riwayat imunisasi : sudah diberi imunisasi Hepatitis B 1 jam setelah lahir
Riwayat pemberian vitamin K1 : sudah diberi vit K1
III. ASSASMENT, tanggal 5 Mei 2011 pukul 20.15 WIB
Seorang bayi Ny R umur 4 hari, lahir spontan dengan ikterus sedang
IV. PLANNING, tanggal 5 Mei 2011 pukul 20.20 WIB
1) Menyampaikan pada ibu dan suami bahwa bayinya mengtalami ikterus berat
- Ibu dan suami mengerti dengan penjelasan yang diberikan
2) Memberikan dukungan emosional kepada ibu dan suami agar tetap tenang mengahadapi ini supaya kondisinya tidak menurun pasca melahirkan.
- Ibu bersedia agar selalu tenang agar kondisinya tidak menurun
3) Mencegah agar gula darah tidak turun dengan cara ibu diminta tetap menyusui bayinya dan pandu untuk menyusui bayi dengan posisi dan pelekatan yang benar, agar menyusu efektif.
- Ibu mengerti dan mau menyusui bayinya dengan posisi dan pelekatan yang sudah benar.
4) Nasehati cara menjaga bayi agar tetap hangat dengan cara mengeringkan bayi segera setiap kali bayi basah terkena air atau air kencing dan tinja bayi, membungkus bayi dengan kain kering dan hangat, beri tutup kepala pada bayi.
- Ibu mengerti dengan nasehat yang diberikan bidan dan mau melakukan apa yang dianjurkan bidan untuk menjaga kehangatan bayinya.
5) Menganjurkan kepada ibu agar menjemur bayinya setiap pagi dengan bayi telanjang ± 1,5 jam.
- Ibu mengerti penjelasan bidan dan akan melakukan anjuran bidan.
TTD
(Bidan)
ASUHAN KEBIDANAN BAYI BARU LAHIR FISIOLOGIS PADA BAYI NY. A DI RUMAH BERSALIN AISYIYAH, YOGYAKARTA
Pengampu : Evi Nurhidayati, S.SiT
Disusun Oleh :
Nama : Tri Wahyuni
NIM : 090105184
PROGRAM STUDI KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ‘AISYIYAH
YOGYAKARTA
2011
BAYI BARU LAHIR (BBL) FISIOLOGIS
Bayi baru Lahir fisiologis/Normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan berat badan lahir 2500 gram sampai dengan 4000 gram
Ciri-ciri Bayi Baru Lahir :
1. Berat badan 2500 – 3500 gram
2. Panjang badan lahir 47 – 57 cm
3. Lingkar dada 30 – 38 cm
4. Lingkar kepala 33 – 35 cm
5. Denyut jantung lebih dari 100 x/menit, pernapasan pada menit pertama cepat 80 x/menit, kemudian menurun kira-kira 40 x/menit.
6. Kulit merah karena di bawah kulit terdapat lemak, terdapat vernik kaseosa, kuku jari panjang.
7. Genetalia labia mayor sudah menutupi labia minor pada bayi perempuan, pada bayi laki-laki testis sudah turun ke dalam skrotum.
8. Lanugo tidak terlihat lagi
9. Periode bayi baru lahir
Periode Bayi Baru Lahir
Periode bayi baru lahir terbagi menjadi tiga periode yaitu:
a. Periode I adalah periode restfalness (30 menit pertama setelah lahir).
Periode ini bayi terjaga dengan mata terbuka memberikan respon terhadap stimulus, menghisap dengan penuh semangat dan menangis. Kecepatan pernapasan sampai 82 x/menit. Denyut jantung sampai 180 x/menit dan bising usus aktif.
b. Periode II adalah periode reaktivitas yang berlangsung 2 – 5 jam.
Dalam periode ini bayi bangun dari tidur nyenyak. Denyut jantung dan kecepatan pernapasan meningkat. Bayi mungkin mengeluarkan urin dan mekonium.
c. Periode III merupakan periode stabilisitas (12 – 24 jam setelah lahir).
Pada periode ini bayi mudah tidur dan terbangun. Tanda-tanda vital stabil, kulit berwarna kemerahan dan hangat.
ADAPTASI BBL TERHADAP KEHIDUPAN DI LUAR UTERUS
I. PERUBAHAN SISTEM PERNAFASAN
Perkembangan paru-paru Paru-paru berasal dari titik tumbuh yang muncul dari pharynx, yang bercabang dan kemudian bercabang kembali membentuk struktur percabangan bronkus. Proses ini terus berlanjut setelah kelahiran hingga sekitar usia 8 tahun sampai jumlah bronkiolus dan alveolus akan sepenuhnya berkembang, walaupun janin memperlihatkan adanya bukti gerakan napas sepanjang trimester kedua dan ketiga (Varney’s, halaman 551).
Ketidakmatangan paru-paru terutama akan mengurangi peluang kelangsungan hidup bayi baru lahir sebelum usia kehamilan 24 minggu, yang disebabkan oleh keterbatasan permukaan alveolus, ketidakmatangan system kapiler paru-paru dan tidak mencukupinya jumlah surfaktan. Dua factor yang berperan pada rangsangan napas pertama bayi yaitu:
1. Hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik lingkungan luar rahim yang merangsang pusat pernapasan di otak.
2. Tekanan terhadap rongga dada, yang terjadi karena kompresi paru-paru selama persalinan, yang merangsang masuknya udara kedalam paru-paru secara mekanis.
Interaksi antara system pernapasan, kardiovaskuler dan susunan saraf pusat menimbulkan pernapasan yang teratur dan berkesinambungan serta denyut yang diperlukan untuk kehidupan. Jadi system-sistem harus berfungsi secara normal. Surfaktan dan upaya respirasi untuk bernafas Upaya pernapasan pertama seorang bayi berfungsi untuk :
1. Mengeluarkan cairan dalam paru-paru
2. Mengembangkan jaringan alveolus paru-paru untuk pertama kali Agar alveolus dapat berfungsi, harus terdapat surfaktan yang cukup dan aliran darah ke paru-paru.
Produksi surfaktan dimulai pada 20 minggu kehamilan dan jumlahnya akan meningkat sampai paru-paru matang sekitar 30-34 minggu kehamilan. Surfaktan ini mengurangi tekanan permukaan paru dan membantu untuk menstabilkan dinding alveolus sehingga tidak kolaps pada akhir pernapasan Tanpa surfaktan, alveoli akan kolaps setiap saat setelah akhir setiap pernapasan, yang menyebabkan sulit bernapas.
II. PERUBAHAN SISTEM SIRKULASI
Setelah lahir, darah bayi baru lahir harus melewati paru untuk mengambil oksigen dan mengadakan sirkulasi melalui tubuh guna mengantarkan oksigen ke jaringan. Untuk membuat sirkulasi yang baik guna mendukung kehidupan luar rahim, harus terjadi dua perubahan besar:
1. Penutupan foramen ovale pada atrium jantung
2. Penutupan duktus arteriosus antara arteri paru-paru dan aorta.
Perubahan sirkulasi ini terjadi akibat perubahan tekanan pada seluruh system pembuluh tubuh. Ingat hokum yang menyatakan bahwa darah akan mengalir pada daerah-daerah yang mempunyai resistensi yang kecil. Jadi perubahan-perubahan tekanan langsung berpengaruh pada aliran darah. Oksigen menyebabkan system pembuluh mengubah tekanan dengan cara mengurangi atau meningkatkan resistensinya, sehingga mengubah aliran darah. Hal ini terutama penting kalau kita ingt bahwa sebagian besar kematian dini bayi baru lahir berkaitan dengan oksigen (asfiksia). Dua peristiwa yang mengubah tekanan dalam system pembuluh darah :
1. Pada saat tali pusat dipotong, resistensi pembuluh sistemik meningkat dan tekanan atrium kanan menurun. Tekanan atrium kanan menurun karena berkurangnya aliran darah ke atrium kanan tersebut. Hal ini menyebabkan penurunan volume dan tekanan atrium kanan itu sendiri. Kedua kejadian ini membantu darah dengan kandungan oksigen sedikit mengalir ke paru-paru untuk menjalani proses oksigenasi ulang.
2. Pernapasan pertama menurunkan resistensi pembuluh darah paru-paru dan meningkatkan tekanan atrium kanan. Oksigen pada pernapasan pertama ini menimbulkan relaksasi dan terbukanya system pembuluh darah paru-paru (menurunkan resistensi pembuluh darah paru-paru). Peningkatan sirkulasi ke paru-paru mengakibatkan peningkatan volume darah dan tekanan pada atrium kanan. Dengan peningkatan volume darah dan tekanan pada atrium kiri, foramen ovale secara fungsional akan menutup. Vena umbilicus, duktus venosus dan arteri hipogastrika dari tali pusat menutup secara funsional dalam beberapa menit setelah lahir dan setelah tali pusat diklem. Penutupan anatomi jaringan fibrosa berlangsung dalam 2-3 bulan
III. PERUBAHAN SISTEM TERMOREGULASI
Bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuh mereka, sehingga akan mengalami stress dengan adanya perubahan-perubahan lingkungan. upaya pencegahan kehilangan panas merupakan prioritas utama dan bidan berkewajiban untuk meminimalkan kehilangan panas pada bayi baru lahir. Disebut sebagai hipotermia bila suhu tubuh turun dibawah 360 C. Suhu normal pada neonatus adalah 36,5 – 37o C. Bayi baru lahir mudah sekali terkena hipotermia yang disebabkan oleh:
1. Pusat pengaturan suhu tubuh pada bayi belum berfungsi dengan sempurna
2. Permukaan tubuh bayi relative lebih luas
3. Tubuh bayi terlalu kecil untuk memproduksi dan menyimpan panas
4. Bayi belum mampu mengatur possisi tubuh dan pakaiannya agar ia tidak kedinginan.
Hipotermia dapat terjadi setiap saat apabila suhu disekeliling bayi rendah dan upaya mempertahankan suhu tubuh tidak diterapkan secara tepat, terutama pada masa stabilisasi yaitu 6 – 12 jam pertama setelah lahir. Misal: bayi baru lahir dibiarkan basah dan telanjang selama menunggu plasenta lahir atau meskipun lingkungan disekitar bayi cukup hangat namun bayi dibiarkan telanjang atau segera dimandikan.
Gejala hipotermia:
1. Sejalan dengan menurunnya suhu tubuh, bayi menjadi kurang aktif, letargis, hipotonus, tidak kuat menghisap ASI dan menangis lemah.
2. Pernapasan megap-megap dan lambat, denyut jantung menurun.
3. Timbul sklerema : kulit mengeras berwarna kemerahan terutama dibagian punggung, tungkai dan lengan.
4. Muka bayi berwarna merah terang
5. Hipotermia menyebabkan terjadinya perubahan metabolisme tubuh yang akan berakhir dengan kegagalan fungsi jantung, perdarahan terutama pada paru-paru, ikterus dan kematian. Mekanisme terjadinya Hipotermia: Hipotermia pada bayi baru lahir timbul karena penurunan suhu tubuh yang dapat terjadi melalui:
1. Radiasi : Yaitu panas tubuh bayi memancar kelingkungan sekitar bayi yang lebih dingin, misal : BBL diletakkan ditempat yang dingin.
2. Evaporasi : Yaitu cairan/air ketuban yang membasahi kulit bayi menguap, misal : BBL tidak langsung dikeringkan dari air ketuban.
3. Konduksi : Yaitu pindahnya panas tubuh bayi karena kulit bayi langsung kontak dengan permukaan yang lebih dingin, misal : popok/celana basah tidak langsung diganti.
4. Konveksi : Yaitu hilangnya panas tubuh bayi karena aliran udara sekeliling bayi, misal : BBL diletakkan dekat pintu/jendela terbuka.
IV. PERUBAHAN SISTEM METABOLISME
Untuk memfungsikan otak memerlukan glukosa dalam jumlah tertentu. Dengan tindakan penjepitan tali pusat dengan klem pada saat lahir seorang bayi harus mulai mempertahankan kadar glukosa darahnya sendiri. Pada setiap baru lahir, glukosa darah akan turun dalam waktu cepat (1 sampai 2 jam). Koreksi penurunan gula darah dapat dilakukan dengan 3 cara :
1. Melalui penggunaan ASI (bayi baru lahir sehat harus didorong untuk menyusu ASI secepat mungkin setelah lahir).
2. Melalui penggunaan cadangan glikogen (glikogenesis)
3. Melalui pembuatan glukosa dari sumber lain terutama lemak (glukoneogenesis).
Bayi baru lahir yang tidak dapat mencerna makanan dalam jumlah yang cukup akan membuat glukosa dari glikogen (glikogenolisis). Hal ini hanya terjadi jika bayi mempunyai persediaan glikogen yang cukup. Gejala-gejala hipoglikemia bisa tidak jelas dan tidak khas meliputi : kejang-kejang halus, sianosis, apnu, tangis lemah, letargis, lunglai dan menolak makanan. Bidan harus selalu ingat bahwa hipoglikemia dapat tanpa gejala pada awalnya. Akibat jangka panjang hipoglikemia ialah kerusakan yang meluas di seluruh sel-sel otak.
V. PERUBAHAN SISTEM GASTROINTESTINAL
Sebelum lahir, janin cukup bulan akan mulai menghisap dan menelan. Refleks gumoh dan refleks batuk yang matang sudah terbentuk dengan baik pada saat lahir. Kemampuan bayi baru lahir cukup bulan untuk menelan dan mencerna makanan (selain susu) masih terbatas. Hubungan antara esophagus bawah dan lambung masih belum sempurna yang mengakibatkan “gumoh” pada bayi baru lahir dan neonatus. Pengaturan makan yang sering oleh bayi sendiri penting contohnya memeberi ASI on demand. Usus bayi masih belum matang sehingga tidak mampu melindungi dirinya sendiri dari zat-zat berbahaya kolon. Pada bayi baru lahir kurang efisien dalam mempertahankan air disbanding orang dewasa, sehingga menyebabkan diare yang lebih serius pada neonatus.
VI. PERUBAHAN SISTEM KEKEBALAN TUBUH
Sistem imunitas bayi baru lahir masih belum matang, sehingga menyebabkan neonatus rentan terhadap berbagai infeksi dan alergi. Sistem imunitas yang matang akan memberikan kekebalan alami maupun yang didapat. Kekebalan alami terdiri dari struktur pertahanan tubuh yang mencegah atau meminimalkan infeksi. Berikut beberapa contoh kekebalan alami meliputi:
1. Perlindungan oleh kulit membrane mukosa.
2. Fungsi saringan saluran napas.
3. Pembentukan koloni mikroba oleh kulit dan usus
4. Perlindungan kimia oleh lingkungan asam lambung.
Kekebalan alami juga disediakan pada tingkat sel oleh sel darah yang membantu bayi baru lahir membunuh mikroorganisme asing. Tetapi pada bayi baru lahir sel-sel darah ini masih belum matang, artinya bayi baru lahir tersebut belum mampu melokalisasi dan memerangi infeksi secara efisien. Kekebalan yang didapat akan muncul kemudian. Bayi baru lahir yang lahir dengan kekebalan pasif mengandung banyak virus dalam tubuh ibunya. Reaksi antibody keseluruhan terhadap antigen asing masih belum bisa dilakukan sampai awal kehidupan anak. Salah satu tuges utama selama masa bayi dan balita adalah pembentukan system kekebalan tubuh. Karena adanya defisiensi kekebalan alami dan didapat ini, bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi. Reaksi bayi baru lahir terhadap infeksi masih lemah dan tidak memadai. Oleh karena itu, pencegahan terhadap mikroba (seperti pada praktek persalinan yang aman dan menyusui ASI dini terutama kolostrum) dan detekdi dini serta pengobatan dini infeksi menjadi sangat penting.
ASUHAN KEBIDANAN BAYI BARU LAHIR FISIOLOGIS
PADA BAYI NY. A
DI RUMAH BERSALIN AISYIYAH, YOGYAKARTA
No Registrasi : 090105184
I. PENGKAJIAN
Tanggal/ Jam : 13 Mei 2011, 15.00 WIB
Nama Pengkaji : Bidan Tri
Tempat Pengkajian : Bangsal bunga
A. IDENTITAS / BIODATA
INDENTITAS BAYI
Nama bayi : bayi ny “ A”
Jenis kelamin : perempuan
Tanggal lahir : 13 mei 2011
Jam lahir : 13.00 wib
BB : 3000 gr
PB : 39 cm
IDENTITAS ORANGTUA
Ibu Suami
Nama : NY .A TN. S
Umur : 29 th 32 tahun
Agama : islam Islam
Suku : Jawa Jawa
Bangsa : Indonesia Indonesia
Pendidikan : SMA SMA
Pekerjaan : IRT swasta
Alamat : Jl.KH.Ahmad dahlan no 33 Yogyakarta
B. DATA SUBJEKTIF
Tanggal : 13 Mei 2011 Pukul : 15.00 wib
1. Alasan kunjungan
Keluarga ingin memeriksakan keadaan bayinya 2 jam setelah dilahirkan
2. Riwayat perkawinan
Merupakan perkawinan yang pertama. Usia ibu saat menikah 27 tahun dan suami 30 tahun dengan lama pernikahan 2 tahun.
3. Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu
Hamil Ke- persalinan Nifas
Lahir UK Jns Perslinan Pnolong Komplikasi JK BB lahir Laktasi Komplikasi
2. Riwayat persalinan sekarang
a. jenis persalinan : Spontan
b. tempat persalinan : RB Aisyiyah
c. di tolong oleh : bidan tri
d. presentasi : belakang kepala
e. air ketuban : jernih
f. lama persalinan kala II : 50 menit
g. keadaan tali pusat : lengkap
3. Keadaan BBL
a. resusitasi : tidak dilakukan
b. pemberian O2 : tidak ada
c. Keadaan Umum : baik
d. Frekuensi jantung : 122x/menit
e. Pernapasan : spontan
f. Frekuensi : 50x/menit
g. Suhu :36,5o C
h. Warna Kulit : kemerahan
4. Psikososial
Perilaku ibu terhadap bayi : Ibu sangat bersyukur bahwa bayinya lahir dengan selamat walau ibu masih nampak kesakitan
C. DATA OBJEKTIF
KU : baik
Nadi : 122 X/ menit
Suhu : 36,8 C
Nadi : 50 x/mnt
BB : 3000 gram
PB : 39 cm
Pemeriksaan fisik secara sistematik :
a. Kepala : tidak ada caput succedenum, maupun chepal hematom, bentuk mesochepal, ramut bersih
b. Ubun – ubun : datar
c. Muka : tidak oedema
d. Mata : konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, simetris
e. Telinga : tidak ditemukan kelainan, telinga masih lunak bila diraba
f. Mulut : normal, tidak ada labioschisis, palatoschisis, labiopalatoschisis
g. Hidung : tidak ditemukan adanya kelainan
h. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, vena jugularis, kelenjar limfe.
i. Dada : simetris, putting susu simetris, tidak ada hernia diafragma.
j. Tali pusat : tidak ditemukan adanya tanda infeksi
k. Punggung : tidak ada kelainan, tulang punggung teraba lurus
l. Extremitas : jumlah jari tangan dan kaki 5, tidak ada ditemukan kelainan.
m. Genitalia : labia mayor sudah menutupi labia minor, terdapat hymen
n. Anus : ada
Reflek :
a. Reflek moro : +
b. Reflek rooting : +
c. Reflek swallowing : +
d. Reflek sucking : +
e. Reflek tonick neck : +
f. Reflek palmar & plantar : +
Antropometri
a. Lingkar kepala : 24 cm
b. Lingkar dada : 23 cm
c. Lingkar lengan atas : 14 cm
ASSESMENT
Bayi Ny ‘A’ umur 2 jam normal
PLANNING
Tanggal : 13 Mei 2011 Pukul : 15.30 WIB
1. Memberitahukan kepada keluarga mengenai keadaan bayinya saat ini bahwa keadaan anaknya sehat.
Tanda vital bayi :
Frekuensi jantung : 122x/i
Suhu : 36,5 C
Nafas : 50x/mnit
- Keluarga mengerti dengan penjelasan yang diberikan
2. menberikan KIE tentang perawatan tali pusat yang benar supaya bayi teerhindar dari infeksi.
Ibu mengerti tentang apa yang dijelaskan bidan.
3. Menjaga kehangatan bayi agar terhindar dari hipotermi dengan cara mendekap bayi di dada ibu kulit dengan kulit apabila menyusui dan memakaikan topi.
- Ibu mengerti penjelasan bidan dan akan berusaha melakukan tindakan tersebut
4. Mencegah terjadi nya infeksi pada BBL:
- Mencuci tangan sebelum dan sesudah memegang bayi
- Membatasi pengunjung masuk ke tempat bayi
- Memastikan ruangan bayi selalu bersih
5. Memberikan konseling kepada keluarga khususnya ibu untuk selalu memberikan ASI secara eksklusif.
- Bayi sudah diberikan ASI.
Ttd
Bidan tri
Disusun Oleh :
Nama : Tri Wahyuni
NIM : 090105184
PROGRAM STUDI KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ‘AISYIYAH
YOGYAKARTA
2011
BAYI BARU LAHIR (BBL) FISIOLOGIS
Bayi baru Lahir fisiologis/Normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan berat badan lahir 2500 gram sampai dengan 4000 gram
Ciri-ciri Bayi Baru Lahir :
1. Berat badan 2500 – 3500 gram
2. Panjang badan lahir 47 – 57 cm
3. Lingkar dada 30 – 38 cm
4. Lingkar kepala 33 – 35 cm
5. Denyut jantung lebih dari 100 x/menit, pernapasan pada menit pertama cepat 80 x/menit, kemudian menurun kira-kira 40 x/menit.
6. Kulit merah karena di bawah kulit terdapat lemak, terdapat vernik kaseosa, kuku jari panjang.
7. Genetalia labia mayor sudah menutupi labia minor pada bayi perempuan, pada bayi laki-laki testis sudah turun ke dalam skrotum.
8. Lanugo tidak terlihat lagi
9. Periode bayi baru lahir
Periode Bayi Baru Lahir
Periode bayi baru lahir terbagi menjadi tiga periode yaitu:
a. Periode I adalah periode restfalness (30 menit pertama setelah lahir).
Periode ini bayi terjaga dengan mata terbuka memberikan respon terhadap stimulus, menghisap dengan penuh semangat dan menangis. Kecepatan pernapasan sampai 82 x/menit. Denyut jantung sampai 180 x/menit dan bising usus aktif.
b. Periode II adalah periode reaktivitas yang berlangsung 2 – 5 jam.
Dalam periode ini bayi bangun dari tidur nyenyak. Denyut jantung dan kecepatan pernapasan meningkat. Bayi mungkin mengeluarkan urin dan mekonium.
c. Periode III merupakan periode stabilisitas (12 – 24 jam setelah lahir).
Pada periode ini bayi mudah tidur dan terbangun. Tanda-tanda vital stabil, kulit berwarna kemerahan dan hangat.
ADAPTASI BBL TERHADAP KEHIDUPAN DI LUAR UTERUS
I. PERUBAHAN SISTEM PERNAFASAN
Perkembangan paru-paru Paru-paru berasal dari titik tumbuh yang muncul dari pharynx, yang bercabang dan kemudian bercabang kembali membentuk struktur percabangan bronkus. Proses ini terus berlanjut setelah kelahiran hingga sekitar usia 8 tahun sampai jumlah bronkiolus dan alveolus akan sepenuhnya berkembang, walaupun janin memperlihatkan adanya bukti gerakan napas sepanjang trimester kedua dan ketiga (Varney’s, halaman 551).
Ketidakmatangan paru-paru terutama akan mengurangi peluang kelangsungan hidup bayi baru lahir sebelum usia kehamilan 24 minggu, yang disebabkan oleh keterbatasan permukaan alveolus, ketidakmatangan system kapiler paru-paru dan tidak mencukupinya jumlah surfaktan. Dua factor yang berperan pada rangsangan napas pertama bayi yaitu:
1. Hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik lingkungan luar rahim yang merangsang pusat pernapasan di otak.
2. Tekanan terhadap rongga dada, yang terjadi karena kompresi paru-paru selama persalinan, yang merangsang masuknya udara kedalam paru-paru secara mekanis.
Interaksi antara system pernapasan, kardiovaskuler dan susunan saraf pusat menimbulkan pernapasan yang teratur dan berkesinambungan serta denyut yang diperlukan untuk kehidupan. Jadi system-sistem harus berfungsi secara normal. Surfaktan dan upaya respirasi untuk bernafas Upaya pernapasan pertama seorang bayi berfungsi untuk :
1. Mengeluarkan cairan dalam paru-paru
2. Mengembangkan jaringan alveolus paru-paru untuk pertama kali Agar alveolus dapat berfungsi, harus terdapat surfaktan yang cukup dan aliran darah ke paru-paru.
Produksi surfaktan dimulai pada 20 minggu kehamilan dan jumlahnya akan meningkat sampai paru-paru matang sekitar 30-34 minggu kehamilan. Surfaktan ini mengurangi tekanan permukaan paru dan membantu untuk menstabilkan dinding alveolus sehingga tidak kolaps pada akhir pernapasan Tanpa surfaktan, alveoli akan kolaps setiap saat setelah akhir setiap pernapasan, yang menyebabkan sulit bernapas.
II. PERUBAHAN SISTEM SIRKULASI
Setelah lahir, darah bayi baru lahir harus melewati paru untuk mengambil oksigen dan mengadakan sirkulasi melalui tubuh guna mengantarkan oksigen ke jaringan. Untuk membuat sirkulasi yang baik guna mendukung kehidupan luar rahim, harus terjadi dua perubahan besar:
1. Penutupan foramen ovale pada atrium jantung
2. Penutupan duktus arteriosus antara arteri paru-paru dan aorta.
Perubahan sirkulasi ini terjadi akibat perubahan tekanan pada seluruh system pembuluh tubuh. Ingat hokum yang menyatakan bahwa darah akan mengalir pada daerah-daerah yang mempunyai resistensi yang kecil. Jadi perubahan-perubahan tekanan langsung berpengaruh pada aliran darah. Oksigen menyebabkan system pembuluh mengubah tekanan dengan cara mengurangi atau meningkatkan resistensinya, sehingga mengubah aliran darah. Hal ini terutama penting kalau kita ingt bahwa sebagian besar kematian dini bayi baru lahir berkaitan dengan oksigen (asfiksia). Dua peristiwa yang mengubah tekanan dalam system pembuluh darah :
1. Pada saat tali pusat dipotong, resistensi pembuluh sistemik meningkat dan tekanan atrium kanan menurun. Tekanan atrium kanan menurun karena berkurangnya aliran darah ke atrium kanan tersebut. Hal ini menyebabkan penurunan volume dan tekanan atrium kanan itu sendiri. Kedua kejadian ini membantu darah dengan kandungan oksigen sedikit mengalir ke paru-paru untuk menjalani proses oksigenasi ulang.
2. Pernapasan pertama menurunkan resistensi pembuluh darah paru-paru dan meningkatkan tekanan atrium kanan. Oksigen pada pernapasan pertama ini menimbulkan relaksasi dan terbukanya system pembuluh darah paru-paru (menurunkan resistensi pembuluh darah paru-paru). Peningkatan sirkulasi ke paru-paru mengakibatkan peningkatan volume darah dan tekanan pada atrium kanan. Dengan peningkatan volume darah dan tekanan pada atrium kiri, foramen ovale secara fungsional akan menutup. Vena umbilicus, duktus venosus dan arteri hipogastrika dari tali pusat menutup secara funsional dalam beberapa menit setelah lahir dan setelah tali pusat diklem. Penutupan anatomi jaringan fibrosa berlangsung dalam 2-3 bulan
III. PERUBAHAN SISTEM TERMOREGULASI
Bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuh mereka, sehingga akan mengalami stress dengan adanya perubahan-perubahan lingkungan. upaya pencegahan kehilangan panas merupakan prioritas utama dan bidan berkewajiban untuk meminimalkan kehilangan panas pada bayi baru lahir. Disebut sebagai hipotermia bila suhu tubuh turun dibawah 360 C. Suhu normal pada neonatus adalah 36,5 – 37o C. Bayi baru lahir mudah sekali terkena hipotermia yang disebabkan oleh:
1. Pusat pengaturan suhu tubuh pada bayi belum berfungsi dengan sempurna
2. Permukaan tubuh bayi relative lebih luas
3. Tubuh bayi terlalu kecil untuk memproduksi dan menyimpan panas
4. Bayi belum mampu mengatur possisi tubuh dan pakaiannya agar ia tidak kedinginan.
Hipotermia dapat terjadi setiap saat apabila suhu disekeliling bayi rendah dan upaya mempertahankan suhu tubuh tidak diterapkan secara tepat, terutama pada masa stabilisasi yaitu 6 – 12 jam pertama setelah lahir. Misal: bayi baru lahir dibiarkan basah dan telanjang selama menunggu plasenta lahir atau meskipun lingkungan disekitar bayi cukup hangat namun bayi dibiarkan telanjang atau segera dimandikan.
Gejala hipotermia:
1. Sejalan dengan menurunnya suhu tubuh, bayi menjadi kurang aktif, letargis, hipotonus, tidak kuat menghisap ASI dan menangis lemah.
2. Pernapasan megap-megap dan lambat, denyut jantung menurun.
3. Timbul sklerema : kulit mengeras berwarna kemerahan terutama dibagian punggung, tungkai dan lengan.
4. Muka bayi berwarna merah terang
5. Hipotermia menyebabkan terjadinya perubahan metabolisme tubuh yang akan berakhir dengan kegagalan fungsi jantung, perdarahan terutama pada paru-paru, ikterus dan kematian. Mekanisme terjadinya Hipotermia: Hipotermia pada bayi baru lahir timbul karena penurunan suhu tubuh yang dapat terjadi melalui:
1. Radiasi : Yaitu panas tubuh bayi memancar kelingkungan sekitar bayi yang lebih dingin, misal : BBL diletakkan ditempat yang dingin.
2. Evaporasi : Yaitu cairan/air ketuban yang membasahi kulit bayi menguap, misal : BBL tidak langsung dikeringkan dari air ketuban.
3. Konduksi : Yaitu pindahnya panas tubuh bayi karena kulit bayi langsung kontak dengan permukaan yang lebih dingin, misal : popok/celana basah tidak langsung diganti.
4. Konveksi : Yaitu hilangnya panas tubuh bayi karena aliran udara sekeliling bayi, misal : BBL diletakkan dekat pintu/jendela terbuka.
IV. PERUBAHAN SISTEM METABOLISME
Untuk memfungsikan otak memerlukan glukosa dalam jumlah tertentu. Dengan tindakan penjepitan tali pusat dengan klem pada saat lahir seorang bayi harus mulai mempertahankan kadar glukosa darahnya sendiri. Pada setiap baru lahir, glukosa darah akan turun dalam waktu cepat (1 sampai 2 jam). Koreksi penurunan gula darah dapat dilakukan dengan 3 cara :
1. Melalui penggunaan ASI (bayi baru lahir sehat harus didorong untuk menyusu ASI secepat mungkin setelah lahir).
2. Melalui penggunaan cadangan glikogen (glikogenesis)
3. Melalui pembuatan glukosa dari sumber lain terutama lemak (glukoneogenesis).
Bayi baru lahir yang tidak dapat mencerna makanan dalam jumlah yang cukup akan membuat glukosa dari glikogen (glikogenolisis). Hal ini hanya terjadi jika bayi mempunyai persediaan glikogen yang cukup. Gejala-gejala hipoglikemia bisa tidak jelas dan tidak khas meliputi : kejang-kejang halus, sianosis, apnu, tangis lemah, letargis, lunglai dan menolak makanan. Bidan harus selalu ingat bahwa hipoglikemia dapat tanpa gejala pada awalnya. Akibat jangka panjang hipoglikemia ialah kerusakan yang meluas di seluruh sel-sel otak.
V. PERUBAHAN SISTEM GASTROINTESTINAL
Sebelum lahir, janin cukup bulan akan mulai menghisap dan menelan. Refleks gumoh dan refleks batuk yang matang sudah terbentuk dengan baik pada saat lahir. Kemampuan bayi baru lahir cukup bulan untuk menelan dan mencerna makanan (selain susu) masih terbatas. Hubungan antara esophagus bawah dan lambung masih belum sempurna yang mengakibatkan “gumoh” pada bayi baru lahir dan neonatus. Pengaturan makan yang sering oleh bayi sendiri penting contohnya memeberi ASI on demand. Usus bayi masih belum matang sehingga tidak mampu melindungi dirinya sendiri dari zat-zat berbahaya kolon. Pada bayi baru lahir kurang efisien dalam mempertahankan air disbanding orang dewasa, sehingga menyebabkan diare yang lebih serius pada neonatus.
VI. PERUBAHAN SISTEM KEKEBALAN TUBUH
Sistem imunitas bayi baru lahir masih belum matang, sehingga menyebabkan neonatus rentan terhadap berbagai infeksi dan alergi. Sistem imunitas yang matang akan memberikan kekebalan alami maupun yang didapat. Kekebalan alami terdiri dari struktur pertahanan tubuh yang mencegah atau meminimalkan infeksi. Berikut beberapa contoh kekebalan alami meliputi:
1. Perlindungan oleh kulit membrane mukosa.
2. Fungsi saringan saluran napas.
3. Pembentukan koloni mikroba oleh kulit dan usus
4. Perlindungan kimia oleh lingkungan asam lambung.
Kekebalan alami juga disediakan pada tingkat sel oleh sel darah yang membantu bayi baru lahir membunuh mikroorganisme asing. Tetapi pada bayi baru lahir sel-sel darah ini masih belum matang, artinya bayi baru lahir tersebut belum mampu melokalisasi dan memerangi infeksi secara efisien. Kekebalan yang didapat akan muncul kemudian. Bayi baru lahir yang lahir dengan kekebalan pasif mengandung banyak virus dalam tubuh ibunya. Reaksi antibody keseluruhan terhadap antigen asing masih belum bisa dilakukan sampai awal kehidupan anak. Salah satu tuges utama selama masa bayi dan balita adalah pembentukan system kekebalan tubuh. Karena adanya defisiensi kekebalan alami dan didapat ini, bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi. Reaksi bayi baru lahir terhadap infeksi masih lemah dan tidak memadai. Oleh karena itu, pencegahan terhadap mikroba (seperti pada praktek persalinan yang aman dan menyusui ASI dini terutama kolostrum) dan detekdi dini serta pengobatan dini infeksi menjadi sangat penting.
ASUHAN KEBIDANAN BAYI BARU LAHIR FISIOLOGIS
PADA BAYI NY. A
DI RUMAH BERSALIN AISYIYAH, YOGYAKARTA
No Registrasi : 090105184
I. PENGKAJIAN
Tanggal/ Jam : 13 Mei 2011, 15.00 WIB
Nama Pengkaji : Bidan Tri
Tempat Pengkajian : Bangsal bunga
A. IDENTITAS / BIODATA
INDENTITAS BAYI
Nama bayi : bayi ny “ A”
Jenis kelamin : perempuan
Tanggal lahir : 13 mei 2011
Jam lahir : 13.00 wib
BB : 3000 gr
PB : 39 cm
IDENTITAS ORANGTUA
Ibu Suami
Nama : NY .A TN. S
Umur : 29 th 32 tahun
Agama : islam Islam
Suku : Jawa Jawa
Bangsa : Indonesia Indonesia
Pendidikan : SMA SMA
Pekerjaan : IRT swasta
Alamat : Jl.KH.Ahmad dahlan no 33 Yogyakarta
B. DATA SUBJEKTIF
Tanggal : 13 Mei 2011 Pukul : 15.00 wib
1. Alasan kunjungan
Keluarga ingin memeriksakan keadaan bayinya 2 jam setelah dilahirkan
2. Riwayat perkawinan
Merupakan perkawinan yang pertama. Usia ibu saat menikah 27 tahun dan suami 30 tahun dengan lama pernikahan 2 tahun.
3. Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu
Hamil Ke- persalinan Nifas
Lahir UK Jns Perslinan Pnolong Komplikasi JK BB lahir Laktasi Komplikasi
2. Riwayat persalinan sekarang
a. jenis persalinan : Spontan
b. tempat persalinan : RB Aisyiyah
c. di tolong oleh : bidan tri
d. presentasi : belakang kepala
e. air ketuban : jernih
f. lama persalinan kala II : 50 menit
g. keadaan tali pusat : lengkap
3. Keadaan BBL
a. resusitasi : tidak dilakukan
b. pemberian O2 : tidak ada
c. Keadaan Umum : baik
d. Frekuensi jantung : 122x/menit
e. Pernapasan : spontan
f. Frekuensi : 50x/menit
g. Suhu :36,5o C
h. Warna Kulit : kemerahan
4. Psikososial
Perilaku ibu terhadap bayi : Ibu sangat bersyukur bahwa bayinya lahir dengan selamat walau ibu masih nampak kesakitan
C. DATA OBJEKTIF
KU : baik
Nadi : 122 X/ menit
Suhu : 36,8 C
Nadi : 50 x/mnt
BB : 3000 gram
PB : 39 cm
Pemeriksaan fisik secara sistematik :
a. Kepala : tidak ada caput succedenum, maupun chepal hematom, bentuk mesochepal, ramut bersih
b. Ubun – ubun : datar
c. Muka : tidak oedema
d. Mata : konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, simetris
e. Telinga : tidak ditemukan kelainan, telinga masih lunak bila diraba
f. Mulut : normal, tidak ada labioschisis, palatoschisis, labiopalatoschisis
g. Hidung : tidak ditemukan adanya kelainan
h. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, vena jugularis, kelenjar limfe.
i. Dada : simetris, putting susu simetris, tidak ada hernia diafragma.
j. Tali pusat : tidak ditemukan adanya tanda infeksi
k. Punggung : tidak ada kelainan, tulang punggung teraba lurus
l. Extremitas : jumlah jari tangan dan kaki 5, tidak ada ditemukan kelainan.
m. Genitalia : labia mayor sudah menutupi labia minor, terdapat hymen
n. Anus : ada
Reflek :
a. Reflek moro : +
b. Reflek rooting : +
c. Reflek swallowing : +
d. Reflek sucking : +
e. Reflek tonick neck : +
f. Reflek palmar & plantar : +
Antropometri
a. Lingkar kepala : 24 cm
b. Lingkar dada : 23 cm
c. Lingkar lengan atas : 14 cm
ASSESMENT
Bayi Ny ‘A’ umur 2 jam normal
PLANNING
Tanggal : 13 Mei 2011 Pukul : 15.30 WIB
1. Memberitahukan kepada keluarga mengenai keadaan bayinya saat ini bahwa keadaan anaknya sehat.
Tanda vital bayi :
Frekuensi jantung : 122x/i
Suhu : 36,5 C
Nafas : 50x/mnit
- Keluarga mengerti dengan penjelasan yang diberikan
2. menberikan KIE tentang perawatan tali pusat yang benar supaya bayi teerhindar dari infeksi.
Ibu mengerti tentang apa yang dijelaskan bidan.
3. Menjaga kehangatan bayi agar terhindar dari hipotermi dengan cara mendekap bayi di dada ibu kulit dengan kulit apabila menyusui dan memakaikan topi.
- Ibu mengerti penjelasan bidan dan akan berusaha melakukan tindakan tersebut
4. Mencegah terjadi nya infeksi pada BBL:
- Mencuci tangan sebelum dan sesudah memegang bayi
- Membatasi pengunjung masuk ke tempat bayi
- Memastikan ruangan bayi selalu bersih
5. Memberikan konseling kepada keluarga khususnya ibu untuk selalu memberikan ASI secara eksklusif.
- Bayi sudah diberikan ASI.
Ttd
Bidan tri
TUGAS PRAKTIKUM PROMOSI KESEHATAN SATUAN ACARA PENYULUHAN “DHF”
Dosen Pembimbing : Andari Wuri Astuti, S.SIT
Disusun oleh :
• Ruly Catur Wulandari 090105180
• Arum Ismawati 090105181
• Eka Putri Setyaningrum 090105182
• Fatika Ikhtariyani 090105183
• Tri Wahyuni 090105184
• Dian Permatasari 090105185
• Atik Maria HP 090105186
• Sabrina Wulandari 090105187
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ‘AISYIYAH
YOGYAKARTA
2011
A. Pendahuluan
Desa Kajor yang terletak di pinggiran kota, lingkungannya tergolong kurang terawat. Disana-sini banyak terdapat barang-barang bekas seperti kaleng bekas, ban bekas, dan drum-drum bekas yang tidak terpakai sehingga barang-barang bekas tersebut digenangi oleh air. Sungai dan selokan di desa tersebut terdapat banyak sampah, tersumbat dan tidak terawat.
Sudah sebulan ini di desa Kajor, kehilangan 6 orang warganya yang meninggal dengan gejala panas yang tinggi, kadang disertai menggigil dan nyeri di seluruh badan pada hari pertama hingga ketiga. Pada hari keempat panas turun, mereka mengira penyakit ini sembuh namun pada keesokkan harinya penderita kembali mengalami panas tinggi hingga mimisan, dan akhirnya meninggal dunia.
A. Topik
Demam berdarah
B. Sasaran
1. Sasaran penyuluhan : Tokoh masyarakat dan perangkat desa Kajor.
2. Sasaran program : warga desa Kajor.
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah diberikan penyuluhan selama 20 menit warga diharapkan mampu memahami tentang demam berdarah.
2. Tujuan Khusus
Setelah diberikan penyuluhan selama 20 menit diharapkan warga mampu :
1. Menjelaskan pengertian demam berdarah.
2. Mengetahui penyebab demam bedarah.
3. Mengetahui cara penularan demam berdarah.
4. Menyebutkan gejala-gejala demam berdarah.
5. Menyebutkan cara pertolongan pertama pada penderita demam berdarah.
6. Mengetahui cara pencegahan demam berdarah.
D. Materi
Materi penyuluhan yang akan diberikan meliputi :
1. Pengertian demam bedarah.
2. Penyebab demam bedarah.
3. Cara penularan demam berdarah.
4. Gejala-gejala demam berdarah.
5. Pertolongan pertama pada penderita demam berdarah.
6. Cara pencegahan demam berdarah.
E. Metode
Ceramah dan Tanya jawab
F. Media
Media yang digunakan untuk penyuluhan antara lain:
Lembar balik, berisi:
1. Pengertian DHF
2. Penyebab DHF
3. Gejala DHF
4. Siklus hidup nyamuk
5. Cara penularan DHF
6. Pencegahan DHF
G. Waktu Pelaksanaan
1. Hari : Rabu
2. Tanggal : 4 November 2009
3. Jam : 19.30-20.00 WIB
No. Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta
1 3 mnt Pembukaan (oleh Ara):
1. Salam pembuka
2. Memperkenalkan diri, dan menjelaskan topik penyuluhan dan tujuan penyuluhan.
3. Menggali pengetahuan tentang demam berdarah.
4. Mendengarkan dan memperhatikan
5. Menjawab pertanyaan yang diajukan oleh penyaji
2 20 mnt Penyajian (oleh Ria):
1. Menjelaskan materi tentang :
2. Pengertian Demam Berdarah
3. Cara Penularan Demam Berdarah
4. Gejala Gejala Demam Berdarah
5. Pertolongan Pertama Pada Penderita Demam Berdarah
6. Cara Pencegahan Demam Berdarah
1. Memberi kesempatan untuk bertanya
2. Menjawab pertanyaan
3. Mendengarkan dan memperhatikan
4. Mengajukan pertanyaan bila kurang mengerti.
3 7 mnt Penutup (oleh Ara):
1. Melakukan evaluasi dengan memberikan pertanyaan
2. Menyimpulkan materi yang telah disampaikan
3. Memberi kesempatan kepada peserta untuk bertanya kembali jika kurang jelas
4. Mengucapkan salam penutup.
5. Memperhatikan dan menjawab pertanyaan
H. Tempat Pelaksanaan
Tempat : Balai desa Kajor
Setting Tempat Duduk
Keterangan
1. Kursi dan meja promotor.
2. Kursi dan meja operator
3. Kursi sasaran.
I. Rencana Evaluasi
No Aspek Waktu Metode Alat Evaluator
1
2
3 Kognitif
Afektif
Psikomotor Segera setelah penyuluhan
Segera setelah penyuluhan
Dua minggu setelah penyuluhan Tanya jawab
Tanya jawab
Observasi Daftar pertanyaan mengenai demam berdarah
Daftar pertanyaan tentang rencana kedepan.
Lembar observasi Ina
Ina
Ina
LAMPIRAN EVALUASI
A. Aspek Kognitif
Berupa pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
1. Apa pengertian DHF?
2. Apa saja yang bisa menyebabkan terjadinya demam berdarah?
3. Bagaimana cara penularan demam berdarah?
4. Sebutkan gejala-gejala demam berdarah?
5. Bagaimana cara pertolongan pertama pada penderita demam berdarah?
6. Apa saja cara pencegahan demam berdarah?
B. Aspek Afektif
Berupa pertanyaan sebagai berikut:
1. Jadi, dari penjelasan tentang DHF bagaimana kesimpulan Anda?
2. Apa yang akan anda lakukan setelah mengetahui tentang penyakit DHF?
C. Aspek Psikomotorik
Berupa lembar observasi sebagai berikut:
No. Keterangan Ya Tidak
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7. Menguras penampungan air.
Menutup penampungan air.
Mengubur barang bekas.
Menaburkan bubuk abate.
Membersihkan selokan.
Memakai obat anti nyamuk.
Tidur mamakai kelambu.
ISI MATERI
DENGUE HAEMORAGIC FEVER (DHF)
A. Definisi
Demam Berdarah Dengue (DBD)/ Dengue Hemorragic Fever (DHF) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue akut yang disertai sakit kepala, nyeri otot, sendi dan tulang, penurunan jumlah sel darah putih dan ruam-ruam. Demam berdarah disebarkan kepada manusia oleh nyamuk Aedes aegypti .
Pada keadaan yang lebih parah bisa terjadi kegagalan sirkulasi darah dan penderita jatuh dalam keadaan syok akibat kebocoran plasma. Keadaan ini disebut Dengue Shock Syndrome (DSS).
B. Cara Penularannya
1. DHF hanya dapat ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti betina, yang tersebar luas dirumah-rumah dan tempat-tempat umum (sekolah, pasar, terminal, warung, dsb)
2. Nyamuk ini mendapatkan virus dengue sewaktu menggigit/menghisap darah orang yang sakit DHF atau orang yang tidak sakit tetapi dalam darahnya terdapat Virus Dengue.
3. Orang yang darahnya mengandung virus dengue tetapi tidak sakit dapat pergi kemana-mana dan menularkan virus itu kepada orang lain di tempat yang ada nyamuk Aedes Aegyptinya.
4. Virus dengue yang terhisap nyamuk Aedes aegypti akan bekembang biak dalam tubuh nyamuk.
5. Bila nyamuk tersebut menggigit/menghisap darah orang lain, virus tersebut akan dipindahkan bersama air liur nyamuk ke orang tersebut.
6. Orang yang digigit nyamuk Aedes aegypti yang mengandung virus dengue akan menunjukkan gejala sakit/demam setelah 4-6 hari (masa inkubasi).
7. Bila orang yang ditulari tidak memiliki daya tahan tubuh yang baik, ia akan segera menderita DHF.
8. Nyamuk Aedes aegypti yang sudah mengandung virus dengue, seumur hidupnya dapat menularkan virus tersebut kepada orang lain.
C. Gejala Demam Berdarah
1. Panas badan mendadak tinggi (lebih tinggi dari 38 derajat celcius) selama 2-7 hari.
2. Tampak bintik-bintik merah pada kulit (kalau kulit diregangkan bintik-bintik merlebih jelas)
3. Kadang-kadang terjadi perdarahan di hidung (mimisan).
4. Mungkin terjadi muntah dan atau berak darah berwarna hitam & bau amis
5. Perdarahan di lambung juga menyebabkan nyeri di ulu hati dan mual.
6. Tekanan darah penderita turun, denyut nadi cepat dan lemah serta gelisah. Sedangkan ujung kaki dan tangannya dingin berkeringat.
D. Pertolongan bagi Penderita
1. Penderita diberi minum yang banyak
2. Penderita di kompres dengan air es
3. Penderita diberi obat penurun panas
4. Secepatnya penderita dibawa ke dokter, puskesmas atau Rumah Sakit, khususnya bila penderita tampak gelisah, ujung kaki dan tangannya dingin dan berkeringat
Pertumbuhan nyamuk :
1. Pertumbuhan nyamuk Aedes aegypti terjadi dalam air jernih : bak mandi, gentong, vas bunga, botol dan kaleng bekas, tempat minuman burung, ban bekas, perangkap semut, biasanya beraktifitas di siang hari. Nyamuk yang menghisap darah adalah nyamuk betina yang mencapai 2-3 bulan.
2. Pertumbuhannya dari telur, menjadi jentik, kemudian kepompong dan dewasa, membutuhkan waktu 1-2 minggu.
Pemberantasan Nyamuk Demam Berdarah
1. Untuk memberantas telur, larva dan pupa nyamuk Aedes aegypti bisa dilakukan dengan menaburkan bubuk Abate pada tempat penampungan air, dengan dosis 1 sendok makan peres (10 gr) untuk 100 liter air.
2. Cara yang paling efektif adalah dengan melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan gerakan 3M:
1. Menguras dan menyikat tempat penampungan air seperti bak mandi. tandon air, gentong, vas bunga, dll.
2. Mengubur/memusnahkan barang bekas (kaleng, botol, ban bekas, dll). Merombeng tidak mengatasi masalah tapi hanya memindahkan masalah ketempat lain.
3. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air (tandon, gentong, dll).
4. Untuk memberantas nyamuk dewasa bisa dilakukan dengan :
1. Fogging/pengasapan dengan insektisida.
2. Memakai obat anti nyamuk, dll.
Tetapi cara fogging ini kurang efektif karena hanya berefek sementara dan dapat mencemari lingkungan.
Perlindungan diri untuk mencegah jangan sampai digigit nyamuk dengan cara :
1. Tidur mamakai kelambu
2. Selalu beraktivitas
3. Menggunakan krem anti nyamuk, dsb.
F. Ciri nyamuk DBD :
2. Loreng hitam putih pada seluruh tubuhnya
3. Berbadan kecil
4. Biasanya menggigit pada pagi dan sore hari
5. Hidup di dalam dan sekitar rumah
6. Senang hinggap pada pakaian yang digantung di kamar
7. Jentik nyamuk berperan aktif dalam air
8. Posisi jentik tegak lurus dengan permukaan air
9. Gerakan jentik neik turun ke atas permukaan air untuk bernafas
10. Perkembang biak dalam tempat penampungan air bersih di dalam atau sekitar rumah
G. Cara Penularan
1. Nyamuk mendapatkan virus dengue sewaktu menggigit/menghisap darah orang yang sakit DHF atau orang yang tidak sakit tetapi dalam darahnya terdapat Virus Dengue.
2. Nyamuk Aedes aegypti yang sudah mengandung virus dengue, seumur hidupnya dapat menularkan virus tersebut kepada orang lain.
1. Virus dengue yang terhisap nyamuk Aedes aegypti akan berkembang biak dalam tubuh nyamuk.
2. Bila nyamuk tersebut menggigit/menghisap darah orang lain, virus tersebut akan dipindahkan bersama air liur nyamuk ke orang tersebut.
3. Orang yang digigit nyamuk Aedes aegypti yang mengandung virus dengue akan menunjukkan gejala sakit/demam setelah 4-6 hari (masa inkubasi).
4. Bila orang yang ditulari tidak memiliki daya tahan tubuh yang baik, ia akan segera menderita DHF.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.bratachem.com/abate/siklus.htm. 2004. Membasmi Jentik Nyamuk, Mencegah Demam Berdarah.
http://www.e-dukasi.net/mapok/mp_files/mp_308/materi2.html. 2008. Demam Berdarah Dengue.
http://www.kompas.com. 2007. Demam Berdarah Dengue.
http://118.98.213.22/aridata_web/e-dukasi/pp_full.php-ppid=245&fname=hal3a.htm. 2008. Demam Berdarah Dengue.
Disusun oleh :
• Ruly Catur Wulandari 090105180
• Arum Ismawati 090105181
• Eka Putri Setyaningrum 090105182
• Fatika Ikhtariyani 090105183
• Tri Wahyuni 090105184
• Dian Permatasari 090105185
• Atik Maria HP 090105186
• Sabrina Wulandari 090105187
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ‘AISYIYAH
YOGYAKARTA
2011
A. Pendahuluan
Desa Kajor yang terletak di pinggiran kota, lingkungannya tergolong kurang terawat. Disana-sini banyak terdapat barang-barang bekas seperti kaleng bekas, ban bekas, dan drum-drum bekas yang tidak terpakai sehingga barang-barang bekas tersebut digenangi oleh air. Sungai dan selokan di desa tersebut terdapat banyak sampah, tersumbat dan tidak terawat.
Sudah sebulan ini di desa Kajor, kehilangan 6 orang warganya yang meninggal dengan gejala panas yang tinggi, kadang disertai menggigil dan nyeri di seluruh badan pada hari pertama hingga ketiga. Pada hari keempat panas turun, mereka mengira penyakit ini sembuh namun pada keesokkan harinya penderita kembali mengalami panas tinggi hingga mimisan, dan akhirnya meninggal dunia.
A. Topik
Demam berdarah
B. Sasaran
1. Sasaran penyuluhan : Tokoh masyarakat dan perangkat desa Kajor.
2. Sasaran program : warga desa Kajor.
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah diberikan penyuluhan selama 20 menit warga diharapkan mampu memahami tentang demam berdarah.
2. Tujuan Khusus
Setelah diberikan penyuluhan selama 20 menit diharapkan warga mampu :
1. Menjelaskan pengertian demam berdarah.
2. Mengetahui penyebab demam bedarah.
3. Mengetahui cara penularan demam berdarah.
4. Menyebutkan gejala-gejala demam berdarah.
5. Menyebutkan cara pertolongan pertama pada penderita demam berdarah.
6. Mengetahui cara pencegahan demam berdarah.
D. Materi
Materi penyuluhan yang akan diberikan meliputi :
1. Pengertian demam bedarah.
2. Penyebab demam bedarah.
3. Cara penularan demam berdarah.
4. Gejala-gejala demam berdarah.
5. Pertolongan pertama pada penderita demam berdarah.
6. Cara pencegahan demam berdarah.
E. Metode
Ceramah dan Tanya jawab
F. Media
Media yang digunakan untuk penyuluhan antara lain:
Lembar balik, berisi:
1. Pengertian DHF
2. Penyebab DHF
3. Gejala DHF
4. Siklus hidup nyamuk
5. Cara penularan DHF
6. Pencegahan DHF
G. Waktu Pelaksanaan
1. Hari : Rabu
2. Tanggal : 4 November 2009
3. Jam : 19.30-20.00 WIB
No. Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta
1 3 mnt Pembukaan (oleh Ara):
1. Salam pembuka
2. Memperkenalkan diri, dan menjelaskan topik penyuluhan dan tujuan penyuluhan.
3. Menggali pengetahuan tentang demam berdarah.
4. Mendengarkan dan memperhatikan
5. Menjawab pertanyaan yang diajukan oleh penyaji
2 20 mnt Penyajian (oleh Ria):
1. Menjelaskan materi tentang :
2. Pengertian Demam Berdarah
3. Cara Penularan Demam Berdarah
4. Gejala Gejala Demam Berdarah
5. Pertolongan Pertama Pada Penderita Demam Berdarah
6. Cara Pencegahan Demam Berdarah
1. Memberi kesempatan untuk bertanya
2. Menjawab pertanyaan
3. Mendengarkan dan memperhatikan
4. Mengajukan pertanyaan bila kurang mengerti.
3 7 mnt Penutup (oleh Ara):
1. Melakukan evaluasi dengan memberikan pertanyaan
2. Menyimpulkan materi yang telah disampaikan
3. Memberi kesempatan kepada peserta untuk bertanya kembali jika kurang jelas
4. Mengucapkan salam penutup.
5. Memperhatikan dan menjawab pertanyaan
H. Tempat Pelaksanaan
Tempat : Balai desa Kajor
Setting Tempat Duduk
Keterangan
1. Kursi dan meja promotor.
2. Kursi dan meja operator
3. Kursi sasaran.
I. Rencana Evaluasi
No Aspek Waktu Metode Alat Evaluator
1
2
3 Kognitif
Afektif
Psikomotor Segera setelah penyuluhan
Segera setelah penyuluhan
Dua minggu setelah penyuluhan Tanya jawab
Tanya jawab
Observasi Daftar pertanyaan mengenai demam berdarah
Daftar pertanyaan tentang rencana kedepan.
Lembar observasi Ina
Ina
Ina
LAMPIRAN EVALUASI
A. Aspek Kognitif
Berupa pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
1. Apa pengertian DHF?
2. Apa saja yang bisa menyebabkan terjadinya demam berdarah?
3. Bagaimana cara penularan demam berdarah?
4. Sebutkan gejala-gejala demam berdarah?
5. Bagaimana cara pertolongan pertama pada penderita demam berdarah?
6. Apa saja cara pencegahan demam berdarah?
B. Aspek Afektif
Berupa pertanyaan sebagai berikut:
1. Jadi, dari penjelasan tentang DHF bagaimana kesimpulan Anda?
2. Apa yang akan anda lakukan setelah mengetahui tentang penyakit DHF?
C. Aspek Psikomotorik
Berupa lembar observasi sebagai berikut:
No. Keterangan Ya Tidak
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7. Menguras penampungan air.
Menutup penampungan air.
Mengubur barang bekas.
Menaburkan bubuk abate.
Membersihkan selokan.
Memakai obat anti nyamuk.
Tidur mamakai kelambu.
ISI MATERI
DENGUE HAEMORAGIC FEVER (DHF)
A. Definisi
Demam Berdarah Dengue (DBD)/ Dengue Hemorragic Fever (DHF) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue akut yang disertai sakit kepala, nyeri otot, sendi dan tulang, penurunan jumlah sel darah putih dan ruam-ruam. Demam berdarah disebarkan kepada manusia oleh nyamuk Aedes aegypti .
Pada keadaan yang lebih parah bisa terjadi kegagalan sirkulasi darah dan penderita jatuh dalam keadaan syok akibat kebocoran plasma. Keadaan ini disebut Dengue Shock Syndrome (DSS).
B. Cara Penularannya
1. DHF hanya dapat ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti betina, yang tersebar luas dirumah-rumah dan tempat-tempat umum (sekolah, pasar, terminal, warung, dsb)
2. Nyamuk ini mendapatkan virus dengue sewaktu menggigit/menghisap darah orang yang sakit DHF atau orang yang tidak sakit tetapi dalam darahnya terdapat Virus Dengue.
3. Orang yang darahnya mengandung virus dengue tetapi tidak sakit dapat pergi kemana-mana dan menularkan virus itu kepada orang lain di tempat yang ada nyamuk Aedes Aegyptinya.
4. Virus dengue yang terhisap nyamuk Aedes aegypti akan bekembang biak dalam tubuh nyamuk.
5. Bila nyamuk tersebut menggigit/menghisap darah orang lain, virus tersebut akan dipindahkan bersama air liur nyamuk ke orang tersebut.
6. Orang yang digigit nyamuk Aedes aegypti yang mengandung virus dengue akan menunjukkan gejala sakit/demam setelah 4-6 hari (masa inkubasi).
7. Bila orang yang ditulari tidak memiliki daya tahan tubuh yang baik, ia akan segera menderita DHF.
8. Nyamuk Aedes aegypti yang sudah mengandung virus dengue, seumur hidupnya dapat menularkan virus tersebut kepada orang lain.
C. Gejala Demam Berdarah
1. Panas badan mendadak tinggi (lebih tinggi dari 38 derajat celcius) selama 2-7 hari.
2. Tampak bintik-bintik merah pada kulit (kalau kulit diregangkan bintik-bintik merlebih jelas)
3. Kadang-kadang terjadi perdarahan di hidung (mimisan).
4. Mungkin terjadi muntah dan atau berak darah berwarna hitam & bau amis
5. Perdarahan di lambung juga menyebabkan nyeri di ulu hati dan mual.
6. Tekanan darah penderita turun, denyut nadi cepat dan lemah serta gelisah. Sedangkan ujung kaki dan tangannya dingin berkeringat.
D. Pertolongan bagi Penderita
1. Penderita diberi minum yang banyak
2. Penderita di kompres dengan air es
3. Penderita diberi obat penurun panas
4. Secepatnya penderita dibawa ke dokter, puskesmas atau Rumah Sakit, khususnya bila penderita tampak gelisah, ujung kaki dan tangannya dingin dan berkeringat
Pertumbuhan nyamuk :
1. Pertumbuhan nyamuk Aedes aegypti terjadi dalam air jernih : bak mandi, gentong, vas bunga, botol dan kaleng bekas, tempat minuman burung, ban bekas, perangkap semut, biasanya beraktifitas di siang hari. Nyamuk yang menghisap darah adalah nyamuk betina yang mencapai 2-3 bulan.
2. Pertumbuhannya dari telur, menjadi jentik, kemudian kepompong dan dewasa, membutuhkan waktu 1-2 minggu.
Pemberantasan Nyamuk Demam Berdarah
1. Untuk memberantas telur, larva dan pupa nyamuk Aedes aegypti bisa dilakukan dengan menaburkan bubuk Abate pada tempat penampungan air, dengan dosis 1 sendok makan peres (10 gr) untuk 100 liter air.
2. Cara yang paling efektif adalah dengan melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan gerakan 3M:
1. Menguras dan menyikat tempat penampungan air seperti bak mandi. tandon air, gentong, vas bunga, dll.
2. Mengubur/memusnahkan barang bekas (kaleng, botol, ban bekas, dll). Merombeng tidak mengatasi masalah tapi hanya memindahkan masalah ketempat lain.
3. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air (tandon, gentong, dll).
4. Untuk memberantas nyamuk dewasa bisa dilakukan dengan :
1. Fogging/pengasapan dengan insektisida.
2. Memakai obat anti nyamuk, dll.
Tetapi cara fogging ini kurang efektif karena hanya berefek sementara dan dapat mencemari lingkungan.
Perlindungan diri untuk mencegah jangan sampai digigit nyamuk dengan cara :
1. Tidur mamakai kelambu
2. Selalu beraktivitas
3. Menggunakan krem anti nyamuk, dsb.
F. Ciri nyamuk DBD :
2. Loreng hitam putih pada seluruh tubuhnya
3. Berbadan kecil
4. Biasanya menggigit pada pagi dan sore hari
5. Hidup di dalam dan sekitar rumah
6. Senang hinggap pada pakaian yang digantung di kamar
7. Jentik nyamuk berperan aktif dalam air
8. Posisi jentik tegak lurus dengan permukaan air
9. Gerakan jentik neik turun ke atas permukaan air untuk bernafas
10. Perkembang biak dalam tempat penampungan air bersih di dalam atau sekitar rumah
G. Cara Penularan
1. Nyamuk mendapatkan virus dengue sewaktu menggigit/menghisap darah orang yang sakit DHF atau orang yang tidak sakit tetapi dalam darahnya terdapat Virus Dengue.
2. Nyamuk Aedes aegypti yang sudah mengandung virus dengue, seumur hidupnya dapat menularkan virus tersebut kepada orang lain.
1. Virus dengue yang terhisap nyamuk Aedes aegypti akan berkembang biak dalam tubuh nyamuk.
2. Bila nyamuk tersebut menggigit/menghisap darah orang lain, virus tersebut akan dipindahkan bersama air liur nyamuk ke orang tersebut.
3. Orang yang digigit nyamuk Aedes aegypti yang mengandung virus dengue akan menunjukkan gejala sakit/demam setelah 4-6 hari (masa inkubasi).
4. Bila orang yang ditulari tidak memiliki daya tahan tubuh yang baik, ia akan segera menderita DHF.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.bratachem.com/abate/siklus.htm. 2004. Membasmi Jentik Nyamuk, Mencegah Demam Berdarah.
http://www.e-dukasi.net/mapok/mp_files/mp_308/materi2.html. 2008. Demam Berdarah Dengue.
http://www.kompas.com. 2007. Demam Berdarah Dengue.
http://118.98.213.22/aridata_web/e-dukasi/pp_full.php-ppid=245&fname=hal3a.htm. 2008. Demam Berdarah Dengue.
Makalah Asuhan Kebidanan Patologi Ginekologi Pada Ibu dengan Salphingitis
Disusun Oleh: Kelas 4C
1. Ismiyati 090105192
2. Frisca Pratiwi 090105193
3. Arifiati Hidayah 090105194
4. Hani Setyowati 090105195
DIII KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ‘AISYIYAH
YOGYAKARTA
2010 / 2011
DAFTAR ISI
Halaman Judul........................................................................................................... 1
Kata Pengantar.......................................................................................................... 2
Daftar Isi................................................................................................................... 3
Bab I Pendahuluan.................................................................................................... 4
Latar Belakang.....................................................................................
Tujuan.................................................................................................
Manfaat...............................................................................................
Bab II Tinjauan Teori................................................................................................ 5
Pengertian Salphingitis...........................................................................
Gejala...................................................................................................
Penyebab..............................................................................................
Pengobatan............................................................................................
Dampak Bagi Kesehatan.......................................................................
Bab III Kasus dan askeb......................................................................................... 12
Bab IV Pembahasan.................................................................................................. 18
Bab IV Penutup........................................................................................................ 24
Simpulan..............................................................................................
Saran....................................................................................................
Daftar Pustaka........................................................................................................... 24
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberi rahmat dan ridho-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah Asuhan Kebidanan Pada Ibu dengan Salphingitis ini dapat diselesaikan dengan bantuan dan bimbingan dari beberapa pihak, untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu Hj. Hikmah Sobri, S. Pd.,M.Kes
2. Teman – teman seperjuangan yang telah ikut menyelesaikan makalah ini
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan Makalah Asuhan Kebidanan Pada Ibu dengan Salphingitis ini masih jauh dari harapan sempurna untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan makalah ini dan semoga dapat diterima dan bermanfaat bagi orang – orang yang berkecimpung di dunia kesehatan.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Yogyakarta, Maret 2011
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kesehatan reproduksi menurut WHO adalah suatu keadaan fisik, mental dan sosial yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya. Atau Suatu keadaan dimana manusia dapat menikmati kehidupan seksualnya serta mampu menjalankan fungsi dan proses reproduksinya secara sehat dan aman. Kesehatan reproduksi berperhatian pada upaya membebaskan individu dari segala kemungkinan gangguan kesehatan karena menggunakan cara-cara pencegahan kehamilan, gangguan kesehatan karena kehamilan. Atau dapat dirinci sebagai berikut : aman dari kehamilan yang tidak dikehendaki, terlindung dari praktik reproduksi yang berbahaya, bebas memilih kontrasepsi yang cocok, memiliki akses informasi juga akses terhadap perawatan kehamilan dan pelayanan persalinan yang aman, serta akses terhadap pengobatan dan kemandulan.
Di tingkat internasional kepedulian formal pada masalah kesehatan reproduksi sudah dimulai sejak 1994, dalam pertemuan antar negara yang membahas masalah Pembangunan dan Kependudukan (ICDP) di Kairo. Dalam konferensi yang diikuti 184 negara itu, termasuk di dalamnya Indonesia, disepakati sejumlah catatan menyangkut hak-hak kesehatan reproduksi. Upaya Pemerintah dalam hal kesehatan reproduksi tercantum dalam Pasal 28H UUD 1945 menyebutkan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin di samping memiliki tempat tinggal yang layak dan lingkungan yang sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Indonesia juga sejak tahun 1984 meratifikasi kovenan internasional yang terkait dengan hak-hak perempuan; CEDAW dengan dikeluarkannya UU No.07/1984.
Lebih dari satu juta kasus salpingitis akut dilaporkan setiap tahun di AS, namun jumlah insiden ini mungkin lebih besar, karena metode pelaporan tidak lengkap dan terlalu dini dan bahwa banyak kasus dilaporkan pertama ketika penyakit itu telah pergi begitu jauh bahwa mereka telah mengembangkan kronis komplikasi. Bagi wanita berusia 16-25, salpingitis adalah infeksi serius yang paling umum. Ini mempengaruhi sekitar 11% dari wanita usia reproduktif. salpingitis memiliki insiden yang lebih tinggi di antara anggota kelas-kelas sosial ekonomi rendah. Namun, hal ini dianggap sebagai akibat dari debut seks sebelumnya, beberapa mitra dan kemampuan rendah untuk menerima perawatan kesehatan yang layak bukan karena faktor resiko independen untuk salpingitis. Sebagai akibat dari peningkatan risiko karena beberapa mitra, prevalensi salpingitis tertinggi untuk orang yang berusia 15-24 tahun. Penurunan kesadaran gejala dan kurang kemauan untuk menggunakan alat kontrasepsi juga umum dalam kelompok ini, meningkatkan terjadinya salpingitis.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang di sebut dengan salphingitis?
2. Apa saja gejala, tanda, penyebab dan dampak dari salphingitis?
3. Bagaimana asuhan kebidanan yang tepat diterapkan kepada wanita yang mengalami salphingitis?
C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian salphingitis
2. Mengetahui gejala, tanda, penyebab dan dampak dari salphingitis
3. Mengetahui asuhan kebidanan yang tepat diterapkan kepada wanita yang mengalami salphingitis
D. Manfaat
Dengan mengetahui pengertian, gejala, tanda, penyebab dan dampak dari salphingitis dan diharapkan bidan dapat memberikan asuhan kebidanan yang tepat diterapkan kepada wanita yang mengalami salphingitis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Salphingitis
Pengertian
Salpingitis adalah infeksi dan peradangan di saluran tuba
Gejala
Gejala biasanya muncul setelah periode menstruasi. Yang paling umum adalah:
o Abnormal bau dan warna cairan vagina.
o Nyeri saat ovulasi
o Rasa sakit selama hubungan seksual
o Sakit datang dan pergi dalam periode menstruasi
o Sakit perut
o sakit punggung
o Demam
o Mual
o Muntah
Klasifikasi:
Ada dua jenis salpingitis:
a. salpingitis akut
b. salphingitis kronis.
Penyebab dan patofisiologi
Penyebabnya adalah Infeksi gonorrhe. Infeksi biasanya berasal di vagina, dan naik ke tuba falopi dari sana. Karena infeksi dapat menyebar melalui pembuluh getah bening, infeksi pada satu tuba fallopi biasanya menyebabkan infeksi yang lain.
Faktor risiko
Sudah berteori bahwa serviks terbuka selama menstruasi sehingga mengakibakan mudah masuknya bakteri
Faktor risiko lain termasuk: prosedur bedah,
• Biopsi endometrium
• kuret
• histeroskopi
Risiko lain adalah faktor yang mengubah lingkungan mikro dalam vagina dan leher rahim, menginfeksi memungkinkan organisme berkembang biak dan akhirnya naik ke tuba fallopi:
• antibiotic treatment
• ovulasi
• haid
• penyakit menular seksual (PMS)
Akhirnya, hubungan seksual dapat memfasilitasi penyebaran penyakit dari vagina ke tuba fallopi. faktor risiko coital adalah:
• Kontraksi uterus
• Sperma, membawa organisme ke atas.
Spesies bakteri
Bakteri yang paling terkait dengan salpingitis adalah
• N. gonorrhoeae
• Chlamydia trachomatis
• Mycoplasma
• Staphylococcus
• Streptococcus
Komplikasi lain adalah:
• infertilitas,
• kehamilan ektopik .
• Infeksi indung telur dan rahim
• Infeksi pada pasangan seks
• Suatu abses pada ovarium
BAB III
KASUS DAN ASKEB
ASUHAN KEBIDANAN PADA GANGGUAN SISTEM REPRODUKSI
“Ny w” umur 30 th dengan salphingitis
Di BPS “A”
No register : 1052 1704
Masuk RS Tanggal : 15-6-2010
Pukul : 11.00 WIB
Subyektif
Biodata Istri Suami
Nama : Ny. W Tn. T
Umur : 30 th 38 th
Agama : Islam Islam
Suku / bangsa : Jawa / Indonesia Jawa / Indonesia
Pendidikan : SMA SMA
Pekerjaan : Karyawati Swasta
Alamat : Kronggahan 1, Trirenggo, Gamping ,Sleman
DATA SUBYEKTIF
1. Kunjungan saat ini : kunjungan pertama.
2. Keluhan Utama
Klien mengatakan merasakan sakit saat berhubungan seksual, keluar cairan yang berbau dari jalan lahir dan gatal, nyeri pada bagian perut, punggung, dan terasa mual serta kadang disertai muntah.
3. Riwayat Menstruasi
Menarche umur 12 th. Siklus 28 hr. teratur, lama 7-8 hr. Sifat darah : encer , bau khas, tidak ada flour albus. Ganti pembalut 3 x / hr
4. Riwayat pernikahan
Ibu mengatakan menikah usia 25 tahun dengan suami 33 tahun. Bagi ibu dan suami ini merupakan pernikahan yang pertama dan syah.Lama pernikahan 5 tahun.
5. Riwayat obstetric P1 Ab0Ah1
Hamil ke Persalinan Nifas
lahir UK Jenis pers Penolong Komplikasi Jenis kelamin BB / PB H Laktasi Kompilkasi
1 10-1-1994 38 Spontan Bidan - perempuan 3000 gr/ 50 hidup 6 bulan -
6. Riwayat Kontrasepsi
NO Jenis kontrasepsi Mulai pakai Berhenti/ganti cara
Tanggal Oleh Tempat Keluhan Tanggal Oleh tempat Komplikasi
1 IUD 12-7-1994 Bidan BPS - Sampai sekarang
7. Riwayat Kesehatan
a. Penyakit sistematik yang pernah/ sedang diderita
Ibu mengatakan ia, dan suami tidak sedang dan tidak memiliki riwayat penyakit menular, menurun dan kronis seperti HIV / AIDS, Hepatitis, jantung , Asma, stroke, ginjal.
b. Penyakit sistematik yang pernah/ sedang diderita
Ibu mengatakan keluarganya tidak sedang dan tidak memiliki riwayat penyakit menular, menurun dan kronis seperti HIV / AIDS, Hepatitis, jantung , Asma, stroke, Ginjal
c. Riwayat penyakit ginekologi
Ibu mengatakan belum pernah menderita penyakit yang berkaitan atau berhubungan dengan kebidanan/kandungan.
8.Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari
a. Ibu mengatakan makan 2x sehari, porsi 1 piring habis, jenis nasi, sayur, lauk pauk, minum 8-9 gelas / hari, jenis air putih dan teh.
b. Pola eliminasi
BAK 6-7 x/ hari, konsistensi cair, warna dan bau khas, tidak ada keluhan.
BAB 1x /hari, konsistensi lunak, warna dan bau khas, keluhan tidak ada.
c. Pola aktifitas
Ibu mengatakan bekerja sebagai karyawati , pulang kerja pukul 14.00 wib sampai di rumah membersihkan rumah dibantu oleh mertua.
d. Pola istirahat
Ibu mengatakan tidak pernah tidur siang dan tidur malam 8-9 jam
e. Pola seksualitas
Ibu mengatakan melakukan hubungan seksual 1x / minggu
f. Personal Hygiene
Klien mengatakan mandi dan gosok gigi 2x/ hari, ganti pakaian 2x/hari ganti celana dalam 3 x/ hari, memotong kuku dan membersihkan telinga 1x/ minggu
9. Keadaan psiko sosial dan spiritual
a. Pengetahuan tentang gangguan / penyakit yang diderita saat ini
Ibu mengatakan tidak tahu penyebab keadaannya saat ini dan ibu merasa cemas atas keadaannya sekarang ini.
b. Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi
Ibu mengatakan kurang paham dengan kesehatan reproduksi.
c. Dukungan suami atau keluraga
Keluarga menyarankan ibu untuk memeriksakan keadaanya saat ini pada tenaga kesehatan.
Obyektif
1. Pemeriksaan fisik
a. KU baik ,kesadaran composmentis
b. Status emosional stabil
c. Vital sign
TD : 110/70 mmHg Nafas :24x/menit
Nadi : 76x/menit Suhu :36,8°C
d. Antropometri
TB : 155 cm BB : 50 kg Lila : 24 cm
2. Pemeriksaan fisik khusus
a. Kepala : tidak ada benjolan , rambut tidak rontok dan bersih
b. Muka : Tidak ada oedem dan simetris.
c. Mata : Sclera putih, simetris, tidak ada secret, terlihat sedikit pucat
d. Hidung : tidak ada polip, simetris, tidak ada lendir
e. Mulut : simetris, tidak ada caries gigi, bibir tidak kering,gusi tidak berdarah
f. Telinga : tidak ada serumen, simetris
g. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan limfe dan tidak ada pelebaran vena jugularis
h. Payudara : putting susu menonjol, simetris.
i. Abdomen : Rata ,tidak membesar, tidak ada abses, tidak ada bekas luka operasi,teraba nyeri pada salah satu bagian sisi perut ibu.
j. Tangan dan kaki
Tidak ada oedem dan varises, reflek patella kanan dan kiri (+/+), kuku pendek dan bersih, simetris
k. Genetalia
Tidak ada oedem dan varises,keluar cairan berbau busuk dari vagina.
l. Anus : tidak ada hemoroid
3. Pemeriksaan Penunjang : Tidak dilakukan
Assesment
Ny.W umur 30 P1Ab0Ah1tahun dengan suspect salphingitis
PLANNING
Tanggal : 15-06-2010 jam : 11.05
1. Menjelaskan kepada klien tentang hasil pemeriksaan , memberitahukan kepada Klien bahwa kemungkinan sakit yang dirasakan oleh ibu karena salphingitis. Ibu mengerti dan paham dengan apa yang bidan jelaskan .
2. Memberikan penyuluhan kepada Klien tentang pengertian, gejala dan dampak salphingitis. Ibu mendengarkan dengan cermat dan mengtakan mengerti.
3. Memberikan dukungan pada ibu untuk tidak cemas dengan keadaan yang sedang di alami saat ini. Ibu terlihat agak lega saat mendengar dukungan dari Bidan.
7. Memberikan konseling mengenai personal hygiene.
o Selalu mencuci dan mengeringkan alat kelaminnya selesai BAB dan BAK secara teratur.
o Darah yang keluar pada saat menstruasi harus ditampung dengan dengan baik, karena jika darah tidak ditampung dapat menyebabkan penyakit.
o Menampung darah dapat dilakukan dengan menggunakan pembalut. Menampung darah dengan pembalut tidak memberikan efek negatif.
o Pembalut harus diganti setiap mandi atau kalau perlu setiap buang air, karena pembalut yang tidak diganti dapat menyebabkan terjadinya penyakit.
o Pakai CD/BH yang lembut mudah menghisap keringat
o Sering ganti pakaian dalam
Klien bersedia melakukan apa yang dianjurkan bidan
8. Memberikan konseling untuk menjalankan pola hidup sehat yaitu dengan olah raga yang teratur, gizi cukup, kurangi aktivitas yang menyebabkan kelelahan. Klien mengerti dan bersedia memperbaiki pola hidupnya.
9. Memberitahukan pada ibu bahwa untuk mengetahui penyakit yang sebenarnya diderita oleh ibu, maka bidan melakukan rujukan ke Rumah Sakit agar ditangani dan diobati secara tepat agar tidak terlambat.
Ibu mengerti dan bersedia.
Yogyakarta.20 Maret 2011
TTD
Bidan C
BAB IV
PEMBAHASAN
Salphingitis atau peradangan pada saluran tuba dapat disebabkan karena beberapa hal, diantaranya adalah tindakan medis sebelumnya, mioma, dan pada umumnya adalah infeksi. Tindakan medis dalam hal ini adalah operasi pada daerah abdomen (perut) dan pangul.
Tindakan kuretase hanya dilakukan pada daerah rahim dan tidak mencapai saluran tuba sehingga sangat kecil kemungkinannya untuk menyebabkan peradangan pada saluran tuba. Infeksi akibat dari kuretase memang ada kemungkinannya dimana infeksi tersebut menyebar ke saluran tuba. Namun hal itu hanya terjadi apabila kuretase berlangsung kurang steril. Salah satu infeksi yang cukup sering disebabkan karena kuman TBC.
Untuk membuka saluran tuba memang sebaiknya dilakukan dengan laparoskopi. Untuk kemajuan ilmu teknologi saat ini, laparoskopi adalah tindakan terbaik. Namun seperti yang dikatakan oleh dokter, tuba kanan anda masih baik dan sel telur masih dapat keluar dari indung telur bagian kanan. Sel telur keluar bergantian kanan dan kiri, jadi apabila kiri tersumbat maka masih ada harapan bahwa sel telur bagian kanan bisa dibuahi.
. Pemeriksaan fisik yang dilakukan untuk pemeriksaan salpingitis adalah:
1. Pemeriksaan umum
- Suhu biasanya meningkat
- Tekanan darah normal
- Denyut nadi cepat
2. Pemeriksaan abdomen
- Nyeri perut bawah
- Nyeri lepas
- Rigiditas otot
- Bising usus menurun
- Distensi abdomen
3. Pemeriksaan inspekulo
- Tampak sekret purulen di ostium serviks
4. Pemeriksaan laboratorium
- Leukosit cenderung meningkat
Penanganan
- Berobat jalan
Jika keadaan umum baik, tidak demam
Berikan antibiotik
- Cefotaksitim 2 gr IM atau
- Amoksisilin 3 gr peroral atau
- Ampisilin 3,5 per os atau
- Prokain ampisilin G dalam aqua 4,8 juta unit IM pada 2 tempat
Masing-masing disertai dengan pemberian probenesid 1gr per os
Diikuti dengan
- Dekoksisiklin 100 mg per os dua kali sehari selama 10-14 hari
- Tetrasiklin 500 mg per os 4 kali sehari
(dekoksisilin dan tetrasiklin tidak digunakan untuk ibu hamil)
Tirah baring
Kunjungan ulang 2-3 hari atau jika keadaan memburuk
- Rawat inap
Jika terdapat keadaan-keadaan ynag mengancam jiwa ibu
Bantu mencapai rasa nyaman:
• Mandi teratur
• Obat untuk penghilang gatal
• Kompres hangat pada bagian abdomen yang merasa nyeri
• Pemberian terapi analgesik
Konseling dan teaching:
• PID dapat menyebabkan infertilitas karena tuba yang rusak, pasien harus mengatasi hal tersebut
• Pengobatan dilanjutkan sampai pasien pulang dan sembuh total
Pendidikan kesehatan yang diberikan:
• Pengetahuan tentang penyebab dan penyebaran infeksi serta efeknya
• Kegiatan seksual dikurangi atau menggunakan pengaman
• Cara mengetasi infeksi yang berulang
• Tanda-tanda perluasan infeksi:
- Nyeri semakin hebat
- Adanya peningkatan suhu tubuh
Tindakan kita sebagai bidan hanya sebatas mengetahui gejala dan deteksi awal untuk mengetahui salpingitis saja, untuk selanjutnya harus segera dilakukan rujukan secepatnya.
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Salpingitis adalah infeksi dan peradangan di saluran tuba. Penurunan kesadaran gejala dan kurang kemauan untuk menggunakan alat kontrasepsi juga umum dalam kelompok ini, meningkatkan terjadinya salpingitis.
B. SARAN
1. Setiap perempuan hendaknya waspada terhadap gejala yang menunjukkan adanya salpingitis.
2. Hendaknya bidan memberikan penyuluhan pada tiap perempuan mengenai tanda dan gejala pada gangguan reproduksi khususnya salpingitis.
DAFTAR PUSTAKA
1. Syafudin. 2006. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta: ECG
2. MamasHealth.com.. http://www.mamashealth.com/women/salpingitis.asp .
3. Sindharti, GM.2008. Asuhan Keperawatan Dengan Gangguan Reproduksi. Malang
4. Bagian Obstetri dan Ginekologi, 1981. Ginekologi. Bandung: Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung
5. F Gary Cunningham, dkk.2005. Obstetri Williams edisi 21. ECG:Jakarta
1. Ismiyati 090105192
2. Frisca Pratiwi 090105193
3. Arifiati Hidayah 090105194
4. Hani Setyowati 090105195
DIII KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ‘AISYIYAH
YOGYAKARTA
2010 / 2011
DAFTAR ISI
Halaman Judul........................................................................................................... 1
Kata Pengantar.......................................................................................................... 2
Daftar Isi................................................................................................................... 3
Bab I Pendahuluan.................................................................................................... 4
Latar Belakang.....................................................................................
Tujuan.................................................................................................
Manfaat...............................................................................................
Bab II Tinjauan Teori................................................................................................ 5
Pengertian Salphingitis...........................................................................
Gejala...................................................................................................
Penyebab..............................................................................................
Pengobatan............................................................................................
Dampak Bagi Kesehatan.......................................................................
Bab III Kasus dan askeb......................................................................................... 12
Bab IV Pembahasan.................................................................................................. 18
Bab IV Penutup........................................................................................................ 24
Simpulan..............................................................................................
Saran....................................................................................................
Daftar Pustaka........................................................................................................... 24
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberi rahmat dan ridho-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah Asuhan Kebidanan Pada Ibu dengan Salphingitis ini dapat diselesaikan dengan bantuan dan bimbingan dari beberapa pihak, untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu Hj. Hikmah Sobri, S. Pd.,M.Kes
2. Teman – teman seperjuangan yang telah ikut menyelesaikan makalah ini
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan Makalah Asuhan Kebidanan Pada Ibu dengan Salphingitis ini masih jauh dari harapan sempurna untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan makalah ini dan semoga dapat diterima dan bermanfaat bagi orang – orang yang berkecimpung di dunia kesehatan.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Yogyakarta, Maret 2011
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kesehatan reproduksi menurut WHO adalah suatu keadaan fisik, mental dan sosial yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya. Atau Suatu keadaan dimana manusia dapat menikmati kehidupan seksualnya serta mampu menjalankan fungsi dan proses reproduksinya secara sehat dan aman. Kesehatan reproduksi berperhatian pada upaya membebaskan individu dari segala kemungkinan gangguan kesehatan karena menggunakan cara-cara pencegahan kehamilan, gangguan kesehatan karena kehamilan. Atau dapat dirinci sebagai berikut : aman dari kehamilan yang tidak dikehendaki, terlindung dari praktik reproduksi yang berbahaya, bebas memilih kontrasepsi yang cocok, memiliki akses informasi juga akses terhadap perawatan kehamilan dan pelayanan persalinan yang aman, serta akses terhadap pengobatan dan kemandulan.
Di tingkat internasional kepedulian formal pada masalah kesehatan reproduksi sudah dimulai sejak 1994, dalam pertemuan antar negara yang membahas masalah Pembangunan dan Kependudukan (ICDP) di Kairo. Dalam konferensi yang diikuti 184 negara itu, termasuk di dalamnya Indonesia, disepakati sejumlah catatan menyangkut hak-hak kesehatan reproduksi. Upaya Pemerintah dalam hal kesehatan reproduksi tercantum dalam Pasal 28H UUD 1945 menyebutkan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin di samping memiliki tempat tinggal yang layak dan lingkungan yang sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Indonesia juga sejak tahun 1984 meratifikasi kovenan internasional yang terkait dengan hak-hak perempuan; CEDAW dengan dikeluarkannya UU No.07/1984.
Lebih dari satu juta kasus salpingitis akut dilaporkan setiap tahun di AS, namun jumlah insiden ini mungkin lebih besar, karena metode pelaporan tidak lengkap dan terlalu dini dan bahwa banyak kasus dilaporkan pertama ketika penyakit itu telah pergi begitu jauh bahwa mereka telah mengembangkan kronis komplikasi. Bagi wanita berusia 16-25, salpingitis adalah infeksi serius yang paling umum. Ini mempengaruhi sekitar 11% dari wanita usia reproduktif. salpingitis memiliki insiden yang lebih tinggi di antara anggota kelas-kelas sosial ekonomi rendah. Namun, hal ini dianggap sebagai akibat dari debut seks sebelumnya, beberapa mitra dan kemampuan rendah untuk menerima perawatan kesehatan yang layak bukan karena faktor resiko independen untuk salpingitis. Sebagai akibat dari peningkatan risiko karena beberapa mitra, prevalensi salpingitis tertinggi untuk orang yang berusia 15-24 tahun. Penurunan kesadaran gejala dan kurang kemauan untuk menggunakan alat kontrasepsi juga umum dalam kelompok ini, meningkatkan terjadinya salpingitis.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang di sebut dengan salphingitis?
2. Apa saja gejala, tanda, penyebab dan dampak dari salphingitis?
3. Bagaimana asuhan kebidanan yang tepat diterapkan kepada wanita yang mengalami salphingitis?
C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian salphingitis
2. Mengetahui gejala, tanda, penyebab dan dampak dari salphingitis
3. Mengetahui asuhan kebidanan yang tepat diterapkan kepada wanita yang mengalami salphingitis
D. Manfaat
Dengan mengetahui pengertian, gejala, tanda, penyebab dan dampak dari salphingitis dan diharapkan bidan dapat memberikan asuhan kebidanan yang tepat diterapkan kepada wanita yang mengalami salphingitis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Salphingitis
Pengertian
Salpingitis adalah infeksi dan peradangan di saluran tuba
Gejala
Gejala biasanya muncul setelah periode menstruasi. Yang paling umum adalah:
o Abnormal bau dan warna cairan vagina.
o Nyeri saat ovulasi
o Rasa sakit selama hubungan seksual
o Sakit datang dan pergi dalam periode menstruasi
o Sakit perut
o sakit punggung
o Demam
o Mual
o Muntah
Klasifikasi:
Ada dua jenis salpingitis:
a. salpingitis akut
b. salphingitis kronis.
Penyebab dan patofisiologi
Penyebabnya adalah Infeksi gonorrhe. Infeksi biasanya berasal di vagina, dan naik ke tuba falopi dari sana. Karena infeksi dapat menyebar melalui pembuluh getah bening, infeksi pada satu tuba fallopi biasanya menyebabkan infeksi yang lain.
Faktor risiko
Sudah berteori bahwa serviks terbuka selama menstruasi sehingga mengakibakan mudah masuknya bakteri
Faktor risiko lain termasuk: prosedur bedah,
• Biopsi endometrium
• kuret
• histeroskopi
Risiko lain adalah faktor yang mengubah lingkungan mikro dalam vagina dan leher rahim, menginfeksi memungkinkan organisme berkembang biak dan akhirnya naik ke tuba fallopi:
• antibiotic treatment
• ovulasi
• haid
• penyakit menular seksual (PMS)
Akhirnya, hubungan seksual dapat memfasilitasi penyebaran penyakit dari vagina ke tuba fallopi. faktor risiko coital adalah:
• Kontraksi uterus
• Sperma, membawa organisme ke atas.
Spesies bakteri
Bakteri yang paling terkait dengan salpingitis adalah
• N. gonorrhoeae
• Chlamydia trachomatis
• Mycoplasma
• Staphylococcus
• Streptococcus
Komplikasi lain adalah:
• infertilitas,
• kehamilan ektopik .
• Infeksi indung telur dan rahim
• Infeksi pada pasangan seks
• Suatu abses pada ovarium
BAB III
KASUS DAN ASKEB
ASUHAN KEBIDANAN PADA GANGGUAN SISTEM REPRODUKSI
“Ny w” umur 30 th dengan salphingitis
Di BPS “A”
No register : 1052 1704
Masuk RS Tanggal : 15-6-2010
Pukul : 11.00 WIB
Subyektif
Biodata Istri Suami
Nama : Ny. W Tn. T
Umur : 30 th 38 th
Agama : Islam Islam
Suku / bangsa : Jawa / Indonesia Jawa / Indonesia
Pendidikan : SMA SMA
Pekerjaan : Karyawati Swasta
Alamat : Kronggahan 1, Trirenggo, Gamping ,Sleman
DATA SUBYEKTIF
1. Kunjungan saat ini : kunjungan pertama.
2. Keluhan Utama
Klien mengatakan merasakan sakit saat berhubungan seksual, keluar cairan yang berbau dari jalan lahir dan gatal, nyeri pada bagian perut, punggung, dan terasa mual serta kadang disertai muntah.
3. Riwayat Menstruasi
Menarche umur 12 th. Siklus 28 hr. teratur, lama 7-8 hr. Sifat darah : encer , bau khas, tidak ada flour albus. Ganti pembalut 3 x / hr
4. Riwayat pernikahan
Ibu mengatakan menikah usia 25 tahun dengan suami 33 tahun. Bagi ibu dan suami ini merupakan pernikahan yang pertama dan syah.Lama pernikahan 5 tahun.
5. Riwayat obstetric P1 Ab0Ah1
Hamil ke Persalinan Nifas
lahir UK Jenis pers Penolong Komplikasi Jenis kelamin BB / PB H Laktasi Kompilkasi
1 10-1-1994 38 Spontan Bidan - perempuan 3000 gr/ 50 hidup 6 bulan -
6. Riwayat Kontrasepsi
NO Jenis kontrasepsi Mulai pakai Berhenti/ganti cara
Tanggal Oleh Tempat Keluhan Tanggal Oleh tempat Komplikasi
1 IUD 12-7-1994 Bidan BPS - Sampai sekarang
7. Riwayat Kesehatan
a. Penyakit sistematik yang pernah/ sedang diderita
Ibu mengatakan ia, dan suami tidak sedang dan tidak memiliki riwayat penyakit menular, menurun dan kronis seperti HIV / AIDS, Hepatitis, jantung , Asma, stroke, ginjal.
b. Penyakit sistematik yang pernah/ sedang diderita
Ibu mengatakan keluarganya tidak sedang dan tidak memiliki riwayat penyakit menular, menurun dan kronis seperti HIV / AIDS, Hepatitis, jantung , Asma, stroke, Ginjal
c. Riwayat penyakit ginekologi
Ibu mengatakan belum pernah menderita penyakit yang berkaitan atau berhubungan dengan kebidanan/kandungan.
8.Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari
a. Ibu mengatakan makan 2x sehari, porsi 1 piring habis, jenis nasi, sayur, lauk pauk, minum 8-9 gelas / hari, jenis air putih dan teh.
b. Pola eliminasi
BAK 6-7 x/ hari, konsistensi cair, warna dan bau khas, tidak ada keluhan.
BAB 1x /hari, konsistensi lunak, warna dan bau khas, keluhan tidak ada.
c. Pola aktifitas
Ibu mengatakan bekerja sebagai karyawati , pulang kerja pukul 14.00 wib sampai di rumah membersihkan rumah dibantu oleh mertua.
d. Pola istirahat
Ibu mengatakan tidak pernah tidur siang dan tidur malam 8-9 jam
e. Pola seksualitas
Ibu mengatakan melakukan hubungan seksual 1x / minggu
f. Personal Hygiene
Klien mengatakan mandi dan gosok gigi 2x/ hari, ganti pakaian 2x/hari ganti celana dalam 3 x/ hari, memotong kuku dan membersihkan telinga 1x/ minggu
9. Keadaan psiko sosial dan spiritual
a. Pengetahuan tentang gangguan / penyakit yang diderita saat ini
Ibu mengatakan tidak tahu penyebab keadaannya saat ini dan ibu merasa cemas atas keadaannya sekarang ini.
b. Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi
Ibu mengatakan kurang paham dengan kesehatan reproduksi.
c. Dukungan suami atau keluraga
Keluarga menyarankan ibu untuk memeriksakan keadaanya saat ini pada tenaga kesehatan.
Obyektif
1. Pemeriksaan fisik
a. KU baik ,kesadaran composmentis
b. Status emosional stabil
c. Vital sign
TD : 110/70 mmHg Nafas :24x/menit
Nadi : 76x/menit Suhu :36,8°C
d. Antropometri
TB : 155 cm BB : 50 kg Lila : 24 cm
2. Pemeriksaan fisik khusus
a. Kepala : tidak ada benjolan , rambut tidak rontok dan bersih
b. Muka : Tidak ada oedem dan simetris.
c. Mata : Sclera putih, simetris, tidak ada secret, terlihat sedikit pucat
d. Hidung : tidak ada polip, simetris, tidak ada lendir
e. Mulut : simetris, tidak ada caries gigi, bibir tidak kering,gusi tidak berdarah
f. Telinga : tidak ada serumen, simetris
g. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan limfe dan tidak ada pelebaran vena jugularis
h. Payudara : putting susu menonjol, simetris.
i. Abdomen : Rata ,tidak membesar, tidak ada abses, tidak ada bekas luka operasi,teraba nyeri pada salah satu bagian sisi perut ibu.
j. Tangan dan kaki
Tidak ada oedem dan varises, reflek patella kanan dan kiri (+/+), kuku pendek dan bersih, simetris
k. Genetalia
Tidak ada oedem dan varises,keluar cairan berbau busuk dari vagina.
l. Anus : tidak ada hemoroid
3. Pemeriksaan Penunjang : Tidak dilakukan
Assesment
Ny.W umur 30 P1Ab0Ah1tahun dengan suspect salphingitis
PLANNING
Tanggal : 15-06-2010 jam : 11.05
1. Menjelaskan kepada klien tentang hasil pemeriksaan , memberitahukan kepada Klien bahwa kemungkinan sakit yang dirasakan oleh ibu karena salphingitis. Ibu mengerti dan paham dengan apa yang bidan jelaskan .
2. Memberikan penyuluhan kepada Klien tentang pengertian, gejala dan dampak salphingitis. Ibu mendengarkan dengan cermat dan mengtakan mengerti.
3. Memberikan dukungan pada ibu untuk tidak cemas dengan keadaan yang sedang di alami saat ini. Ibu terlihat agak lega saat mendengar dukungan dari Bidan.
7. Memberikan konseling mengenai personal hygiene.
o Selalu mencuci dan mengeringkan alat kelaminnya selesai BAB dan BAK secara teratur.
o Darah yang keluar pada saat menstruasi harus ditampung dengan dengan baik, karena jika darah tidak ditampung dapat menyebabkan penyakit.
o Menampung darah dapat dilakukan dengan menggunakan pembalut. Menampung darah dengan pembalut tidak memberikan efek negatif.
o Pembalut harus diganti setiap mandi atau kalau perlu setiap buang air, karena pembalut yang tidak diganti dapat menyebabkan terjadinya penyakit.
o Pakai CD/BH yang lembut mudah menghisap keringat
o Sering ganti pakaian dalam
Klien bersedia melakukan apa yang dianjurkan bidan
8. Memberikan konseling untuk menjalankan pola hidup sehat yaitu dengan olah raga yang teratur, gizi cukup, kurangi aktivitas yang menyebabkan kelelahan. Klien mengerti dan bersedia memperbaiki pola hidupnya.
9. Memberitahukan pada ibu bahwa untuk mengetahui penyakit yang sebenarnya diderita oleh ibu, maka bidan melakukan rujukan ke Rumah Sakit agar ditangani dan diobati secara tepat agar tidak terlambat.
Ibu mengerti dan bersedia.
Yogyakarta.20 Maret 2011
TTD
Bidan C
BAB IV
PEMBAHASAN
Salphingitis atau peradangan pada saluran tuba dapat disebabkan karena beberapa hal, diantaranya adalah tindakan medis sebelumnya, mioma, dan pada umumnya adalah infeksi. Tindakan medis dalam hal ini adalah operasi pada daerah abdomen (perut) dan pangul.
Tindakan kuretase hanya dilakukan pada daerah rahim dan tidak mencapai saluran tuba sehingga sangat kecil kemungkinannya untuk menyebabkan peradangan pada saluran tuba. Infeksi akibat dari kuretase memang ada kemungkinannya dimana infeksi tersebut menyebar ke saluran tuba. Namun hal itu hanya terjadi apabila kuretase berlangsung kurang steril. Salah satu infeksi yang cukup sering disebabkan karena kuman TBC.
Untuk membuka saluran tuba memang sebaiknya dilakukan dengan laparoskopi. Untuk kemajuan ilmu teknologi saat ini, laparoskopi adalah tindakan terbaik. Namun seperti yang dikatakan oleh dokter, tuba kanan anda masih baik dan sel telur masih dapat keluar dari indung telur bagian kanan. Sel telur keluar bergantian kanan dan kiri, jadi apabila kiri tersumbat maka masih ada harapan bahwa sel telur bagian kanan bisa dibuahi.
. Pemeriksaan fisik yang dilakukan untuk pemeriksaan salpingitis adalah:
1. Pemeriksaan umum
- Suhu biasanya meningkat
- Tekanan darah normal
- Denyut nadi cepat
2. Pemeriksaan abdomen
- Nyeri perut bawah
- Nyeri lepas
- Rigiditas otot
- Bising usus menurun
- Distensi abdomen
3. Pemeriksaan inspekulo
- Tampak sekret purulen di ostium serviks
4. Pemeriksaan laboratorium
- Leukosit cenderung meningkat
Penanganan
- Berobat jalan
Jika keadaan umum baik, tidak demam
Berikan antibiotik
- Cefotaksitim 2 gr IM atau
- Amoksisilin 3 gr peroral atau
- Ampisilin 3,5 per os atau
- Prokain ampisilin G dalam aqua 4,8 juta unit IM pada 2 tempat
Masing-masing disertai dengan pemberian probenesid 1gr per os
Diikuti dengan
- Dekoksisiklin 100 mg per os dua kali sehari selama 10-14 hari
- Tetrasiklin 500 mg per os 4 kali sehari
(dekoksisilin dan tetrasiklin tidak digunakan untuk ibu hamil)
Tirah baring
Kunjungan ulang 2-3 hari atau jika keadaan memburuk
- Rawat inap
Jika terdapat keadaan-keadaan ynag mengancam jiwa ibu
Bantu mencapai rasa nyaman:
• Mandi teratur
• Obat untuk penghilang gatal
• Kompres hangat pada bagian abdomen yang merasa nyeri
• Pemberian terapi analgesik
Konseling dan teaching:
• PID dapat menyebabkan infertilitas karena tuba yang rusak, pasien harus mengatasi hal tersebut
• Pengobatan dilanjutkan sampai pasien pulang dan sembuh total
Pendidikan kesehatan yang diberikan:
• Pengetahuan tentang penyebab dan penyebaran infeksi serta efeknya
• Kegiatan seksual dikurangi atau menggunakan pengaman
• Cara mengetasi infeksi yang berulang
• Tanda-tanda perluasan infeksi:
- Nyeri semakin hebat
- Adanya peningkatan suhu tubuh
Tindakan kita sebagai bidan hanya sebatas mengetahui gejala dan deteksi awal untuk mengetahui salpingitis saja, untuk selanjutnya harus segera dilakukan rujukan secepatnya.
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Salpingitis adalah infeksi dan peradangan di saluran tuba. Penurunan kesadaran gejala dan kurang kemauan untuk menggunakan alat kontrasepsi juga umum dalam kelompok ini, meningkatkan terjadinya salpingitis.
B. SARAN
1. Setiap perempuan hendaknya waspada terhadap gejala yang menunjukkan adanya salpingitis.
2. Hendaknya bidan memberikan penyuluhan pada tiap perempuan mengenai tanda dan gejala pada gangguan reproduksi khususnya salpingitis.
DAFTAR PUSTAKA
1. Syafudin. 2006. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta: ECG
2. MamasHealth.com.. http://www.mamashealth.com/women/salpingitis.asp .
3. Sindharti, GM.2008. Asuhan Keperawatan Dengan Gangguan Reproduksi. Malang
4. Bagian Obstetri dan Ginekologi, 1981. Ginekologi. Bandung: Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung
5. F Gary Cunningham, dkk.2005. Obstetri Williams edisi 21. ECG:Jakarta
Pneumonia
Mendiagnosis Pneumonia
Pneumonia mungkin dicurigai ketika dokter memeriksa pasien dan mendengar pernapasan yang kasar atau suara-suara yang pecah ketika mendengarkan pada suatu porsi dari dada dengan sebuah stethoscope. Mungkin ada suara mencuit-cuit, atau suara-suara pernapasan mungkin adalah redup pada suatu area tertentu dari dada. Suatu x-ray dada biasanya dipesan untuk mengkonfirmasi diagnosis dari pneumonia. Paru-paru mempunyai beberapa segmen-segmen yang dirujuk sebagai gelambir-gelambir (lobes), biasanya dua di kiri dan tiga di kanan. Ketika pneumonia mempengaruhi satu dari gelambir-gelambir (lobes) ini ia seringkali dirujuk sebagai lobar pneumonia. Beberapa pneumonia-pneumonia mempunyai suatu distribusi yang lebih setengah-setengah yang tidak melibatkan gelambir-gelambir (lobes) yang spesifik. Di waktu lalu, ketika kedua paru-paru terlibat dalam infeksi, istilah "double pneumonia" digunakan. Istilah ini sekarang jarang digunakan.
Contoh-contoh sputum (dahak) dapat diambil dan diuji dibawah mikroskop. Jika pneumonia disebabkan oleh bakteri atau jamur, organisme-organisme dapat seringkali dideteksi dengan pemeriksaan ini. Suatu contoh dari sputum dapat ditumbuhkan di inkubator-inkubator khusus, dan organisme yang menyerang dapat diidentifikasi sesudah itu. Adalah penting untu mengerti bahwa spesimen sputum harus mengandung sedikit air liur (saliva) dari mulut dan dikirim ke laboratorium cukup cepat. Kalau tidak, pertumbuhan yang terlalu cepat dari bakteri yang tidak menginfeksi mungkin mendominasi.
Suatu tes darah yang mengukur jumlah sel darah putih [white blood cell (WBC)] mungkin dilaksanakan. Suatu jumlah sel darah putih dari seorang individu dapat seringkali memberikan suatu petunjuk pada keparahan dari pneumonia dan apakah ia disebabkan oleh bakteri atau suatu virus. Suatu angka dari neutrophils yang meningkat, satu tipe dari WBC, terlihat pada infeksi-infeksi bakteri, sedangkan suatu peningkatan dalam lymphocytes, tipe yang lain dari WBC, terlihat pada infeksi-infeksi virus.
Bronchoscopy adalah suatu prosedur dimana suatu tabung penglihat yang disinari yang tipis, lentur, dimasukan kedalam hidung atau mulut setelah suatu pembiusan lokal diatur. Jalan-jalan lintas pernapasan dapat kemudian diperiksa secara langsung oleh dokter, dan spesimen-spesimen dari bagian paru yang terinfeksi dapat diperoleh.
Adakalanya, cairan berkumpul pada ruang pleural sekitar paru sebagai suatu akibat dari peradangan dari pneumonia. Cairan ini disebut suatu pleural effusion. Jika jumlah dari cairan ini yang berkembang adalah cukup besar, ia dapat dikeluarkan dengan memasukan sebuah jarum kedalam rongga dada dan menarik cairan dengan suatu penyemprot (syringe) dalam suatu prosedur yang disebut suatu thoracentesis. Pada beberapa kasus-kasus, cairan dapat menjadi meradang sungguh parah (parapneumonic effusion) atau terinfeksi (empyema) dan mungkin perlu diangkat dengan prosedur-rosedur operasi yang lebih agresif.
Definisi Pneumonia
Pneumonia adalah suatu infeksi dari satu atau dua paru-paru yang biasanya disebabkan oleh bakteri-bakteri, virus-virus, atau jamur. Sebelum penemuan dari antibiotik-antibiotik, satu per tiga dari semua orang-orang yang telah mengembangkan pneumonia sesudah itu meninggal dari infeksi. Saat ini, lebih dari 3 juta orang-orang mengembangkan pneumonia setiap tahun di Amerika. Lebih dari setengah juta dari orang-orag ini diopname di sebuah rumah sakit untuk perawatan. Meskipun kebanyakan dari orang-orang ini sembuh, kira-kira 5% akan meninggal dari pneumonia. Pneumonia adalah pemimpin ke enam penyebab kematian di Amerika.
Bagaimana Orang-Orang "Menangkap Pneumonia" ?
Beberapa kasus-kasus dari pneumonia didapatkan dengan menghirup rintik-rintik kecil (droplets) yang mengandung organisme-organisme yang dapat menyebabkan pneumonia. Rintik-rintik ini masuk kedalam udara ketika seorang yang terinfeksi dengan kuman-kuman ini batuk atau bersin. Pada kasus-kasus lain, pneumonia disebabkan ketika bakteri-bakteri atau virus-virus yang secara normal hadir didalam mulut, tenggorokan, atau hidung tanpa sengaja memasuki paru. Sewaktu tidur, adalah sama sekali umum untuk orang-orang untuk menyedot sekresi-sekresi (pengeluaran) dari mulut, tenggorokan, atau hidung. Secara normal, respon refleks tubuh (membatuk keluar sekresi-sekresi) dan sistim imun akan mencegah organisme-organisme yang tersedot menyebabkan pneumonia. Bagaimanapun, jika seseorang ada dalam suatu kondisi yang lemah dari penyakit yang lain, suatu pneumonia yang parah dapat berkembang. Orang-orang dengan infeksi-infeksi virus baru-baru ini, penyakit paru, penyakit jantung, dan persoalan-persoalan menelan, begitu juga sebagai pemakai-pemakai obat dan alkohol, dan mereka yang telah menderita suatu stroke atau epilepsi berada pada risiko yang tinggi mengembangkan pneumonia daripada populasi umum.
Sekali organisme-organisme memasuki paru-paru, mereka biasanya menetap di kantong-kantong udara dari paru dimana mereka tumbuh dalam jumlah secara cepat. Area dari paru ini kemudian menjadi terisi dengan cairan dan nanah karena tubuh berusaha untuk melawan infeksi.
Gejala-Gejala Dan Tanda-Tanda Pneumonia
Kebanyakan orang-orang yang mengembangkan pneumonia awalnya mempunyai gejala-gejala dari suatu infuensa yang kemudian diikuti oleh suatu demam yang tinggi (adakalanya setinggi 104 derajat Fahrenheit), menggigil, dan suatu batuk dengan produksi sputum (dahak). Sputum adalah biasanya berubah warna dan adakalanya berdarah. Orang-orang dengan pneumonia mungkin menjadi pendek napasnya. Satu-satunya serat-serat nyeri di paru adalah dipermukaan paru, di area yang dikenal sebagai pleura. Nyeri dada mungkin berkembang jika aspek-aspek pleural bagian luar dari paru terlibat. Nyeri ini biasanya adalah tajam dan memburuk ketika mengambil suatu napas yang dalam, yang dikenal sebagai nyeri pleuritic.
Pada kasus-kasus yang lain dari pneumonia, dapat terjadi suatu penimbulan yang perlahan dari gejala-gejala. Suatu perburukan batuk, sakit-sakit kepala, dan sakit-sakit otot mungkin adalah satu-satunya dari gejala-gejala. Pada beberapa orang-orang dengan pneumonia, batuk adalah bukan suatu gejala utama karena infeksi berlokasi pada area-area dari paru jauh dari saluran-saluran udara yang lebih besar. Pada saat-saat, warna kulit seorang individu mungkin berubah dan menjadi kehitam-hitaman atau keungu-unguan (suatu kondisi yang dikenal sebagai "cyanosis") yang disebabkan oleh darah mereka yang dioksigenasi secara buruk.
Anak-anak dan bayi-bayi yang mengembangkan pneumonia seringkali tidak mempunyai tanda-tanda yang spesifik mana saja dari suatu infeksi dada namun mengembngkan suatu demam, nampak cukup sakit, dan dapat menjadi lesu. Orang-orang yang lebih tua mungkin juga mempunyai sedikit gejala-gejala dengan pneumonia.
Organisme-Organisme Penyebab Pneumonia Dan Perawatannya
Penyebab yang paling umum dari suatu pneumonia bakteri adalah Streptococcus pneumoniae. Pada bentuk dari pneumonia ini, biasanya ada suatu penimbulan yang tiba-tiba dari penyakit dengan menggigil, demam, dan produksi dari suatu sputum yang berwarna karat. Infeksi menyebar kedalam darah pada 20%-30% dari kasus-kasus, dan jika ini terjadi, 20%-30% dari pasien-pasien ini meninggal.
Dua vaksin tersedia untuk mencegah penyakit pneumococcal; pneumococcal conjugate vaccine (PCV7; Prevnar) dan pneumococcal polysaccharide vaccine (PPV23; Pneumovax). Pneumococcal conjugate vaccine adalah bagian dari jadwal imunisasi bayi yang rutin di Amerika dan direkomendasikan untuk semua anak-anak dibawah umur 2 tahun dan anak-anak yang berumur 2-4 tahun yang mempunyai kondisi-kondisi medis tertentu. Pneumococcal polysaccharide vaccine direkomendasikan untu dewasa-dewasa yang berada pada risiko yang meningkat mengembangkan pneumococcal pneumonia termasuk orang-orang yang lebih tua yang mempunyai diabetes, penyakit jantung, paru, atau ginjal yang kronis, mereka yang dengan alkoholisme, perokok-perokok sigaret, dan pada orang-orang yang telah diangkat limpanya.
Antibiotik-antibiotik seringkali digunakan dalam perawatan tipe pneumonia ini termasuk penicillin, amoxicillin dan clavulanic acid (Augmentin, Augmentin XR), dan macrolide antibiotics termasuk erythromycin, azithromycin (Zithromax, Zmax), dan clarithromycin (Biaxin). Penicillin tadinya/dahulu adalah pilihan dari antibiotik dalam merawat infeksi ini. Dengan kedatangan dan penggunaan yang luas dari broader-spectrum antibiotics, resistensi yang signifikan terhadap obat telah berkembang. Penicillin mungkin masih efektif dalam perawatan dari pneumococcal pneumonia, namun ia harus hanya digunakan setelah pembiakan dari bakteri mengkonfirmasi kepekaan mereka terhadap antibiotik ini.
Klebsiella pneumoniae dan Hemophilus influenzae adalah bakteri-bakteri yang seringkali menyebabkan pneumonia pada orang-orang yang menderita dari penyakit chronic obstructive pulmonary disease (COPD) atau alkolisme. Antibiotik-antibiotik yang bermanfaat dalam kasus ini adalah generasi cephalosporins kedua dan ketiga, amoxicillin dan clavulanic acid, fluoroquinolones (levofloxacin [Levaquin], moxifloxacin-oral [Avelox], gatifloxacin-oral [Tequin], dan sulfamethoxazole dan trimethoprim [Bactrim, Septra]).
Mycoplasma pneumoniae adalah suatu tipe bakteri yang seringkali menyebabkan suatu infeksi yang berkembang secara perlahan. Gejala-gejala termasuk demam, kedinginan, nyeri-nyeri otot, diare, dan ruam kulit. Bakteri ini adalah penyebab utama dari banyak pneumonia dalam bulan-bulan musim panas dan gugur, dan kondisinya seringkali dirujuk sebagai "atypical pneumonia." Macrolides (erythromycin, clarithromycin, azithromycin, dan fluoroquinolones) adalah antibiotik-antibiotik yang umum diresepkan untuk merawat Mycoplasma pneumonia.
Penyakit Legionnaire disebabkan oleh bakteri Legionella pneumoniae yang paling sering ditemukan pada suplai-suplai air yang terkontaminasi dan alat-alat pendingin udara (air conditioners). Ia adalah suatu infeksi yang berpotensi fatal jika tidak didiagnosis secara akurat. Pneumonia adalah bagian dari infeksi keseluruhan, dan gejala-gejala termasuk demam tinggi, suatu denyut jantung yang relatif perlahan, diare, mual, muntah, dan nyeri dada. Laki-laki yang lebih tua, perokok-perokok, dan orang-orang yang sistim imunnya ditekan berada pada risiko yang lebih tinggi mengembangkan penyakit Legionnaire. Fluoroquinolones adalah perawatan pilihan pada infeksi ini. Infeksi ini seringkali didianosis dengan suatu tes urin khusus yang mencari antibodi-antibodi yang spesifik pada organisme-organisme spesifik.
Mycoplasma, Legionnaire, dan infeksi yang lain, Chlamydia pneumoniae, semuanya menyebabkan suatu sindrom yang dikenal sebagai "atypical pneumonia." Pada sindrom ini, x-ray dada menunjukan kelainan-kelainan yang menyebar, namun pasien tidak tampak sungguh sakit. Infeksi-infeksi ini adalah sangat sulit untuk dibedakan secara klinik dan seringkali memerlukan bukti laboratorium untuk konfirmasi.
Pneumocystis carinii pneumonia adalah bentuk yang lain dari pneumonia yang biasanya melibatkan kedua paru-paru. Ia terlihat pada pasien-pasien dengan suatu sistim imun yang dikompromikan, dari kemoterapi untuk kanker, HIV/AIDS, dan yang dirawat dengan TNF (tumor necrosis factor), seperti untuk rheumatoid arthritis. Sekali didiagnosis, ia biasanya merespon baik pada antibiotik-antibiotik yang mengandung sulfa. Steroid-steroid seringkali digunakan secara tambahan pada kasus-kasus yang lebih parah.
Pneumonia-pneumonia virus secara khas tidak merespon pada perawatan antibiotik. Infeksi-infeksi ini dapat disebabkan oleh adenoviruses, rhinovirus, influenza virus (flu), respiratory syncytial virus (RSV), dan parainfluenza virus (yang juga menyebabkan croup). Pneumonia-pneumonia ini biasanya hilang melalui waktu dengan sistim imun tubuh menghindari infeksi. Adalah penting untuk memastikan bahwa suatu pneumonia bakteri tidak berkembang secara sekunder. Jika ia lakukan, maka pneumonia bakteri dirawat dengan antibiotik-antibiotik yang tepat. Pada beberapa situasi-situasi, terapi antivirus adalah bermanfaat dalam merawat kondisi-kondisi ini.
Infeksi-infeksi jamur yang dapat menjurus pada pneumonia termasuk histoplasmosis, coccidiomycosis, blastomycosis, aspergillosis, dan cryptococcosis. Ini bertanggung jawab untuk suatu persentase yang relatif kecil dar pneumonia-pneumonia di Amerika. Setiap jamur mempunyai perawatan-perawatan antibiotik yang spesifik, diantara mana adalah amphotericin B, fluconazole (Diflucan), penicillin, dan sulfonamides.
Kekhwatiran-kekhwatiran utama telah berkembang dalam komunitas kedokteran menyangkut penggunaan yang berlebihan dari antibiotik-antibiotik. Kebanyakan luka-luka tenggorokan dan infeksi-infeksi pernapasan bagian atas disebabkan oleh virus-virus daripada oleh bakteri-bakteri. Meskipun antibiotik-antibiotik adalah tidak efektif melawan virus-virus, mereka seringkali diresepkan. Penggunaan yang berlebihan ini telah berakibat dalam suatu keragaman dari bakteri-bakteri yang telah menjadi resisten pada banyak antibiotik-antibiotik. Organisme-organisme yang resisten ini umumnya terlihat di rumah-rumah sakit dan rumah-rumah merawat/menyusui. Sesungguhnya, dokter-dokter harus mempertimbangkan lokasi ketika meresepkan antibiotik-antibiotik [pneumonia yang didapat dari komunitas atau community-acquired pneumonia (CAP), versus pneumonia yang didapat dari rumah sakit atau hospital-acquired pneumonia (HAP)].
Organisme-organisme yang lebih mematikan seringkali datang dari lingkungan perawatan kesehatan, rumah sakit atau rumah-rumah perawatan. Organisme-organisme ini telah dipaparkan pada suatu keragaman dari antibiotik-antibiotik yang paling kuat yang tersedia untuk kita. Mereka cencerung mengembangkan resistensi pada beberapa dari antibiotik-antibiotik ini. Organisme-organisme ini dirujuk sebagai nosocomial bacteria dan dapat menyebabkan apa yang dikenal sebagai nosocomial pneumonia ketika paru-paru terinfeksi.
Baru-baru ini, satu dari organisme-organisme yang resisten ini dari rumah sakit telah menjadi cukup umum di masyarakat. Pada beberapa masyarakat-masyarakat, sampai dengan 50% dari infeksi-infeksi Staph aureus disebabkan oleh organisme-organisme yang resisten pada antibiotik methicillin. Organisme ini dirujuk sebagai MRSA (methicillin-resistant Staph aureus) dan memerlukan antibiotik-antibiotik khusus ketika ia menyebabkan infeksi. Ia dapat menyebakan pneumonia namun juga seringkali menyebabkan infeksi-infeksi kulit. Pada banyak rumah-rumah sakit, pasien-pasien dengan infeksi ini ditempatkan di isolasi kontak. Pengunjung-pengunjung mereka seringkali diminta memakai sarung tangan, masker, dan jubah. Ini dilakukan untuk membantu mencegah penyebaran dari bakteri ini pada permukaan-permukaan lain dimana mereka dapat dengan tidak hati-hati mengkontaminasi apa saja yang menyentuh permukaan itu. Oleh karenanya adalah sangat penting untuk mencuci tangan-tangan anda secara menyeluruh dan seringkali untuk membatasi penyebaran lebih jauh dari organisme resisten ini.
Kesimpulan-Kesimpulan
Pneumonia dapat menjadi suatu infeksi yang serius dan mengancam nyawa. Ini adalah benar terutama pada orang-orang tua, anak-anak, dan mereka yang mempunyai persolan-persoalan medis lain yang serius, seperti COPD, penyakit jantung, diabetes, dan kanker-kanker tertentu. Untungnya, dengan penemuan dari banyak antibiotik-antibiotik yang kuat, kebanyakan kasus-kasus dari pneumonia dapat dirawat dengan sukses. Nyatanya, pneumonia dapat biasanya dirawat dengan antibiotik-antibiotik oral tanpa keperluan untuk opname di rumah sakit.
Pneumonia mungkin dicurigai ketika dokter memeriksa pasien dan mendengar pernapasan yang kasar atau suara-suara yang pecah ketika mendengarkan pada suatu porsi dari dada dengan sebuah stethoscope. Mungkin ada suara mencuit-cuit, atau suara-suara pernapasan mungkin adalah redup pada suatu area tertentu dari dada. Suatu x-ray dada biasanya dipesan untuk mengkonfirmasi diagnosis dari pneumonia. Paru-paru mempunyai beberapa segmen-segmen yang dirujuk sebagai gelambir-gelambir (lobes), biasanya dua di kiri dan tiga di kanan. Ketika pneumonia mempengaruhi satu dari gelambir-gelambir (lobes) ini ia seringkali dirujuk sebagai lobar pneumonia. Beberapa pneumonia-pneumonia mempunyai suatu distribusi yang lebih setengah-setengah yang tidak melibatkan gelambir-gelambir (lobes) yang spesifik. Di waktu lalu, ketika kedua paru-paru terlibat dalam infeksi, istilah "double pneumonia" digunakan. Istilah ini sekarang jarang digunakan.
Contoh-contoh sputum (dahak) dapat diambil dan diuji dibawah mikroskop. Jika pneumonia disebabkan oleh bakteri atau jamur, organisme-organisme dapat seringkali dideteksi dengan pemeriksaan ini. Suatu contoh dari sputum dapat ditumbuhkan di inkubator-inkubator khusus, dan organisme yang menyerang dapat diidentifikasi sesudah itu. Adalah penting untu mengerti bahwa spesimen sputum harus mengandung sedikit air liur (saliva) dari mulut dan dikirim ke laboratorium cukup cepat. Kalau tidak, pertumbuhan yang terlalu cepat dari bakteri yang tidak menginfeksi mungkin mendominasi.
Suatu tes darah yang mengukur jumlah sel darah putih [white blood cell (WBC)] mungkin dilaksanakan. Suatu jumlah sel darah putih dari seorang individu dapat seringkali memberikan suatu petunjuk pada keparahan dari pneumonia dan apakah ia disebabkan oleh bakteri atau suatu virus. Suatu angka dari neutrophils yang meningkat, satu tipe dari WBC, terlihat pada infeksi-infeksi bakteri, sedangkan suatu peningkatan dalam lymphocytes, tipe yang lain dari WBC, terlihat pada infeksi-infeksi virus.
Bronchoscopy adalah suatu prosedur dimana suatu tabung penglihat yang disinari yang tipis, lentur, dimasukan kedalam hidung atau mulut setelah suatu pembiusan lokal diatur. Jalan-jalan lintas pernapasan dapat kemudian diperiksa secara langsung oleh dokter, dan spesimen-spesimen dari bagian paru yang terinfeksi dapat diperoleh.
Adakalanya, cairan berkumpul pada ruang pleural sekitar paru sebagai suatu akibat dari peradangan dari pneumonia. Cairan ini disebut suatu pleural effusion. Jika jumlah dari cairan ini yang berkembang adalah cukup besar, ia dapat dikeluarkan dengan memasukan sebuah jarum kedalam rongga dada dan menarik cairan dengan suatu penyemprot (syringe) dalam suatu prosedur yang disebut suatu thoracentesis. Pada beberapa kasus-kasus, cairan dapat menjadi meradang sungguh parah (parapneumonic effusion) atau terinfeksi (empyema) dan mungkin perlu diangkat dengan prosedur-rosedur operasi yang lebih agresif.
Definisi Pneumonia
Pneumonia adalah suatu infeksi dari satu atau dua paru-paru yang biasanya disebabkan oleh bakteri-bakteri, virus-virus, atau jamur. Sebelum penemuan dari antibiotik-antibiotik, satu per tiga dari semua orang-orang yang telah mengembangkan pneumonia sesudah itu meninggal dari infeksi. Saat ini, lebih dari 3 juta orang-orang mengembangkan pneumonia setiap tahun di Amerika. Lebih dari setengah juta dari orang-orag ini diopname di sebuah rumah sakit untuk perawatan. Meskipun kebanyakan dari orang-orang ini sembuh, kira-kira 5% akan meninggal dari pneumonia. Pneumonia adalah pemimpin ke enam penyebab kematian di Amerika.
Bagaimana Orang-Orang "Menangkap Pneumonia" ?
Beberapa kasus-kasus dari pneumonia didapatkan dengan menghirup rintik-rintik kecil (droplets) yang mengandung organisme-organisme yang dapat menyebabkan pneumonia. Rintik-rintik ini masuk kedalam udara ketika seorang yang terinfeksi dengan kuman-kuman ini batuk atau bersin. Pada kasus-kasus lain, pneumonia disebabkan ketika bakteri-bakteri atau virus-virus yang secara normal hadir didalam mulut, tenggorokan, atau hidung tanpa sengaja memasuki paru. Sewaktu tidur, adalah sama sekali umum untuk orang-orang untuk menyedot sekresi-sekresi (pengeluaran) dari mulut, tenggorokan, atau hidung. Secara normal, respon refleks tubuh (membatuk keluar sekresi-sekresi) dan sistim imun akan mencegah organisme-organisme yang tersedot menyebabkan pneumonia. Bagaimanapun, jika seseorang ada dalam suatu kondisi yang lemah dari penyakit yang lain, suatu pneumonia yang parah dapat berkembang. Orang-orang dengan infeksi-infeksi virus baru-baru ini, penyakit paru, penyakit jantung, dan persoalan-persoalan menelan, begitu juga sebagai pemakai-pemakai obat dan alkohol, dan mereka yang telah menderita suatu stroke atau epilepsi berada pada risiko yang tinggi mengembangkan pneumonia daripada populasi umum.
Sekali organisme-organisme memasuki paru-paru, mereka biasanya menetap di kantong-kantong udara dari paru dimana mereka tumbuh dalam jumlah secara cepat. Area dari paru ini kemudian menjadi terisi dengan cairan dan nanah karena tubuh berusaha untuk melawan infeksi.
Gejala-Gejala Dan Tanda-Tanda Pneumonia
Kebanyakan orang-orang yang mengembangkan pneumonia awalnya mempunyai gejala-gejala dari suatu infuensa yang kemudian diikuti oleh suatu demam yang tinggi (adakalanya setinggi 104 derajat Fahrenheit), menggigil, dan suatu batuk dengan produksi sputum (dahak). Sputum adalah biasanya berubah warna dan adakalanya berdarah. Orang-orang dengan pneumonia mungkin menjadi pendek napasnya. Satu-satunya serat-serat nyeri di paru adalah dipermukaan paru, di area yang dikenal sebagai pleura. Nyeri dada mungkin berkembang jika aspek-aspek pleural bagian luar dari paru terlibat. Nyeri ini biasanya adalah tajam dan memburuk ketika mengambil suatu napas yang dalam, yang dikenal sebagai nyeri pleuritic.
Pada kasus-kasus yang lain dari pneumonia, dapat terjadi suatu penimbulan yang perlahan dari gejala-gejala. Suatu perburukan batuk, sakit-sakit kepala, dan sakit-sakit otot mungkin adalah satu-satunya dari gejala-gejala. Pada beberapa orang-orang dengan pneumonia, batuk adalah bukan suatu gejala utama karena infeksi berlokasi pada area-area dari paru jauh dari saluran-saluran udara yang lebih besar. Pada saat-saat, warna kulit seorang individu mungkin berubah dan menjadi kehitam-hitaman atau keungu-unguan (suatu kondisi yang dikenal sebagai "cyanosis") yang disebabkan oleh darah mereka yang dioksigenasi secara buruk.
Anak-anak dan bayi-bayi yang mengembangkan pneumonia seringkali tidak mempunyai tanda-tanda yang spesifik mana saja dari suatu infeksi dada namun mengembngkan suatu demam, nampak cukup sakit, dan dapat menjadi lesu. Orang-orang yang lebih tua mungkin juga mempunyai sedikit gejala-gejala dengan pneumonia.
Organisme-Organisme Penyebab Pneumonia Dan Perawatannya
Penyebab yang paling umum dari suatu pneumonia bakteri adalah Streptococcus pneumoniae. Pada bentuk dari pneumonia ini, biasanya ada suatu penimbulan yang tiba-tiba dari penyakit dengan menggigil, demam, dan produksi dari suatu sputum yang berwarna karat. Infeksi menyebar kedalam darah pada 20%-30% dari kasus-kasus, dan jika ini terjadi, 20%-30% dari pasien-pasien ini meninggal.
Dua vaksin tersedia untuk mencegah penyakit pneumococcal; pneumococcal conjugate vaccine (PCV7; Prevnar) dan pneumococcal polysaccharide vaccine (PPV23; Pneumovax). Pneumococcal conjugate vaccine adalah bagian dari jadwal imunisasi bayi yang rutin di Amerika dan direkomendasikan untuk semua anak-anak dibawah umur 2 tahun dan anak-anak yang berumur 2-4 tahun yang mempunyai kondisi-kondisi medis tertentu. Pneumococcal polysaccharide vaccine direkomendasikan untu dewasa-dewasa yang berada pada risiko yang meningkat mengembangkan pneumococcal pneumonia termasuk orang-orang yang lebih tua yang mempunyai diabetes, penyakit jantung, paru, atau ginjal yang kronis, mereka yang dengan alkoholisme, perokok-perokok sigaret, dan pada orang-orang yang telah diangkat limpanya.
Antibiotik-antibiotik seringkali digunakan dalam perawatan tipe pneumonia ini termasuk penicillin, amoxicillin dan clavulanic acid (Augmentin, Augmentin XR), dan macrolide antibiotics termasuk erythromycin, azithromycin (Zithromax, Zmax), dan clarithromycin (Biaxin). Penicillin tadinya/dahulu adalah pilihan dari antibiotik dalam merawat infeksi ini. Dengan kedatangan dan penggunaan yang luas dari broader-spectrum antibiotics, resistensi yang signifikan terhadap obat telah berkembang. Penicillin mungkin masih efektif dalam perawatan dari pneumococcal pneumonia, namun ia harus hanya digunakan setelah pembiakan dari bakteri mengkonfirmasi kepekaan mereka terhadap antibiotik ini.
Klebsiella pneumoniae dan Hemophilus influenzae adalah bakteri-bakteri yang seringkali menyebabkan pneumonia pada orang-orang yang menderita dari penyakit chronic obstructive pulmonary disease (COPD) atau alkolisme. Antibiotik-antibiotik yang bermanfaat dalam kasus ini adalah generasi cephalosporins kedua dan ketiga, amoxicillin dan clavulanic acid, fluoroquinolones (levofloxacin [Levaquin], moxifloxacin-oral [Avelox], gatifloxacin-oral [Tequin], dan sulfamethoxazole dan trimethoprim [Bactrim, Septra]).
Mycoplasma pneumoniae adalah suatu tipe bakteri yang seringkali menyebabkan suatu infeksi yang berkembang secara perlahan. Gejala-gejala termasuk demam, kedinginan, nyeri-nyeri otot, diare, dan ruam kulit. Bakteri ini adalah penyebab utama dari banyak pneumonia dalam bulan-bulan musim panas dan gugur, dan kondisinya seringkali dirujuk sebagai "atypical pneumonia." Macrolides (erythromycin, clarithromycin, azithromycin, dan fluoroquinolones) adalah antibiotik-antibiotik yang umum diresepkan untuk merawat Mycoplasma pneumonia.
Penyakit Legionnaire disebabkan oleh bakteri Legionella pneumoniae yang paling sering ditemukan pada suplai-suplai air yang terkontaminasi dan alat-alat pendingin udara (air conditioners). Ia adalah suatu infeksi yang berpotensi fatal jika tidak didiagnosis secara akurat. Pneumonia adalah bagian dari infeksi keseluruhan, dan gejala-gejala termasuk demam tinggi, suatu denyut jantung yang relatif perlahan, diare, mual, muntah, dan nyeri dada. Laki-laki yang lebih tua, perokok-perokok, dan orang-orang yang sistim imunnya ditekan berada pada risiko yang lebih tinggi mengembangkan penyakit Legionnaire. Fluoroquinolones adalah perawatan pilihan pada infeksi ini. Infeksi ini seringkali didianosis dengan suatu tes urin khusus yang mencari antibodi-antibodi yang spesifik pada organisme-organisme spesifik.
Mycoplasma, Legionnaire, dan infeksi yang lain, Chlamydia pneumoniae, semuanya menyebabkan suatu sindrom yang dikenal sebagai "atypical pneumonia." Pada sindrom ini, x-ray dada menunjukan kelainan-kelainan yang menyebar, namun pasien tidak tampak sungguh sakit. Infeksi-infeksi ini adalah sangat sulit untuk dibedakan secara klinik dan seringkali memerlukan bukti laboratorium untuk konfirmasi.
Pneumocystis carinii pneumonia adalah bentuk yang lain dari pneumonia yang biasanya melibatkan kedua paru-paru. Ia terlihat pada pasien-pasien dengan suatu sistim imun yang dikompromikan, dari kemoterapi untuk kanker, HIV/AIDS, dan yang dirawat dengan TNF (tumor necrosis factor), seperti untuk rheumatoid arthritis. Sekali didiagnosis, ia biasanya merespon baik pada antibiotik-antibiotik yang mengandung sulfa. Steroid-steroid seringkali digunakan secara tambahan pada kasus-kasus yang lebih parah.
Pneumonia-pneumonia virus secara khas tidak merespon pada perawatan antibiotik. Infeksi-infeksi ini dapat disebabkan oleh adenoviruses, rhinovirus, influenza virus (flu), respiratory syncytial virus (RSV), dan parainfluenza virus (yang juga menyebabkan croup). Pneumonia-pneumonia ini biasanya hilang melalui waktu dengan sistim imun tubuh menghindari infeksi. Adalah penting untuk memastikan bahwa suatu pneumonia bakteri tidak berkembang secara sekunder. Jika ia lakukan, maka pneumonia bakteri dirawat dengan antibiotik-antibiotik yang tepat. Pada beberapa situasi-situasi, terapi antivirus adalah bermanfaat dalam merawat kondisi-kondisi ini.
Infeksi-infeksi jamur yang dapat menjurus pada pneumonia termasuk histoplasmosis, coccidiomycosis, blastomycosis, aspergillosis, dan cryptococcosis. Ini bertanggung jawab untuk suatu persentase yang relatif kecil dar pneumonia-pneumonia di Amerika. Setiap jamur mempunyai perawatan-perawatan antibiotik yang spesifik, diantara mana adalah amphotericin B, fluconazole (Diflucan), penicillin, dan sulfonamides.
Kekhwatiran-kekhwatiran utama telah berkembang dalam komunitas kedokteran menyangkut penggunaan yang berlebihan dari antibiotik-antibiotik. Kebanyakan luka-luka tenggorokan dan infeksi-infeksi pernapasan bagian atas disebabkan oleh virus-virus daripada oleh bakteri-bakteri. Meskipun antibiotik-antibiotik adalah tidak efektif melawan virus-virus, mereka seringkali diresepkan. Penggunaan yang berlebihan ini telah berakibat dalam suatu keragaman dari bakteri-bakteri yang telah menjadi resisten pada banyak antibiotik-antibiotik. Organisme-organisme yang resisten ini umumnya terlihat di rumah-rumah sakit dan rumah-rumah merawat/menyusui. Sesungguhnya, dokter-dokter harus mempertimbangkan lokasi ketika meresepkan antibiotik-antibiotik [pneumonia yang didapat dari komunitas atau community-acquired pneumonia (CAP), versus pneumonia yang didapat dari rumah sakit atau hospital-acquired pneumonia (HAP)].
Organisme-organisme yang lebih mematikan seringkali datang dari lingkungan perawatan kesehatan, rumah sakit atau rumah-rumah perawatan. Organisme-organisme ini telah dipaparkan pada suatu keragaman dari antibiotik-antibiotik yang paling kuat yang tersedia untuk kita. Mereka cencerung mengembangkan resistensi pada beberapa dari antibiotik-antibiotik ini. Organisme-organisme ini dirujuk sebagai nosocomial bacteria dan dapat menyebabkan apa yang dikenal sebagai nosocomial pneumonia ketika paru-paru terinfeksi.
Baru-baru ini, satu dari organisme-organisme yang resisten ini dari rumah sakit telah menjadi cukup umum di masyarakat. Pada beberapa masyarakat-masyarakat, sampai dengan 50% dari infeksi-infeksi Staph aureus disebabkan oleh organisme-organisme yang resisten pada antibiotik methicillin. Organisme ini dirujuk sebagai MRSA (methicillin-resistant Staph aureus) dan memerlukan antibiotik-antibiotik khusus ketika ia menyebabkan infeksi. Ia dapat menyebakan pneumonia namun juga seringkali menyebabkan infeksi-infeksi kulit. Pada banyak rumah-rumah sakit, pasien-pasien dengan infeksi ini ditempatkan di isolasi kontak. Pengunjung-pengunjung mereka seringkali diminta memakai sarung tangan, masker, dan jubah. Ini dilakukan untuk membantu mencegah penyebaran dari bakteri ini pada permukaan-permukaan lain dimana mereka dapat dengan tidak hati-hati mengkontaminasi apa saja yang menyentuh permukaan itu. Oleh karenanya adalah sangat penting untuk mencuci tangan-tangan anda secara menyeluruh dan seringkali untuk membatasi penyebaran lebih jauh dari organisme resisten ini.
Kesimpulan-Kesimpulan
Pneumonia dapat menjadi suatu infeksi yang serius dan mengancam nyawa. Ini adalah benar terutama pada orang-orang tua, anak-anak, dan mereka yang mempunyai persolan-persoalan medis lain yang serius, seperti COPD, penyakit jantung, diabetes, dan kanker-kanker tertentu. Untungnya, dengan penemuan dari banyak antibiotik-antibiotik yang kuat, kebanyakan kasus-kasus dari pneumonia dapat dirawat dengan sukses. Nyatanya, pneumonia dapat biasanya dirawat dengan antibiotik-antibiotik oral tanpa keperluan untuk opname di rumah sakit.
ASUHAN KEBIDANAN MTBM PADA BAYI CELY UMUR 1,5 BULAN DENGAN DIARE DI BPS BUNDA SETYA YOGYAKARTA
Disusun oleh : Kelas C4
Arum Ismawati
090105181
4C4
PRODI D3 KEBIDANAN
STIKES ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
JLN. MUNIR NO.267 SERANGAN NGAMPILAN YOGYAKARTA
2010
ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI CELY
UMUR 1,5 BULAN DENGAN DIARE
DI BPS BUNDA SETYA
Tempat praktik : BPS Kasih ibu Nama mahasiswa/NIM : arum ismawati
Masuk RS/tgl/jam : 10.00 WIB Ketrampilan ke : 9
I. DATA SUBYEKTIF
1. Nama pasien : Sinta
2. Umur : 1,5 bulan
3. Jenis kelamin : Perempuan
B. Identitas orang tua Ibu Bapak
1. Nama : Ny. n Tn.w
2. Umur : 24 tahun 29 tahun
3. Agama : Islam Islam
4. Pekerjaan : swasta swasta
5. Alamat : Jl. Timoho no.50 Jl. Timoho no. 50
Keluhan utama pada bayi
Ibu mengatakan bahwa sudah 2 hari bayinya BAB 5x sehari, berbau khas feses, konsistensi encer, warna kuning, jumlah sedikit-sedikit.
C. Riwayat obstetrik G1 P1 Ah1
No Gravid R Kehamilan R persalinan R Nifas Anak hidup
1 1 Normal Pervaginam, ditolong oleh bidan di BPS Normal tidak ada keluhan maupun komplikasi 1, perempuan
D. Riwayat kehamilan terahir :
ANC TM I : 28 September 2009
ANC TM II : 3 November 2009
ANC TM III : 20 Januari 2009
Imunisasi TT I : 28 September 2009
TT II : 29 Oktober 2009
Obat/jamu yang diminum : ibu tidak pernah minum jamu-jamuan atau obat-obatan yang berbahaya
E. Riwayat persalinan terakhir, tanggal 15 Maret 2010 jam 18.30 WIB jenis persalinan pervaginam
Aspek
Kala Lama Vital sign Kejadian Tindakan Ket/oleh
I 8 jam Nadi : 78x / menit
Suhu : 36,3 °C
TD : 120/80 mmHg
Pernapasan : 21x menit - Observasi pembukaan Bidan
II 1jam Nadi : 76x / menit
Suhu : 36,5 °C
TD : 120/70 mmHg
Pernapasan : 24x menit - Melahirkan bayi Bidan
III 30 menit Nadi : 77x / menit
Suhu : 36,4 °C
TD : 110/80 mmHg
Pernapasan : 20x menit - Melahirkan plasenta Bidan
IV 2 jam Nadi : 76x / menit
Suhu : 36,3 °C
TD : 120/80 mmHg
Pernapasan : 20x menit - Observasi 2 jam kala IV bidan
Nifas 6 jam Nadi : 76x / menit
Suhu : 36,5 °C
TD : 120/80 mmHg
Pernapasan : 22x menit - Observasi mobilisasi, ibu menyusui Bidan dan keluarga
F. Riwayat Imunisasi
No Usia Jenis Imunisasi Ket
1 BBL HB 1 Bidan
2 Bayi 1 bulan BCG Bidan
G. Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari
1. Makan : -
2. Minum : ASI 4x sehari, PASI 6x/ hari
3. BAB : 2x sehari
4. BAK : 7x sehari
5. Muntah : -
Pola pemenuhan minum terakhir
1. Makan : -
2. Minum : ASI 2x sehari, PASI 4x/ hari
3. BAB : 5x sehari
4. BAK : 7x sehari
5. Muntah : sedikit, gumoh
II. DATA OBYEKTIF
A. BB lahir/sekarang : 3,3 kg / 4,3 kg
B. PB lahir : 50 cm
C. LK lahir/sekarang : 34 cm / 35 cm
D. LD lahir/sekarang : 31 cm / 31,5 cm
E. Keadaan sekarang : baik
F. Suhu badan : 36,5 °C
G. Nadi : 25 x/ menit
H. Pernafasan :40x/ menit
I. Tonus otot : baik
J. Warna kulit : kemerahan
K. Reflek
Refleks Morrow : baik
Refleks Rooting : baik
Refleks Sucking : baik
Refleks swallowing : baik
Refleks Babinski : baik
L. Pemeriksaan head to toe
Kepala : mesocephal, tidak ada benjolan
Muka : tidak ada odema, simetris
Mata :simetris, konjungtiva merah muda, skera putih, reflek cahaya positif
Hidung : simetris, tidak ada polip
Telinga : simetris, bersih, tidak ada serumen
Mulut : tidak ada oral trush, labio palatum normal
Leher : tidak ada pembengkakan
Dada : simetris, todak ada benjolan, tidak ada retraksi dinding dada
Payudara : simetris
Abdomen : tidak ada benjolan, turgor kulit agak kurang
Ekstremitas atas/bawah : normal, gerakan aktif
Genitalia luar : labio mayor sudah menutup labio minor, terdapat ruam
Anus : iritasi, kemerahan
III. ASSESMENT
Tanggal : 4 juni 2011 Pukul : 10.10 WIB
Bayi S umur 1,5 bulan kemungkinan mengalami diare.
IV. PLANNING
Tanggal 4 Juni 2010 Pukul : 10.15 WIB
1. Memberitahukan hasil pemeriksaan bayi kepada ibu
Ibu mengerti tentang hasil pemeriksaan
2. Memberikan informasi, bahwa kemungkinan diare yang dialami bayi ibu dikarenakan pemberian PASI
Ibu mengerti penyebab diare yang dialami oleh bayinya
3. Menyarankan untuk memberikan ASI saja pada bayi selama 6 bulan
Ibu bersedia untuk memberikan asi saja pada bayinya
4. Menyarankan untuk menjaga personal hygiene bayi maupun ibu
Ibu bersedia untuk menjaga personal hygiene bayinya
5. Menyarankan untuk lebih sering dalam memberikan ASI pada bayi
Ibu bersedia memberikan ASI sesering mungkin
6. Memberitahukan ibu tanda-tanda diare berat
Ibu mengerti tentang tanda diare berat
7. Melakukan rujukan apabila diare bayi tidak segera berkurang setelah 3 hari
Ibu bersedia untuk dilakukan rujukan apabila selama 3 hari masih diare
8. Pemberian obat
Obat telah diberikan
TTD
Bidan Sukma
Apa itu Diare?
Jika bayi atau anak anda tiba-tiba mengalami perubahan dalam buang air besar dari biasanya, baik frekuensi / jumlah buang air yang menjadi sering dan keluar dalam konsistensi cair daripada padat, maka itu adalah diare. Seorang bayi baru lahir umumnya akan buang air besar sampai lebih dari sepuluh kali sehari, dan bayi yang lebih besar akan mempunyai waktu buang air masing-masing, ada yang sehari 2-3 kali sehari atau ada yang hanya 2 kali seminggu saja. Dengan kata lain anda harus mengetahui apa yang NORMAL buat bayi atau anak anda dari kebiasaan buang air besar mereka.
Penyebab diare :
• Virus (penyebab diare tersering – dan umumnya karena Rotavirus) gejala : Berak-berak air (watery), berbusa, TIDAK ada darah lendir, berbau asam.
• GE ( flu perut) terbanyak karena virus.
• Bakteri - Berak2 dengan darah/lendir , sakit perut. ----Memerlukan antibioka sebagai terapi pengobatan.
• Parasite(Giardiasis) - Berak darah+/- dan lendir, sakit perut.------perlu antiparasite
• Anak sedang terapi dengan pemakaian antibiotilka – Bila diare terjadi saat anak sedang dalam pengobatan antibiotika, maka hubungi dokter anda.
• Alergi susu,- diare biasanya timbul beberapa menit atau jam setelah minum susu tersebut , biasanya pada alergi susu sapi dan produk-produk yang terbuat dari susu sapi.
• Infeksi dari bakteri atau virus yang menyertai penyakit lain ; misalnya infeksi saluran kencing, infeksi telinga, campak dll.
Gejala Diare Akut ( Diare Mendadak) :
Penyebab diare akut ( diare mendadak) tersering adalah karena VIRUS , khas berak-berak air (watery), berbusa, TIDAK ada darah atau lendir, dan berbau asam.
Penularan penyakit diare adalah kontak dengan tinja yang terinfeksi secara langsung, seperti :
• Makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi, baik yang sudah dicemari oleh serangga atau kontaminasi oleh tangan yang kotor.
• Bermain dengan mainan yang terkontaminasi, apalagi pada bayi sering memasukan tangan/ mainan / apapun kedalam mulut. Karena virus ini dapat bertahan dipermukaan udara sampai beberapa hari.
• Pengunaan sumber air yang sudah tercemar dan tidak memasak air dengan benar
• Pencucian dan pemakaian botol susu yang tidak bersih.
• Tidak mencuci tangan dengan bersih setelah selesai buang air besar atau membersihkan tinja anak yang terinfeksi, sehingga mengkontaminasi perabotan dan alat-alat yang dipegang.
Pengobatan Diare
Karena penyebab Diare akut / diare mendadak tersering adalah Virus, maka TIDAK ada pengobatan yang dapat menyembuhkan, karena biasanya akan sembuh dengan sendirinya setelah beberapa hari. Maka pengobatan diare ini ditujukan untuk mengobati gejala yang ada dan mencegah terjadinya dehidrasi atau kurang cairan. Diare akut dapat disembuhkan HANYA dengan meneruskan pemberian makanan seperti biasa dan minuman / cairan yang cukup saja.Yang perlu diingat pengobatan BUKAN memberi obat untuk mengHENTIKAN diare, karena diare sendiri adalah suatu mekanisme pertahanan tubuh untuk mengeluarkan kontaminasi makanan dari usus. Mencoba menghentikan diare dengan obat seperti menyumbat saluran pipa yang akan keluar dan menyebabkan aliran balik dan akan memperburuk saluran tersebut.
Oleh karena proses diare ini adalah mekanisme pertahanan dari tubuh, akan sembuh dengan sendirinya setelah beberapa hari - ( 14 hari) dimana diare makin berisi - dari air ( watery) mulai berampas, berkurang frekuensi nya dan sembuh. Yang terpenting pada diare adalah mencegah dan mengatasi gejala dehidrasi.
Yang terpenting diperhatikan pada kasus diare mendadak ini adalah:
Ingat menHENTIkan diare virus dengan obat bukanlah jalan terbaik. Tetapi jangan menjadi bingung bila diare tetap ada sampai beberapa hari. Karena biasanya berlangsung beberapa hari-14 hari. Dan sembuh. Tergantung dari keadaan kesehatan anak dan banyaknya cairan yang masuk.
Pengatasan diare adalah dengan memperhatikan adanya tanda-tanda DEHIDRASI
Penanganan Yang terbaik adalah tetap memberikan makanan dan minum (ASI) seperti BIASA. Bila sudah disertai muntah, untuk pengantian cairan anda dapat memberikan pedialyte ( oralit unutk anak2 dengan beberapa rasa). Kurangi makanan yang mengandung terlalu banyak GULA. Ingat memang tidak mudah memberikan anak cairan yang agak terasa asin ini, bahkan beberapa anak akan menolaknya. Tapi bersabarlah dan tetap berusaha mencari jalan supaya anak dapat meminum cairan ini.
Dan yang paling terpenting adalah Membuat anak kembali kemakanan padatnya ( dan / atau susu formulanya/ASI) karena ini adalah yang TERBAIK untuk mengobati diarenya. Karena sel2 usus yang dirusak oleh virus memerlukan NUTRISI untuk pembentukan kembali. Penelitian menyatakan bahwa pemberian makanan seperti BIASAnya akan memperpendek masa waktu gejala dari diare ini.
Pencegahan Diare:
• Teruskan Pemberian Air Susu Ibu (ASI)
• Perhatikan kebersihan dan gizi yang seimbang untuk pemberian makanan pendamping ASI setelah bayi berusia 4 bulan.
• Karena penularan kontak langsung dari tinja melalui tangan / serangga , maka menjaga kebersihan dengan menjadikan kebiasaan mencuci tangan untuk seluruh anggota keluarga. Cucilah tangan sebelum makan atau menyediakan makanan untuk sikecil.
• Ingat untuk menjaga kebersihan dari makanan atau minuman yang kita makan. Juga kebersihan perabotan makan ataupun alat bermain si kecil.
Hubungi dokter anda, bila:
• Diare disertai Darah (perlu pengobatan spesifik dengan antibiotika)
• Adanya tanda-tanda DEHIDRASI ( tidak ada air mata ketika menangis, kencing berkurang atau tidak ada kencing dalam 6-8 jam, mulut kering)
• Adanya panas tinggi (.38.5C) yang tidak turun dalam 2 hari.
• Muntah terus menerus - tidak dapat masuk makanan / asi .
• Adanya sakit perut - kolik pada bayi akan menangis kuat dan biasanya menekuk kaki, keringatan dan gelisah.
© Dr.Suririnah-www.infoibu.com
Arum Ismawati
090105181
4C4
PRODI D3 KEBIDANAN
STIKES ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
JLN. MUNIR NO.267 SERANGAN NGAMPILAN YOGYAKARTA
2010
ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI CELY
UMUR 1,5 BULAN DENGAN DIARE
DI BPS BUNDA SETYA
Tempat praktik : BPS Kasih ibu Nama mahasiswa/NIM : arum ismawati
Masuk RS/tgl/jam : 10.00 WIB Ketrampilan ke : 9
I. DATA SUBYEKTIF
1. Nama pasien : Sinta
2. Umur : 1,5 bulan
3. Jenis kelamin : Perempuan
B. Identitas orang tua Ibu Bapak
1. Nama : Ny. n Tn.w
2. Umur : 24 tahun 29 tahun
3. Agama : Islam Islam
4. Pekerjaan : swasta swasta
5. Alamat : Jl. Timoho no.50 Jl. Timoho no. 50
Keluhan utama pada bayi
Ibu mengatakan bahwa sudah 2 hari bayinya BAB 5x sehari, berbau khas feses, konsistensi encer, warna kuning, jumlah sedikit-sedikit.
C. Riwayat obstetrik G1 P1 Ah1
No Gravid R Kehamilan R persalinan R Nifas Anak hidup
1 1 Normal Pervaginam, ditolong oleh bidan di BPS Normal tidak ada keluhan maupun komplikasi 1, perempuan
D. Riwayat kehamilan terahir :
ANC TM I : 28 September 2009
ANC TM II : 3 November 2009
ANC TM III : 20 Januari 2009
Imunisasi TT I : 28 September 2009
TT II : 29 Oktober 2009
Obat/jamu yang diminum : ibu tidak pernah minum jamu-jamuan atau obat-obatan yang berbahaya
E. Riwayat persalinan terakhir, tanggal 15 Maret 2010 jam 18.30 WIB jenis persalinan pervaginam
Aspek
Kala Lama Vital sign Kejadian Tindakan Ket/oleh
I 8 jam Nadi : 78x / menit
Suhu : 36,3 °C
TD : 120/80 mmHg
Pernapasan : 21x menit - Observasi pembukaan Bidan
II 1jam Nadi : 76x / menit
Suhu : 36,5 °C
TD : 120/70 mmHg
Pernapasan : 24x menit - Melahirkan bayi Bidan
III 30 menit Nadi : 77x / menit
Suhu : 36,4 °C
TD : 110/80 mmHg
Pernapasan : 20x menit - Melahirkan plasenta Bidan
IV 2 jam Nadi : 76x / menit
Suhu : 36,3 °C
TD : 120/80 mmHg
Pernapasan : 20x menit - Observasi 2 jam kala IV bidan
Nifas 6 jam Nadi : 76x / menit
Suhu : 36,5 °C
TD : 120/80 mmHg
Pernapasan : 22x menit - Observasi mobilisasi, ibu menyusui Bidan dan keluarga
F. Riwayat Imunisasi
No Usia Jenis Imunisasi Ket
1 BBL HB 1 Bidan
2 Bayi 1 bulan BCG Bidan
G. Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari
1. Makan : -
2. Minum : ASI 4x sehari, PASI 6x/ hari
3. BAB : 2x sehari
4. BAK : 7x sehari
5. Muntah : -
Pola pemenuhan minum terakhir
1. Makan : -
2. Minum : ASI 2x sehari, PASI 4x/ hari
3. BAB : 5x sehari
4. BAK : 7x sehari
5. Muntah : sedikit, gumoh
II. DATA OBYEKTIF
A. BB lahir/sekarang : 3,3 kg / 4,3 kg
B. PB lahir : 50 cm
C. LK lahir/sekarang : 34 cm / 35 cm
D. LD lahir/sekarang : 31 cm / 31,5 cm
E. Keadaan sekarang : baik
F. Suhu badan : 36,5 °C
G. Nadi : 25 x/ menit
H. Pernafasan :40x/ menit
I. Tonus otot : baik
J. Warna kulit : kemerahan
K. Reflek
Refleks Morrow : baik
Refleks Rooting : baik
Refleks Sucking : baik
Refleks swallowing : baik
Refleks Babinski : baik
L. Pemeriksaan head to toe
Kepala : mesocephal, tidak ada benjolan
Muka : tidak ada odema, simetris
Mata :simetris, konjungtiva merah muda, skera putih, reflek cahaya positif
Hidung : simetris, tidak ada polip
Telinga : simetris, bersih, tidak ada serumen
Mulut : tidak ada oral trush, labio palatum normal
Leher : tidak ada pembengkakan
Dada : simetris, todak ada benjolan, tidak ada retraksi dinding dada
Payudara : simetris
Abdomen : tidak ada benjolan, turgor kulit agak kurang
Ekstremitas atas/bawah : normal, gerakan aktif
Genitalia luar : labio mayor sudah menutup labio minor, terdapat ruam
Anus : iritasi, kemerahan
III. ASSESMENT
Tanggal : 4 juni 2011 Pukul : 10.10 WIB
Bayi S umur 1,5 bulan kemungkinan mengalami diare.
IV. PLANNING
Tanggal 4 Juni 2010 Pukul : 10.15 WIB
1. Memberitahukan hasil pemeriksaan bayi kepada ibu
Ibu mengerti tentang hasil pemeriksaan
2. Memberikan informasi, bahwa kemungkinan diare yang dialami bayi ibu dikarenakan pemberian PASI
Ibu mengerti penyebab diare yang dialami oleh bayinya
3. Menyarankan untuk memberikan ASI saja pada bayi selama 6 bulan
Ibu bersedia untuk memberikan asi saja pada bayinya
4. Menyarankan untuk menjaga personal hygiene bayi maupun ibu
Ibu bersedia untuk menjaga personal hygiene bayinya
5. Menyarankan untuk lebih sering dalam memberikan ASI pada bayi
Ibu bersedia memberikan ASI sesering mungkin
6. Memberitahukan ibu tanda-tanda diare berat
Ibu mengerti tentang tanda diare berat
7. Melakukan rujukan apabila diare bayi tidak segera berkurang setelah 3 hari
Ibu bersedia untuk dilakukan rujukan apabila selama 3 hari masih diare
8. Pemberian obat
Obat telah diberikan
TTD
Bidan Sukma
Apa itu Diare?
Jika bayi atau anak anda tiba-tiba mengalami perubahan dalam buang air besar dari biasanya, baik frekuensi / jumlah buang air yang menjadi sering dan keluar dalam konsistensi cair daripada padat, maka itu adalah diare. Seorang bayi baru lahir umumnya akan buang air besar sampai lebih dari sepuluh kali sehari, dan bayi yang lebih besar akan mempunyai waktu buang air masing-masing, ada yang sehari 2-3 kali sehari atau ada yang hanya 2 kali seminggu saja. Dengan kata lain anda harus mengetahui apa yang NORMAL buat bayi atau anak anda dari kebiasaan buang air besar mereka.
Penyebab diare :
• Virus (penyebab diare tersering – dan umumnya karena Rotavirus) gejala : Berak-berak air (watery), berbusa, TIDAK ada darah lendir, berbau asam.
• GE ( flu perut) terbanyak karena virus.
• Bakteri - Berak2 dengan darah/lendir , sakit perut. ----Memerlukan antibioka sebagai terapi pengobatan.
• Parasite(Giardiasis) - Berak darah+/- dan lendir, sakit perut.------perlu antiparasite
• Anak sedang terapi dengan pemakaian antibiotilka – Bila diare terjadi saat anak sedang dalam pengobatan antibiotika, maka hubungi dokter anda.
• Alergi susu,- diare biasanya timbul beberapa menit atau jam setelah minum susu tersebut , biasanya pada alergi susu sapi dan produk-produk yang terbuat dari susu sapi.
• Infeksi dari bakteri atau virus yang menyertai penyakit lain ; misalnya infeksi saluran kencing, infeksi telinga, campak dll.
Gejala Diare Akut ( Diare Mendadak) :
Penyebab diare akut ( diare mendadak) tersering adalah karena VIRUS , khas berak-berak air (watery), berbusa, TIDAK ada darah atau lendir, dan berbau asam.
Penularan penyakit diare adalah kontak dengan tinja yang terinfeksi secara langsung, seperti :
• Makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi, baik yang sudah dicemari oleh serangga atau kontaminasi oleh tangan yang kotor.
• Bermain dengan mainan yang terkontaminasi, apalagi pada bayi sering memasukan tangan/ mainan / apapun kedalam mulut. Karena virus ini dapat bertahan dipermukaan udara sampai beberapa hari.
• Pengunaan sumber air yang sudah tercemar dan tidak memasak air dengan benar
• Pencucian dan pemakaian botol susu yang tidak bersih.
• Tidak mencuci tangan dengan bersih setelah selesai buang air besar atau membersihkan tinja anak yang terinfeksi, sehingga mengkontaminasi perabotan dan alat-alat yang dipegang.
Pengobatan Diare
Karena penyebab Diare akut / diare mendadak tersering adalah Virus, maka TIDAK ada pengobatan yang dapat menyembuhkan, karena biasanya akan sembuh dengan sendirinya setelah beberapa hari. Maka pengobatan diare ini ditujukan untuk mengobati gejala yang ada dan mencegah terjadinya dehidrasi atau kurang cairan. Diare akut dapat disembuhkan HANYA dengan meneruskan pemberian makanan seperti biasa dan minuman / cairan yang cukup saja.Yang perlu diingat pengobatan BUKAN memberi obat untuk mengHENTIKAN diare, karena diare sendiri adalah suatu mekanisme pertahanan tubuh untuk mengeluarkan kontaminasi makanan dari usus. Mencoba menghentikan diare dengan obat seperti menyumbat saluran pipa yang akan keluar dan menyebabkan aliran balik dan akan memperburuk saluran tersebut.
Oleh karena proses diare ini adalah mekanisme pertahanan dari tubuh, akan sembuh dengan sendirinya setelah beberapa hari - ( 14 hari) dimana diare makin berisi - dari air ( watery) mulai berampas, berkurang frekuensi nya dan sembuh. Yang terpenting pada diare adalah mencegah dan mengatasi gejala dehidrasi.
Yang terpenting diperhatikan pada kasus diare mendadak ini adalah:
Ingat menHENTIkan diare virus dengan obat bukanlah jalan terbaik. Tetapi jangan menjadi bingung bila diare tetap ada sampai beberapa hari. Karena biasanya berlangsung beberapa hari-14 hari. Dan sembuh. Tergantung dari keadaan kesehatan anak dan banyaknya cairan yang masuk.
Pengatasan diare adalah dengan memperhatikan adanya tanda-tanda DEHIDRASI
Penanganan Yang terbaik adalah tetap memberikan makanan dan minum (ASI) seperti BIASA. Bila sudah disertai muntah, untuk pengantian cairan anda dapat memberikan pedialyte ( oralit unutk anak2 dengan beberapa rasa). Kurangi makanan yang mengandung terlalu banyak GULA. Ingat memang tidak mudah memberikan anak cairan yang agak terasa asin ini, bahkan beberapa anak akan menolaknya. Tapi bersabarlah dan tetap berusaha mencari jalan supaya anak dapat meminum cairan ini.
Dan yang paling terpenting adalah Membuat anak kembali kemakanan padatnya ( dan / atau susu formulanya/ASI) karena ini adalah yang TERBAIK untuk mengobati diarenya. Karena sel2 usus yang dirusak oleh virus memerlukan NUTRISI untuk pembentukan kembali. Penelitian menyatakan bahwa pemberian makanan seperti BIASAnya akan memperpendek masa waktu gejala dari diare ini.
Pencegahan Diare:
• Teruskan Pemberian Air Susu Ibu (ASI)
• Perhatikan kebersihan dan gizi yang seimbang untuk pemberian makanan pendamping ASI setelah bayi berusia 4 bulan.
• Karena penularan kontak langsung dari tinja melalui tangan / serangga , maka menjaga kebersihan dengan menjadikan kebiasaan mencuci tangan untuk seluruh anggota keluarga. Cucilah tangan sebelum makan atau menyediakan makanan untuk sikecil.
• Ingat untuk menjaga kebersihan dari makanan atau minuman yang kita makan. Juga kebersihan perabotan makan ataupun alat bermain si kecil.
Hubungi dokter anda, bila:
• Diare disertai Darah (perlu pengobatan spesifik dengan antibiotika)
• Adanya tanda-tanda DEHIDRASI ( tidak ada air mata ketika menangis, kencing berkurang atau tidak ada kencing dalam 6-8 jam, mulut kering)
• Adanya panas tinggi (.38.5C) yang tidak turun dalam 2 hari.
• Muntah terus menerus - tidak dapat masuk makanan / asi .
• Adanya sakit perut - kolik pada bayi akan menangis kuat dan biasanya menekuk kaki, keringatan dan gelisah.
© Dr.Suririnah-www.infoibu.com
Langganan:
Postingan (Atom)
RSS Feed
Twitter