Rabu, 06 Juni 2012

Konsep Dasar NGT



  1. Pengertian NGT
NGT atau Naso Gastrik atau NG tube adalah suatu selang yang dimasukan melalui hidung sampai kelambung, sering digunakan untuk memberikan nutrisi dan obat-obatan kepada seseorang yang tidak mampu untuk mengkonsumsi makanan cair dan obat-obatan secara oral. juga dapat digunakan untuk  mengeluarkan isi lambung dengan cara di sedot.
NGT sering digunakan untuk menghisap lambung juga digunakan untuk memasukan obat-obatan dan makanan. NGT ini hanya digunakan dalam waktu yang singkat (Metheny dan Titler.2001)
Memasang NGT adalah melakukan pemasangan selang (Tube) dari rongga hidung kedalam lambung /gaster (Asmadi, 2008)
Nasogastric terdiri dari dua kata, dari bahasa yunani. Naso adalah suatu kata yang berhubungan dengan hidung dan berasal dari bahasa latin “nasus” untuk hidung atau moncong hidung. Gastric berasal dari bahasa yunani “Gaster” yang artinya the paunch (perut gendut) atau yang berhubungan dengan perut. Istilah “nasogastric” bukan istilah kuno melainkan sudah disebut pada tahun 1942 (Metheny dan titler, 2001).
Pada bayi baru lahir selang lambung dapat dipasang melalui suatu lubang hidung atau dimulut. Pasang selang melalui hidung jika bayi bernafas secara teratur dengan menggunakan selang terkecil yang tersedia. Pasang selang melalui mulut jika selang dibutuhkan untuk drainase lambung untuk pemberian makan bayi yang mengalami kesulitan bernafas, jika hanya tersedia selang yang ukurannya relatif besar.
  1. Tujuan Pemasangan NGT
    1. Memasukan makanan cair atau obat-obatan cair
    2. Mengeluarkan cairan atau isi lambung dan gas yang terdapat pada lambung
    3. Mengirigasi karena pendarahan untuk keracunan dalam lambung
    4. Mencegah dan mengurangi nausea dan vomiting setelah pembedahan atau trauma
    5. Mengambil spesimen pada lambung untuk pemeriksaan diagnostic
                  (Asmadi, 2008)
  1. Indikasi Pemasangan NGT
a.       Tidak sadar
b.      Pasien dengan masalah saluran pencernaan atas misalnya stenosis esofagus tumor mulut atau faringesofagus
c.       Pasien yang tidak dapat makan melalui mulut
d.      Pasien ileus atau peritonitis, trauma abdomen untuk dikompresi
e.       Pasien perdarahan lambung atau bilas lambung
(Asmadi, 2008) ­
4.      Cara pemasangan
a.    Untuk Dewasa
1).    Persiapan alat :
a). NGT dengan nomor tertentu sesuai dengan usia pasien
     b). Jelly yang larut dalam air
                        c). Tongue spatel
     d). Sarung tangan
     e). Spuit ukuran 50-100cc
     f). Stetoskop
     g). Handuk
     h). Tisu
     i). Bengkok
2)  Prosedur :
      a).  Jelaskan tindakan yang akan dilakukan dan tujuan
      b).  Dekatkan alat-alat ke pasien
      c).   Cuci tangan
      d).  Atur posisi pasien dalam posisi high fowler
      e).   Pasang handuk pada dada pasien dan tisu
      f). Cek kondisi lubang hidung pasien, perhatikan adanya sumbatan
      g).   Kenakan sarung tangan
h).  Untuk menentukan insersi NGT, instruksikan pasien untuk rileks dan bernafas secara normal dengan menutup salah satu lubang hidung. kemudian ulangi pada lubang hidung lainnya.
      i). Ukur panjang tube yang akan dimasukan dengan menggunakan       metode
            a. Metode tradisional:
Ukur jarak dari puncak lubang hidung ke daun telinga dan ke prosessus xipoideus di sternum.
             b. Metode Hanson:
Mula-mula tandai 50cm pada tube, kemudian lakukan pengukuran dengan metode tradisional. Selang yang akan dimasukkan pertengahan antara 50cm dengan tanda tradisional.
j). Beri tanda pada panjang selang yang sudah di ukur dengan    plester
     k).  Olesi jelly pada NGT sepanjang 10-20cm
     l). Informasikan kepada pasien bahwa selang dimasukan dan instrusikan pasien untuk mengatur posisi kepala ekstensi
   m). Bila selang sudah melewati nasofaring (kira-kira 3-4 cm), instruksikan pasien untuk menekuk leher dan menelan
    n).  Jika sudah selesai memasang NGT periksa letak selang dengan cara : pasang spuit yang telah ditarik pendorongnya pada 10-20 ml udara, pada ujung NGT. Letakkan steteskop pada daerah gaster, kemudian suntikan spuit tersebut. Jika pada auskultasi terdengar suara hentakan udara, berarti selang NGT masuk kedalam lambung. Aspirasi pelan-pelan untuk mendapatkan isi lambung dengan menggunakan spuit. Masukan ujung bagian luar selang NGT kedalam mangkok yang berisi air. Jika ada gelembung udara, berarti masuk kedalam paru-paru, jika tidak ada gelembung udara, berarti masuk kedalam lambung.
     o). Fiksasi selang NGT dengan plester dan hindari penekanan pada hidung
     p). Tutup ujung luar NGT
     q). Evaluasi pasien setelah terpasang NGT
     r). Rapikan alat-alat
     s). Cuci tangan
t). Dokumentasikan hasil tindakan ini pada catatan perawatan.
(Asmadi, 2008)
b.  Pemasangan NGT pada Bayi Baru Lahir
1)      Peralatan:
a). Sarung tangan periksa yang bersih
b). Selang atau kateter plastik yang bersih yang sesuai berat badan bayi. Jika berat badan bayi kurang dari 2 kg gunakan selang 5-F, jika berat badan bayi 2kg atau lebih gunakan selang 8-F
c). Pena atau pita pengukur yang fleksibel
d). Spuit 3 sampai 5ml untuk aspirasi
e). Kertas lakmus biru atau stetoskop
f). Spuit steril atau yang didisenfeksi tingkat tinggi atau corong yang sesuai utuk penampung ASI
g). Pengikat atau berperekat
h). Tingtur benzoin
2)      Prosedur:
a). Kumpulkan peralatan yang dibutuhkan
b). Cuci tangan dan pasang sarung tangan yang bersih
c). Ukur panjang selang yang di butuhkan : pegang selang sehingga menyerupai jalur yang akan di lewati saat dipasang yaitu dari mulut atau lubang hidung ke ujung bawah cuping telinga dan kemudian kelambung tepat dibawah batas iga dan pasang tanda pada selang dengan pena atau potongan pengikat. Sebagai aternatif ukur jarak dengan menggunakan pita ukur yang fleksibel dan tandai jarak pada selang dengan pena atau potongan pengikat
d). Fleksikan sedikit leher bayi dan dengan lembut, masukkan selang melalui mulut atau melalui satu lubang hidung sampai jarak yang dibutuhkan. Jika menggunakan jalur nasal: jika kateter nasal dipasang untuk memberikan oksigen, masukan selang lambung melalui lubang hidung yang sama, jika memungkinkan. Jika selang tidak mudah masuk kedalam lubang hidung coba lubang hidung lainnya. Jika selang masih tidak mudah masuk kedalam lubang hidung gunakan jalur oral.
e). Fiksasi selang dengan pengikat berperekat. Jika tingtur benzoin tersedia, oleskan kulit terlebih dahulu sebelum memasang pengikat berperekat. Jika selang nasogastrik digunakan, hindari menarik selang yang tegang pada lubang hidung karena ini dapat mencederai kulit
(IDAI, 2000)
  1. Komplikasi Pemasangan NGT  
a. Komplikasi mekanis
    1) Agar sonde tidak tersumbat, perawat atau pasien harus membersihkan sonde dengan menyemprotkan air atau teh sedikitnya tiap 24 jam
    2) Agar sonde tidak mengalami dislokasi, sonde harus dilekatkan dengan sempurna di sayap hidung dengan plester yang baik tampa menimbulkan rasa sakit. Posisi kepala harus lebih tinggi dari atas tempat tidur.
a.       Komplikasi pulmonal : aspirasi
1)  Kecepatan aliran nutrisi enteral tidak boleh terlalu tinggi
2) Letak sonde mulai hidung sampai kelambung harus sempurna. Untuk mengontrol letak sonde tepat dilambung, kita menggunakan stetoskop guna auskultasi lambung sambil menyemprot udara melalui sonde.
b.      Komplikasi yang disebabkan oleh tiadak sempurnanya kedudukan sonde
1) Sebelum sonde dimasukan, harus diukur dahulu secara individual pada setiap pasien. Panjang sonde yang diperlukan, dari permukaan lubang hidung sampai keujung distal sternum.
3)      Sonde harus diberi tanda setinggi permukaan lubang hidung
4)      Sonde harus diletakkan dengan sempurna di sayap hidung dengan plester yang baik tampa menimbulkan rasa sakit
5)      Perawat dengan pasien setiap kali mengontrol letaknya tanda disonde, apakah masih tetap atau tidak berubah
c.       Komplikasi yang disebabkan oleh zat nutrisi antara lain. Komplikasi yang terjadi di usus adalah
1) Diare
2) Perut terasa penuh
3) enteral
Perencanaan keperawatan dari komplikasi yang terjadi di usus, pemberian nutrisi enteral harus dilakukan secara bertahap
                (Asmadi, 2008)
           
            DAFTAR PUSTAKA
Mami Kusuma Wardani (2011). Kepatuha Perawat Memasang NGT.http://www.digilib.stikesmuhgombong.ac.id. Diakses 18 Januari 20121.
IDAI (2000). Buku Saku  Manajemen Masalah Bayi Baru Lahir Untuk Dokter, Bidan, dan Perawat di Rumah Sakit. Maternal Neonatal Health, Jakarta.
Asdi (2008). Tujuan Kepustakaan Kemitraan Gizi dan Perawat. Blogdrive.com/archive/1.html. Diakses 4 Desember 2008
Asmadi (2008).Teknik Prosedural Keperawatan Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien.Salemba Medika , Jakarta

Konsep Dasar Miopia

1.    Pengertianmiopia
   Mata disebut sebagai mata pelihat dekat, ini disebabkan susunan lensa terlalu kuat membiaskan sinar atau karena bola mata terlalu lonjong (Ilyas, 2003).
      Mata miopia disebut pelihat dekat penderita miopia dapat melihat benda dekat dengan sangat jelas,sedangkan untuk benda yang terletak jauh tidak difokuskan (Guyton, 2000)
Mata adalah suatu kelainan refraksi di mana cahaya peralet yang memasuki mata secara keseluruhan dibawa menuju focus didepan retina. Miopia, yang umumnya disebut sebagai kabur jauh / terang dekat (Syafa, 2010)
Miopi adalah suatu kelainan refraksi dimana sinar sejajar yang masuk kemata jatuh di depan retina pada mata yang istirahat ( tanpa akomodasi) gambaran kelainan pemokusanan cahaya didepan retina. (Yayan A.Israr, 2010)
2.    Penyebabmiopia
          Penyebab miopia belum diketahui secara pasti, ada beberapa  keadaan yang dapat menyebabkan timbulnya seperti alergi, gangguan endokrin, kekurangan makanan, herediter, kerja dekat yang berlebihan dan kekurangan zat kimia ( kurang kalsium dan kekurangan vitamin A).
Menurut ilyas ada beberapa faktor penyebab Miopi diantaranya:
a.         Bola mata panjang pada posterior anterior axialis
b.        Lensa membesar pada katarak stadium II
c.        Cornea lebih cembung dari pada normal disebut miopia carvatur
d.       Pada penderita DM dimana corpus vitreus mengandung kadar gula tinggi
3.       Klasifikasi miopi
      Miopi dibagi berdasarkan beberapa karakteristik sebagai berikut :
            Menurut jenis kelainannya, Vaughan membagi miopia menjadi:
a.    Miopi aksial, dimana diameter antero-posterior dari bola mata lebih panjang dari pada panjang dari normal
b.    Miopi kurvartu,yaitu adanya peningkatan curvature kornea atau lensa.
c.    Miopi indeks, terjadi peningkatan indeks biasa pada cairan mata
            Menurut perjalan penyakitnya miopi dibagi atas :
a.    Miopi stasioner yaitu yang menetap setelah dewasa
b.     Miopi progeresif, yaitu miopi yang bertambah terus pada usia dewasa akibat bertambah panjangnya  bola mata
c.    Miopi maligna, yaitu keadaan yang lebih berat dari miopi progeresif, yang dapat mengakibatkan ablasi retina dan kebutaan ( Ilyas,  2005)
            Berdasarkan sifat
a.    Miopi simplex, sering dijumpai pada umur muda dan bersifat menetap dan tidak menimbulkan kelainan pada fundus.
b.    Miopi progressive,minus terus bertambah sehingga bisa terjadi gangguan pada choroid disebur juga miopi degenerasi, tidak bisa mencapai 6/6
c.    Miopi maligna , lebih cepat choroid miopi  degeneration.
            Miopi berdasarkan berat ringan
a.    Miopi ringan
b.    Sangat ringan, apabila dapat dikoreksi dengan kaca mata 0.25 s/d 1.0D
c.    Ringan, apabila dapat dikoreksi dengan kaca mata  -1 s/d -3 D
d.   Miopi sedang dapat dikoreksi dengan kaca mata -3 s/d -6 D
e.    Miopi tinggi dapat dikoreksi dengan kaca mata -6 s/d -10 D
f.     Miopi berat dapat dapat dikoreksi dengan kacamata > -10 D
4.        Tanda dan Gejala Miopia
Pasien miopi mempunyai pangtum remotum (titik terjauh yang masih dilihat jelas) yang dekat sehingga mata selalu dalam atau berkedudukan konvergensi yang akan menimbulkan keluhan astenopia konvergensi. Bila kedudukan mata ini menetap, maka penderita akan telihat juling ke dalam atau esotropia (Ilyas, 2003).
Gejala  miopi terbagi menjadi dua yaitu :
a.    Gejala subjektif :
1)      Akibat sinar dari suatu objek jauh difokuskan di depan retina, maka penderita miopia hanya dapat melihat jelas pada waktu melihat dekat, sedangkan pengglihatan jauh akan kabur.
2)      Keluhan astenopia, seperti sakit kepala yang dengan sedikit koreksi dari miopinya dapat disembuhkan.
3)      Kecendrungan penderita untuk menyipitkan mata waktu melihat jauh untuk mendapatkan efek “pinhole” agar dapat melihat dengan lebih jelas.
4)      Penderita miopia biasanya suka membaca dekat, sebab mudah melakukannya tanpa usaha (Slone, 1979).
b.    Gejala objektif :
1)   Miopi simplex :
Pada segmen anterior ditemukan bilik mata yang dalam dan pupil yang relatif lebar. Kadang-kadang bola mata ditemukan agak menonjol.
2)   Pada segmen posterior biasanya terdapat gambaran yang normal atau dapat disertai kresen miopi yang ringan disekitar papil saraf optik.
Miopi Patologi :
Gambaran pada segmen anterior serupa dengan miopi simple.
1)   Gambaran yang ditemukan pada segmen posterior berupa kalainan-kelainan pada :
a.    Korpus vitreum
b.    Papiler saraf optic
c.    Makula
d.   Retina terutama pada bagian temporal
e.    Seluruh lapisan fundus yang tersebar luas berupa penipisan koroid dan retina.
5.   Pengobatanmiopia
Pengobatan miopi terdapat beberapa cara, yaitu :
a.    kacamata
          Pada pasien miopi ini diperlukan lensa kaca mata baca tambahan atau lensa eddisi untuk membaca dekat yang berkuatan tetentu. Pengobatan pasien dengan dengan miopi adalah memberikan kaca mata sferis negative terkecil yang memberikan ketajaman penglihatan maksimal 33cm. Bila pasien dikoreksi dengan – 3.0 D memberika tajam penglihatan 6/6, dan demikian memberikan istirahat mata dengan baik sesudah dikoreksi (Ilyas, 2003).
b.    lensa kontak
          pengobatan biasanya ditolong dengan kacamata  rangkap dan harus melakukan terapi dengan cara menggunakan lensa eddisi untuk membaca dekat. Untuk jarak baca 33 cm, bila jarak berubah maka pemberian lensa juga berubah. Pada umur 40 tahun lensa masih dapat mengembang, tetapi sangat menurun. Pada umur 60 tahun, lensa menjadi sclerosic semua. Jadi pemberian lensa addisi tergantung pada pada jarak baca dan umur pederita. Bifokus adalah kacamata yang digunakan untuk mengatasi presbiopia. Kacamata ini memeliki 2 lensa, yaitu untuk membaca dipasang dibawah dan untuk melihat jarak jauh dipasang diatas. Jika pelihat jarak jauh masih baik, bisa digunakan kacamata untuk baca yang dijual bebas.
c.    Bedah Keratorefraktif
          Bedah keratorefraktif mencakup serangkai metode untuk mengubah kelengkungan permukaan anterior bola mata diantaranya adalah keratomi radial, keratomileusis keratofikia, epiakerarfikia.
6.      Cara meningkatkan kesehatan mata
a.       Periksa mata setiap 12 bulan
         Masalah penglihatan yang tidak ditangani akan berkembang semakin parah,dan memakai lensa kontak atau kacamata yang tidak lagi cocok untuk anda dapat menyebabkan masalah penglihatan.
b.      Di musim panas pakailah kacamata hitam
         Sinar ultra violet dapat membuat kerusakan serius pada mata. Kacamata yang baik dapat mencengah hal ini. Ketika membeli kacamata, pastikan yang dapat memantulkan paling tidak 98% radiasi ultra violet.
c.       Makanlah nutrisi yang baik untuk  anda dan mata anda
         Studi baru-baru ini menunjukkan bahwa vitamin dan kelompok antioksidadan dapat mencegah, atau paling tidak memperlambat degerasi macula dan pertumbuhan katarak. Nutrisi yang baik bagi tubuh juga baik untuk mata.
d.      Jika anda membaca atau berkerja menggunakan computer, pastikan cahayanya tepat
         Bekerja dengan cahaya minim dapat menyebabkan kelelahan mata, tapi cahaya yang terlalu terang juga tidak baik. Arah cahaya terbaik jika bekerja menggunakan computer adalah dari lampu meja bercahaya lembut dari arah samping. Kurangi tingkat terang (brightness) monitor. Warna memang  jadi tak terlalau tajam, tapi mata akan jadi lebih nyaman.
e.       Istirahatkan mata anda 
         Hampir semua orang merasakan mata mereka jadi tidak nyaman setalah duduk seharian di depan layar computer. Hal ini disebabkan mata jadi kering. Satu hal yang bisa dilakukan  adalah menutup mata Anda dan menghitung sampai 5 sebelum membukanya kembali. Hal lainnya adalah berpaling dari layar monitor dan focus pada sebuah objek yang jauh, sesering mungkin.
f.       Cari lensa kontak dengan kualitas baik
         Tidak semua lensa kontak sama. Ada yang aman untuk mata Anda, dan ada juga yang berisiko merusak mata. Untuk melihat referensi tentang lensa kontak.
g.      Jika memakai lensa kontak, rawatlah dengan baik
         Lensa kontak tindakalah begitu meropotkan, tapi anda juga takdapat mengbaikan kebersihannya. Setiapa kali akan  atau melepasakan lensa kontak anda, bilaslah. Anda  juga harus mengganti caiarannya, ketika anda menaruh ditempatnya waktu anda tidur dimalam hari.
h.      Pakailah lensa kontak sesuai jadwal yang disarankan
         Ada orang yang berbuat hemat dengan memakai lensa kontak lebih lama daripada yang dimaksudkan. Ini bukanlah hal yang baik. Meskipun kualitas lensanya tidak akan berkurang, tumpukan protein dapat menghaburkan penglihtan anda. Hal lain yang harus dipertimbangkan adalah, semangkin lama anda memakai lensa kontak anda, semangkin tinggi resiko mata anda terkena infeksi ( Kesehatan Mata, 2009).
DAFTAR PUSTAKA
American Optometric Association.(2000). Care of the Patient with Miopia, http://www.aoa.org. diakses tanggal 11 maret 2011.
Fredrick DR. Miopia. BMJ (2002). Diakses dari http : //bmj.com/cgi/content/full/324/7347/1195 23 februari 2011.
Hartono. (2007). Ilmu Kesehatan Mata. Yogyakarta: Gama Press.
Ilyas Sidarta, (2005). Ilmu Penyakit Mata. Jakarta. Fakultas Kedokteran Indonesia, Jakarta.
Ilyas, HS. (2003). Dasar-dasar Pemeriksaan mata dan penyakit mata, Cetakan I. Balai Penerbit FKUI, Jakarta.
Ilyas, HS. (2002). Ilmu Penyakit Mata untuk Dokter Umum dan Mahasiswa Kedokteran Edisi Dua, Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia tahun 2002, Sagung Seto, Jakarta.
Karikaturijo. (2010). Refraksi. Diakses tanggal 30 Agustus 2010, dari http://karikaturijo.blogspot.com/2010/01/refraksi.html
Krisna, (2005). Miopia dan Pencengahannya. http:/www.optilkrisna.info./mygpia.htm.diakses tanggal 23 februari 2011.
Machfoedz, I, (2007).  Statistik Deskriptif Bidang kesehatan, Keperawatan dan Kebidanan (Biostatistik).  Fitramaya.  Jakarta.
Mira Delima. A, Bagian Ilmu Kesehatan Mata, RSUD Panembahan Senopati, Kab.Bantul, Yogyakarta.
Nursing ( 2011 ) Memahami Berbangai Macam Penyakit.Jurnal Nursing, Jakarta.
Nasru Bintang, (2009). Miopia. http/nasrulbintang.wordpress.com/defenisi-miopia, diakses tanggal 20 april 2011.
Sativa Oriza, (2003). Tekanan Intraokular Pada Penderita Myopia Ringan Dan Sedang. Bagian Ilmu Penyakit Mata Universitas Sumatra Utara. Diakses dari e-medicine. Oktober 2008

Konsep Dasar Perawat


1.      Pengertian
Perawat atau Nurse berasal dari bahasa latin yaitu dari kata Nutrix yang berarti merawat atau memelihara. Tylor C Lillis C Lemone (1989) menjelaskan pengertian dasar seorang perawat yaitu seseorang yang berperan dalam merawat atau memelihara, membantu dan melindungi seseorang karena sakit, luka dan proses penuaan (Depkes RI, 2002).
Menurut UU RI No 23 tahun 1992 tentang kesehatan, mendefinisikan perawat yaitu mereka yang memiliki kemampuan dan kewenangan melakukan tindakan keperawatan berdasarkan ilmu yang dimilikinya yang diperoleh melalui pendidikan perawatan
Sedangkan menurut International Council of Nurses (1965), perawat adalah seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan keperawatan, berwenang dinegara bersangkutan untuk memberi pelayanan dan bertanggung jawab dalam peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit serta pelayanan terhadap pasien.
Perawat Profesional adalah Perawat yang bertanggungjawab dan berwewenang memberikan pelayanan keperawatan secara mandiri dan atau berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain sesuai dengan kewenangannya. (Depkes RI, 2002).
2.      Peran  Perawat
                   Peran perawat adalah cara untuk menyatakan aktifitas perawat dalam praktik, dimana telah menyelesaikan pendidikan formalnya yang diakui dan diberi kewenangan oleh pemerintah untuk menjalankan tugas .
                  Sedangkan peran perawat meliputi : pemberi  Asuhan Keperawatan, praktek Keperawatan atau pelaksana, pendidikan klien, pengelola serta kegiatan penelitian dibidang Keperawatan.
a.       Peran sebagai pelaksana
            Peran ini di kenal dengan Care Giver,  peran Perawat dalam  memberikan Asuhan Keparawatan secara langsung atau tidak langsung kepada klien sebagai Individu, Keluarga dan Masyarakat, dengan metode pendekatan pemecahan masalah yang disebut proses keperawatan. Dalam melaksanakan peran ini perawat bertindak sebagai comforter, protector, advocate, communicator serta rehabilitator
b.      Peran sebagai pendidik
            Sebagai  pendidik  Perawat  berperan   dalam   medidik  individu,  keluarga, kelompok dan masyarakat serta tenaga kesehatan yang berada dibawah tanggungjawabnya. Peran ini berupa penyuluhan kepada klien, maupun bentuk desimilasi ilmu kepada peserta didik keperawatan.
c.       Peran sebagai pengelola
            Dalam   hal   ini    Perawat    mempunyai    peran dan     tanggung jawab dalam    mengelola pelayanan maupun pendidikan Keperawatan sesuai dengan Manajemen Keperawatan dalam kerangka paradigma Keperawatan. Sebagai pengelola Perawat dalam memantau dan menjamin kualitas asuhan atau pelayanan Keperawatan serta mengorganisasi dan mengendalikan sistem pelayanan Keperawatan, karena pengetahuan  pemahaman Perawat yang kurang sehingga pelaksana Perawat pengelola belum maksimal, mayoritas posisi, lingkup kewenangan dan tanggungjawab Perawat hampir tidak berpengaruh dalam perencanaan dan pengambilan keputusan.
d.      Peran sebagai peneliti
Sebagai peneliti dibidang Keperawatan, Perawat diharapkan mampu mengidentifikasi masalah penelitian, menerapkan prinsip dan metode penelitian serta memanfaatkan hasil penelitian untuk meningkatkan mutu asuhan atau pelayanan dan pendidikan Keperawatan. Penelitian di dalam bidang Keperawatan berperan dalam mengurangi kesenjangan penguasaan tehnologi di bidang kesehatan, karena temuan penelitian lebih memungkinkan terjadinya transformasi ilmu pengetahuan dan Tehnologi, selain itu penting dalam memperkokoh upaya menetapkan dan memajukan profesi Keperawatan. (Asdi, 2008)
                   3.  Fungsi Perawat.
 Fungsi Perawat dalam melakukan pengkajian pada Individu sehat maupun sakit dimana segala  aktifitas  yang di lakukan  berguna  untuk  pemulihan  kesehatan berdasarkan pengetahuan yang di  miliki,  aktifitas  ini  di  lakukan  dengan  berbagai cara untuk mengembalikan kemandirian pasien secepat mungkin dalam bentuk Proses Keperawatan yang terdiri dari tahap Pengkajian, Identifikasi masalah (Diagnosa Keperawatan), Perencanaan, Implementasi dan Evaluasi (Asdi, 2008)
a.       Fungsi Independen
Merupakan fungsi mandiri dan tidak tergantung pada orang lain, dimana perawat dalam melaksanakan tugasnya dilakukan secara sendiri dengan keputusan sendiri dalam melakukan untuk memenuhi KDM.
b.      Fungsi Dependen
Merupakan fungsi perawat dalam melaksanakan kegiatannya atas pesan atau instruksi  dari perawat lain sebagai tindakan pelimpahan tugas yang diberikan. Biasanya dilakukan oleh perawat spesialis kepada perawat umum atau dari perawat primer kepada perawat pelaksana.
c.       Fungsi Interdependen
Fungsi ini dilakukan dalam kelompok tim yang bersifat saling ketergantungan diantara tim satu dengan yang lainnya. Dapat terjadi apabila bentuk pelayanan membutuhkan kerjasama tim dalam pemberian pelayanan. Keadaan ini tidak bisa diatasi oleh tim perawat saja melainkan juga dari dokter ataupun lainnya.
Referensi :
Depkes RI (2002). Perawat Profesional.http://www.freetechebooks.com. Diakses 21 April 2011.
Powered by Blogger