Rabu, 06 Juni 2012

Konsep Dasar Jenis Kelamin


1.    Pengertian jenis kelamin
      Jenis kelamin (bahasa Inggris: sex) adalah kelas atau kelompok yang terbentuk dalam suatu  spesies  sebagai sarana atau sebagai akibat digunakannya proses  reproduksi seksual untuk mempertahankan keberlangsungan spesies itu agar tetap terjaga spesies tersebut (Wikipedia, 2009).
       Genetik modern dan embriologi eksperimental memastikan jelas bahwa, pada sebagian besar mamalia, berbagai perbedaan antara pria dan wanita terutama bergantung pada sebuah kromosom (kromosom Y) dan sepasang struktur endokrin, testis pada pria dan ovarium pada wanita. Pada kedua jenis kelamin, gonad memiliki fungsi ganda : pembentukan sel – sel germativum (gametogenesis) dan sekresi hormon – hormon seks. Androgen adalah hormon seks steroid yang efeknya maskulinisasi; estrogenadalah hormon yang menyebabkan feminisasi. Kedua  jenis hormon disekresikan oleh kedua jenis kelamin (Ganong, 2002 : 396).
2.    Hubungan Jenis Kelamin Terhadap Hipertensi
       Hipertensi adalah penyebab terbesar penyakit kardiovaskulardi Amerika Serikat dan penyumbang terbanyak terhadap angka kesakitan dan kematian. Pria di dalam populasi umum memiliki angka diastolik tertinggi pada tekanan darahnya dibandingkan dengan wanita pada semua usia dan juga pria memiliki angka prevalensi tertinggi untuk terjadinya hipertensi. Walau pria memiliki insiden tertinggi kasus kardiovaskularpada semua usia, hipertensi pada pria dan wanita dapat menyebabkan stroke, pembesaran ventrikel kiri, dan disfungsi ginjal. Hipertensi terutama mempengaruhi wanita karena faktor resikonya dapat di modifikasi dan hipertensi sering terjadi pada wanita tua (Sanif, 2009) .
       Menurut Cortas, et. al (2008)  mengatakan prevalensiterjadinya hipertensi pada pria sama dengan wanita. Namun wanita terlindung dari penyakit kardiovaskuler sebelum menopause.  Wanita yang belum mengalami menopause dilindungi oleh hormon estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadar High Density Lipoprotein (HDL). Kadar kolesterol HDL yang tinggi merupakan faktor pelindung dalam mencegah terjadinya proses aterosklerosis. Efek perlindungan estrogen dianggap sebagai penjelasan adanya imunitas wanita pada usia premenopause. Pada premenopause wanita mulai kehilangan sedikit demi sedikit hormon estrogenyang selama ini melindungi pembuluh darah dari kerusakan. Proses ini terus berlanjut dimana hormon estrogentersebut berubah kuantitasnya sesuai dengan umur wanita secara alami, yang umumnya mulai terjadi pada wanita umur 45 - 55 tahun sebelum lanjut usia (Anggraini, Waren et. al, 2008)
       Alasan terjadinya perbedaan tekanan darah berdasarkan jenis kelamin belum diketahui, namun sedang diselidiki oleh beberapa laboratorium. Estrogen sudah dipercaya namun belum terbukti mampu menurunkan tekanan darah pada wanita muda. Dari data fluktuasi tekanan darah selama kehidupan membawa dukungan terhadap hipotesis tersebut, namun kejadiannya berhubungan dengan perubahan tekanan darah dari seluruh kehidupan sampai tingkat sel endogen terkecil. Pembelajaran tentang perubahan hemodinamis berhubungan dengan siklus menstruasi yang dibuktikan dengan rendahnya tekanan darah sewaktu fase luteal dari pada saat fase folikular. Bagaimanapun pemantauan telah dilakukan dan hasilnya tekanan darah lebih tinggi sewaktu fase luteal. Sewaktu terjadi kehamilan normal, kadar estrogen dan progesterone 50-100 kali lebih tinggi dibanding sebelum kehamilan dan tekanan darahnya sangat rendah. Staessen dkk, melaporkan prevalensi tinggi hipertensi terjadi pada wanita post menopause daripada wanita premenopause. Walaupun terjadi penurunan produksi estrogen di ovarium, namun estrogen memegang peranan penting dalam meningkatkan tekanan darah setelah menopause. Investigasi pada efek biologis dari estrogen sudah diperlihatkan pada hormon estrogen yang berasal dari 17-beta estradiol, menyebabkan vasodilatasi endotel. Selanjutnya fungsi endotel menggunakan perangsang asetilkolinpada pembuluh darah lengan, diperlihatkan dengan berkurangnya vasodilatasi endotel yang berhubungan dengan menopause, mempengaruhi estrogen endogen dalam regulasi tekanan darah. Secara klinis diperlihatkan bahwa estrogen dapat mengatur respon tekanan darah terhadap stimulasi stress. Usia mempengaruhi peningkatan tekanan darah pada wanita yang terbesar pada usia 62 tahun, sehingga hilangnya estrogen bukan penyebab utama. Hasil penelitian di Finland diperlihatkan wanita yang menjalani histerektomi memiliki tekanan darah yang lebih tinggi dibanding wanita yang tidak menjalani histerektomi, pentingnya mempelajari faktor tambahan pada estrogen dalam hubungan dengan patogenesis peningkatan tekanan darah pada wanita post menopause.
       Hipertensi yang terpenting adalah kelainan heterogen, bukan hal yang aneh bila beberapa faktor pathogen dari gen yang spesifik telah diidentifikasi. Kadar renin dalam plasma yang rendah terjadi pada wanita premenopause dan post menopause yang mengalami hipertensi dibanding pria. Nordby melaporkan rendahnya kadar estradiol serum pada wanita premenopause yang hipertensi dibanding pada wanita yang normotensi (Sanif, 2009).

DAFTAR PUSTAKA

Anggaraini, Ade Dian, et.al (2009). Faktor – Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Hipertensi Pada Pasien Yang Berobat di Poliklinik Dewasa Puskesmas Bangkinang Periode Januari sampai Juni 2008. Diakses 20 Februari 2011 : Http://yayanakhyar.wordpress.com
Baike (2003). Hubungan genetik terhadap penyakit kardiovaskuler. Diakses 20 februari 2011 : http://baike.baidu.com/view/2130696.htm

Corwin, Elizabeth J (2000). Buku Saku Fisiologi Kedokteran. EGC, Jakarta

Depkes RI (2011). Epidemologi Penyakit Hipertensi. Diakses 12 April 2011: http: //www.depkes.org.

Dewi, Sofia dan Digi Familia (2010). Hidup Bahagia dengan Hipertensi. A+Plus Books, Yogyakarta

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah (2010). The 4th Scientific Meeting on Hypertension. Diakses 20 Desember 2010 :  http://www.dinkesjatengprov.go.id

Elsanti, Salma (2009). Panduan Hidup Sehat : Bebas Kolesterol, Stroke, Hipertensi, & Serangan Jantung. Araska, Yogyakarta

Ganong, William F (2002). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. EGC, Jakarta

Genecards (2010). Natriuretik Peptide Prekursor B. Diakses 20 Februari 2011 : http://www.genecards.org/cgi-bin/carddisp.pl?gene=NPPB
Genecards. Natriuretik Peptide Prekursor A (2010). Diakses 20 Februari 2011 : http://www.genecards.org/cgi-bin/carddisp.pl?gene=NPPA
Hani, Luthfi (2010). Pola Makan Penderita Hipertensi. Diakses 02 Februari 2010 :  http://www.indonesiapower.co.id/index.php?option=com_conten&view=atikel&id=1302:pola-makan-penderita-hipertensi

Irza, Syukraini (2009). Analisa Faktor – Faktor Risiko Hipertensi Pada Masyarakat Nagari Bungo Tanjung , Sumatera Barat. Diakses 20 februari 2011 : http://repository.usu.ac.id/.

Kita, Dokter (2010).  Penyebab Hipertensi. Diakses 20 Februari 2011 :  http://www.totalkesehatananda.com/
Klabunde, Richard E (2010). Tindakan Peptides Natriuretik. Diakses 20 Februari 2011 : http://www.cvphysiology.com/Blood%20Pressure/BP017.html

Kowalski, Robert E (2010). Terapi Hipertensi : Program 8 Minggu Menurunkan Tekanan Darah Tinggi dan Mengurangi Risiko Serangan Jantung dan Stroke Secara Alami. Qanita, Bandung

Priyatno, Duwi (2010). Paham Analisa Statistik Data dengan SPSS. Media Kom, Yogyakarta

Potter, Patricia A (2005). Buku Fundamental Keperawatan. EGC, Jakarta

Ruhyana (2007). Hipertensi Penyebab Utama Penyakit Jantung. 2007, Diakses 1 April 2011: http://ruhyana.wordpress.com/2007/06/10/hipertensi-penyebab-utama-penyakit-jantung-2/
Sanif, Edial (2009) . Hipertensi Pada Wanita. Diakses 12 Februari 2011 http://www.jantunghipertensi.com/hipertensi/78.html
Scrib (2010). Hipokalemia dan Hipertensi. Diakses 6 Januari 2011 : http://www.scribd.com/doc/24546666/Hipokalemia-Dan-Hipertensi
Sugiharto, Aris (2007).  Faktor – Faktor Risiko Hipertensi Grade II Pada Masyarakat.2007, diakses  21 Maret 2011 : http://eprints.undip.ac.id/16523/1/Aris_Sugiharto.pdf.
UGM, Humas (2009). Cegah Hipertensi dengan Pola Makan. Diakses 14 Januari 2011 : http://www.ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=1003
Wikipedia (2010). Pengertian Jenis Kelamin. Diakses 21 Maret 2011 :  http://id.wikipedia.org/wiki/Jenis_kelamin
Wikipedia(2010). Tekanan Darah Tinggi. Diakses 02 Maret 2011 :  

Nursing Diagnosis: Impaired Parenting

Peggy A. Wetsch and Mary Markle
NANDA Definition:Inability of the primary caretaker to create, maintain, or regain an environment that promotes the optimum growth and development of the child

Defining Characteristics:
Infant/child
Poor academic performance; frequent illness; runaway; incidence of physical and psychological trauma or abuse; frequent accidents; lack of attachment; failure to thrive; behavioral disorders; poor social competence; lack of separation anxiety; poor cognitive development
Parental
Inappropriate child care arrangements; rejection of or hostility to child; statements of inability to meet child's needs; inflexibility in meeting needs of child or situation; poor or inappropriate caretaking skills; regularly punitive; inconsistent care; child abuse; inadequate child health maintenance; unsafe home environment; verbalization of inability to control child; negative statements about child; verbalization of role inadequacy or frustration; inappropriate visual, tactile, auditory stimulation; abandonment; insecure or lack of attachment to infant; inconsistent behavior management; child neglect; little cuddling; maternal-child interaction deficit; poor parent-child interaction
Related Factors:
Social
Lack of access to resources; social isolation; lack of resources; poor home environment; lack of family cohesiveness; inadequate child care arrangements; lack of transportation; unemployment or job problems; role strain or overload; marital conflict, declining satisfaction; lack of value of parenthood; change in family unit; low socioeconomic class; unplanned or unwanted pregnancy; presence of stress (e.g., financial, legal, recent crisis, cultural move); lack of or poor parental role model; single parent; lack of social support network; father of child not involved; history of being abusive; history of being abused; financial difficulties; maladaptive coping strategies; poverty; poor problem-solving skills; inability to put child's needs before own; low self-esteem; relocations; legal difficulties
Knowledge
Lack of knowledge about child health maintenance; lack of knowledge about parenting skills; unrealistic expectations for self, infant, partner; limited cognitive functioning; lack of knowledge about child development; inability to recognize and act on infant cues; low educational level or attainment; poor communication skills; lack of cognitive readiness for parenthood; preference for physical punishment
Physiological
Physical illness
Infant/child
Premature birth; illness; prolonged separation from parent; not desired gender; attention deficit hyperactivity disorder; difficult temperament; separation from parent at birth; lack of goodness of fit (temperament) with parental expectations; unplanned or unwanted child; handicapping condition or developmental delay; multiple births; altered perceptual abilities
Psychological
History of substance abuse or dependencies; disability; depression; difficult labor and/or delivery; young age, especially adolescent; history of mental illness; high number of or closely spaced pregnancies; sleep derivation or disruption; lack of or late prenatal care; separation from infant/child
NOTE: It is important to reaffirm that adjustment to parenting in general is a normal maturational process that elicits nursing behaviors to prevent potential problems and to promote health.
NOC Outcomes (Nursing Outcomes Classification)
Suggested NOC Labels
·         Child Development: 2 Months
·         4 Months
·         6 Months
·         2 Years
·         3 Years
·         4 Years
·         5 Years
·         Middle Childhood (6 - 11 Years)
·         Adolescence (12 - 17 Years)
·         Parent-Infant Attachment
·         Parenting
·         Parenting: Social Safety
·         Role Performance
·         Safety Behavior: Home Physical Environment
·         Social Support
Client Outcomes
·         Affirms desire to develop constructive parenting skills to support infant/child growth and development
·         Initiates appropriate measures to develop a safe, nurturing environment
·         Acquires and displays attentive, supportive parenting behaviors
·         Identifies strategies to protect child from harm and/or neglect and initiates action when indicated
NIC Interventions (Nursing Interventions Classification)
Suggested NIC Labels
·         Abuse Protection: Child
·         Attachment Promotion
·         Developmental Enhancement
·         Family Integrity Promotion
·         Parenting Promotion
Nursing Interventions and Rationales
·         Use active listening to explore parent's understanding of developmental needs and expectations of child and self within the context of cultural perspectives and influences. Interviewing with empathy while reserving judgment allows parent to more freely express frustrations and disappointments regarding negative feelings, needs, and parenting skills. Unrealistic expectations may be present when parent does not discern what is normal for the child (Denehy, 1992; Herman-Staab, 1994; Mrazek, Mrazek, Klinnert, 1995).
·         Examine characteristics of parenting style and behaviors, including the following:
o Emotional climate at home
o Attribution of negative traits to child
o Failure to support child's increases in autonomy
o Type of interaction with infant/child
o Competition with child for spousal/significant other attention
o Lack of knowledge/concern about health maintenance or behavioral problems
o Other behaviors or concerns
Children are at risk for neglect, abuse, and other negative psychosocial outcomes in families with dysfunctions (Mrazek, Mrazek, Klinnert, 1995).
·         Institute abuse/neglect protection measures if evidence of inability to cope with family stressors or crisis, signs of parental substance abuse, or significant level of social isolation apparent. Risk of abuse/neglect is higher in families with high levels of stress, substance abuse, or lack of social support systems (Devlin, Reynolds, 1994).
·         For mothers with toddlers, assess maternal depression, perceptions of difficult temperament in toddler, and low maternal self-efficacy. Self-efficacy is defined as one's judgment of how effectively one can execute a task or manage a situation that may contain novel, unpredictable, and stressful elements. A cyclic relationship among depression, perceived difficult temperament, and self-efficacy has been identified. Negative feelings about oneself and one's child are likely to negatively influence the parent-child relationship (Gross et al, 1994).
·         Appraise parent's resources and availability of social support systems. Determine single mother's particular sources of support, especially availability of her own mother and partner. Encourage use of healthy, strong support systems. Before adequate interventions and education can be initiated, understanding of the current support system and concerns must occur. The mother's partner and her mother are often important sources of support (Zacharia, 1994).
·         Model age- and cognitively appropriate caregiver skills by doing the following:
o    Communicating with child at an appropriate cognitive level of development
o    Giving child tasks and responsibilities appropriate to age or functional age/level
o    Instituting safety considerations such as assistive equipment
o    Encouraging child to perform activities of daily living (ADLs) as appropriate
These activities illustrate parenting and child-rearing skills and behaviors for parents and family (McCloskey, Bulechek, 1992).
Multicultural
·         Assess for the influence of cultural beliefs, norms, and values on the client's perception of parenting. What the client considers normal parenting may be based on cultural perceptions (Leininger, 1996).
·         Acknowledge racial/ethnic differences at the onset of care. Acknowledgement of racial/ethnicity issues will enhance communication, establish rapport, and promote treatment outcomes (D'Avanzo et al, 2001).
·         Approach individuals of color with respect, warmth, and professional courtesy. Instances of disrespect have special significance for individuals of color (D'Avanzo et al, 2001).
·         Give rationale when assessing black individuals about sensitive issues. Blacks may expect white caregivers to hold negative and preconceived ideas about them. Giving rationale for questions will help alleviate this perception (D'Avanzo et al, 2001).
·         Acknowledge that value conflicts from acculturation stresses may contribute to increased anxiety and significant conflict with children. Challenges to traditional beliefs and values are anxiety provoking (Charron, 1998). Less acculturated parents may experience conflict with their more acculturated children as the children demand greater independence and freedom (True, 1995).
·         Use a neutral, indirect style when addressing areas where improvement is needed (such as a need for verbal stimulation) when working with Native American clients. Using indirect statements such as "Other mothers have tried..." or "I had a client who tried 'X' and it seemed to work very well" will help to avoid resentment from the parent (Seiderman et al, 1996).
·         Acknowledge and praise parenting strengths noted. This will increase trust and foster a working relationship with the parent (Seiderman et al, 1996).
·         Validate the client's feelings regarding parenting. Validation lets the client know that the nurse has heard and understands what was said, and it promotes the nurse-client relationship (Stuart, Laraia, 2001; Giger, Davidhizer, 1995).
·         Facilitate modeling and role-playing to help family improve parenting skills. It is helpful for families and the client to practice parenting skills in a safe environment before trying them in real-life situations (Rivera-Andino, Lopez, 2000).
Client/Family Teaching
·         Explain individual differences in child temperaments and compare and contrast with reality of parents' expectations. Help parents determine and understand the implications of their child's temperament. Promoting parental understanding of temperament facilitates development of more realistic expectations (McClowry, 1992; Melvin, 1995).
·         Discuss sound disciplinary techniques, which include catching children being good, active listening, conveying positive regard, ignoring minor transgressions, giving good directions, use of praise, and use of time-out. Disciplinary methods are subject to a variety of opinions. Proper discipline provides children with security, and clearly enforced rules help them learn self-control and social standards. Parenting classes can be beneficial when parent has had little formal or informal preparation (Herman-Staab, 1994).
·         Foster acquisition of positive parenting skills. Parents may feel powerless. Helping them develop necessary skills or gain knowledge maintains the integrity of the parental role, and parents are then unlikely to use maladaptive coping styles (Baker, 1994).
·         Plan parental education directed toward the following age-related parental concerns:
o    Birth to 2 years   Transition, sleep, aggression
o    3 to 5 years   Transition, parent-child relationship, sleep
o    6 to 10 years   School, parent-child relationship, divorce
o    11 to 18 years   Parent-child relationship, divorce, school
Parents with children of any age may seek basic information about a variety of concerns, which can be anticipated and addressed by providing ongoing information and support (Jones, Maestri, McCoy, 1993).
·         Initiate referrals to community agencies, parent education opportunities, stress management training, and social support groups. The parent needs support to manage angry or inappropriate behaviors. Use of support systems and social services can provide an opportunity to decrease feelings of inadequacy (Campbell, 1992; Baker, 1994).
·         Provide information regarding available telephone counseling services. Telephone counseling services can provide confidential advice and support to families who might not otherwise have access to help in dealing with behavioral problems and parenting concerns (Jones, Maestri, McCoy, 1993).
·         Refer to care plan for Delayed Growth and development for additional teaching interventions.

Kamis, 24 Mei 2012

Cara Mengatasi Biang Keringat

Biang Keringat adalah ruam kulit yang disebabkan tersumbatnya kelenjar-kelenjar peluh pada dada, ketiak, lilitan pinggang, lipatan paha, dan punggung.

Gejala biang keringat adalah dengan timbulnya bintik-bintik putih atau merah pada kulit yang menimbulkan rasa gatal, terutama di dada, di leher, dan di punggung yang tertutup pakaian.

Cara Mencegah Timbulnya Biang Keringat
  • Jika terjadi pada bayi, mandikan bayi dengan teratur, 1 atau 2 kali setiap hari.
  • Gunakan pakaian yang longgar dan mudah menyerap keringat, seperti katun.
  • Perbaiki sirkulasi udara pada ruangan.
Cara Mengobati Biang Keringat

Berikut ini beberapa alternatif untuk mengatasi biang keringat

Bahan:
- Daun Anyang-anyang (secukupnya)

Pemakaian:
Tumbuk daun anyang-anyang hingga halus, kemudoan peras hingga keluar getahnya. Oleskan getah tersebut pada bagian yang terkena biang keringat.

Selain dengan obat tradisional biang keringat diatas, anda juga bisa menggunakan Bedak Salicyl yang dicampur dengan air (seperti bedak dingin).

Tambahan:

Anyang-Anyang

Nama IIlmiah:
(Elaeocarpus grandiflorus J.E. Smith)

Nama Daerah:
Rejasa, Ki Ambit, Maitan, Kemaitan, Raja sor.

Kandungan Kimia:
Anyang-anyang memiliki rasa sangat pahit dan bersifat sejuk. Beberapa bahan kimia yang terkandung dalam anyang-anyang di antaranya minyak terbang, zat samak, dan ubar merah pada bunga. Bagian buahnya mengandung saponin, zat pahit, dan elakorpit.

Semoga Tips Mengatasi Biang Keringat Diatas bisa bermanfaat bagi anda maupun bayi anda yang mengalami biang keringat.

Rabu, 23 Mei 2012

Wow, iPhone Bisa Sembuhkan Jerawat?


Diciptakan oleh seorang dermatologis (ahli kulit), Dr. Greg Pearson, aplikasi yang dinamakan 'AcneApp' ini dijual seharga US$ 1.99. Konon, aplikasi itu bisa membuat kulit menjadi mulus.

Bagaimana cara kerjanya? Menurut keterangan di iTunes yang dilansir detikINET dari HuffingtonPost, Senin (8/2/2010), aplikasi tersebut menggunakan siraman cahaya untuk mengobati gangguan pada kulit wajah.

Sinar biru 420 nanometer yang dipancarkan diklaim memiliki kemampuan anti bakteri. Sedangkan sinar merah 550 nanometer berkhasiat sebagai anti peradangan.

Cukup dengan mengarahkan layar iPhone yang memancarkan sinar tersebut ke wajah, bakteri di kulit pengguna akan mati dan pertumbuhan kolagen akan terangsang.

Benarkah 'pengobatan' itu manjur? Seorang ahli kulit lain mengatakan butuh 88 kali perawatan untuk melihat hasilnya. Sedangkan Pearson pun mengatakan efektivitas aplikasi itu masih harus melalui uji klinis.

Lalu, apa kata pengguna iPhone? Meski ada yang mengaku tidak percaya, ada juga pengguna lain yang mengklaim aplikasi itu berhasil mengatasi jerawat di wajahnya. [detikinet]

9 Tanda Mengandung Anak Kembar

Kembar? Wah, luar biasa! Seperti apa, sih, tanda-tandanya jika kita mengandung anak kembar?

1. Biasanya akan terasa sejak awal bahwa Anda mengandung lebih dari satu bayi. Jangan mengabaikan perasaan hati atau intuisi tersebut. Banyak ibu dari si kembar mengatakan, mereka telah mengetahui sejak awal bahwa mereka mengandung bayi lebih dari satu.

2. Umumnya bila seorang wanita mengandung mempunyai tanda-tanda seperti kepala pusing, perut sebah/tidak enak nyaman, bahkan hingga muntah-muntah di pagi hari. Tapi jika mengandung lebih dari satu bayi, umumnya Anda akan lebih menderita, yaitu di pagi hari sampai malam. Bahkan sepanjang hari.

3.Gejala kehamilan lebih terasa dan dianggap terlalu dibesar-besarkan.
Banyak di antara calon ibu bayi kembar yang mengatakan, mereka merasa lebih tak nyaman, muntah-mual berlebihan, dan amat cepat lelah. Pokoknya, gejala kehamilannya "dahsyat" sehingga kerap dianggap terlalu mengada-ada oleh orang sekitar.

Padahal, semua itu disebabkan sirkulasi ekstra dari hormon dalam tubuh. Payudara menjadi sangat sensitif, lebih sering buang air kecil, merasa lapar sepanjang hari, dan merasa sangat lelah. Ketika usia kandungan mulai 6 bulan, mungkin akan mengalami sulit bernapas, perut terasa sangat berat, bengkak di tangan juga di kaki, berat badan naik sangat banyak (tidak normal), perut sangat besar, dan janin bergerak berlebihan. Umumya, ibu bayi kembar ini menderita anemia atau kadar zat besinya rendah.

4. Berat badan naik pesat di tiga bulan pertama kehamilan. Kenaikannya lebih tinggi dari rata-rata berat ibu hamil satu bayi. Gejala ini dapat disebut sebagai tanda pertama mengandung lebih dari satu bayi. Jika napsu makan baik, berarti tidak ada masalah, karena gizi yang baik sangat diperlukan janin dalam usia tiga bulan pertama kehamilan.

5. Ukuran kandungan besar untuk umurnya. Pada pemeriksaan pertama, dapat dikatakan bahwa perut lebih besar dibanding usia kandungan. Dokter mengatakan Anda hamil 8 minggu (dihitung dari saat terakhir mendapat haid) tapi jika dilihat dengan kasat mata, besar perut/kandungan seperti kehamilan berumur 10-12 minggu.

Jika keadaan seperti ini, biasanya dianjurkan untuk mengecek dengan alat USG untuk melihat ada berapa janin di dalam kandungan. Jika ternyata mengandung lebih dari satu bayi, ukuran kandungan akan terus berkembang lebih besar. Ibu yang mengandung satu bayi bisa mencapai 38-40 cm besar ketinggiannya, dimulai dari tulang pinggang, sedangkan untuk bayi kembar bisa mencapai 48 cm.

6. Kata dokter, AFP Anda tinggi. AFP adalah alpha fetoprotein protein yang dikeluarkan bayi pada waktu pertumbuhannya dan juga terdapat di dalam darah ibu. Protein ini dapat menjadi tinggi karena bayi lebih dari satu. Normal tes darah AFP dilakukan 16-18 minggu sesudah masa terakhir menstruasi . Tes ini kerap dipakai untuk mengetahui kehamilan kembar atau bukan.

7. Kata dokter, tingkat HCG (Human Chorionic Gonadotrophin) naik dengan sangat cepat. HCG adalah hormon yang menghasilkan telur yang dibuahi. Hormon ini dibutuhkan untuk menjaga kehamilan sampai plasenta berkembang. Hormon dapat dideteksi di dalam darah atau air seni walaupun sebelum Anda berhenti menstruasi.

Dalam kehamilan normal ( satu bayi), pemusatan darah HCG naik dengan cepat dalam 1 minggu kehamilan, berlipat ganda setiap 2 atau 3 hari. Tingkat HCG dapat menjadi lebih tinggi dengan adanya si bayi kembar.

8.Dari alat "pendengar", terdeteksi dua denyutan jantung . Dua denyut jantung dapat dibedakan dengan alat khusus yang dipakai dokter setelah kira-kira 12 minggu masa kehamilan. Sekitar kehamilan 28 minggu, sudah dapat dibedakan bila memang terdapat dua janin.

9.Dengan menggunakan USG, kehamilan kembar dapat lebih dipastikan. Alat ini akan menunjukkan/memperlihatkan adanya dua kantung kehamilan, dua janin, dan dua denyut jantung yang dapat dilihat 6 minggu sesudah hari pertama masa haid berakhir. Bahkan banyak bayi kembar bisa didiagnosa lebih cepat, sekitar 1-5 minggu setelah berhenti mendapat haid. 

Kamis, 26 April 2012

Penyebab dan Penanganan Kram Kaki


kram kakiKram kaki adalah nyeri akibat spasme otot di kaki yang timbul karena otot berkontraksi terlalu keras. Daerah yang paling sering kram adalah otot betis di bawah dan belakang lutut. Nyeri kram dapat berlangsung beberapa detik hingga menit dengan keparahan bervariasi.
Kram kaki biasanya terjadi saat kita beristirahat, bahkan mungkin sedang tidur. Orang tua lebih sering terkena kram daripada orang muda. Pada beberapa orang tua, kram bahkan bisa terjadi setiap hari.

Penyebab

Pada umumnya penyebab kram tidak diketahui (idiopatik). Sementara ahli berpendapat bahwa kram terjadi ketika otot yang sudah dalam posisi mengkerut dirangsang untuk kontraksi. Hal ini terjadi saat kita tidur dengan posisi dengkul setengah ditekuk, dan telapak kaki sedikit mengarah ke bawah. Pada posisi ini otot betis agak tertekuk dan mudah terkena kram. Itulah mengapa gerakan pelenturan sebelum tidur dapat mencegahnya.
Pada beberapa kasus, kram mungkin terjadi karena masalah atau kondisi lainnya, misalnya:
  • Beberapa jenis obat dapat memberikan efek samping berupa kram. Golongan obat ini antara lain: diuretik, nifedipine, cimetidine, salbutamol, statins, terbutaline, lithium, clofibrate, penicillamine, phenothiazines, dan nicotinic acid.
  • Dehidrasi
  • Ketidakseimbangan zat garam dalam darah (misalnya, kadar kalsium atau potasium terlalu rendah)
  • Kehamilan, terutama pada trimester akhir
  • Kelenjar tiroid yang kurang aktif
  • Penyempitan arteri kaki yang menghambat sirkulasi
  • Gangguan saraf
  • Sirosis hati
Pada kondisi di atas, kram hanyalah satu dari beberapa gejala lainnya. Bila tidak ada gejala lain, kemungkinan besar kram bersifat idiopatik dan bukan karena kondisi di atas.

Penanganan

Gerakan pelemasan (stretching) dan pemijatan biasanya dapat meredakan serangan kram. Obat pengurang sakit biasanya tidak bermanfaat karena tidak cukup cepat bekerja. Namun, pengurang sakit seperti paracetamol mungkin bermanfaat meringankan nyeri dan lemas otot yang kadang masih berlangsung hingga 24 jam setelah hilangnya kram.

Pencegahan

  • Beritahu dokter bila kram kemungkinan disebabkan oleh konsumsi salah satu obat di atas. Dokter dapat memberikan obat alternatif.
  • Minum setidaknya enam gelas penuh setiap hari, termasuk satu gelas sebelum tidur. Juga perbanyak minum sebelum, selama dan setelah berolah raga.
  • Konsumsi makanan yang kaya kalsium, potasium dan magnesium. Makan satu atau dua buah pisang sehari sudah cukup memenuhi kebutuhan potasium Anda.
  • Bila Anda sering mengalami kram saat tidur, lakukan gerakan pelemasan pada otot-otot betis sebelum tidur. Caranya adalah dengan berdiri sekitar 60-90 cm dari dinding, lalu condongkan badan ke arah dinding dengan telapak kaki tetap di tempat. Lakukanlah beberapa kali. Anda mungkin perlu beberapa hari melakukannya sampai efeknya terasa.
  • Tidurlah dengan posisi yang mencegah otot betis Anda tertekan tanpa disadari:
    • Gunakan bantal untuk menyangga telapak kaki saat Anda tidur telentang.
    • Bila Anda tidur tengkurap, posisikan telapak kaki menggantung di ujung kasur.
    • Usahakan selimut tetap longgar di bagian kaki agar jari-jari dan kaki telapak tidak menghadap ke bawah saat tidur.

    http://majalahkesehatan.com/penyebab-dan-penanganan-kram-kaki/

Kamis, 19 April 2012

posyandu lansia

Seiring dengan semakin meningkatnya populasi lansia, pemerintah telah merumuskan berbagai kebijakan pelayanan kesehatan usia lanjut ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kehidupan lansia untuk mencapai masa tua bahagia dan berdaya guna dalam kehidupan kelu-arga dan masyarakat sesuai dengan keberadaannya.
Sebagai wujud nyata pelayanan sosial dan kesehatan pada kelompok usia lanjut ini, pemerintah telah mencanangkan pelayanan pada lansia melalui beberapa jenjang. Pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat adalah Posyandu lansia, pelayanan kesehatan lansia tingkat dasar adalah Puskesmas, dan pelayanan kesehatan tingkat lanjutan adalah Rumah Sakit.

Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut di suatu wilayah tertentu yang sudah disepakati, yang digerakkan oleh masyarakat dimana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan Posyandu lansia merupakan pengembangan dari kebijakan pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi lansia yang penyelenggaraannya melalui program Puskesmas dengan melibatkan peran serta para lansia, keluarga, tokoh masyarakat dan organisasi sosial dalam penyelenggaraannya.

Tujuan Posyandu Lansia
Tujuan pembentukan posyandu lansia secara garis besar antara lain :
a. Meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan lansia di masyarakat, sehingga terbentuk pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan lansia
b. Mendekatkan pelayanan dan meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta dalam pelayanan kesehatan disamping meningkatkan komunikasi antara masyarakat usia lanjut.

Mekanisme Pelayanan Posyandu Lansia
Berbeda dengan posyandu balita yang terdapat sistem 5 meja, pelayanan yang diselenggarakan dalam posyandu lansia tergantung pada mekanisme dan kebijakan pelayanan kesehatan di suatu wilayah kabupaten maupun kota penyelenggara. Ada yang menyelenggarakan posyandu lansia sistem 5 meja seperti posyandu balita, ada juga hanya menggunakan sistem pelayanan 3 meja, dengan kegiatan sebagai berikut :
- Meja I : pendaftaran lansia, pengukuran dan penimbangan berat badan dan atau tinggi badan
- Meja II : Melakukan pencatatan berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh (IMT). Pelayanan kesehatan seperti pengobatan sederhana dan rujukan kasus juga dilakukan di meja II ini.
- Meja III : melakukan kegiatan penyuluhan atau konseling, disini juga bisa dilakukan pelayanan pojok gizi.

Kendala Pelaksanaan Posyandu Lansia
Beberapa kendala yang dihadapi lansia dalam mengikuti kegiatan posyandu antara lain :
a. Pengetahuan lansia yang rendah tentang manfaat posyandu.
Pengetahuan lansia akan manfaat posyandu ini dapat diperoleh dari pengalaman pribadi dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan menghadiri kegiatan posyandu, lansia akan mendapatkan penyuluhan tentang bagaimana cara hidup sehat dengan segala keterbatasan atau masalah kesehatan yang melekat pada mereka. Dengan pengalaman ini, pengetahuan lansia menjadi meningkat, yang menjadi dasar pembentukan sikap dan dapat mendorong minat atau motivasi mereka untuk selalu mengikuti kegiatan posyandu lansia
b. Jarak rumah dengan lokasi posyandu yang jauh atau sulit dijangkau
Jarak posyandu yang dekat akan membuat lansia mudah menjangkau posyandu tanpa harus mengalami kelelahan atau kecelakaan fisik karena penurunan daya tahan atau kekuatan fisik tubuh. Kemudahan dalam menjangkau lokasi posyandu ini berhubungan dengan faktor keamanan atau keselamatan bagi lansia. Jika lansia merasa aman atau merasa mudah untuk menjangkau lokasi posyandu tanpa harus menimbulkan kelelahan atau masalah yang lebih serius, maka hal ini dapat mendorong minat atau motivasi lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu. Dengan demikian, keamanan ini merupakan faktor eksternal dari terbentuknya motivasi untuk menghadiri posyandu lansia.
c. Kurangnya dukungan keluarga untuk mengantar maupun mengingatkan lansia untuk datang ke posyandu.
Dukungan keluarga sangat berperan dalam mendorong minat atau kesediaan lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu lansia. Keluarga bisa menjadi motivator kuat bagi lansia apabila selalu menyediakan diri untuk mendampingi atau mengantar lansia ke posyandu, mengingatkan lansia jika lupa jadwal posyandu, dan berusaha membantu mengatasi segala permasalahan bersama lansia.
d. Sikap yang kurang baik terhadap petugas posyandu.
Penilaian pribadi atau sikap yang baik terhadap petugas merupakan dasar atas kesiapan atau kesediaan lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu. Dengan sikap yang baik tersebut, lansia cenderung untuk selalu hadir atau mengikuti kegiatan yang diadakan di posyandu lansia. Hal ini dapat dipahami karena sikap seseorang adalah suatu cermin kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu obyek. Kesiapan merupakan kecenderungan potensial untuk bereaksi dengan cara-cara tertentu apabila individu dihadapkan pada stimulus yang menghendaki adanya suatu respons

Bentuk Pelayanan Posyandu Lansia
Pelayanan Kesehatan di Posyandu lanjut usia meliputi pemeriksaan Kesehatan fisik dan mental emosional yang dicatat dan dipantau dengan Kartu Menuju Sehat (KMS) untuk mengetahui lebih awal penyakit yang diderita (deteksi dini) atau ancaman masalah kesehatan yang dihadapi.
Jenis Pelayanan Kesehatan yang diberikan kepada usia lanjut di Posyandu Lansia seperti tercantum dalam situs Pemerintah Kota Jogjakarta adalah:
a. Pemeriksaan aktivitas kegiatan sehari-hari meliputi kegiatan dasar dalam kehidupan, seperti makan/minum, berjalan, mandi, berpakaian, naik turun tempat tidur, buang air besar/kecil dan sebagainya.
b. Pemeriksaan status mental. Pemeriksaan ini berhubungan dengan mental emosional dengan menggunakan pedoman metode 2 (dua ) menit.
c. Pemeriksaan status gizi melalui penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan dan dicatat pada grafik indeks masa tubuh (IMT).
d. Pengukuran tekanan darah menggunakan tensimeter dan stetoskop serta penghitungan denyut nadi selama satu menit.
e. Pemeriksaan hemoglobin menggunakan talquist, sahli atau cuprisulfat
f. Pemeriksaan adanya gula dalam air seni sebagai deteksi awal adanya penyakit gula (diabetes mellitus)
g. Pemeriksaan adanya zat putih telur (protein) dalam air seni sebagai deteksi awal adanya penyakit ginjal.
h. Pelaksanaan rujukan ke Puskesmas bilamana ada keluhan dan atau ditemukan kelainan pada pemeriksaan butir 1 hingga 7. dan
i. Penyuluhan Kesehatan.

Kegiatan lain yang dapat dilakukan sesuai kebutuhan dan kondisi setempat seperti Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dengan memperhatikan aspek kesehatan dan gizi lanjut usia dan kegiatan olah raga seperti senam lanjut usia, gerak jalan santai untuk meningkatkan kebugaran.

Untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan di Posyandu Lansia, dibutuhkan, sarana dan prasarana penunjang, yaitu: tempat kegiatan (gedung, ruangan atau tempat terbuka), meja dan kursi, alat tulis, buku pencatatan kegiatan, timbangan dewasa, meteran pengukuran tinggi badan, stetoskop, tensi meter, peralatan laboratorium sederhana, thermometer, Kartu Menuju Sehat (KMS) lansia
Powered by Blogger