Tampilkan postingan dengan label HIKMAH KISAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HIKMAH KISAH. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Juni 2013

(inspiratif) Kisah Nyata di Suatu Dauroh


Bismillaahirrohmaanirrohiim……..


Cerita ini saya (penulis) tulis adalah untuk memberikan ibroh kepada kita semua khususnya saya sendiri bahwa penderitaan dan kesusahahpayahan kita dalam menempuh jalan yang haq ini tidaklah seberapa, bahkan jika kita bandingkan dengan para salafushalih. Cerita yang saya ambil ini adalah kisah manusia di masa ini, dimana sangat langka dan sulit ditemui orang-orang yang memiliki ghiroh yang sama sepertinya dalam tholabul ‘ilm. Saya menuliskan cerita ini adalah berdasarkan sebuah kisah nyata, dimana kisah tersebut saya dengar sendiri oleh salah satu sumber (akhowat) terpercaya yang mengetahui kisah tersebut…wallahua’lam. Semoga kisah ini dapat memotivasi dan menginspirasi kita untuk lebih dapat bersemangat dalam menuntut ilmu syar’ie…Baarokallohufiikum……
 

Di suatu daerah terpencil, terdapat sepasang suami istri yang sangat zuhud….mereka belum dikaruniai seorang putra karena masih dikategorikan pengantin yang masih baru. Perlu diketahui sang suami adalah seorang yang sangat rajin menuntut ilmu, ia adalah seseorang yang memiliki semangat yang sangat luar biasa untuk memperoleh ilmu. Bahkan dahulu ketika ia ingin menikah, ia tidak mempunyai sepeser uang yang cukup untuk meminang seorang akhowat, dan akhirnya ia menghadap kepada salah seorang ustadz di ma’had yang saat itu ia belajar di sana hanya untuk meminta nasihat bagaimana ia dapat menikah. Ia sangat sadar bahwa dirinya tak tampan, dan tidak mapan dalam pekerjaan karena hampir masa mudanya dihabiskan di ma’had. Sang ustadz pun menghargai tekadnya dan pada akhirnya membiayai pernikahan lelaki tersebut.
 

Sang suami di masa mudanya adalah salah seorang murid yang diakui kepandaiannya di ma’hadnya. Beberapa rekan dan ustadz memujinya dalam hal keilmuannya. Suatu hari sang suami berniat ingin mendatangi suatu dauroh di luar kota. Karena ia belum memiliki pekerjaan yang tetap (masih serabutan-red-) maka ia dan istrinya memikirkan bagaimana caranya agar sang suami dapat pergi untuk mendatangi dauroh tersebut walau ekonomi mereka sangat pas-pasan. Jarak yang harus ditempuh sangatlah jauh, sehingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sedangkan penghasilan mereka untuk makan sehari-hari saja masih belum cukup. Sang suami bukanlah seorang yang malas dalam mencari nafkah, namun qadarallah....Allah telah menetapkan rezekinya hanya sedemikian. Walau demikian ia tetap bersemangat dalam menjalani hidupnya.
 

Suatu hari istrinya yang walhamdulillah sangat qona’ah dan juga zuhud, berinisiatif membongkar tabungan yang beberapa bulan ia kumpulkan di kotak penyimpanannya. Qaddarallah.....uang yang terkumpul hanya Rp 10.000,-. Bayangkan wahai pembaca,,,,bahkan mata ini ingin menangis ketika saya mengetik kisah ini....Dalam sehari kita bisa memegang uang puluhan ribu, ratusan ribu, bahkan mungkin hingga ada yang mencapai nominal jutaan...Dengan keistiqomahan dan kezuhudan sang istri tidak pernah mengeluh untuk mengumpulkan 100 perak (Rp 100,-) setiap keuntungan yang diperoleh suaminya yang tidak setiap hari ia dapatkan.....
 

Sang istri segera mengumpulkan uang tersebut dan berinisiatif untuk membuatkan bekal arem-arem (bahasa jawa), yaitu sejenis nasi kepal yang dibungkus daun pisang untuk bekal perjalanan suaminya. Hanya itu yang dapat sang istri berikan kepada suaminya sebagai wujud cinta dan kasih sayangnya....
Sang suami pun kemudian berangkat dengan membawa bekal dan do’a dari istrinya untuk menuntut ilmu....Ia pergi dengan berjalan kaki.....yah!! hanya berjalan kaki untuk menepuh jarak puluhan kilometer!!! (wallahua’lam) Karena ia tak membawa uang sepeserpun untuk bepergian...hanya beberapa buah arem-arem dan pakaian yang melekat di badannya yang ia bawa ke luar kota... Subhanallooh.....
 

Perjalanan ia tempuh 3 hari 3 malam dengan kedua kakinya tanpa kendaraan satupun....Akhirnya ia pun sampai di tempat dauroh dilaksanakan, hanya dengan berjalan kaki dan berteduh di tempat seadanya selama perjalanan.....
 

Dauroh akhirnya dimulai...selama dauroh ia sangat antusias untuk mengambil ilmu yang diterimanya, ia mengambil shaf paling depan dan dekat dengan ustadz pemateri. Namun beberapa saat kemudian ia mendapat teguran oleh seseorang di sampingnya karena setiap beberapa menit ia selalu meluruskan kakinya ketika materi berlangsung...hal itu tidak ia lakukan sekali-dua kali....namun hingga beberapa kali...hingga akhirnya orang disampingnya pun menegurnya karena menganggapnya tidak sopan....Hal itu ia lakukan karena kakinya terasa pegal selama 3 hari 3 malam berjalan kaki....Masyaa Alloh..
Saat istirahat pun tiba...ia berkumpul dengan ikhwan-ikhwan lain di dapur untuk membantu berbenah....ia pun akhirnya menceritakan kisah 3 hari 3 malamnya itu kepada salah seorang ikhwan di tempat tersebut..dan seketika membuat tercengang orang-orang yang mendengarnya.....Akhirnya cerita itu sampai ke telinga ustadz pemateri dauroh...Ustadz pun tercengang dengan kisah itu....dan akhirnya ustadz beserta ikhwan-ikhwan mengumpulkan dana sukarela untuk memberikan sumbangan kepadanya...dan terkumpulah uamg Rp 300.000,- sebagai dana bantuan untuk kepulangannya....
 

Subhanalloh...sebuah kisah yang mungkin sempat kita ragukan kebenarannya, tapi Insya Alloh ini kisah nyata.....Semoga kita dapat mengambil ibroh dari kisah ini....terakhir mari kita simak hadist berikut ini....
“Barang siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu agama, pasti Allah membuat mudah baginya jalan menuju surga” (HR Muslim)
Yahya bin Abi Katsir rahimahullahu ta’ala berkata, “Ilmu tidak akan diperoleh dengan tubuh yang dimanjakan (dengan santai/tidak bersungguh-sungguh).” (Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi I/385, no. 554)
Semoga cerita ini dapat menjadi pelajaran yang berharga bagi kita semua terkhususnya saya sebagai penulis.....Wallahua’lam bishowab....
Nb: Jika ada kekurangan penulisan maupun kekurangtepatan alur cerita dalam kisah ini...semua kesalahan dari penulis semata dan mohon untuk dimaklumi karena keterbatasan ingatan dan lain sebagaianya...karena kebenaran semuanya dari Alloh azza wa jalla semata..
 

repost: http://www.ikhwanmuslim.or.id                                                                                                                         

Kamis, 13 Juni 2013

(Renungan) Sebelum Kita Mengalami Sepenggal Kisah Ini...

  

  Sambil memegang pundak pemuda itu, Rosululloh bersabda "Hiduplah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau sekedar orang yang sedang menyeberang jalan." [Shohih, riwayat Al Bukhari]
     Rupanya Rosululloh  hendak memberitahu pemuda tersebut, agar tidak menjadikan dunia ini sebagai tempat tinggal. Pemuda itu adalah putra dari shohabat Beliau yang mulia, Umar bin Al Khoththob, Abdulloh bin Umar, bahwa dunia ini bukanlah tujuan. Dunia merupakan tempat kita sejenak singgah, dalam upaya mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya, dengan waktu yang sesingkat-singkatnya, menuju kehidupan abadi di kampung akhirat. Inilah dunia. Tempat yang ALLOH jadikan di mata manusia manis dan hijau, sehingga banyak orang yang tertipu dengannya.
    Lantas, apa yang seharusnya dilakukan manusia dalam kehidupan ini? Apakah kemudian dia tidak boleh menikmati selama hayat masih dikandung badan? Tentu saja boleh. Dunia dan seisinya ini ALLOH ciptakan untuk manusia. Dengannya ALLOH menguji, siapa saja mereka yang ingkar dan siapa saja mereka yang taat.
   Jika kita melihat saudara-saudara kita, banyak sekali waktu yang mereka buang sia-sia.Menonton tv sejak bangu tidur sampai hendak tidur kembali. Dan kadang-kadang di ranjang pun tiduran sambil menonton televisi.Sebentar-sebentar melebarkan mata, karena sudah mengantuk. Ya, waktu mereka hangus sia-sia.
   Rosululloh adalah teladan terbaik dalam memanfaatkan waktu. Beliau memberi bimbingan "Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara;[1]Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,[2]Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,[3]Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,[4]Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,[5]Hidupmu sebelum datang kematianmu.' [H.R. Al Hakim dalam mustadrak, dikatakan oleh Adz Dzahabi dalam At Talkhish bahwa sanadnya sesuai dengan syarat Al Bukhori dan Muslim. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Al Jami' Ash Shoghir]
   Maksudnya, perbanyaklah ketaatan, ketika dalam kondisi mampu untuk beramal. Sebelum badan lemah dan rapuh, datang masa tua renta. Semangatlah selama sehat. Saat badan ringan, segar, gesit, dan kuat, sebelum datang sakit yang menghalangi. Manfaatkanlah kesempatan luangmu, sebelum datang berbagai urusan yang menyita waktumu. Bersedekahlah dengan kelebihan hartamu sebelum datang bencana yang dapat merusak harta tersebut, sehingga akhirnya engkau menjadi fakir di dunia dan merugi di akhirat. Lakukanlah sesuatu yang bermanfaat untuk kehidupan sesudah matimu, karena setelah mati, akan terputus kesempatan untuk beramal.
   Saudaraku, masa muda, kesehatan, waktu luang, kekayaan dan kehidupan, seringnya baru terasa berharga setelah semuanya hilang dari kita. Oleh karenanya, selama ada kesempatan untuk beramal di dunia ini, gunakanlah sebaik-baiknya. Sesungguhnya malam dan siang adalah tempat persinggahan manusia, sampai dia berada pada akhir perjalanannya. Jika engkau mampu menyediakan bekal di setiap tempat persinggahanmu, maka lakukanlah. Berakhirnya safar boleh jadi dalam waktu dekat. Namun, perkara akhirat lebih cepat dari pada itu. Persiapkanlah perjalananmu menuju negeri akhirat. Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan. Tetapi ingat, kematian itu datangnya tiba-tiba. Dalam keadaan tidur atau maupun terjaga.
   Ingatlah, sebelum kita mengalami sepenggal kisah ini:
Dipanggil-panggil anak-anak kita, "Ayah...ayah..." Istri kita juga memanggil- manggil kita, "Suamiku...Suamiku..." Tapi kita hanya diam. Sungguh, kita sangat ingin menjawab panggilan mereka . Menghampiri dan memeluk erat mereka. Tapi tidak kuasa. Dan kemudian sirnalah harapan kita. Kita memohon-mohon kepada ALLOH. Dengan bahasa rahasia  kita, untuk kembali sebentar saja. Kembali bersama mereka. Bersujud, memohon ampun, dan memperbaiki masa lalu kita. Tetapi, tidak bisa. Karena jasad telah terpisah dari ruh. Karena dunia yang dahulu kita bertahan hidup di sana, kini tinggal kenangan pahit. Kaki- kaki kita tak lagi bisa menapak di bumi. Tubuh- tubuh mungil anak-anak kita tak lagi bisa kita raih. Canda tawa bersama istri tak lagi bisa dirasa. Kita sibuk. Dan kita gelisah luar biasa. Akan malam pertama. Di sebuah bilik kecil yang gulita. Dialah liang lahat, yang telah digali kerabat kita, menanti kedatangan penghuninya.
   Oh, alhamdulillah. Kita ternyata masih di sini. Bersama-sama keluarga dan saudara-saudara kita. Mudah-mudahan saja ALLOH selalu memperbaiki keadaan kita, dan segenap kaum muslimin yang membaca risalah kecil ini. Kita memohon kepada ALLOH, agar Dia senantiasa memberi kekuatan kepada kita untuk memanfaatkan waktu yang sisa dan tidak menyia-nyiakannya. Amin yaa mujibas saailii.

oleh: al akh Wahyu Eko Prastowo, tim majalah Tashfiyah, dengan perubahan judul.

Senin, 03 Juni 2013

Engkau Akan Menangis Jika Membacanya, Insya Allah


Oleh: Akhyar Hadi, Mahasiswa Univ. Islam Madinah angkatan 1433 H

Lelaki itu seperti lelaki tua biasa. Biasanya lelaki tua sepertinya ditemui di lambung Masjid Nabawi, sebagai jamaah umroh akibat terlalu lama menunggu giliran haji. Atau lelaki tua sepertinya ada di sawah, kelelahan mencangkul walau matahari baru naik setengah. Bisa juga lelaki sepertinya kita temui sedang duduk-duduk di teras sambil menghias pot bunga, membersihkan rumput, dan menanam pohon kecil di pekarangan. Atau, kalau kita menyaksikan berita banjir di TVRI, lelaki seperti ini biasanya diwawancarai karena terlambat mendapat jatah bantuan mie instan. Dia jenis lelaki yang mudah didapati. Lelaki tua yang biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Diusianya yang sudah memasuki kepala enam, wajar jika seluruh rambut di kepalanya memutih. Tiap-tiap helai itu adalah gambaran masalah yang dilaluinya, guratan-guratan kerut di wajahnya adalah lambang goresan waktu yang jemawa. Tangan kanan dan kirinya tak lagi sekuat dulu. Bahunya yang dulu kekar, kini mulai kurus dan membungkuk. Ototnya lemah. Kadang dia beristighfar sambil menarik napas panjang ketika lelah. Tapi kawan, matanya istimewa. Di situlah pusat gravitasi pesona dirinya. Matanya itu, sang jendela hati, adalah layar yang mempertontonkan jiwanya yang tak pernah kosong. Seseorang yang biasa kucium tangannya. Ayah, kupanggil ia.

Ayahku adalah ayah pada umumnya. Ayah yang ketika aku kecil, menyediakan tempat duduk istimewa untukku saat karnaval kota malam Idul Fitri. Dia mendudukkanku di bahunya, digenggamnya erat kakiku agar nyaman saat duduk. Tak ia pedulikan karnaval itu. Karena tawaku adalah karnaval baginya. Bahagiaku adalah iringan semangat hidupnya.

Aku juga masih kecil saat itu. Ayah hanya seorang supir truk batubara di pedalaman Kalimantan. Bekerja selepas Isya lalu pulang sehabis Shubuh. Ayah adalah lelaki pendiam, tak banyak bicara. Tak suka memukul. Tak pandai ia marah. Walau begitu, ayah adalah tolak ukur tindakan bagiku, contoh hidup tingkah laku. Tak pernah ia cerewet menyuruhku salat. Ia hanya mengerjakan, lalu mengajakku bersamanya. Sesederhana itu, Kawan. Ia juga sangat ingin aku sering-sering membaca Al-Quran, walau tak pernah ia menyuruh. Walau tak pernah ia mencontohkan cara membaca Al-Quran. Kau tahu kenapa, Kawan? Karena kutahu, ia pun terbata membacanya.

Biasanya aku menghabiskan waktu bersama ayahku tiap akhir pekan. Aku senang berada di bak truk besarnya. Beliau duduk bersamaku sambil bercerita. Tentang para pahlawan, tentang panorama-panorama, bintang dan planet-planetnya, tentang semesta, juga tentang kota-kota yang pernah disinggahinya. Dia senang bercerita tentang banyak kota, dan aku tahu kota impiannya adalah Mekkah dan Madinah. Jauh, jauh di lubuk hatinya ia mendambakan kota itu melebihi kota manapun di dunia. Walau dia tak mengatakannya langsung, tapi aku tahu dengan sendirinya, seolah ada bahasa lain selain bahasa lisan, bahasa yang dijalin antara seorang anak dan ayahnya dari hati ke hati.

“Ayah ingin sekali pergi haji.”
Begitu kiranya jika kata itu diucapkan.

Aku masih muda, sedang ayah menua. Semenjak krisis ekonomi, harga batubara anjlok. Ayah dengan setumpuk masalah keuangan yang menimpanya bangkrut. Truk besar tua kami mogok. Rusak. Sekarat. Seolah bosan terlalu lama memikul bongkahan-bongkahan batu hitam langka. Tak bisa lagi diperbaiki karena tak ada biaya. Ayah tak bisa lagi bekerja. Ayah menganggur bertahun-tahun lamanya.

Ayah pun sekarang menikmati masa tuanya dengan belajar banyak dari agama. Sering pergi ke kajian-kajian ilmiah. Rajin ia membaca. Berlama-lama dengan kumpulan buku dan majalahnya. Jiwa tua itu masih sangat antusias. Sesuatu yang tak ia dapat selagi muda. Matanya, iya matanya, selalu membulat ketika menjelaskan kalau bid’ah itu semuanya sesat. Walau kata-katanya sedikit, aku dibuatnya percaya kalau semua kesesatan itu tempatnya di neraka. Dia juga orang paling mengamati tiap senti celana. Dijaganya agar aku tak menjulurkan pakaian melebihi batasnya. Ayah sangat senang pergi ke masjid. Tak pernah absen ia ke sana. Tubuh tuanya itu mendadak kuat jika berjalan sebelum waktu Shubuh yang dingin, dan jika ia pergi ke masjid sebelum Maghrib, maka ia akan datang ke rumah setelah Isya. Dengan kaki-kaki tuanya. Hampir satu kilometer jauhnya.

Setelah lulus sekolah menengah atas di sebuah kota di Banjarmasin, aku merantau belajar menjadi mekanik handphone dan komputer di tempat pamanku, di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Setelah setahun di sana dan merasa punya skill, aku kembali ke Banjarmasin dengan tujuan bisa kuliah sambil membuka sebuah toko service handphone dan komputer. Aku mulai membeli alat-alat service, juga iklan di sana-sini. Mendadak, aku terkenal dengan julukan tukang handphone. Aku menjalankan bisnis ini pelan-pelan, dari pintu ke pintu. Mulai dari keluarga sampai orang-orang di sekitarku. Pelangganku pun bermacam-macam, Kawan. Dari tukang kambing, pedagang asongan, pengangguran, ustadz, ibu rumah tangga, sampai mahasiswa. Kau tahu, Kawan, kenapa mereka senang aku memperbaiki telepon tangan mereka? Jawabannya adalah karena mereka bisa menentukan garansi semau mereka.

Namun hari itu, Kawan, hari itu adalah hari aku bersama ayah pergi ke sebuah majelis taklim, di mana setelah memberikan tausiyah, seorang ustadz menawarkan beasiswa bagi lulusan SMA yang ingin menghafal Al-Quran di Bogor. Ayah menunduk. Didengarnya iklan itu dengan seksama. Aku melihat matanya.
“Ayo kita pulang, Yar.”

Mata teduhnya tak bisa mengecohku. Sembilan belas tahun menjadi anaknya tentu aku mengerti maksudnya.
Ia ingin Aku lebih baik darinya. Bisa membaca Al-Quran dengan sempurna. Tak seperti dirinya yang terbata.

Namun tak bisa ia meminta. Ia masih tak banyak bicara.

“Saya mendaftar beasiswa itu, Yah. Kalau diterima Saya langsung berangkat ke Bogor.”
Kulihat matanya membulat. Wajahnya berseri seketika.Walau tanpa kata, namun ada senyum di sana. Bagiku, melihatnya tersenyum adalah sebuah harta.
...
Dan akhirnya aku benar-benar mendapatkan beasiswa itu. Walau aku tahu, aku sebenarnya tidak bisa membaca Al-Quran dengan baik, setidaknya aku akan berusaha. Setidaknya aku akan belajar untuk membuatnya bangga. Aku ingin mengajarinya, membaca Al-Quran bersamanya. Walau aku sadar, Aku hanya seorang tukang service handphone. Tapi Kawan, bukankah Syaikh Albani yang nama beliau sering kujumpai di buku dan majalah ayahku juga pernah menjadi seorang mekanik jam?

Hari itu aku meninggalkannya merantau lagi ke pulau Jawa. Setelah mencium tangannya, aku memeluknya. Hangat sekali peluknya, seperti selimut bagi seorang gelandangan kota Malang yang kedinginan. Jam dua malam.

“Hati-hati, Yar.”

Ia masih tak banyak berkata. Namun pelukannya itu bermakna. Nasihatnya mengandung harapan besar. Harapan agar anaknya bernasib lebih baik darinya. Dan begitulah seorang ayah seharusnya.

Aku merantau, menuju pulau Jawa. Tak muluk aku ingin jadi orang yang hafal Al-Quran, bagiku bisa membaca Al-Quran dengan baik saja sudah lebih dari cukup. Mungkin bisa menjadi imam di kampung saat tarawih dengan ayahku menjadi makmum saja, aku sudah sangat bahagia. Karena aku telah berjanji membuatnya bangga. Tapi karena Allah, tetap menjadi niat yang utama.

Musim-musim berganti, setiap tahun aku pulang sekali. Mengunjungi ayah yang kurindui setiap hari. Ayahku adalah anak keenam dari empat belas bersaudara. Semuanya kaya raya kecuali dia, semua sudah naik haji kecuali dia.

Kini, setelah ia tak lagi memiliki perkerjaan, harapannya untuk naik haji hilang pelan-pelan. Namun bukan ayah namanya jika kehilangan semangatnya, dengan sedikit uangnya ia ikut mencicil TV kabel berlangganan, yang mana dibayar urunan beberapa keluarga dalam satu perumahan. Dengan TV tabung tahun 1998, dicarinya channel Mekkah dan Madinah. Di saat ia tidak berada di masjid, maka acara dua stasiun TV Arab Saudi itulah teman kesukaannya. Ia senang memonton sambil bersandar pada sebuah kursi. Jika ia bosan dengan siaran di Mekkah, maka digantinya ke siaran stasiun Madinah, jika bosan lagi, maka akan kembali ke stasiun semula. Terus berpindah seperti itu. Layaknya metromini jurusan Blok M-Pasar Minggu yang tak singgah ke terminal lain. Jika si tukang kameramen mengambil gambar Masjid Nabawi, lalu menyorot karpet hijau antara mimbar dan makam Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam, maka bibirnya bergerak, seolah ia sedang meminta, berharap agar doanya diterima. Lain lagi jika sang kameramen menyorot ka’bah, maka ayah bangun dari sandarannya, dipasangnya kacamatanya agar tak samar pandangannya, seolah ia membayangkan dirinya berada di sana lalu mengitari rumah tua itu dengan bahagianya. Dipandangnya ka’bah dan beberapa bagian Masjidil Harom dengan haru, lalu diliriknya wajahku, seolah berkata,

“Kau lihat, Yar.. itu prosesi umroh. Lihat Yar! Lihat Baitullah, itu kiblat kita. Tahukah engkau, Anakku, Ayah sangat ingin ke sana. Ayah ingin mencium hajar aswad, Ayah ingin berlari-lari kecil seperti orang di Shafa dan Marwa itu, Yar.. Lihat! ”

Aku kelu. Pria pendiam ini juga menyimpan cita-citanya dalam diam.

Yang membuat pilu di hatiku semakin ngilu adalah ketika melihatnya di masjid bergaul dengan teman-teman seumurannya yang semuanya juga sudah pernah menunaikan ibadah haji. Adalah adat di kampung kami bahwa sebuah pemuliaan panggil memanggil dengan sebutan “haji”. Teman-temannya kadang memanggil ayah dengan sebutan haji hanya untuk memuliakan ayah yang umurnya terlihat lebih tua dari mereka. Aku mafhum, ayah kelu di hatinya. Ingin ia seperti teman-temannya. Panggilan itu hanya fatamorgana untuknya. Seperti melihat air di aspal nun jauh, semu, tak ada apa-apa.

Pernah suatu hari ayah menolong seseorang di jalan. Orang itu berterima kasih sembari mendoakan,
“Terimakasih, Pak. Semoga Bapak cepat naik haji,” lirihnya.

Hari itu aku melihat ayahku tersenyum. Senyum itu, Kawan, senyum itu begitu dalam maknanya, untukku dan untuknya. Untuknya karena doa itu masuk ke hatinya lalu ia berharap agar di-ijabah Tuhan pemilik timur dan barat. Untukku, karena aku ingin sekali melihat ayahku tersenyum lagi, seperti hari ini, aku ingin sekali ayah pergi ke rumah Allah. Tuhan pemilik arah kiblat.

Di tengah perantauanku di Pulau Jawa. Setelah berganti-ganti pondok tahfizh beberapa kali, aku bermukim di Jogja. Hari itu, aku menelpon ayah, mengabari bahwa ada tes penerimaan mahasiswa baru Universitas Islam Madinah. Pria tua itu terperanjat. Lalu membanjiriku dengan kata. Bercerita ia, tiap detail katanya adalah semangat dan intonasinya berupa letupan-letupan motivasi. Ia laksana merapi yang menumpahkan seluruh larva. Mencurahkan apa yang ia rasa. Ia berjanji akan memberiku apapun yang kuperlukan untuk bisa ikut tes perguruan tinggi yang ia katakan sebagai universitas Islam terbaik di dunia. Aku pun terperanjat. Ganjil sekali, seolah itu bukan ayahku yang pendiam.

Dan yang paling membuatku haru adalah ketika ia berkata, “Jangan pikirkan masalah uang, Nak, jangan pikirkan. Ayah yang akan mencarikan. Insya Allah.”

Terisak ia.

Kau tahu, Kawan, ayahku sekarang hanya supir ambulan sebuah masjid, itu pun terkadang. Tak setiap hari ia dapat uang. Ia berjanji akan menyisipkan namaku dalam setiap doanya, di sepertiga malamnya. Setiap harinya.

Hari itu dua puluh dua tahun usiaku. Berada di pedalaman Jawa selepas salat Shubuh. Aku bersama dua orang temanku, Isnan dan Mukhroji. Kami baru saja mengikuti tes masuk Universitas Islam Madinah di Pondok Pesantren Darussalam, Gontor, Ponorogo. Kami memutuskan pulang setelah Shubuh. Nahas, pedalaman Ponorogo itu bukanlah Bogor yang angkot bisa lewat 24 jam. Kami menunggu sampai matahari meninggi. Berharap ada tumpangan transportasi.

Mukhroji cemas, ia harus secepatnya sampai ke Tegal karena ada suatu urusan keluarga. Berkali-kali pemuda tinggi ini menoleh ke sana-kemari berharap angkutan pedesaan segera datang. Sebentar duduk, ia bangkit berdiri, lalu menoleh lagi. Kawanku ini mungkin mendapat musykil yang berat dalam keluarganya. Lain lagi si Isnan, pemuda ramah asal Klaten ini ingin cepat pulang karena hampir setiap hari di sini ia memakan pecel khas Jawa Timur. Yang mana efek sampingnya adalah bosan, tak selera makan, dan sedikit mengganggu pencernaan. Pemuda terakhir, yaitu Aku, dengan alasan yang sama dengan Isnan. Karena kami membeli makanan secara patungan. Di pagi itu, kami menunggu dengan kumpulan rasa bosan.

Namun di ujung jalan, sayup-sayup bayangan kecil muncul, membesar dan kian dekat dengan tiga orang malang tadi. Bayangan itu menjadi nyata berupa sebuah mobil besar, gagah, dan nyaring bunyinya. Sebuah truk. Namun wajah dua temanku datar. Berbeda denganku yang sumringah tiap melihat sebuah truk. Kulambaikan tangan, girang aku. Berteriak-teriak seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat ayunan di sebuah taman bermain.

Truk itu berhenti. Aku membuka pintu. Seorang pria di sana. Tak terlalu muda. Kutaksir empat puluhan umurnya. Pandangan matanya, seolah sudah tahu sebelumnya bahwa tiga orang di pinggir jalan itu hanya akan merepotkannya. Wajahnya sangar. Mimiknya kasar. Otot-otot badannya besar. Ia mirip tukang pukul seorang pejabat yang baru saja dilantik menjadi bupati.

Namun semua itu mencair ketika aku menatap matanya. Seolah ia melihat sesuatu di wajahku. Wajah yang seolah bicara. Berbicara bahwa ayahku adalah supir truk seperti dirinya. Dia pun seolah mengerti apa yang kubahasakan lewat wajah. Mungkin ada bahasa yang kurasa hanya aku dan para supir-supir truk saja yang memahaminya. Atau mungkin juga karena wajahku memelas dengan sempurna.

“Naiklah!” Ia langsung ramah. Entah kemana si tukang pukul bupati ini menaruh mimik seram yang diperagakannya sebelumnya.

Isnan dan Mukhroji naik dan duduk disamping sang supir. Hanya bisa untuk dua orang tempat duduknya. Aku? Ah, Kawan, aku mencari tempat favoritku. Menaiki bak truk itu. Bak itu hanya persegi panjang dari besi dengan sisa-sisa pasir berhamburan, melayang dan berputar terbawa angin. Aku duduk di sana. Hening. Bergoyang-goyang di jalan pedesaan yang bergelombang. Aku melamun. Di sana seolah ada lorong waktu yang membawaku jauh. Jauh ke masa lalu. Ke masa kecilku. Bersama ayahku di sebuah bak truk. Aku melihat ia bercerita. Aku mendengar intonasi khasnya. Aku mendengar suara kecilku tertawa. Aku merasa tubuh kecilku digendongnya. Wajah mudanya masih kuingat dalam pikiranku. Sesekali ia bercerita sambil mengusap rambut ikalku. Aku terbuai fantasi. Indah sekali.

Lorong waktu itu lalu mengembalikanku ke dunia nyata. Aku sendiri di sini merindukannya. Dalam sebuah bak truk dengan sisa-sisa pasir di dalamnya. Mataku sakit diserang butiran-butiran pasir yang melayang dalam pusaran angin di bak. Tapi bukan itu alasanku untuk meneteskan air mata. Air itu jatuh karena aku rindu pada ayah. Rindu tak terkira.
...
Beberapa musim berganti dengan cepatnya. Banyak hal-hal yang tak pernah kita kira dan kita duga. Sebuah doa melesat ke langit dan dijawab oleh Tuhan Pemilik Semesta. Aku akhirnya diterima. Aku dapat beasiswa ke Madinah. Lagi-lagi aku merantau jauh meninggalkan seorang lelaki tua. Sebelum pergi aku memeluknya. Ia kembali menjadi dirinya yang tak banyak berkata. Tapi aku tahu, pelukan itu sudah mengatakan semuanya. Bahwa ia bangga. Ia bangga anaknya bisa ke kota impiannya. Kota yang sering ia ceritakan. Bahwa ia pun rela jika seandainya tak pernah bisa ke Madinah, asal anaknya bisa. Anaknya bisa lebih baik darinya. Bisa berangkat haji. Bisa salat dengan ganjaran ribuan kali. Lalu kudengar kata keluar dari mulutnya, pujian untuk Ilahi Robbi.

Hari ini, di mana aku berdiri, di kota yang mulia ini, adalah giliranku yang berusaha berbuat untuknya. Aku masuk dalam program persiapan bahasa, dua tahun lamanya, sebelum bisa kuliah di salah satu jurusan yang tersedia. Berada di sini adalah level terendah seorang mahasiswa. Aku di sini adalah gabungan antara kejahilan bahasa dan keberuntungan bisa berada di sini semakin lama.

Kau tahu, Kawan, Kau bisa saja merendahkanku karena hinanya aku di mata kalian, kita berbeda, Kawan. Aku masih memiliki ayah yang harus kubahagiakan. Tiap uang yang kuterima kusisihkan, tiap lantunan doa kuselipkan. Aku ingin pergi haji bersama ayahku. Aku ingin mengitari ka’bah bersamanya. Menuntunnya. Berlari kecil di sampingnya antara Shafa dan Marwa. Aku ingin membimbingnya. Aku ingin suatu hari ia melihatku berada di kampus kita, yang ia sangka terbaik di dunia. Aku ingin ia tahu kalau aku sudah bisa membaca Al-Quran di Masjid Nabawi. Aku ingin memanjatkan doa bersamanya di Raudhoh. Ingin kuceritakan ia tentang seluk beluk kota ini, kota impiannya. Seperti ia menceritakan padaku ketika aku kecil.
Kapankah itu? Entahlah, Kawan. Entahlah kapan. Aku hanya ingin melihatnya tersenyum lagi. Tersenyum saat pergi haji.

Ayahku adalah lelaki tua seperti biasanya. Lelaki sepertinya bisa kita jumpai di mana saja. Tapi bagiku, ayah adalah lelaki istimewa. Aku bertahan di sini menunggunya. Menunggu keajaiban Tuhan untuknya. Akan tibakah saatnya?

Ini adalah cerita sederhana sebuah kata. Kata yang kita semua memilikinya. Entah kita masih memilikinya, atau telah tiada.

‘Ayah.’

 repost: http://irgimnur.blogspot.com

PENANTIAN SEORANG ISTRI SELAMA 10 TAHUN




Kisah ini diceritakan sendiri oleh pelakunya, yang dimuat di koranAl-Yaum. Dia berkata, “Saya menikah ketika usia saya menginjak 21 tahun, di awal Sya’ban pada tahun 1411 H. Seperti wanita muda yang siap menikah dan mengarungi hidup baru, saya bersatu dengan suami saya diliputi banyak impian. Yang paling penting adalah impian menjadi ibu. Bulan-bulan berlalu, dinaungi perasaan bahagia dan penantian, penantian terwujudnya impian terpenting bagi suami-istri, yakni kehadiran seorang anak yang menebarkan kebahagiaan dan keceriaan di penjuru rumah. Tetapi penantian itu berlang­sung lama, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Dan semakin lebarlah lingkaran penantian. Orang-orang di sekitar mulai ikut serta dalam penantian kami, yang justru semakin mempersulit keadaan.

Dalam pandangan sebagian orang saya menjadi tertuduh. sebagian lain menganggap saya sebagai wanita yang patut dikasihani, sehingga mereka menjauhi pembicaraan tentang topik apapun yang berkaitan dengan masalah ini secara berlebihan. Yang lebih menyulitkan adalah sikap sebagian orang yang menganggap saya sebagai wanita pendengki. Salah seorang tetangga tidak memberitahukan kehamilannya kepada saya. Yang lain tidak menampakkan anak-anaknya di depan saya, takut dari pandangan mata saya yang mendengki. Semua itu menjadikan saya seorang wanita yang terkucil.
Hal ini semakin menambah kesendirian dan keterasingan saya. Perjalanan pengobatan dimulai sejak 6 bulan setelah pernikahan. Saya menghayalkan seorang anak yang berlarian di setup sudut rumah. Saya membayangkan bermain dengannya di satu waktu, atau dia menggoda saya dengan kebandelannya di lain waktu.
Setelah menunggu selama 7 tahun, saya dihinggapi keputusasaan. Sava menyerah dan meninggalkan pengobatan. Saya berhenti mondar-mandir dari satu dokter ke dokter lainnya. Tetapi Suami saya tidak menyetujui sikap saya. Dia memperingatkan saya agar tidak berputus asa dari rahmat Allah.
Suami saya mempunyai perhatian dan kasih sayang yang besar. Saya telah menawarkan kepadanya untuk menikah, tetapi dia menolak seraya berkata, “Menikah itu memberi dan menerima. Kedua belah pihak menanggung untung dan rugi.”
Suatu saat ketika saya berkonsultasi secara rutin dengan seorang dokter wanita, dokter itu meminta melakukan beberapa pemeriksaan. Dia membawa saya kc ruang USG. Selang lima menit dari pemeriksaan, dokter itu tiba-tiba melompat dari tempat duduknya, merangkul dan mencium saya sambil menangis, berulang-ulang dia berucap, “Kembar, kembar. Hamil kembar.” Suami saya bergegas masuk ke ruangan tersebut sambil bertanya-tanya, “Apakah berita ini khusus untuk istri saya? Apakah yang muncul di layar monitor itu benarbenar janin saya? Tolong dicek ulang!”
Itulah ucapan terakhir yang saya dengar sebelum saya pingsan. Ketika sadar saya telah bcrada di suatu ruang peristirahatan di rumah sakit. Suami, bapak dan ibu mertua sava berada di sekeliling saya mengucapkan selamat atas kehamilan saya.
Sava keluar dari rumah sakit setelah dua hari menginap. Kebahagiaan dn keceriaan menyelimuti diri saya. Akan tetapi hari-hari panjang, Sembilan tahun masa pengobatan menjadi lebih pendek bagi saya daripada satu hari dari hari-hari kehamilan untuk menunggu kelahiran anak-anak saya. Setelah kehamilan saya berusia dua setengah bulan, tiba-tiba terjadi pendarahan . Setelah dicek ke dokter, dikatakan bahwa kehamilan saya tidak bisa diteruskan. Janin telah wafat dan rahim harus dibersihkan.
Percayalah saya tidak bersedih. Saya justru bersyukur kepada Allah karena saya pernah mengalami dan merasakan hamil. Ya, sebagai wanita saya pernah hamil! Lima bulan setelah keguguran, saya kembali lagi ke dokter karena perut saya sakit seperti sakitnya orang hamil. Tiba-tiba dia menyampaikan bahwa saya hamil tujuh bulan dan bahwa satu dari janin yang kembar ditakdirkan Allah untuk hidup. Dokter menyampaikan hal itu sementara dia hampir-hampir tidak percaya, terlebih saya sendiri. Setelah proses keguguran saya telah puas pernah hamil, sebagaimana yang dulu saya katakan. “Subbanallah, ya Allah betapa besar kekuasaan-Mu.”
Saya menulis kalimat-kalimat ini dan saya masih berada di ruang perawatan di rumah sakit. Di samping saya, ada Muhammad anak saya, usianya sekarang 22 jam. “Wahai putraku, betapa lama aku merindukanmu, rumah kita, sudut-sudutnya merindukan kedatanganmu. la merindukanmu. Aku akan meletakkanmu dihatiku, membawamu ke rumah kami, di mana aku melihatmu bermain, tumbuh besar selama masa penantian panjang selama sepuluh tahun. Tetapi kali ini kamulah yang harus bersabar, tunggulah ayahmu pulang dari umrah. Dia bersyukur dan memuji Allah atas karunia-Nya dan nikmat-Nya kepada kita.”

Sumber: Buku ”Dan Datanglah Kemudahan…”, Ahmas Salim Baduwailan, Hal.43-47

(MASUK ISLAMNYA SI PEMBUAT FILM FITNA) SEKARANG DIA MEMELUK ISLAM


Masuk Islamnya Arnoud Van Doorn membuat Belanda gempar. Pasalnya, Van Doorn adalah teman Geert Wilder sekaligus mantan Wakil Ketua Partai Kebebasan (PVV). Geert Wilders dikenal luas sebagai politisi anti-Islam yang pernah membuat film Fitnapada 2008 lalu. Sedangkan PPV yang didirikannya juga dikenal sebagai partai politik berhaluan liberal yang menentang Islam. Apa alasan Van Doorn masuk Islam dan bagaimana ia mendapatkan hidayah? Berikut ini kisahnya:
Arnoud Van Doorn bukanlah nama baru dalam jagat perpolitikan Belanda. Ia aktif di PVV, bahkan menjadi salah satu pucuk pimpinan sebagai Wakil Ketua. Tetapi justru itulah yang mengusik hatinya. Mengapa partainya selalu memusuhi Islam? Rasa penasaran Van Doorn terhadap Islam semakin tak terbendung, hingga ia pun mulai mempelajari apa itu Islam yang sebenarnya.
“Saya benar-benar mulai memperdalam pengetahuan saya tentang Islam karena penasaran,” kata Van Doorn mengenang awal mula hidayah Islam menghampirinya.
Rasa penasaran itu membuat Van Doorn mencari terjemah Al-Qur’an, hadits, dan buku-buku referensi Islam. Hari demi hari berikutnya ia lalui dengan membaca dan mengkaji buku-buku itu satu per satu, tanpa meninggalkan aktifitasnya yang lain. Selama ini Van Doorn hanya tahu Islam dari perkataan orang-orang yang membencinya.
Orang-orang yang dekat dengan Van Doorn sebenarnya tahu bahwa Van Doorn membaca referensi Islam, tetapi agaknya mereka tidak sampai berpikir bahwa itu akan menjadi jalan hidayah bagi Van Doorn. Karena lazim dalam dunia mereka, mengkaji sebuah pemikiran atau suatu faham tanpa harus mempercayai dan mengikutinya. Bahkan, tidak sedikit orang yang mempelajari Islam untuk kemudian menyerangnya.
Van Dorn menghabiskan waktu hampir setahun untuk mengkaji Qur’an, Sunnah dan sejumlah referensi Islam tersebut. Ia juga menyempatkan berdialog dengan penganut Islam untuk mengetahui lebih jauh tentang agama yang menarik hatinya tersebut.
“Orang-orang di sekitar saya tahu bahwa saya telah aktif meneliti Qur’an, sunnah dan tulisan-tulisan lain selama hampir setahun ini. Selain itu, saya juga telah banyak melakukan percakapan dengan Muslimin tentang agama,” ujar Doorn kepada televisi Al-Jazirah Inggris.
Semakin lama mempelajari Islam, Van Doorn semakin tertarik. Ia mulai merasakan Islam sebagai sesuatu yang spesial. Meskipun sebelumnya ia juga memiliki pondasi Kristen sebagai agamanya, Van Doorn merasakan Islam itu istimewa.
Apa yang selama ini ada dalam kepalanya bahwa Islam itu fanatik, menindas wanita, tidak toleran, membabi buta memusuhi Barat, perlahan hilang dari pikirannya. Van Doorn menemukan Islam sebagai sesuatu yang sama sekali berbeda dari apa yang pernah ia sangka.
Van Doorn juga menemukan, Islam adalah agama yang cinta damai. Tidak seperti tuduhan media Barat yang selama ini mencitrakan Islam sebagai teroris.
“99 persen kaum muslimin adalah pekerja keras dan pecinta damai. Jika lebih banyak orang mempelajari Islam yang benar, semakin banyak orang yang akan melihat keindahan itu,” kata Van Doorn ketika diwawancarai oleh MNA.
Jalan hidayah bagi Van Doorn semakin terbuka lebar ketika bertemu dengan seorang Muslim bernama Aboe Khoulani, seorang rekannya yang menjabat di Dewan Kota Den Haag. Selain menjelaskan Islam lebih jauh, ia juga menghubungkan Van Doorn dengan Masjid As-Soennah.
Puncak “pertarungan batin” dialami Van Doorn beberapa waktu kemudian. Apakah ia akan mengikuti hidayah yang diamini oleh fitrahnya itu atau sebatas menjadikannya sebagai pengetahuan. Beruntung, saat-saat itu tidak berlarut-larut. Setelah mantap dengan Islam, Van Doorn pun mengikrarkan syahadat. Ia pun menjadi Muslim dan menjadi saudara bagi sekitar 1,9 milyar umat. Tetapi bagi partai dan pengikutnya, Van Doorn dicap “pengkhianat.”
Ket: Foto beliau tatkala sedang shalat di Ar Raudhah (Masjid an Nabawi Madinah)
Sumber:

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/03/18/mjt3rm-arnoud-van-doorn-tokoh-partai-antiislam-pun-bersyahadat-bagian3-habis

Minggu, 02 Juni 2013

(Tragis Dan Haru) Menghitung Hari di atas Ranjang Kematian


 

Seorang wanita itu menuliskan kisah hidupnya dengan tangannya sendiri. Ia menuturkan:
Tiada satu hari pun berlalu tanpa tangisanku. Dalam setiap hari yang aku jalani, berkali-kali terlintas dalam pikiranku untuk bunuh diri.
Hidup ini sudah tiada artinya lagi bagiku. Aku selalu mengangankan hadirnya maut setiap saat. Duh, seandainya aku tidak pernah dilahirkan, dan tidak mengenal dunia ini….
Kisahnya bermula bersama seorang teman wanitaku. Pada suatu hari, ia mengajakku ke rumahnya, sedangkan ia termasuk orang yang sering menggunakan internet. Terdoronglah aku untuk tahu dunia internet.
Maka ia mengajariku bagaimana menggunakannya. Semua itu berlangsung selama hampir dua bulan, di mana aku mulai sering mengunjungi temanku itu.
Aku belajar darinya program chatting dengan berbagai fasilitasnya. Aku juga belajar cara membuka serta mencari situs-situs yang baik maupun yang buruk.
Di sela-sela masa dua bulan tersebut aku selalu bertengkar dengan suamiku, karena aku ingin ia menyediakan internet di rumah. Ia menentang keinginanku itu, hingga aku meyakinkannya bahwa aku sangat jenuh tinggal di rumah, sementara kami tinggal jauh dari keluarga.
Aku pun mengemukakan alasan bahwa seluruh teman-teman perempuanku menggunakan internet, lalu mengapa aku tidak menggunakannya dan berkomunikasi dengan mereka lewat internet, sebab ia lebih murah dari pada pesawat telepon.
Akhirnya suamiku setuju. Duh, padahal seandainya ia tidak setuju saja!
Jadilah setiap hari aku berkomunikasi dengan teman-teman wanitaku, dan setelah itu suamiku tidak lagi mendengar keluhan dan tuntutan dariku. Ia pun mengakui bahwa ia merasa terbebas dari ocehan dan keluhan-keluhanku.
Setiap kali suamiku keluar rumah, aku membuka internet dengan segenap nafsu hingga serasa bagaikan orang gila saja. Aku bisa duduk sampai berjam-jam.
Mulailah aku berharap suamiku sering-sering tidak berada di rumah. Aku mencintai suamiku, dan ia tidak pernah mengurangi hak-hakku, meski kondisinya secara materi tidaklah sebaik saudara-saudara perempuan dan teman-teman wanitaku. Namun demikian ia terus berusaha untuk membahagiakanku dengan cara apapun.
Seiring berjalannya waktu, internet semakin mengombang-ambingku dalam suatu kebahagiaan tersendiri. Jadilah aku enggan untuk menjenguk keluargaku, padahal sebelumnya setiap dua pekan sekali kami pergi mengunjungi keluargaku dan keluarga suamiku.
Setiap kali suamiku masuk rumah, serentak aku segera mematikan semua fasilitas internet, dengan cara yang mungkin membuatnya merasa heran akan sikapku itu. Ia tidak curiga apa-apa kepadaku, bahkan ia ingin turut melihat apa yang aku perbuat dengan internet itu….
Barangkali ia keterlaluan, atau mungkin ia merasa cemburu, di mana pada suatu hari ia pernah melihatku berkomunikasi dengan fasilitas suara di internet, yang tidak bisa aku sembunyikan.
Setelah itu ia menegurku seraya berkata, “Internet itu potensi besar untuk memperoleh pengetahuan, bukan untuk membuang-buang waktu.”
Hari-hari berlalu, sementara aku kian tergila-gila oleh fasilitas chatting. Aku serahkan urusan pendidikan anak-anakku kepada pembantu. Aku tahu kapan suamiku pulang, hingga aku bisa segera mematikan komputer sebelum ia tiba.
Bersamaan dengan itu aku sering mengabaikan diriku. Dulu aku berpenampilan sangat baik, dan berdandan dengan sangat menarik ketika ia pulang dari pekerjaan.
Namun setelah ada internet, kebiasaan itu mulai terkikis hingga akhirnya menghilang sama sekali. Aku benar-benar terbuai oleh internet, sampai-sampai aku keluar secara diam-diam dari kamar ketika suamiku telah tidur, untuk membuka internet, dan aku kembali lagi secara diam-diam pula sebelum ia terbangun dari tidurnya.
Boleh jadi sebenarnya ia mengetahui apa yang aku perbuat di depan internet itu sekedar membuang-buang waktu saja, akan tetapi ia menaruh kasihan kepadaku yang merasa kesepian, sementara keluargaku jauh. Rasa kasihannya itu benar-benar aku manfaatkan sebaik-baiknya.
Namun demikian ia juga kesal karena aku mengabaikan anak-anak. Ia sering menegurku, sedang aku cukup menanggapinya dengan berpura-pura menangis seraya aku katakan, “Engkau tidak tahu apa yang terjadi di rumah ketika engkau tiada; Aku sangat memperhatikan dan sayang sekali kepada mereka, akan tetapi mereka selalu membuatku lelah.”
Ringkasnya, aku mengabaikan segala sesuatu, termasuk suamiku. Dulu aku sering meneleponnya sampai puluhan kali jika ia sedang berada di luar rumah, sekedar untuk mendengarkan suaranya. Namun sekarang, setelah ada internet, ia tidak mendengar suaraku lagi sama sekali, kecuali jika aku perlu meminta kepadanya sebagian kebutuhan rumah tangga, meski ini jarang dilakukan.
Dan hal ini meyebabkan adanya rasa cemburu yang besar dalam hati suamiku terhadap internet.
Enam bulan masa yang aku lalui dalam keadaan seperti itu; Aku telah menjalin hubungan dengan sekian nama-nama samaran yang tidak aku tahui apakah mereka laki-laki ataukah wanita.
Aku berkomunikasi dengan siapa saja yang menyapaku lewat fasilitas chatting, meskipun selanjutnya aku tahu bahwa yang menyapaku itu laki-laki. Bahkan, ada seorang laki-laki yang membuatku ingin selalu menghadapinya dengan antusias.
Aku menyukai pembicaraan dan joke-joke yang diutarakannya. Ia pandai menghibur, maka mulailah hubungan di antara kami menguat seiring berjalannya waktu.
Hingga terjalinlah komunikasi harian ini selama hampir tiga bulan. Ia selalu menyanjung-nyanjungku dengan kata-kata yang indah; Kata-kata cinta dan kerinduan yang menggelora.
Boleh jadi kata-katanya itu tidak terlalu indah, akan tetapi syetan tentu memolesnya agar tampak indah dalam pandanganku. Semua komunikasi kami berjalan secara tertulis menggunakan fasilitas chatting.
Pada suatu hari ia menyampaikan keinginan untuk mendengar suaraku; Tentu saja aku menolaknya, namun ia bersikeras dengan keinginannya, bahkan ia mengancam akan mencampakkanku atau mengabaikanku dalam aktivitas chatting maupun dalam berkirim email.
Aku terus berusaha untuk menolak permintaannya itu, namun aku tidak mampu, aku tidak tahu mengapa hal itu terjadi?! Hingga, akhirnya aku menerima permintaannya dengan syarat hendaknya percakapan tersebut dilakukan satu kali saja.
Lalu kami memanfaatkan sebuah program untuk berkomunikasi menggunakan suara, meski programnya masih kurang baik. Namun demikian suara lelaki itu terdengar bagus dan merdu sekali.
Lalu ia berkata kepadaku, “Suaramu via internet kurang jelas, tolong berikan kepadaku nomor teleponmu!”
Tentu saja aku menolaknya, aku kaget dengan  kelancangannya itu. Sekian lama aku tidak berani lagi berkomunikasi dengannya.
Demi Allah, aku menyadari sesungguhnya syetan yang terkutuk pasti tengah menyertaiku, menghiasi suara lelaki itu dalam jiwaku, serta memerangi sisa-sisa ‘iffah, agama, dan akhlak yang aku miliki.
Hingga, tibalah hari itu, saat aku harus berbicara dengannya lewat telepon. Dan dari situlah kehidupanku mulai menyimpang. Aku sudah tergiring sedemikian jauh, tak perlulah aku berpanjang lebar memaparkannya.
Barangsiapa yang membaca kisahku ini, pasti ia akan menduga bahwa suamiku suka mengabaikan hak-hakku, atau sering tidak berada rumah. Yang terjadi justru sebaliknya, jika ia selesai dari pekerjaannya, ia tidak senang mampir dulu ke teman-temannya demi kami; Aku dan anak-anakku.
Seiring berjalannya hari-hari, dan seiring keadaanku yang benar-benar kian menyatu dengan internet, yang setiap harinya bisa aku habiskan waktu antara delapan hingga dua belas jam, akhrnya aku menjadi tidak suka jika suamiku sering berada di rumah. Aku sering menggerutu jika ia ada di rumah, dan aku mendorongnya untuk bekerja di sore hari agar kami dapat melunasi utang-utang yang bertumpuk dan cicilan-cicilan yang tak berujung.
Dan benar saja ia langsung menyetujui pendapatku. Lalu ia bergabung dengan salah seorang rekannya dalam sebuah proyek kecil. Setelah itu, waktu yang aku habiskan di depan internet kian banyak saja.
Suamiku, meski sangat gelisah dengan tingginya rekening telepon yang terkadang mencapai nilai jutaan, tak kuasa mencegahku dari hal itu selama-lamanya.
Sementara itu hubungan dengan kawan chatting-ku tetap berlanjut. Bahkan kini ia mulai menyatakan keinginannya untuk bisa melihatku setelah mendengar suaraku berkali-kali, bahkan mungkin ia sudah bosan.
Aku tidak menghiraukan permintaannya, namun aku pun berusaha agar hubunganku tidak terputus dengannya. Aku hanya menegurnya atas permintaannya itu, padahal boleh jadi akulah yang sebenarnya lebih ingin melihatnya, akan tetapi aku berusaha menepis keinginan itu Bukan karena apa-apa, tetapi karena aku merasa takut saja.
Dari hari ke hari permintaannnya itu semakin mendesak. Ia hanya ingin melihatku, tidak lebih dari itu. Akhirnya aku memenuhi keinginannya dengan syarat pertemuan itu dilakukan untuk yang pertama kali sekaligus yang terakhir kalinya. Maka kami pun saling berjanji untuk bertemu.
Kemudian kami berdua bertemu di salah satu pasar,  sedangkan di antara kami ada syetan sebagai pihak yang ketiga. Sungguh, sejak pandangan pertama aku langsung kagum terhadapnya. Syetan tentu memolesnya hingga tampak indah dalam pandanganku. Suamiku tidaklah buruk, namun syetan senantiasa menghiasi sesuatu yang haram.
Setelah kami berpisah, lelaki itu kian mempererat hubungannya denganku. Ia belum tahu bahwa aku telah bersuami, dan telah menjadi ibu bagi anak-anakku. Setelah pertemuan itu, kami terus bertemu lagi hingga berkali-kali. Akhirnya ia pun tahu segala hal tentang diriku. Ia berhasil membuatku merasa tidak senang dengan suamiku. Ia pun mendorongku agar meminta cerai saja dari suamiku agar aku dapat menikah dengannya.
Aku mulai membenci suamiku, setiap hari aku mencari-cari masalah dengannya, agar ia menceraikanku. Sementara itu suamiku merasa tak tahan dengan permasalahan-permasalahan remeh itu, mulailah ia sering meninggalkan rumah.
Hingga, terjadilah malapetaka besar itu; Suatu hari suamiku mengatakan kepadaku bahwa ia akan bepergian dalam rangka kunjungan kerja selama lima hari.
Ia menyarankan kepadaku agar aku dan anak-anak pulang dahulu ke keluargaku. Namun, aku sendiri justru merasa inilah saat yang dinanti-nantikan. Aku menolak untuk pergi kepada keluargaku. Maka ia pun terpaksa menyetujui.
Pada hari Jum’at suamiku berangkat. Sementara itu, pada hari minggunya kami ada janjian. Aku dan syetan bersama-sama pergi menemui si lelaki di sebuah tempat pada salah satu pasar. Naiklah aku bersama sang lelaki ke mobilnya, lalu ia membawaku mengelilingi jalan-jalan raya.
Ini pengalaman pertama dalam hidupku keluar bersama seorang laki-laki asing. Aku merasa gelisah dan tampaknya ia lebih gelisah dari pada aku.
“Aku tidak ingin berlama-lama keluar dari rumah, aku khawatir suamiku menelponku atau sesuatu akan terjadi,” kataku kepadanya.
“Jika suamimu tahu, boleh jadi ia menceraikanmu. Maka kamu akan terbebas darinya!” jawab lelaki itu.
Perkataan dan nada bicaranya itu membuatku tidak senang. Mulailah kegelisahan  kian menyelimuti diriku.
Maka aku katakan kepadanya, “Seharusnya engkau tidak membawaku terlalu jauh, aku tidak mau terlambat pulang ke rumah.”
Ia berusaha mengalihkanku kepada pembicaraan yang lain. Hingga, tiba-tiba aku telah berada di sebuah tempat yang tidak kukenal; suasananya gelap, tempatnya mirip sebuah villa atau perkebunan.
“Tempat apakah ini? Kemana engkau akan membawaku?” teriakku mulai sewot.
Selang beberapa detik saja, mobil kami tiba-tiba berhenti. Dan seorang pria membukakan pintu mobil dan mengeluarkanku dengan kasar. Seorang pria yang ketiga terlihat di dalam villa, dan seorang lagi kulihat sedang duduk santai. Bau aneh menyerbak di sekitar tempat tersebut. Dan semua peristiwa buruk itu terjadi bagaikan halilintar yang menyambar.
Aku berteriak, menangis, dan meminta belas kasihan kepada mereka.
Karena ketakutan yang luar biasa besar, aku menjadi tak mengerti dengan apa yang terjadi di sekitarku. Hingga aku merasakan sebuah tamparan mendarat di wajahku, juga sebuah suara meneriakiku. Semua itu membuatku oleng dan tak sadarkan diri karena saking takutnya. Dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi.
Setelah itu aku mulai siuman, sementara rasa takut masih menguasai jiwaku, tubuhku gemetar, dan aku terus menerus menangis.
Mereka menutup kedua mataku, dan membawaku ke dalam mobil. Kemudian melemparkan aku ke sebuah tempat yang cukup dekat dengan rumahku.
Lalu aku cepat-cepat masuk ke rumah. Aku menangis dan terus menangis hingga air mataku kering. Aku mengurung diri di dalam kamar, tak ingin melihat anak-anakku.
Aku pun tidak bernafsu memasukkan makanan ke mulutku barang sesuap pun. Aku membenci diriku, lebih baik aku berusaha untuk bunuh diri saj. Aku tidak lagi mengenal anak-anakku, atau merasakan keberadaan mereka.
Suamiku pulang dari pepergiannya, sedangkan kondisiku begitu buruk, hingga ia merasa perlu untuk membawaku ke rumah sakit. Kemudian aku diberi obat penenang dan penyegar badan. Aku meminta kepada suamiku agar membawaku kepada keluargaku secepatnya…
Di rumah keluargaku, aku terus menangis, sedangkan mereka tidak mengetahui permasalahannya sama sekali. Bahkan mereka mengira ada percekcokan antaraku dengan suamiku.
Ayahku berusaha untuk berkompromi dengan suamiku, namun hal itu tidak menghasilkan solusi apapun, karena suamiku memang tidak tahu menahu permasalahan sebenarnya. Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang tengah terjadi pada diriku, bahkan  keluargaku sempat membawaku ke beberapa ahli qiraat supaya aku di-ruqyah, karena mereka yakin bahwa aku sedang ditimpa suatu penyakit.
Ringkas cerita, aku tidak berhak lagi terhadap suamiku. Maka dari itu aku meminta kepadanya agar aku diceraikan saja, untuk memuliakannya demi Allah. Aku tidak pantas sama sekali untuk hidup di antara orang-orang mulia.
Aku adalah orang yang telah menggali kuburanku sendiri dengan tanganku, sedangkan teman chatting-ku itu tidak lain hanyalah seorang pemburu yang siap memangsa para wanita yang menggunakan fasilitas chatting.
Suamiku bersedih melihat keadaanku, bahkan ia meninggalkan pekerjaannya berhari-hari agar bisa lebih dekat denganku. Ia tak mau menceraikanku. Pria malang itu sangat mencintaiku. Ia telah bersusah payah membangun keluarga dan rumah tangga, dan ia tidak ingin memporakporandakannya.
Sementara itu, aku terus menyembunyikan rahasiaku di dalam dada. Dalam setiap hari yang kujalani, rasa sesal terus membuatku semakin tertekan. Kehinaan macam apa yang telah dilakukan oleh orang-orang kotor semacam mereka? Bagaimana aku bisa menjadi sampah bagi para peminum khamer dan pecandu narkotika itu, yang menggerayangi tubuhku semau mereka. Alangkah dungu dan tololnya diriku, bagaimana aku rela menghabiskan waktu berbulan-bulan demi menyalurkan potensi cintaku kepada seseorang yang tidak berhak?
Inilah aku yang menulis kisah ini di atas ranjang penderitaan nan malang, bahkan boleh jadi aku sedang berada di atas ranjang kematian.

repost: Ummu Haitsam, disalin dari kutaib fii bathnil huut

Rabu, 29 Mei 2013

Hidayah Menyapa Sipir Penjara Guantanamo

Di Guantanamo, dia menyaksikan Muslim tidak seperti yang dia kira.

Keyakinan bisa mengetuk hati siapa saja, termasuk seorang atheis, sipir penjara Guantanamo, Terry Holdbrook Jr. Bertugas di penjara tersebut 10 tahun lalu, Terry mengaku mendapatkan hidayah setelah melihat tindak-tanduk para tahanan – yang kebanyakan tidak bersalah. Sejak bergabung di kemiliteran dan ditugaskan di Guantanamo dari 1424-1425H / 2003-2004, Holdbrook dicekoki paham bahwa Islam sama dengan terorisme, kejam, tidak berperikemanusiaan dan sadis – berkaca pada peristiwa 9/11. “Ingat apa yang Muslim lakukan pada kita. Ingat siapa yang kalian lindungi,” kata sersan kala itu pada para prajurit.
Berbicara di Islamic Center Huntsville Sabtu pekan lalu, dilansir Al.Com, Holdbrooks mengatakan bahwa dia merasa dibohongi saat bertugas di Guantanamo. Yang dia bayangkan saat itu, para napi berwajah gahar dan beringas. Tapi tidak. Dia malah menemukan para dokter, supir taksi, profesor, dan bahkan seorang bocah berusia 12 tahun, sama sekali tidak berbahaya namun dilabeli “teroris”.
“Saya mulai berpikir, ‘Apakah saya dibohongi?’” kata pria 29 tahun ini.
Dia menyaksikan sendiri, para tahanan bertolak belakang dari apa yang selama ini diajarkan. Mereka tertib membaca al-Quran, melakukan shalat lima waktu, dan tetap tenang walaupun mendapatkan tekanan terberat sekalipun.
Salah satu tugas Holdbrooks saat itu adalah mengantarkan para tahanan ke ruang interogasi. Di tempat ini, dia tahu bahwa mereka akan disiksa dan ditanya dengan pertanyaan yang sama setiap harinya, sampai mengaku atau terpaksa mengakui apa yang tidak mereka lakukan. Beberapa sangat tersiksa, beberapa lainnya menerima dengan sabar. Inilah yang membuat heran Holdbrooks.
“Bagaimana kau bisa bangun di Guantanamo dan tetap tersenyum? Bagaimana kau percaya ada Tuhan yang peduli padamu?” tanya Holdbrooks pada para tahanan.
Seorang dari mereka menjawab, “Saya senang menghabiskan waktu di Guantanamo. Allah sedang menguji keimanan saya. Kapan lagi saya bisa menghabiskan lima tahun tanpa melakukan apapun, hanya membaca Al-Quran, saya bisa membacanya dan belajar bahasa Arab serta melatih mental?”
Sejak itulah Holdbrooks mulai berbincang-bincang dengan mereka. Beberapa orang bahkan mengajarkannya tentang etika, filosofi, sejarah dan agama. Banyak dari tahanan bahkan menafikan peristiwa 9/11, menurut mereka itu melanggar ajaran Islam.
“Saya punya semua kebebasan di dunia, tapi saya malah menderita. Di sini mereka tidak punya apa-apa, tapi bahagia. Tidak perlu ilmuwan roket untuk mencari tahu apa yang terjadi dalam hati mereka,” kata Holdbrooks.
Memeluk Islam
Akhirnya Holdbrooks mulai mempelajari Islam. Selama ini dia mengaku atheis karena seluruh agama yang dia pelajari tidak mampu menenangkannya. Dia menganggap kala itu, Monotheisme adalah akar dari seluruh kesengsaraan, karena itu dia pilih tidak beragama.
Tapi ketika membaca Al-Quran untuk pertama kalinya, dia menemukan banyak pemikiran yang masuk dalam logikanya. “Kitab ini semua masuk akal dari awal hingga akhir. Tidak bertentangan satu sama lain. Ini bukan sihir. Ini hanyalah petunjuk sederhana tentang bagaimana menjalani kehidupan,” kata dia.
Setelah tiga bulan belajar secara intens, akhirnya dia memutuskan memeluk Islam. Dia mengatakannya pada salah satu napi. Tapi jawabannya adalah “tidak”, Holdbrooks terkejut. Akhirnya napi Guantanamo itu menjelaskannya.
Menjadi seorang Muslim, kata napi itu, berarti Holdbrooks harus mengubah gaya hidupnya. Mengatur makan, berhenti minum alkohol, stop bicara kasar dan menghapus tato yang dia miliki. Selain itu, dia harus siap menghadapi perubahan dalam kehidupan sosialnya, termasuk di ketentaraan, keluarga
dan pemerintahan.
Tapi tekadnya sudah bulat dan dia akhirnya mengucapkan dua kalimat syahadat. Dia mengaku menemukan kesehatan, kedisiplinan dan kedamaian pikiran, hal-hal yang tidak didapatinya sebelum ini.
“Setiap langkah kecil saya menuju Islam, Islam berlari menuju saya,” kata Holdbrooks.
Dipecat dari militer
Barulah pada 1430H / 2009, Holdbrooks memutuskan menjadi Muslim sejati. Dia melakukan seluruh perintah dan larangan Allah, termasuk melakukan puasa sunnah setiap minggunya.
Dia akhirnya dipecat dari kemiliteran dengan dalih mengalami gangguan kepribadian. Istrinya menceraikannya setelah mengetahui suaminya masuk Islam.
Dia menikah dengan seorang suster yang ditemuinya di sebuah mesjid melalui proses ta’aruf. Kini, dia tergabung dalam Muslim Legal Fund of America, sebuah organisasi Islam Amerika yang mendorong perubahan dalam kebijakan pemerintah. Berkeliling, dia menceritakan kisahnya.
Kepada Muslim di negara tersebut, dia berpesan untuk tidak takut. “Jangan takut menjadi Muslim di depan publik. Katakan pada tetanggamu kau Muslim. Undang mereka ke rumahmu. Undang mereka ke mesjid untuk melihat apa benar itu pabrik pembuat bom,” kata dia.

repost: Sunny Salafy dari (VIVA News)

Minggu, 19 Mei 2013

(Terbaru) ALLAAHU AKBAR, DAKWAH AHLUS SUNNAH DI PESISIR CILACAP MULAI MEMASUKI PUSAT-PUSAT KRISTENISASI

Masjid Kampung Laut

[Setelah sebuah Pondok Pesantren di daerah rawan Kristenisasi diamanahkan kepada Ahlus Sunnah, alhamduliLlah satu persatu orang-orang yang murtad kembali ke pangkuan Islam]

Segala puji hanya bagi Allah tabara wa ta'ala, Rabb semesta alam, setelah melewati berbagai macam ujian dan cobaan yang cukup berat..., Ahlus Sunnah wal Jama'ah di pesisir Cilacap, mendapatkan anugerah dari Allah ta'ala yang sangat besar, sebuah pondok pesantren yang terletak di Rawa Jaya Cilacap, diamanahkan kepada Ahlus Sunnah untuk dikelola.

Dan ternyata, daerah ini adalah pusat Kristenisasi, jauh sebelum Kristenisasi marak di Kampung Laut, di sekitar daerah ini sudah banyak yang murtad, bahkan tidak jarang gerakan Kristenisasi mendapat dukungan dari sebagian tokoh agama, dengan iming-iming bantuan finansial dan politis.

Pondok pesantren yang diamanahkan kepada Ahlus Sunnah itu sendiri, awalnya dibangun untuk melawan Kristenisasi, namun dalam perjalanannya terdapat banyak kendala, alhamduliLlaah dengan masuknya dakwah Ahlus Sunnah di daerah ini, gayung pun bersambut, semoga Allah ta'ala membalas kebaikan para muhsinin yang telah membangun pondok ini.

Dan pada hari Sabtu, 8 Rajab 1434 H / 18 mEI 2013, ALHAMDULILLAH, telah kembali ke pangkuan Islam, enam orang dari wilayah Gandrung (jarak 20 menit dari Pondok Ahlus Sunnah Rawa Jaya) telah kembali ke pangkuan Islam, mereka adalah:

1) Bpk Nasimin (31 thn)

2) Bpk Darto Tulus (61 thn, suami Ibu Mursyim, yang masuk Islam setelah kegiatan ta'lim bersama Ust. Muhammad Naim, LC pekan lalu)

3) Bpk Sumarno (67 thn, beliau telah buta matanya, tapi hatinya sudah bisa melihat insya Allah ta'ala)

4) Ibu Misni (41 thn)

5) Ibu Haryati (42 thn)

6) Ibu Manisem (50 thn)

Dengan hidayah dari Allah ta'ala, kemudian bimbingan para da'i Ahlus Sunnah, mereka semuanya telah kembali masuk Islam di hadapan Pemerintah dan Tokoh-tokoh agama setempat. Mohon doa kaum muslimin semoga kita dan mereka tetap istiqomah dalam tauhid dan sunnah sampai akhir hayat.

WalhamduliLlaah, pemerintah dan tokoh agama setempat ikut mendukung kegiatan dakwah Ahlus Sunnah, bahkan mereka menawarkan sebidang tanah untuk dibangun musholla, sebagai tempat ibadah dan pendidikan bagi kaum muslimin, khususnya para mu'allaf di desa mereka.

Bagi kaum muslimin yang mau turut serta membantu dakwah dapat menghubungi: HP. 0852 5684 2111, PIN BB 3: 2657C6B4. JazaakumuLlaahu khayron.

Nantikan rekaman bimbingan masuk Islam insya Allah ta'ala di blog NasihatOnline. (nasihatonline.wordpress.com)
 
Sumber : https://www.facebook.com/#!/SofyanRuray?hc_location=stream

Senin, 06 Mei 2013

(Kenangan Indah) Selembar Kisah Jihad Di Ambon 1

DARAH SALAFY TERTUMPAH UNTUK MEMBELA KAUM MUSLIMIN (NU,MUHAMMADIYAH,DLL) DI AMBON:

 Kisah Nyata Abdul Hamid Mendamba Gelar Syuhada’

63Mei 2000. Suasana Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Ambon yang dikelilingi hutan rimbun menimbulkan perasaan mencekam bagi siapa saja yang pertama kali berkunjung. Terlebih dalam suasana berkecamuknya perang antara masyarakat muslim dan kristen, kesan mencekam semakin kuat.
Saat itu, sekelompok anak muda yang tergabung dalam barisan Laskar Jihad Ahlus Sunnah Wal Jamaah ditempatkan di kawasan tersebut. Kedatangan mereka ke kota Ambon dari berbagai daerah di Indonesia adalah dalam rangka membantu saudara-saudara seagama akibat diperangi oleh kristen.
Sebagaimana lazimnya manusia, para Laskar Jihad muda itu juga punya perasaan was-was menghadapi medan yang terkesan angker dan sunyi. Minimnya penduduk di sekitar kompleks kampus menambah suasana makin mencekam. Ancaman serangan kristen yang belum bisa diprediksikan membuat kewaspadaan senantiasa tinggi.
Di dalam rombongan itu terdapat seorang anak muda berumur 21 tahun bernama Abdul Hamid. Postur tubuhnya kurus tapi semangatnya tinggi menyala. Keberaniannya mengalahkan teman-teman sekelompoknya. Situasi kompleks STAIN yang sepi mencekam tidak membuat nyalinya ciut. Dijelajahinya hutan rimbun di sekitarnya untuk mengenali medan atau sekedar mencari buah-buahan. Kebiasaannya berkelana sendirian itu rupanya telah menjadi kesukaan, meski untuk itu ia harus sering ditegur komandannya.
Dibanding teman-temannya, Abdul Hamid memang lain. Orangnya ulet dan suka bekerja keras. Waktunya tidak mau terbuang dengan sia-sia. Hari-harinya dilalui dengan berbagai aktivitas yang bisa memberikan manfaat bagi dirinya dan orang lain.
Abdul Hamid lahir dan besar di Semarang. Sebelum berangkat berjihad ke Maluku, ia adalah karyawan sebuah perusahaan mebel di Jepara. Setiap minggu ia sempatkan pulang ke kotanya agar bisa mengikuti majelis taklim yang diadakan teman-temannya.
Saat muncul seruan jihad ke Maluku, Abdul Hamid termasuk salah satu pemuda yang langsung menyambutnya. Posisi kerjanya yang sudah lumayan di perusahaan mebel langsung ditinggalkan karena ia harus mempersiapkan diri sebelum berangkat. Bersama teman-temannya di Semarang, ia giat melakukan persiapan fisik dan segala sesuatunya untuk keperluan berangkat berjihad.
Di dalam berbagai kegiatan itu, ia berkenalan dengan seorang anak Sunda bernama Royyan. Mungkin karena ada kemiripan wajah, Abdul Hamid langsung merasa cocok dengan Ahmad  Royan dan langsung akrab. Saking akrabnya sampai Royyan dianggapnya sebagai adik.
Selama melakukan persiapan jihad, Abdul Hamid ditunjuk menjadi salah satu komandan regu. Sebagai komandan, terlihat sifat Abdul Hamid yang sangat mengutamakan teman-temannya. Dalam berbagai urusan, ia lebih dulu memperhatikan temannya, baru kemudian dirinya. Ia juga seorang yang sangat suka memberikan nasehat. Bila ada temannya yang berbuat kesalahan, langsung ia menegurnya.
Semangat juangnya yang tinggi terlihat dari keinginannya yang kuat agar bisa menjadi syuhada. Ia sangat bersyukur di Indonesia ada kesempatan untuk berjihad. Bagi Abdul Hamid, ini adalah kesempatan langka. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Menurutnya, ini adalah kesempatan untuk bisa meraih kehidupan mulia di sisi Allah.


Ketika tiba di Ambon, keinginannya untuk bisa menjadi syuhada semakin kuat. Di malam hari, ia selalu berdoa agar keinginannya dikabulkan Allah.  Di siang hari, ia habiskan waktunya untuk mengerjakan berbagai tugas yang dibebankan padanya.
Beberapa hari tinggal di STAIN, pecah perang di kampung Ahuru. Sebagian Laskar Pos STAIN dikirim untuk membantu muslimin Ahuru menghadapi serangan kristen. Termasuk yang dikirim ke Ahuru adalah Royyan. Sementara Abdul Hamid diperintahkan untuk tetap tinggal. Sampai malam, rombongan belum pulang. Abdul Hamid sangat gelisah mengkhawatirkan nasib Royyan. Ia tidak sabar menunggu rombongan pulang dan memutuskan untuk mencari Royyan.
Pencarian Abdul Hamid akhirnya sampai ke Ahuru. Padahal perjalanan ke Ahuru harus melewati jalanan sunyi, kanan kiri hutan, listrik mati, sepanjang kurang lebih 3 km. Sampai di Ahuru, suasana sangat gelap. Abdul Hamid terus mencari Royyan sambil memanggil namanya. Royyan yang saat itu sudah tertidur karena kelelahan, sayup-sayup mendengar namanya dipanggil. Ia bangun dan segera menemui orang yang memanggilnya. Abdul Hamid sangat bahagia bisa bertemu lagi dengan saudaranya itu.
Setelah kurang lebih sebulan berada di Ahuru, Abdul Hamid dan Royyan beserta sejumlah Laskar lainnya dipindah ke kampung Diponegoro. Sebuah kampung yang posisinya terjepit diantara perkampungan kristen. Untuk masuk ke kampung tersebut harus lebih dahulu melewati pemukiman kristen Air Mata Cina. Meski ada aparat keamanan, saat melewati daerah tersebut tetap harus hati-hati karena tidak jarang diganggu oleh kristen. Di medan baru ini Abdul Hamid mendapat tugas sebagai kurir.
Selain menjalankan tugasnya sehari-hari, Abdul Hamid mengisi waktunya dengan kegiatan ibadah yang makin menguatkan mentalnya. Semangatnya untuk meraih gelar syuhada semakin menyala. Setiap pagi, ia dan Royyan saling menyetorkan hafalan Al Quran. Keduanya saling mengingatkan bila ada temannya yang lupa dengan hafalannya.
Pada akhir bulan Juli 2000, situasi kampung Diponegoro tegang. Pertempuran seru dengan pihak kristen tidak bisa dielakkan setelah sebelumnya massa kristen yang berada di sekitar Diponegoro melakukan penyerangan. Selama kurang lebih seminggu perang berlangsung.
Meski tugasnya sebagai kurir, Abdul Hamid tidak mau ketinggalan dalam peperangan. Bahkan ia selalu berada di posisi terdepan diantara teman-temannya. Dalam sebuah pertempuran, ia dan seorang temannya bernama Burhan mencoba merangsek ke daerah musuh. Saat itu ia sudah jauh meninggalkan teman-temannya. Desingan peluru yang jatuh di sekitar tubuhnya tidak menjadikan langkahnya surut.
Saat itu, ia telah mencapai sebuah rumah kosong milik kristen. Seperti biasa, ia hanya membawa jerigen berisi minyak dan korek api. Tugasnya memang sebagai pasukan bakar-bakar. Ia lebih dulu mencapai rumah kosong, sementara Burhan berada di belakangnya. Desingan peluru berhamburan ke arah dua mujahid muda itu. Burhan yang berada di belakang Abdul Hamid menyembunyikan dirinya di sebuah perlindungan, bersiap menyusul Abdul Hamid. Abdul Hamid memberi aba-aba kepada Burhan agar berhati-hati.
Dalam suatu kesempatan yang dirasa aman, larilah Burhan menuju tempat Abdul Hamid.  Namun tanpa diduga, seorang sniper rupanya telah mengincarnya. Sebuah peluru datang dari arah samping dan langsung menembus tubuh Burhan.
Melihat temannya kena, Abdul Hamid segera berusaha menolongnya. Saat itu beberapa kaum muslimin sudah berada di dekat mereka. Dibantu beberapa kaum muslimin, Abdul Hamid mengangkat tubuh Burhan. Desingan peluru masih mewarnai proses evakuasi itu.
Tubuh Burhan berhasil diangkat ke tempat yang aman. Di pangkuan Abdul Hamid, akhirnya Burhan meninggal karena lukanya cukup parah. Darahnya mengalir membasahi tubuh Abdul Hamid. Sore itu juga, jenazahnya dimakamkan di kampung Diponegoro.
Kepergian Burhan tidak membuat Abdul Hamid sedih. Ia justru iri, mengapa bukan ia yang dipilih Allah untuk gugur di jalannya. Dalam setiap pertempuran, ia selalu berada di depan, namun ternyata bukan ia yang dipilih Allah. Kepada beberapa temannya, ia mengatakan, “Mengapa bukan saya yang kena?”.
Esok harinya pertempuran kembali berkecamuk. Seperti biasa, Abdul Hamid berada di posisi terdepan. Dalam suatu kesempatan, seorang muslimin terkena tembakan di bagian perutnya. Ia berada di dekat Abdul Hamid. Beberapa orang yang ada belum berani menolong orang tersebut karena desingan peluru begitu deras.
Abdul Hamid rupanya tidak sabar untuk segera menolong orang itu. Dibukanya bajunya dan didekatinya orang itu. Diulurkannya bajunya ke arah orang itu agar ia bisa menarik orang itu ke tempat aman. Qadarullah, sebuah peluru datang dan tepat mengenai kepalanya. Tubuh Abdul Hamid roboh dan langsung meninggal di tempat kejadian.
Akhirnya, anak muda bertubuh kurus itu mendapatkan apa yang begitu didambanya.
Beberapa hari setelah kematian Abdul Hamid, pertempuran mulai reda. Hanya ada sedikit gangguan dari sniper-sniper pengecut yang mencoba membidik kaum muslimin. Secara umum pertempuran Diponegoro dimenangkan kaum muslimin. Kampung-kampung di sekitar Diponegoro seperti Air Mata Cina, Pohon Pule, dan Mangga Dua berhasil dihancurkan kaum muslimin. Sampai kini, kampung Diponegoro yang kecil dan terjepit masih ada dan kehidupan kaum muslimin berjalan dengan normal. Sejumlah Laskar Jihad masih setia menjaga kampung ini bersama kaum muslimin setempat. Di kampung yang kecil dan terjepit ini, tiga orang Laskar Jihad telah gugur. Satu diantaranya adalah seorang anak muda yang begitu bersemangat untuk meraih syuhada, Abdul Hamid. Selamat jalan teman, semoga Allah menempatkan kalian di jannah-Nya. Amin. (ai)
Sumber: Tabloid Laskar Jihad Edisi 16
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki, mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya…” (Ali ‘Imran: 169-70)

Repost: https://kaahil.wordpress.com

(Kenangan Indah) Selembar Kisah Jihad Di Ambon 2

KISAH NYATA : PARA MUJAHID SALAFY-WAHABY BERKORBAN NYAWA UNTUK MEMBELA MUSLIMIN YANG BUKAN KELOMPOKNYA

Mengenang Akhuna Shodiq rahimahullah

Abi lagi ke Ambon”, begitu mulut kecil Zuhair (3 th) kalau ditanya kemana bapaknya pergi. Ketika dikatakan padanya, “Nanti kalau pulang dibawain oleh-oleh pedang sama Abi ya…”, Zuhair menjawab, “Enggak, Abi di Ambon berjihad, mati syahid”.
Demikianlah yang selalu disampaikan Zuhair. Sekalipun bapaknya masih hidup di Ambon, namun kalau ditanya padanya tentang bapaknya, Al Akh Shodiq, selalu ia katakan,” Abi lagi di Ambon, Jihad, mati syahid”, sampai ibunya nggak enak sendiri dan menyuruh anaknya supaya tidak berkata seperti itu.

Sampai akhirnya, telepon dirumah kami berdering. Terdengar berita dari seorang ikhwan disana bahwa Yon Gab membantai kaum muslimin, dan Al Akh Shodiq termasuk yang dalam pencarian keberadaannya. Hati kami sedih bercampur senang dan penuh harap. Sedih karena berpisah dengan saudara sesama muslim, senang dengan harapan bahwa ia mati syahid dan penuh harap untuk bisa seperti itu.
Akhirnya Fax dari Ambon secara resmi datang memberitakan kematian Al Akh Shodiq. Kami sampaikan kepada orang tua, istri dan mertuanya. Alhamdulillah mereka tabah menerimanya. Nampaknya mereka sudah begitu siap menerima kabar tersebut. Tak ada tangisan histeris, hanya terlihat mata mereka berkaca-kaca. Dengan terbata-bata, istrinya menceritakan kepada akhwat yang saat itu bersama divisi sosial bahwa ketika mau berangkat suaminya berpesan, “Kamu jangan terlalu mengharapkan saya, karena saya kesana menjemput kematian”.
Kini harapan itu telah terkabul. Semburat kebanggaan terlihat di wajah mereka. Apalagi setelah kami ingatkan kepada keluarganya betapa mulianya orang yang mati syahid dengan berbagai keutamaan-keutamaan yang menyertainya (bahwa mereka tidak mati, tetapi hidup disisi Allah dengan mendapat rizqi, juga berhak memberi syafaat kepada 70 orang keluarganya). Keluarga Al Akh Shodiq sendiri menceritakan bahwa di hari kematiannya, tanggal 14 Juni ketika Yon Gab membantai kaum muslimin itu, di rumah mereka tercium bau wangi.
Al Akh Shodiq adalah satu diantara enam Laskar Jihad yang diberangkatkan oleh DPD FKAWJ Cilacap yang meninggal dunia karena kebrutalan Yon Gab dalam tragedi 14 Juli berdarah. Al Akh Shodiq termasuk yang disandera dan dibantai oleh Yon Gab. Mereka yang meninggal itu rata-rata termasuk yang mantap dan semangat untuk berjihad, sekalipun banyak rintangan (dana, keluarga) yang menghalangi.
Ya Allah, jadikanlah kematian saudara-saudara kami itu benar-benar dinilai mati syahid dan jadikanlah kematian terindah itu (mati syahid) sebagai kematian yang menjemput kami.
Kini Si Kecil Zuhair kalau ditanya kemana bapaknya, mulut mungilnya menjawab, “Abi di sorga”. Wallahu a’lam bisshawab. (red)
http://groups.yahoo.com/group/laskarjihad/message/575

Perjalanan Seorang Mujahid (Syahidnya Ibnu Hajar, Insya Allah)

Jihad di bumi Siwalima (Maluku) masih berkobar dan senantiasa membangkitkan semangat para singa-singa Allah untuk selalu melaksanakan syariat Ilahi yang tinggi nan mulia ini, pengorbanan demi pengorbanan telah dipersembahkan dalam Jihad fi sabililah ini.
Adalah seorang pemuda gagah berani bernama Ibnu Hajar , 24 tahun asal Pakisan, Wonosobo, Jawa Tengah. Ibnu Hajar lahir dari sebuah kelaurga yang sederhana ayahnya Yazid (50 th) dan Ibunya Surip (48 th) mendidiknya dengan ajaran Islam dengan ketat sehingga Ibnu Hajar tumbuh dengan kepribadian Islami dan dia sangat disukai oleh masarakat di tempat tinggalnya karena sifatnya yang periang, lucu dan bersahabat sehingga masyarakat Pakisan, Wonosobo, Jawa Tengah begitu mencintainya.
Pada pertengahan Januari 1999 terjadi peristiwa tragis yang menimpa kaum Muslimin Ambon dimana Umat Islam yang saat itu sedang merayakan hari raya Idul Fitri dibantai oleh pasukan Kristen. Mendengar berita yang memilukan ini mukanya merah menahan amarah, darahnya mendidih dan bangitlah semangat jihad untuk menolong saudara-saudaranya di Ambon kemudian dia bangkit lalu kakinya diayunkan mencari informasi ke sagala penjuru untuk dapat berangkat ke bumi Maluku.
Sampai suatu saat terdengarlah khabar bahwa Forum Komunikasi Ahlus Sunnah wal Jamaah mengumandangkan seruan Jihad dengan legimitasi dari para ulama Arab Saudi dan Yaman yang kemudian melakukan perekrutan kaum muslimin secara besar-besaran untuk membantu kaum Muslimin Ambon dengan bergabung bersama Laskar Jihad Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Mendengar hal tersebut Ibnu Hajar tidak mensia-siakan kesempatan berjihad. Segera dia mendaftarkan dirinya ke DPW FKAWJ Wonosobo untuk bisa bergabung dengan Laskar Jihad Ahlus Sunnah wal Jamaah. Ketika mendaftar, adik kandungnya yang bernama Wahyu Hidayat (18 th) tidak ingin kalah dengan kakaknya maka diapun ikut mendaftarkan menjadi anggota Laskar Jihad Ahlus Sunnah wal Jamaah. Akhirnya kakak beradik ini dan beberapa orang dari daerah Wonosobo resmi menjadi anggota Laskar Jihad Ahlus Sunnah wal Jamaah yang siap berjihad membela saudara-saudarnya di Ambon.
Ibnu Hajar dan teman-teman sanggat proaktif mengikuti kegiatan-kegitan yang diselenggarakan oleh Laskar Jihad Ahlus Sunnah wal Jamaah. Sejak Tabligh Akbar yang mengemparkan seantero Indonesia yang dilaksanakan di Senayan sampai tahap latihan gabungan Nasional di Bogor. Semangatnya dalam mengikuti aktivitas Laskar Jihad Ahlus Sunnah wal Jamaah diakui oleh teman-temannya.

Sampailah saatnya pemberangkatan gelombang pertama Laskar Jihad Ahlus Sunnah wal Jamaah pada bulan Mei 2000. Dengan hati yang senang dan semangat yang menggebu dia berangkat ke Yogyakarta sebagai tempat transit pemberangkatan, tapi sesampainya disana di mendapatkan tugas sementara mencari dana di Jawa untuk membantu teman-temannya di Ambon. Mendengar perintah tersebut Ibnu Hajar agak sedikit kecewa tapi apa boleh buat dia menerima dengan lapang dada. Tak terasa sudah 3 bulan lamanya dia mencari dana dan diakui oleh koordinatoor Komisi Dana FKAWJ Ibnu Hajar adalah salahsatu orang yang diandalkan dalam mencari dana.
Pada bulan Agustus dia diijinkan berangkat ke Ambon, mendengar hal tersebut bangkitlah kembali semangat menggebu-gebu yang selama ini dia pendam, dengan secepat kilat dia pulang ke rumah orang tuanya di Wonosobo untuk pamitan. Begitu Ibnu Hajar mengemukakan niatnya, ayah dan ibunya menagis haru dan kagum dengan semangat anaknya yang tiada pernah padam walaupun sudah 3 bulan terpendam di hatinya.
Ibnu Hajar bercerita dengan orang tuanya bahwa dia ingin sekali menemui kematian di jalan Allah dengan kata lain mati syahid dan mendapatkan keutamaan-keutamaan yang selama ini diberitakan didalam Al-Quran dan Hadist Rasullullah sallahu’alaihi wa sallam. Dengan berlinang air mata kedua orangtuanya melepas kepergian sang mujahid ke Ambon. Ibnu Hajar berpesan kepada orangtuanya supaya tidak bersedih karena Allah akan selalu menolong hamba-hambanya selama hamba-hamba-Nya membela agama Allah.
Adiknya yang bersikeras untuk berangkat ditahan oleh Ibnu Hajar untuk menemani dan membantu orangtuanya. Maka di terik matahari yang memecar dari sela-sela pegunungan Dieng yang begitu indah dan menawan sang mujahid yang begitu dicintai masarakatnya pergi meninggalkan kampung halaman untuk berjihad di jalan Allah dan dengan seulas senyum dan wajah ceria dia tampakan sebagai salam perpisahan untuk masarakat Wonosobo, kampung halaman yang dicintainya. Sepoi-sepoi angin gunung sumbing menerpa wajahnya menghantar Ibnu Hajar ke perjalananan suci ini.
Sampailah Ibnu Hajar ke Ambon tempat yang selama ini dia impi-impikan untuk memetik berbagai keutamaan yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ibnu Hajar di tempatkan di desa Ahuru Kotamadya Ambon. Kemudian beberapa saat lamanya dia ikut berbagai macam kegiatan Laskar Jihad Ahlus Sunnah wal Jamaah. Sampai puncaknya pada akhir September 2000 di menerima perintah untuk berangkat ke Suli bersama Laskar Jihad yang berjumlah 1 kompi (+ 70 orang) untuk melindungi masyarakat Desa Tulehu dari serangan kaum Kirsten.
Dengan gagah berani Ibnu Hajar berangkat untuk melawan musuh-musuh Allah dengan menyandang sebuah busur panah beserta anak panahnya dan sebilah pedang. Sampai di Suli pasukannya diserang habis-habisan oleh pasukan Kristen dengan dibantu aparat Brimob Kristen dengan gencar sampai terjebak selama 1 hari penuh. Ibnu Hajar hanya menemui 4 buah kelapa muda sebagai pengganjal perut dan itu pun Ibnu hajar tidak kebagian karena dia lebih mendahulukan teman-temannya yang kehausan.
Tidak lama kemudian kembali serangan Kristen dengan membabi-buta menyerang ke arah dia dan teman temanya. Tiba-tiba sebuah timah panas mengenai punggung dan tembus ke paha Ibnu Hajar maka meneteslah darah suci sang mujahid ini menyirami bumi jihad siwalima. Beberapa saat kemudian matanya menutup untuk selama lamanya dengan meninggalkan senyuman manis terlihat di wajahnya dan jiwanya kemudian menemui Khaliq-nya. Mendengar anaknya meninggal kedua orang tuanya terharu sekaligus bangga karena mempunyai seorang anak yang hidup dan matinya hanya Allah semata dan membela agamanya sampai akhir hayatnya.
  
Repost:http://kaahil.wordpress.com

Senin, 15 April 2013

Wanita Jelita Itu, Dialah Mariyah al-Qibtiyah (Wafat-16H/637 M)



 
Seorang wanita asal Mesir yang dihadiahkan oleh Muqauqis, penguasa Mesir kepada Rasulullah tahun 7 H. Setelah dimerdekakan lalu dinikahi oleh Rasulullah dan mendapat seorang putra bernama Ibrahim. Sepeninggal Rasulullah dia dibiayai oleh Abu Bakar kemudian Umar dan meninggal pada masa kekhalifahan Umar. 

Seperti halnya Sayyidah Raihanah binti Zaid, Mariyah al-Qibtiyah adalah budak Rasulullah yang kemudian beliau bebaskan dan beliau nikahi. Rasulullah memperlakukan Mariyah sebagaimana beliau memperlakukan istri-istri beliau yang lainnya. Abu Bakar dan Umar pun memperlakukan Mariyah layaknya seorang Ummul-Mukminin. Dia adalah istri Rasulullah satu-satunya yang melahirkan seorang putra, Ibrahirn, setelah Khadijah.

Dari Mesir ke Yastrib
Tentang nasab Mariyah, tidak banyak yang diketahui selain nama ayahnya. Nama lengkapnya adalah Mariyah binti Syama’un dan dilahirkan di dataran tinggi Mesir yang dikenal dengan nama Hafn. Ayahnya berasal dan Suku Qibti, dan ibunya adalah penganut agarna Masehi Romawi. Setelah dewasa, bersarna saudara perempuannya, Sirin, Mariyah dipekerjakan pada Raja Muqauqis.
Rasulullah mengirim surat kepada Muqauqis melalui Hatib bin Baltaah, rnenyeru raja agar memeluk Islam. Raja Muqauqis menerima Hatib dengan hangat, namun dengan ramah dia menolak memeluk Islam, justru dia mengirimkan Mariyah, Sirin, dan seorang budak bernama Maburi, serta hadiah-hadiah hasil kerajinan dari Mesir untuk Rasulullah. Di tengah perjalanan Hatib rnerasakan kesedihan hati Mariyah karena harus rneninggalkan kampung halamannya. Hatib rnenghibur mereka dengan menceritakan Rasulullah dan Islam, kemudian mengajak mereka merneluk Islam. Mereka pun menerirna ajakan tersebut.

Rasulullah teläh menerima kabar penolakan Muqauqis dan hadiahnya, dan betapa terkejutnya Rasulullah terhadap budak pemberian Muqauqis itu. Beliau mengambil Mariyah untuk dirinya dan menyerahkan Sirin kepada penyairnya, Hasan bin Tsabit. Istri-istri Nabi yang lain sangat cemburu atas kehadiran orang Mesir yang cantik itu sehingga Rasulullah harus menitipkan Mariyah di rumah Haritsah bin Nu’man yang terletak di sebelah rnasjid.


Ibrahim bin Muhammad .
Allah menghendaki Mariyah al-Qibtiyah melahirkan seorang putra Rasulullah setelah Khadijah r.a. Betapa gembiranya Rasulullah mendengar berita kehamilan Mariyah, terlebih setelah putra-putrinya, yaitu Abdullah, Qasim, dan Ruqayah meninggal dunia.
Mariyah mengandung setelah setahun tiba di Madinah. Kehamilannya membuat istri-istri Rasul cemburu karena telah beberapa tahun mereka menikah, namun tidak kunjung dikaruniai seorang anak pun. Rasulullah menjaga kandungan istrinya dengan sangat hati-hati. Pada bulan Dzulhijjah tahun kedelapan hijrah, Mariyah melahirkan bayinya yang kemudian Rasulullah memberinya nama Ibrahim demi mengharap berkah dari nama bapak para nabi, Ibrahim a.s.. Lalu beliau memerdekakan Mariyah sepenuhnya. Kaum muslimin menyambut kelahiran putra Rasulullah . dengan gembira.
Akan tetapi, di kalangan istri Rasul lainnya api cemburu tengah membakar, suatu perasaan yang Allah ciptakan dominan pada kaum wanita. Rasa cemburu sernakin tampak bersamaan dengan terbongkarnya rahasia pertemuan Rasulullah . dengan Mariyah di rumah Hafshah sedangkan Hafshah tidak berada di rumahnya. Hal ini menyebabkan Hafshah marah. Atas kemarahan Hafshah itu Rasulullah rnengharamkan Mariyah atas diri beliau. Kaitannya dengan hal itu, Allah telah menegur lewat firman-Nya:
“Hai Muhammad, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “ (QS. At-Tahriim:1)

Aisyah mengungkapkan rasa cemburunya kepada Mariyah, “Aku tidak pernah cemburu kepada wanita kecuali kepada Mariyah karena dia berparas cantik dan Rasulullah sangat tertarik kepadanya. Ketika pertama kali datang, Rasulullah menitipkannya di rumah Haritsah bin Nu’man al-Anshari, lalu dia menjadi tetangga kami. Akan tetapi, beliau sering kali di sana siang dan malam. Aku merasa sedih. Oleh karena itu, Rasulullah memindahkannya ke kamar atas, tetapi beliau tetap mendatangi tempat itu. Sungguh itu lebih menyakitkan bagi karni.” Di dalam riwayat lain dikatakan bahwa Aisyah berkata, “Allah memberinya anak, sementara kami tidak dikaruni anak seorang pun.”
Beberapa orang dari kalangan golongan munafik menuduh Mariyah telah melahirkan anak hasil perbuatan serong dengan Maburi, budak yang menemaninya dari Mesir dan kemudian menjadi pelayan bagi Mariyah. Akan tetapi, Allah membukakan kebenaran untuk diri Mariyah setelah Ali ra. menemui Maburi dengan pedang terhunus. Maburi menuturkan bahwa dirinya adalah laki-laki yang telah dikebiri oleh raja.
Pada usianya yang kesembilan belas bulan, Ibrahim jatuh sakit sehingga meresahkan kedua orang tuanya. Mariyah bersama Sirin senantiasa menunggui Ibrahim. Suatu malarn, ketika sakit Ibrahim bertambah parah, dengan perasaan sedih Nabi . bersama Abdurrahman bin Auf pergi ke rumah Mariyah. Ketika Ibrahim dalam keadaan sekarat, Rasulullah . bersabda, “Kami tidak dapat menolongmu dari kehendak Allah, wahai Ibrahim.”
Tanpa beliau sadari, air mata telah bercucuran. Ketika Ibrahim meninggal dunia, beliau kembali bersabda,
“Wahai Ibrahim, seandainya mi bukan penintah yang haq, janji yang benar, dan masa akhir kita yang menyusuli masa awal kita, niscaya kami akan merasa sedih atas kematianmu lebih dari ini. Kami semua merasa sedih, wahai Ibrahim… Mata kami menangis, hati kami bersedih, dan kami tidak akan mengucapkan sesuatu yang menyebabkan murka Allah.”
Demikianlah keadaan Nabi ketika menghadapi kematian putranya. Walaupun tengah berada dalam kesedihan, beliau tetap berada dalam jalur yang wajar sehingga tetap menjadi contoh bagi seluruh manusia ketika menghadapi cobaan besar. Rasulullah . mengurus sendiri jenazah anaknya kemudian beliau menguburkannya di Baqi’.
Saat Wafatnya
Setelah Rasulullah wafat, Mariyah hidup menyendiri dan menujukan hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah. Dia wafat lima tahun setelah wafatnya Rasulullah, yaitu pada tahun ke-46 hijrah, pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Khalifah sendiri yang menyalati jenazah Sayyidah Mariyah al-Qibtiyah, kemudian dikebumikan di Baqi’. Semoga Allah menempatkannya pada kedudukan yang mulia dan penuh berkah. Amin.

Sumber: Buku Dzaujatur-Rasulullah , karya Amru Yusuf, Penerbit Darus-Sa’abu, Riyadh
http://ahlulhadist.wordpress.com
Powered by Blogger