Jumat, 07 Juni 2013

(bagus) 12 TIPS AMPUH CARA MENGHILANGKAN KEBIASAAN ONANI-COLI/MASTURBASI

Ayo, Kamu Bisa!

Onani dan masturbasi. Dua kata yang tabu disebutkan oleh orang yang masih memiliki fitrah di dalam dirinya. Sayang, bagi sebagian remaja saat ini, seakan-akan onani dan masturbasi adalah hal yang biasa. Bagi kamu yang sudah ‘ketagihan’, dengan kemauan, usaha, dan kerja keras yang tinggi, kamu pasti bisa keluar dari masalah ini.

Kamu mau kan dipanggil sebagai seorang mukmin. Nah, di antara ciri seorang mukmin adalah yang Allah sebutkan dalam Surat Al-Mu`minun ayat 5-7:
“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,(*) Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.(*). Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.”[Q.S. Al Mukminun 5-7].

Sebagian ulama menjadikan ayat di atas sebagai landasan diharamkannya onani dan masturbasi. Karena, orang yang melakukan onani dan masturbasi termasuk mencari selain yang Allah telah halalkan. Yang berarti telah melampaui batas sebagaimana yang disebutkan dalam ayat di atas.
Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Imam Asy-Syafi’i, Imam Malik, dan ulama lainnya berdalil dengan ayat ini tentang diharamkannya onani. Hal ini juga disebutkan oleh Al-Qurthubi dalam tafsirnya. (Adhwa`ul Bayan)

Nah, buat kamu yang sudah terlanjur ‘ketagihan’ melakukannya, kami sebutkan beberapa hal yang bisa kamu lakukan buat meredakan ‘dorongan jiwa’ ini. Terapi yang ditempuh untuk menghilangkan kebiasaan haram ini di antaranya adalah:
  1. Bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Merasa senantiasa diawasi oleh Allah di mana pun berada, di kamar tidur, kamar mandi, dan di semua tempat. Seluruh aktivitas kamu nggak ada yang tersembunyi bagi Allah. Semua yang kamu lakukan akan dicatat, lalu kamu akan dapati seluruh amalannya tercatat dalam catatan amal. Allah berfirman yang artinya, “Dan diletakkanlah catatan amal, lalu engkau akan melihat orang-orang yang berbuat dosa takut terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Aduhai celaka Kami, kenapa kitab ini tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.’ dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan. dan Rabbmu tidak menzalimi seorang pun”.[Q.S. Al-Kahfi:49].
  2. Menikahlah. Onani dan masturbasi disebabkan dorongan syahwat yang kuat. Jadi, bagi yang mampu menikah, menikahlah. Lagipula, menikah itu banyak banget untungnya lho.
  3. Kalau belum mampu menikah, lemahkan syahwat kamu dengan puasa. Untuk poin dua dan tiga ini, Rasulullah bersabda dalam riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Ibnu Mas’ud z yang artinya, ”Wahai para pemuda, siapa yang mampu menikah, maka menikahlah. Adapun yang belum mampu berpuasalah, sesungguhnya puasa adalah tameng baginya.”
  4. Sibukkan diri kamu dengan kegiatan yang bermanfaat, amal shalih, bekerja, belajar, olah raga, dan yang lainnya. Jangan banyak melamun atau kosong dari amal shalih.
  5. Cari teman baik yang bisa mengingatkan dan menasehati.
  6. Hindari pemicu syahwat, seperti ikhtilat (campur baur lawan jenis), tidak menjaga pandangan dan yang lainnya.
  7. Berdoa kepada Allah, memohon kepada-Nya untuk mengilangkan kebiasaan buruk ini. Plus, berusaha sekuat tenaga agar tidak terjerumus ke dalam maksiat ini.
  8. Jangan pernah memandang remeh satu dosa pun. Al-Qadhi ‘Iyadh v mengatakan, “Ketika engkau meremehkan dosa, ketika itu pula akan besar di sisi Allah. Ketika engkau menganggap besarnya dosa, ketika itu pula akan menjadi kecil di sisi Allah.” Tumbuhkan rasa takut kepada Allah. Abdullah bin Masud z mengatakan, “Seorang mukmin melihat dosanya seolah-olah seperti melihat gunung yang khawatir akan runtuh menimpanya. Adapun seorang pendosa melihat dosanya seolah lalat yang hinggap pada hidungnya, ia kipaskan begitu saja dan terbang”. [Riwayat Al-Bukhari dan Muslim].
  9. Catat dan ingat-ingat ucapan Nabi ` ini, “Siapa saja yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik darinya.” [H.R. Al-Baihaqi di dalam Syu’abul Iman, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani v dengan disandarkan kepada Imam Ahmad]. Pengen dong yang lebih daripada kesenangan ‘sekejap’ yang langsung lenyap.
  10. Jangan menyerah, selalu semangat dan minta pertolongan kepada Allah. Rasulullah ` bersabda,”Bersemangatlah dalam setiap yang bermanfaat bagimu dan mintalah selalu pertolongan Allah, jangan lemah.” [H.R. Muslim dari sahabat Abu Hurairah z].
  11. Coba kamu renungkan, Allah telah menciptakan kamu, memberikan segala fasilitas buat kamu, melimpahkan nikmat-Nya lahir dan batin. Allah ta’ala berfirman, “Tidakkah kalian perhatikan bahwasanya Allah telah menundukkan untuk kalian apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin.” [Q.S. Luqman:20]. Kenapa justru kamu balas dengan maksiat?
  12. Poin terakhir, kami ingatkan, semakin besar dan berat usaha kamu, semakin besar pula pahalanya di sisi Allah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, dari Aisyah Radhiyallaahu ‘anha, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi Wasallam` bersabda yang artinya, ”Sesungguhnya balasanmu sesuai dengan kadar keletihanmu.”
Ayo berjuang, kamu bisa, insya Allah. Allahu a’lam. [Farhan]
Sumber: http://tashfiyah.net/2011/06/agar-sembuh-onani-ayo-kamu-bisa/

Menghilangkan Kebiasaan Onani

 
Assalamu’alaikum
Saya seorang remaja muslim yang terjebak kebiasaan buruk onani. Saya tahu hal tersebut adalah kesalahan dan saya ingin menghentikannya tapi saya belum mampu. Tolong berikanlah saya nasihat bagaimana cara menghentikannya. Dan tolong beritahukan saya apa akibat buruk onani bagi kesehatan dan dampaknya dalam hubungan suami isteri setelah menikah. Karena ada beberapa kalangan termasuk ahli kedokteran yang menganggap perbuatan onani adalah normal, padahal yang saya tahu apa yang dilarang Allah Ta’ala untuk dikerjakan manusia adalah agar mereka menjauhinya agar tidak mengerjakannya untuk kepentingan (kemanfaatan) manusia sendiri.
Fulan di bumi Allah

Dijawab oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah As Sarbini Al- Makassari

Wa’alaikumsalam warahmatullah. Benar apa yang anda katakan bahwa apa yang dilarang oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’ala  atas hamba-hamba-Nya adalah demi kepentingan dan maslahat manusia sendiri. Tidaklah seorang hamba mengerjakan sesuatu yang haram kecuali pasti membahayakan dirinya sendiri. Di antara perbuatan haram yang terlarang adalah melakukan onani, apalagi sampai pada tahap jadi kebiasaan.
Jadi perbuatan onani bukanlah perbuatan normal yang biasa-biasa saja. Para ulama dan ahli kesehatan juga telah menyatakan adanya mudharat yang akan merusak kesehatan pelakunya serta melemahkan kemampuan berhubungan suami-istri ketika berkeluarga. Selain itu pula onani merupakan perangai buruk yang rendah dan hina serta memalukan. Seorang muslim yang berakal dan berakhlak mulia akan menjaga dirinya semaksimal mungkin dari perbuatan yang hina ini. Barangsiapa terjebak dengan kebiasaan buruk ini, maka kami nasihatkan kepadanya hal-hal berikut ini:
  1. Hendaklah bertaubat kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala dan memohon ampunan-Nya.
  2. Menyabarkan diri agar tidak terjatuh kembali ke dalam kebiasaan buruk itu dan memohon pertolongan kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala agar mampu menghindarinya.
  3. Segera menempuh solusi yang akan membebaskannya dari onani dengan cara menikah, jika sudah mampu biaya untuk itu.
  4. Jika belum mampu menikah, hendaklah memperbanyak puasa hingga syahwatnya benar-benar hilang dan luluh dengan puasa.
  5. Menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan ibadah dan kegiatan duniawi yang bermanfaat baginya untuk mengalihkan pikirannya dari onani.
  6. Menjauhkan diri dari hal-hal yang membangkitkan syahwat, seperti melihat wajah dan sosok wanita secara langsung atau melalui gambar, bercampur baur (ikhtilat) dengan wanita, dan yang semisalnya yang bisa membangkitkan syahwat.
Ini yang bisa kami nasihatkan, semoga anda dan semisalnya diberi hidayah dan taufiq oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’ala untuk membenahi diri dan menempuh lembaran hidup baru di atas jalan Allah l. Seseorang tidak boleh berputus asa dari kebaikan dan rahmat Allah Subhaanahu Wa Ta’ala, kesempatan masih terbuka lebar dan tidak ada kata terlambat selama hayat masih dikandung badan. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi Wasallam  bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجِزْ
“Bersemangatlah engkau untuk meraih apa-apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala, serta janganlah engkau berputus asa.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu)
Sumber: http://asysyariah.com/menghilangkan-kebiasaan-onani.html

repost: kaahil.wordpress.com

Ingin Cepat Hamil

Ingin cepat hamil memang naluri seorang wanita setelah menikah. Rasa iri akan muncul ketika kita melihat teman anda atau wanita lain seumuran dengan anda hamil atau sedang menggendong anak sedangkan anda sendiri belum hamil. Banyak kebahagiaan yang diperoleh dari adanya seorang anak dirumah.

Ingin Cepat Hamil
Ingin Cepat Hamil


Ingin Cepat Hamil Itu Membahagiakan

Wajar-wajar saja ketika anda sudah menikah dan belum memiliki keturunan sehingga anda sangat menginginkan seorang anak. Banyak pula pasangan suami istri yang berusaha keras untuk memperoleh keturunan hingga menjalani berbagai macam pengobatan agar cepat hamil. Jika dipikir-pikir memiliki anak adalah amanat yang sangat membahagiakan.

Tidak bisa dipungkiri jika Indonesia memiliki pertumbuhan penduduk yang tinggi dengan menyebaran yang tidak merata. Hal ini menyebabkan kemiskinan dan kelaparan sebab banyak keluarga dengan pekerjaan yang tidak jelas namun memiliki jumlah anak yang tidak sedikit, sehingga memiliki anak menjadi suatu beban tersendiri.

Padahal anak adalah titipan dari Tuhan. Disadari atau tidak, tawa anak anda mampu menghilangkan rasa penat dan lelah setelah seharian bekerja. Anda juga akan semakin terpacu bekerja dengan adanya anak anda di rumah sebab anda perlu bekerja keras untuk membiayai hidup anak anda pula.

Anak-anak juga investasi anda ketika anda tua. Saat anda sudah tidak mampu mengurus diri anda sendiri maka anak anda adalah orang pertama yang akan merawat anda dan membiayai hidup anda. Anak juga akan membuat anda semakin dewasa dalam menjalani hidup. Ketika anda mulai bertindak kekanak-kanakan maka tawa dan tangis anak anda akan menyadarkan anda.

Mendidiknya menjadi orang yang berguna maka anda juga telah memberikan generasi bangsa yang berkompeten untuk memajukan bangsa. Sebenarnya dengan memperbaiki perekonomian bangsa sembari terus menggalangkan program 2 anak cukup mampu memperbaiki keadaan bangsa. Jangan samapi kita tidak lagi memiliki rasa ingin memiliki ketururnan.

Rasa ingin cepat hamil sangatlah pantas dirasakan oleh semua istri. Anda bisa segera hamil dengan berhubungan seks pada masa subur anda dan tentunya anda harus terus menjaga kesehatan badan maupun pikiran anda.

Cepat Hamil

Cepat hamil tidak dirasakan oleh semua wanita yang telah menikah. Banyaknya faktor yang mempengaruhi terjadinya kehamilanmenyebabkan kehamilan terkadang sulit dicapai. Maka dari itu, mengetahui penyebab-penyebab wanita sulit hamil adalah hal yang perlu untuk dipelajari.

Cepat Hamil
Cepat Hamil


Cepat Hamil dengan Mempelajari Penyebab Sulit Hamil



Penyebab sulitnya seorang wanita hamil tidak hanya dipengaruhi oleh satu atau dua faktor namun dipengaruhi banyak faktor. Kesulitan hamil 40 % nya berasal dari wanita, 40 % lainnya dari pria dan sisanya karena faktor lain.

Menurut tips cepat hamil, masalah kesuburan menjadi momok besar yang mengakibatkan wanita sulit hamil. Hal tersebut diakibatkan karena adanya gangguan hormonal yang mengganggu proses ovulasi. Dari sisi pria sendiri biasanya masalahnya berasal dari kualitas sperma yang buruk. Sperma yang buruk tidak mampu bertahan untuk mencapai sel telur sehingga pembuahan tidak terjadi.

Endometriosis adalah suatu kondisi dimana jaringan rahim tumbuh di luar rahim. Hal tersebut mempengaruhi indung telur, sel telur, aluran telur hingga pada fungsi sperma. Pemeriksaan laparoskopi dapat digunakan untuk menghilangkan jaringan parut sehingga dapat membantu terjadinya pembuahan.

Pola hidup yang tidak sehat seperti mengkonsumsi alkohol, obat-obatan tertentu, kebiasaan merokok, makan makanan yang tidak sehat dan kegemumukan akan mengurangi kemungkinan terjadinya kehamilan. Bahkan obat-obatan tertentu mampu mengakibatkan infertilitas pada wanita, maka dari itu anda perlu cermat dalam mengkonsumsi obat-obatan. Kesehatan psikis juga perlu dijaga.

Penyumbatan atau jaringan parut yang ada tuba falopi (saluran telur) bisa mengakibatkan infertilitas. Jika salurannya rusak maka sel telur yang dihasilkan juga rusak. Kerusakan karena adanya penyumbatan, jaringan parut atau lainnya itu biasannya disebabkan karena infeksi penyakit menular seksual (ex. Klamidia), radang panggul atau bekas operasi akibat kehamilanektopik.

Mungkin terdengar lucu tapi ada sebuah kelainan hormonal pada beberapa perempuan dimana secara otomatis tubuhnya membentuk antibodi setiap kali sperma masuk. Kelainan tersebut biasanya disebut alergi sperma. Alergi ini bisa disembuhkan dengan paternal leukocyte immunization. Dengan mengenal hal-hal yang mempersulit kehamilan maka anda tahu bagaimana agar cepat hamil.

Kiat Cepat Hamil

Kiat cepat hamil dapat anda temukan disini. Tak sedikit orang yang mengalami kesulitan untuk memperoleh keturunan hingga melakukan berbagai macam cara untuk hamil. Akan tetapi, bisa jadi ketidak hamilan anda karena anda belum mampu memastikan hal-hal penting sebelum dan saat berhubungan. Maka dari itu anda perlu memperhatikan kiat berikut ini.


Kiat Cepat Hamil yang jitu

Ada beberapa hal yang perlu anda perhatikan bila pengen cepat hamil. Kesuksesan kehamilan dipengaruhi cara anda berhubungan seksual. Ada wanita yang hamil hanya dengan sekali berhubungan akan tetapi ada juga yang tidak mengalami kehamilan meskipun telah melakukannya berkali-kali.

Mengenali hari subur anda sangat penting. Dengan mengetahui hari subur anda maka anda dapat mengetahui mengenai masa ovulasi dan perubahan servik pada tubuh anda. Hal ini sangat efektif dan nyaman dengan hasil yang kehamilan dalam waktu dekat.

Semakin sering melakukan hubungan seksual maka semakin besar kemungkinan anda untuk hamil, akan tetapi anda juga harus melihat kondisi fisik maupun psikis dari pasangan anda. Kesehatan fisik maupun psikis juga sangat berpengaruh pada terjadinya kehamilan. Keadaan psikis yang tidak stabil dapat mempengaruhi kerja hormon yang mempengaruhi terjadinya kehamilan.

Berhubungan seksual sebelum dan sesudah masa ovulasi melipatgandakan kemungkinan anda untuk hamil. Berhubungan badan setiap hari juga bukanlah hal yang baik, sehingga memilih hari namun dalam intensitas yang rutin bisa menghasilkan hasil yang anda inginkan.

Memilih posisi berhubungan  yang baik bisa meningkatkan kemungkinan terjadinya kehamilan. Cobalah posisi misionaris, posisi tersebut dapat membantu anda untuk cepat hamil. Menjaga kesehatan dengan mengkonsumsi makanan yang sehat, tidur yang cukup dan berolah raga akan membuat badan anda fit saat melakukan hubungan badan.

Rokok, alkohol dan kafein adalah 3 hal yang perlu anda jauhi jika anda menginginkan kehamilan. Hal yang tak kalah penting adalah berdoa. Meminta kepada Tuhan untuk menyegerakan kehamilan dan mempermudah anda mendapatkan keturunan yang sehat perlu dilakukan. Sekeras apapun anda menjalankan kiat cepat hamil, jika Tuhan tidak berkehendak maka anda akan sulit hamil.
Kiat cepat hamil

Pengen Cepat Hamil

Pengen cepat hamil setelah menikah memang banyak didambakan oleh para istri. Sebuah keluarga tidak akan lengkap bila tidak adanya kehadiran seorang anak memang benar. Anak adalah anugerah yang dapat menambah rasa bahagia pada sebuah keluarga dan oleh karena itu hamil dibutuhkan. Banyak orang yang bilang jika semakin banyak anak maka makin banyak rezeki. Intinya, anak bawa hoki.


Pengen Cepat Hamil Lewat Makanan Sehat

Salah satu faktor yang mempengaruhi kemungkinan terjadinya kehamilan yaitu kesehatan kedua pasangan dengan mengkonsumsi yang mampu mendukung terjadinya kehamilan. Buah-buahan dan sayuran segar adalah makanan yang sangat baik untuk menambah ketahanan tubuh akan virus dan bakteri.

Susu, yogurt maupun keju adalah sumber protein yang dapat menambah kesuburan. Baik susu sapi maupun kedelai, keduanya memiliki kandungan protein yang tinggi. Kacang hijau dan  kecambah juga baik untuk meningkatkan kesuburan sebab keduanya memiliki kandungan vitamin E dan B6 yang tinggi.

Kaitannya dengan kiat cepat hamil, Vitamin E merupakan antioksidan yang berguna untuk melindungi sel, terutama sel telur dari adanya radikal bebas. Vitamin B6 dapat mengatur hormon reproduksi seperti yang dimiliki oleh buah alpukat. Buah alpukat juga mengandung betakarotin, vitamin E, B kompleks dan asam folat yang melancarkan metabolisme sehingga meningkatkan energi dalam tubuh.

Buah Kurma, terutama serbuknya dipercaya memiliki manfaat untuk mengatasi kemandulan baik pada laki-laki maupun perempuan. Mungkin anda belum tahu, jika asparagus dapat melepas lemak yang berada di dinding pembuluh darah sehingga meningkatkan kesuburan pria.

Makan makanan yang berserat seperti gandum dan sayuran baik untuk meningkatkan kesuburan annda. Meminum madu dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Zat yang dikandungnya mudah dicerna dalam darah. Hal tersebut dapat menjadikan fitalitas tubuh anda semakin kuat.

Jahe, lengkuas dan gingseng memiliki manfaat pula dalam mempercepat terjadinya kehamilan. Jahe dan lengkuas mampu mencegah ejakulasi dini, merangsang ereksi dan memperlancar peredaran darah. Sedangkan gingseng mampu memperbaiki hormon testoteron sehingga dapat digunakan sebagai afrodisiak. Pengen cepat hamil? Maka anda perlu mengkonsumsi makanan di atas.
Pengen cepat hamil

Senin, 03 Juni 2013

Engkau Akan Menangis Jika Membacanya, Insya Allah


Oleh: Akhyar Hadi, Mahasiswa Univ. Islam Madinah angkatan 1433 H

Lelaki itu seperti lelaki tua biasa. Biasanya lelaki tua sepertinya ditemui di lambung Masjid Nabawi, sebagai jamaah umroh akibat terlalu lama menunggu giliran haji. Atau lelaki tua sepertinya ada di sawah, kelelahan mencangkul walau matahari baru naik setengah. Bisa juga lelaki sepertinya kita temui sedang duduk-duduk di teras sambil menghias pot bunga, membersihkan rumput, dan menanam pohon kecil di pekarangan. Atau, kalau kita menyaksikan berita banjir di TVRI, lelaki seperti ini biasanya diwawancarai karena terlambat mendapat jatah bantuan mie instan. Dia jenis lelaki yang mudah didapati. Lelaki tua yang biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Diusianya yang sudah memasuki kepala enam, wajar jika seluruh rambut di kepalanya memutih. Tiap-tiap helai itu adalah gambaran masalah yang dilaluinya, guratan-guratan kerut di wajahnya adalah lambang goresan waktu yang jemawa. Tangan kanan dan kirinya tak lagi sekuat dulu. Bahunya yang dulu kekar, kini mulai kurus dan membungkuk. Ototnya lemah. Kadang dia beristighfar sambil menarik napas panjang ketika lelah. Tapi kawan, matanya istimewa. Di situlah pusat gravitasi pesona dirinya. Matanya itu, sang jendela hati, adalah layar yang mempertontonkan jiwanya yang tak pernah kosong. Seseorang yang biasa kucium tangannya. Ayah, kupanggil ia.

Ayahku adalah ayah pada umumnya. Ayah yang ketika aku kecil, menyediakan tempat duduk istimewa untukku saat karnaval kota malam Idul Fitri. Dia mendudukkanku di bahunya, digenggamnya erat kakiku agar nyaman saat duduk. Tak ia pedulikan karnaval itu. Karena tawaku adalah karnaval baginya. Bahagiaku adalah iringan semangat hidupnya.

Aku juga masih kecil saat itu. Ayah hanya seorang supir truk batubara di pedalaman Kalimantan. Bekerja selepas Isya lalu pulang sehabis Shubuh. Ayah adalah lelaki pendiam, tak banyak bicara. Tak suka memukul. Tak pandai ia marah. Walau begitu, ayah adalah tolak ukur tindakan bagiku, contoh hidup tingkah laku. Tak pernah ia cerewet menyuruhku salat. Ia hanya mengerjakan, lalu mengajakku bersamanya. Sesederhana itu, Kawan. Ia juga sangat ingin aku sering-sering membaca Al-Quran, walau tak pernah ia menyuruh. Walau tak pernah ia mencontohkan cara membaca Al-Quran. Kau tahu kenapa, Kawan? Karena kutahu, ia pun terbata membacanya.

Biasanya aku menghabiskan waktu bersama ayahku tiap akhir pekan. Aku senang berada di bak truk besarnya. Beliau duduk bersamaku sambil bercerita. Tentang para pahlawan, tentang panorama-panorama, bintang dan planet-planetnya, tentang semesta, juga tentang kota-kota yang pernah disinggahinya. Dia senang bercerita tentang banyak kota, dan aku tahu kota impiannya adalah Mekkah dan Madinah. Jauh, jauh di lubuk hatinya ia mendambakan kota itu melebihi kota manapun di dunia. Walau dia tak mengatakannya langsung, tapi aku tahu dengan sendirinya, seolah ada bahasa lain selain bahasa lisan, bahasa yang dijalin antara seorang anak dan ayahnya dari hati ke hati.

“Ayah ingin sekali pergi haji.”
Begitu kiranya jika kata itu diucapkan.

Aku masih muda, sedang ayah menua. Semenjak krisis ekonomi, harga batubara anjlok. Ayah dengan setumpuk masalah keuangan yang menimpanya bangkrut. Truk besar tua kami mogok. Rusak. Sekarat. Seolah bosan terlalu lama memikul bongkahan-bongkahan batu hitam langka. Tak bisa lagi diperbaiki karena tak ada biaya. Ayah tak bisa lagi bekerja. Ayah menganggur bertahun-tahun lamanya.

Ayah pun sekarang menikmati masa tuanya dengan belajar banyak dari agama. Sering pergi ke kajian-kajian ilmiah. Rajin ia membaca. Berlama-lama dengan kumpulan buku dan majalahnya. Jiwa tua itu masih sangat antusias. Sesuatu yang tak ia dapat selagi muda. Matanya, iya matanya, selalu membulat ketika menjelaskan kalau bid’ah itu semuanya sesat. Walau kata-katanya sedikit, aku dibuatnya percaya kalau semua kesesatan itu tempatnya di neraka. Dia juga orang paling mengamati tiap senti celana. Dijaganya agar aku tak menjulurkan pakaian melebihi batasnya. Ayah sangat senang pergi ke masjid. Tak pernah absen ia ke sana. Tubuh tuanya itu mendadak kuat jika berjalan sebelum waktu Shubuh yang dingin, dan jika ia pergi ke masjid sebelum Maghrib, maka ia akan datang ke rumah setelah Isya. Dengan kaki-kaki tuanya. Hampir satu kilometer jauhnya.

Setelah lulus sekolah menengah atas di sebuah kota di Banjarmasin, aku merantau belajar menjadi mekanik handphone dan komputer di tempat pamanku, di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Setelah setahun di sana dan merasa punya skill, aku kembali ke Banjarmasin dengan tujuan bisa kuliah sambil membuka sebuah toko service handphone dan komputer. Aku mulai membeli alat-alat service, juga iklan di sana-sini. Mendadak, aku terkenal dengan julukan tukang handphone. Aku menjalankan bisnis ini pelan-pelan, dari pintu ke pintu. Mulai dari keluarga sampai orang-orang di sekitarku. Pelangganku pun bermacam-macam, Kawan. Dari tukang kambing, pedagang asongan, pengangguran, ustadz, ibu rumah tangga, sampai mahasiswa. Kau tahu, Kawan, kenapa mereka senang aku memperbaiki telepon tangan mereka? Jawabannya adalah karena mereka bisa menentukan garansi semau mereka.

Namun hari itu, Kawan, hari itu adalah hari aku bersama ayah pergi ke sebuah majelis taklim, di mana setelah memberikan tausiyah, seorang ustadz menawarkan beasiswa bagi lulusan SMA yang ingin menghafal Al-Quran di Bogor. Ayah menunduk. Didengarnya iklan itu dengan seksama. Aku melihat matanya.
“Ayo kita pulang, Yar.”

Mata teduhnya tak bisa mengecohku. Sembilan belas tahun menjadi anaknya tentu aku mengerti maksudnya.
Ia ingin Aku lebih baik darinya. Bisa membaca Al-Quran dengan sempurna. Tak seperti dirinya yang terbata.

Namun tak bisa ia meminta. Ia masih tak banyak bicara.

“Saya mendaftar beasiswa itu, Yah. Kalau diterima Saya langsung berangkat ke Bogor.”
Kulihat matanya membulat. Wajahnya berseri seketika.Walau tanpa kata, namun ada senyum di sana. Bagiku, melihatnya tersenyum adalah sebuah harta.
...
Dan akhirnya aku benar-benar mendapatkan beasiswa itu. Walau aku tahu, aku sebenarnya tidak bisa membaca Al-Quran dengan baik, setidaknya aku akan berusaha. Setidaknya aku akan belajar untuk membuatnya bangga. Aku ingin mengajarinya, membaca Al-Quran bersamanya. Walau aku sadar, Aku hanya seorang tukang service handphone. Tapi Kawan, bukankah Syaikh Albani yang nama beliau sering kujumpai di buku dan majalah ayahku juga pernah menjadi seorang mekanik jam?

Hari itu aku meninggalkannya merantau lagi ke pulau Jawa. Setelah mencium tangannya, aku memeluknya. Hangat sekali peluknya, seperti selimut bagi seorang gelandangan kota Malang yang kedinginan. Jam dua malam.

“Hati-hati, Yar.”

Ia masih tak banyak berkata. Namun pelukannya itu bermakna. Nasihatnya mengandung harapan besar. Harapan agar anaknya bernasib lebih baik darinya. Dan begitulah seorang ayah seharusnya.

Aku merantau, menuju pulau Jawa. Tak muluk aku ingin jadi orang yang hafal Al-Quran, bagiku bisa membaca Al-Quran dengan baik saja sudah lebih dari cukup. Mungkin bisa menjadi imam di kampung saat tarawih dengan ayahku menjadi makmum saja, aku sudah sangat bahagia. Karena aku telah berjanji membuatnya bangga. Tapi karena Allah, tetap menjadi niat yang utama.

Musim-musim berganti, setiap tahun aku pulang sekali. Mengunjungi ayah yang kurindui setiap hari. Ayahku adalah anak keenam dari empat belas bersaudara. Semuanya kaya raya kecuali dia, semua sudah naik haji kecuali dia.

Kini, setelah ia tak lagi memiliki perkerjaan, harapannya untuk naik haji hilang pelan-pelan. Namun bukan ayah namanya jika kehilangan semangatnya, dengan sedikit uangnya ia ikut mencicil TV kabel berlangganan, yang mana dibayar urunan beberapa keluarga dalam satu perumahan. Dengan TV tabung tahun 1998, dicarinya channel Mekkah dan Madinah. Di saat ia tidak berada di masjid, maka acara dua stasiun TV Arab Saudi itulah teman kesukaannya. Ia senang memonton sambil bersandar pada sebuah kursi. Jika ia bosan dengan siaran di Mekkah, maka digantinya ke siaran stasiun Madinah, jika bosan lagi, maka akan kembali ke stasiun semula. Terus berpindah seperti itu. Layaknya metromini jurusan Blok M-Pasar Minggu yang tak singgah ke terminal lain. Jika si tukang kameramen mengambil gambar Masjid Nabawi, lalu menyorot karpet hijau antara mimbar dan makam Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam, maka bibirnya bergerak, seolah ia sedang meminta, berharap agar doanya diterima. Lain lagi jika sang kameramen menyorot ka’bah, maka ayah bangun dari sandarannya, dipasangnya kacamatanya agar tak samar pandangannya, seolah ia membayangkan dirinya berada di sana lalu mengitari rumah tua itu dengan bahagianya. Dipandangnya ka’bah dan beberapa bagian Masjidil Harom dengan haru, lalu diliriknya wajahku, seolah berkata,

“Kau lihat, Yar.. itu prosesi umroh. Lihat Yar! Lihat Baitullah, itu kiblat kita. Tahukah engkau, Anakku, Ayah sangat ingin ke sana. Ayah ingin mencium hajar aswad, Ayah ingin berlari-lari kecil seperti orang di Shafa dan Marwa itu, Yar.. Lihat! ”

Aku kelu. Pria pendiam ini juga menyimpan cita-citanya dalam diam.

Yang membuat pilu di hatiku semakin ngilu adalah ketika melihatnya di masjid bergaul dengan teman-teman seumurannya yang semuanya juga sudah pernah menunaikan ibadah haji. Adalah adat di kampung kami bahwa sebuah pemuliaan panggil memanggil dengan sebutan “haji”. Teman-temannya kadang memanggil ayah dengan sebutan haji hanya untuk memuliakan ayah yang umurnya terlihat lebih tua dari mereka. Aku mafhum, ayah kelu di hatinya. Ingin ia seperti teman-temannya. Panggilan itu hanya fatamorgana untuknya. Seperti melihat air di aspal nun jauh, semu, tak ada apa-apa.

Pernah suatu hari ayah menolong seseorang di jalan. Orang itu berterima kasih sembari mendoakan,
“Terimakasih, Pak. Semoga Bapak cepat naik haji,” lirihnya.

Hari itu aku melihat ayahku tersenyum. Senyum itu, Kawan, senyum itu begitu dalam maknanya, untukku dan untuknya. Untuknya karena doa itu masuk ke hatinya lalu ia berharap agar di-ijabah Tuhan pemilik timur dan barat. Untukku, karena aku ingin sekali melihat ayahku tersenyum lagi, seperti hari ini, aku ingin sekali ayah pergi ke rumah Allah. Tuhan pemilik arah kiblat.

Di tengah perantauanku di Pulau Jawa. Setelah berganti-ganti pondok tahfizh beberapa kali, aku bermukim di Jogja. Hari itu, aku menelpon ayah, mengabari bahwa ada tes penerimaan mahasiswa baru Universitas Islam Madinah. Pria tua itu terperanjat. Lalu membanjiriku dengan kata. Bercerita ia, tiap detail katanya adalah semangat dan intonasinya berupa letupan-letupan motivasi. Ia laksana merapi yang menumpahkan seluruh larva. Mencurahkan apa yang ia rasa. Ia berjanji akan memberiku apapun yang kuperlukan untuk bisa ikut tes perguruan tinggi yang ia katakan sebagai universitas Islam terbaik di dunia. Aku pun terperanjat. Ganjil sekali, seolah itu bukan ayahku yang pendiam.

Dan yang paling membuatku haru adalah ketika ia berkata, “Jangan pikirkan masalah uang, Nak, jangan pikirkan. Ayah yang akan mencarikan. Insya Allah.”

Terisak ia.

Kau tahu, Kawan, ayahku sekarang hanya supir ambulan sebuah masjid, itu pun terkadang. Tak setiap hari ia dapat uang. Ia berjanji akan menyisipkan namaku dalam setiap doanya, di sepertiga malamnya. Setiap harinya.

Hari itu dua puluh dua tahun usiaku. Berada di pedalaman Jawa selepas salat Shubuh. Aku bersama dua orang temanku, Isnan dan Mukhroji. Kami baru saja mengikuti tes masuk Universitas Islam Madinah di Pondok Pesantren Darussalam, Gontor, Ponorogo. Kami memutuskan pulang setelah Shubuh. Nahas, pedalaman Ponorogo itu bukanlah Bogor yang angkot bisa lewat 24 jam. Kami menunggu sampai matahari meninggi. Berharap ada tumpangan transportasi.

Mukhroji cemas, ia harus secepatnya sampai ke Tegal karena ada suatu urusan keluarga. Berkali-kali pemuda tinggi ini menoleh ke sana-kemari berharap angkutan pedesaan segera datang. Sebentar duduk, ia bangkit berdiri, lalu menoleh lagi. Kawanku ini mungkin mendapat musykil yang berat dalam keluarganya. Lain lagi si Isnan, pemuda ramah asal Klaten ini ingin cepat pulang karena hampir setiap hari di sini ia memakan pecel khas Jawa Timur. Yang mana efek sampingnya adalah bosan, tak selera makan, dan sedikit mengganggu pencernaan. Pemuda terakhir, yaitu Aku, dengan alasan yang sama dengan Isnan. Karena kami membeli makanan secara patungan. Di pagi itu, kami menunggu dengan kumpulan rasa bosan.

Namun di ujung jalan, sayup-sayup bayangan kecil muncul, membesar dan kian dekat dengan tiga orang malang tadi. Bayangan itu menjadi nyata berupa sebuah mobil besar, gagah, dan nyaring bunyinya. Sebuah truk. Namun wajah dua temanku datar. Berbeda denganku yang sumringah tiap melihat sebuah truk. Kulambaikan tangan, girang aku. Berteriak-teriak seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat ayunan di sebuah taman bermain.

Truk itu berhenti. Aku membuka pintu. Seorang pria di sana. Tak terlalu muda. Kutaksir empat puluhan umurnya. Pandangan matanya, seolah sudah tahu sebelumnya bahwa tiga orang di pinggir jalan itu hanya akan merepotkannya. Wajahnya sangar. Mimiknya kasar. Otot-otot badannya besar. Ia mirip tukang pukul seorang pejabat yang baru saja dilantik menjadi bupati.

Namun semua itu mencair ketika aku menatap matanya. Seolah ia melihat sesuatu di wajahku. Wajah yang seolah bicara. Berbicara bahwa ayahku adalah supir truk seperti dirinya. Dia pun seolah mengerti apa yang kubahasakan lewat wajah. Mungkin ada bahasa yang kurasa hanya aku dan para supir-supir truk saja yang memahaminya. Atau mungkin juga karena wajahku memelas dengan sempurna.

“Naiklah!” Ia langsung ramah. Entah kemana si tukang pukul bupati ini menaruh mimik seram yang diperagakannya sebelumnya.

Isnan dan Mukhroji naik dan duduk disamping sang supir. Hanya bisa untuk dua orang tempat duduknya. Aku? Ah, Kawan, aku mencari tempat favoritku. Menaiki bak truk itu. Bak itu hanya persegi panjang dari besi dengan sisa-sisa pasir berhamburan, melayang dan berputar terbawa angin. Aku duduk di sana. Hening. Bergoyang-goyang di jalan pedesaan yang bergelombang. Aku melamun. Di sana seolah ada lorong waktu yang membawaku jauh. Jauh ke masa lalu. Ke masa kecilku. Bersama ayahku di sebuah bak truk. Aku melihat ia bercerita. Aku mendengar intonasi khasnya. Aku mendengar suara kecilku tertawa. Aku merasa tubuh kecilku digendongnya. Wajah mudanya masih kuingat dalam pikiranku. Sesekali ia bercerita sambil mengusap rambut ikalku. Aku terbuai fantasi. Indah sekali.

Lorong waktu itu lalu mengembalikanku ke dunia nyata. Aku sendiri di sini merindukannya. Dalam sebuah bak truk dengan sisa-sisa pasir di dalamnya. Mataku sakit diserang butiran-butiran pasir yang melayang dalam pusaran angin di bak. Tapi bukan itu alasanku untuk meneteskan air mata. Air itu jatuh karena aku rindu pada ayah. Rindu tak terkira.
...
Beberapa musim berganti dengan cepatnya. Banyak hal-hal yang tak pernah kita kira dan kita duga. Sebuah doa melesat ke langit dan dijawab oleh Tuhan Pemilik Semesta. Aku akhirnya diterima. Aku dapat beasiswa ke Madinah. Lagi-lagi aku merantau jauh meninggalkan seorang lelaki tua. Sebelum pergi aku memeluknya. Ia kembali menjadi dirinya yang tak banyak berkata. Tapi aku tahu, pelukan itu sudah mengatakan semuanya. Bahwa ia bangga. Ia bangga anaknya bisa ke kota impiannya. Kota yang sering ia ceritakan. Bahwa ia pun rela jika seandainya tak pernah bisa ke Madinah, asal anaknya bisa. Anaknya bisa lebih baik darinya. Bisa berangkat haji. Bisa salat dengan ganjaran ribuan kali. Lalu kudengar kata keluar dari mulutnya, pujian untuk Ilahi Robbi.

Hari ini, di mana aku berdiri, di kota yang mulia ini, adalah giliranku yang berusaha berbuat untuknya. Aku masuk dalam program persiapan bahasa, dua tahun lamanya, sebelum bisa kuliah di salah satu jurusan yang tersedia. Berada di sini adalah level terendah seorang mahasiswa. Aku di sini adalah gabungan antara kejahilan bahasa dan keberuntungan bisa berada di sini semakin lama.

Kau tahu, Kawan, Kau bisa saja merendahkanku karena hinanya aku di mata kalian, kita berbeda, Kawan. Aku masih memiliki ayah yang harus kubahagiakan. Tiap uang yang kuterima kusisihkan, tiap lantunan doa kuselipkan. Aku ingin pergi haji bersama ayahku. Aku ingin mengitari ka’bah bersamanya. Menuntunnya. Berlari kecil di sampingnya antara Shafa dan Marwa. Aku ingin membimbingnya. Aku ingin suatu hari ia melihatku berada di kampus kita, yang ia sangka terbaik di dunia. Aku ingin ia tahu kalau aku sudah bisa membaca Al-Quran di Masjid Nabawi. Aku ingin memanjatkan doa bersamanya di Raudhoh. Ingin kuceritakan ia tentang seluk beluk kota ini, kota impiannya. Seperti ia menceritakan padaku ketika aku kecil.
Kapankah itu? Entahlah, Kawan. Entahlah kapan. Aku hanya ingin melihatnya tersenyum lagi. Tersenyum saat pergi haji.

Ayahku adalah lelaki tua seperti biasanya. Lelaki sepertinya bisa kita jumpai di mana saja. Tapi bagiku, ayah adalah lelaki istimewa. Aku bertahan di sini menunggunya. Menunggu keajaiban Tuhan untuknya. Akan tibakah saatnya?

Ini adalah cerita sederhana sebuah kata. Kata yang kita semua memilikinya. Entah kita masih memilikinya, atau telah tiada.

‘Ayah.’

 repost: http://irgimnur.blogspot.com

PENANTIAN SEORANG ISTRI SELAMA 10 TAHUN




Kisah ini diceritakan sendiri oleh pelakunya, yang dimuat di koranAl-Yaum. Dia berkata, “Saya menikah ketika usia saya menginjak 21 tahun, di awal Sya’ban pada tahun 1411 H. Seperti wanita muda yang siap menikah dan mengarungi hidup baru, saya bersatu dengan suami saya diliputi banyak impian. Yang paling penting adalah impian menjadi ibu. Bulan-bulan berlalu, dinaungi perasaan bahagia dan penantian, penantian terwujudnya impian terpenting bagi suami-istri, yakni kehadiran seorang anak yang menebarkan kebahagiaan dan keceriaan di penjuru rumah. Tetapi penantian itu berlang­sung lama, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Dan semakin lebarlah lingkaran penantian. Orang-orang di sekitar mulai ikut serta dalam penantian kami, yang justru semakin mempersulit keadaan.

Dalam pandangan sebagian orang saya menjadi tertuduh. sebagian lain menganggap saya sebagai wanita yang patut dikasihani, sehingga mereka menjauhi pembicaraan tentang topik apapun yang berkaitan dengan masalah ini secara berlebihan. Yang lebih menyulitkan adalah sikap sebagian orang yang menganggap saya sebagai wanita pendengki. Salah seorang tetangga tidak memberitahukan kehamilannya kepada saya. Yang lain tidak menampakkan anak-anaknya di depan saya, takut dari pandangan mata saya yang mendengki. Semua itu menjadikan saya seorang wanita yang terkucil.
Hal ini semakin menambah kesendirian dan keterasingan saya. Perjalanan pengobatan dimulai sejak 6 bulan setelah pernikahan. Saya menghayalkan seorang anak yang berlarian di setup sudut rumah. Saya membayangkan bermain dengannya di satu waktu, atau dia menggoda saya dengan kebandelannya di lain waktu.
Setelah menunggu selama 7 tahun, saya dihinggapi keputusasaan. Sava menyerah dan meninggalkan pengobatan. Saya berhenti mondar-mandir dari satu dokter ke dokter lainnya. Tetapi Suami saya tidak menyetujui sikap saya. Dia memperingatkan saya agar tidak berputus asa dari rahmat Allah.
Suami saya mempunyai perhatian dan kasih sayang yang besar. Saya telah menawarkan kepadanya untuk menikah, tetapi dia menolak seraya berkata, “Menikah itu memberi dan menerima. Kedua belah pihak menanggung untung dan rugi.”
Suatu saat ketika saya berkonsultasi secara rutin dengan seorang dokter wanita, dokter itu meminta melakukan beberapa pemeriksaan. Dia membawa saya kc ruang USG. Selang lima menit dari pemeriksaan, dokter itu tiba-tiba melompat dari tempat duduknya, merangkul dan mencium saya sambil menangis, berulang-ulang dia berucap, “Kembar, kembar. Hamil kembar.” Suami saya bergegas masuk ke ruangan tersebut sambil bertanya-tanya, “Apakah berita ini khusus untuk istri saya? Apakah yang muncul di layar monitor itu benarbenar janin saya? Tolong dicek ulang!”
Itulah ucapan terakhir yang saya dengar sebelum saya pingsan. Ketika sadar saya telah bcrada di suatu ruang peristirahatan di rumah sakit. Suami, bapak dan ibu mertua sava berada di sekeliling saya mengucapkan selamat atas kehamilan saya.
Sava keluar dari rumah sakit setelah dua hari menginap. Kebahagiaan dn keceriaan menyelimuti diri saya. Akan tetapi hari-hari panjang, Sembilan tahun masa pengobatan menjadi lebih pendek bagi saya daripada satu hari dari hari-hari kehamilan untuk menunggu kelahiran anak-anak saya. Setelah kehamilan saya berusia dua setengah bulan, tiba-tiba terjadi pendarahan . Setelah dicek ke dokter, dikatakan bahwa kehamilan saya tidak bisa diteruskan. Janin telah wafat dan rahim harus dibersihkan.
Percayalah saya tidak bersedih. Saya justru bersyukur kepada Allah karena saya pernah mengalami dan merasakan hamil. Ya, sebagai wanita saya pernah hamil! Lima bulan setelah keguguran, saya kembali lagi ke dokter karena perut saya sakit seperti sakitnya orang hamil. Tiba-tiba dia menyampaikan bahwa saya hamil tujuh bulan dan bahwa satu dari janin yang kembar ditakdirkan Allah untuk hidup. Dokter menyampaikan hal itu sementara dia hampir-hampir tidak percaya, terlebih saya sendiri. Setelah proses keguguran saya telah puas pernah hamil, sebagaimana yang dulu saya katakan. “Subbanallah, ya Allah betapa besar kekuasaan-Mu.”
Saya menulis kalimat-kalimat ini dan saya masih berada di ruang perawatan di rumah sakit. Di samping saya, ada Muhammad anak saya, usianya sekarang 22 jam. “Wahai putraku, betapa lama aku merindukanmu, rumah kita, sudut-sudutnya merindukan kedatanganmu. la merindukanmu. Aku akan meletakkanmu dihatiku, membawamu ke rumah kami, di mana aku melihatmu bermain, tumbuh besar selama masa penantian panjang selama sepuluh tahun. Tetapi kali ini kamulah yang harus bersabar, tunggulah ayahmu pulang dari umrah. Dia bersyukur dan memuji Allah atas karunia-Nya dan nikmat-Nya kepada kita.”

Sumber: Buku ”Dan Datanglah Kemudahan…”, Ahmas Salim Baduwailan, Hal.43-47

(MASUK ISLAMNYA SI PEMBUAT FILM FITNA) SEKARANG DIA MEMELUK ISLAM


Masuk Islamnya Arnoud Van Doorn membuat Belanda gempar. Pasalnya, Van Doorn adalah teman Geert Wilder sekaligus mantan Wakil Ketua Partai Kebebasan (PVV). Geert Wilders dikenal luas sebagai politisi anti-Islam yang pernah membuat film Fitnapada 2008 lalu. Sedangkan PPV yang didirikannya juga dikenal sebagai partai politik berhaluan liberal yang menentang Islam. Apa alasan Van Doorn masuk Islam dan bagaimana ia mendapatkan hidayah? Berikut ini kisahnya:
Arnoud Van Doorn bukanlah nama baru dalam jagat perpolitikan Belanda. Ia aktif di PVV, bahkan menjadi salah satu pucuk pimpinan sebagai Wakil Ketua. Tetapi justru itulah yang mengusik hatinya. Mengapa partainya selalu memusuhi Islam? Rasa penasaran Van Doorn terhadap Islam semakin tak terbendung, hingga ia pun mulai mempelajari apa itu Islam yang sebenarnya.
“Saya benar-benar mulai memperdalam pengetahuan saya tentang Islam karena penasaran,” kata Van Doorn mengenang awal mula hidayah Islam menghampirinya.
Rasa penasaran itu membuat Van Doorn mencari terjemah Al-Qur’an, hadits, dan buku-buku referensi Islam. Hari demi hari berikutnya ia lalui dengan membaca dan mengkaji buku-buku itu satu per satu, tanpa meninggalkan aktifitasnya yang lain. Selama ini Van Doorn hanya tahu Islam dari perkataan orang-orang yang membencinya.
Orang-orang yang dekat dengan Van Doorn sebenarnya tahu bahwa Van Doorn membaca referensi Islam, tetapi agaknya mereka tidak sampai berpikir bahwa itu akan menjadi jalan hidayah bagi Van Doorn. Karena lazim dalam dunia mereka, mengkaji sebuah pemikiran atau suatu faham tanpa harus mempercayai dan mengikutinya. Bahkan, tidak sedikit orang yang mempelajari Islam untuk kemudian menyerangnya.
Van Dorn menghabiskan waktu hampir setahun untuk mengkaji Qur’an, Sunnah dan sejumlah referensi Islam tersebut. Ia juga menyempatkan berdialog dengan penganut Islam untuk mengetahui lebih jauh tentang agama yang menarik hatinya tersebut.
“Orang-orang di sekitar saya tahu bahwa saya telah aktif meneliti Qur’an, sunnah dan tulisan-tulisan lain selama hampir setahun ini. Selain itu, saya juga telah banyak melakukan percakapan dengan Muslimin tentang agama,” ujar Doorn kepada televisi Al-Jazirah Inggris.
Semakin lama mempelajari Islam, Van Doorn semakin tertarik. Ia mulai merasakan Islam sebagai sesuatu yang spesial. Meskipun sebelumnya ia juga memiliki pondasi Kristen sebagai agamanya, Van Doorn merasakan Islam itu istimewa.
Apa yang selama ini ada dalam kepalanya bahwa Islam itu fanatik, menindas wanita, tidak toleran, membabi buta memusuhi Barat, perlahan hilang dari pikirannya. Van Doorn menemukan Islam sebagai sesuatu yang sama sekali berbeda dari apa yang pernah ia sangka.
Van Doorn juga menemukan, Islam adalah agama yang cinta damai. Tidak seperti tuduhan media Barat yang selama ini mencitrakan Islam sebagai teroris.
“99 persen kaum muslimin adalah pekerja keras dan pecinta damai. Jika lebih banyak orang mempelajari Islam yang benar, semakin banyak orang yang akan melihat keindahan itu,” kata Van Doorn ketika diwawancarai oleh MNA.
Jalan hidayah bagi Van Doorn semakin terbuka lebar ketika bertemu dengan seorang Muslim bernama Aboe Khoulani, seorang rekannya yang menjabat di Dewan Kota Den Haag. Selain menjelaskan Islam lebih jauh, ia juga menghubungkan Van Doorn dengan Masjid As-Soennah.
Puncak “pertarungan batin” dialami Van Doorn beberapa waktu kemudian. Apakah ia akan mengikuti hidayah yang diamini oleh fitrahnya itu atau sebatas menjadikannya sebagai pengetahuan. Beruntung, saat-saat itu tidak berlarut-larut. Setelah mantap dengan Islam, Van Doorn pun mengikrarkan syahadat. Ia pun menjadi Muslim dan menjadi saudara bagi sekitar 1,9 milyar umat. Tetapi bagi partai dan pengikutnya, Van Doorn dicap “pengkhianat.”
Ket: Foto beliau tatkala sedang shalat di Ar Raudhah (Masjid an Nabawi Madinah)
Sumber:

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/03/18/mjt3rm-arnoud-van-doorn-tokoh-partai-antiislam-pun-bersyahadat-bagian3-habis

Minggu, 02 Juni 2013

(Tragis Dan Haru) Menghitung Hari di atas Ranjang Kematian


 

Seorang wanita itu menuliskan kisah hidupnya dengan tangannya sendiri. Ia menuturkan:
Tiada satu hari pun berlalu tanpa tangisanku. Dalam setiap hari yang aku jalani, berkali-kali terlintas dalam pikiranku untuk bunuh diri.
Hidup ini sudah tiada artinya lagi bagiku. Aku selalu mengangankan hadirnya maut setiap saat. Duh, seandainya aku tidak pernah dilahirkan, dan tidak mengenal dunia ini….
Kisahnya bermula bersama seorang teman wanitaku. Pada suatu hari, ia mengajakku ke rumahnya, sedangkan ia termasuk orang yang sering menggunakan internet. Terdoronglah aku untuk tahu dunia internet.
Maka ia mengajariku bagaimana menggunakannya. Semua itu berlangsung selama hampir dua bulan, di mana aku mulai sering mengunjungi temanku itu.
Aku belajar darinya program chatting dengan berbagai fasilitasnya. Aku juga belajar cara membuka serta mencari situs-situs yang baik maupun yang buruk.
Di sela-sela masa dua bulan tersebut aku selalu bertengkar dengan suamiku, karena aku ingin ia menyediakan internet di rumah. Ia menentang keinginanku itu, hingga aku meyakinkannya bahwa aku sangat jenuh tinggal di rumah, sementara kami tinggal jauh dari keluarga.
Aku pun mengemukakan alasan bahwa seluruh teman-teman perempuanku menggunakan internet, lalu mengapa aku tidak menggunakannya dan berkomunikasi dengan mereka lewat internet, sebab ia lebih murah dari pada pesawat telepon.
Akhirnya suamiku setuju. Duh, padahal seandainya ia tidak setuju saja!
Jadilah setiap hari aku berkomunikasi dengan teman-teman wanitaku, dan setelah itu suamiku tidak lagi mendengar keluhan dan tuntutan dariku. Ia pun mengakui bahwa ia merasa terbebas dari ocehan dan keluhan-keluhanku.
Setiap kali suamiku keluar rumah, aku membuka internet dengan segenap nafsu hingga serasa bagaikan orang gila saja. Aku bisa duduk sampai berjam-jam.
Mulailah aku berharap suamiku sering-sering tidak berada di rumah. Aku mencintai suamiku, dan ia tidak pernah mengurangi hak-hakku, meski kondisinya secara materi tidaklah sebaik saudara-saudara perempuan dan teman-teman wanitaku. Namun demikian ia terus berusaha untuk membahagiakanku dengan cara apapun.
Seiring berjalannya waktu, internet semakin mengombang-ambingku dalam suatu kebahagiaan tersendiri. Jadilah aku enggan untuk menjenguk keluargaku, padahal sebelumnya setiap dua pekan sekali kami pergi mengunjungi keluargaku dan keluarga suamiku.
Setiap kali suamiku masuk rumah, serentak aku segera mematikan semua fasilitas internet, dengan cara yang mungkin membuatnya merasa heran akan sikapku itu. Ia tidak curiga apa-apa kepadaku, bahkan ia ingin turut melihat apa yang aku perbuat dengan internet itu….
Barangkali ia keterlaluan, atau mungkin ia merasa cemburu, di mana pada suatu hari ia pernah melihatku berkomunikasi dengan fasilitas suara di internet, yang tidak bisa aku sembunyikan.
Setelah itu ia menegurku seraya berkata, “Internet itu potensi besar untuk memperoleh pengetahuan, bukan untuk membuang-buang waktu.”
Hari-hari berlalu, sementara aku kian tergila-gila oleh fasilitas chatting. Aku serahkan urusan pendidikan anak-anakku kepada pembantu. Aku tahu kapan suamiku pulang, hingga aku bisa segera mematikan komputer sebelum ia tiba.
Bersamaan dengan itu aku sering mengabaikan diriku. Dulu aku berpenampilan sangat baik, dan berdandan dengan sangat menarik ketika ia pulang dari pekerjaan.
Namun setelah ada internet, kebiasaan itu mulai terkikis hingga akhirnya menghilang sama sekali. Aku benar-benar terbuai oleh internet, sampai-sampai aku keluar secara diam-diam dari kamar ketika suamiku telah tidur, untuk membuka internet, dan aku kembali lagi secara diam-diam pula sebelum ia terbangun dari tidurnya.
Boleh jadi sebenarnya ia mengetahui apa yang aku perbuat di depan internet itu sekedar membuang-buang waktu saja, akan tetapi ia menaruh kasihan kepadaku yang merasa kesepian, sementara keluargaku jauh. Rasa kasihannya itu benar-benar aku manfaatkan sebaik-baiknya.
Namun demikian ia juga kesal karena aku mengabaikan anak-anak. Ia sering menegurku, sedang aku cukup menanggapinya dengan berpura-pura menangis seraya aku katakan, “Engkau tidak tahu apa yang terjadi di rumah ketika engkau tiada; Aku sangat memperhatikan dan sayang sekali kepada mereka, akan tetapi mereka selalu membuatku lelah.”
Ringkasnya, aku mengabaikan segala sesuatu, termasuk suamiku. Dulu aku sering meneleponnya sampai puluhan kali jika ia sedang berada di luar rumah, sekedar untuk mendengarkan suaranya. Namun sekarang, setelah ada internet, ia tidak mendengar suaraku lagi sama sekali, kecuali jika aku perlu meminta kepadanya sebagian kebutuhan rumah tangga, meski ini jarang dilakukan.
Dan hal ini meyebabkan adanya rasa cemburu yang besar dalam hati suamiku terhadap internet.
Enam bulan masa yang aku lalui dalam keadaan seperti itu; Aku telah menjalin hubungan dengan sekian nama-nama samaran yang tidak aku tahui apakah mereka laki-laki ataukah wanita.
Aku berkomunikasi dengan siapa saja yang menyapaku lewat fasilitas chatting, meskipun selanjutnya aku tahu bahwa yang menyapaku itu laki-laki. Bahkan, ada seorang laki-laki yang membuatku ingin selalu menghadapinya dengan antusias.
Aku menyukai pembicaraan dan joke-joke yang diutarakannya. Ia pandai menghibur, maka mulailah hubungan di antara kami menguat seiring berjalannya waktu.
Hingga terjalinlah komunikasi harian ini selama hampir tiga bulan. Ia selalu menyanjung-nyanjungku dengan kata-kata yang indah; Kata-kata cinta dan kerinduan yang menggelora.
Boleh jadi kata-katanya itu tidak terlalu indah, akan tetapi syetan tentu memolesnya agar tampak indah dalam pandanganku. Semua komunikasi kami berjalan secara tertulis menggunakan fasilitas chatting.
Pada suatu hari ia menyampaikan keinginan untuk mendengar suaraku; Tentu saja aku menolaknya, namun ia bersikeras dengan keinginannya, bahkan ia mengancam akan mencampakkanku atau mengabaikanku dalam aktivitas chatting maupun dalam berkirim email.
Aku terus berusaha untuk menolak permintaannya itu, namun aku tidak mampu, aku tidak tahu mengapa hal itu terjadi?! Hingga, akhirnya aku menerima permintaannya dengan syarat hendaknya percakapan tersebut dilakukan satu kali saja.
Lalu kami memanfaatkan sebuah program untuk berkomunikasi menggunakan suara, meski programnya masih kurang baik. Namun demikian suara lelaki itu terdengar bagus dan merdu sekali.
Lalu ia berkata kepadaku, “Suaramu via internet kurang jelas, tolong berikan kepadaku nomor teleponmu!”
Tentu saja aku menolaknya, aku kaget dengan  kelancangannya itu. Sekian lama aku tidak berani lagi berkomunikasi dengannya.
Demi Allah, aku menyadari sesungguhnya syetan yang terkutuk pasti tengah menyertaiku, menghiasi suara lelaki itu dalam jiwaku, serta memerangi sisa-sisa ‘iffah, agama, dan akhlak yang aku miliki.
Hingga, tibalah hari itu, saat aku harus berbicara dengannya lewat telepon. Dan dari situlah kehidupanku mulai menyimpang. Aku sudah tergiring sedemikian jauh, tak perlulah aku berpanjang lebar memaparkannya.
Barangsiapa yang membaca kisahku ini, pasti ia akan menduga bahwa suamiku suka mengabaikan hak-hakku, atau sering tidak berada rumah. Yang terjadi justru sebaliknya, jika ia selesai dari pekerjaannya, ia tidak senang mampir dulu ke teman-temannya demi kami; Aku dan anak-anakku.
Seiring berjalannya hari-hari, dan seiring keadaanku yang benar-benar kian menyatu dengan internet, yang setiap harinya bisa aku habiskan waktu antara delapan hingga dua belas jam, akhrnya aku menjadi tidak suka jika suamiku sering berada di rumah. Aku sering menggerutu jika ia ada di rumah, dan aku mendorongnya untuk bekerja di sore hari agar kami dapat melunasi utang-utang yang bertumpuk dan cicilan-cicilan yang tak berujung.
Dan benar saja ia langsung menyetujui pendapatku. Lalu ia bergabung dengan salah seorang rekannya dalam sebuah proyek kecil. Setelah itu, waktu yang aku habiskan di depan internet kian banyak saja.
Suamiku, meski sangat gelisah dengan tingginya rekening telepon yang terkadang mencapai nilai jutaan, tak kuasa mencegahku dari hal itu selama-lamanya.
Sementara itu hubungan dengan kawan chatting-ku tetap berlanjut. Bahkan kini ia mulai menyatakan keinginannya untuk bisa melihatku setelah mendengar suaraku berkali-kali, bahkan mungkin ia sudah bosan.
Aku tidak menghiraukan permintaannya, namun aku pun berusaha agar hubunganku tidak terputus dengannya. Aku hanya menegurnya atas permintaannya itu, padahal boleh jadi akulah yang sebenarnya lebih ingin melihatnya, akan tetapi aku berusaha menepis keinginan itu Bukan karena apa-apa, tetapi karena aku merasa takut saja.
Dari hari ke hari permintaannnya itu semakin mendesak. Ia hanya ingin melihatku, tidak lebih dari itu. Akhirnya aku memenuhi keinginannya dengan syarat pertemuan itu dilakukan untuk yang pertama kali sekaligus yang terakhir kalinya. Maka kami pun saling berjanji untuk bertemu.
Kemudian kami berdua bertemu di salah satu pasar,  sedangkan di antara kami ada syetan sebagai pihak yang ketiga. Sungguh, sejak pandangan pertama aku langsung kagum terhadapnya. Syetan tentu memolesnya hingga tampak indah dalam pandanganku. Suamiku tidaklah buruk, namun syetan senantiasa menghiasi sesuatu yang haram.
Setelah kami berpisah, lelaki itu kian mempererat hubungannya denganku. Ia belum tahu bahwa aku telah bersuami, dan telah menjadi ibu bagi anak-anakku. Setelah pertemuan itu, kami terus bertemu lagi hingga berkali-kali. Akhirnya ia pun tahu segala hal tentang diriku. Ia berhasil membuatku merasa tidak senang dengan suamiku. Ia pun mendorongku agar meminta cerai saja dari suamiku agar aku dapat menikah dengannya.
Aku mulai membenci suamiku, setiap hari aku mencari-cari masalah dengannya, agar ia menceraikanku. Sementara itu suamiku merasa tak tahan dengan permasalahan-permasalahan remeh itu, mulailah ia sering meninggalkan rumah.
Hingga, terjadilah malapetaka besar itu; Suatu hari suamiku mengatakan kepadaku bahwa ia akan bepergian dalam rangka kunjungan kerja selama lima hari.
Ia menyarankan kepadaku agar aku dan anak-anak pulang dahulu ke keluargaku. Namun, aku sendiri justru merasa inilah saat yang dinanti-nantikan. Aku menolak untuk pergi kepada keluargaku. Maka ia pun terpaksa menyetujui.
Pada hari Jum’at suamiku berangkat. Sementara itu, pada hari minggunya kami ada janjian. Aku dan syetan bersama-sama pergi menemui si lelaki di sebuah tempat pada salah satu pasar. Naiklah aku bersama sang lelaki ke mobilnya, lalu ia membawaku mengelilingi jalan-jalan raya.
Ini pengalaman pertama dalam hidupku keluar bersama seorang laki-laki asing. Aku merasa gelisah dan tampaknya ia lebih gelisah dari pada aku.
“Aku tidak ingin berlama-lama keluar dari rumah, aku khawatir suamiku menelponku atau sesuatu akan terjadi,” kataku kepadanya.
“Jika suamimu tahu, boleh jadi ia menceraikanmu. Maka kamu akan terbebas darinya!” jawab lelaki itu.
Perkataan dan nada bicaranya itu membuatku tidak senang. Mulailah kegelisahan  kian menyelimuti diriku.
Maka aku katakan kepadanya, “Seharusnya engkau tidak membawaku terlalu jauh, aku tidak mau terlambat pulang ke rumah.”
Ia berusaha mengalihkanku kepada pembicaraan yang lain. Hingga, tiba-tiba aku telah berada di sebuah tempat yang tidak kukenal; suasananya gelap, tempatnya mirip sebuah villa atau perkebunan.
“Tempat apakah ini? Kemana engkau akan membawaku?” teriakku mulai sewot.
Selang beberapa detik saja, mobil kami tiba-tiba berhenti. Dan seorang pria membukakan pintu mobil dan mengeluarkanku dengan kasar. Seorang pria yang ketiga terlihat di dalam villa, dan seorang lagi kulihat sedang duduk santai. Bau aneh menyerbak di sekitar tempat tersebut. Dan semua peristiwa buruk itu terjadi bagaikan halilintar yang menyambar.
Aku berteriak, menangis, dan meminta belas kasihan kepada mereka.
Karena ketakutan yang luar biasa besar, aku menjadi tak mengerti dengan apa yang terjadi di sekitarku. Hingga aku merasakan sebuah tamparan mendarat di wajahku, juga sebuah suara meneriakiku. Semua itu membuatku oleng dan tak sadarkan diri karena saking takutnya. Dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi.
Setelah itu aku mulai siuman, sementara rasa takut masih menguasai jiwaku, tubuhku gemetar, dan aku terus menerus menangis.
Mereka menutup kedua mataku, dan membawaku ke dalam mobil. Kemudian melemparkan aku ke sebuah tempat yang cukup dekat dengan rumahku.
Lalu aku cepat-cepat masuk ke rumah. Aku menangis dan terus menangis hingga air mataku kering. Aku mengurung diri di dalam kamar, tak ingin melihat anak-anakku.
Aku pun tidak bernafsu memasukkan makanan ke mulutku barang sesuap pun. Aku membenci diriku, lebih baik aku berusaha untuk bunuh diri saj. Aku tidak lagi mengenal anak-anakku, atau merasakan keberadaan mereka.
Suamiku pulang dari pepergiannya, sedangkan kondisiku begitu buruk, hingga ia merasa perlu untuk membawaku ke rumah sakit. Kemudian aku diberi obat penenang dan penyegar badan. Aku meminta kepada suamiku agar membawaku kepada keluargaku secepatnya…
Di rumah keluargaku, aku terus menangis, sedangkan mereka tidak mengetahui permasalahannya sama sekali. Bahkan mereka mengira ada percekcokan antaraku dengan suamiku.
Ayahku berusaha untuk berkompromi dengan suamiku, namun hal itu tidak menghasilkan solusi apapun, karena suamiku memang tidak tahu menahu permasalahan sebenarnya. Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang tengah terjadi pada diriku, bahkan  keluargaku sempat membawaku ke beberapa ahli qiraat supaya aku di-ruqyah, karena mereka yakin bahwa aku sedang ditimpa suatu penyakit.
Ringkas cerita, aku tidak berhak lagi terhadap suamiku. Maka dari itu aku meminta kepadanya agar aku diceraikan saja, untuk memuliakannya demi Allah. Aku tidak pantas sama sekali untuk hidup di antara orang-orang mulia.
Aku adalah orang yang telah menggali kuburanku sendiri dengan tanganku, sedangkan teman chatting-ku itu tidak lain hanyalah seorang pemburu yang siap memangsa para wanita yang menggunakan fasilitas chatting.
Suamiku bersedih melihat keadaanku, bahkan ia meninggalkan pekerjaannya berhari-hari agar bisa lebih dekat denganku. Ia tak mau menceraikanku. Pria malang itu sangat mencintaiku. Ia telah bersusah payah membangun keluarga dan rumah tangga, dan ia tidak ingin memporakporandakannya.
Sementara itu, aku terus menyembunyikan rahasiaku di dalam dada. Dalam setiap hari yang kujalani, rasa sesal terus membuatku semakin tertekan. Kehinaan macam apa yang telah dilakukan oleh orang-orang kotor semacam mereka? Bagaimana aku bisa menjadi sampah bagi para peminum khamer dan pecandu narkotika itu, yang menggerayangi tubuhku semau mereka. Alangkah dungu dan tololnya diriku, bagaimana aku rela menghabiskan waktu berbulan-bulan demi menyalurkan potensi cintaku kepada seseorang yang tidak berhak?
Inilah aku yang menulis kisah ini di atas ranjang penderitaan nan malang, bahkan boleh jadi aku sedang berada di atas ranjang kematian.

repost: Ummu Haitsam, disalin dari kutaib fii bathnil huut

SURAT TERBUKA UNTUK SUAMI YANG INGIN, AKAN DAN TELAH BERPOLIGAMI

 
*** Renungan Bagi Seorang Suami ***
(Sebagai solusi agar selamat dari tidak berbuat zhalim sebelum terjadi)
Tatkala Allah mensyari’atkan poligami, sama sekali bukan bermaksud untuk membebani para hambanya dengan sesuatu yang tidak mampu dipikul oleh mereka.
Segala sesuatu yang ditetapkan oleh Allah bagi hambanya. maka hal tersebut ada dalam kemampuan hambanya.
Akan tetapi syarat keadilan adalah pondasi kemampuan tersebut… dan takut untuk berbuat zhalim adalah merupakan sebab syar’i untuk meninggalkan poligami…
Berkata Syekh As-Sa’di -semoga Alloh merahmatinya- tatkala menafsirkan Firman Alloh:
… وإن خفتم ألا تعدلوا فواحدة
“Jika kamu takut akan berbuat zhalim maka cukuplah satu …
Kemudian beliau menafsirkan:
ذلك أدنى ألا تعولوا
“hal itu” artinya: cukuplah satu … lebih dekat untuk tidak berbuat zhalim”
Kemudian beliau berkata:
“Dalam hal ini, apabila seorang hamba dihadapkan kepada perkara yang dia takut untuk berbuat durhaka dan zhalim dengan tidak melaksanakan kewajiban-kewajiban yang semestinya – walaupun hukumnya adalah mubah / boleh- maka sesungguhnya, tidak selayaknya dia menyodorkan dirinya kepada perkara tersebut, bahkan semestinya mencari hal yang membuatnya leluasa dan selamat, karena sesungguhnya mendapatkan ‘afiat ( keselamatan) itu merupakan kebaikan yang diberikan kepada seorang hamba”

*** Bisikan Untuk Saudaraku Yang Berpoligami ***
Saudaraku…
Wanita yang berakal tidak menolak untuk dipoligami…
akan tetapi dia akan menolak praktek poligami yang salah… dia akan menolak pemahaman yang tidak mendapatkan bimbingan… dan dia akan menolak penafsiran yang keliru (tentang poligami)…
Saudaraku …
Wanita yang bijak tidak akan menghancurkan rumahtangganya karena sebab poligami… akan tetapi dia akan menghancurkan kebengkokan dan penyimpangan yang ada pada suami yang berpoligami…
Saudaraku…
Wanita yang benar tidak menyia-nyiakan kebahagiannya karena sebab poligami… akan tetapi dia akan menyia-nyiakan suami yang tidak adil dalam berpoligami… dia akan menyia-nyiakan keluarga yang tidak berterima kasih… dan dia akan menyia-nyiakan teman hidup yang tidak menjaga hak pertemanan…
Saudaraku…
Wanita yang bahagia tidak akan binasa dirinya karena sebab poligami… akan tetapi dia akan akan binasa karena hidup bersama suami yang berpoligami untuk kebahagian dirinya sendiri diatas penderiatan istrinya… dia akan akan binasa karena hidup bersama suami yang mendahulukan jiwanya sendiri untuk membela ketenangannya…

*** Pesan Dari istri Yang Dimadu … ***
Suamiku yang ku banggakan…
Jika engkau berfikir untuk menikah lagi, maka janganlah kau melupakan bahwa sesungguhnya engkau mempunyai istri yang masih hidup, aku belum mati, maka janganlah engkau wariskan seluruh hatimu kepada wanita selainku….
Suamiku yang ku banggakan…
Jika engkau menikah lagi, maka ingatlah bahwa engkau telah mengubah kehidupanku 180 derajat, maka perlahan-lahanlah, dan terimalah suatu akibat yang timbul dariku.
Abu Ya’la telah meriwayatkan hadits marfu’ dari Aisyah: ” sesungguhnya wanita yang cemburu itu tidak akan memperlihatkan lembah yang paling bawah dari atasnya”
Suamiku yang ku banggakan …
Apabila kau akan menikah lagi, maka ingatlah bahwa aku mempunyai hati, perasaan yang bercampur, maka perhatikanlah hatiku, dan tengoklah aku pada hari pernikahanmu,
Sungguh Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah melakukannya pada malam pernikahannya dengan zainab bint jahsy -semoga Allah meridhainya-. Maka Nabi shallallahu ‘alahi wasallam keluar, lalu pergi ke kamar Aisyah, beliau mengucapkan: “Assalamu’alaikum warahmatullah wahai penduduk rumah”, maka Aisyah menjawab: wa’alaikassalam warahmatullah, bagaimana keadaan keluargamu? semoga Alloh memberkahimu, lalu nabi mengucapkan salam kepada semua kamar istri-istrinya sebagaimana nabi mengucapkan salam kepada Aisyah dan merekapun menjawabnya sebagaimana jawaban Aisyah… al-hadits
Diantara kebaikan pergaulan beliau dengan keluarganya adalah: beliau selalu memperhatikan istri-istrinya dan menengok mereka, serta menanyakan tentang keadaan mereka setiap hari.
Dari Aisyah semoga Alloh meridhainya berkata: “Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam menyukai manisan dan madu…maka apabila beliau selesai shalat ashar, beliau mengelilingi istrinya lalu mendekati mereka”
Suamiku yang ku banggakan …
Apabila kau menikah lagi, maka ketahuilah bahwa aku mempunyai hak yang sempurna jangan kau kurangi, dan kewajiban yang tetap tidak menjadi gugur.

*** Kepada Setiap Suami Yang Mau Berpoligami ***
Waspadalah…
Pertimbangkanlah antara positif dan negatifnya…
Bandingkanlah antara maslahat dan madharatnya…
Janganlah keputusanmu adalah karena emosi, atau karena kebutuhan yang tiba-tiba, atau untuk memanfa’atkan kekosongan…
Pernikahan dengan sebab emosi biasanya menimbulkan emosi-emosi lain yang lebih besar dari hal tersebut yang akan menghancurkannya…
Kebutuhan tiba-tiba hanya sebentar dan keruginnya akan menetap…
Dan waktu kosong itu bisa dihilangkan dengan dipenuhi kegiatan, maka janganlah kau menghilangkan sesuatu yang penuh, untuk memenuhi kekosongan.

*** KEPADA SETIAP SUAMI YANG SUDAH BERPOLIGAM ***
Janganlah engkau sibuk dengan yang cabang diatas penderitaan yang pokok, maka engkau menyia-nyiakan yang pokok dan tidak merasa cukup dengan yang cabang
Waspadalah….
Pertama-tama:
Engkau menoleh kondisi tertentu, kemudian hendaklah engkau berubah, berbuat lembutlah, dan hendaklah engkau bertahap, selalu mengintrospeksi diri, serta berhati-hatilah….
Kedua:
Engkau memasuki kehidupan baru, dan kondisi yang tidak diketahui, maka engkau akan menerima yang baru –sebagaimana dahulu engkau baru menerimaku-,
Engkau akan beradaptasi dengan kenyataan sebagaimana dahulu engkau bisa beradaptasi denganku,
Maka janganlah berlebih-lebihan dalam cinta, pemberian, dan seluruh waktumu,
Akan tetapi, bersikaplah dengan adil, waspadalah, hendaklah berbuat yang benar, dan mendekatlah….
Apabila engkau tiba di rumah, maka bergembiralah,
Apabila engkau meninggalkan rumah maka berlemah lembutlah.
Apabila engkau berbuat salah, maka hendaklah engkau mengakuinya,
Apabila engkau menyia-nyiakanku maka minta maaflah…
Introspeksilah dirimu dan luruskan perbuatanmu,
Introspeksi tingkah lakumu…
Ucapanmu akan diperhitungkan,
Perbuatanmu akan diminta pertanggungan jawab.
Ucapan yang baik adalah shadaqah…
Ucapan yang baik akan membuka hati yang terkunci, menutup prasangka yang jelek…
Seyuman sayang adalah harta karun yang tersimpan.. yang dapat membahagiakan hati yang sedih.. yang mampu mengusap linangan air mata kepedihan…
Ampunilah kekeliruan.. ma’afkanlah kesalahan… dan fahamilah sikapku dalam bergaul,
Karena cemburu adalah api yang membakar kecintaan hati, kemudian hati tersebut akan mengeras
Lalu merusak prasangka yang baik, kemudian bersikap buruk & kasar, lalu menghilangkan kelembutan, kemudian jatuh & binasa..
Maka padamkanlah api kecemburuanku dengan air kecintaanmu…
Perbaikilah hatiku dengan keindahan maafmu, kebaikan penjagaanmu, dan kelembutan sanjunganmu…
Jagalah kaca ini, janganlah engkau memecahkannya dengan perubahan hatimu dan berpalingnya kecintaanmu dariku…
Janganlah engkau membuangku karena konsentrasimu yang kacau & engkau banyak diam membisu…

*** Surat Terbuka Dari Istri Pertama ***
Sesungguhnya aku terbakar bagaikan lilin, aku meleleh bagaikan salju yang mencair, dan aku terhina bagaikan mawar yang dipetik kemudian dicampakkan di tengah jalan.
Aku bagai sehelai bulu yang diterpa badai, prasangka dan kegelisahan membunuhku…
Dahulu aku adalah seorang istri yang merupakan segalanya dalam hidup suamiku… kemudian aku menjadi tersisihkan dari kehidupan ini… sementara hidup didunia ini hanya sekali…
Dahulu… hati kita adalah satu…
Namun sekarang… ada rahasia dalam kehidupan kita masing-masing,
Dan perasaan kita berpencar setiap hari…
“Dahulu, engkau yang membuat hatiku tenang… engkau yang memenuhi kehidupanku …
Pada hari ini, engkau datang untuk pergi, engkau tampak untuk bersembunyi…
Ini adalah ringkasan surat yang panjang sekali, dari istri pertama yang bercerita tentang kelelahannya karena pernikahan suaminya.
Hati suaminya berpaling darinya, yang mengubah keadaan rumahtangga dan kehidupannya,
Apakah menikah lagi dengan wanita lain itu berarti menyingkirkan istri pertama?
Apakah kesibukan dengan istri kedua dapat dijadikan alasan untuk menjauhi dan menepikan istri pertama?
Poligami adalah neraca keadilan, maka janganlah anak timbangannya berat sebelah.
Poligami adalah suatu maslahat yang jelas, maka janganlah ia merusak selainnya
Poligami adalah hikmah yang diperhitungkan, maka janganlah ditempatkan tidak pada tempatnya !!!
*** * ***


repost: Ummu Haitsam, terjemahan bebas dari Risalah ila Mu'addid
Powered by Blogger