DISUSUN OLEH:
ARIFAH NUR KHASANAH
090201056
PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERERAWATAN
SEKOLAH TINGGI KESEHATAN ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
2011
PENGKAJIAN PERAWATAN MATERNITAS BERBASIS KOMUNITAS
A. Identitas
Nama KK : Dikbyo Nama Ibu : Siti Suryani
Umur : 31 Tahun Umur : 26 Tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Suku : Jawa Suku : Jawa
Pendidikan : SMP Pendidikan : SMK
Pekerjaan : PNS Pekerjaan : Wiraswasta
B. Anggota Keluarga
Jumlah anak : 1 orang
• Hidup : 1 orang
Jumlah anak balita : 1 orang (5 tahun)
• Meninggal : -
Umur balita terkecil : -
• Tidak ada anggota keluarga remaja perempuan di rumah.
• Tidak ada keluahan yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi atau kandunganpada remaja perempuan.
C. Pertanyaan untuk Ibu
No. Pertanyaan Jawaban
1 Ibu menikah berapa kali? 1 kali
pada usia 21 tahun yaitu pada tahun 2006
2 Apakah Ibu sedang hamil?
Kapan Haid yang terakhir?
Berapa umur kehamilan Ibu? Ya
hamil yang ke 2
Tanggal 11 bulan Juni
Tahun 2011
4 bulan
3.
Apakah ada keluhan dengan kehamilan saat ini?
Jika ya, apa keluhannya?
Ya
pusing, mual, lemas
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
Apa ibu memeriksakan kehamilannya?
Jika Ya, berapa kali? Dimana?
Apakah Ibu mengetahui tujuan pemeriksaan kehamilan?
Jika tahu, sebutkan!
Apakah Ibu mengetahui tanda-tanda bahaya pada kehamilan?
Jika tahu, sebutkan!
Apakah Ibu sudah melakukan imunisasi TT?
Berapa kali?
Apakah Ibu mengetahui manfaat imunisasi TT bagi Ibu hamil?
Apakah Ibu pernah mengalami keguguran?
Apakah Ibu sudah pernah mendapat informasi tentang tanda-tanda persalinan, proses persalinan yang akan Ibu alami?
Jika sudah pernah, apakah Ibu memahaminya?
Apakah Ibu sudah pernah mendapat informasi tentang cara perawatan bayi?
Ibu membutuhkan tambahan informasi tentang hal itu
Ya
di spesialis kandungan sudah 3 kali
Tahu
untuk mengetahui perkembangan janin
Tahu
perdarahan, pecah ketuban sebelum waktunya
sudah, 2 kali
Tahu
mencegah penyakit Tetanus
Tidak
Sudah pernah
Memahami
Sudah
ASI
11 Apakah setelah melahirkan, ibu pernah mengalami keluhan? Tidak
12 Apakah Ibu menyusui bayinya sampai umur bayi lebih dari 6 bulan? Ya
13 Apakah Ibu ikut Keluarga Berencana?
Apakah ada keluhan selama ikut KB?
Untuk mengatasi keluhan tersebut, upaya apa yang dilakukan?
Ya, metode KB yang digunakan:
Suntik, lama 3,5 tahun, sejak tahun 2006
Ya, berupa:
Haid tidak teratur.
Lepas KB 7bulan, menunggu menstruasi lalu melakukan KB suntik lagi.
14 Apakah Ibu masih mendapat haid?
Masih
Tidak ada keluhan saat haid.
15 Apakah ada keluhan pada payudara? Tidak
Ibu melakukan pemeriksaan payudara sendiri, walaupun tak ada keluhan pada payudaranya.
16 Apakah mempunyai keluhan lain yang terkait dengan kandungan Ibu? Tidak
17 Apakah ada anggota keluarga yang mendapat kekerasan? Tidak
ASUHAN KEPERAWATAN MATERNITAS BERBASIS KOMUNITAS
1. Analisa data
Data Etiologi Problem
DS :
Ibu mengatakan beberapa kali mengalami keputihan saat kehamilan
Ibu mengatakan belum mengetahui tentang keputihan saat kehamilan
DO :
Ibu kelihatan bingung saat ditanya mengenai keputihan saat hamil Ketidaktahuan keluarga mengenal masalah Kurang pengetahuan tentang keputihan saat kehamilan
DS :
ibu mengatakan belum mengerti mengenai pemberian ASI eksklusif
ibu mengatakan belum cara menyimpan ASI
DO :
ibu kelihatan bingung saat ditanyai tentang ASI eksklusif Ketidaktahuan keluarga mengenal masalah Kurang pengetahuan tentang ASI eksklusif
SCORING
Keputihan :
Kriteria Perhitungan Skor Pembenaran / alasan
Sifat masalah :
Aktual 3/3 x 1 1 Apabila keluarga tidak mencari informasi tentang keputihan saat hamil, maka keluarga tidak akan mengetahui ormal/tidaknya keadaan dari keputihan maka akan beresiko terhadap kesehatan Ibu hamil.
Kemungkinan masalah dapat diubah :
Sebagian 1/2 x 2 1 Masalah dapat teratasi sebagian karena kurangnya informasi yang terkaji karena kurangnya informasi yang didapat dari klien.
Potensial masalah dapat dicegah :
Cukup 2/3 x 1 2/3 Potensial masalah dapat dicegah cukup karena kehamilan normal mengalami keputihan, namun akan berkurang kecemasan Ibu hamil setelah mengetahui bahwa keputihan itu normal pada saat kehamilan
Menonjolnya masalah:
Masalah dirasakan 2/2 x 1 1 Klien merasakan adanya keputihan dan merasa perlu ditangani
Total Skor 3 2/3
ASI eksklusif :
Kriteria Perhitungan Skor Pembenaran / Alasan
Sifat masalah :
potensial 1/3 x 1 1/3
ASI eksklusif penting untuk tumbuh kembang anak dan Ibu bisa mempersiapkannya untuk bayinya nanti.
Kemungkinan masalah dapat di ubah :
semua 2/2x 2 2 Masalah semua dapat diubah karena Ibu dapat mempersiapkan dalam pemberian ASI eksklusif
Potensial masalah dapat di cegah :
cukup
2/3 x 1 2/3 Masalah dapat dicegah cukup, karena Ibu berprofesi sebagai pedagang yang sibuk, khawatir tidak bisa meluangkan waktu menyusui bayinya secara eksklusif
Menonjolnya masalah :
Masalah tidak dirasakan 1/ 2 x 1 1/2 Keluarga belum merasakan adanya masalah pada pemberian ASI eksklusif, karena bayi belum lahir.
Total skor 3 1/2
DIAGNOSA KEPERAWATAN PRIORITAS:
a. Kurang pengetahuan tentang keputihan pada kehamilan b.d ketidaktahuan keluarga mengenal masalah
b. Kurang pengetahuan tentang ASI eksklusif b.d ketidaktahuan keluarga mengenal masalah
NURSING CARE PLAN
No Diagnosa Sasaran Tujuan Tindakan keperawatan Standar Kriteria
1 Kurangnya pengetahuan berhubungan tentang ASI eksklusif dengan ketidaktahuan keluarga dalam mengenal masalah keputihan Sasaran dari tindakan keperawatan ini adalah anggota kelurga khususnya ibu Siti Suryani Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan anggota keluarga :
- Mampu memahami tentang definisi keputiha
- Mampu membedakan keputihan yang normal dan tidak normal - Mengkaji pengetahuan klien tentang keputihan.
- Menjelaskan kepada klien tentang definisi keputihan yang sebenarnya.
- Menjelaskan kepada klien tentang tanda dan gejala keputihan yang berbahaya
- Menjelaskan perbedaan keputihan yang normal dan tidak normal
- Menjelaskan kepada klien tentang pencegahan dan deteksi dini dari bahaya keputihan
- Memberikan leflet tentang keputihan Keputihan = cairan yang keluar dari vagian
- Akibat perubahan hormon estrogen yang meningkat, akan meningkatank jumlah produksi cairan vagina
- Akibat perubahan pH, yaitu penurunan keasaman vagina
Keputihan dikatakan normal apabila,
- Jernih/ sedikit kekuningan
- Kental seperti lendir
- Tidak berbau
- Tidak gatal
dan Abnormal bila ada infeksi vagina/ leher rahim, dengan ciri:
- Berbau tajam
- Rasa Gatal/ terbakar
- Nyeri saat berkemih/ bersenggama
- Warna kehijauan/ bercampur darah
yang dapat Berakibat:
- Prematuritas
- Ketuban Pecah Dini
- Berat Bayi Lahir Rendah
TIPS
- Gunakan pakaian dari bahan katun, hindari pakaian dari bahan sintetis dan celana ketat
- Ganti celana dalam minimal 2 kali sehari
- Hindari pemakaian pantyliner setiap hari
- Usahakan area genital kering sesudah mandi, BAK, dan BAB, usap dengan handuk (jangan gunakan tissue beraroma wangi) dari arah depan ke belakang untuk mengurangi kontaminasi mikroorganisme dari saluran kemih dan anus
- Kompres es untuk meringankan gejala di vagina
- Gunakan sabun non parfum
- Konsultasi bidan/ dokter Klien/keluarga mampu memahami tentang definisi, penyebab, membedakan keputihan yang normal dan abnormal serta mampu memahami pencegahan dan deteksi dini dari bahaya keputihan yang abnormal.
2 Kurangnya pengetahuan tentang ASI eksklusif b.d ketidaktahuan keluarga dalam mengenal masalah Sasaran dari tindakan keperawatan ini adalah ibu Setelah dilakukan penyuluhan selama 1 x 30 menit diharapkan Ibu mampu memahami tentang ASI eksklusif dan teknik menyusui yang benar - Ibu dapat menjelaskan pengertian ASI ekskusif
- Ibu dapat menyebutkan manfaat ASI eksklusif
- Ibu dapat menyebutkan dampak atau resiko jika tidak memberikan ASI eksklusif
- Ibu dapat menyebutkan cara penyimpanan ASI
- Ibu dapat menyebutkan lama atau frekuensi menyusui
ASI eksklusif artinya bayi hanya diberi ASI , tanpa tambahan makanan atau minuman apapun, sejak bayi baru lahir sampai berusia enam bulan.
manfaat ASI Ekslusif
*Untuk Bayi
- ASI mengandung semua nutrisi yang dibutuhkan oleh bayi sampai ia berusia 6 bulan.
- Bayi yang diberi ASI eksklusif akan lebih jarang terserang: gastroenteritis, infeksi pernapasan, infeksi telinga, ISK, alergi, asma, eksim
*Untuk Ibu
- Menambah panjang kembalinya kesuburan pasca melahirkan (KB MAL)
- Ibu lebih cepat langsing.
Dampaknya jika tidak memberikan ASI eksklusif
*Resiko bagi Bayi
- Meningkatkan beresiko menderita obesitas dan diabetes
- Menurunkan perkembangan kecerdasan kognitif
- Meningkatkan resiko serangan salran pernapasan
- Meningkatkan resiko alergi
- Infeksi saluran pencernaan
*Resiko bagi Ibu
- Beresiko menderita kanker payudara
- Resiko osteoporosis
- Resiko stres&gelisah
Daya tahan ASI :
- ASI tahan disimpan di dalam suhu ruangan sampai 6 jam.
- disimpan di kulkas tahan hingga 2 minggu dengan suhu kulkas yang bervariasi.
- disimpan di frezeer yang tidak terpisah dari kulkas, dan sering dibuka, ASI tahan 3-4 bulan tapi pada freezer dengan pintu terpisah dari kulkas, ketahanan ASI mencapai 6 bulan.
Penyimpanan ASI :
- Taruh ASI dalam kantung plastik polietilen (misl plastik gula); atau wadah plastik untuk makanan atau yang bisa dimasukkan dalam microwave, wadah melamin, gelas, cangkir keramik.
- Beri tanggal dan jam pada setiap wadah.
- masukkan ke kulkas/ freezer. Simpan sampai batas maksimal.
- jika akan digunakan, cukup panaskan ASI sampai mencair, jangan sampai mendidih.
Lama dan frekuensi menyusui:
- lambung bayi akan kosong setelah 2 jam, maka berikan ASI setiap 2 jam
- setiap hari berikan ASI minimal 8 kali
- Menyusui maksimal 10 menit/ kalau bayi sudah bersendawa (tanda bayi sudah kenyang), hentikan pemberian ASI
Klien / keluarga mampu memahami tentang definisi ASI eksklusif, manfaat, resiko jka tidak diberikan, cara penyimpanan, dan lama serta frekuensi pemberian ASI eksklusif
IMPLEMENTASI
No Tanggal Diagnosa Implementasi Evaluasi
1 07/11/11 Kurang pengetahuan tentang keputihan pada kehamilan b.d ketidaktahuan keluarga dalam mengenal masalah - Mengkaji tingkat pengetahuan dan kemampuan klien
- Memberikan pendidikan kesehatan tentang keputihan pada kehamilan meliputi definisi, penyebab, ciri normal/abnormal, dan tips
- memberi kesempatan Ibu untuk menerangkan kembali pendidikan kesehatan yang sudah diberikan S : ibu Siti mengatakan telah memahami tentang keputihan pada kehamilan
A : Masalah teratasi
P : Pertahankan kondisi
2 08/11/11 Kurangnya pengetahuan tentang ASI esklusif b.d ketidaktahuan keluarga dalam mengenal masalah - Mengkaji pengetahuan klien tentang ASI eksklusif
- Memberikan penjelasan tentang definisi ASI eksklusif
- Memberikan penjelasan kepada ibu tentang manfaat pemberian ASI eksklusif
- Menjelaskan bagaimana resiko jika tidak memberikan ASI eksklusif
- Menjelaskan pada ibu bagaimana cara penyimpanan ASI
- Menjelaskan pada ibu lama dan frekuensi menyusui S : Ibu Siti mengatakan telah memahami tentang pemberian ASI eksklusif
A : Masalah teratasi
P : Pertahankan kondisi
Rabu, 23 November 2011
SATUAN ACARA PENYULUHAN NUTRISI PADA LANSIA
Disusun Oleh :
Arifah Nur Khasanah
090201056
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ‘AISYIYAH
YOGYAKARTA
2011
SATUAN ACARA PENYULUHAN
I. IDENTIFIKASI MASALAH
Nutrisi pada lansia
Mahluk hidup membutuhkan makanan untuk mempertahankan hidupnya, karena di dalam makanan terdapat nutrisi yang dibutuhkan tubuh untuk melakukan bermetabolisme. Lansia, menurut WHO adalah sesorang yang berumur 60 tahun ke atas. Masalah gizi yang dihadapi oleh lansia berkaitan erat dengan menurunnya aktivitas biologis tubuhnya.konsumsi pangan yang kurang seimbang akan memperburuk kondisinya, yang memang secara alami mengalami penurunan.
Susunan makanan sehari-hari untuk manula hendaknya tidak terlalu banyak menyimpang dari kebiasaan makan, serta disesuaikan dengan keadaan psikologisnya. Pola makan disesuaikan dengan kecukupan gizi yang dianjurkan dan menu makanannya disesuaikan ketersediaan dan kebiasaan makan tiap daerah.
Berdasarkan kegunaannya bagi tubuh, zat gizi dibagi ke dalam tiga kelompok besar, yaitu :
1.) Kelompok zat energi, termasuk ke dalam kelompok ini adalah :
Bahan makanan yang mengandung karbohidrat seperti beras, jagung, gandum, ubi, roti, singkong dan lain-lain, selain itu dalam bentuk gula seperti gula, sirup, madu dan lain-lain.
Bahan makanan yang mengandung lemak seperti minyak, santan, mentega, margarine, susu dan hasil olahannya.
2.) Kelompok zat pembangun
Kelompok ini meliputi makanan – makanan yang banyak mengandung protein, baik protein hewani maupun nabati, seperti daging, ikan, susu, telur, kacang kacangan dan olahannya.
3.) Kelompok zat pengatur
Kelompok ini meliputi bahan-bahan yang banyak mengandung vitamin dan mineral, seperti buah-buahan dan sayuran.
II. PENGANTAR
Bidang studi : Pendidikan Kesehatan
Pokok Bahasan : Nutrisi
Sub Pokok Bahasan : Nutrisi pada Lansia
Hari/tanggal : Minggu, 16 Oktober 2011
Jam : 10.00 WIB
Waktu : 50 menit
Tempat : Balai Dusun Tompak, Desa wiladeg, Karangmojo, Gunungkidul
Sasaran : Lansia Dusun Tompak
III. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM
Setelah dilakukan penyuluhan tentang kesehatan lansia diharapkan masyarakat dapat memperbaiki kebutuhan gizi lansia.
IV. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
Setelah mengikuti kegiatan selama 40 menit, diharapkan audiens mampu menjelaskan tentang:
1. kebutuhan gizi pada lansia.
2. factor yang mempengaruhi perubahan kebutuhan gizi pada lansia.
3. Masalah Gizi pada Lansia
4. Pemantauan Status Nutrisi
5. Perencanaan Makanan untuk Lansia
V. MATERI
Terlampir
VI. MEDIA
Presentasi Power point
Leaflet.
VII. METODE
Penyuluhan
VIII. KEGIATAN PEMBELAJARAN
No Penyuluh Waktu
(menit) Peserta
1.
. Pembukaan
Membuka penyuluhan dengan mengucapkan salam dan melakukan perkenalan dengan para peserta
Mengungkapkan tujuan penyuluhan yaitu penyuluhan pada lansia tentang kesehatan pada lansia. Pembukaan
3 menit
2 menit
Menjawab salam memberikan pertanyaan
Memperhatikan
2 Penyajian Inti
Menjelaskan tentang:
6. kebutuhan gizi pada lansia.
7. Menjelaskan tentang factor yang mempengaruhi perubahan kebutuhan gizi pada lansia.
8. Masalah Gizi pada Lansia
9. Pemantauan Status Nutrisi
10. Perencanaan Makanan untuk Lansia
11. Memberi kesempatan audiens untuk bertanya
12. Menjawab pertanyaan audiens 25 menit
Memperhatikan,
Memperhatikan
Mengajukan pertanyaan apabila ada materi yang kurang jelas.
3. Penutup
1. Menutup pertemuan dengan menyimpulkan materi yang telah dibahas.
2. Memberi salam penutup 10 menit
mendengarkan
menjawab salam
Jumlah waktu 40 menit
IX. PENGESAHAN
Yogyakarta, 23 Juni 2011
Sasaran, Pemberi Materi Penyuluhan,
( SUTARTI ) (ARIFAH NUR KHASANAH )
Mengetahui
Pembimbing
( TIWI SUDYASIH, S.KEP., NS.)
X. EVALUASI
Dilakukan dengan pertanyaan lisan sebagai berikut :
1. Nutrisi apa saja yang sebaiknya dihindari lansia?
2. Contoh menu makan siang yang terjangkau tapi sehat?
Kunci Jawaban :
1. Gula dan minuman yang mengandung banyak gula, yang akan mengganggu transport gula dalam darah, garam dapat mempertinggi resiko penyakit hipertensi, merokok, minuman beralkohol, lemak hewan (yang menempel pada daging hewan) karena akan memicu athlerosklerosis (penyumbatan pada pembuluh darah ke jantung)
2. Contoh menu makan siang yang terjangkau tapi sehat
Jenis Takaran (gram) Takaran saji
Nasi 200 gr (2sendok nasi)
Tahu 25 gr (1 potong)
Pindang 50 gr (1 potong)
Sayur bayam 100 gr (1 mangkok)
Pepaya 100 gr (1 potong)
Susu 100 gr (1 gelas)
XI. LAMPIRAN MATERI
Setiap mahluk hidup membutuhkan makanan untuk mempertahankan kehidupannya, karena didalam makanan terdapat zat-zat gizi yang dibutuhkan tubuh untuk melakukan kegiatan metabolismenya. Bagi lansia pemenuhan kebutuhan gizi yang diberikan dengan baik dapat membantu dalam proses beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang dialaminya selain itu dapat menjaga kelangsungan pergantian sel-sel tubuh sehingga dapat memperpanjang usia.
A. Kebutuhan gizi pada lansia
1) Kalori
Hasil-hasil penelitian menunjukan bahwa kecepatan metabolisme basal pada orang-orang berusia lanjut menurun sekitar 15-20%, disebabkan berkurangnya massa otot dan aktivitas. Kalori (energi) diperoleh dari lemak 9,4 kal, karbohidrat 4 kal, dan protein 4 kal per gramnya.. Kebutuhan kalori untuk lansia laki-laki sebanyak 1960 kal, sedangkan untuk lansia wanita 1700 kal. Bila jumlah kalori yang dikonsumsi berlebihan, maka sebagian energi akan disimpan berupa lemak, sehingga akan timbul obesitas.
2) Protein
Pada lansia, masa ototnya berkurang. Tetapi ternyata kebutuhan tubuhnya akan protein tidak berkurang, bahkan harus lebih tinggi dari orang dewasa, karena pada lansia efisiensi penggunaan senyawa nitrogen (protein) oleh tubuh telah berkurang (disebabkan pencernaan dan penyerapannya kurang efisien). Beberapa penelitian merekomendasikan, untuk lansia sebaiknya konsumsi proteinnya ditingkatkan sebesar 12-14% dari porsi untuk orang dewasa.
3) Lemak
Konsumsi lemak yang dianjurkan adalah 30% atau kurang dari total kalori yang dibutuhkan. Konsumsi lemak total yang terlalu tinggi (lebih dari 40% dari konsumsi energi) dapat menimbulkan penyakit atherosclerosis (penyumbatan pembuluh darah ke jantung). Juga dianjurkan 20% dari konsumsi lemak tersebut adalah asam lemak tidak jenuh. Minyak nabati merupakan sumber asam lemak tidak jenuh yang baik, sedangkan lemak hewan banyak mengandung asam lemak jenuh.
4) Karbohidrat dan serat makanan
Salah satu masalah yang banyak diderita para lansia adalah sembelit atau konstipasi (susah BAB). Serat makanan telah terbukti dapat menyembuhkan kesulitan tersebut. Sumber serat yang baik bagi lansia adalah sayuran, buah-buahan segar dan biji-bijian utuh. Manula tidak dianjurkan mengkonsumsi suplemen serat (yang dijual secara komersial), konsumsi serat yang terlalu banyak, dapat menyebabkan mineral dan zat gizi lain terserap oleh serat sehingga tidak dapat diserap tubuh.
5) Vitamin dan mineral
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa umumnya lansia kurang mengkonsumsi vitamin A, B1, B2, B6, niasin, asam folat, vitamin C, D, dan E umumnya kekurangan ini terutama disebabkan dibatasinya konsumsi makanan, khususnya buah-buahan dan sayuran, kekurangan mineral yang paling banyak diderita lansia adalah kurang mineral kalsium yang menyebabkan kerapuhan tulang dan kekurangan zat besi menyebabkan anemia.
6) Air
Cairan dalam bentuk air dalam minuman dan makanan sangat diperlukan tubuh untuk mengganti yang hilang (dalam bentuk keringat dan urine), membantu pencernaan makanan dan membersihkan ginjal (membantu fungsi kerja ginjal). Pada lansia dianjurkan minum lebih dari 6-8 gelas per hari.
B. Faktor yang mepengaruhi Kebutuhan Gizi pada Lansia
Proses menua dapat terlihat secara fisik dengan perubahan yang terjadi pada tubuh dan berbagai organ serta penurunan fungsi tubuh serta organ tersebut. Perubahan secara biologis ini dapat mempengaruhi status gizi pada masa tua. Antara lain :
a. Massa otot yang berkurang dan massa lemak yang bertambah, mengakibatkan juga jumlah cairan tubuh yang berkurang, sehingga kulit kelihatan mengerut dan kering, wajah keriput serta muncul garis-garis menetap. Oleh karena itu, pada lansia seringkali terlihat kurus.
b. Dengan banyaknya gigi yang sudah tanggal, mengakibatkan gangguan fungsi mengunyah yang dapat berdampak pada kurangnya asupan gizi pada usia lanjut.
c. Penurunan mobilitas usus, menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan seperti perut kembung, nyeri yang menurunkan nafsu makan, serta susah BAB yang dapat menyebabkan wasir.
d. Kemampuan motorik menurun, selain menyebabkan menjadi lamban, kurang aktif dan kesulitan menyuap makanan, juga dapat mengganggu aktivitas kegiatan sehari-hari.
e. Incontinentia urine (IU) adalah pengeluaran urin diluar kesadaran merupakan salah satu masalah kesehatan yang besar yang sering diabaikan pada kelompok usia lanjut, sehingga usia lanjut yang mengalami IU seringkali mengurangi minum yang dapat menyebabkan dehidrasi.
C. Masalah Gizi pada Lansia
1.) Gizi berlebih
Gizi berlebih pada lansia banyak terjadi di negara maju dan kota-kota besar. Kebiasaan makan banyak pada waktu muda menyebabkan berat badan berlebih, apalagi pada lansia penggunaan kalori berkurang karena berkurangnya aktivitas fisik Kegemukan merupakan salah satu pencetus berbagai penyakit, misalnya : penyakit jantung, kencing manis, dan darah tinggi.
2.) Gizi kurang
Gizi kurang sering disebabkan oleh masalah-masalah social ekonomi dan juga karena gangguan penyakit. Bila konsumsi kalori terlalu rendah dari yang dibutuhkan menyebabkan berat badan kurang dari normal. Apabila hal ini disertai dengan kekurangan protein menyebabkan kerusakan-kerusakan sel yang tidak dapat diperbaiki, akibatnya rambut rontok, daya tahan terhadap penyakit menurun, kemungkinan akan mudah terkena infeksi.
3.) Kekurangan vitamin
Bila konsumsi buah dan sayuran dalam makanan kurang dan ditambah dengan kekurangan protein dalam makanan akibatnya nafsu makan berkurang, penglihatan menurun, kulit kering, penampilan menjadi lesu dan tidak bersemangat.
D. Pemantauan Status Nutrisi
Penimbangan Berat Badan
Penimbangan BB dilakukan secara teratur minimal 1 minggu sekali, waspadai peningkatan BB atau penurunan BB lebih dari 0.5 Kg/minggu. Peningkatan BB lebih dari 0.5 Kg dalam 1 minggu beresiko terhadap kelebihan berat badan dan penurunan berat badan lebih dari 0.5 Kg /minggu menunjukkan kekurangan berat badan.
E. Perencanaan Makanan untuk Lansia
1.) Makanan harus mengandung zat gizi dari makanan yang beraneka ragam, yang terdiri dari : zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur.
2.) Perlu diperhatikan porsi makanan, jangan terlalu kenyang. Porsi makan hendaknya diatur merata dalam satu hari sehingga dapat makan lebih sering dengan porsi yang kecil.
3.) Banyak minum dan kurangi garam, dengan banyak minum dapat memperlancar pengeluaran sisa makanan, dan menghindari makanan yang terlalu asin akan memperingan kerja ginjal serta mencegah kemungkinan terjadinya darah tinggi.
4.) Batasi makanan yang manis-manis atau gula, minyak dan makanan yang berlemak seperti santan, mentega dll.
5.) Bagi pasien lansia yang prose penuaannya sudah lebih lanjut perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a) Makanlah makanan yang mudah dicerna
b) Hindari makanan yang terlalu manis, gurih, dan goring-gorengan
c) Bila kesulitan mengunyah karena gigi rusak atau gigi palsu kurang baik, makanan harus lunak/lembek atau dicincang
d) Makanan selingan atau snack, susu, buah, dan sari buah sebaiknya diberikan.
6.) Makanan mengandung zat besi seperti : kacang-kacangan, hati, telur, daging rendah lemak, bayam, dan sayuran hijau.
7.) Lebih dianjurkan untuk mengolah makanan dengan cara dikukus, direbus, atau dipanggang kurangi makanan yang digoreng
XII. DAFTAR PUSTAKA
Sediaoetama, Achmad Djaeni. 1996. ILMU GIZI. Jakarta:Dian Rakyat
Arisman. 2007. Gizi Dalam Daur Kehidupan. Jakarta : EGC
http://lenteraimpian.wordpress.com/2010/02/27/gizi-pada-lansia/
Arifah Nur Khasanah
090201056
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ‘AISYIYAH
YOGYAKARTA
2011
SATUAN ACARA PENYULUHAN
I. IDENTIFIKASI MASALAH
Nutrisi pada lansia
Mahluk hidup membutuhkan makanan untuk mempertahankan hidupnya, karena di dalam makanan terdapat nutrisi yang dibutuhkan tubuh untuk melakukan bermetabolisme. Lansia, menurut WHO adalah sesorang yang berumur 60 tahun ke atas. Masalah gizi yang dihadapi oleh lansia berkaitan erat dengan menurunnya aktivitas biologis tubuhnya.konsumsi pangan yang kurang seimbang akan memperburuk kondisinya, yang memang secara alami mengalami penurunan.
Susunan makanan sehari-hari untuk manula hendaknya tidak terlalu banyak menyimpang dari kebiasaan makan, serta disesuaikan dengan keadaan psikologisnya. Pola makan disesuaikan dengan kecukupan gizi yang dianjurkan dan menu makanannya disesuaikan ketersediaan dan kebiasaan makan tiap daerah.
Berdasarkan kegunaannya bagi tubuh, zat gizi dibagi ke dalam tiga kelompok besar, yaitu :
1.) Kelompok zat energi, termasuk ke dalam kelompok ini adalah :
Bahan makanan yang mengandung karbohidrat seperti beras, jagung, gandum, ubi, roti, singkong dan lain-lain, selain itu dalam bentuk gula seperti gula, sirup, madu dan lain-lain.
Bahan makanan yang mengandung lemak seperti minyak, santan, mentega, margarine, susu dan hasil olahannya.
2.) Kelompok zat pembangun
Kelompok ini meliputi makanan – makanan yang banyak mengandung protein, baik protein hewani maupun nabati, seperti daging, ikan, susu, telur, kacang kacangan dan olahannya.
3.) Kelompok zat pengatur
Kelompok ini meliputi bahan-bahan yang banyak mengandung vitamin dan mineral, seperti buah-buahan dan sayuran.
II. PENGANTAR
Bidang studi : Pendidikan Kesehatan
Pokok Bahasan : Nutrisi
Sub Pokok Bahasan : Nutrisi pada Lansia
Hari/tanggal : Minggu, 16 Oktober 2011
Jam : 10.00 WIB
Waktu : 50 menit
Tempat : Balai Dusun Tompak, Desa wiladeg, Karangmojo, Gunungkidul
Sasaran : Lansia Dusun Tompak
III. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM
Setelah dilakukan penyuluhan tentang kesehatan lansia diharapkan masyarakat dapat memperbaiki kebutuhan gizi lansia.
IV. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
Setelah mengikuti kegiatan selama 40 menit, diharapkan audiens mampu menjelaskan tentang:
1. kebutuhan gizi pada lansia.
2. factor yang mempengaruhi perubahan kebutuhan gizi pada lansia.
3. Masalah Gizi pada Lansia
4. Pemantauan Status Nutrisi
5. Perencanaan Makanan untuk Lansia
V. MATERI
Terlampir
VI. MEDIA
Presentasi Power point
Leaflet.
VII. METODE
Penyuluhan
VIII. KEGIATAN PEMBELAJARAN
No Penyuluh Waktu
(menit) Peserta
1.
. Pembukaan
Membuka penyuluhan dengan mengucapkan salam dan melakukan perkenalan dengan para peserta
Mengungkapkan tujuan penyuluhan yaitu penyuluhan pada lansia tentang kesehatan pada lansia. Pembukaan
3 menit
2 menit
Menjawab salam memberikan pertanyaan
Memperhatikan
2 Penyajian Inti
Menjelaskan tentang:
6. kebutuhan gizi pada lansia.
7. Menjelaskan tentang factor yang mempengaruhi perubahan kebutuhan gizi pada lansia.
8. Masalah Gizi pada Lansia
9. Pemantauan Status Nutrisi
10. Perencanaan Makanan untuk Lansia
11. Memberi kesempatan audiens untuk bertanya
12. Menjawab pertanyaan audiens 25 menit
Memperhatikan,
Memperhatikan
Mengajukan pertanyaan apabila ada materi yang kurang jelas.
3. Penutup
1. Menutup pertemuan dengan menyimpulkan materi yang telah dibahas.
2. Memberi salam penutup 10 menit
mendengarkan
menjawab salam
Jumlah waktu 40 menit
IX. PENGESAHAN
Yogyakarta, 23 Juni 2011
Sasaran, Pemberi Materi Penyuluhan,
( SUTARTI ) (ARIFAH NUR KHASANAH )
Mengetahui
Pembimbing
( TIWI SUDYASIH, S.KEP., NS.)
X. EVALUASI
Dilakukan dengan pertanyaan lisan sebagai berikut :
1. Nutrisi apa saja yang sebaiknya dihindari lansia?
2. Contoh menu makan siang yang terjangkau tapi sehat?
Kunci Jawaban :
1. Gula dan minuman yang mengandung banyak gula, yang akan mengganggu transport gula dalam darah, garam dapat mempertinggi resiko penyakit hipertensi, merokok, minuman beralkohol, lemak hewan (yang menempel pada daging hewan) karena akan memicu athlerosklerosis (penyumbatan pada pembuluh darah ke jantung)
2. Contoh menu makan siang yang terjangkau tapi sehat
Jenis Takaran (gram) Takaran saji
Nasi 200 gr (2sendok nasi)
Tahu 25 gr (1 potong)
Pindang 50 gr (1 potong)
Sayur bayam 100 gr (1 mangkok)
Pepaya 100 gr (1 potong)
Susu 100 gr (1 gelas)
XI. LAMPIRAN MATERI
Setiap mahluk hidup membutuhkan makanan untuk mempertahankan kehidupannya, karena didalam makanan terdapat zat-zat gizi yang dibutuhkan tubuh untuk melakukan kegiatan metabolismenya. Bagi lansia pemenuhan kebutuhan gizi yang diberikan dengan baik dapat membantu dalam proses beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang dialaminya selain itu dapat menjaga kelangsungan pergantian sel-sel tubuh sehingga dapat memperpanjang usia.
A. Kebutuhan gizi pada lansia
1) Kalori
Hasil-hasil penelitian menunjukan bahwa kecepatan metabolisme basal pada orang-orang berusia lanjut menurun sekitar 15-20%, disebabkan berkurangnya massa otot dan aktivitas. Kalori (energi) diperoleh dari lemak 9,4 kal, karbohidrat 4 kal, dan protein 4 kal per gramnya.. Kebutuhan kalori untuk lansia laki-laki sebanyak 1960 kal, sedangkan untuk lansia wanita 1700 kal. Bila jumlah kalori yang dikonsumsi berlebihan, maka sebagian energi akan disimpan berupa lemak, sehingga akan timbul obesitas.
2) Protein
Pada lansia, masa ototnya berkurang. Tetapi ternyata kebutuhan tubuhnya akan protein tidak berkurang, bahkan harus lebih tinggi dari orang dewasa, karena pada lansia efisiensi penggunaan senyawa nitrogen (protein) oleh tubuh telah berkurang (disebabkan pencernaan dan penyerapannya kurang efisien). Beberapa penelitian merekomendasikan, untuk lansia sebaiknya konsumsi proteinnya ditingkatkan sebesar 12-14% dari porsi untuk orang dewasa.
3) Lemak
Konsumsi lemak yang dianjurkan adalah 30% atau kurang dari total kalori yang dibutuhkan. Konsumsi lemak total yang terlalu tinggi (lebih dari 40% dari konsumsi energi) dapat menimbulkan penyakit atherosclerosis (penyumbatan pembuluh darah ke jantung). Juga dianjurkan 20% dari konsumsi lemak tersebut adalah asam lemak tidak jenuh. Minyak nabati merupakan sumber asam lemak tidak jenuh yang baik, sedangkan lemak hewan banyak mengandung asam lemak jenuh.
4) Karbohidrat dan serat makanan
Salah satu masalah yang banyak diderita para lansia adalah sembelit atau konstipasi (susah BAB). Serat makanan telah terbukti dapat menyembuhkan kesulitan tersebut. Sumber serat yang baik bagi lansia adalah sayuran, buah-buahan segar dan biji-bijian utuh. Manula tidak dianjurkan mengkonsumsi suplemen serat (yang dijual secara komersial), konsumsi serat yang terlalu banyak, dapat menyebabkan mineral dan zat gizi lain terserap oleh serat sehingga tidak dapat diserap tubuh.
5) Vitamin dan mineral
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa umumnya lansia kurang mengkonsumsi vitamin A, B1, B2, B6, niasin, asam folat, vitamin C, D, dan E umumnya kekurangan ini terutama disebabkan dibatasinya konsumsi makanan, khususnya buah-buahan dan sayuran, kekurangan mineral yang paling banyak diderita lansia adalah kurang mineral kalsium yang menyebabkan kerapuhan tulang dan kekurangan zat besi menyebabkan anemia.
6) Air
Cairan dalam bentuk air dalam minuman dan makanan sangat diperlukan tubuh untuk mengganti yang hilang (dalam bentuk keringat dan urine), membantu pencernaan makanan dan membersihkan ginjal (membantu fungsi kerja ginjal). Pada lansia dianjurkan minum lebih dari 6-8 gelas per hari.
B. Faktor yang mepengaruhi Kebutuhan Gizi pada Lansia
Proses menua dapat terlihat secara fisik dengan perubahan yang terjadi pada tubuh dan berbagai organ serta penurunan fungsi tubuh serta organ tersebut. Perubahan secara biologis ini dapat mempengaruhi status gizi pada masa tua. Antara lain :
a. Massa otot yang berkurang dan massa lemak yang bertambah, mengakibatkan juga jumlah cairan tubuh yang berkurang, sehingga kulit kelihatan mengerut dan kering, wajah keriput serta muncul garis-garis menetap. Oleh karena itu, pada lansia seringkali terlihat kurus.
b. Dengan banyaknya gigi yang sudah tanggal, mengakibatkan gangguan fungsi mengunyah yang dapat berdampak pada kurangnya asupan gizi pada usia lanjut.
c. Penurunan mobilitas usus, menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan seperti perut kembung, nyeri yang menurunkan nafsu makan, serta susah BAB yang dapat menyebabkan wasir.
d. Kemampuan motorik menurun, selain menyebabkan menjadi lamban, kurang aktif dan kesulitan menyuap makanan, juga dapat mengganggu aktivitas kegiatan sehari-hari.
e. Incontinentia urine (IU) adalah pengeluaran urin diluar kesadaran merupakan salah satu masalah kesehatan yang besar yang sering diabaikan pada kelompok usia lanjut, sehingga usia lanjut yang mengalami IU seringkali mengurangi minum yang dapat menyebabkan dehidrasi.
C. Masalah Gizi pada Lansia
1.) Gizi berlebih
Gizi berlebih pada lansia banyak terjadi di negara maju dan kota-kota besar. Kebiasaan makan banyak pada waktu muda menyebabkan berat badan berlebih, apalagi pada lansia penggunaan kalori berkurang karena berkurangnya aktivitas fisik Kegemukan merupakan salah satu pencetus berbagai penyakit, misalnya : penyakit jantung, kencing manis, dan darah tinggi.
2.) Gizi kurang
Gizi kurang sering disebabkan oleh masalah-masalah social ekonomi dan juga karena gangguan penyakit. Bila konsumsi kalori terlalu rendah dari yang dibutuhkan menyebabkan berat badan kurang dari normal. Apabila hal ini disertai dengan kekurangan protein menyebabkan kerusakan-kerusakan sel yang tidak dapat diperbaiki, akibatnya rambut rontok, daya tahan terhadap penyakit menurun, kemungkinan akan mudah terkena infeksi.
3.) Kekurangan vitamin
Bila konsumsi buah dan sayuran dalam makanan kurang dan ditambah dengan kekurangan protein dalam makanan akibatnya nafsu makan berkurang, penglihatan menurun, kulit kering, penampilan menjadi lesu dan tidak bersemangat.
D. Pemantauan Status Nutrisi
Penimbangan Berat Badan
Penimbangan BB dilakukan secara teratur minimal 1 minggu sekali, waspadai peningkatan BB atau penurunan BB lebih dari 0.5 Kg/minggu. Peningkatan BB lebih dari 0.5 Kg dalam 1 minggu beresiko terhadap kelebihan berat badan dan penurunan berat badan lebih dari 0.5 Kg /minggu menunjukkan kekurangan berat badan.
E. Perencanaan Makanan untuk Lansia
1.) Makanan harus mengandung zat gizi dari makanan yang beraneka ragam, yang terdiri dari : zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur.
2.) Perlu diperhatikan porsi makanan, jangan terlalu kenyang. Porsi makan hendaknya diatur merata dalam satu hari sehingga dapat makan lebih sering dengan porsi yang kecil.
3.) Banyak minum dan kurangi garam, dengan banyak minum dapat memperlancar pengeluaran sisa makanan, dan menghindari makanan yang terlalu asin akan memperingan kerja ginjal serta mencegah kemungkinan terjadinya darah tinggi.
4.) Batasi makanan yang manis-manis atau gula, minyak dan makanan yang berlemak seperti santan, mentega dll.
5.) Bagi pasien lansia yang prose penuaannya sudah lebih lanjut perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a) Makanlah makanan yang mudah dicerna
b) Hindari makanan yang terlalu manis, gurih, dan goring-gorengan
c) Bila kesulitan mengunyah karena gigi rusak atau gigi palsu kurang baik, makanan harus lunak/lembek atau dicincang
d) Makanan selingan atau snack, susu, buah, dan sari buah sebaiknya diberikan.
6.) Makanan mengandung zat besi seperti : kacang-kacangan, hati, telur, daging rendah lemak, bayam, dan sayuran hijau.
7.) Lebih dianjurkan untuk mengolah makanan dengan cara dikukus, direbus, atau dipanggang kurangi makanan yang digoreng
XII. DAFTAR PUSTAKA
Sediaoetama, Achmad Djaeni. 1996. ILMU GIZI. Jakarta:Dian Rakyat
Arisman. 2007. Gizi Dalam Daur Kehidupan. Jakarta : EGC
http://lenteraimpian.wordpress.com/2010/02/27/gizi-pada-lansia/
contoh ceramah: BID’AH DI SEKITAR KITA YANG DIADOPSI DARI AGAMA LAIN
OLEH:
ARIFAH NUR KHASANAH
PSIK V A/090201056
Pelaksanaan:
Tempat : Masjid Al-Mubarokah Tompak, Wiladeg,
Karangmojo,Gunungkidul
Hari/ Tanggal : Senin/7 November 2011
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN AISYIYAH YOGYAKARTA
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
2011 / 2012
Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh.
Bismillaahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillaahi Robbil ‘aalamiin, wassolaatu wassalaamu ‘alaa asyrafil ambiyaai wal mursaliin, wa ‘alaa aali Muhammadin wa ashaabihil mujahidinattohiriina ‘amma ba’du.
Alhamdulillahi rabbil’alamin, segala puji bagi Allah yang selalu melimpahkan nikmat, dan karuniaNya kepada kita semua, sehingga kita bisa berkumpul di masjid yang penuh barokah ini untuk melaksanakan rangkaian Shalat Maghrib dan Shalat Isya’.
Keselamatan dan kesejahteraan semoga tetap dilimpahkan kepada Nabiyullah Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat, dan pengikutnya. Amin.
Terimakasih atas waktu yang diberikan kepada saya untuk memberi sediki tauziyah mengenai Bid’ah di sekitar kita.
Kaum Muslimin Rahimakumullah..
Ketika Islam masuk ke Indonesia, khususnya Tanah jawa, beratus tahun yang lalu melalui jalan damai. Karena saking damainya,Islam pada waktu itu mentolerir budaya Hindu merasuk ke dalamnya. Budaya Hindu ini tak mampu dihindari karena telah mengakar kuat pada masyarakat, karena Hindu lebih dahulu masuk ke Indonesia.Namun sampai kini nyatanya, masih banyak umat Islam masih menjalani tradisi nenek moyang yang tak jelas dalil nya yang shahih dari Al-Qur’an maupun hadist. Hal inilah yang disebut dengan Bid’ah, yaitu
Sebelum kita membahas contoh Bid’ah yang masih hidup di masyarakat, saya akan membacakan satu ayat yang menekankan bahwa Islam adalah agama yang suci, tidak bisa dicampur adukkan dengan kesyirikan dan kekufuran.
مُبِي يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. (Q. S. Al-Baqarah:208)
Bapak Ibu Jamaah shalat Maghrib yang dirahmati Allah..
Muslim yang menjadikan budaya non muslim menjadi bagian dari kehidupannya, maka pada dasarnya ia beragama dengan tidak kafah, dengan begitu ia telah mengikuti langkah syetan untuk menjerumuskan umat muslim agar tidak kafah dalam beragama. Tidak sedikit peribadahan umat Islam di Indonesia yang mengadopsi budaya syirik dan kufur, contohnya:
a. Tumpengan
Ketika ada acara apapun, tidak ketinggalan tumpeng lengkap dengan lauk hadir. Tumpeng artinya gunung, merupakan budaya Hindu symbol dari tempat bersemayam TriMurti (Dewa-Dewa Hindu). Lebih parahnya tumpeng bisa dijadikan sebagai symbol bai’at masuk agama Hindu. Hal ini menunjukkan bahwa tumpeng merupakan budaya yang penuh kesyirikan
b. Slametan/ Kenduri
Suatu upacara untuk menjauhkan diri dari kesialan, meminta pertolongan, keberhasilan, dsb. Dengan mempersembahkan sesajian berupa makanan, ingkung ayam, dsb. Pada agama Hindu ini dilakukan untuk menghindari hal buruk (kesialan, kegagalan, peperangan) terjadi. Ini tercantum pada kitab Siwa Sasana, bab Panca Maha Yatnya, kitab Sama Wedha hal. 373.
c. Upacara kematian
Acara brobosan, payung kematian, reroncean kembang warna-warni untuk hiasan peti dan taburan, sebar uang receh, peti mati, tumpengan bedhah bumi, ngijing sampai Acara memperingati kematian (3hari, 7hari, 40hari, 100hari, 1tahun, 2tahun, 1000hari), ditambah dengan sentuhan doa, tahlilan, bacaan-bacaan dan logika yang amburadul dari tokoh agama, menjadikan semua itu terkesan Islami. (Kitab Weda Smerti, hal.99)
d. Upacara perkawinan
Mulai dari mencari hari baik, menghitung weton, penjor, kembar mayang, injak telur, kembulan, dsb. Itu semua tercantum dalam kitab Yajur Veda dan Bhagavad Gita. Jelas bahwa itu budaya Hindu, dan kita yang melakukannya adalah melakukan kesyirikan.
e. Upacara kehamilan dan Kelahiran
Upacara neloni, mapati, mitoni, tingkeban, harus dilakukan kenduri memanggil tetangga untuk membaca doa agar janin selamat dari marabahaya. Setelah bayi lahir diadakan melek-melek (begadang sampai pagi) agar terhindar dari marabahaya di malam hari, setelah tali pusar putus dilakukan selamatan membuat nasi urap dibagikan kepada tetangga sebagai ucapan syukur karena bayinya selamat, dilanjutkan acara selapanan (35hari) untuk memberi nama bayi. Semua ini tercantum dalam kitab Upadesa Agama Hindu.
Bapak Ibu yang saya hormati,
Ironisnya dengan sentuhan oknum Islam, dibumbui dengan doa-doa yang dipimpin orang yang terpandang agamanya, menjadikan budaya tersebut seolah-olah budaya Islam. Islam dan Rasulullah sendiri tidak mengajarkan budaya-budaya ini, semua ini disadur dari budaya Hindu yang terlanjur melekat pada masyarakat.
Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia (akan menjadi) termasuk kaum tersebut.” (Abu Dawud).
Kaum Muslimin Rahimakumullah..
Allah sangat membenci orang yang menyekutukanNya, Allah tak akan mengampuni dosa kesyirikan. Mari saudara-saudara yang dirahmati Allah, saya mengajak kepada anda dan dri saya sendiri untuk sebisa mungkin menghindari kesesatan budaya-budaya yang seolah-olah berkamuflase sebagai budaya Islam. Bekali hidup anda dengan taqwa, jangan sampai menyentuh hal-hal berdosa seperti di atas. Semoga Allah selalu membimbing jalan kita agar selalu lurus, dan dijauhkan dari kesyirikan, kekufuran, dan kemusryikan. Amin.
Hanya ini yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat. Banyak salah kata yang tak berkenan di hati Bapak Ibu saya mohon maaf.
Billaahi fii sabiililhaq fastabiqul khairat,
Wassalaamu ‘alaikum warohmatullaahi wabarakaatuh.
Karangmojo, 7 November 2011,
Mengetahui,
Takmir Masjid Al-Mubarokah
(SUPRIYATIN, S.SOS.)
Saran:
SAKSI I SAKSI II
(RAHAYU MARTHA S.) (WIWIK PRIHATMAWATI)
Saran:
ARIFAH NUR KHASANAH
PSIK V A/090201056
Pelaksanaan:
Tempat : Masjid Al-Mubarokah Tompak, Wiladeg,
Karangmojo,Gunungkidul
Hari/ Tanggal : Senin/7 November 2011
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN AISYIYAH YOGYAKARTA
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
2011 / 2012
Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh.
Bismillaahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillaahi Robbil ‘aalamiin, wassolaatu wassalaamu ‘alaa asyrafil ambiyaai wal mursaliin, wa ‘alaa aali Muhammadin wa ashaabihil mujahidinattohiriina ‘amma ba’du.
Alhamdulillahi rabbil’alamin, segala puji bagi Allah yang selalu melimpahkan nikmat, dan karuniaNya kepada kita semua, sehingga kita bisa berkumpul di masjid yang penuh barokah ini untuk melaksanakan rangkaian Shalat Maghrib dan Shalat Isya’.
Keselamatan dan kesejahteraan semoga tetap dilimpahkan kepada Nabiyullah Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat, dan pengikutnya. Amin.
Terimakasih atas waktu yang diberikan kepada saya untuk memberi sediki tauziyah mengenai Bid’ah di sekitar kita.
Kaum Muslimin Rahimakumullah..
Ketika Islam masuk ke Indonesia, khususnya Tanah jawa, beratus tahun yang lalu melalui jalan damai. Karena saking damainya,Islam pada waktu itu mentolerir budaya Hindu merasuk ke dalamnya. Budaya Hindu ini tak mampu dihindari karena telah mengakar kuat pada masyarakat, karena Hindu lebih dahulu masuk ke Indonesia.Namun sampai kini nyatanya, masih banyak umat Islam masih menjalani tradisi nenek moyang yang tak jelas dalil nya yang shahih dari Al-Qur’an maupun hadist. Hal inilah yang disebut dengan Bid’ah, yaitu
Sebelum kita membahas contoh Bid’ah yang masih hidup di masyarakat, saya akan membacakan satu ayat yang menekankan bahwa Islam adalah agama yang suci, tidak bisa dicampur adukkan dengan kesyirikan dan kekufuran.
مُبِي يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. (Q. S. Al-Baqarah:208)
Bapak Ibu Jamaah shalat Maghrib yang dirahmati Allah..
Muslim yang menjadikan budaya non muslim menjadi bagian dari kehidupannya, maka pada dasarnya ia beragama dengan tidak kafah, dengan begitu ia telah mengikuti langkah syetan untuk menjerumuskan umat muslim agar tidak kafah dalam beragama. Tidak sedikit peribadahan umat Islam di Indonesia yang mengadopsi budaya syirik dan kufur, contohnya:
a. Tumpengan
Ketika ada acara apapun, tidak ketinggalan tumpeng lengkap dengan lauk hadir. Tumpeng artinya gunung, merupakan budaya Hindu symbol dari tempat bersemayam TriMurti (Dewa-Dewa Hindu). Lebih parahnya tumpeng bisa dijadikan sebagai symbol bai’at masuk agama Hindu. Hal ini menunjukkan bahwa tumpeng merupakan budaya yang penuh kesyirikan
b. Slametan/ Kenduri
Suatu upacara untuk menjauhkan diri dari kesialan, meminta pertolongan, keberhasilan, dsb. Dengan mempersembahkan sesajian berupa makanan, ingkung ayam, dsb. Pada agama Hindu ini dilakukan untuk menghindari hal buruk (kesialan, kegagalan, peperangan) terjadi. Ini tercantum pada kitab Siwa Sasana, bab Panca Maha Yatnya, kitab Sama Wedha hal. 373.
c. Upacara kematian
Acara brobosan, payung kematian, reroncean kembang warna-warni untuk hiasan peti dan taburan, sebar uang receh, peti mati, tumpengan bedhah bumi, ngijing sampai Acara memperingati kematian (3hari, 7hari, 40hari, 100hari, 1tahun, 2tahun, 1000hari), ditambah dengan sentuhan doa, tahlilan, bacaan-bacaan dan logika yang amburadul dari tokoh agama, menjadikan semua itu terkesan Islami. (Kitab Weda Smerti, hal.99)
d. Upacara perkawinan
Mulai dari mencari hari baik, menghitung weton, penjor, kembar mayang, injak telur, kembulan, dsb. Itu semua tercantum dalam kitab Yajur Veda dan Bhagavad Gita. Jelas bahwa itu budaya Hindu, dan kita yang melakukannya adalah melakukan kesyirikan.
e. Upacara kehamilan dan Kelahiran
Upacara neloni, mapati, mitoni, tingkeban, harus dilakukan kenduri memanggil tetangga untuk membaca doa agar janin selamat dari marabahaya. Setelah bayi lahir diadakan melek-melek (begadang sampai pagi) agar terhindar dari marabahaya di malam hari, setelah tali pusar putus dilakukan selamatan membuat nasi urap dibagikan kepada tetangga sebagai ucapan syukur karena bayinya selamat, dilanjutkan acara selapanan (35hari) untuk memberi nama bayi. Semua ini tercantum dalam kitab Upadesa Agama Hindu.
Bapak Ibu yang saya hormati,
Ironisnya dengan sentuhan oknum Islam, dibumbui dengan doa-doa yang dipimpin orang yang terpandang agamanya, menjadikan budaya tersebut seolah-olah budaya Islam. Islam dan Rasulullah sendiri tidak mengajarkan budaya-budaya ini, semua ini disadur dari budaya Hindu yang terlanjur melekat pada masyarakat.
Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia (akan menjadi) termasuk kaum tersebut.” (Abu Dawud).
Kaum Muslimin Rahimakumullah..
Allah sangat membenci orang yang menyekutukanNya, Allah tak akan mengampuni dosa kesyirikan. Mari saudara-saudara yang dirahmati Allah, saya mengajak kepada anda dan dri saya sendiri untuk sebisa mungkin menghindari kesesatan budaya-budaya yang seolah-olah berkamuflase sebagai budaya Islam. Bekali hidup anda dengan taqwa, jangan sampai menyentuh hal-hal berdosa seperti di atas. Semoga Allah selalu membimbing jalan kita agar selalu lurus, dan dijauhkan dari kesyirikan, kekufuran, dan kemusryikan. Amin.
Hanya ini yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat. Banyak salah kata yang tak berkenan di hati Bapak Ibu saya mohon maaf.
Billaahi fii sabiililhaq fastabiqul khairat,
Wassalaamu ‘alaikum warohmatullaahi wabarakaatuh.
Karangmojo, 7 November 2011,
Mengetahui,
Takmir Masjid Al-Mubarokah
(SUPRIYATIN, S.SOS.)
Saran:
SAKSI I SAKSI II
(RAHAYU MARTHA S.) (WIWIK PRIHATMAWATI)
Saran:
contoh ceramah: TIGA AMALAN BAIK
Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh.
Bismillaahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillaahi Robbil ‘aalamiin, wassolaatu wassalaamu ‘alaa asyrafil ambiyaai wal mursaliin, wa ‘alaa aali Muhammadin wa ashaabihil mujahidinattohiriina ‘amma ba’du.
Alhamdulillahi rabbil’alamin, segala puji bagi Allah yang selalu melimpahkan nikmat, dan karuniaNya kepada kita semua, sehingga kita bisa berkumpul di masjid yang penuh barokah ini untuk melaksanakan rangkaian Shalat Maghrib dan Shalat Isya’.
Keselamatan dan kesejahteraan semoga tetap dilimpahkan kepada Nabiyullah Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat, dan pengikutnya. Amin.
Terimakasih atas waktu yang diberikan kepada saya untuk memberi sediki tauziyah mengenai Tiga amalan Baik.
Bumi yang kita tempati adalah planet yang selalu berputar, ada siang dan ada malam. Roda kehidupan dunia juga tidak pernah berhenti. Kadang naik, kadang turun, ada suka ada duka, ada senyum ada tangis. Kadang dipuji sering juga dibenci. Maka, jangan harapkan keabadian dalam hidup kita, karena Allah Maha Adil.
Agar tetap tegar, tidak terombang-ambing dalam menghadapi segala kemungkinan tantangan hidup, kita harus memiliki pegangan dan amalan dalam hidup. Tiga amalan baik tersebut adalah Istiqomah, Istikharah, dan Istighfar yang bisa disingkat Tiga IS.
1. ISTIQOMAH
Yaitu kokoh dalam aqidah, dan konsisten dalam beribadah.
Orang yang Istiqomah selalu kokoh dalam aqidah dan tidak goyang keimanan bersama dalam tantangan hidup. Sekalipun dihadapkan pada persoalan hidup, ibadah tidak ikut redup, kantong kering atau tebal, tetap memperhatikan haram halal, dicaci dipuji, sujud pantang berhenti, sekalipun ia memiliki fasilitas kenikmatan, ia tidak tergoda melakukan kemaksiatan.
“Dari Sufyan bin Abdullah berkata, bahwa aku telah berkta, “wahai Rasulullah katakanlah kepadaku pesan dalam Islam sehingga aku tidak perlu bertanya kepada orang lain selain Engkau. Nabi menjawab, ‘katakanlah aku telah beriman kepada Allah kemudian beristiqomahlah’”. (HR. Muslim).
2. ISTIKHARAH
Orang yang beristikharah akan selalu meminta petunjuk kepada Allah SWT dalam setiap langkah dan penuh pertimbangan dalam mengambil setiap keputusan.
Setiap orang bebas berpendapat, baik berbicara, mengekspresikan diri melakukan suatu perbuatan. Tetapi dalam Islam tidak ada kebebasan yang tanpa batas. Batas-batas tersebut adalah aturan-aturan agama Islam itu sendiri. Sehingga seorang muslim akan selalu berpikir berkali-kali sebelum melakukan suatu perbuatan atau mengucap sebuah ucapan, ia kan selalu meminta petunjuk kepada Allah SWT.
Orang Bijak berkata, “Think today and speak tomorrow”
Kalau ucapan itu tidak baik apalagi sampai menyakiti hati orang lain maka tahanlah ucapan itu, jangan sampai terucap walau menahan ucapan menyakitkan. Tapi jika ucapan itu benar dan baik maka katakanlah, karena lidah akan lemas jika menahan kebenaran, teriakkan keadilan dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.
Nabi bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka katakanlah yang baik atau diamlah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).
Sabda Nabi ini sangat penting untuk diresapi, para pakar menuruti emosi berbicara tanpa logika, sampai muak juga kita setiap hari dijejali berita korupsi yang dilakukan petinggi Negara yan tidak ada ujung pangkalnya, tidak tahu kapan selesainya permasalahan korupsi ini. Mereka bertindak sekehendaknya tanpa mengindahkan etika agama.
Kita memasyarakatkan istikharah dalam segala tindakan yang kita lakukan, dalam setiap langkah kita, agar kita melakukan tindakan yang benar dan tidak menyesal kemudian hari.
3. ISTIGHFAR
Yaitu seorang muslim wajib selau introspeksi diri dan mohon ampun kepada Allah SWT.
Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan dan dosa yang sebenarnyaitu merupakan penyakit yang dapat merusak kehidupan kita. Sehingga itu semua harus diobati. Saatnya kita introspeksi diri kita,mohon ampun dosa kita kepada Allah, selalu mengoreksi setiap tindakan untuk menyongsong keberhasilan. Maka jangan pernah marah ketika menerima kritik dan saran dari orang lain, jika itu memang membangun, mengapa tidak?
Contohnya, Dalam persoalan ekonomi, jika rizki Allah tidak sampai kepada kita disebabkan oleh kemalasan kita, maka yang kita obati adalah sifat malas tersebut. Dan malas akan menjadi musuh kita. Jika tetap saja ekonomi menjadi masalh yang berkepanjangan, bisa saja itu karena dosa kita di masa lalu yang begtu menggunung. Sehingga Allah enggan untuk memberi kelancaran rezeki, maka jalan satu-satunya adalah beristighfar dan bertaubat, InshaAllah Allah akan memberi kelancaran rezeki.
رَحِيمًا غَفُورًا اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ يَسْتَغْفِرِ ثُمَّ نَفْسَهُ يَظْلِمْ أَوْ سُوءًا يَعْمَلْ وَمَنْ
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. An Nisaa’: 110).
“Bahwasanya hatiku sering benar tertutup : karena itu aku selalu memohon ampun kepada Allah setiap hari seratus kali.” (H. R. Muslim)
“Barangsiapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah melepaskan tiap-tiap kegundahan mereka, melepaskan tiap-tiap kesempitan mereka dan memberinya rezki secara tak terduga-duga.” (H. R. Abu Daud).
Sekali lagi, tidak ada kehidupan yang sepu dari cobaan maupun godaan. Agar kita tetap tegar dan selamat dalam menghadapi segala persoalan kehidupan, kita harus melakukan TIGA IS di atas.
Mudah-mudahan Allah memberi kekuatan kepada kita untuk menatap masa depan dengan keimanan dan rahmatNya yang melimpah. Amin.
Hanya ini yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat. Mohon maaf atas segala kekurangan.
Billaahi fii sabiililhaq fastabiqul khairat, wassalaamu ‘alaikum warohmatullaahi wabarakaatuh.
Bismillaahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillaahi Robbil ‘aalamiin, wassolaatu wassalaamu ‘alaa asyrafil ambiyaai wal mursaliin, wa ‘alaa aali Muhammadin wa ashaabihil mujahidinattohiriina ‘amma ba’du.
Alhamdulillahi rabbil’alamin, segala puji bagi Allah yang selalu melimpahkan nikmat, dan karuniaNya kepada kita semua, sehingga kita bisa berkumpul di masjid yang penuh barokah ini untuk melaksanakan rangkaian Shalat Maghrib dan Shalat Isya’.
Keselamatan dan kesejahteraan semoga tetap dilimpahkan kepada Nabiyullah Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat, dan pengikutnya. Amin.
Terimakasih atas waktu yang diberikan kepada saya untuk memberi sediki tauziyah mengenai Tiga amalan Baik.
Bumi yang kita tempati adalah planet yang selalu berputar, ada siang dan ada malam. Roda kehidupan dunia juga tidak pernah berhenti. Kadang naik, kadang turun, ada suka ada duka, ada senyum ada tangis. Kadang dipuji sering juga dibenci. Maka, jangan harapkan keabadian dalam hidup kita, karena Allah Maha Adil.
Agar tetap tegar, tidak terombang-ambing dalam menghadapi segala kemungkinan tantangan hidup, kita harus memiliki pegangan dan amalan dalam hidup. Tiga amalan baik tersebut adalah Istiqomah, Istikharah, dan Istighfar yang bisa disingkat Tiga IS.
1. ISTIQOMAH
Yaitu kokoh dalam aqidah, dan konsisten dalam beribadah.
Orang yang Istiqomah selalu kokoh dalam aqidah dan tidak goyang keimanan bersama dalam tantangan hidup. Sekalipun dihadapkan pada persoalan hidup, ibadah tidak ikut redup, kantong kering atau tebal, tetap memperhatikan haram halal, dicaci dipuji, sujud pantang berhenti, sekalipun ia memiliki fasilitas kenikmatan, ia tidak tergoda melakukan kemaksiatan.
“Dari Sufyan bin Abdullah berkata, bahwa aku telah berkta, “wahai Rasulullah katakanlah kepadaku pesan dalam Islam sehingga aku tidak perlu bertanya kepada orang lain selain Engkau. Nabi menjawab, ‘katakanlah aku telah beriman kepada Allah kemudian beristiqomahlah’”. (HR. Muslim).
2. ISTIKHARAH
Orang yang beristikharah akan selalu meminta petunjuk kepada Allah SWT dalam setiap langkah dan penuh pertimbangan dalam mengambil setiap keputusan.
Setiap orang bebas berpendapat, baik berbicara, mengekspresikan diri melakukan suatu perbuatan. Tetapi dalam Islam tidak ada kebebasan yang tanpa batas. Batas-batas tersebut adalah aturan-aturan agama Islam itu sendiri. Sehingga seorang muslim akan selalu berpikir berkali-kali sebelum melakukan suatu perbuatan atau mengucap sebuah ucapan, ia kan selalu meminta petunjuk kepada Allah SWT.
Orang Bijak berkata, “Think today and speak tomorrow”
Kalau ucapan itu tidak baik apalagi sampai menyakiti hati orang lain maka tahanlah ucapan itu, jangan sampai terucap walau menahan ucapan menyakitkan. Tapi jika ucapan itu benar dan baik maka katakanlah, karena lidah akan lemas jika menahan kebenaran, teriakkan keadilan dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.
Nabi bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka katakanlah yang baik atau diamlah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).
Sabda Nabi ini sangat penting untuk diresapi, para pakar menuruti emosi berbicara tanpa logika, sampai muak juga kita setiap hari dijejali berita korupsi yang dilakukan petinggi Negara yan tidak ada ujung pangkalnya, tidak tahu kapan selesainya permasalahan korupsi ini. Mereka bertindak sekehendaknya tanpa mengindahkan etika agama.
Kita memasyarakatkan istikharah dalam segala tindakan yang kita lakukan, dalam setiap langkah kita, agar kita melakukan tindakan yang benar dan tidak menyesal kemudian hari.
3. ISTIGHFAR
Yaitu seorang muslim wajib selau introspeksi diri dan mohon ampun kepada Allah SWT.
Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan dan dosa yang sebenarnyaitu merupakan penyakit yang dapat merusak kehidupan kita. Sehingga itu semua harus diobati. Saatnya kita introspeksi diri kita,mohon ampun dosa kita kepada Allah, selalu mengoreksi setiap tindakan untuk menyongsong keberhasilan. Maka jangan pernah marah ketika menerima kritik dan saran dari orang lain, jika itu memang membangun, mengapa tidak?
Contohnya, Dalam persoalan ekonomi, jika rizki Allah tidak sampai kepada kita disebabkan oleh kemalasan kita, maka yang kita obati adalah sifat malas tersebut. Dan malas akan menjadi musuh kita. Jika tetap saja ekonomi menjadi masalh yang berkepanjangan, bisa saja itu karena dosa kita di masa lalu yang begtu menggunung. Sehingga Allah enggan untuk memberi kelancaran rezeki, maka jalan satu-satunya adalah beristighfar dan bertaubat, InshaAllah Allah akan memberi kelancaran rezeki.
رَحِيمًا غَفُورًا اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ يَسْتَغْفِرِ ثُمَّ نَفْسَهُ يَظْلِمْ أَوْ سُوءًا يَعْمَلْ وَمَنْ
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. An Nisaa’: 110).
“Bahwasanya hatiku sering benar tertutup : karena itu aku selalu memohon ampun kepada Allah setiap hari seratus kali.” (H. R. Muslim)
“Barangsiapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah melepaskan tiap-tiap kegundahan mereka, melepaskan tiap-tiap kesempitan mereka dan memberinya rezki secara tak terduga-duga.” (H. R. Abu Daud).
Sekali lagi, tidak ada kehidupan yang sepu dari cobaan maupun godaan. Agar kita tetap tegar dan selamat dalam menghadapi segala persoalan kehidupan, kita harus melakukan TIGA IS di atas.
Mudah-mudahan Allah memberi kekuatan kepada kita untuk menatap masa depan dengan keimanan dan rahmatNya yang melimpah. Amin.
Hanya ini yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat. Mohon maaf atas segala kekurangan.
Billaahi fii sabiililhaq fastabiqul khairat, wassalaamu ‘alaikum warohmatullaahi wabarakaatuh.
MAKALAH ASFIKSIA NEONATORUM
KELOMPOK 6
1. BUDHI SANTOSA (090201050)
2. ERWI ROSALINA (090201051)
3. SUMIN TATIK LESTARI (090201052)
4. MEIGA ANGGRAINI (090201053)
5. STALASATUN KHASANAH (090201055)
6. ARIFAH NUR KHASANAH (090201056)
7. DEWI RATIH MERDEKA WATI (090201057)
8. FITRIANA SITORESMI (090201058)
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN AISYIYAHYOGYAKARTA
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
2011 / 2012
ASFIKSIA NEONATORUM
A. Pengertian
Asfiksia atau mati lemas adalah suatu keadaan berupa berkurangnya kadar oksigen (O2) dan berlebihnya kadar karbon dioksida (CO2) secara bersamaan dalam darah dan jaringan tubuh akibat gangguan pertukaran antara oksigen (udara) dalam alveoli paru-paru dengan karbon dioksida dalam darah kapiler paru-paru. Kekurangan oksigen disebut hipoksia dan kelebihan karbon dioksida disebut hiperkapnia.
Asfiksia neonatorum ialah suatu keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini oleh karena hipoksia janin intra uterin dan hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul di dalam kehamilan, persalinan atau segera setelah lahir. (Tim FK Unair 1995).
Dalam kenyataan sehari-hari, hipoksia ternyata merupakan gabungan dari empat kelompok, dimana masing-masing kelompok tersebut memang mempunyai ciri tersendiri. Walaupun ciri atau mekanisme yang terjadi pada masing-masing kelompok akan menghasilkan akibat yang sama bagi tubuh. Kelompok tersebut adalah :
1. Hipoksik-hipoksia
Dalam keadaan ini oksigen gagal untuk masuk ke dalam sirkulasi darah.
2. Anemik-hipoksia
Keadaan dimana darah yang tersedia tidak dapat membawa oksigen yang cukup untuk metabolisme dalam jaringan.
3. Stagnan-hipoksia
Keadaan dimana oleh karena suatu sebab terjadi kegagalan sirkulasi.
4. Histotoksik-hipoksia
Suatu keadaan dimana oksigen yang terdapat dalam darah oleh karena suatu hal, oksigen tersebut tidak dapat dipergunakan oleh jaringan.
B. Etiologi
1. Faktor ibu: Cacat bawaan, Hipoventilasi selama anastesi ,Penyakit jantung sianosis, Gagal bernafas,Keracunan CO ,Tekanan darah rendah,Gangguan kontraksi uterus,Usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun,Sosial ekonomi rendah, Hipertensi pada penyakit eklampsia.
2. Faktor janin / neonatorum : Kompresi umbilikus,Tali pusat menumbung, lilitan tali pusat, Kompresi tali pusat antara janin dan jalan lahir,Prematur,Gemeli,Kelainan congential,Pemakaian obat anestesi,Trauma yang terjadi akibat persalinan.
3. Faktor plasenta: Plasenta tipis,Plasenta kecil,Plasenta tidak menempel, Solusio plasenta.
4. Faktor persalinan: Partus lama,Partus tindakan.
C. Patofisiologi
Eklampsia pada ibu
Asfiksi
Gangguan pertukaran gas
PO2menurun PC O2meningkat
Pucatisionosis
D. Manifestasi Klinis
D. ManifestasiKlinis
Appnoe primer : Pernafasan cepat, denyut nadi menurun dan tonus neuromuscular menurun
Appnoe sekunder : Apabila asfiksia berlanjut , bagi menunjukan pernafasan megap–megap yang dalam, denyut jantung terus menerus, bayi terlihat lemah (pasif), pernafasan makin lama makin lemah
TANDA-TANDA STADIUM I STADIUM II STADIUM III
Tingkat kesadaran Sangat waspada Lesu (letargia) Pinsan (stupor), koma
Tonus otot Normal Hipotonik Flasid
Postur Normal Fleksi Disorientasi
Refleks tendo / klenus Hyperaktif Hyperaktif Tidak ada
Mioklonus Ada Ada Tidak ada
Refleks morrow Kuat Lemah Tidak ada
Pupil Midriasis Miosis Tidak sama, refleks cahaya jelek
Kejang-kejang Tidak ada Lazim Deserebrasi
EEG Normal 1aktifitasVoltase rendah kejang-kejang Supresi ledakan sampai isoelektrik
Lamanya 24 jam jika ada kemajuan 24 jam sampai 14 hari Beberapa hari sampai beberapa minggu
Hasil akhir Baik Bervariasi Kematian, defisit berat
E. APGAR Score
Penilaian menurut score APGAR merupakan tes sederhana untuk memutuskan apakah seorang bayi yang baru lahir membutuhkan pertolongan. Tes ini dapat dilakukan dengan mengamati bayi segera setelah lahir (dalam menit pertama), dan setelah 5 menit. Lakukan hal ini dengan cepat, karena jika nilainya rendah, berarti tersebut membutuhkan tindakan.
Observasi dan periksa :
A = “Appearance” (penampakan) perhatikan warna tubuh bayi.
P = “Pulse” (denyut). Dengarkan denyut jantung bayi dengan stetoskop atau palpasi denyut jantung dengan jari.
G = “Grimace” (seringai). Gosok berulang-ulang dasar tumit ke dua tumit kaki bayi dengan jari. Perhaitkan reaksi pada mukanya. Atau perhatikan reaksinya ketika lender pada mukanya. Atau perhatikan reaksinya ketika lender dari mulut dan tenggorokannya dihisap.
A = “Activity”. Perhatikan cara bayi yang baru lahir menggerakkan kaki dan tangannya atau tarik salah satu tangan/kakinya. Perhatikan bagaimana kedua tangan dan kakinya bergerak sebagai reaksi terhadap rangsangan tersebut.
R = “Repiration” (pernapasan). Perhatikan dada dan abdomen bayi. Perhatikan pernapasannya.
TANDA 0 1 2 JUMLAH NILAI
Frekwensi jantung Tidak ada Kurang dari 100 x/menit Lebih dari 100 x/menit
Usaha bernafas Tidak ada Lambat, tidak teratur Menangis kuat
Tonus otot Lumpuh / lemas Ekstremitas fleksi sedikit Gerakan aktif
Refleks Tidak ada respon Gerakan sedikit Menangis batuk
Warna Biru / pucat Tubuh: kemerahan, ekstremitas: biru Tubuh dan ekstremitas kemerahan
Apgar Skor : 7-10; bayi dianggap sehat dan tidak memerlukan tindakan istimewa
Apgar Skor 4-6; (Asfiksia Neonatorum sedang); pada pemeriksaan fisik akan terlihat frekwensi jantung lebih dari 100 X / menit, tonus otot kurang baik atau baik, sianosis, reflek iritabilitas tidak ada
Apgar Skor 0-3 (Asfiksia Neonatorum berat); pada pemeriksaan fisik ditemukan frekwensi jantung kurang dari 100 X / menit, tonus otot buruk, sianosis berat dan kadang-kadang pucat, reflek iritabilitas tidak ada.
F. Pemeriksaan Penunjang
- Foto polos dada
- USG kepala
- Laboratorium : darah rutin, analisa gas darah, serum elektrolit
G. Pemeriksaan Diagnostik
1. Analisa gas darah
2. Elektrolit darah
3. Gula darah
4. Baby gram
5. USG ( Kepala )
6. Penilaian APGAR score
7. Pemeriksaan EGC dab CT- Scan
8. Pengkajian spesifik
H. Komplikasi
1. Otak : Hipokstik iskemik ensefalopati, edema serebri, palsi serebralis.
2. Jantung dan paru: Hipertensi pulmonal persisten pada neonatorum, perdarahan paru, edema paru.
3. Gastrointestinal: enterokolitis, nekrotikans.
4. Ginjal: tubular nekrosisakut, siadh.
5. Hematologi: dic
I. Prognosis
a. Asfiksia Ringan :Tergantung pada kecepatan penatalaksanaan.
b. Asfikisia Berat : Dapat menimbulkan kematian pada hari-hari pertama kelainan saraf. Asfiksia dengan PH 6,9 dapat menyababkan kejang sampai koma dan kelainan neurologis permanen,misalnya retardasi mental.
J. Prinsip Dasar Resusitasi
Ada beberapa tahap: ABC resusitasi,
A= memastikan saluran nafas terbuka.
B= memulai pernafasan .
C= mempertahankan sirkulasi (peredaran darah).
• Membersihkan dan menciptakan lingkungan yang baik bagi bayi serta mengusahakan saluran pernafasan tetap bebas serta merangsang timbulnya pernafasan, yaitu agar oksigenisasi dan pengeluaran CO2 berjalan lancar.
• Memberikan bantuan pernafasan secara aktif pada bayi yang menunjukan usaha pernafasan lemah.
• Melakukan koreksi terhadap asidosis yang terjadi.
• Menjaga agar sirkulasi darah tetap baik
ASUHAN KEPERAWATAN ASFIKSIA
Neonatus (Bayi. P) dibawake IGD RumahSakitusia 6 jam dengan masalah utama merintihsejak lahir. Bayi ini merintih sejak lahir. Orangtua khawatir dengan keadaan anaknya. Bayi ini lahir dengan bidan, anak pertama, berat lahir 2400 gr, menurut bidan sudah cukup bulan, air ketuban bewarna hijau kental. Keadaan klinis saat masuk bayi tampak pucat, kaki teraba dingin, nafas 20x/menit, tampak retraksi epigastrium dan intekostal, merintih dan biru. Bidan yang membawa tampak kebigungan dan minta pertolongan ke dokter. Dokter kemudian melakukan resusitasi untuk menolong
A. Pengkajian
Biodata Identitas orang tua
Nama : Bayi P Nama ayah : NS
Umur : 6 jam Nama ibu : P
Jenis kelamin : Perempuan
Anak ke : pertama
1. Keluhan Utama
Bayi merintih sejak lahir dan sesak nafas
2. Riwayat kehamilan dan persalinan
Sudah cukup bulan
DO:
- BBL : 2400 gram
- suhu tidak tetap
- membran mukosa biru
- Tampak Pucat
- Kaki teraba dingin
- turgor kulit jelek
- jaringan subkutan lembek
- Nafas dangkal dan cepat
- pernapasan cuping hidung
- reflek menghisap lemah
- gerakan tidak aktif
- Merintih
DS:
-Orang tua mengatakan khawatir dengan keadaan anaknya
MASALAH KEPERAWATAN
1. Pola nafas tidak efektif b/d imatur system pernafasan.
2. Hipotermi b/d imatur system termoregulasi.
3. Gangguan pemeriksaan kebutuhan nutrisi b/d intake yang kurang.
4. Defisit volume cairan b/d pengeluaran yang berlebihan akibat dari peningkatan pola nafas.
5. Resiko tinggi gangguan integritas kulit b/d imobilitas.
TABEL DIAGNOSA
Data Fokus Etiologi Problem
DO:
- Bayi pucat
- Reflek gerakan sedikit
- Terlihat penggunaan otot saat bernapas
- Napas cepat dan dangkal
-
DO:
-Tampak Pucat
-Kaki Teraba dingin
-Merintih
-Membran mukosa pucat
DO:
- Turgor jelek
- Jaringan subcutan lembek
- Reflek hisap lemah
DO:
- Napas Sesak
- Jaringan subcutan lembek
DO:
- Jaringan lembek
- Reflek bergerak kurang
Immaturitas otot
pernafasan
Imatur sistem
thermoregulasi
Intake kurang
Output berkurang
Akibat pembesaran pada nafas
Imobilitas
Pola nafas
Tidak efektif
Hipotermi
Nutrisi kurang
Defisit vol. Cairan
Resti gangguan integritas kulit
TABEL INTERVENSI
Diagnosa Tujuan Intervensi
1. Pola nafas tidak efektif
b/d imaturita periode pernafasan.
2. Hipertensi b/d imaturitas thermogulasi
3. Defisit vol. Cairan b/d pengeluaran cairan yang berlebih akibat peningkatan pola nafas.
1. Jalan nafas menjadi efektif dengan kriteria :
- RR > 60x.menit
- Tidak ada penggunaan alat pernafasan.
- Whashing
- AGD dalambatas (N) :
- Ph = 7,35-7,45
- PCO2 = 35-45 mmhg
- PO2 = 50-80 mmgh
1. Cairan seimbang dengan kriteria :
- Membran mukasa lembab
- Turgor kulit baik
- Pengisiankapilercepat
- TTV stabil :
- RR : 30-60x/menit
- N : 110-1670x/menit
- S : 36-36C
1. Cairan seimbangdengankriteria :
- Membranmukosalembab
- Turgor kulitbaik
- Pengisiankapilercepat
- TTV stabil :
- RR : 30 – 60 x/mnt
- N : 110 – 160 x / mnt
- S : 36 – 367o C
1. Bersihkan hidung dan mulut dari mukus.
2. Berikan O2 dengan nasacanul 2 tts/menit
3. Obstetri TTV (RR & N)
1. Kontrol suhu lingkungan
2. Lakukan prosedur di area yang hangat
3. Observasi bayi terhadap stress dingin seperti takipnea, apnea, perubahan warna
4. Beri cadangan kalori untuk perbaiki keadaan hipoglekemia dan menstabilkan AGD
5. Periksa suhu secara bertahap sampai stabil.
6. Berikan pakaian untuk melindungi bayi dari kehilangan panas.
1. Kaji Turgor kulit, kelembaban, membran mukosa.
2. Pantau masukan, pengaluaran, catat warna dan karakter uruine
3. Hitung keseimbangan cairan.
4. Waspadai kehilangan cairan yang tak tampak.
5. Ukur berat badan secara periodic.
6. berikan cairan tambahan perinfus sesuai keperluan
Diagnosa
Tujuan Intervensi
4.Resiko tinggi gangguan nutrisi b/d ketidakmampuan mencerna makanan / imaturitas saluran cerna.
Nutrisi terpenuhi dengan kriteria :Berat badan naik / dipertahankan.
- 1. Early feeding untuk mencegah penurunan BB > 10%, hipoglikemi, hiperbilirubinemia
• Pedoman :puasa 2 jam dextrosa 5%.
Frekwensi minum.
a. BB 1250 gram x/24 jam
b. BB 1250-2000 gram =12x/24jam.
c. BB >2000gram 8x/24 jam
d. Jumlah cairan :
• Jumlah cairan :
a. hari I 60 cc/kg BB/hr.
b. hari II 90cc/kg BB/hr
c. hari III 120cc/kg BB/hr
d. hari IV 150cc/kg BB/hr
e. hari seterusnya 180-200cc/kg BB/hr
• Jumlah kalori
110-140 ka /kg bb/hr.
• Jumlah protein
3-69 gram/kg BB/hr
• Jumlah karbohidrat
10-15 gram/kg BB/hr
• Jumlah lemak
5-7 gram/kg BB/hr
• Macam nutrisi
Asi, ASS/ air susu sapi.
(cak residu lab) parenterae
2. Cegah pneumonia aspirasi
DAFTAR PUSTAKA
Nanda Internasional. 2009-2011. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi, Alih Bahasa: Made Sumarwati, S.Kep. MN.,Ns, dkk. Jakarta: EGC
Jumiarni.Drs, Mulyanti.Sri, S.Nurlina ;AsuhanKeperawatan Perinatal, Jakarta : ECG PenerbitBuku Kedokteran,1995
Kiranapritasari, 2008.Asuhan Persalinan Normal.Edisi2008 : Jakarta
PrawirohardjoSarwono,SpOG ,2005.Ilmu Kebidanan.Edisiketiga : Jakarta
http://askep-asfiksia-pada-bayi-baru-lahir.html
http://www.pediatrik.com/kanal.Php?pg=karyailmiah&id=03
1. BUDHI SANTOSA (090201050)
2. ERWI ROSALINA (090201051)
3. SUMIN TATIK LESTARI (090201052)
4. MEIGA ANGGRAINI (090201053)
5. STALASATUN KHASANAH (090201055)
6. ARIFAH NUR KHASANAH (090201056)
7. DEWI RATIH MERDEKA WATI (090201057)
8. FITRIANA SITORESMI (090201058)
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN AISYIYAHYOGYAKARTA
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
2011 / 2012
ASFIKSIA NEONATORUM
A. Pengertian
Asfiksia atau mati lemas adalah suatu keadaan berupa berkurangnya kadar oksigen (O2) dan berlebihnya kadar karbon dioksida (CO2) secara bersamaan dalam darah dan jaringan tubuh akibat gangguan pertukaran antara oksigen (udara) dalam alveoli paru-paru dengan karbon dioksida dalam darah kapiler paru-paru. Kekurangan oksigen disebut hipoksia dan kelebihan karbon dioksida disebut hiperkapnia.
Asfiksia neonatorum ialah suatu keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini oleh karena hipoksia janin intra uterin dan hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul di dalam kehamilan, persalinan atau segera setelah lahir. (Tim FK Unair 1995).
Dalam kenyataan sehari-hari, hipoksia ternyata merupakan gabungan dari empat kelompok, dimana masing-masing kelompok tersebut memang mempunyai ciri tersendiri. Walaupun ciri atau mekanisme yang terjadi pada masing-masing kelompok akan menghasilkan akibat yang sama bagi tubuh. Kelompok tersebut adalah :
1. Hipoksik-hipoksia
Dalam keadaan ini oksigen gagal untuk masuk ke dalam sirkulasi darah.
2. Anemik-hipoksia
Keadaan dimana darah yang tersedia tidak dapat membawa oksigen yang cukup untuk metabolisme dalam jaringan.
3. Stagnan-hipoksia
Keadaan dimana oleh karena suatu sebab terjadi kegagalan sirkulasi.
4. Histotoksik-hipoksia
Suatu keadaan dimana oksigen yang terdapat dalam darah oleh karena suatu hal, oksigen tersebut tidak dapat dipergunakan oleh jaringan.
B. Etiologi
1. Faktor ibu: Cacat bawaan, Hipoventilasi selama anastesi ,Penyakit jantung sianosis, Gagal bernafas,Keracunan CO ,Tekanan darah rendah,Gangguan kontraksi uterus,Usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun,Sosial ekonomi rendah, Hipertensi pada penyakit eklampsia.
2. Faktor janin / neonatorum : Kompresi umbilikus,Tali pusat menumbung, lilitan tali pusat, Kompresi tali pusat antara janin dan jalan lahir,Prematur,Gemeli,Kelainan congential,Pemakaian obat anestesi,Trauma yang terjadi akibat persalinan.
3. Faktor plasenta: Plasenta tipis,Plasenta kecil,Plasenta tidak menempel, Solusio plasenta.
4. Faktor persalinan: Partus lama,Partus tindakan.
C. Patofisiologi
Eklampsia pada ibu
Asfiksi
Gangguan pertukaran gas
PO2menurun PC O2meningkat
Pucatisionosis
D. Manifestasi Klinis
D. ManifestasiKlinis
Appnoe primer : Pernafasan cepat, denyut nadi menurun dan tonus neuromuscular menurun
Appnoe sekunder : Apabila asfiksia berlanjut , bagi menunjukan pernafasan megap–megap yang dalam, denyut jantung terus menerus, bayi terlihat lemah (pasif), pernafasan makin lama makin lemah
TANDA-TANDA STADIUM I STADIUM II STADIUM III
Tingkat kesadaran Sangat waspada Lesu (letargia) Pinsan (stupor), koma
Tonus otot Normal Hipotonik Flasid
Postur Normal Fleksi Disorientasi
Refleks tendo / klenus Hyperaktif Hyperaktif Tidak ada
Mioklonus Ada Ada Tidak ada
Refleks morrow Kuat Lemah Tidak ada
Pupil Midriasis Miosis Tidak sama, refleks cahaya jelek
Kejang-kejang Tidak ada Lazim Deserebrasi
EEG Normal 1aktifitasVoltase rendah kejang-kejang Supresi ledakan sampai isoelektrik
Lamanya 24 jam jika ada kemajuan 24 jam sampai 14 hari Beberapa hari sampai beberapa minggu
Hasil akhir Baik Bervariasi Kematian, defisit berat
E. APGAR Score
Penilaian menurut score APGAR merupakan tes sederhana untuk memutuskan apakah seorang bayi yang baru lahir membutuhkan pertolongan. Tes ini dapat dilakukan dengan mengamati bayi segera setelah lahir (dalam menit pertama), dan setelah 5 menit. Lakukan hal ini dengan cepat, karena jika nilainya rendah, berarti tersebut membutuhkan tindakan.
Observasi dan periksa :
A = “Appearance” (penampakan) perhatikan warna tubuh bayi.
P = “Pulse” (denyut). Dengarkan denyut jantung bayi dengan stetoskop atau palpasi denyut jantung dengan jari.
G = “Grimace” (seringai). Gosok berulang-ulang dasar tumit ke dua tumit kaki bayi dengan jari. Perhaitkan reaksi pada mukanya. Atau perhatikan reaksinya ketika lender pada mukanya. Atau perhatikan reaksinya ketika lender dari mulut dan tenggorokannya dihisap.
A = “Activity”. Perhatikan cara bayi yang baru lahir menggerakkan kaki dan tangannya atau tarik salah satu tangan/kakinya. Perhatikan bagaimana kedua tangan dan kakinya bergerak sebagai reaksi terhadap rangsangan tersebut.
R = “Repiration” (pernapasan). Perhatikan dada dan abdomen bayi. Perhatikan pernapasannya.
TANDA 0 1 2 JUMLAH NILAI
Frekwensi jantung Tidak ada Kurang dari 100 x/menit Lebih dari 100 x/menit
Usaha bernafas Tidak ada Lambat, tidak teratur Menangis kuat
Tonus otot Lumpuh / lemas Ekstremitas fleksi sedikit Gerakan aktif
Refleks Tidak ada respon Gerakan sedikit Menangis batuk
Warna Biru / pucat Tubuh: kemerahan, ekstremitas: biru Tubuh dan ekstremitas kemerahan
Apgar Skor : 7-10; bayi dianggap sehat dan tidak memerlukan tindakan istimewa
Apgar Skor 4-6; (Asfiksia Neonatorum sedang); pada pemeriksaan fisik akan terlihat frekwensi jantung lebih dari 100 X / menit, tonus otot kurang baik atau baik, sianosis, reflek iritabilitas tidak ada
Apgar Skor 0-3 (Asfiksia Neonatorum berat); pada pemeriksaan fisik ditemukan frekwensi jantung kurang dari 100 X / menit, tonus otot buruk, sianosis berat dan kadang-kadang pucat, reflek iritabilitas tidak ada.
F. Pemeriksaan Penunjang
- Foto polos dada
- USG kepala
- Laboratorium : darah rutin, analisa gas darah, serum elektrolit
G. Pemeriksaan Diagnostik
1. Analisa gas darah
2. Elektrolit darah
3. Gula darah
4. Baby gram
5. USG ( Kepala )
6. Penilaian APGAR score
7. Pemeriksaan EGC dab CT- Scan
8. Pengkajian spesifik
H. Komplikasi
1. Otak : Hipokstik iskemik ensefalopati, edema serebri, palsi serebralis.
2. Jantung dan paru: Hipertensi pulmonal persisten pada neonatorum, perdarahan paru, edema paru.
3. Gastrointestinal: enterokolitis, nekrotikans.
4. Ginjal: tubular nekrosisakut, siadh.
5. Hematologi: dic
I. Prognosis
a. Asfiksia Ringan :Tergantung pada kecepatan penatalaksanaan.
b. Asfikisia Berat : Dapat menimbulkan kematian pada hari-hari pertama kelainan saraf. Asfiksia dengan PH 6,9 dapat menyababkan kejang sampai koma dan kelainan neurologis permanen,misalnya retardasi mental.
J. Prinsip Dasar Resusitasi
Ada beberapa tahap: ABC resusitasi,
A= memastikan saluran nafas terbuka.
B= memulai pernafasan .
C= mempertahankan sirkulasi (peredaran darah).
• Membersihkan dan menciptakan lingkungan yang baik bagi bayi serta mengusahakan saluran pernafasan tetap bebas serta merangsang timbulnya pernafasan, yaitu agar oksigenisasi dan pengeluaran CO2 berjalan lancar.
• Memberikan bantuan pernafasan secara aktif pada bayi yang menunjukan usaha pernafasan lemah.
• Melakukan koreksi terhadap asidosis yang terjadi.
• Menjaga agar sirkulasi darah tetap baik
ASUHAN KEPERAWATAN ASFIKSIA
Neonatus (Bayi. P) dibawake IGD RumahSakitusia 6 jam dengan masalah utama merintihsejak lahir. Bayi ini merintih sejak lahir. Orangtua khawatir dengan keadaan anaknya. Bayi ini lahir dengan bidan, anak pertama, berat lahir 2400 gr, menurut bidan sudah cukup bulan, air ketuban bewarna hijau kental. Keadaan klinis saat masuk bayi tampak pucat, kaki teraba dingin, nafas 20x/menit, tampak retraksi epigastrium dan intekostal, merintih dan biru. Bidan yang membawa tampak kebigungan dan minta pertolongan ke dokter. Dokter kemudian melakukan resusitasi untuk menolong
A. Pengkajian
Biodata Identitas orang tua
Nama : Bayi P Nama ayah : NS
Umur : 6 jam Nama ibu : P
Jenis kelamin : Perempuan
Anak ke : pertama
1. Keluhan Utama
Bayi merintih sejak lahir dan sesak nafas
2. Riwayat kehamilan dan persalinan
Sudah cukup bulan
DO:
- BBL : 2400 gram
- suhu tidak tetap
- membran mukosa biru
- Tampak Pucat
- Kaki teraba dingin
- turgor kulit jelek
- jaringan subkutan lembek
- Nafas dangkal dan cepat
- pernapasan cuping hidung
- reflek menghisap lemah
- gerakan tidak aktif
- Merintih
DS:
-Orang tua mengatakan khawatir dengan keadaan anaknya
MASALAH KEPERAWATAN
1. Pola nafas tidak efektif b/d imatur system pernafasan.
2. Hipotermi b/d imatur system termoregulasi.
3. Gangguan pemeriksaan kebutuhan nutrisi b/d intake yang kurang.
4. Defisit volume cairan b/d pengeluaran yang berlebihan akibat dari peningkatan pola nafas.
5. Resiko tinggi gangguan integritas kulit b/d imobilitas.
TABEL DIAGNOSA
Data Fokus Etiologi Problem
DO:
- Bayi pucat
- Reflek gerakan sedikit
- Terlihat penggunaan otot saat bernapas
- Napas cepat dan dangkal
-
DO:
-Tampak Pucat
-Kaki Teraba dingin
-Merintih
-Membran mukosa pucat
DO:
- Turgor jelek
- Jaringan subcutan lembek
- Reflek hisap lemah
DO:
- Napas Sesak
- Jaringan subcutan lembek
DO:
- Jaringan lembek
- Reflek bergerak kurang
Immaturitas otot
pernafasan
Imatur sistem
thermoregulasi
Intake kurang
Output berkurang
Akibat pembesaran pada nafas
Imobilitas
Pola nafas
Tidak efektif
Hipotermi
Nutrisi kurang
Defisit vol. Cairan
Resti gangguan integritas kulit
TABEL INTERVENSI
Diagnosa Tujuan Intervensi
1. Pola nafas tidak efektif
b/d imaturita periode pernafasan.
2. Hipertensi b/d imaturitas thermogulasi
3. Defisit vol. Cairan b/d pengeluaran cairan yang berlebih akibat peningkatan pola nafas.
1. Jalan nafas menjadi efektif dengan kriteria :
- RR > 60x.menit
- Tidak ada penggunaan alat pernafasan.
- Whashing
- AGD dalambatas (N) :
- Ph = 7,35-7,45
- PCO2 = 35-45 mmhg
- PO2 = 50-80 mmgh
1. Cairan seimbang dengan kriteria :
- Membran mukasa lembab
- Turgor kulit baik
- Pengisiankapilercepat
- TTV stabil :
- RR : 30-60x/menit
- N : 110-1670x/menit
- S : 36-36C
1. Cairan seimbangdengankriteria :
- Membranmukosalembab
- Turgor kulitbaik
- Pengisiankapilercepat
- TTV stabil :
- RR : 30 – 60 x/mnt
- N : 110 – 160 x / mnt
- S : 36 – 367o C
1. Bersihkan hidung dan mulut dari mukus.
2. Berikan O2 dengan nasacanul 2 tts/menit
3. Obstetri TTV (RR & N)
1. Kontrol suhu lingkungan
2. Lakukan prosedur di area yang hangat
3. Observasi bayi terhadap stress dingin seperti takipnea, apnea, perubahan warna
4. Beri cadangan kalori untuk perbaiki keadaan hipoglekemia dan menstabilkan AGD
5. Periksa suhu secara bertahap sampai stabil.
6. Berikan pakaian untuk melindungi bayi dari kehilangan panas.
1. Kaji Turgor kulit, kelembaban, membran mukosa.
2. Pantau masukan, pengaluaran, catat warna dan karakter uruine
3. Hitung keseimbangan cairan.
4. Waspadai kehilangan cairan yang tak tampak.
5. Ukur berat badan secara periodic.
6. berikan cairan tambahan perinfus sesuai keperluan
Diagnosa
Tujuan Intervensi
4.Resiko tinggi gangguan nutrisi b/d ketidakmampuan mencerna makanan / imaturitas saluran cerna.
Nutrisi terpenuhi dengan kriteria :Berat badan naik / dipertahankan.
- 1. Early feeding untuk mencegah penurunan BB > 10%, hipoglikemi, hiperbilirubinemia
• Pedoman :puasa 2 jam dextrosa 5%.
Frekwensi minum.
a. BB 1250 gram x/24 jam
b. BB 1250-2000 gram =12x/24jam.
c. BB >2000gram 8x/24 jam
d. Jumlah cairan :
• Jumlah cairan :
a. hari I 60 cc/kg BB/hr.
b. hari II 90cc/kg BB/hr
c. hari III 120cc/kg BB/hr
d. hari IV 150cc/kg BB/hr
e. hari seterusnya 180-200cc/kg BB/hr
• Jumlah kalori
110-140 ka /kg bb/hr.
• Jumlah protein
3-69 gram/kg BB/hr
• Jumlah karbohidrat
10-15 gram/kg BB/hr
• Jumlah lemak
5-7 gram/kg BB/hr
• Macam nutrisi
Asi, ASS/ air susu sapi.
(cak residu lab) parenterae
2. Cegah pneumonia aspirasi
DAFTAR PUSTAKA
Nanda Internasional. 2009-2011. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi, Alih Bahasa: Made Sumarwati, S.Kep. MN.,Ns, dkk. Jakarta: EGC
Jumiarni.Drs, Mulyanti.Sri, S.Nurlina ;AsuhanKeperawatan Perinatal, Jakarta : ECG PenerbitBuku Kedokteran,1995
Kiranapritasari, 2008.Asuhan Persalinan Normal.Edisi2008 : Jakarta
PrawirohardjoSarwono,SpOG ,2005.Ilmu Kebidanan.Edisiketiga : Jakarta
http://askep-asfiksia-pada-bayi-baru-lahir.html
http://www.pediatrik.com/kanal.Php?pg=karyailmiah&id=03
MAKALAH IBU HAMIL DENGAN INFEKSI TORCH
KELOMPOK 6
1. BUDHI SANTOSA (090201050)
2. ERWI ROSALINA (090201051)
3. SUMIN TATIK LESTARI (090201052)
4. MEIGA ANGGRAINI (090201053)
5. STALASATUN KHASANAH (090201055)
6. ARIFAH NUR KHASANAH (090201056)
7. DEWI RATIH MERDEKA WATI (090201057)
8. FITRIANA SITORESMI (090201058)
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN AISYIYAH YOGYAKARTA
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
2011 / 2012
A. Pengertian TORCH
TORCH adalah sebuah istilah untuk menggambarkan gabungan dari empat jenis penyakit infeksi yang menyebabkan kelainan bawaan, yaitu Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus dan Herpes. Keempat jenis penyakit infeksi ini sama-sama berbahaya bagi janin bila infeksi diderita oleh ibu hamil.
Prinsip dari pemeriksaan ini adalah deteksi adanya zat anti (antibodi) yang spesifik taerhadap kuman penyebab infeksi tersebut sebagai respon tubuh terhadap adanya benda asing (kuman. Antibodi yang terburuk dapat berupa Imunoglobulin M (IgM) dan Imunoglobulin G (IgG).
Penyakit TORCH ini dikenal karena menyebabkan kelainan dan berbagai keluhan yang bisa menyerang siapa saja, mulai anak-anak sampai orang dewasa, baik pria maupun wanita. Bagi ibu yang terinfeksi saat hamil dapat menyebabkan kelainan pertumbuhan pada bayinya, yaitu cacat fisik dan mental yang beraneka ragam.
a. Toxoplasma
Toxoplasmosis penyakit zoonosis yaitu penyakit pada hewan yang dapat ditularkan ke manusia. Penyakit ini disebabkan oleh sporozoa yang dikenal dengan nama Toxoplasma gondii. Toxoplasma gondii yaitu suatu parasit intraselluler yang menginfeksi pada manusia dan hewan. Toxoplasma gondii termasuk spesies dari kelas sporozoa (Cocidia), pertama kali ditemukan pada binatang pengerat Ctenodactylus gundi di Afrika Utara (Tunisia) oleh Nicolle dan Manceaux tahun 1908. Tahun 1928 Toxoplasma gondii ditemukan pada manusia pertama kali oleh Castellani
b. Rubella
Penyakit ini disebabkan oleh virus Rubella yang termasuk famili Togaviridae dan genus Rubivirus, infeksi virus ini terjadi karena adanya kontak dengan sekret orang yang terinfeksi; pada wanita hamil penularan ke janin secara intrauterin. Masa inkubasinya rata-rata 16-18 hari. Periode prodromal dapattanpa gejala (asimtomatis), dapat juga badan terasa lemah,demam ringan, nyeri kepala, dan iritasi konjungtiva. Penyakit ini agak berbeda dari toksoplasmosis karena rubela hanya mengancam janin
Penyakit yang juga disebabkan oleh virus yang menimbulkan demam ringan dengan ruam yang menyebar dan kadang-kadang mirip dengan campak. Rubella menjadi penting karena penyakit ini dapat menimbulkan kecacatan pada janin. Sindroma rubella congenital terjadi pada 90% bayi yang dilahirkan oleh wanita yang terinfeksi rubella selama trimester pertama kehamilan, resiko kecacatan ini menurun hinggga kira-kira 10-20% pada minggu ke 16 dan lebih jarang terjadi bila ibu terkena infeksi pada usia kehamilan 20 minggu.
c. Cyto Megalo Virus (CMV)
Penyakit ini disebabkan oleh Human cytomegalovirus, subfamili betaherpesvirus, famili herpesviridae. Penularannya lewat paparan jaringan, sekresi maupun ekskresi tubuh yangterinfeksi (urine, ludah, air susu ibu, cairan vagina, dan lainlain). Masa inkubasi penyakit ini antara 3-8 minggu. Pada kehamilan infeksi pada janin terjadi secara intrauterin. Pada bayi, infeksi yang didapat saat kelahiran akan menampakkan gejalanya pada minggu ke tiga hingga ke dua belas; jika didapat pada masa perinatal akan mengakibatkan gejala yang berat.
Infeksi virus ini dapat ditemukan secara luas di masyarakat; sebagian besar wanita telah terinfeksi virus ini selama masa anak-anak dan tidak mengakibatkan gejala yang berarti. Tetapi bila seorang wanita baru terinfeksi pada masa kehamilan maka infeksi primer ini akan menyebabkan manifestasi gejala klinik infeksi janin bawaan sebagai berikut: hepatosplenomegali, ikterus, petekie, meningoensefalitis, khorioretinitis dan optic atrophy, mikrosefali, letargia, kejang, hepatitis dan jaundice, infiltrasi pulmonal dengan berbagai tingkatan, dan kalsifikasi intrakranial. Jika bayi dapat bertahan hidup akan disertai retardasi psikomotor maupun kehilangan pendengaran..
d. Herpes Simplek
Penyakit ini disebabkan infeksi Herpes simplex virus (HSV); ada 2 tipe HSV yaitu tipe 1 dan 2. Tipe 1 biasanya mempunyai gejala ringan dan hanya terjadi pada bayi karena adanya kontak dengan lesi genital yang infektif; sedangkan HSV tipe 2 merupakan herpes genitalis yang menular lewat hubungan seksual. HSV tipe 1 dan 2 dapat dibedakan secara imunologi. Masa inkubasi antara 2 hingga 12 hari. Infeksi herpes superfisial biasanya mudah dikenali misalnya pada kulit dan membran mukosa juga pada mata.
Penyakit infeksi virus yang ditandai dengan lesi primer terlokalisir, laten dan adanya kecenderungan untuk kambuh kembali. Ada 2 jenis virus yaitu virus herpes simpleks (HSV) tipe 1 dan 2 pada umumnya menimbulkan gejala klinis yang berbeda, tergantung pada jalan masuknya. Dapat menyerang alat-alat genital atau mukosa mulut.
B. Penyebab TORCH
Penyebab utama dari virus dan parasit TORCH (Toxoplasma, Rubella, CMV, dan Herpes) adalah hewan yang ada di sekitar kita, seperti ayam, kucing, burung, tikus, merpati, kambing, sapi, anjing, babi dan lainnya. Meskipun tidak secara langsung sebagai penyebab terjangkitnya penyakit yang berasal dari virus ini adalah hewan, namun juga bisa disebabkan oleh karena perantara (tidak langsung) seperti memakan sayuran, daging setengah matang dan lainnya.
a. Toxoplasma Gondii
Infeksi Toxoplasma disebabkan oleh parasit yang disebut Toxoplasma gondi.
Pada umumnya infeksi Toxoplasma terjadi tanpa disertai gejala yang spesifik. Kira-kira hanya 10-20% kasus infeksi Toxoplasma yang disertai gejala ringan, mirip gejala influenza, bisa timbul rasa lelah, malaise, demam, dan umumnya tidak menimbulkan masalah.
b. Rubella
Infeksi Rubella ditandai dengan demam akut, ruam pada kulit dan pembesaran kelenjar getah bening. Infeksi ini disebabkan oleh virus Rubella, dapat menyerang anak-anak dan dewasa muda.
c. Cyto Megalo Virus (CMV)
Infeksi CMV disebabkan oleh virus Cytomegalo, dan virus ini temasuk golongan virus keluarga Herpes. Seperti halnya keluarga herpes lainnya, virus CMV dapat tinggal secara laten dalam tubuh dan CMV merupakan salah satu penyebab infeksi yang berbahaya bagi janin bila infeksi yang berbahaya bagi janin bila infeksi terjadi saat ibu sedang hamil.
d. Herpes Simplek
Infeksi herpes pada alat genital (kelamin) disebabkan oleh Virus Herpes Simpleks tipe II (HSV II). Virus ini dapat berada dalam bentuk laten, menjalar melalui serabut syaraf sensorik dan berdiam diganglion sistem syaraf otonom.
C. Patofisiologi TORCH
a. Toxoplasma Gondii
Infeksi Toxoplasma berbahaya bila terjadi saat ibu sedang hamil atau pada orang dengan sistem kekebalan tubuh terganggu (misalnya penderita AIDS, pasien transpalasi organ yang mendapatkan obat penekan respon imun).
Jika wanita hamil terinfeksi Toxoplasma maka akibat yang dapat terjadi adalah abortus spontan atau keguguran (4%), lahir mati (3%) atau bayi menderita Toxoplasmosis bawaan. pada Toxoplasmosis bawaan, gejala dapat muncul setelah dewasa, misalnya kelinan mata dan telinga, retardasi mental, kejang-kejang dn ensefalitis
b. Rubella
Infeksi Rubella berbahaya bila tejadi pada wanita hamil muda, karena dapat menyebabkan kelainan pada bayinya. Jika infeksi terjadi pada bulan pertama kehamilan maka risiko terjadinya kelainan adalah 50%, sedangkan jika infeksi tejadi trimester pertama maka risikonya menjadi 25% (menurut America College of Obstatrician and Gynecologists, 1981).
c. Cyto Megalo Virus (CMV)
Jika ibu hamil terinfeksi. maka janin yang dikandung mempunyai risiko tertular sehingga mengalami gangguan misalnya pembesaran hati, kuning, pekapuran otak, ketulian, retardasi mental, dan lain-lain.
d. Herpes Simplek
Infeksi TORCH yang terjadi pada ibu hamil dapt membahayakan janin yang dikandungnya. Pada infeksi TORCH, gejala klinis yang ada searing sulit dibedakan dari penyakit lain karena gejalanya tidak spesifik. Walaupun ada yang memberi gejala ini tidak muncul sehingga menyulitkan dokter untuk melakukan diagnosis. Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium sangat diperlukan untuk membantu mengetahui infeksi TORCH agar dokter dapat memberikan penanganan atau terapi yang tepat.
D. Tanda Dan Gejala
a. Toxoplasma
Gejala yang diderita biasanya dengan mirip gejala influenza, bisa timbul rasa lelah, malaise, demam disertai hepatomegali, dan umumnya tidak menimbulkan masalah,
b. Herpes Simpleks
Penderita biasanya mengalami demam, salivasi, mudah terangsang dan menolak untuk makan,. Dengan dilakukan pemeriksaan menunjukan adanya ulkus dangkal multiple yang nyeri pada mukusa lidah, gusi, dan bukal denganvesikel pada bibir dan sekitarnya.
c. Cyto Megalo Virus (CMV)
- demam,
- penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia)
- letih- lesu
- kulit berwarna kuning,
- pembesaran hati dan limpa,
- kerusakan atau hambatan pembentukan organ tubuh seperti mata, otak, gangguan mental, dan lain-lain tergantung organ janin mana yang diserang
- Umumnya janin yang terinfeksi CMV lahir prematur dan berat badan lahir rendah.
d. Rubella
Tanda dan gejala yang muncul biasanya bertahan dalam dua hingga tiga hari dan mungkin melibatkan:
- Demam ringan 38,9 derajat Celcius atau lebih rendah,
- Sakit kepala
- Hidung tersumbat atau pilek
- Peradangan, mata merah
- Pembesaran, pelunakan kelenjar getah bening di dasar tengkorak, leher bagian belakang dan di belakang telinga
- Muncul ruam warna merah muda/pink di wajah dan dengan cepat menyebar ke pundak, lengan, kaki sebelum menghilang di sekuens yang sama.
- Nyeri pada persendian, khususnya pada perempuan muda.
E. Patofisiologi TORCH
a. Toxoplasma
Toxoplasma gondii adalah parasit protozoa yang merupakan salah satu penyebab kelainan kongenital yang cukup dominan dibandingkan penyebab lainnya yang tergolong dalam TORCH. Hospes primernya adalah kucing. Kucing ini telah mempunyai imunitas, tetapi pada saat reinfeksi mereka dapat menyebarkan kembali sejumlah kecil ookista. Ookista ini dapat menginfeksi manusia dengan cara memakan daging, buah-buahan, atau sayuran yang terkontaminasi atau karena kontak dengan faeces kucing. Dalam sel–sel jaringan tubuh manusia, akan terjadi proliferasi trophozoit sehingga sel–sel tersebut akan membesar. Trophozoit akan berkembang dan terbentuk satu kista dalam sel, yang di dalamnya terdapat merozoit. Kista biasanya didapatkan di jaringan otak, retina, hati, dan lain-lain yang dapat menyebabkan kelainan pada organ-organ tersebut, seperti microcephali, cerebral kalsifikasi, chorioretinitis, dll. Kista toksoplasma ditemukan dalam daging babi atau daging kambing. Sementara itu, sangat jarang pada daging sapi atau daging ayam. Kista toksoplasma yang berada dalam daging dapat dihancurkan dengan pembekuan atau dimasak sampai dagingnya berubah warna. Buah atau sayuran yang tidak dicuci juga dapat menstranmisikan parasit yang dapat dihancurkan dengan pembekuan atau pendidihan. Infeksi T.gondii biasanya tanpa gejala dan berlalu begitu saja. Setelah masa inkubasi selama lebih kurang 9 hari, muncul gejala flu seperti lelah, sakit kepala, dan demam yang dapat muncul hampir bersamaan dengan limpadenopati, terutama di daerah serviks posterior.
b. Rubella
Kematian pada post natal rubella biasanya disebabkan oleh enchepalitis. Pada infeksi awal, virus akan masuk melalui traktus respiratorius yang kemudian akan menyebar ke kelenjar limfe sekitar dan mengalami multiplikasi serta mengawali terjadinya viremia dalam waktu 7 hari. Janin dapat terinfeksi selama terjadinya viremia maternal. Saat ini, telah diketahui bahwa infeksi plasenta terjadi pada 80% kasus dan risiko kerusakan jantung, mata, atau telinga janin sangat tinggi pada trisemester pertama. Jika infeksi maternal terjadi sebelum usia kehamilan 12 minggu, 60% bayi akan terinfeksi. Kemudian, risiko akan menurun menjadi 17% pada minggu ke-14 dan selanjutnya menjadi 6% setelah usia kehamilan 20 minggu. Akan tetapi, plasenta biasanya terinfeksi dan virus dapat menjadi laten pada bayi yang terinfeksi kongenital selama bertahun-tahun.
c. Cytomegalovirus (CMV)
Penyakit yang disebabkan oleh Cytomegalovirus dapat terjadi secara kongenital saat bayi atau infeksi pada usia anak. Kadang-kadang, CMV juga dapat menyebabkan infeksi primer pada dewasa, tetapi sebagian besar infeksi pada usia dewasa disebabkan reaktivasi virus yang telah didapat sebelumnya. Infeksi kongenital biasanya disebabkan oleh reaktivasi CMV selama kehamilan. Di negara berkembang, jarang terjadi infeksi primer selama kehamilan, karena sebagian besar orang telah terinfeksi dengan virus ini sebelumnya. Bila infeksi primer terjadi pada ibu, maka bayi akan dapat lahir dengan kerusakan otak, ikterus dengan pembesaran hepar dan lien, trombositopenia, serta dapat menyebabkan retardasi mental. Bayi juga dapat terinfeksi selama proses kelahiran karena terdapatnya CMV yang banyak dalam serviks. Penderita dengan infeksi CMV aktif dapat mengekskresikan virus dalam urin, sekret traktus respiratorius, saliva, semen, dan serviks. Virus juga didapatkan pada leukosit dan dapat menular melalui tranfusi.
d. Herpes Simpleks (HSV)
HSV merupakan virus DNA yang dapat diklasifikasikan ke dalam HSV 1 dan 2. HSV 1 biasanya menyebabkan lesi di wajah, bibir, dan mata, sedangkan HSV 2 dapat menyebabkan lesi genital. Virus ditransmisikan dengan cara berhubungan seksual atau kontak fisik lainnya. Melalui inokulasi pada kulit dan membran mukosa, HSV akan mengadakan replikasi pada sel epitel, dengan waktu inkubasi 4 sampai 6 hari. Replikasi akan berlangsung terus sehingga sel akan menjadi lisis serta terjadi inflamasi lokal. Selanjutnya, akan terjadi viremia di mana virus akan menyebar ke saraf sensoris perifer. Di sini virus akan mengadakan replikasi yang diikuti penyebarannya ke daerah mukosa dan kulit yang lain2,4,9,10.
Dalam tahun-tahun terakhir ini, herpes genital telah mengalami peningkatan. Akan tetapi, untungnya herpes neonatal agak jarang terjadi, bervariasi dari 1 dalam 2.000 sampai 1 dalam 60.000 bayi baru lahir. Tranmisi terjadi dari kontak langsung dengan HSV pada saat melahirkan. Risiko infeksi perinatal adalah 35--40% jika ibu yang melahirkan terinfeksi herpes genital primer pada akhir kehamilannya2.
F. Cara Penularan TORCH
Penularan TORCH pada manusia dapat melalui 2 (dua) cara. Pertama, secara aktif (didapat) dan yang kedua, secara pasif (bawaan). Penularan secara aktif disebabkan antara lain sebagai berikut :
a. Makan daging setengah matang yang berasal dari hewan yang terinfeksi (mengandung sista), misalnya daging sapi, kambing, domba, kerbau, babi, ayam, kelinci dan lainnya. Kemungkinan terbesar penularan TORCH ke manusia adalah melalui jalur ini, yaitu melalui masakan sati yang setengah matang atau masakan lain yang dagingnya diamsak tidak semnpurna, termasuk otak, hati dan lainnya.
b. Makan makanan yang tercemar oosista dari feses (kotoran) kucing yang menderita TORCH. Feses kucing yang mengandung oosista akan mencemari tanah (lingkungan) dan dapat menjadi sumber penularan baik pada manusia maupun hewan. Tingginya resiko infeksi TORCH melalui tanah yang tercemar, disebabkan karena oosista bisa bertahan di tanah sampai beberapa bulan ( Howard, 1987).
c. Transfusi darah (trofozoid), transplantasi organ atau cangkok jaringan (trozoid, sista), kecelakaan di laboratorium yang menyebabkan TORCH masuk ke dalam tubuh atau tanpa sengaja masuk melalui luka (Remington dan McLeod 1981, dan Levine 1987).
d. Hubungan seksual antara pria dan wanita juga bisa menyebabkan menularnya TORCH. Misalnya seorang pria terkena salah satu penyakit TORCH kemudian melakukan hubungan seksual dengan seorang wanita (padahal sang wanita sebelumnya belum terjangkit) maka ada kemungkinan wanita tersebut nantinya akan terkena penyakit TORCH sebagaimana yang pernah diderita oleh lawan jenisnya.
e. Ibu hamil yang kebetulan terkena salah satu penyakit TORCH ketika mengandung maka ada kemungkinan juga anak yang dikandungnya terkena penyakit TORCH melalui plasenta.
f. Air Susu Ibu (ASI) juga bisa sebagai penyebab menularnya penyakit TORCH. Hal ini bisa terjadi seandainya sang ibu yang menyusui kebetulan terjangkit salah satu penyakit TORCH maka ketika menyusui penyakit tersebut bisa menular kepada sang bayi yang sedang disusuinya.
g. Keringat yang menempel pada baju atau pun yang masih menempel di kulit juga bisa menjadi penyebab menularnya penyakit TORCH. Hal ini bisa terjadi apabila seorang yang kebetulan kulitnya menmpel atau pun lewat baju yang baru saja dipakai si penderita penyakit TORCH.
h. Faktor lain yang dapat mengakibatkan terjadinya penularan pada manusia, antara lain adalah kebiasaan makan sayuran mentah dan buah - buahan segar yang dicuci kurang bersih, makan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu, mengkonsumsi makanan dan minuman yang disajikan tanpa ditutup, sehingga kemungkinan terkontaminasi oosista lebih besar.
i. Air liur juga bisa sebagai penyebab menularnya penyakit TORCH. Cara penularannya juga hampir sama dengan penularan pada hubungan seksual.
Berdasarkan kenyataan di atas, penyakit TORCH ini sifatnya menular. Oleh karena itu dalam satu keluarga biasanya kalau salah satu anggota keluarga terkena penyakit tersebut maka yang lainnya pun juga bisa terkena. Malah ada beberapa kasus dalam satu keluarga seluruh anggota keluarganya mulai dari kakek - nenek, kakak - adik, bapak - ibu, anak - anak semuanya terkena penyakit TORCH.
G. Cara Menghindari TORCH
Untuk menghindari sedini mungkin penyakit TORCH yang sangat membahayakan ini, ada beberapa hal sebagai solusi awal yang bisa dilakukan antara lain sebagai berikut :
a. Bila mengkonsumsi daging seperti daging ayam, sapi, kambing, kelinci, babi dan lainnya terlebih dahulu dimasak dengan matang hingga suhu mencapai 66 derajat Celcius, agar oosista - oosista yang mungkin terbawa di dalam daging tersebut bisa mati.
b. Kucing peliharaan di rumah hendaknya diberi daging matang untuk mencegah infeksi yang masuk ke dalam tubuh kucing. Tempat makan, minum dan alas tidur harus selalu dicuci / dibersihkan.
c. Hindari kontak dengan hewan - hewan mamalia liar, seperti rodensia liar (tikus, bajing, musang dan lain - lain) serta reptilia kecil seperti cecak, kadal, dan bengkarung yang kemungkinan dapat sebagai hewan perantara TORCH.
d. Penanganan kotoran kucing sebaiknya dilakukan melalui sarung tangan yang disposable (dibuang setelah dipakai).
e. Bagi wanita yang sedang hamil, terutama yang dinyatakan secara serologis sudah negatif, jangan memelihara atau menangani kucing kecuali dengan sarung tangan.
f. Bila sedang memegang daging, bekerja di tempat atau perusahaan daging atau organ yang masih mentah, hindari untuk tidak menyentuh mata, mulut, dan hidung dan peralatan dapur setelah selesai sebaiknya dicuci dengan sabun.
g. Bagi yang senang berkebun atau bekerja di kebun, sebaiknya menggunakan sarung tangan, mencuci sayuran atau buah sebelum dimakan.
h. Darah penderita seropositif tidak boleh ditransfusikan pada penderita yang menderita imunosupresif, demikian pula transplantasi organ pada penderita seronegatif harus dari orang dengan seronegatif TORCH.
i. Pemberantasan terhadap lalat dan kecoa sebagai pembawa oosista perlau dilakukan.
j. Penggunaan desinfektan komersial yang ada di toko - toko dapat berguna untuk membasmi oosista.
k. Memeriksakan hewan peliharaan secara kontinyu ke dokter hewan atau poliklinik hewan agar supaya hewan keanyangan selalu dalam keadaan sehat.
H. Mencegah TORCH
Mengingat bahaya dari TORCH untuk ibu hamil, bagi Anda yang sedang merencanakan kehamilan atau yang saat ini sedang hamil, dapat mempertimbangkan saran-saran berikut agar bayi Anda dapat terlahir dengan baik dan sempurna.
a. Makan makanan bergizi
Saat hamil, sebaiknya Anda mengkonsumsi banyak makanan bergizi. Selain baik untuk perkembangan janin, gizi yang cukup juga akan membuat tubuh tetap sehat dan kuat. Bila tubuh sehat, maka tubuh dapat melawan berbagai penyakit termasuk TORCH sehingga tidak akan menginfeksi tubuh.
b. Lakukan pemeriksaan sebelum kehamilan
Ada baiknya, Anda memeriksakan tubuh sebelum merencanakan kehamilan. Anda dapat memeriksa apakah dalam tubuh terdapat virus atau bakteri yang dapat menyebabkan infeksi TORCH. Jika Anda sudah terinfeksi, ikuti saran dokter untuk mengobatinya dan tunda kehamilan hingga benar-benar sembuh.
c. Melakukan vaksinasi
Vaksinasi bertujuan untuk mencegah masuknya parasit penyebab TORCH. Seperti vaksin rubela dapat dilakukan sebelum kehamilan. Hanya saja, Anda tidak boleh hamil dahulu sampai 2 bulan kemudian.
d. Makan makanan yang matang
Hindari memakan makanan tidak matang atau setengah matang. Virus atau parasit penyebab TORCH bisa terdapat pada makanan dan tidak akan mati apabila makanan tidak dimasak sampai matang. Untuk mencegah kemungkinan tersebut, selalu konsumsi makanan matang dalam keseharian Anda.
e. Periksa kandungan secara terartur
Selama masa kehamilan, pastikan juga agar Anda memeriksakan kandungan secara rutin dan teratur. Maksudnya adalah agar dapat dilakukan tindakan secepatnya apabila di dalam tubuh Anda ternyata terinfeksi TORCH. Penanganan yang cepat dapat membantu agar kondisi bayi tidak menjadi buruk.
f. Jaga kebersihan tubuh
Jaga higiene tubuh Anda. Prosedur higiene dasar, seperti mencuci tangan, sangatlah penting.
g. Hindari kontak dengan penderita penyakit
Seorang wanita hamil harus menghindari kontak dengan siapa pun yang menderita infeksi virus, seperti rubela, yang juga disebut campak Jerman.
Dengan mencari lebih banyak informasi tentang kehamilan serta merawat dirinya sebelum dan selama masa kehamilan maupun dengan memikirkan masak-masak jauh di muka tentang berbagai aspek melahirkan, seorang wanita akan melakukan sebisa-bisanya untuk memastikan kehamilan yang lebih aman. Maka, bagi seorang wanita hamil, cobalah untuk selalu waspada terhadap berbagai penyakit seperti TORCH agar bayi Anda terlahir sehat.
I. Pengobatan TORCH
Adanya infeksi-infeksi ini dapat dideteksi dari pemeriksaan darah. Biasanya ada 2 petanda yang diperiksa untuk tiap infeksi yaitu Imunoglobulin G (IgG) dan Imunoglobulin M (IgM). Normalnya keduanya negatif.
Jika IgG positif dan IgMnya negatif,artinya infeksi terjadi dimasa lampau dan tubuh sudah membentuk antibodi. Pada keadaan ini tidak perlu diobati. Namun, jika IgG negatif dan Ig M positif, artinya infeksi baru terjadi dan harus diobati. Selama pengobatan tidak dianjurkan untuk hamil karena ada kemungkinan infeksi ditularkan ke janin. Kehamilan ditunda sampai 1 bulan setelah pengobatan selesai (umumnya pengobatan memerlukan waktu 1 bulan). Jika IgG positif dan IgM juga positif,maka perlu pemeriksaan lanjutan yaitu IgG Aviditas. Jika hasilnya tinggi,maka tidak perlu pengobatan, namun jika hasilnya rendah maka perlu pengobatan seperti di atas dan tunda kehamilan. Pada infeksi Toksoplasma,jika dalam pengobatan terjadi kehamilan, teruskan kehamilan dan lanjutkan terapi sampai melahirkan.Untuk Rubella dan CMV, jika terjadi kehamilan saat terapi, pertimbangkan untuk menghentikan kehamilan dengan konsultasi kondisi kehamilan bersama dokter kandungan anda.
Pengobatan TORCH secara medis diyakini bisa dengan menggunakan obat-obatan seperti isoprinocin, repomicine, valtrex, spiromicine, spiradan, acyclovir, azithromisin, klindamisin, alancicovir, dan lainnya. Namun tentu pengobatannya membutuhkan biaya yang sangat mahal dan waktu yang cukup lama. Selain itu, terdapat pula cara pengobatan alternatif yang mampu menyembuhkan penyakit TORCH ini, dengan tingkat kesembuhan mencapai 90 %.
Pengobatan TORCH secara medis pada wanita hamil dengan obat spiramisin (spiromicine), azithromisin dan klindamisin misalnya bertujuan untuk menurunkan dampak (resiko) infeksi yang timbul pada janin. Namun sayangnya obat-obatan tersebut seringkali menimbulkan efek mual, muntah dan nyeri perut. Sehingga perlu disiasati dengan meminum obat-obatan tersebut sesudah atau pada waktu makan.
Berkaitan dengan pengobatan TORCH ini (terutama pengobatan TORCH untuk menunjang kehamilan), menurut medis apabila IgG nya saja yang positif sementara IgM negative, maka tidak perlu diobati. Sebaliknya apabila IgM nya positif (IgG bisa positif atau negative), maka pasien baru perlu mendapatkan pengobatan.
J. Diagnosa TORCH
Proses diagnosa medis merupakan langkah pertama untuk menangani suatu penyakit. Tetapi diagnosa berdasarkan pengamatan gejala klinis sering sukar dilaksanakan, maka dilakukan diagnosa laboratorik dengan memeriksa serum darah, untuk mengukur titer-titer antibodi IgM atau IgG-nya.
Penderita TORCH kadang tidak menunjukkan gejala klinis yang spesifik, bahkan bisa jadi sama sekali tidak merasakan sakit. Secara umum keluhan yang dirasakan adalah mudah pingsan, pusing, vertigo, migran, penglihatan kabur, pendengaran terganggu, radang tenggorokan, radang sendi, nyeri lambung, lemah lesu, kesemutan, sulit tidur, epilepsi, dan keluhan lainnya.
Untuk kasus kehamilan: sulit hamil, keguguran, organ tubuh bayi tidak lengkap, cacat fisik maupun mental, autis, keterlambatan tumbuh kembang anak, dan ketidaksempurnaan lainnya.
Namun begitu, gejala diatas tentu belum membuktikan adanya penyakit TORCH sebelum dibuktikan dengan uji laboratorik.
K. Pemeriksaan TORCH
1. Cara Pemeriksaannya
a. Toxoplasma
Tes ini mempergunakan antigen Toxoplasma yang diletakkan pada penyangga padat, mula-mula di inkubasi dengan serum penderita kemudian dengan antibodi berlabel enzim. Kadar antibodi dalam serum penderita sebanding dengan intertitas warna yang timbul setelah ikatan antigen antibodi dicampur dengan substrat. Uji aviditas pada ELISA bermanfaat untuk determinasi prediktif kapan seseorang atau individu tersebut diperkirakan terinfeksi Aviditas ELISA juga dapat digunakan untuk menentukan status infeksi serta kekuatan ikatan intrinsik antara antibodi dengan antigen. Apabila ikatan intrinsiknya lemah maka daya proteksinya juga lemah meskipun titernya cukup tinggi. Sebaliknya apabila ikatan intrinsik antigen-antibodinya cukup tinggi maka daya proteksinya cukup baik meskipun titernya tidak terlalu tinggi.
- Cara Kerja
a) Lokasi Pengambilan Sampel
- vena mediana cubiti ( dewasa )
- vena jugularis superficialis ( bayi )
b) Cara kerja pengambilan sampel :
Bersihkan daerah vena mediana cubiti dengan alcohol 70% dan biarkan menjadi kering kembali
Pasang ikatan pembendung/torniquit diatas fossa cubiti. Mintakan pasien yang akan diambil darahnya untuk mengepal dan membuka tangannya beberapa kali agar vena jelas terlihat. Pembendungan vena tidak boleh terlalu kuat .
Tegangkan kulit diatas vena dengan jari tangan kiri agar vena tidak bergerak
Tusuk kulit diatas vena dengan jarum/nald dengan tangan kanan sampai menembus lumen vena
Lepaskan pembendungan dan ambillah darah sesuai yang dibutuhkan
Taruh kapas diatas jarum/nald dan cabut perlahan
Mintakan agar pasien menekan bekas tusukan dengan kapas tadi
Alirkan darah dari syringe kedalam tabung melaluji dinding tabung
Berikan label berisi tanggal pemeriksaan,nama pasien dan jenis specimen
Sampel dapat di simpan pada suhu 2 - 8 ° C bertahan sampai 7 hari atau dibekukan sampai 6 bulan. Hindari pembekuan berulang jika untuk pemeriksaan.
c) Cara kerja Toxolisa IgG dan IgM
Siapkan pengenceran 1:40 test sampel, negatif control, positif control dan calibrator dengan jalan menambahkan masing-masing 5 ul bahan dengan 100 ul sampel diluents, goyang hingga homagen.
Ambil 100 ul masing-masing hasil pengenceran, masukkan ke dalam wells goyang agar tercampur rata, inkubasi selama 30 menit pada suhu 37oC.
Cuci 4× dengan diluents Wash Buffer (1×) dilanjutkan cuci 1× dengan aquabidest Wash buffer (1×) = encerkan volume Wash Buffer (20×) dengan 19 volume aquabidest contoh : larutkan 50ml Wash Buffer (20×) kedalam aquabidest untuk membuat 1000ml Wash Buffer (1×).
Masukan 100 ul Enzyme Conjugate ke masing-masing well, inkubasi 30 menit pada suhu 37oC.
Cuci 4× dengan diluents Wash Buffer (1×) dilanjutkan cuci dengan aquabidest.
Masukan 100 ul TMB ke masing-masing well, goyang hingga merata.
Inkubasi 15 menit pada suhu 37oC.
Tambahkan 100 ul Stop Solution (1N HCl) ke masing-masing well
Goyang 30 detik agar merata
Baca pada Elisa Reader dengan λ 450nm
b. Rubella
Dengan tes ELISA, HAI,Pasif HAatau tes LA, atau dengan adanya IgM spesifik rubella yang mengindikasikan infeksi rubella telah terjadi.
Pemeriksaan Laboratorium yang dilakukan meliputi pemeriksaan Anti-Rubella IgG dana IgM. Pemeriksaan Anti-rubella IgG dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kekebalan pada saat sebelum hamil. Jika ternyata belum memiliki kekebalan, dianjurkan untuk divaksinasi. Pemeriksaan Anti-rubella IgG dan IgM terutama sangat berguna untuk diagnosis infeksi akut pada kehamilan < 18 minggu dan risiko infeksi rubella bawaan.
c. Cyto Megalo Virus
Pemeriksaan laboratorium sangat bermanfaat untuk mengetahui infeksi akut atau infeski berulang, dimana infeksi akut mempunyai risiko yang lebih tinggi. Pemeriksaan laboratorium yang silakukan meliputi Anti CMV IgG dan IgM, serta Aviditas Anti-CMV IgG.
d. Herpes Simpleks
Pemeriksaan laboratorium, yaitu Anti-HSV II IgG dan Igm sangat penting untuk mendeteksi secara dini terhadap kemungkinan terjadinya infeksi oleh HSV II dan mencaegah bahaya lebih lanjut pada bayi bila infeksi terjadi pada saat kehamilan
2. Dan cara untuk membaca hasilnya adalah sebagai berikut :
a. Periksalah serum untuk mencari ada tidaknya IgG spesifik untuk parasit/virus TORCH. Bila hasilnya Negatif, berarti Anda tidak pernah terinfeksi TORCH. Bila Positif, berarti pernah terinfeksi. Note: [periksa Anti-Toxoplasma IgG, Anti-Rubella IgG, Anti-CMV IgG, Anti-HSV2 IgG]. Tes IgG itu untuk meriksa apakah pada masa lalu si pasien pernah kena infeksi.
b. Bila IgG Positif, maka untuk menentukan kapan infeksi tersebut, Anda harus melakukan pemeriksaan serum untuk mencari ada tidaknya IgM parasit/virus TORCH. Tes IgM ini fungsinya untuk memeriksa apakah saat ini si pasien terinfeksi TORCH.
c. Bila IgG Positif dan IgM Negatif : Anda telah terinfeksi lebih dari setahun yang lalu. Saat ini anda mungkin telah mengembangkan kekebalan terhadap parasit itu. Anda tidak perlu khawatir untuk hamil.
d. Bila IgG Positif dan IgM juga Positif: Anda tengah mengalami infeksi dalam 2 tahun terakhir, [mungkin pula ada false pada hasil IgM]. Anda harus catat berapa angka IgM tersebut.
e. Selanjutnya Anda harus melakukan lagi pemeriksaan IgM [kalau perlu sekalian IgG] setelah 2 minggu dari pemeriksaan pertama.
f. Bila IgM tetap Positif atau malah naik angkanya, berarti anda sedang terinfeksi TORCH. Sebaiknya anda sembuhkan dulu infeksi ini baru kemudian mulai hamil.
e. Siapa & kapan perlu melakukan pemeriksaan TORCH yaitu
- Wanita yang akan hamil atau merencanakan segera hamil
- Wanita yang baru/sedang hamil bila hasil sebelumnya negatif atau belum diperiksa, idealnya dipantau setiap 3 bulan sekali
- Bayi baru lahir yang ibunya terinfeksi pada saat hamil
ASUHAN KEPERAWATAN
Kasus
Seorang perempuan usia 28 tahun, dengan usia kehamilan 20 minggu klien mengeluh sakit kepala hidung tersumbat, nyeri pada kulit. Setelah dilakukan pemeriksaan suhu tubuh 38,5°; ekstremitas atas dan bawah terlihat bintik merah iritasi, TD 125/90 mmhg, nadi 90 kali per menit, RR 20 kali per menit, mata tampak merah, terdapat peradangan pada tangan,saat dipegang kulit terasa hangat. Klien menceritakan bahwa dirumah memelihara banyak kucing dan dia sering makan sayuran mentah.
Pengkajian
DS :
a. Mengeluh sakit kepala
b. Mengeluh hidung tersumbat
c. Mengeluh nyeri pada kulit
d. Klien menceritakan bahwa dirumah memelihara banyak kucing
e. Klien sering makan sayuran mentah.
DO :
a. S : 38,5 °
b. N : 90 x / menit
c. TD : 125/95 mmHg
d. RR : 20 x / menit
e. Mata tampak merah
f. Terdapat peradangan pada tangan
g. Dipegang kulit terasa hangat
h. Pada ekstremitas atas dan bawah terlihat bintik merah
Diagnosa
Data
Problem Etiologi
-S : 38,5 °
-N : 90 x / menit
-kulit terasa hangat
-kulit kemerahan
Hipertermi
Proses perjalanan penyakit
-TD : 125/95 mmHg
-Mengeluh nyeri pada kulit
-Terdapat peradangan pada tangan
Nyeri akut Agen biologis
Intervensi
no Diagnosa Tujuan intervensi
1 Nyeri b.d agen cidera biologis
Ditandai dengan :
-TD : 125/95 mmHg
-Mengeluh nyeri pada kulit
-Terdapat peradangan pada tangan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam nyeri berkurang
Kriteria hasil:
Skala nyeri turun dan ekspresi wajah tidak menyeringai lagi 1) Kaji secara komprehensif tentang nyeri meliputi lokasi, karakteristik, dan onset, durasi, frekuensi, kualitas,intensitas/beratnya nyeri, dan faktor-faktor presipitasi.
2) Observasi isyarat non verbal dari tidaknyaman, khususnya tidakmampu untuk komunikasi secara efektif.
3) Gunakan komunikasi terapeutik agar klien mengekspresikan nyeri
4) Berikan dukungan terhadap klien dan keluarga
5) Kontrol faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon klien terhadap ketidaknyamanan (ex.: temperatur ruangan, penyinaran, dll)
6) Ajarkan penggunaan teknik non farmakologik (misalnya : relaksasi, guided imagery, terapi musik, distraksi, aplikasi panas – dingin, massage, TENS, hipnotis, terapi aktivitas)
7) Berikan analgesik sesuai anjuran
8) Tingkatkan tidur atau istirahat yang cukup
9) Evaluasi keefektifan dari tindakan mengontrol nyeri yang telah digunakan.
2 Hipertermi b.d proses perjalanan penyakit Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam suhu menurun dengan kriteria hasil kulit tidak kemerahan lagi, penurunan suhu kulit 1) Monitor vital sign
2) Monitor suhu minimal tiap 15 menit sampai suhu stabil
3) Monitor warna kulit
4) Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
5) Selimuti klien untuk mencegah hilangnya panas tubuh
6) Kompres klien pada lipat paha dan aksila
7) Berikan antipiretik bila perlu
DAFTAR PUSTAKA TORCH
Nugraheny, Esti.2009. Asuhan Kebidanan Pathologi. Yogyakarta:Pustaka Rihama.
Mandal,Dkk.2008.Lecture Notes:Penyakit Infeksi, Edisi Vi, Alih Bahasa:dr. Jualita Surapsari. Jakarta: Erlangga.
Nanda Internasional. 2009-2011. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi, Alih Bahasa: Made Sumarwati, S.Kep. MN.,Ns, dkk. Jakarta: EGC
http://stetoskopmerah.blogspot.com/2009/04/pemeriksaan-laboratorium-infeksi-torch.html
: http://id.shvoong.com/medicine-and-health/imuunology/2122965-infeksi-torch-pada-wanita-hamil/#ixzz1blcv9XdG
1. BUDHI SANTOSA (090201050)
2. ERWI ROSALINA (090201051)
3. SUMIN TATIK LESTARI (090201052)
4. MEIGA ANGGRAINI (090201053)
5. STALASATUN KHASANAH (090201055)
6. ARIFAH NUR KHASANAH (090201056)
7. DEWI RATIH MERDEKA WATI (090201057)
8. FITRIANA SITORESMI (090201058)
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN AISYIYAH YOGYAKARTA
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
2011 / 2012
A. Pengertian TORCH
TORCH adalah sebuah istilah untuk menggambarkan gabungan dari empat jenis penyakit infeksi yang menyebabkan kelainan bawaan, yaitu Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus dan Herpes. Keempat jenis penyakit infeksi ini sama-sama berbahaya bagi janin bila infeksi diderita oleh ibu hamil.
Prinsip dari pemeriksaan ini adalah deteksi adanya zat anti (antibodi) yang spesifik taerhadap kuman penyebab infeksi tersebut sebagai respon tubuh terhadap adanya benda asing (kuman. Antibodi yang terburuk dapat berupa Imunoglobulin M (IgM) dan Imunoglobulin G (IgG).
Penyakit TORCH ini dikenal karena menyebabkan kelainan dan berbagai keluhan yang bisa menyerang siapa saja, mulai anak-anak sampai orang dewasa, baik pria maupun wanita. Bagi ibu yang terinfeksi saat hamil dapat menyebabkan kelainan pertumbuhan pada bayinya, yaitu cacat fisik dan mental yang beraneka ragam.
a. Toxoplasma
Toxoplasmosis penyakit zoonosis yaitu penyakit pada hewan yang dapat ditularkan ke manusia. Penyakit ini disebabkan oleh sporozoa yang dikenal dengan nama Toxoplasma gondii. Toxoplasma gondii yaitu suatu parasit intraselluler yang menginfeksi pada manusia dan hewan. Toxoplasma gondii termasuk spesies dari kelas sporozoa (Cocidia), pertama kali ditemukan pada binatang pengerat Ctenodactylus gundi di Afrika Utara (Tunisia) oleh Nicolle dan Manceaux tahun 1908. Tahun 1928 Toxoplasma gondii ditemukan pada manusia pertama kali oleh Castellani
b. Rubella
Penyakit ini disebabkan oleh virus Rubella yang termasuk famili Togaviridae dan genus Rubivirus, infeksi virus ini terjadi karena adanya kontak dengan sekret orang yang terinfeksi; pada wanita hamil penularan ke janin secara intrauterin. Masa inkubasinya rata-rata 16-18 hari. Periode prodromal dapattanpa gejala (asimtomatis), dapat juga badan terasa lemah,demam ringan, nyeri kepala, dan iritasi konjungtiva. Penyakit ini agak berbeda dari toksoplasmosis karena rubela hanya mengancam janin
Penyakit yang juga disebabkan oleh virus yang menimbulkan demam ringan dengan ruam yang menyebar dan kadang-kadang mirip dengan campak. Rubella menjadi penting karena penyakit ini dapat menimbulkan kecacatan pada janin. Sindroma rubella congenital terjadi pada 90% bayi yang dilahirkan oleh wanita yang terinfeksi rubella selama trimester pertama kehamilan, resiko kecacatan ini menurun hinggga kira-kira 10-20% pada minggu ke 16 dan lebih jarang terjadi bila ibu terkena infeksi pada usia kehamilan 20 minggu.
c. Cyto Megalo Virus (CMV)
Penyakit ini disebabkan oleh Human cytomegalovirus, subfamili betaherpesvirus, famili herpesviridae. Penularannya lewat paparan jaringan, sekresi maupun ekskresi tubuh yangterinfeksi (urine, ludah, air susu ibu, cairan vagina, dan lainlain). Masa inkubasi penyakit ini antara 3-8 minggu. Pada kehamilan infeksi pada janin terjadi secara intrauterin. Pada bayi, infeksi yang didapat saat kelahiran akan menampakkan gejalanya pada minggu ke tiga hingga ke dua belas; jika didapat pada masa perinatal akan mengakibatkan gejala yang berat.
Infeksi virus ini dapat ditemukan secara luas di masyarakat; sebagian besar wanita telah terinfeksi virus ini selama masa anak-anak dan tidak mengakibatkan gejala yang berarti. Tetapi bila seorang wanita baru terinfeksi pada masa kehamilan maka infeksi primer ini akan menyebabkan manifestasi gejala klinik infeksi janin bawaan sebagai berikut: hepatosplenomegali, ikterus, petekie, meningoensefalitis, khorioretinitis dan optic atrophy, mikrosefali, letargia, kejang, hepatitis dan jaundice, infiltrasi pulmonal dengan berbagai tingkatan, dan kalsifikasi intrakranial. Jika bayi dapat bertahan hidup akan disertai retardasi psikomotor maupun kehilangan pendengaran..
d. Herpes Simplek
Penyakit ini disebabkan infeksi Herpes simplex virus (HSV); ada 2 tipe HSV yaitu tipe 1 dan 2. Tipe 1 biasanya mempunyai gejala ringan dan hanya terjadi pada bayi karena adanya kontak dengan lesi genital yang infektif; sedangkan HSV tipe 2 merupakan herpes genitalis yang menular lewat hubungan seksual. HSV tipe 1 dan 2 dapat dibedakan secara imunologi. Masa inkubasi antara 2 hingga 12 hari. Infeksi herpes superfisial biasanya mudah dikenali misalnya pada kulit dan membran mukosa juga pada mata.
Penyakit infeksi virus yang ditandai dengan lesi primer terlokalisir, laten dan adanya kecenderungan untuk kambuh kembali. Ada 2 jenis virus yaitu virus herpes simpleks (HSV) tipe 1 dan 2 pada umumnya menimbulkan gejala klinis yang berbeda, tergantung pada jalan masuknya. Dapat menyerang alat-alat genital atau mukosa mulut.
B. Penyebab TORCH
Penyebab utama dari virus dan parasit TORCH (Toxoplasma, Rubella, CMV, dan Herpes) adalah hewan yang ada di sekitar kita, seperti ayam, kucing, burung, tikus, merpati, kambing, sapi, anjing, babi dan lainnya. Meskipun tidak secara langsung sebagai penyebab terjangkitnya penyakit yang berasal dari virus ini adalah hewan, namun juga bisa disebabkan oleh karena perantara (tidak langsung) seperti memakan sayuran, daging setengah matang dan lainnya.
a. Toxoplasma Gondii
Infeksi Toxoplasma disebabkan oleh parasit yang disebut Toxoplasma gondi.
Pada umumnya infeksi Toxoplasma terjadi tanpa disertai gejala yang spesifik. Kira-kira hanya 10-20% kasus infeksi Toxoplasma yang disertai gejala ringan, mirip gejala influenza, bisa timbul rasa lelah, malaise, demam, dan umumnya tidak menimbulkan masalah.
b. Rubella
Infeksi Rubella ditandai dengan demam akut, ruam pada kulit dan pembesaran kelenjar getah bening. Infeksi ini disebabkan oleh virus Rubella, dapat menyerang anak-anak dan dewasa muda.
c. Cyto Megalo Virus (CMV)
Infeksi CMV disebabkan oleh virus Cytomegalo, dan virus ini temasuk golongan virus keluarga Herpes. Seperti halnya keluarga herpes lainnya, virus CMV dapat tinggal secara laten dalam tubuh dan CMV merupakan salah satu penyebab infeksi yang berbahaya bagi janin bila infeksi yang berbahaya bagi janin bila infeksi terjadi saat ibu sedang hamil.
d. Herpes Simplek
Infeksi herpes pada alat genital (kelamin) disebabkan oleh Virus Herpes Simpleks tipe II (HSV II). Virus ini dapat berada dalam bentuk laten, menjalar melalui serabut syaraf sensorik dan berdiam diganglion sistem syaraf otonom.
C. Patofisiologi TORCH
a. Toxoplasma Gondii
Infeksi Toxoplasma berbahaya bila terjadi saat ibu sedang hamil atau pada orang dengan sistem kekebalan tubuh terganggu (misalnya penderita AIDS, pasien transpalasi organ yang mendapatkan obat penekan respon imun).
Jika wanita hamil terinfeksi Toxoplasma maka akibat yang dapat terjadi adalah abortus spontan atau keguguran (4%), lahir mati (3%) atau bayi menderita Toxoplasmosis bawaan. pada Toxoplasmosis bawaan, gejala dapat muncul setelah dewasa, misalnya kelinan mata dan telinga, retardasi mental, kejang-kejang dn ensefalitis
b. Rubella
Infeksi Rubella berbahaya bila tejadi pada wanita hamil muda, karena dapat menyebabkan kelainan pada bayinya. Jika infeksi terjadi pada bulan pertama kehamilan maka risiko terjadinya kelainan adalah 50%, sedangkan jika infeksi tejadi trimester pertama maka risikonya menjadi 25% (menurut America College of Obstatrician and Gynecologists, 1981).
c. Cyto Megalo Virus (CMV)
Jika ibu hamil terinfeksi. maka janin yang dikandung mempunyai risiko tertular sehingga mengalami gangguan misalnya pembesaran hati, kuning, pekapuran otak, ketulian, retardasi mental, dan lain-lain.
d. Herpes Simplek
Infeksi TORCH yang terjadi pada ibu hamil dapt membahayakan janin yang dikandungnya. Pada infeksi TORCH, gejala klinis yang ada searing sulit dibedakan dari penyakit lain karena gejalanya tidak spesifik. Walaupun ada yang memberi gejala ini tidak muncul sehingga menyulitkan dokter untuk melakukan diagnosis. Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium sangat diperlukan untuk membantu mengetahui infeksi TORCH agar dokter dapat memberikan penanganan atau terapi yang tepat.
D. Tanda Dan Gejala
a. Toxoplasma
Gejala yang diderita biasanya dengan mirip gejala influenza, bisa timbul rasa lelah, malaise, demam disertai hepatomegali, dan umumnya tidak menimbulkan masalah,
b. Herpes Simpleks
Penderita biasanya mengalami demam, salivasi, mudah terangsang dan menolak untuk makan,. Dengan dilakukan pemeriksaan menunjukan adanya ulkus dangkal multiple yang nyeri pada mukusa lidah, gusi, dan bukal denganvesikel pada bibir dan sekitarnya.
c. Cyto Megalo Virus (CMV)
- demam,
- penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia)
- letih- lesu
- kulit berwarna kuning,
- pembesaran hati dan limpa,
- kerusakan atau hambatan pembentukan organ tubuh seperti mata, otak, gangguan mental, dan lain-lain tergantung organ janin mana yang diserang
- Umumnya janin yang terinfeksi CMV lahir prematur dan berat badan lahir rendah.
d. Rubella
Tanda dan gejala yang muncul biasanya bertahan dalam dua hingga tiga hari dan mungkin melibatkan:
- Demam ringan 38,9 derajat Celcius atau lebih rendah,
- Sakit kepala
- Hidung tersumbat atau pilek
- Peradangan, mata merah
- Pembesaran, pelunakan kelenjar getah bening di dasar tengkorak, leher bagian belakang dan di belakang telinga
- Muncul ruam warna merah muda/pink di wajah dan dengan cepat menyebar ke pundak, lengan, kaki sebelum menghilang di sekuens yang sama.
- Nyeri pada persendian, khususnya pada perempuan muda.
E. Patofisiologi TORCH
a. Toxoplasma
Toxoplasma gondii adalah parasit protozoa yang merupakan salah satu penyebab kelainan kongenital yang cukup dominan dibandingkan penyebab lainnya yang tergolong dalam TORCH. Hospes primernya adalah kucing. Kucing ini telah mempunyai imunitas, tetapi pada saat reinfeksi mereka dapat menyebarkan kembali sejumlah kecil ookista. Ookista ini dapat menginfeksi manusia dengan cara memakan daging, buah-buahan, atau sayuran yang terkontaminasi atau karena kontak dengan faeces kucing. Dalam sel–sel jaringan tubuh manusia, akan terjadi proliferasi trophozoit sehingga sel–sel tersebut akan membesar. Trophozoit akan berkembang dan terbentuk satu kista dalam sel, yang di dalamnya terdapat merozoit. Kista biasanya didapatkan di jaringan otak, retina, hati, dan lain-lain yang dapat menyebabkan kelainan pada organ-organ tersebut, seperti microcephali, cerebral kalsifikasi, chorioretinitis, dll. Kista toksoplasma ditemukan dalam daging babi atau daging kambing. Sementara itu, sangat jarang pada daging sapi atau daging ayam. Kista toksoplasma yang berada dalam daging dapat dihancurkan dengan pembekuan atau dimasak sampai dagingnya berubah warna. Buah atau sayuran yang tidak dicuci juga dapat menstranmisikan parasit yang dapat dihancurkan dengan pembekuan atau pendidihan. Infeksi T.gondii biasanya tanpa gejala dan berlalu begitu saja. Setelah masa inkubasi selama lebih kurang 9 hari, muncul gejala flu seperti lelah, sakit kepala, dan demam yang dapat muncul hampir bersamaan dengan limpadenopati, terutama di daerah serviks posterior.
b. Rubella
Kematian pada post natal rubella biasanya disebabkan oleh enchepalitis. Pada infeksi awal, virus akan masuk melalui traktus respiratorius yang kemudian akan menyebar ke kelenjar limfe sekitar dan mengalami multiplikasi serta mengawali terjadinya viremia dalam waktu 7 hari. Janin dapat terinfeksi selama terjadinya viremia maternal. Saat ini, telah diketahui bahwa infeksi plasenta terjadi pada 80% kasus dan risiko kerusakan jantung, mata, atau telinga janin sangat tinggi pada trisemester pertama. Jika infeksi maternal terjadi sebelum usia kehamilan 12 minggu, 60% bayi akan terinfeksi. Kemudian, risiko akan menurun menjadi 17% pada minggu ke-14 dan selanjutnya menjadi 6% setelah usia kehamilan 20 minggu. Akan tetapi, plasenta biasanya terinfeksi dan virus dapat menjadi laten pada bayi yang terinfeksi kongenital selama bertahun-tahun.
c. Cytomegalovirus (CMV)
Penyakit yang disebabkan oleh Cytomegalovirus dapat terjadi secara kongenital saat bayi atau infeksi pada usia anak. Kadang-kadang, CMV juga dapat menyebabkan infeksi primer pada dewasa, tetapi sebagian besar infeksi pada usia dewasa disebabkan reaktivasi virus yang telah didapat sebelumnya. Infeksi kongenital biasanya disebabkan oleh reaktivasi CMV selama kehamilan. Di negara berkembang, jarang terjadi infeksi primer selama kehamilan, karena sebagian besar orang telah terinfeksi dengan virus ini sebelumnya. Bila infeksi primer terjadi pada ibu, maka bayi akan dapat lahir dengan kerusakan otak, ikterus dengan pembesaran hepar dan lien, trombositopenia, serta dapat menyebabkan retardasi mental. Bayi juga dapat terinfeksi selama proses kelahiran karena terdapatnya CMV yang banyak dalam serviks. Penderita dengan infeksi CMV aktif dapat mengekskresikan virus dalam urin, sekret traktus respiratorius, saliva, semen, dan serviks. Virus juga didapatkan pada leukosit dan dapat menular melalui tranfusi.
d. Herpes Simpleks (HSV)
HSV merupakan virus DNA yang dapat diklasifikasikan ke dalam HSV 1 dan 2. HSV 1 biasanya menyebabkan lesi di wajah, bibir, dan mata, sedangkan HSV 2 dapat menyebabkan lesi genital. Virus ditransmisikan dengan cara berhubungan seksual atau kontak fisik lainnya. Melalui inokulasi pada kulit dan membran mukosa, HSV akan mengadakan replikasi pada sel epitel, dengan waktu inkubasi 4 sampai 6 hari. Replikasi akan berlangsung terus sehingga sel akan menjadi lisis serta terjadi inflamasi lokal. Selanjutnya, akan terjadi viremia di mana virus akan menyebar ke saraf sensoris perifer. Di sini virus akan mengadakan replikasi yang diikuti penyebarannya ke daerah mukosa dan kulit yang lain2,4,9,10.
Dalam tahun-tahun terakhir ini, herpes genital telah mengalami peningkatan. Akan tetapi, untungnya herpes neonatal agak jarang terjadi, bervariasi dari 1 dalam 2.000 sampai 1 dalam 60.000 bayi baru lahir. Tranmisi terjadi dari kontak langsung dengan HSV pada saat melahirkan. Risiko infeksi perinatal adalah 35--40% jika ibu yang melahirkan terinfeksi herpes genital primer pada akhir kehamilannya2.
F. Cara Penularan TORCH
Penularan TORCH pada manusia dapat melalui 2 (dua) cara. Pertama, secara aktif (didapat) dan yang kedua, secara pasif (bawaan). Penularan secara aktif disebabkan antara lain sebagai berikut :
a. Makan daging setengah matang yang berasal dari hewan yang terinfeksi (mengandung sista), misalnya daging sapi, kambing, domba, kerbau, babi, ayam, kelinci dan lainnya. Kemungkinan terbesar penularan TORCH ke manusia adalah melalui jalur ini, yaitu melalui masakan sati yang setengah matang atau masakan lain yang dagingnya diamsak tidak semnpurna, termasuk otak, hati dan lainnya.
b. Makan makanan yang tercemar oosista dari feses (kotoran) kucing yang menderita TORCH. Feses kucing yang mengandung oosista akan mencemari tanah (lingkungan) dan dapat menjadi sumber penularan baik pada manusia maupun hewan. Tingginya resiko infeksi TORCH melalui tanah yang tercemar, disebabkan karena oosista bisa bertahan di tanah sampai beberapa bulan ( Howard, 1987).
c. Transfusi darah (trofozoid), transplantasi organ atau cangkok jaringan (trozoid, sista), kecelakaan di laboratorium yang menyebabkan TORCH masuk ke dalam tubuh atau tanpa sengaja masuk melalui luka (Remington dan McLeod 1981, dan Levine 1987).
d. Hubungan seksual antara pria dan wanita juga bisa menyebabkan menularnya TORCH. Misalnya seorang pria terkena salah satu penyakit TORCH kemudian melakukan hubungan seksual dengan seorang wanita (padahal sang wanita sebelumnya belum terjangkit) maka ada kemungkinan wanita tersebut nantinya akan terkena penyakit TORCH sebagaimana yang pernah diderita oleh lawan jenisnya.
e. Ibu hamil yang kebetulan terkena salah satu penyakit TORCH ketika mengandung maka ada kemungkinan juga anak yang dikandungnya terkena penyakit TORCH melalui plasenta.
f. Air Susu Ibu (ASI) juga bisa sebagai penyebab menularnya penyakit TORCH. Hal ini bisa terjadi seandainya sang ibu yang menyusui kebetulan terjangkit salah satu penyakit TORCH maka ketika menyusui penyakit tersebut bisa menular kepada sang bayi yang sedang disusuinya.
g. Keringat yang menempel pada baju atau pun yang masih menempel di kulit juga bisa menjadi penyebab menularnya penyakit TORCH. Hal ini bisa terjadi apabila seorang yang kebetulan kulitnya menmpel atau pun lewat baju yang baru saja dipakai si penderita penyakit TORCH.
h. Faktor lain yang dapat mengakibatkan terjadinya penularan pada manusia, antara lain adalah kebiasaan makan sayuran mentah dan buah - buahan segar yang dicuci kurang bersih, makan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu, mengkonsumsi makanan dan minuman yang disajikan tanpa ditutup, sehingga kemungkinan terkontaminasi oosista lebih besar.
i. Air liur juga bisa sebagai penyebab menularnya penyakit TORCH. Cara penularannya juga hampir sama dengan penularan pada hubungan seksual.
Berdasarkan kenyataan di atas, penyakit TORCH ini sifatnya menular. Oleh karena itu dalam satu keluarga biasanya kalau salah satu anggota keluarga terkena penyakit tersebut maka yang lainnya pun juga bisa terkena. Malah ada beberapa kasus dalam satu keluarga seluruh anggota keluarganya mulai dari kakek - nenek, kakak - adik, bapak - ibu, anak - anak semuanya terkena penyakit TORCH.
G. Cara Menghindari TORCH
Untuk menghindari sedini mungkin penyakit TORCH yang sangat membahayakan ini, ada beberapa hal sebagai solusi awal yang bisa dilakukan antara lain sebagai berikut :
a. Bila mengkonsumsi daging seperti daging ayam, sapi, kambing, kelinci, babi dan lainnya terlebih dahulu dimasak dengan matang hingga suhu mencapai 66 derajat Celcius, agar oosista - oosista yang mungkin terbawa di dalam daging tersebut bisa mati.
b. Kucing peliharaan di rumah hendaknya diberi daging matang untuk mencegah infeksi yang masuk ke dalam tubuh kucing. Tempat makan, minum dan alas tidur harus selalu dicuci / dibersihkan.
c. Hindari kontak dengan hewan - hewan mamalia liar, seperti rodensia liar (tikus, bajing, musang dan lain - lain) serta reptilia kecil seperti cecak, kadal, dan bengkarung yang kemungkinan dapat sebagai hewan perantara TORCH.
d. Penanganan kotoran kucing sebaiknya dilakukan melalui sarung tangan yang disposable (dibuang setelah dipakai).
e. Bagi wanita yang sedang hamil, terutama yang dinyatakan secara serologis sudah negatif, jangan memelihara atau menangani kucing kecuali dengan sarung tangan.
f. Bila sedang memegang daging, bekerja di tempat atau perusahaan daging atau organ yang masih mentah, hindari untuk tidak menyentuh mata, mulut, dan hidung dan peralatan dapur setelah selesai sebaiknya dicuci dengan sabun.
g. Bagi yang senang berkebun atau bekerja di kebun, sebaiknya menggunakan sarung tangan, mencuci sayuran atau buah sebelum dimakan.
h. Darah penderita seropositif tidak boleh ditransfusikan pada penderita yang menderita imunosupresif, demikian pula transplantasi organ pada penderita seronegatif harus dari orang dengan seronegatif TORCH.
i. Pemberantasan terhadap lalat dan kecoa sebagai pembawa oosista perlau dilakukan.
j. Penggunaan desinfektan komersial yang ada di toko - toko dapat berguna untuk membasmi oosista.
k. Memeriksakan hewan peliharaan secara kontinyu ke dokter hewan atau poliklinik hewan agar supaya hewan keanyangan selalu dalam keadaan sehat.
H. Mencegah TORCH
Mengingat bahaya dari TORCH untuk ibu hamil, bagi Anda yang sedang merencanakan kehamilan atau yang saat ini sedang hamil, dapat mempertimbangkan saran-saran berikut agar bayi Anda dapat terlahir dengan baik dan sempurna.
a. Makan makanan bergizi
Saat hamil, sebaiknya Anda mengkonsumsi banyak makanan bergizi. Selain baik untuk perkembangan janin, gizi yang cukup juga akan membuat tubuh tetap sehat dan kuat. Bila tubuh sehat, maka tubuh dapat melawan berbagai penyakit termasuk TORCH sehingga tidak akan menginfeksi tubuh.
b. Lakukan pemeriksaan sebelum kehamilan
Ada baiknya, Anda memeriksakan tubuh sebelum merencanakan kehamilan. Anda dapat memeriksa apakah dalam tubuh terdapat virus atau bakteri yang dapat menyebabkan infeksi TORCH. Jika Anda sudah terinfeksi, ikuti saran dokter untuk mengobatinya dan tunda kehamilan hingga benar-benar sembuh.
c. Melakukan vaksinasi
Vaksinasi bertujuan untuk mencegah masuknya parasit penyebab TORCH. Seperti vaksin rubela dapat dilakukan sebelum kehamilan. Hanya saja, Anda tidak boleh hamil dahulu sampai 2 bulan kemudian.
d. Makan makanan yang matang
Hindari memakan makanan tidak matang atau setengah matang. Virus atau parasit penyebab TORCH bisa terdapat pada makanan dan tidak akan mati apabila makanan tidak dimasak sampai matang. Untuk mencegah kemungkinan tersebut, selalu konsumsi makanan matang dalam keseharian Anda.
e. Periksa kandungan secara terartur
Selama masa kehamilan, pastikan juga agar Anda memeriksakan kandungan secara rutin dan teratur. Maksudnya adalah agar dapat dilakukan tindakan secepatnya apabila di dalam tubuh Anda ternyata terinfeksi TORCH. Penanganan yang cepat dapat membantu agar kondisi bayi tidak menjadi buruk.
f. Jaga kebersihan tubuh
Jaga higiene tubuh Anda. Prosedur higiene dasar, seperti mencuci tangan, sangatlah penting.
g. Hindari kontak dengan penderita penyakit
Seorang wanita hamil harus menghindari kontak dengan siapa pun yang menderita infeksi virus, seperti rubela, yang juga disebut campak Jerman.
Dengan mencari lebih banyak informasi tentang kehamilan serta merawat dirinya sebelum dan selama masa kehamilan maupun dengan memikirkan masak-masak jauh di muka tentang berbagai aspek melahirkan, seorang wanita akan melakukan sebisa-bisanya untuk memastikan kehamilan yang lebih aman. Maka, bagi seorang wanita hamil, cobalah untuk selalu waspada terhadap berbagai penyakit seperti TORCH agar bayi Anda terlahir sehat.
I. Pengobatan TORCH
Adanya infeksi-infeksi ini dapat dideteksi dari pemeriksaan darah. Biasanya ada 2 petanda yang diperiksa untuk tiap infeksi yaitu Imunoglobulin G (IgG) dan Imunoglobulin M (IgM). Normalnya keduanya negatif.
Jika IgG positif dan IgMnya negatif,artinya infeksi terjadi dimasa lampau dan tubuh sudah membentuk antibodi. Pada keadaan ini tidak perlu diobati. Namun, jika IgG negatif dan Ig M positif, artinya infeksi baru terjadi dan harus diobati. Selama pengobatan tidak dianjurkan untuk hamil karena ada kemungkinan infeksi ditularkan ke janin. Kehamilan ditunda sampai 1 bulan setelah pengobatan selesai (umumnya pengobatan memerlukan waktu 1 bulan). Jika IgG positif dan IgM juga positif,maka perlu pemeriksaan lanjutan yaitu IgG Aviditas. Jika hasilnya tinggi,maka tidak perlu pengobatan, namun jika hasilnya rendah maka perlu pengobatan seperti di atas dan tunda kehamilan. Pada infeksi Toksoplasma,jika dalam pengobatan terjadi kehamilan, teruskan kehamilan dan lanjutkan terapi sampai melahirkan.Untuk Rubella dan CMV, jika terjadi kehamilan saat terapi, pertimbangkan untuk menghentikan kehamilan dengan konsultasi kondisi kehamilan bersama dokter kandungan anda.
Pengobatan TORCH secara medis diyakini bisa dengan menggunakan obat-obatan seperti isoprinocin, repomicine, valtrex, spiromicine, spiradan, acyclovir, azithromisin, klindamisin, alancicovir, dan lainnya. Namun tentu pengobatannya membutuhkan biaya yang sangat mahal dan waktu yang cukup lama. Selain itu, terdapat pula cara pengobatan alternatif yang mampu menyembuhkan penyakit TORCH ini, dengan tingkat kesembuhan mencapai 90 %.
Pengobatan TORCH secara medis pada wanita hamil dengan obat spiramisin (spiromicine), azithromisin dan klindamisin misalnya bertujuan untuk menurunkan dampak (resiko) infeksi yang timbul pada janin. Namun sayangnya obat-obatan tersebut seringkali menimbulkan efek mual, muntah dan nyeri perut. Sehingga perlu disiasati dengan meminum obat-obatan tersebut sesudah atau pada waktu makan.
Berkaitan dengan pengobatan TORCH ini (terutama pengobatan TORCH untuk menunjang kehamilan), menurut medis apabila IgG nya saja yang positif sementara IgM negative, maka tidak perlu diobati. Sebaliknya apabila IgM nya positif (IgG bisa positif atau negative), maka pasien baru perlu mendapatkan pengobatan.
J. Diagnosa TORCH
Proses diagnosa medis merupakan langkah pertama untuk menangani suatu penyakit. Tetapi diagnosa berdasarkan pengamatan gejala klinis sering sukar dilaksanakan, maka dilakukan diagnosa laboratorik dengan memeriksa serum darah, untuk mengukur titer-titer antibodi IgM atau IgG-nya.
Penderita TORCH kadang tidak menunjukkan gejala klinis yang spesifik, bahkan bisa jadi sama sekali tidak merasakan sakit. Secara umum keluhan yang dirasakan adalah mudah pingsan, pusing, vertigo, migran, penglihatan kabur, pendengaran terganggu, radang tenggorokan, radang sendi, nyeri lambung, lemah lesu, kesemutan, sulit tidur, epilepsi, dan keluhan lainnya.
Untuk kasus kehamilan: sulit hamil, keguguran, organ tubuh bayi tidak lengkap, cacat fisik maupun mental, autis, keterlambatan tumbuh kembang anak, dan ketidaksempurnaan lainnya.
Namun begitu, gejala diatas tentu belum membuktikan adanya penyakit TORCH sebelum dibuktikan dengan uji laboratorik.
K. Pemeriksaan TORCH
1. Cara Pemeriksaannya
a. Toxoplasma
Tes ini mempergunakan antigen Toxoplasma yang diletakkan pada penyangga padat, mula-mula di inkubasi dengan serum penderita kemudian dengan antibodi berlabel enzim. Kadar antibodi dalam serum penderita sebanding dengan intertitas warna yang timbul setelah ikatan antigen antibodi dicampur dengan substrat. Uji aviditas pada ELISA bermanfaat untuk determinasi prediktif kapan seseorang atau individu tersebut diperkirakan terinfeksi Aviditas ELISA juga dapat digunakan untuk menentukan status infeksi serta kekuatan ikatan intrinsik antara antibodi dengan antigen. Apabila ikatan intrinsiknya lemah maka daya proteksinya juga lemah meskipun titernya cukup tinggi. Sebaliknya apabila ikatan intrinsik antigen-antibodinya cukup tinggi maka daya proteksinya cukup baik meskipun titernya tidak terlalu tinggi.
- Cara Kerja
a) Lokasi Pengambilan Sampel
- vena mediana cubiti ( dewasa )
- vena jugularis superficialis ( bayi )
b) Cara kerja pengambilan sampel :
Bersihkan daerah vena mediana cubiti dengan alcohol 70% dan biarkan menjadi kering kembali
Pasang ikatan pembendung/torniquit diatas fossa cubiti. Mintakan pasien yang akan diambil darahnya untuk mengepal dan membuka tangannya beberapa kali agar vena jelas terlihat. Pembendungan vena tidak boleh terlalu kuat .
Tegangkan kulit diatas vena dengan jari tangan kiri agar vena tidak bergerak
Tusuk kulit diatas vena dengan jarum/nald dengan tangan kanan sampai menembus lumen vena
Lepaskan pembendungan dan ambillah darah sesuai yang dibutuhkan
Taruh kapas diatas jarum/nald dan cabut perlahan
Mintakan agar pasien menekan bekas tusukan dengan kapas tadi
Alirkan darah dari syringe kedalam tabung melaluji dinding tabung
Berikan label berisi tanggal pemeriksaan,nama pasien dan jenis specimen
Sampel dapat di simpan pada suhu 2 - 8 ° C bertahan sampai 7 hari atau dibekukan sampai 6 bulan. Hindari pembekuan berulang jika untuk pemeriksaan.
c) Cara kerja Toxolisa IgG dan IgM
Siapkan pengenceran 1:40 test sampel, negatif control, positif control dan calibrator dengan jalan menambahkan masing-masing 5 ul bahan dengan 100 ul sampel diluents, goyang hingga homagen.
Ambil 100 ul masing-masing hasil pengenceran, masukkan ke dalam wells goyang agar tercampur rata, inkubasi selama 30 menit pada suhu 37oC.
Cuci 4× dengan diluents Wash Buffer (1×) dilanjutkan cuci 1× dengan aquabidest Wash buffer (1×) = encerkan volume Wash Buffer (20×) dengan 19 volume aquabidest contoh : larutkan 50ml Wash Buffer (20×) kedalam aquabidest untuk membuat 1000ml Wash Buffer (1×).
Masukan 100 ul Enzyme Conjugate ke masing-masing well, inkubasi 30 menit pada suhu 37oC.
Cuci 4× dengan diluents Wash Buffer (1×) dilanjutkan cuci dengan aquabidest.
Masukan 100 ul TMB ke masing-masing well, goyang hingga merata.
Inkubasi 15 menit pada suhu 37oC.
Tambahkan 100 ul Stop Solution (1N HCl) ke masing-masing well
Goyang 30 detik agar merata
Baca pada Elisa Reader dengan λ 450nm
b. Rubella
Dengan tes ELISA, HAI,Pasif HAatau tes LA, atau dengan adanya IgM spesifik rubella yang mengindikasikan infeksi rubella telah terjadi.
Pemeriksaan Laboratorium yang dilakukan meliputi pemeriksaan Anti-Rubella IgG dana IgM. Pemeriksaan Anti-rubella IgG dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kekebalan pada saat sebelum hamil. Jika ternyata belum memiliki kekebalan, dianjurkan untuk divaksinasi. Pemeriksaan Anti-rubella IgG dan IgM terutama sangat berguna untuk diagnosis infeksi akut pada kehamilan < 18 minggu dan risiko infeksi rubella bawaan.
c. Cyto Megalo Virus
Pemeriksaan laboratorium sangat bermanfaat untuk mengetahui infeksi akut atau infeski berulang, dimana infeksi akut mempunyai risiko yang lebih tinggi. Pemeriksaan laboratorium yang silakukan meliputi Anti CMV IgG dan IgM, serta Aviditas Anti-CMV IgG.
d. Herpes Simpleks
Pemeriksaan laboratorium, yaitu Anti-HSV II IgG dan Igm sangat penting untuk mendeteksi secara dini terhadap kemungkinan terjadinya infeksi oleh HSV II dan mencaegah bahaya lebih lanjut pada bayi bila infeksi terjadi pada saat kehamilan
2. Dan cara untuk membaca hasilnya adalah sebagai berikut :
a. Periksalah serum untuk mencari ada tidaknya IgG spesifik untuk parasit/virus TORCH. Bila hasilnya Negatif, berarti Anda tidak pernah terinfeksi TORCH. Bila Positif, berarti pernah terinfeksi. Note: [periksa Anti-Toxoplasma IgG, Anti-Rubella IgG, Anti-CMV IgG, Anti-HSV2 IgG]. Tes IgG itu untuk meriksa apakah pada masa lalu si pasien pernah kena infeksi.
b. Bila IgG Positif, maka untuk menentukan kapan infeksi tersebut, Anda harus melakukan pemeriksaan serum untuk mencari ada tidaknya IgM parasit/virus TORCH. Tes IgM ini fungsinya untuk memeriksa apakah saat ini si pasien terinfeksi TORCH.
c. Bila IgG Positif dan IgM Negatif : Anda telah terinfeksi lebih dari setahun yang lalu. Saat ini anda mungkin telah mengembangkan kekebalan terhadap parasit itu. Anda tidak perlu khawatir untuk hamil.
d. Bila IgG Positif dan IgM juga Positif: Anda tengah mengalami infeksi dalam 2 tahun terakhir, [mungkin pula ada false pada hasil IgM]. Anda harus catat berapa angka IgM tersebut.
e. Selanjutnya Anda harus melakukan lagi pemeriksaan IgM [kalau perlu sekalian IgG] setelah 2 minggu dari pemeriksaan pertama.
f. Bila IgM tetap Positif atau malah naik angkanya, berarti anda sedang terinfeksi TORCH. Sebaiknya anda sembuhkan dulu infeksi ini baru kemudian mulai hamil.
e. Siapa & kapan perlu melakukan pemeriksaan TORCH yaitu
- Wanita yang akan hamil atau merencanakan segera hamil
- Wanita yang baru/sedang hamil bila hasil sebelumnya negatif atau belum diperiksa, idealnya dipantau setiap 3 bulan sekali
- Bayi baru lahir yang ibunya terinfeksi pada saat hamil
ASUHAN KEPERAWATAN
Kasus
Seorang perempuan usia 28 tahun, dengan usia kehamilan 20 minggu klien mengeluh sakit kepala hidung tersumbat, nyeri pada kulit. Setelah dilakukan pemeriksaan suhu tubuh 38,5°; ekstremitas atas dan bawah terlihat bintik merah iritasi, TD 125/90 mmhg, nadi 90 kali per menit, RR 20 kali per menit, mata tampak merah, terdapat peradangan pada tangan,saat dipegang kulit terasa hangat. Klien menceritakan bahwa dirumah memelihara banyak kucing dan dia sering makan sayuran mentah.
Pengkajian
DS :
a. Mengeluh sakit kepala
b. Mengeluh hidung tersumbat
c. Mengeluh nyeri pada kulit
d. Klien menceritakan bahwa dirumah memelihara banyak kucing
e. Klien sering makan sayuran mentah.
DO :
a. S : 38,5 °
b. N : 90 x / menit
c. TD : 125/95 mmHg
d. RR : 20 x / menit
e. Mata tampak merah
f. Terdapat peradangan pada tangan
g. Dipegang kulit terasa hangat
h. Pada ekstremitas atas dan bawah terlihat bintik merah
Diagnosa
Data
Problem Etiologi
-S : 38,5 °
-N : 90 x / menit
-kulit terasa hangat
-kulit kemerahan
Hipertermi
Proses perjalanan penyakit
-TD : 125/95 mmHg
-Mengeluh nyeri pada kulit
-Terdapat peradangan pada tangan
Nyeri akut Agen biologis
Intervensi
no Diagnosa Tujuan intervensi
1 Nyeri b.d agen cidera biologis
Ditandai dengan :
-TD : 125/95 mmHg
-Mengeluh nyeri pada kulit
-Terdapat peradangan pada tangan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam nyeri berkurang
Kriteria hasil:
Skala nyeri turun dan ekspresi wajah tidak menyeringai lagi 1) Kaji secara komprehensif tentang nyeri meliputi lokasi, karakteristik, dan onset, durasi, frekuensi, kualitas,intensitas/beratnya nyeri, dan faktor-faktor presipitasi.
2) Observasi isyarat non verbal dari tidaknyaman, khususnya tidakmampu untuk komunikasi secara efektif.
3) Gunakan komunikasi terapeutik agar klien mengekspresikan nyeri
4) Berikan dukungan terhadap klien dan keluarga
5) Kontrol faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon klien terhadap ketidaknyamanan (ex.: temperatur ruangan, penyinaran, dll)
6) Ajarkan penggunaan teknik non farmakologik (misalnya : relaksasi, guided imagery, terapi musik, distraksi, aplikasi panas – dingin, massage, TENS, hipnotis, terapi aktivitas)
7) Berikan analgesik sesuai anjuran
8) Tingkatkan tidur atau istirahat yang cukup
9) Evaluasi keefektifan dari tindakan mengontrol nyeri yang telah digunakan.
2 Hipertermi b.d proses perjalanan penyakit Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam suhu menurun dengan kriteria hasil kulit tidak kemerahan lagi, penurunan suhu kulit 1) Monitor vital sign
2) Monitor suhu minimal tiap 15 menit sampai suhu stabil
3) Monitor warna kulit
4) Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
5) Selimuti klien untuk mencegah hilangnya panas tubuh
6) Kompres klien pada lipat paha dan aksila
7) Berikan antipiretik bila perlu
DAFTAR PUSTAKA TORCH
Nugraheny, Esti.2009. Asuhan Kebidanan Pathologi. Yogyakarta:Pustaka Rihama.
Mandal,Dkk.2008.Lecture Notes:Penyakit Infeksi, Edisi Vi, Alih Bahasa:dr. Jualita Surapsari. Jakarta: Erlangga.
Nanda Internasional. 2009-2011. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi, Alih Bahasa: Made Sumarwati, S.Kep. MN.,Ns, dkk. Jakarta: EGC
http://stetoskopmerah.blogspot.com/2009/04/pemeriksaan-laboratorium-infeksi-torch.html
: http://id.shvoong.com/medicine-and-health/imuunology/2122965-infeksi-torch-pada-wanita-hamil/#ixzz1blcv9XdG
MAKALAH IBU HAMIL DENGAN INFEKSI DHF
KELOMPOK 6
1. BUDHI SANTOSA (090201050)
2. ERWI ROSALINA (090201051)
3. SUMIN TATIK LESTARI (090201052)
4. MEIGA ANGGRAINI (090201053)
5. STALASATUN KHASANAH (090201055)
6. ARIFAH NUR KHASANAH (090201056)
7. DEWI RATIH MERDEKA WATI (090201057)
8. FITRIANA SITORESMI (090201058)
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN AISYIYAH YOGYAKARTA
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
2011 / 2012
DEMAM DENGUE PADA KEHAMILAN
A. PENGERTIAN
Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan virus dengue, dengan jalur transmisi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Penyakit DBD mengakibatkan demam, kecenderungan perdarahan, trombositopenia, dan kebocoran plasma.
Kehamilan tidak mempengaruhi perjalanan klinis DBD. Penyakit ini hampir tidak pernah mengakibatkan kelainan kongenital, tetapi kematian janin mungkin terjadi. Pada pasien hamil dengan risiko tinggi perdarahan (misal plasenta previa), infeksi DBD dengan trombositopenia menambah risiko perdarahan, dan anemia postpartum.
Tansmisi vertikal virus dengue, meskipun jarang, telah dilaporkan. Keadaan ini umumnya terjadi bila infeksi dengue terjadi menjelang kelahiran dan mengakibatkan bayi baru lahir mengalami kondisi klinis seperti DBD pada umumnya.
Sampai saat ini tidak ada kepustakaan yang menjelaskan secara spesifik hubungan antara kehamilan dengan demam Dengue. Namun bila dijumpai pada wanita hamil yang menunjukan gejala – gejala klinis seperti diatas, hendaknya dicurigai menderita Dengue Fever. Dan pengobatannya sama seperti demam Dengue tanpa kehamilan.
B. ETIOLOGI
Demam dengue ini bisa terjadi apabila nyamuk Aedes betina yang mengandung virus tersebut menggigit seseorang, dan memindahkan virus ini pada host yang baru ( tidak terjadi penularan dari satu orang ke orang lainnya secara langsung). Begitu virus masuk kedalam tubuh, virus akan menyebar ke berbagai kelenjar, terutama yang dekat dimana mereka mengadakan pembelahan. Virus-virus tersebut kemudian masuk ke sirkulasi darah.
Terdapatnya virus didalam pembuluh darah terutama yang memvaskularisasi kulit, akan menyebabkan perubahan pada pembuluh darah tersebut. Pembuluh darah akan menjadi bengkak dan bocor. Limpa membesar dan jaringan hepar mengalami kematian. Terjadilah proses yang disebut Disseminated Intravaskuler Coagulation (DIC), kemudian bahan-bahan kimia yang bertanggung jawab terhadap pembekuan darah digunakan berlebih, dan akan beresiko terhadap terjadinya perdarahan yang berat. Selain virus menghinggapi seorang host, akan terjadi periode inkubasi. Selama masa ini (5-8 hari) virus mengadakan penggandaan diri.
C. PATHWAY & PATOFISIOLOGI
Virus akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypty dan kemudian akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks virus-antibody. Dalam sirkulasi akan mengaktivasi system komplemen. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a,dua peptida yang berdaya untuk melepaskan histamine dan merupakan mediator kuat sebagai factor meningkatnya permeabilitas dinding pembuluh darah dan menghilangkan plasma melalui endotel dinding itu.
Terjadinya trobositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi (protombin dan fibrinogen) merupakan factor penyebab terjadinya perdarahan hebat, terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF. Yang menentukan beratnya penyakit adalah meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah, menurunnya volume plasma, terjadinya hipotensi, trombositopenia dan diathesis hemorrhagic, renjatan terjadi secara akut.
Nilai hematokrit meningkat bersamaan dengan hilangnya plasma melalui endotel dinding pembuluh darah. Dan dengan hilangnya plasma klien mengalami hipovolemik. Apabila tidak diatasi bisa terjadi anoxia jaringan, acidosis metabolic dan kematian.
D. TANDA DAN GEJALA
a. demam tinggi selama 5 – 7 hari
b. Mual, muntah, tidak ada nafsu makan, diare, konstipasi.
c. Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit, ptechie, echymosis, hematoma.
d. Epistaksis, hematemisis, melena, hematuri.
e. Nyeri otot, tulang sendi, abdoment, dan ulu hati.
f. Nyeri belakang mata
g. Sakit kepala.
h. Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening.
i. Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah menurun, gelisah, capillary refill lebih dari dua detik, nadi cepat dan lemah)
Periode awal penyakit ini berlangsung kira-kira 2-3 hari. Setelah itu demamnya turun dengan cepat, dan berkeringat banyak. Setelah sehari membaik, suhu tubuh pasien aka meningkat lagi walaupun tidak setinggi sebelumnya. Mulai timbul bintik-bintik merah di lengan dan kaki, dan meluas ke dada, perut dan punggung. Hal ini jarang mengenai daerah muka. Telapak tangan dan telapak kaki berubah menjadi merah terang. Kombinasi yang spesifik antara demam,rash, dan nyeri kepala disebut Trias Dengue.
Keluhan pertama adalah demam dan nyeri kepala, tapi keluhan awal lainnya tidak ada. Pasien mengalami batuk-batuk dan diikuti bintik-bintik merah (patechiae) pada kulit. Patechiae ini adalah tempat dimana pembuluh darah mengalami kebocoran, sehingga darah bisa merembes keluar. Selanjutnya pasien akan mengalami muntah-muntah dengan komponen berwarna kehitaman. Tanda ini merupakan petunjuk adanya perdarahan pada lambung. Dengan rusaknya pembuluh darah dan semakin besarnya kebocoran, menyebabkan menurunnya aliran darah ke jaringan ini diseebut Syok. Selanjutnya Syok bisa menimbulkan keuisakan pada organ-organ terutama hati dan ginjal.
Penyakit yang lebih parah bisa terjadi pada beberapa orang. Orang-orang tersebut mungkin pernah mengalami demam dengue sebelumnya. Begitulah seorang bisa mendapat demam dengue, kemudian sembuh dan mendapat inveksi ulang oleh virus. Pada kasus seperti ini infeksi pertama mengajarkan pada sistem imun untuk mengenali kehadiran arbovirus. Apabila sell imun ini bertemu dengan arbovirus pada infeksi berikutnya, akan terjadi reaksi berlebihan, dan penyakit ini disebut demam berdarah atau Dengue Hemoragic Fever (DHF) dan Dengue Syok Syndrome (DSS) dengan gejala dan keluhan yang lebih berat.
E. KOMPLIKASI
Adapun komplikasi dari penyakit demam berdarah diantaranya :
a. Perdarahan luas.
b. Shock atau renjatan.
c. Effuse pleura
d. Penurunan kesadaran.
F. KLASIFIKASI
a. Derajat I :
Demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan, uji turniket positi, trombositopeni dan hemokonsentrasi.
b. Derajat II :
Manifestasi klinik pada derajat I dengan manifestasi perdarahan spontan di bawah kulit seperti peteki, hematoma dan perdarahan dari lain tempat.
c. Derajat III :
Manifestasi klinik pada derajat II ditambah dengan ditemukan manifestasi kegagalan system sirkulasi berupa nadi yang cepat dan lemah, hipotensi dengan kulit yang lembab, dingin dan penderita gelisah.
d. Derajat IV :
Manifestasi klinik pada penderita derajat III ditambah dengan ditemukan manifestasi renjatan yang berat dengan ditandai tensi tak terukur dan nadi tak teraba.
G. MENEGAKKAN DIAGNOSIS
Menegakan diagnosis dengue terutama yang tidak khas dan sulit dibedakan dengan penyakit demam yang disebabkan oleh virus lainnya atau bakteri tidaklah mudah. Untuk itu ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi untuk diagnosis DHF/DSS yaitu :
1. Gambaran klinik Dengue Fever adalah demam yang terjadi 2-7 hari yang diikuti 2 atau lebih sebagai berikut :
- Nyeri kepala hebat
- Nyeri belakang mata
- Mialgia berat
- Arthralgia
- Rash yang khas
- Manifestasi perdarahan
- Lekopenia
2. Kriteria laboratoriumnya meliputi satu atau lebih sebagai berikut :
Pemeriksaan penunjang
a. Darah
1) Trombosit menurun.
2) HB meningkat lebih 20 %
3) HT meningkat lebih 20 %
4) Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3
5) Protein darah, NA dan CL rendah
6) Ureum PH bisa meningkat
b. Serology : HI (hemaglutination inhibition test).
1) Rontgen thorax : Efusi pleura.
2) Uji test tourniket (+)
3. Diagnosis DSS ditegakkan apabila dijumpai hal-hal seperti diatas ditambah bukti-bukti kegagalan sirkulasi sebagai berikut :
- Denyut nadi cepat dan lemah
- Sempitnya tekanan nadi (<20 mmHg)
- Hipotensi
- Dingin dan pucat
- Status mental berubah
H. PENGOBATAN DAN VAKSINASI
Tidak ada pengobatan yang spesifik untuk DF dan DSS karena infeksi virus ini adalah Self limited. Pengobatan Dengue Fever yang tanpa komplikasi adlah terapi suportif dan meliputi penghilangan rasa nyeri, penurunan temperatur tubuh, tirah baring dan pemberian cairan.
Yang terpenting adalah bagaimana mempertahankan volume cairan Intravaskuler. Pada kasus dengan perdarahan yang hebat, pemberian tranfusi sangat diperlukan.
ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal yang dilakukan perawat untuk mendapatkan data yang dibutuhkan sebelum melakukan asuhan keperawatan . pengkajian pada pasien dengan “DHF” dapat dilakukan dengan teknik wawancara, pengukuran, dan pemeriksaan fisik.
Adapun tahapan-tahapannya meliputi :
a. Mengkaji data dasar, kebutuhan biopsikososialspiritual pasien dari berbagai sumber
(pasien, keluarga, rekam medik dan anggota tim kesehatan lainnya).
b. Mengidentifikasi sumber-sumber yang potensial dan tersedia untuk memenuhi kebutuhan pasien.
c. Kaji riwayat keperawatan.
d. Kaji adanya peningkatan suhu tubuh ,tanda-tanda perdarahan, mual, muntah, tidak nafsu makan, nyeri ulu hati, nyeri otot dan sendi, tanda-tanda syok (denyut nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit dingin dan lembab terutama pada ekstrimitas, sianosis, gelisah, penurunan kesadaran).
2. Diagnosa keperawatan .
a. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue dalam darah
b. resiko tinggi kurang volume cairan berhubungan dengan anorexia, muntah
c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anorexia, muntah
d. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas jaringan
e. Resiko terjadinya perdarahan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas jaringan.
f. Resiko Shock hipovolemik berhubungan dengan hipovolemia
3. Intervensi
Perumusan rencana perawatan pada kasus DHF hendaknya mengacu pada masalah diagnosa keperawatan yang dibuat. Perlu diketahui bahwa tindakan yang bisa diberikan menurut tindakan yang bersifat mandiri dan kolaborasi. Untuk itu penulis akan memaparkan prinsip rencana tindakan keperawatan yang sesuai dengan diagnosa keperawatan :
no Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
1. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue dalam darah
Tujuan
Hipertermi dapat teratasi
Kriteria hasil:
Suhu tubuh kembali mendekati normal
1) Observasi tanda-tanda vital terutama suhu tubuh sampai keadaan cukup stabil.
2) Berikan kompres dingin (air biasa) pada daerah dahi dan ketiak
3) Ganti pakaian yang telah basah oleh keringat
4) Anjurkan keluarga untuk memakaikan pakaian yang dapat menyerap keringat seperti terbuat dari katun.
5) Anjurkan keluarga untuk memberikan minum banyak kurang lebih 1500 – 2000 cc per hari
6) kolaborasi dengan dokter dalam pemberian Therapi, obat penurun panas
2. Resiko tinggi kurang volume cairan berhubungan dengan anorexia, muntah
Tujuan :
Gangguan volume cairan tubuh dapat teratasi
Kriteria hasil :
Volume cairan tubuh kembali normal
1) Kaji KU dan kondisi pasien
2) Observasi tanda-tanda vital (S,N,RR )
3) Observasi tanda-tanda dehidrasi
4) Observasi tetesan infus dan lokasi penusukan jarum infuse
5) Balance cairan (input dan out put cairan)
6) Beri pasien dan anjurkan keluarga pasien untuk memberi minum banyak
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anorexia, muntah Tujuan:
Gangguan pemenuhan nutrisi teratasi
Kriteria hasil:
Intake nutrisi klien meningkat
1) Kaji intake nutrisi klien dan perubahan yang terjadi
2) Timbang berat badan klien tiap hari
3) Berikan klien makan dalam keadaan hangat dan dengan porsi sedikit tapi sering
4) Beri minum air hangat bila klien mengeluh mual
5) Lakukan pemeriksaan fisik Abdomen (auskultasi, perkusi, dan palpasi).
6) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian Therapi anti emetik.
7) Kolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet.
1. BUDHI SANTOSA (090201050)
2. ERWI ROSALINA (090201051)
3. SUMIN TATIK LESTARI (090201052)
4. MEIGA ANGGRAINI (090201053)
5. STALASATUN KHASANAH (090201055)
6. ARIFAH NUR KHASANAH (090201056)
7. DEWI RATIH MERDEKA WATI (090201057)
8. FITRIANA SITORESMI (090201058)
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN AISYIYAH YOGYAKARTA
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
2011 / 2012
DEMAM DENGUE PADA KEHAMILAN
A. PENGERTIAN
Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan virus dengue, dengan jalur transmisi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Penyakit DBD mengakibatkan demam, kecenderungan perdarahan, trombositopenia, dan kebocoran plasma.
Kehamilan tidak mempengaruhi perjalanan klinis DBD. Penyakit ini hampir tidak pernah mengakibatkan kelainan kongenital, tetapi kematian janin mungkin terjadi. Pada pasien hamil dengan risiko tinggi perdarahan (misal plasenta previa), infeksi DBD dengan trombositopenia menambah risiko perdarahan, dan anemia postpartum.
Tansmisi vertikal virus dengue, meskipun jarang, telah dilaporkan. Keadaan ini umumnya terjadi bila infeksi dengue terjadi menjelang kelahiran dan mengakibatkan bayi baru lahir mengalami kondisi klinis seperti DBD pada umumnya.
Sampai saat ini tidak ada kepustakaan yang menjelaskan secara spesifik hubungan antara kehamilan dengan demam Dengue. Namun bila dijumpai pada wanita hamil yang menunjukan gejala – gejala klinis seperti diatas, hendaknya dicurigai menderita Dengue Fever. Dan pengobatannya sama seperti demam Dengue tanpa kehamilan.
B. ETIOLOGI
Demam dengue ini bisa terjadi apabila nyamuk Aedes betina yang mengandung virus tersebut menggigit seseorang, dan memindahkan virus ini pada host yang baru ( tidak terjadi penularan dari satu orang ke orang lainnya secara langsung). Begitu virus masuk kedalam tubuh, virus akan menyebar ke berbagai kelenjar, terutama yang dekat dimana mereka mengadakan pembelahan. Virus-virus tersebut kemudian masuk ke sirkulasi darah.
Terdapatnya virus didalam pembuluh darah terutama yang memvaskularisasi kulit, akan menyebabkan perubahan pada pembuluh darah tersebut. Pembuluh darah akan menjadi bengkak dan bocor. Limpa membesar dan jaringan hepar mengalami kematian. Terjadilah proses yang disebut Disseminated Intravaskuler Coagulation (DIC), kemudian bahan-bahan kimia yang bertanggung jawab terhadap pembekuan darah digunakan berlebih, dan akan beresiko terhadap terjadinya perdarahan yang berat. Selain virus menghinggapi seorang host, akan terjadi periode inkubasi. Selama masa ini (5-8 hari) virus mengadakan penggandaan diri.
C. PATHWAY & PATOFISIOLOGI
Virus akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypty dan kemudian akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks virus-antibody. Dalam sirkulasi akan mengaktivasi system komplemen. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a,dua peptida yang berdaya untuk melepaskan histamine dan merupakan mediator kuat sebagai factor meningkatnya permeabilitas dinding pembuluh darah dan menghilangkan plasma melalui endotel dinding itu.
Terjadinya trobositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi (protombin dan fibrinogen) merupakan factor penyebab terjadinya perdarahan hebat, terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF. Yang menentukan beratnya penyakit adalah meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah, menurunnya volume plasma, terjadinya hipotensi, trombositopenia dan diathesis hemorrhagic, renjatan terjadi secara akut.
Nilai hematokrit meningkat bersamaan dengan hilangnya plasma melalui endotel dinding pembuluh darah. Dan dengan hilangnya plasma klien mengalami hipovolemik. Apabila tidak diatasi bisa terjadi anoxia jaringan, acidosis metabolic dan kematian.
D. TANDA DAN GEJALA
a. demam tinggi selama 5 – 7 hari
b. Mual, muntah, tidak ada nafsu makan, diare, konstipasi.
c. Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit, ptechie, echymosis, hematoma.
d. Epistaksis, hematemisis, melena, hematuri.
e. Nyeri otot, tulang sendi, abdoment, dan ulu hati.
f. Nyeri belakang mata
g. Sakit kepala.
h. Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening.
i. Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah menurun, gelisah, capillary refill lebih dari dua detik, nadi cepat dan lemah)
Periode awal penyakit ini berlangsung kira-kira 2-3 hari. Setelah itu demamnya turun dengan cepat, dan berkeringat banyak. Setelah sehari membaik, suhu tubuh pasien aka meningkat lagi walaupun tidak setinggi sebelumnya. Mulai timbul bintik-bintik merah di lengan dan kaki, dan meluas ke dada, perut dan punggung. Hal ini jarang mengenai daerah muka. Telapak tangan dan telapak kaki berubah menjadi merah terang. Kombinasi yang spesifik antara demam,rash, dan nyeri kepala disebut Trias Dengue.
Keluhan pertama adalah demam dan nyeri kepala, tapi keluhan awal lainnya tidak ada. Pasien mengalami batuk-batuk dan diikuti bintik-bintik merah (patechiae) pada kulit. Patechiae ini adalah tempat dimana pembuluh darah mengalami kebocoran, sehingga darah bisa merembes keluar. Selanjutnya pasien akan mengalami muntah-muntah dengan komponen berwarna kehitaman. Tanda ini merupakan petunjuk adanya perdarahan pada lambung. Dengan rusaknya pembuluh darah dan semakin besarnya kebocoran, menyebabkan menurunnya aliran darah ke jaringan ini diseebut Syok. Selanjutnya Syok bisa menimbulkan keuisakan pada organ-organ terutama hati dan ginjal.
Penyakit yang lebih parah bisa terjadi pada beberapa orang. Orang-orang tersebut mungkin pernah mengalami demam dengue sebelumnya. Begitulah seorang bisa mendapat demam dengue, kemudian sembuh dan mendapat inveksi ulang oleh virus. Pada kasus seperti ini infeksi pertama mengajarkan pada sistem imun untuk mengenali kehadiran arbovirus. Apabila sell imun ini bertemu dengan arbovirus pada infeksi berikutnya, akan terjadi reaksi berlebihan, dan penyakit ini disebut demam berdarah atau Dengue Hemoragic Fever (DHF) dan Dengue Syok Syndrome (DSS) dengan gejala dan keluhan yang lebih berat.
E. KOMPLIKASI
Adapun komplikasi dari penyakit demam berdarah diantaranya :
a. Perdarahan luas.
b. Shock atau renjatan.
c. Effuse pleura
d. Penurunan kesadaran.
F. KLASIFIKASI
a. Derajat I :
Demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan, uji turniket positi, trombositopeni dan hemokonsentrasi.
b. Derajat II :
Manifestasi klinik pada derajat I dengan manifestasi perdarahan spontan di bawah kulit seperti peteki, hematoma dan perdarahan dari lain tempat.
c. Derajat III :
Manifestasi klinik pada derajat II ditambah dengan ditemukan manifestasi kegagalan system sirkulasi berupa nadi yang cepat dan lemah, hipotensi dengan kulit yang lembab, dingin dan penderita gelisah.
d. Derajat IV :
Manifestasi klinik pada penderita derajat III ditambah dengan ditemukan manifestasi renjatan yang berat dengan ditandai tensi tak terukur dan nadi tak teraba.
G. MENEGAKKAN DIAGNOSIS
Menegakan diagnosis dengue terutama yang tidak khas dan sulit dibedakan dengan penyakit demam yang disebabkan oleh virus lainnya atau bakteri tidaklah mudah. Untuk itu ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi untuk diagnosis DHF/DSS yaitu :
1. Gambaran klinik Dengue Fever adalah demam yang terjadi 2-7 hari yang diikuti 2 atau lebih sebagai berikut :
- Nyeri kepala hebat
- Nyeri belakang mata
- Mialgia berat
- Arthralgia
- Rash yang khas
- Manifestasi perdarahan
- Lekopenia
2. Kriteria laboratoriumnya meliputi satu atau lebih sebagai berikut :
Pemeriksaan penunjang
a. Darah
1) Trombosit menurun.
2) HB meningkat lebih 20 %
3) HT meningkat lebih 20 %
4) Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3
5) Protein darah, NA dan CL rendah
6) Ureum PH bisa meningkat
b. Serology : HI (hemaglutination inhibition test).
1) Rontgen thorax : Efusi pleura.
2) Uji test tourniket (+)
3. Diagnosis DSS ditegakkan apabila dijumpai hal-hal seperti diatas ditambah bukti-bukti kegagalan sirkulasi sebagai berikut :
- Denyut nadi cepat dan lemah
- Sempitnya tekanan nadi (<20 mmHg)
- Hipotensi
- Dingin dan pucat
- Status mental berubah
H. PENGOBATAN DAN VAKSINASI
Tidak ada pengobatan yang spesifik untuk DF dan DSS karena infeksi virus ini adalah Self limited. Pengobatan Dengue Fever yang tanpa komplikasi adlah terapi suportif dan meliputi penghilangan rasa nyeri, penurunan temperatur tubuh, tirah baring dan pemberian cairan.
Yang terpenting adalah bagaimana mempertahankan volume cairan Intravaskuler. Pada kasus dengan perdarahan yang hebat, pemberian tranfusi sangat diperlukan.
ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal yang dilakukan perawat untuk mendapatkan data yang dibutuhkan sebelum melakukan asuhan keperawatan . pengkajian pada pasien dengan “DHF” dapat dilakukan dengan teknik wawancara, pengukuran, dan pemeriksaan fisik.
Adapun tahapan-tahapannya meliputi :
a. Mengkaji data dasar, kebutuhan biopsikososialspiritual pasien dari berbagai sumber
(pasien, keluarga, rekam medik dan anggota tim kesehatan lainnya).
b. Mengidentifikasi sumber-sumber yang potensial dan tersedia untuk memenuhi kebutuhan pasien.
c. Kaji riwayat keperawatan.
d. Kaji adanya peningkatan suhu tubuh ,tanda-tanda perdarahan, mual, muntah, tidak nafsu makan, nyeri ulu hati, nyeri otot dan sendi, tanda-tanda syok (denyut nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit dingin dan lembab terutama pada ekstrimitas, sianosis, gelisah, penurunan kesadaran).
2. Diagnosa keperawatan .
a. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue dalam darah
b. resiko tinggi kurang volume cairan berhubungan dengan anorexia, muntah
c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anorexia, muntah
d. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas jaringan
e. Resiko terjadinya perdarahan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas jaringan.
f. Resiko Shock hipovolemik berhubungan dengan hipovolemia
3. Intervensi
Perumusan rencana perawatan pada kasus DHF hendaknya mengacu pada masalah diagnosa keperawatan yang dibuat. Perlu diketahui bahwa tindakan yang bisa diberikan menurut tindakan yang bersifat mandiri dan kolaborasi. Untuk itu penulis akan memaparkan prinsip rencana tindakan keperawatan yang sesuai dengan diagnosa keperawatan :
no Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
1. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue dalam darah
Tujuan
Hipertermi dapat teratasi
Kriteria hasil:
Suhu tubuh kembali mendekati normal
1) Observasi tanda-tanda vital terutama suhu tubuh sampai keadaan cukup stabil.
2) Berikan kompres dingin (air biasa) pada daerah dahi dan ketiak
3) Ganti pakaian yang telah basah oleh keringat
4) Anjurkan keluarga untuk memakaikan pakaian yang dapat menyerap keringat seperti terbuat dari katun.
5) Anjurkan keluarga untuk memberikan minum banyak kurang lebih 1500 – 2000 cc per hari
6) kolaborasi dengan dokter dalam pemberian Therapi, obat penurun panas
2. Resiko tinggi kurang volume cairan berhubungan dengan anorexia, muntah
Tujuan :
Gangguan volume cairan tubuh dapat teratasi
Kriteria hasil :
Volume cairan tubuh kembali normal
1) Kaji KU dan kondisi pasien
2) Observasi tanda-tanda vital (S,N,RR )
3) Observasi tanda-tanda dehidrasi
4) Observasi tetesan infus dan lokasi penusukan jarum infuse
5) Balance cairan (input dan out put cairan)
6) Beri pasien dan anjurkan keluarga pasien untuk memberi minum banyak
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anorexia, muntah Tujuan:
Gangguan pemenuhan nutrisi teratasi
Kriteria hasil:
Intake nutrisi klien meningkat
1) Kaji intake nutrisi klien dan perubahan yang terjadi
2) Timbang berat badan klien tiap hari
3) Berikan klien makan dalam keadaan hangat dan dengan porsi sedikit tapi sering
4) Beri minum air hangat bila klien mengeluh mual
5) Lakukan pemeriksaan fisik Abdomen (auskultasi, perkusi, dan palpasi).
6) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian Therapi anti emetik.
7) Kolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet.
Langganan:
Postingan (Atom)
RSS Feed
Twitter